Idul Adha 1428 H: Sebuah Catatan

December 23rd, 2007

Salah satu penyesalan yang muncul tidak lama setelah saya berhenti
kerja setahun yang lalu adalah saya lupa bahwa tidak lama setelah itu
adalah bulan haji. Berqurban dengan uang sendiri dan dari hasil jerih
payah sendiri adalah cita-cita saya. Sebetulnya, tabungan saya saat itu
lebih dari cukup untuk sekedar membeli satu ekor kambing. Akan tetapi,
saat itu ternyata belum saatnya bagi saya berqurban. Ada
kondisi-kondisi darurat yang menyebabkan tabungan saya tersebut
terpakai…dan habis.

Alhmdulillah, tahun ini saya
diberi kesempatan untuk berqurban dari hasil jerih payah sendiri. Dan
saya tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Meskipun, bukan
hal yang mudah juga ‘bergelut’ dengan berbagai macam pikiran yang
muncul setelah niat berqurban itu muncul. Ada godaan-godaan yang memang
‘menggoda’. “Don, kamu kan pengen laptop, kalau qurban uangnya kurang dong…“.  “Don, katanya pengen beli hub, dvd rom dan monitor baru…“. “Don, itu kamera DSLR lagi nunggu kamu beli tuh…“.
Duh…!! Tidak jarang juga muncul dorongan untuk membatalkannya. Hanya
saja, saya tidak ingin melalui Idul Adha tahun ini dengan penyesalan
lagi.

Ketika menulis ini, muncul perasaan khawatir disebut riya kalau
menceritakan amal yang telah dilakukan. Namun, takut riya juga ternyata
malah masuk kategori riya. Akan tetapi, setelah ‘merenungi’ lagi
perjalanan Rasulullah dan para sahabatnya, mereka melakukan
amalan-amalan secara terang-terangan. “Luruskan niat!”, kata AA Gym.
Terbayang kembali ketika Umar Bin Khattab r.a menyerahkan setengah
harta yang didapatkannya untuk Jihad, yang kemudian dijawab oleh Abu
Bakar ash-Shiddiq r.a, “Saya serahkan semua harta yang saya dapatkan hari ini, ya Rasulullah!”
Barangkali, masalahnya bukan diceritakan atau tidaknya suatu amalan.
Ada saatnya harus diceritakan, ada saatnya harus disembunyikan. Toh,
keikhlasan seseorang hanya Allah yang tahu. Kita hanya bisa ‘merasa’
ikhlas padahal tidak, atau ketika kita tidak merasa ikhlas, namun
ternyata di sisi Allah kita termasuk orang-orang yang ikhlas.

Kali ini, bukan tanpa tujuan dan alasan jika kemudian saya
menceritakan pengalaman berqurban pada Idul Adha tahun ini. Selama ini,
saya sudah sering juga ‘menasihati’ orang-orang terdekat saya untuk
berqurban. Barangkali, dengan melakukannya terlebih dahulu, ajakan saya
itu akan lebih didengar. Pada dasarnya, setiap orang paling enggan
untuk ‘diperintah’. Orang lebih melihat keteladanan daripada hanya
sekedar ‘perintah’. Salah satu kunci keberhasilan dakwah Rasulullah
adalah keteladanan, dan saya ingin mencontoh cara-cara Rasulullah
tersebut. Sehingga, ajakan saya tidak hanya sekedar omongan saja, tapi
juga disertai dengan bukti.

Di sisi lain, saya juga memiliki teman-teman yang memiliki
‘tabungan’ yang saya perkirakan jumlahnya jauh lebih banyak daripada
apa yang saya miliki. Akan tetapi, mereka belum tergerak untuk
berqurban. Barangkali, dengan cara seperti ini, mereka bisa tergerak
untuk berqurban juga. Fastabiqul khoirot. Jika saya yang
masih ‘ngos-ngosan’ untuk mencari penghidupan sehari-hari saja bisa
untuk berqurban, seharusnya mereka yang kondisi ekonominya lebih baik,
jauh lebih mampu lagi.

Sebetulnya tidak sulit dan tidak berat jika kita mau. Menjadi sulit
dan berat karena biasanya kita mengikuti ‘bisikan’ yang muncul di dalam
hati kita. Kita terlalu memikirkan hal-hal yang sebetulnya tidak perlu
ditakuti. Takut ini, takut itu, bagaimana kalau begini, bagaimana kalau
begitu. Salah satu rahasia yang saya dapatkan agar ibadah atau amalan
menjadi lebih mudah adalah…Just Do It! Karena pada dasarnya,
ibadah menjadi ringan karena kerelaan atau kepasrahan ketika
melakukannya. Semakin banyak yang kita pikirkan dan takuti, semakin
berat kita melakukan ibadah.

Pada kasus saya, dana untuk qurban itu saya alokasikan jauh-jauh
hari. Tidak bisa diganggu gugat lagi, kecuali memang ada kondisi yang
lebih darurat. Dengan menempatkan qurban sebagai prioritas utama,
menjadikan qurban ada di posisi yang sangat penting. Dan karena sangat
penting, maka menjadi sebuah keharusan atau bahkan kewajiban bagi saya
untuk melakukannya. Dengan cara seperti itu, berqurban akan menjadi
sangat mudah. Itulah yang saya lakukan. Kita tidak akan merasa terlalu
’sayang’ ketika uang yang kita miliki berpindah tangan kepada amil jika
kita titipkan, juga kepada penjual domba atau sapi jika kita membelinya
sendiri.

Cara lain adalah dengan menempatkan qurban sebagai sebuah kebutuhan,
terlebih lagi keinginan. Jika kita membutuhkan sesuatu, maka kita akan
berusaha sekuat tenaga untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Dan karena
merasa butuh, kita pun biasanya akan merasa ringan untuk mengeluarkan
uang berapa pun jumlahnya. Harga seekor kambing untuk qurban berkisar
antara 600 ribu - 1 juta. Harga ponsel jauh lebih mahal, tapi kita
tidak merasa keberatan untuk membelinya karena kita menginginkannya.
Jutaan orang pergi haji juga bukan semata-mata karena kewajiban sebagai
seorang muslim saja, tapi juga karena keinginan haji tersebut sudah
mendarah-daging, sehingga puluhan juta rupiah pun tidak berat
mengeluarkannya.

Sebetulnya, saya merasa Idul Adha bukan hari raya buat saya. Karena
alasan yang sangat personal. Saya tidak suka daging kambing dan daging
sapi. Terlebih bau daging kambing yang sering membuat saya menderita.
Maka, saya kadang-kadang malah merasa malas jika mendekati hari raya
Idul Adha. Belum lagi penderitaan itu masih akan terus berlangsung
selama beberapa hari sesudahnya, karena bau darah daging kambing yang
biasanya bertahan cukup lama. Sementara kebanyakan umat Islam
‘berpesta’, saya tersiksa (
Nafsu makan saya turun drastis ketika Idul Adha dan beberapa hari
sesudahnya. Saya juga sering uring-uringan kalau ibu memasak apa pun
yang berbau kambing. Karena alasan itu pula, saya enggan dan tidak
pernah terlibat dalam kepanitiaan Idul Adha. Akan tetapi, ketidaksukaan
saya itu tentunya bukan menjadi alasan untuk tidak melakukan qurban.
Syariat tidak bisa dipatahkan hanya karena kita tidak menyukai suatu
hal yang berhubungan dengan syariat itu.

Bagi orang-orang seperti saya yang tidak menyukai daging kambing
atau sapi, barangkali ‘godaan’-nya terasa lebih berat. Dalam qurban ada
sepertiga hak bagi yang melakukannya. Pada kasus orang-orang seperti
saya, tentunya tidak bisa menikmati hak tersebut. Hal ini tentunya
menjadikan qurban yang kita lakukan tidak ‘berasa’, karena kita
seolah-olah membeli sesuatu, tapi kita tidak mendapatkan apa-apa. Akan
tetapi, kalau logikanya dibalik, kita bisa lebih bersyukur karena
daging qurban kita bisa ‘menjangkau’ dan dinikmati lebih banyak orang.
Dan barangkali, diantara banyak orang tersebut, ada yang mendoakan
kebaikan untuk kita dan dikabulkan oleh Allah. Siapa pula yang tidak
ingin didoakan oleh banyak orang?

Saya akan merasa lebih senang jika mendapati orang-orang disekitar
saya lebih tertarik dan berusaha untuk bersama-sama berlomba dalam
beramal sholeh. Salah satunya berqurban. Iri pada orang-orang sholeh
adalah iri yang diperbolehkan, bahkan dianjurkan. Apabila semangat fastabiqul khoirot
tertanam di dada setiap orang, maka akan tercipta kondisi di mana
setiap orang bersaing untuk melakukan amal sholeh. Jika dunia sudah
dipenuhi oleh orang-orang yang berusaha untuk beramal sholeh, rasanya
kita tidak perlu menyaksikan lagi kasus-kasus rebutan daging qurban di
televisi-televisi kita, yang membuat kita mengelus dada dan
geleng-geleng kepala.

C 1 H 3 U L 4 17 6. 241207. 05.03




2 Responses to “Idul Adha 1428 H: Sebuah Catatan”

  1.   dina on December 25, 2007 10:29 pm

    waaaah don…gue bagian tahun dpn tuh…kemaren di sindir terus ama nyokap gue gue gak kurban…padahal bisa.iya juga…umur kita neh lagi musim2nya kurban pertama pake duit sendiri..tapi gue blm tergerak tea sampe kmrn di sindirin.selamat ya don,he..he… :)

  2.   Donny on December 27, 2007 3:52 pm

    bukan prestasi yang luar biasa sih sebenernya, kalau diinget-inget lagi, pengeluaran tahunan untuk buku aja lebih dari pada harga satu ekor kambing.

Comments RSS

Leave a Reply

Name (required)

Email (required)

Website

Speak your mind