The Most Inspiring Love Story: Kabayan and Iteung

November 27th, 2007

Kuatnya pengaruh film-film barat dan
perasaan inferior yang sudah sangat kronis dari bangsa Indonesia,
membuat kita silau akan segala hal yang berbau Barat. Termasuk juga
dalam film dan cerita-cerita yang menjadi inspirasi. Dalam novel 5cm,
yang pengarangnya memiliki nama depan sama dengan saya, tidak ditemukan
satu pun film dari Indonesia yang menjadi inspirasi dari novel
tersebut. Hampir seluruhnya Amerika punya. Padahal, menurut saya, ada
film-film yang cukup menginspirasi.

Bagi saya, kisah cinta Kabayan dan Iteung lebih menginspirasi
daripada kisah-kisah cinta yang pernah ada. Bukan Romeo and Juliet,
tidak cerita Nabi Yusuf dan Zulaikha, tidak juga kisah cinta Fahri dan
Aisha di Ayat-ayat cinta, atau Layla Majnun, apalagi cerita film
Titanic. Romeo dan Juliet, entah kenapa saya malah menganggapnya
sebagai kisah cinta paling bodoh yang pernah ada. Fahri dan Aisha,
ah…terlalu sempurna, meskipun tidak mustahil ada laki-laki seperti
Fahri di dunia ini.

Sebagai anak yang ditakdirkan sebagai suku Sunda, orang tua saya
lebih dulu mengenalkan saya dengan cerita-cerita dari tanah sunda.
Kabayan adalah salah satunya. Akan tetapi, gambaran sosok yang agak
lebih utuh saya dapatkan ketika menonton film-film Kabayan yang
diperankan dengan sangat baik oleh Didi Petet, bahkan lebih baik
daripada Kang Ibing. Saya tidak tahu persis apakah sosok Kabayan memang
seperti itu atau tidak, yang jelas peran Didi Petet sebagai Kabayan
memang belum tergantikan sampai saat ini. Terus terang saja, saya cukup
merindukan peran Didi Petet sebagai Kabayan lagi, hanya saja agak sulit
untuk membuat -misalnya- film ‘Si Kabayan jadi 2′.

Dari film-film Kabayan itu, jadi lebih tergambar jelas bagaimana
kisah cinta Kabayan dan Iteung. Itulah hebatnya media gambar bergerak.
Serta bagaimana ‘benci’-nya si Abah terhadap Kabayan, tapi sesungguhnya
sangat sayang kepada si Kabayan. Panggilan ‘borokokok’ adalah panggilan
’sayang’ si Abah untuk Kabayan, dan hanya dimiliki oleh si Kabayan.
Jadi kalau suatu saat Malaysia mau mengklaim dan mempatenkan panggilan
‘borokokok’, harus berhadapan dulu dengan si Abah D

Cinta si Kabayan juga tidak neko-neko, terlebih cinta si Iteung pada
si Kabayan. Meskipun sudah beberapa kali didekati oleh pria-pria yang
secara ekonomi jauh lebih baik dan masa depan yang lebih cerah daripada
si Kabayan, Iteung tidak bergeming. Cinta-nya hanya untuk Kabayan,
seorang lelaki pemalas yang teman setianya hanya kerbau dan dijamin
tidak punya masa depan yang cerah. Bahkan ketika cinta-nya berusaha
dihalang-halangi oleh Abah, yang merupakan ayah si Iteung, mereka
berdua tidak pernah menyerah, bahkan mereka semakin cinta.

Kabayan adalah kombinasi spontanitas, keluguan, kecerdasan sekaligus
ketulusan dan kepasrahan terhadap takdir. Sebenarnya, masih terjadi
polemik apakah si Kabayan itu orang yang bodoh atau cerdas, tapi kalau
saya cenderung mengatakan cerdas. Karena keluguannya, dia disukai
orang-orang. Karena kecerdasannya, dia bisa survive menjalani
hidup yang apa adanya dan bisa selamat dari berbagai ancaman, dan
karena ketulusannya dia selalu menolong orang tanpa pamrih. Akan
tetapi, karena ‘dilahirkan’ di tanah sunda, atribut tukang heureuy dan usil juga melekat pada diri si Kabayan.

Dalam ‘Si Kabayan Saba Kota‘, Kabayan menyusul ke kota Bandung yang baru sekali dipijaknya, berbekal alamat rumah temannya untuk disinggahi.  Dalam ‘Si Kabayan Saba Metropolitan‘, dia menyusul Iteung ke Ibu Kota, Jakarta, tanpa satu pun orang yang dikenalnya.  Bahkan harus dihukum push-up oleh polisi gara-gara salah tempat ketika menyeberang jalan.  Dan dalam ‘Si Kabayan dan Anak Jin‘, dia menyusul ke Yogyakarta untuk menyelamatkan Iteung.  Bukankah itu romantis?

Akan tetapi, Kabayan juga bukan sosok yang egois. Dia juga sosok
yang realistis. Kecintaan Kabayan pada Iteung ternyata tidak membuatnya
mengorbankan sesuatu yang lebih penting dan lebih besar. Dalam ‘Si Kabayan Saba Metropolitan
diceritakan Kabayan dipaksa untuk menjual tanah yang dimilikinya kepada
para konglomerat. Bahkan, Kabayan diiming-imingi akan dinikahkan dengan
Iteung jika dia bersedia menjual tanah tersebut. Kabayan sempat tergoda
dan ‘terpaksa’ menyetujui untuk menjualnya, sebelum akhirnya memutuskan
untuk membatalkannya dan meninggalkan Iteung serta Abah di Jakarta,
sambil mencium tanah dan mengatakan “Pffuah…tanah di Kota mah tidak enak!! saya mah mau pulang saja, terserah Abah dan Iteung kalau mau menjual tanah milik abah mah“.
Sebab, dengan menjual tanahnya kepada orang-orang kota, Kabayan tahu
akan terjadi kerusakan di tanah yang dicintainya. Namun, pada akhirnya,
Abah dan Iteung yang menyusul pulang dan menyesali perbuatannya.

Kecintaannya pada Iteung juga tidak membuat Kabayan mengumbar
habis-habisan nafsunya, meskipun kesempatan itu ada. Dia menghormati
Iteung, dan lebih dari itu, dia juga masih menghormati ‘keberadaan’
Tuhan. Tidak pernah diceritakan Kabayan dan Iteung bermesra-mesraan,
apalagi mendapati cerita Kabayan berciuman dengan Iteung sebelum
menikah. Cerita cinta ‘kan tidak berarti harus ada adegan ciuman, dan
tidak ‘kering’ juga suatu film tanpa adegan ciuman. Sementara sekarang,
sudah menjadi stereotip kalau film-film romantis harus ada adegan
ciuman.  Bahkan, meskipun sering, Kabayan dan Iteung masih saja
malu-malu jika bertemu.  Ini yang membuat saya gemas.

Film Kabayan lekat dalam ingatan saya karena selain kisah cintanya,
juga karena terasa lebih dekat dengan kehidupan saya, dan mungkin
kehidupan orang-orang Indonesia. Apalagi unsur budaya sunda-nya yang
cukup kuat. Terlebih ketika digambarkan suasana pesawahan dengan background suling sunda, ‘asa waas
kalau kata orang sunda. Apalagi jika film ini ditonton di tanah
perantauan…wuih, bisa bikin kangen habis-habisan. Sudah lama rasanya
sineas perfilman Indonesia tidak mengangkat cerita-cerita semacam
Kabayan yang mengangkat kearifan budaya setempat. Padahal, film juga
bisa digunakan untuk menjaga kelestarian budaya bangsa Indonesia.

C 1 H 3 U L 4 17 6. 271107. 23.30




6 Responses to “The Most Inspiring Love Story: Kabayan and Iteung”

  1.   nazhara on November 29, 2007 12:02 am

    hmm.. film kesukaan saya pas sd.haha..Kabayan tea…!!

  2.   Catur on November 30, 2007 8:15 pm

    Cir gobang gocir cir gobang gocir…
    whaahhaha don mun maneh boga bendo siga si kabayan bisa meunang awewe tah,
    satu lagi don si kabayan tu selalu beruntung, kayakna dewi fortuna gak jauh2 dari dia

  3.   Catur on November 30, 2007 8:17 pm

    NB : ciri khas doni, kalo ada topik apapun juga yang di angkat adalah kisah cintanya, asmara dan sejenisnya… piss thats the fact

  4.   Donny on December 2, 2007 9:55 am

    @nazhara a.k.a Ila: film favorit sepanjang masa itu mah…:p

    @catur: tapi asa geuleh pisan urang make-make bendo nya? :)) halah, gk juga lagi tur, ntu yang Robin Hood gua gk bahas yang masalah cintanya ama Marian :p

  5.   Catur on December 3, 2007 6:55 pm

    Kl gt satu lagi ciri khas doni adalah jago ngeles.. hahaha

  6.   Pendar cahaya on December 5, 2007 1:23 am

    a.k.a…. hm… maksudnya?

Comments RSS

Leave a Reply

Name (required)

Email (required)

Website

Speak your mind