Total Football, Where Are You?

November 25th, 2007

Jika bisa menyerang menggunakan Tank, untuk apa menggunakan tangan kosong?” (Rinus Michel)

Sebagai salah satu fans setia Timnas Belanda, terus terang saya
merasa khawatir dengan kondisi permainan anak-anak asuh Marco van
Basten sekarang. Kurang greget. Dari beberapa pertandingan terakhir
yang saya saksikan, diantaranya melawan Romania dan Luxemburg, saya
tidak mendapatkan militansi dari skuad orange. Bahkan ketika melawan
Luxemburg yang secara kualitas jauh dari Belanda, hanya menang 1-0, di
kandang pula. Dengan kondisi seperti itu, saya tidak yakin Belanda bisa
sukses di Piala Eropa 2008.

Bahwa Belanda memiliki banyak pemain muda berbakat, ya…saya setuju.
Akan tetapi, skill individu saja tidak cukup. Sebab sepak bola adalah
olahraga tim. Betapa kesalnya saya ketika menyaksikan Piala Dunia 2006,
Belanda ‘hanya’ mengandalkan Arjen Robben. Dan sekarang, ketika Arjen
Robben terlalu sering bergelut dengan cedera, giliran Wesley Sneijder
yang diandalkan. Memang masih ada pemain muda lain, seperti Rafael van
der Vaart dan Robin van Persie, tapi mereka pun memiliki nasib yang
sama dengan Robben, rentan cedera.

Sebagai kader dari Rinus Michel, founding father Total
Football, Marco van Basten seakan tidak mampu menerapkan ilmunya kepada
anak-anak asuhnya. Pemain sepak bola yang hebat, belum tentu menjadi
pelatih yang hebat, itulah yang terjadi pada van Basten. Setiap
bertanding, mereka selalu tampil monoton. Tidak ada lagi
serangan-serangan yang mematikan dan variatif. Terakhir kali, ketika
Piala Eropa 2000 saya menyaksikan Belanda tampil impresif, saat itu
diasuh olah Frank Rijkaard, meskipun harus kalah adu penalti di
semifinal dari Italia yang waktu itu tampil super-defensif. Setelah
itu, hanya kegagalan yang menghampiri tim orange. Gagal total di Piala
Dunia 2002, alias tidak masuk sama sekali untuk ikut serta di Piala
Dunia 2002. Saking nge-fans nya, ketika ditanya, siapa yang akan juara
di PD2002? Saya jawab, Belanda!! Padahal sudah tahu mereka tidak lulus
dari babak kualifikasi. Ini sih sudah gila namanya D Gagal juga di Piala Eropa 2004.  Tersingkir di babak kedua pada saat Piala Dunia 2006.

Saya paling benci dengan tim-tim yang tampil defensif. Bagi saya
tampil defensif sama saja dengan penakut, apalagi hanya mencari adu
penalti seperti yang dilakukan Italia ketika melawan Belanda di
semifinal Piala Eropa 2002. Arrrggghhh, malas sekali menontonnya. Saya
paling suka dengan tim yang bermain terbuka, apalagi jika dalam suatu
pertandingan, kedua tim bermain terbuka. Saling menyerang. Seperti
Brazil vs Belanda di semifinal Piala Dunia 1998. Meskipun kalah, saya
puas menontonnya. Bagi saya, yang penting bermain cantik, menghibur dan
menarik untuk dinikmati. Sehingga, jika harus bela-belain begadang juga
tidak merasa menyesal. Bermain defensif memang efektif, saaaangat
efektif sekali untuk menghindari kekalahan, tapi ini merupakan sebuah
‘pembunuhan karakter’ sepak bola yang tujuannya mencetak gol.

Filosofi bermain cantik dan menyerang ini selalu saya terapkan
ketika bermain Winning Eleven, Football Manager atau Championship
Manager. Pokoknya menyerang habis-habisan, walaupun resiko dari sepak
bola menyerang adalah kebobolan lebih banyak. Meskipun kalau ‘ngadu’ WE
sama teman-teman, saya sering kalah, yang penting kalah terhormat dan
kelihatan usahanya D

Nah, persoalannya, filosofi bermain cantik ini sepertinya sudah
mulai ditinggalkan oleh Belanda, setidaknya sejak dipegang oleh van
Basten. Sehingga, wajar saja, jika setiap bertanding, mereka selalu
tampil monoton dan membosankan. Wajar saja, jika setiap bertanding,
selalu terdengar konser siul dari para penonton. Konser siul adalah
sebuah ekspresi dari penonton yang menggambarkan bahwa “kalian bermain jelek sekali“, “kalian membosankan“, “apa yang kalian lakukan di lapangan? kami ingin menonton sepak bola, bukan sebuah pertunjukan drama…!!” dan ejekan-ejekan semacam itu.

Sialnya, di PD2006 tahun lalu, sepak bola menyerang yang saya
dambakan justru diperagakan oleh Jerman yang merupakan musuh bebuyutan
Belanda di setiap kompetisi. Belanda sendiri, lagi-lagi tampil monoton
dan membosankan, sebelum akhirnya tersingkir di babak 16 besar. Saya
sendiri sudah merasa khawatir akan seperti ini ketika para personil
Piala Dunia 1998 semacam Dennis Bergkamp, Marc Overmars atau Edgar
Davids sudah menurun performa-nya. Dan kekhawatiran saya ternyata
terbukti.

Pada dasarnya Total Football mengharuskan keterlibatan seluruh
pemain untuk melakukan penyerangan, kecuali kiper, tentu saja. Sebuah
penyerangan sporadis, tanpa henti. Oleh sebab itu, Total Football
menuntut pemain-pemain yang bisa bermain di berbagai macam posisi.
Tujuannya, agar setiap pemain bisa saling mengisi posisi yang
ditinggalkan temannya ketika menyerang. Paling tidak, seorang bek pun
harus bisa dan berani menyerang jika dibutuhkan. Namun, Total Football
juga membutuhkan peran seorang pengatur (playmaker). Peran ini
pernah dilakukan dengan baik oleh Johan Cruijff dan Ruud Gullit. Rinus
Michel sendiri pernah mengakui kalau strateginya tidak mungkin berjalan
dengan baik tanpa peran pemain semacam Cruijff atau Gullit. Inilah
masalah utama Belanda saat ini, tidak adanya sosok playmaker.
Saat ini, ada van der Vaart yang diharapkan mampu untuk mengisi peran
itu, tapi sayangnya dia masih belum matang dan belum mampu memimpin
rekan-rekannya dengan baik. Perlu proses memang. Akan tetapi,
mudah-mudahan Belanda bisa kembali mendapatkan formula terbaiknya di
Piala Eropa 2008 nanti. Kita tunggu saja.

C 1 H 3 U L 4 17 6.  261107.  03.09




3 Responses to “Total Football, Where Are You?”

  1.   Catur on November 26, 2007 6:05 am

    Hah doni maen WE, kudu di adu ama gwa nih don.. sok lah pake belanda, ditantang pake sepakbola atraktif ala spanyol..
    viva spanyol for euro 2008

    don belanda mah cuma ngandelin lari kenceng ajah

  2.   Donny on November 26, 2007 9:18 am

    Boleh, sok iraha atuh? sakalian, sugan ente pengen curhat :))

    Halah, spanyol cuma ngandalin Raul doang…prestasi? Ke laut aja :p

  3.   Catur on November 30, 2007 8:10 pm

    Emangnye belanda jg udah pernah juara World cup??? lom pernah kan

Comments RSS

Leave a Reply

Name (required)

Email (required)

Website

Speak your mind