Parah

December 20th, 2007

Aduh, kenapa ya? Rasa-rasanya belakangan ini saya sedang berada di
titik nadir kehidupan saya. Perasaan inferior yang terlalu berlebihan,
sering tulalit kalau mengobrol, tidak fokus dengan apa yang saya
lakukan, ketinggalan cerita dan informasi. Walhasil, saya merasa
seperti hidup di dalam tempurung saja. Dunia berjalan terasa sangat
cepat, tapi kemajuan yang saya dapatkan dalam diri terasa sangat
lambat…bahkan terasa terlampau lambat. Jadinya tertinggal jauh,
jauuuhhh sekali. Ini yang saya rasakan sekarang.

Perasaan dikejar-kejar oleh sesuatu, entah apa itu, yang jelas membuat
apa pun yang saya kerjakan jadi tidak beres, berantakan. Tidak bisa
menikmati proses, inginnya serba cepat dan instant. Bawaannya jadi
malas, sangat malas. Parahnya, semua terjadi dalam berbagai aspek
kehidupan saya. Kondisi intelektualitas, kondisi ruhiyah, kondisi
jasmani…saya merasa jadi orang yang paling ’sakit’ sekarang ini.  Oleh
karenanya, pencapaian-pencapaian yang didapatkan tidak sesuai dengan
target yang saya inginkan.

Seringnya pikiran ini mengawang-awang, entah kemana dan entah apa
yang saya pikirkan. Akhirnya, saya jadi tulalit kalau sedang mengobrol
dengan orang lain, karena sering juga pikiran saya itu mengawang-awang
di tengah-tengah orang banyak. Jadi malu sendiri dan jadi merasa sangat
bodoh. Merasa bukan seperti saya yang sebenarnya, ada yang hilang
rasanya, bahkan terasa banyak sekali yang hilang.

Tidak ada kemajuan yang berarti dalam skill saya, entah itu programming, networking, public speaking, leadership
atau manajemen diri dan waktu. Malah semakin menurun. Barangkali itu
yang membuat saya jadi merasa seperti manusia yang inferior dan tidak
PD ketika bertemu dengan siapa pun. Menyedihkan sekali jadi manusia
seperti ini.

Rasanya sudah banyak sekali apa yang saya baca, tapi ternyata tidak
membuat saya semakin cerdas atau semakin tahu. Barangkali ada yang
salah dengan apa yang saya baca atau cara saya membaca.  Entahlah.

Jadi sering lupa. Pernah suatu hari saya janjian dengan seorang
teman, dan saya lupa sama sekali. Sampai satu jam dari jadwal janjian,
saya diingatkan melalui SMS. Ya, ampun. Dan selama satu jam itu, saya
hanya sedang diam di kamar saya…tidak melakukan apa pun, hanya bengong
tidak jelas. Untungnya teman tersebut masih mau menunggu dan pada
akhirnya bertemu juga, tentunya dengan perasaan menyesal dan malu.

Meskipun, kadang-kadang saya juga merasa tidak percaya kalau saya
masih sanggup untuk hanya tidur 1 jam sehari, setelah sebelumnya
melakukan aktivitas-aktivitas yang menguras tenaga dan pikiran secara
beruntun dan berpindah-pindah tempat.  Atau ketika mata ini tidak
merasa lelah selama 18 jam di depan komputer tanpa henti.

Kalau dalam tulisan ini tidak ditemukan nada-nada optimis, maklumi
saja, namanya juga sedang curhat.  Sebetulnya dengan menuliskan ini,
saya juga sedang melakukan identifikasi terhadap sumber masalah yang
saya hadapi.  Barangkali dengan menuliskannya, saya bisa merancang
perbaikan-perbaikan di hari-hari selanjutnya.  Dan saya berjanji untuk
melakukan perbaikan-perbaikan itu.  Setahap demi setahap, langkah demi
langkah…Sampai akhirnya tiba di anak tangga terakhir atau di puncak
tertinggi hidup saya.

So, please, help me…!!

Bandung.  211207. 14.30.




2 Responses to “Parah”

  1.   dina on December 25, 2007 10:50 pm

    gue pernah don..belom pernah kan masak mie instan lu baru inget waktu ada bau gosong dari panci hampir ke bakar sampe air abis gue lupa gak masukin mienya???

    gue malah sibuk curhat di telp ama temen gue.gile..adrenalin gue ke ubun2 matiin gasnya.

    gue pernah janji juga ama dosen koordinator MK yang gue pegang buat bantuin ngawas ujian kelasnya berdua ama beliau tuh.lu tau gak..di hari yang gue ditunggu gue bangun siang karena lagi moody berat and hp g silent males kontak ama orang..trus pergi ke wartel telp temen gue tapi gak mau di denger orang rumah.

    gue syok banget waktu tmn gue:
    “benk..lu dmn kok bisa telp gue???gak ngawas”

    gue cuma bisa melongo nutup gagang telp tanpa pamit trus duduk di teras rumah dengan pikiran lambat..emang ini hari apa??janji ama siapa aja??kapan setujunya??

    di rumah dosen koordinator gue telp ke hp beberapa kali.dia sibuk ngurusin ujian sendiri and akhornya minta tolong petugas sana.

    gue cuma bisa telp setelah ujian selesai:
    “maaf banget pak..kejadian pagi ini saya gak punya alasan kuat yang bisa saya ajuin agar saya dimaklumi.tapi saat ini saya hanya tau bahwa hal ini gak akan terjadi lagi saat saya berjanji ke bapak di lain waktu”.

    untung komentarnya cuma gak apa2 benk..semua dah beres..istirahat aja.

    kalo gue inget lagi bisa jadi gitu biasanya kita ngalamin banyak hal yang gak sejalan yang kita inginkan.jadi inferior…hilang arah n sinar cerah dimata kita:)

    jalan yang gue tau…gue cuma mulai kembali ke hal2 sederhana..keinginan sederhana, tindakan sederhana, bahagia2 yang sederhana juga, ambisi yang sederhana juga,semua di-simple-kan. akhirnya puzzle2 sederhana itu bisa kita rapiin dan kita punya gambaran yang jelas lagi atas apa yang kita inginkan dan pantas kita dapatkan.

    met bahagia don…..

  2.   Donny on December 27, 2007 3:49 pm

    ya, itu juga yang gua lakukan sekarang sih. Mencoba ‘narik nafas’ dulu dari target-target gua yang emang terlalu sinting sih, sementara jalannya ternyata nggak segampang yang gua kira. Perlu mental yang kuat…:))

    Jalan yang gua ambil emang jalan yang nggak lazim juga, kalau nggak kuat-kuat amat, bisa stress. Sementara gua berjalan sendirian sekarang…sendirian dalam arti yang sebenernya loh ya? Tapi nggak berarti kalau yang ‘nemenin’ itu mesti istri. yang jelas, gua lagi butuh partner nih sekarang…udah lama aja nggak ketemu temen berbagi, temen curhat, temen ngakak dan temen gila-gilaan lagi :)) Setidaknya, dalam 2 tahun terakhir, gua ngerasa kehilangan banget seorang partner euy! Partner-partner terdekat gua lagi pada sibuk sekarang, barangkali mereka juga ngerasain perasaan yang sama sih sebetulnya…

    Kembali ke hal-hal kecil dulu yang ada di sekeliling gua. Nyoba banyak-banyakin silaturahmi, kembali ke asli gua yang biasanya mikir sederhana dan nggak dibikin ribet. Mencoba untuk realistis meski tetep idealis :))

Comments RSS

Leave a Reply

Name (required)

Email (required)

Website

Speak your mind