Ikut-ikutan Bikin Kaleidoskop-Blog

December 30th, 2007

Atas ajakannya cak Alief untuk membuat Kaleidoskop-BlogTM, akhirnya saya pun memutuskan untuk ikut-ikutan juga.  Tidak ada salahnya kan?  Kalau dipikir-pikir, lumayan juga, untuk flashback
dan evaluasi lagi mengenai tulisan-tulisan yang sudah dibuat dalam
setahun ini. Tulisan-tulisan yang di-review adalah seluruh tulisan yang
dimuat di sini, di sini dan di sini.
Meskipun, sebetulnya ke-3 blog tersebut isinya sama saja. Mungkin juga
sedikit bercerita soal bagaimana ide-ide soal tulisan tersebut bisa
muncul. Sebenarnya, siapa yang peduli ya? Ya, saya sendiri…haha.

Januari 2007

Ada 2 tulisan yang saya buat di bulan ini.  “Segelas Teh Hangat
yang bercerita soal kesukaan saya minum teh, dan sebuah tulisan yang
bagi saya sendiri cukup menghabiskan energi juga ketika menulisnya,
yaitu “Cinta, Keimanan dan Kemerdekaan“.  Tulisan ini sebetulnya merupakan hasil perenungan saya setelah sebulan sebelumnya ramai berita soal “Polemik Poligami
yang dilakukan AA Gym, juga setelah mendengar rekaman penjelasan AA Gym
yang kemudian saya ‘konversi’ menjadi dua tulisan yang ternyata
menyebar ke seantero jagat blogger dan milis. Penjelasan AA Gym
tersebut bisa dibaca di sini dan di sini.

Februari 2007

Bulan ini diawali oleh sebuah tulisan yang saya beri judul “Pulpen“.
Idenya bermula dari curhat seorang teman yang menghadapi masalah dengan
mata kuliah filsafat yang diikutinya. Dan sebuah tulisan “Bergerak“,
yang sebenarnya saya tulis untuk memotivasi diri sendiri. Mungkin,
karena isinya yang sudah terlalu sering ditulis oleh orang lain, tidak
ada satu pun komentar yang masuk.

Tulisan ke-3 berjudul “Gak Mood“.
Bercerita tentang buku-buku yang saya beli dalam sebuah pameran buku.
Judulnya merupakan gambaran mood saya ketika datang ke pameran
tersebut, namun tetap membeli beberapa eksemplar buku. Disusul tulisan “Serius vs Santai
yang bercerita tentang kekhawatiran saya terhadap kondisi
tulisan-tulisan saya sebelumnya yang cenderung jadi lebih serius.
Padahal, awalnya tulisan-tulisan saya cenderung santai dan terkesan
kurang serius.

Maret 2007

Barangkali tulisan “Istiqamah KuadratTM
merupakan tulisan pertama saya yang bertema tentang manajemen diri.
Istiqamah Kuadrat adalah istilah yang saya pakai untuk menggambarkan
betapa sesungguhnya istiqamah/konisten itu sebuah hal yang sangat berat
untuk melakukannya. Terlebih bagi orang-orang yang pembosan seperti
saya. Tulisan selanjutnya adalah tulisan yang tidak terlalu penting, “Vote!!“.  Hanya sebuah ajakan untuk mengunjungi blog Kang Shodiq yang saat itu mengadakan lomba Pemilihan Top-Post Januari-Februari 2007.

Untuk pertama kalinya juga saya membuat tulisan berseri
yang bercerita tentang takdir. Tulisan berseri tersebut sebetulnya
sebuah tulisan yang saya bagi menjadi 3 bagian. Juga merupakan tulisan
kedua yang membahas tentang takdir, sesuatu yang seringkali menjadi
perdebatan, tapi saya coba tuliskan dalam bentuk yang sangat sederhana.

April 2007

Bulan April barangkali merupakan bulan Fotografi, karena 2 tulisan yang saya buat “Dasar Amatir!” dan “Iseng-iseng Berkreasi” berhubungan dengan pengalaman saya yang sedang belajar fotografi dan desain grafis di waktu luang.  Dua tulisan lainnya “Lagu Dalam Cerita” dan “Badai Pasti Berlalu” adalah tulisan-tulisan yang terinspirasi oleh beberapa lirik lagu.  Sementara itu, “Ganti Nomor HP? No Way
bercerita tentang ketidaksukaan saya terhadap ‘kelakuan’ orang-orang
disekitar saya yang seringkali gonta-ganti nomor HP dengan alasan lebih
murah. Sebab, bagi saya, nomor HP adalah sebuah identitas, sama halnya
dengan KTP. Sementara “Ayat Favorit” bercerita tentang ayat-ayat dalam Al-Quran yang menginspirasi saya.

Mei 2007

Alastu Birobbukum?
merupakan sebuah jawaban atas pertanyaan dari seorang teman berkaitan
dengan akidah Islam, tentunya sesuai dengan apa yang saya pahami. Sepi
komentar. Barangkali tulisan tentang ke-Ilahi-an kurang diminati?
Entahlah.

Blog Baru dan Buku Baru“,
dari judulnya saya sudah menggambarkan isinya. Ya, di tulisan tersebut
saya lagi-lagi bercerita tentang buku dan rencana pembuatan blog baru.
Sedangkan cerita launching blog katapengantar saya tuliskan di “Peresmian“.

Berita baik juga saya ceritakan di “Tersanjung” karena Kang Shodiq menilai bahwa saya termasuk penulis yang tidak membodohi pembaca.  Hal tersebut tentu saja meningkatkan motivasi saya untuk selalu menulis lagi…dan lagi.  Sementara “Nostalgia Islam dan Robin Hood
merupakan tulisan yang membahas tentang keterkaitan antara Islam dan
Robin Hood yang terdapat dalam film-film Robin Hood. Pada tulisan
tersebut, film yang menjadi contoh adalah Robin Hood versi Kevin
Costner. Bulan ini ditutup oleh 2 tulisan yang sangat tidak penting “Gak Jelas” dan “Today Minds

Juni 2007

Proyek Sangkuriang, Kaki Lima dan Nasib Kartu Undangan
adalah sebuah tulisan yang menceritakan salah satu fase dimana saya
menjalani hari-hari yang cukup melelahkan, namun cukup membahagiakan
hati saya. Sebuah fase dimana saya mendapatkan pengalaman baru dalam
hal bekerja.

Nostalgia SMA: Catatan Menjelang Reuni Akbar SMA Negeri 3 Bogor, part 1“,
tadinya ingin menulis lagi cerita berseri. Sayangnya, untuk part 2-nya
saya malas sekali menulisnya. Mungkin lain kali saya lanjutkan, sedang
malas mengingat-ingat memori masa lalu…Halah! Sesuai judulnya, tulisan
tersebut merupakan catatan yang berasal dari memori masa SMA dulu.
Sayangnya, saya sendiri tidak bisa hadir dalam Reuni Akbar tersebut.

Badai vs Badai
merupakan penilaian subjektif saya terhadap dua versi album “Badai
Pasti Berlalu” yang fenomenal itu. Dua buah album yang saya bandingkan
adalah garapan Erwin Gutawa dan garapan Andi Rianto. Sayangnya, saya
belum pernah mendengar versi aslinya.

Sementara “Coming Soon” hanya berisi pengumuman bahwa saya sudah memiliki domain sendiri, donnyreza.net.
Alasan saya memilih .net karena rasanya lebih asyik saja mendengarnya,
dan mungkin ada hubungannya juga dengan keinginan saya untuk menjadi
salah seorang network engineer yang handal  )

Juli 2007

Menghasilkan 2 buah tulisan tidak penting “Too Bad, So Sad” dan “Heran Deh…“.  Sebuah tulisan refleksi “Belajar dari Ilalang” yang tidak dapat komentar satu pun.  Dan “Blog Adventure
yang bercerita tentang apa, siapa dan bagaimana ceritanya saya bisa
‘tersesat’ di dunia blog. Juga sebagai apresiasi saya terhadap
penulis-penulis yang namanya tercantum di situ.

Camera and Me
adalah tulisan yang menceritakan pengalaman saya berinteraksi dengan
beberapa merk kamera digital. Termasuk juga testimoni subjektif saya
terhadap kamera-kamera yang saya gunakan tersebut.

Perkenalan saya dengan Goodreads, mengantarkan saya untuk menulis “Peliharaan Baru
yang ternyata tidak terpelihara sama sekali. Tulisan terakhir di bulan
ini bercerita tentang musim kawin yang menyebabkan saya bingung karena
terjadinya beberapa jadwal undangan yang bentrok. Kata “Bagooossss” terlontar begitu saja dari mulut saya setiap kali mendapati jadwal undangan nikah yang bentrok tersebut.

Agustus 2007

Semakin Berantakan“,
lagi-lagi bercerita tentang buku-buku baru yang imbasnya membuat kamar
saya semakin berantakan. Tanpa kehadiran buku saja, kamar saya sudah
cukup berantakan, dengan banyaknya buku…semakin berantakan.

Pengalaman menulis sebuah artikel yang sistematis, serius dan ilmiah saya tuliskan di “Menanti Terwujudnya Sebuah Impian“.
Berawal dari ajakan Kang Shodiq untuk mengisi tulisan dalam sebuah buku
yang, beritanya saat ini, sedang mengantri diterbitkan. Sebuah
pengalaman yang menguras energi, tapi mengasyikan.

Freeze” hanya menuliskan tentang lintasan pikiran terkait seluruh blog yang saya miliki.

September 2007

Penting, Kurang Penting, Tidak Penting” bercerita tentang quote dalam sebuah film.  Juga bercerita tentang bergabungnya saya dengan kronologger.  Tulisan yang tidak terlalu penting juga.

6 Pernikahan
adalah sebuah cerita perjalanan saya dalam menghadiri
pernikahan-pernikahan yang terjadi di luar kota Bandung dan terjadi
secara beruntun. Sebuah pengalaman berharga juga.

Setelah mendengar sebuah kabar buruk, saya kemudian berusaha menyemangati diri dalam “Self Motivation“, tapi setelah dibaca lagi, bukannya memotivasi, malah menjatuhkan p  “Percik-percik Pikiran
yang muncul ketika itu langsung saya tuliskan, memuat juga syair lagu
dari Iwan Fals sebagai pengingat tentang bagaimana seharusnya menjalani
hidup.

Tawaran untuk menjadi tenaga outsource di tempat teman saya bekerja, termasuk juga persiapannya saya ceritakan dalam “Work-Tour de Sumatera“.  Sebuah kesempatan yang saya anggap sebagai hadiah ulang tahun karena tawaran tersebut datang menjelang “8 September 2007“,
hari dimana umur saya mencapai seperempat abad. Sayangnya, karena
kemalasan saya juga, cerita tentang work-tour yang menghabiskan waktu
selama sebulan ramadhan penuh itu belum bisa saya sajikan di blog ini.

Oktober 2007

Ngelemesin Jari” merupakan tulisan pertama pasca-worktour
yang melelahkan. Sebulan di perjalanan sebetulnya banyak menghasilkan
ide-ide bagus untuk sebuah tulisan. Sayangnya, karena saya malas
menulis dengan tangan, sementara itu ketika tour tersebut tidak membawa
komputer atau laptop, maka ide-ide tersebut kembali menguap.

Keikutsertaan mengikuti acara PestaBlogger membuat saya merasa perlu untuk menuliskan persiapan saya untuk mengikuti moment tersebut.  Memberi judul “Pesta Blogger, Pesta Orang-orang Besar
sebetulnya agak berlebihan juga. Sayangnya, bagaimana berlangsungnya
acara, atau apa saja yang terjadi ketika saya mengikuti acara tersebut,
tidak saya tuliskan. Sudah banyak yang membahasnya. Biasa lah…maunya
beda. Hehe.

Lebaran yang Lucu
adalah pengalaman spiritual saya dan keluarga saya menjalani lebaran
yang berantakan. Berantakan dalam arti yang sesungguhnya. Akan tetapi,
dari kejadian tersebut, saya bisa memahami makna perbedaan dan
menghormati perbedaan yang sesungguhnya.

November 2007

Bulan ini merupakan salah satu bulan dimana saya cukup
produktif menulis.  Tentunya untuk ukuran saya sendiri.  Selain itu,
tulisan-tulisan yang muncul di bulan ini juga cukup ‘menarik’.

Awal November diawali sebuah tulisan yang sangat ringan tapi juga
cukup provokatif karena ‘menyinggung’ wanita.  Untungnya tidak ada yang
marah.  Judulnya pun cukup provokatif “Karena Wanita Ingin Dimarahi“, meskipun tidak terlalu menghebohkan.  Padahal, tulisan tersebut sebetulnya hanya curhatan saya saja.

Tulisan lain tentang buku, “Tambah Katalog“.
Hanya bercerita tentang mengapa saya membeli buku-buku tersebut.  Di
Bulan ini juga untuk pertama kalinya saya bergabung dengan komunitas
Bandung High-Tech Valley (BHTV) yang digawangi oleh Budi Raharjo dan beberapa praktisi IT di Bandung.  Keikutsertaan saya dalam acara pertemuan itu menghasilkan “Cerita dari BHTV Gathering“.

Tulisan ‘provokatif’ lainnya “Purnama, Shaum dan Simbol Romantisme
merupakan hasil yang saya rangkum dari sebuah diskusi dengan beberapa
sahabat saya.  Bagi saya diskusi tersebut menarik, karena selain
ilmiah, juga bisa meningkatkan keimanan seseorang terhadap Islam.
Ditambah lagi karena berhubungan dengan salah satu ‘kegemaran’ manusia
pada umumnya, sex.

Salah satu kebiasaan saya juga melakukan identifikasi terhadap permasalahan yang menjadi ancaman dalam diri saya.  “Bakat Terpendam: Jadi Psikopat!!
merupakan salah satu hasil identifikasi tersebut.  Betapa sesungguhnya
dalam diri manusia tersimpan potensi yang sangat berbahaya jika tidak
dikendalikan.

Pengalaman bertemu dengan pengemis dan berdasarkan pengalaman orang lain juga saya tuangkan dalam “Mau Kaya? Ngemis Aja!!“.
Barangkali tulisan tersebut juga berisi kemarahan saya.  Hanya saja
kemarahan tersebut berujung menjadi sebuah keprihatinan saya terhadap
kondisi pengemis di sekitar kita.  Sementara itu, anak-anak jalanan
yang nasibnya lebih memprihatinkan saya ceritakan di “Mengaji Yes, Teler OK!“.

Kerinduan saya terhadap permainan cantik tim nasional sepak bola Belanda saya sajikan dalam “Total Football, Where Are You?“.
Setelah diposting saya merasa judulnya aneh dan salah. :))  Setelah
sekian lama tidak berpuisi ria, saya mencoba untuk menulis puisi lagi.
Hasilnya…? ‘Dangdut’ banget!! -D Judulnya pun norak abis…”Kamana Atuh, Cinta?“. Tapi tema cinta juga membuat saya tergerak untuk lebih mengangkat salah satu cerita kebanggaan orang Sunda dalam “The Most Inspiring Love Story: Kabayan and Iteung“.

Desember 2007

Akhirnya, sampai juga di bulan terakhir tahun 2007.  Di
bulan ini, banyak dilahirkan wanita yang saya kenal.  Beberapa
merupakan wanita-wanita yang sangat penting bagi saya.  Sebagai
penghargaan kepada mereka, saya persembahkan “Wanita-wanita Tangguh“, meskipun saya merasa tulisan tersebut juga kurang greget.

Bercerita tentang hal-hal kecil yang biasa saya lakukan merupakan
salah satu tema yang sebetulnya cukup mendominasi blog saya.  “Dunia di Pinggir Lapang
adalah dunia di mana saya bisa melakukan salah satu hal kecil, tapi
sesungguhnya cukup penting juga.  Kontemplasi.  Hanya saja, menjadi
‘aneh’ ketika kontemplasi itu dilakukan di tengah keramaian manusia.

Entah gara-gara kebiasaan membaca buku, berlama-lama di depan
komputer, atau apa, yang pasti setelah melakukan tes mata dengan
komputer, mata saya dinyatakan “Minus“.
  Akan tetapi, saya malah tidak terlalu peduli, karena saya merasa mata
saya masih baik-baik saja.  Harapannya sih memang baik-baik saja.

Keprihatinan dan kemarahan saya terhadap mereka yang mempercayai “Mitos Sialan” juga saya tuangkan di blog ini.  Alhamdulillah,
cukup banyak respon juga.  Sebagian besar respon yang saya dapatkan
juga menyetujui apa yang saya tulis dan seluruh responden juga
merasakan keprihatinan yang sama dengan saya.

Dunia tulisan terkadang tidak mencerminkan bagaimana seorang penulis tersebut sesungguhnya.  Saya pernah begitu “Sok Bijak
ketika memberikan komentar.  Dan ketika membaca lagi isi komentar
tersebut, saya merasa kagum sendiri bisa menulis komentar yang semacam
itu.

Menjadi orang yang baik adalah impian setiap orang.  Ketika kita melakukan hal-hal yang baik, kita akan merasa “Rindu Sekali
apabila kebaikan-kebaikan yang pernah lakukan terhenti.  Begitu juga
dengan yang saya rasakan.  Sangat berbeda jika kita melakukan hal-hal
buruk, tidak pernah sekalipun kita merasakan kerinduan.

Pengalaman berqurban tahun ini juga saya ceritakan dalam “Idul Adha 1428 H: Sebuah Catatan“.
Salah satu alasan mengapa saya menuliskan pengalaman tersebut
sesungguhnya adalah agar semakin banyak yang berqurban.  Terutama
orang-orang terdekat dengan saya.  Selain itu juga sebagai pengingat
bahwa sesungguhnya berqurban tidak berat jika kita mau mengusahakannya.

Tulisan terakhir di Tahun 2007 adalah tulisan ini.  Bertepatan
dengan 31 Desember 2007, penutup tahun.  Sebuah takdir yang tidak saya
rencanakan.  Total tulisan yang saya buat di Tahun 2007 adalah sekitar
70 tulisan, karena tidak semua tulisan saya masukan ke dalam
kaleidoskop ini.  Tahun 2008 saya mengejar target 100 tulisan.
Inginnya bisa menulis setiap hari, tapi seringnya malas menghampiri
saya di setiap saat.

Ada beberapa hal yang harus diperbaiki dalam tulisan-tulisan saya. 
Pertama, soal kualitas yang cenderung menurun.  Kedua, soal spesifikasi
tulisan.  Sampai saat ini, saya belum memiliki tema ‘jagoan’ untuk saya
jadikan ciri khas blog atau tulisan-tulisan saya.  Ironisnya, sebagai
orang IT, tidak satu pun tulisan yang berhubungan dengan dunia
ke-IT-an.  Kurang mengalir saja ide-idenya.  Juga menyangkut materi
yang belum saya kuasai, jadinya kurang PD juga.  Ketiga, sudah saatnya
saya mencoba untuk menulis cerpen.  Belum pernah sekali pun.  Yah,
jadinya malah nulis resolusi blog 2008 sih? -d

C 1 H 3 U L 4 17 6. 311207. 06.00

Bye, bye, 2007!!

Idul Adha 1428 H: Sebuah Catatan

December 23rd, 2007

Salah satu penyesalan yang muncul tidak lama setelah saya berhenti
kerja setahun yang lalu adalah saya lupa bahwa tidak lama setelah itu
adalah bulan haji. Berqurban dengan uang sendiri dan dari hasil jerih
payah sendiri adalah cita-cita saya. Sebetulnya, tabungan saya saat itu
lebih dari cukup untuk sekedar membeli satu ekor kambing. Akan tetapi,
saat itu ternyata belum saatnya bagi saya berqurban. Ada
kondisi-kondisi darurat yang menyebabkan tabungan saya tersebut
terpakai…dan habis.

Alhmdulillah, tahun ini saya
diberi kesempatan untuk berqurban dari hasil jerih payah sendiri. Dan
saya tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Meskipun, bukan
hal yang mudah juga ‘bergelut’ dengan berbagai macam pikiran yang
muncul setelah niat berqurban itu muncul. Ada godaan-godaan yang memang
‘menggoda’. “Don, kamu kan pengen laptop, kalau qurban uangnya kurang dong…“.  “Don, katanya pengen beli hub, dvd rom dan monitor baru…“. “Don, itu kamera DSLR lagi nunggu kamu beli tuh…“.
Duh…!! Tidak jarang juga muncul dorongan untuk membatalkannya. Hanya
saja, saya tidak ingin melalui Idul Adha tahun ini dengan penyesalan
lagi.

Ketika menulis ini, muncul perasaan khawatir disebut riya kalau
menceritakan amal yang telah dilakukan. Namun, takut riya juga ternyata
malah masuk kategori riya. Akan tetapi, setelah ‘merenungi’ lagi
perjalanan Rasulullah dan para sahabatnya, mereka melakukan
amalan-amalan secara terang-terangan. “Luruskan niat!”, kata AA Gym.
Terbayang kembali ketika Umar Bin Khattab r.a menyerahkan setengah
harta yang didapatkannya untuk Jihad, yang kemudian dijawab oleh Abu
Bakar ash-Shiddiq r.a, “Saya serahkan semua harta yang saya dapatkan hari ini, ya Rasulullah!”
Barangkali, masalahnya bukan diceritakan atau tidaknya suatu amalan.
Ada saatnya harus diceritakan, ada saatnya harus disembunyikan. Toh,
keikhlasan seseorang hanya Allah yang tahu. Kita hanya bisa ‘merasa’
ikhlas padahal tidak, atau ketika kita tidak merasa ikhlas, namun
ternyata di sisi Allah kita termasuk orang-orang yang ikhlas.

Kali ini, bukan tanpa tujuan dan alasan jika kemudian saya
menceritakan pengalaman berqurban pada Idul Adha tahun ini. Selama ini,
saya sudah sering juga ‘menasihati’ orang-orang terdekat saya untuk
berqurban. Barangkali, dengan melakukannya terlebih dahulu, ajakan saya
itu akan lebih didengar. Pada dasarnya, setiap orang paling enggan
untuk ‘diperintah’. Orang lebih melihat keteladanan daripada hanya
sekedar ‘perintah’. Salah satu kunci keberhasilan dakwah Rasulullah
adalah keteladanan, dan saya ingin mencontoh cara-cara Rasulullah
tersebut. Sehingga, ajakan saya tidak hanya sekedar omongan saja, tapi
juga disertai dengan bukti.

Di sisi lain, saya juga memiliki teman-teman yang memiliki
‘tabungan’ yang saya perkirakan jumlahnya jauh lebih banyak daripada
apa yang saya miliki. Akan tetapi, mereka belum tergerak untuk
berqurban. Barangkali, dengan cara seperti ini, mereka bisa tergerak
untuk berqurban juga. Fastabiqul khoirot. Jika saya yang
masih ‘ngos-ngosan’ untuk mencari penghidupan sehari-hari saja bisa
untuk berqurban, seharusnya mereka yang kondisi ekonominya lebih baik,
jauh lebih mampu lagi.

Sebetulnya tidak sulit dan tidak berat jika kita mau. Menjadi sulit
dan berat karena biasanya kita mengikuti ‘bisikan’ yang muncul di dalam
hati kita. Kita terlalu memikirkan hal-hal yang sebetulnya tidak perlu
ditakuti. Takut ini, takut itu, bagaimana kalau begini, bagaimana kalau
begitu. Salah satu rahasia yang saya dapatkan agar ibadah atau amalan
menjadi lebih mudah adalah…Just Do It! Karena pada dasarnya,
ibadah menjadi ringan karena kerelaan atau kepasrahan ketika
melakukannya. Semakin banyak yang kita pikirkan dan takuti, semakin
berat kita melakukan ibadah.

Pada kasus saya, dana untuk qurban itu saya alokasikan jauh-jauh
hari. Tidak bisa diganggu gugat lagi, kecuali memang ada kondisi yang
lebih darurat. Dengan menempatkan qurban sebagai prioritas utama,
menjadikan qurban ada di posisi yang sangat penting. Dan karena sangat
penting, maka menjadi sebuah keharusan atau bahkan kewajiban bagi saya
untuk melakukannya. Dengan cara seperti itu, berqurban akan menjadi
sangat mudah. Itulah yang saya lakukan. Kita tidak akan merasa terlalu
’sayang’ ketika uang yang kita miliki berpindah tangan kepada amil jika
kita titipkan, juga kepada penjual domba atau sapi jika kita membelinya
sendiri.

Cara lain adalah dengan menempatkan qurban sebagai sebuah kebutuhan,
terlebih lagi keinginan. Jika kita membutuhkan sesuatu, maka kita akan
berusaha sekuat tenaga untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Dan karena
merasa butuh, kita pun biasanya akan merasa ringan untuk mengeluarkan
uang berapa pun jumlahnya. Harga seekor kambing untuk qurban berkisar
antara 600 ribu - 1 juta. Harga ponsel jauh lebih mahal, tapi kita
tidak merasa keberatan untuk membelinya karena kita menginginkannya.
Jutaan orang pergi haji juga bukan semata-mata karena kewajiban sebagai
seorang muslim saja, tapi juga karena keinginan haji tersebut sudah
mendarah-daging, sehingga puluhan juta rupiah pun tidak berat
mengeluarkannya.

Sebetulnya, saya merasa Idul Adha bukan hari raya buat saya. Karena
alasan yang sangat personal. Saya tidak suka daging kambing dan daging
sapi. Terlebih bau daging kambing yang sering membuat saya menderita.
Maka, saya kadang-kadang malah merasa malas jika mendekati hari raya
Idul Adha. Belum lagi penderitaan itu masih akan terus berlangsung
selama beberapa hari sesudahnya, karena bau darah daging kambing yang
biasanya bertahan cukup lama. Sementara kebanyakan umat Islam
‘berpesta’, saya tersiksa (
Nafsu makan saya turun drastis ketika Idul Adha dan beberapa hari
sesudahnya. Saya juga sering uring-uringan kalau ibu memasak apa pun
yang berbau kambing. Karena alasan itu pula, saya enggan dan tidak
pernah terlibat dalam kepanitiaan Idul Adha. Akan tetapi, ketidaksukaan
saya itu tentunya bukan menjadi alasan untuk tidak melakukan qurban.
Syariat tidak bisa dipatahkan hanya karena kita tidak menyukai suatu
hal yang berhubungan dengan syariat itu.

Bagi orang-orang seperti saya yang tidak menyukai daging kambing
atau sapi, barangkali ‘godaan’-nya terasa lebih berat. Dalam qurban ada
sepertiga hak bagi yang melakukannya. Pada kasus orang-orang seperti
saya, tentunya tidak bisa menikmati hak tersebut. Hal ini tentunya
menjadikan qurban yang kita lakukan tidak ‘berasa’, karena kita
seolah-olah membeli sesuatu, tapi kita tidak mendapatkan apa-apa. Akan
tetapi, kalau logikanya dibalik, kita bisa lebih bersyukur karena
daging qurban kita bisa ‘menjangkau’ dan dinikmati lebih banyak orang.
Dan barangkali, diantara banyak orang tersebut, ada yang mendoakan
kebaikan untuk kita dan dikabulkan oleh Allah. Siapa pula yang tidak
ingin didoakan oleh banyak orang?

Saya akan merasa lebih senang jika mendapati orang-orang disekitar
saya lebih tertarik dan berusaha untuk bersama-sama berlomba dalam
beramal sholeh. Salah satunya berqurban. Iri pada orang-orang sholeh
adalah iri yang diperbolehkan, bahkan dianjurkan. Apabila semangat fastabiqul khoirot
tertanam di dada setiap orang, maka akan tercipta kondisi di mana
setiap orang bersaing untuk melakukan amal sholeh. Jika dunia sudah
dipenuhi oleh orang-orang yang berusaha untuk beramal sholeh, rasanya
kita tidak perlu menyaksikan lagi kasus-kasus rebutan daging qurban di
televisi-televisi kita, yang membuat kita mengelus dada dan
geleng-geleng kepala.

C 1 H 3 U L 4 17 6. 241207. 05.03

Parah

December 20th, 2007

Aduh, kenapa ya? Rasa-rasanya belakangan ini saya sedang berada di
titik nadir kehidupan saya. Perasaan inferior yang terlalu berlebihan,
sering tulalit kalau mengobrol, tidak fokus dengan apa yang saya
lakukan, ketinggalan cerita dan informasi. Walhasil, saya merasa
seperti hidup di dalam tempurung saja. Dunia berjalan terasa sangat
cepat, tapi kemajuan yang saya dapatkan dalam diri terasa sangat
lambat…bahkan terasa terlampau lambat. Jadinya tertinggal jauh,
jauuuhhh sekali. Ini yang saya rasakan sekarang.

Perasaan dikejar-kejar oleh sesuatu, entah apa itu, yang jelas membuat
apa pun yang saya kerjakan jadi tidak beres, berantakan. Tidak bisa
menikmati proses, inginnya serba cepat dan instant. Bawaannya jadi
malas, sangat malas. Parahnya, semua terjadi dalam berbagai aspek
kehidupan saya. Kondisi intelektualitas, kondisi ruhiyah, kondisi
jasmani…saya merasa jadi orang yang paling ’sakit’ sekarang ini.  Oleh
karenanya, pencapaian-pencapaian yang didapatkan tidak sesuai dengan
target yang saya inginkan.

Seringnya pikiran ini mengawang-awang, entah kemana dan entah apa
yang saya pikirkan. Akhirnya, saya jadi tulalit kalau sedang mengobrol
dengan orang lain, karena sering juga pikiran saya itu mengawang-awang
di tengah-tengah orang banyak. Jadi malu sendiri dan jadi merasa sangat
bodoh. Merasa bukan seperti saya yang sebenarnya, ada yang hilang
rasanya, bahkan terasa banyak sekali yang hilang.

Tidak ada kemajuan yang berarti dalam skill saya, entah itu programming, networking, public speaking, leadership
atau manajemen diri dan waktu. Malah semakin menurun. Barangkali itu
yang membuat saya jadi merasa seperti manusia yang inferior dan tidak
PD ketika bertemu dengan siapa pun. Menyedihkan sekali jadi manusia
seperti ini.

Rasanya sudah banyak sekali apa yang saya baca, tapi ternyata tidak
membuat saya semakin cerdas atau semakin tahu. Barangkali ada yang
salah dengan apa yang saya baca atau cara saya membaca.  Entahlah.

Jadi sering lupa. Pernah suatu hari saya janjian dengan seorang
teman, dan saya lupa sama sekali. Sampai satu jam dari jadwal janjian,
saya diingatkan melalui SMS. Ya, ampun. Dan selama satu jam itu, saya
hanya sedang diam di kamar saya…tidak melakukan apa pun, hanya bengong
tidak jelas. Untungnya teman tersebut masih mau menunggu dan pada
akhirnya bertemu juga, tentunya dengan perasaan menyesal dan malu.

Meskipun, kadang-kadang saya juga merasa tidak percaya kalau saya
masih sanggup untuk hanya tidur 1 jam sehari, setelah sebelumnya
melakukan aktivitas-aktivitas yang menguras tenaga dan pikiran secara
beruntun dan berpindah-pindah tempat.  Atau ketika mata ini tidak
merasa lelah selama 18 jam di depan komputer tanpa henti.

Kalau dalam tulisan ini tidak ditemukan nada-nada optimis, maklumi
saja, namanya juga sedang curhat.  Sebetulnya dengan menuliskan ini,
saya juga sedang melakukan identifikasi terhadap sumber masalah yang
saya hadapi.  Barangkali dengan menuliskannya, saya bisa merancang
perbaikan-perbaikan di hari-hari selanjutnya.  Dan saya berjanji untuk
melakukan perbaikan-perbaikan itu.  Setahap demi setahap, langkah demi
langkah…Sampai akhirnya tiba di anak tangga terakhir atau di puncak
tertinggi hidup saya.

So, please, help me…!!

Bandung.  211207. 14.30.

Lagi Narsis

December 17th, 2007

A : “Kamu dulu kenapa bisa kena demam berdarah?

B :  “Barangkali karena saya terlalu ganteng, jadinya kelihatan menarik bagi nyamuk-nyamuk betina yang doyan nyedot darah.

)

C 1 H 3 U L 4 17 6. 181207. 02.45

Resensi Baru

December 17th, 2007

Ada 3 resensi terbaru di KataPengantar, ketiganya merupakan buah tangan Oci.  Jadi malu sendiri, tadinya KataPengantar merupakan project pribadi untuk sharing
atau resensi buku-buku yang pernah saya baca. Akan tetapi, beberapa
buku sudah saya selesaikan, tapi resensinya tertunda terus. Dari 7 buku
yang ada di KataPengantar, baru satu buku yang merupakan kontribusi
saya, sisanya hasil kerja Oci. Malu…

Cukup menarik perhatian saya adalah resensi buku Birunya Langit Cinta
karya Azzura Dayana. Barangkali karena ‘kedekatan’ peristiwa yang
diceritakan di resensi tersebut. Cerita tentang kisah cinta aktivis
dakwah. Ah, mereka juga manusia kan? Dan bagi saya, kisah-kisah cinta
aktivis dakwah sangat menarik untuk diikuti. Adakalanya kisah cinta
mereka melebihi serunya cerita di sinetron-sinetron. Saya jadi
penasaran juga dengan keseluruhan buku ini.

Dua buku lainnya adalah The Story of Jomblo yang merupakan kumpulan cerpen dari Asma Nadia dan kawan-kawan, serta Novel Pergilah ke Mana Hati Membawamu
karya Sussana Tamaro. Saya juga belum membaca buku-buku tersebut. Di
kamar saya masih setumpuk buku yang menunggu diselesaikan. Kalau sedang
mood, bisa 2 buku dalam 1 minggu saya selesaikan, kalau sedang tidak
mood, bisa tidak satu pun buku yang tamat dalam 1 bulan. Lagi kurang
motivasi niiihh…:p

C 1 H3 U L 4 17 6. 181207. 02.30

RIndu Sekali

December 11th, 2007

Saat-saat mencintai shalat tahajud setiap malam,

Saat-saat suka shalat dhuha setiap pagi,

Saat-saat melakukan tilawah setiap selesai shalat wajib,

Saat-saat senang melakukan shaum sunat.

Sekarang, berat sekali rasanya melakukan itu semua (

C 1 H 3 U L 4 17 6. 111207. 21.16

NB: Terbayang sesosok malaikat geleng-geleng kepala dan berkata “celaka kamu Don, Celaka!!” :((

Sok Bijak

December 11th, 2007

Saya baru ingat kalau saya pernah berkomentar di blognya Oci yang lama, yang kemudian di re-post di blognya yang baru.  Isinya seperti ini:

Sebetulnya,
seni dalam hidup adalah ketika kita pernah berbuat kesalahan, melakukan
dosa, dan bertindak bodoh. Dan moment-moment yang telah terjadi adalah
sebuah catatan dalam hidup kita, maka ketika kita membaca catatan
tersebut, kita jadi ingat tentang kesalahan-kesalahan kita. Dan itu
menjadi sebuah kontrol dalam hidup kita agar tidak pernah melakukan hal
yang sama lagi.

Serasa nggak percaya kalau pernah menulis kata-kata seperti itu :D

Mitos Sialan

December 9th, 2007

Ah, masih saja terjadi.  Di zaman internet sudah menjadi sebuah
kebutuhan seperti sekarang ini, sebuah pernikahan harus ditentukan oleh
‘hitung-hitungan’ sang kyai dukun.  Meskipun katanya seorang kyai, saya lebih suka menyebutnya dukun.

Pagi ini teman saya uring-uringan.  Hubungan yang sudah terbina
cukup lama dengan sang calon, terancam gagal gara-gara setelah bertanya
pada sang dukun, kedua nama mereka dalam hitungan sang dukun tersebut
tidak baik jika disandingkan.   Jadilah teman saya tersebut hampir
putus asa.  Dia merasa, sama saja bohong usaha selama ini, kalau pada
akhirnya harus ditentukan oleh hitung-hitungan tidak logis semacam
itu.  Kenapa tidak sejak pertama saja? Ya, saya memahami kegelisahan
dan kemarahannya.

Sebagai seorang teman yang dimintai saran dan pertimbangan, saya pun
memberikan beberapa saran dan pandangan saya soal masalah tersebut.
Memang mengkhawatirkan dan menggelikan masalah semacam itu.   Sampai
saya harus mengatakan, “bilang saja sama dia, kamu dan keluarga
juga sudah melakukan perhitungan, tapi hasilnya baik-baik saja, nggak
ada masalah.  Jadi, yang goblok kyai-nya siapa kalau begitu?  Mesti
salah satu yang bener.  Kalau nggak, berarti dua-duanya goblok!
“  Teman saya sampai tertawa dan malah meng-iya-kan saran saya tersebut.

Lebih mengkhawatirkan lagi setelah mengetahui latar belakang
keluarga calon teman saya itu.  Sang calon sendiri seorang sarjana,
kakaknya seorang Guru Besar di sebuah Universitas Negeri di Kota
Bandung.  Keluarganya golongan berada.  Ini tentu sebuah ironi atau
bahkan tragedi.  Hasil pendidikan bertahun-tahun tidak menjadikan
pikirannya rasional.  Namun, realita juga membuktikan, banyak sarjana,
master dan doktor yang masih saja percaya dukun dari pada percaya
diri.  Sayang sekali.  Bagaimana Indonesia bisa maju ya?

Akan tetapi, status kyai yang disandang sang dukun membuat saya
lebih merasa khawatir lagi.   Konon sang dukun juga punya pesantren.  “Jangan-jangan santrinya juga tukang hitung-hitungan ya?“,
seru teman saya dan bikin kami berdua terbahak-bahak.  Seorang kyai
yang semestinya mengajarkan kelurusan aqidah malah mengajarkan sebuah
kesesatan dan menjadi panutan pula.  Dan kita bisa mendapati
orang-orang semacam ini dengan sangat mudah di sekitar kita.

Sejak kecil, Alhamdulillah, saya dianugerahi pikiran yang
rasional.  Sehingga sering saya merasa heran, kenapa orang-orang harus
datang ke dukun?  Kenapa adik tidak boleh mendahului kakaknya kalau
menikah?  Kenapa kalau salah satu keluarga saya mengadakan pesta
rumahnya selalu bau kemenyan? Kenapa juga harus ada hari baik dan tidak
baik? Kenapa harus ada tahlilan?  Atau bahkan soal mitos-mitos yang
beredar di masyarakat.  Pada akhirnya, saya tumbuh jadi pemberontak
terhadap hal-hal semacam itu.

Meskipun sebagian mitos tersebut membawa ajaran Islam, namun
ternyata Islam yang saya pelajari tidak pernah mengajarkan hal-hal
semacam itu.  Islam yang saya pelajari adalah Islam yang rasional.
Soal pernikahan saja, Islam mengajarkan untuk menyegerakan jika dirasa
sudah mampu.  Tidak menjadi soal apakah ketika menikah kakaknya
didahului atau tidak.  Jika pernikahan itu sebuah ibadah, masa iya
sebuah ibadah harus dihalang-halangi gara-gara sesuatu hal yang konyol
dan tidak terbukti kebenarannya?  Bahkan, saya sering sekali mengutip
ucapan seorang ustadz, “lahir sih boleh kakak duluan, tapi kalo soal jodoh juga harus kakak duluan, berarti mati juga harus kakak duluan dong…

Soal larangan mendahului kakak ini, saya menyaksikan betapa salah
seorang teman perempuan saya sangat tersiksa gara-gara sang pacar belum
juga mau melamar karena kakak perempuannya belum menikah.  Sialnya,
sang kakak ini juga tidak tahu diri, dia terus saja mencari calon yang
dirasa cocok dan tidak mengijinkan adiknya untuk mendahului.  Ditambah
lagi dengan pola pikir keluarganya yang ‘kolot’, semakin lengkaplah
penderitaan teman saya ini.  Akhirnya, putus juga.  Kadang-kadang saya
senewen sendiri mendengar kasus-kasus semacam ini.

Belum lagi soal perhitungan hari baik yang ternyata hasil
perhitungannya pun menggelikan.  Bagaimana tidak menggelikan juga suatu
pesta pernikahan diadakan di hari kerja?  Konon jika menikah di hari
yang ditentukan itu, sebuah pernikahan akan langgeng dan membawa
kebahagiaan. Ini tentunya merepotkan undangan dan keluarga pengantin
sendiri karena bukan waktu yang tepat.  Bagi saya, semua hari
berpotensi untuk memiliki kebaikan.  Rumus hari pernikahan bagi saya
dan beberapa orang teman adalah…”adakan pernikahan di hari sabtu/minggu, dan di awal bulan!” Karena awal bulan adalah saat-saat gajian, dan kalau pun harus menyumbang, tidak dirasa memberatkan.

Kebanyakan anak-anak muda sekarang mungkin sudah tidak lagi peduli
dan memikirkan hal-hal semacam ini.  Akan tetapi, generasi orang tua
masih sangat banyak yang menganggap hal semacam ini penting.  Untungnya
orang tua saya tidak seperti itu.  Perlu diakui, masih agak sulit
melepas mitos-mitos semacam itu.  Indonesia adalah sebuah negara yang
kebudayaannya sebagian besar dibangun oleh mitos.  Maka, hampir di
setiap tempat di seluruh Indonesia, kita mendapati mitos daerahnya
sendiri-sendiri.  Saya sendiri sering merasa khawatir jika suatu saat
dipertemukan dengan calon mertua yang seperti itu.  Saya hanya merasa
khawatir tidak mampu bersikap bijaksana, itu saja.

Hidup ini terlalu serba tidak pasti untuk diramal.  Toh, kyai,
paranormal atau pun dukun-dukun itu pun belum tentu berbahagia dengan
hidupnya.  Belum tentu juga dia bisa meramalkan nasibnya sendiri,
apalagi nasib orang lain.  Masa iya kita harus percaya pada mereka yang
tidak tahu menahu tentang nasibnya sendiri?

C 1 H 3 U L 4 17 6. 101207. 03.08

NB:  Agak kurang sreg dengan judulnya D

Minus

December 4th, 2007

Tadinya acara jalan-jalan ke Pameran
Buku Kompas-Gramedia di Sabuga niatnya hanya ingin mencari buku-buku
bagus nan murah, atau mengikuti beberapa acara talkshow dengan harapan
ada acara bagi-bagi hadiahnya. Akan tetapi, tidak satu pun buku bagus
yang saya beli, soalnya diskonnya irit sekali. Acara talkshow pun tidak
memberikan hadiah, batal deh punya buku gratisan lagi )

Tidak diduga saya bertemu dengan bibi saya, adik dari ibu saya,
dengan putrinya yang masih sangat lucu, Nabila. Mengobrol sebentar,
hanya sekitar 5 menit. Namun, tiba-tiba bibi saya memberikan uang
sebesar 50 ribu rupiah. “Nih, untuk beli buku“, katanya. Saya
sempat menolak, namun bibi saya keukeuh memberikan uang itu. Whew,
bayangkan…! laki-laki dewasa, berkumis, berjenggot, diberi uang 50 ribu
rupiah oleh seorang wanita paruh baya, di depan umum, sedang ramai pula
p Untung tidak ada yang menyangka tukang palak juga 8) Karena bibi saya memaksa, dan saya pun tak kuasa menolak, ya sudah…rezeki $ Meskipun akadnya untuk beli buku, tapi saya ‘terpaksa’ tidak jadi membeli buku, rencananya nanti saja.

Setelah berputar-putar beberapa kali dan tetap tidak merasakan mood
untuk memborong buku, saya pun memutuskan untuk pulang. Namun, sebelum
pulang, saya tertarik untuk memeriksakan mata saya di sebuah stand
optik yang memberikan pelayanan periksa mata gratis menggunakan
komputer. Ingin tahu saja, penasaran. Dan, ternyata…mata kiri saya
minus -1 dan silindris 0.25, sementara mata kanan saya -0.75 s
Tiga tahun yang lalu pernah juga diperiksa menggunakan komputer,
hasilnya-0.25 dan -0.75, tapi dinyatakan normal setelah dites
menggunakan lensa. Nah, untuk tes yang sekarang, tidak ada tes lensa,
jadinya saya harus ‘gondok’ dengan hasil komputer tersebut.

Perasaan mata saya baik-baik saja. Masih bisa melihat
tulisan-tulisan kecil dalam jarak yang cukup jauh. Ya, saya akui, saya
memang jarang sekali makan sayur-sayuran, paling buah-buahan. Kata
teman saya, sebetulnya mata bisa normal lagi kalau nutrisi yang masuk
ke tubuh kita juga baik. Kacamata tidak bisa menyembuhkan, hanya sebuah
alat bantu saja.

Saya hanya meyakinkan diri…”Ah, nggak apa-apa kok, mata saya baik-baik saja“,”Tadi malam kan begadang, jadi mata kecapean kali…nggak apa-apa ah“, “Ya pantes aja, udah 2 hari ini tidur cuma 2 jam“.  Itulah lintasan pikiran-pikiran menolak ‘kenyataan’ pahit itu.  Takutnya benar-benar terjadi s

Kalau pun terbukti minus, saya belum berniat pakai kacamata juga.
Perasaan muka saya kurang cocok kalau dipasang bingkai kacamata. Dari
yang sudah-sudah, saya ditertawakan setiap menggunakan kacamata. Ah,
mudah-mudahan memang tidak terjadi apa-apa dengan mata saya )

C 1 H 3 U L 4 17 6.   041207. 22.15

Dunia di Pinggir Lapang

December 2nd, 2007

Lari di Sabuga (Sasana Budaya Ganesha),
meskipun tidak serutin dulu lagi, tetap merupakan aktivitas favorit
saya. Sabuga merupakan salah satu tempat pelarian saya ketika kepala
sudah terasa sangat penat atau ketika sedih, marah dan ketika hati
merasa terganggu. Berlari, sampai batas terlelah fisik, sampai tidak
sanggup untuk berlari lagi, sampai kepayahan bernafas, sampai akhirnya
terduduk lemas di pinggiran track lari tersebut.

Setelah lelah, saya biasanya beristirahat di pinggir lapangan, dan
mengamati…segala macam. Jika pagi, saya duduk di sekitaran jalan masuk
karena memang tempatnya teduh. Sementara jika sore, saya biasanya duduk
di rumput-rumput dan bersandar pada pagar. Bisa 1 jam, bahkan lebih,
ketika melakukan aktivitas ini, lebih lama daripada larinya. Masih
banyaknya pohon-pohon di sekitar Sabuga semakin membuat saya betah
berlama-lama, bahkan jika sore hari, saya pernah melakukannya sampai
tempat itu akan ditutup. Kalau pagi hari, apalagi di hari Sabtu atau
Minggu yang biasanya sangat ramai, saya sering melakukan aktivitas ini
sampai lintasan lari benar-benar sepi.

Sejujurnya, kegiatan ‘beristirahat’ inilah yang paling saya sukai.
Tersenyum sendiri menyaksikan bagaimana bayi belajar berlari atau
mengikuti tingkah polahnya. Terperangah sendiri ketika menyaksikan
wanita-wanita yang salah kostum. Terkagum-kagum menyaksikan seorang
kakek masih sanggup mengelilingi lapangan Sabuga dengan jumlah keliling
dan waktu yang lebih lama dari kebanyakan pemuda yang berlari di sana.
Iri dengan mereka yang bermain sepak bola, sementara saya hanya
menonton. Mengawasi wanita cantik yang belum tentu setiap saat bisa
kita lihat :D. Ratusan wajah yang selalu baru dan betapa herannya saya
karena tidak satu pun yang saya kenal. Namun, lebih dari itu, saya
banyak melakukan kontemplasi dan melamun di tengah-tengah keramaian itu.

Entahlah. Ketika badan sudah terasa sangat lelah, saya bisa kembali
berfikir jernih terhadap berbagai macam hal. Barangkali tempat yang
luas memang berpengaruh terhadap kelapangan hati dan keluasan berfikir
juga, dan itu sering saya rasakan ketika berisitirahat itu.

Ada banyak hal yang saya pikirkan. Nasib, rencana masa depan,
ide-ide, merenung…macam-macam. Namun, hal tersebut hanya bisa saya
lakukan ketika sendiri. Jika ada teman, saya tidak bisa melakukan itu,
karena biasanya mereka mengajak pulang lebih cepat. Oleh sebab itulah,
seringkali saya melakukannya sendirian. Bukan hanya lari saja, tapi
hampir setiap aktivitas yang sifatnya ‘mengunjungi’ suatu tempat, saya
memilih untuk sendirian. Saya sering tidak merasa enak ketika ingin
berlama-lama di suatu tempat, sementara ada teman yang sudah ingin dan
mengaajak pulang.

Setelah puas disibukan dengan ‘dunia sendiri’, dan ketika badan
sudah pulih dari rasa lelah, biasanya saya masih ingin mengelilingi
lintasan itu dengan berjalan kaki, sebelum akhirnya pulang. Dengan
energi baru atau dengan cara pandang baru terhadap berbagai macam hal.
Siap untuk menghadapi kejutan-kejutan yang masih akan selalu diberikan
oleh dunia ini.

C 1 H 3 U L 4 17 6.   031207. 02.50