Purnama, Shaum dan Simbol Romantisme

November 11th, 2007

Berselang cukup lama, sekitar 3 bulan, ketika sebuah diskusi bersama teman-teman seperjuangan menjelang Ta’lim Rutin SSG Cibeunying,
menginspirasi saya untuk menuliskan hasil diskusi tersebut. Ide
menulisnya sudah cukup lama, tapi baru teringat lagi sekarang. Diskusi
tersebut berbicara tentang…seks. Di dalam masjid…tapi memang tidak ada
masalah dengan itu kan?

Saya lupa lagi darimana awalnya, yang jelas pada akhirnya diskusi
tersebut berujung di topik tersebut. Ada 4 orang yang terlibat diskusi,
1 orang sudah cukup lama menikah, 1 orang baru menikah, 2 orang lagi
belum, saya salah satu dari yang terakhir itu. Berawal dari rasa
penasaran saya, saya mengajukan pertanyaan kepada rekan yang sudah
cukup lama menikah.

Pak, penasaran nih…Dalam Al-Quran kan ada satu ayat
yang mengijinkan untuk melakukan hubungan suami-istri di malam hari,
pada bulan Ramadhan. Memang seberapa besar sih pengaruh ayat tersebut
kepada orang yang menikah?

Makanya, kalian harus menikah dulu, baru tahu bagaimana
rasanya. Hehehe. Islam itu luar biasa, betul-betul Agama fitrah, sangat
mengerti betul dengan kebutuhan manusia. Salah satunya adalah ayat
tersebut. Kalau kalian sudah menikah, akan terasa betul manfaat dari
ayat tersebut. Apalagi pada saat bulan purnama?

Purnama, pak? Memang apa hubungannya?”  tanya saya lagi keheranan.

Tahu kan bagaimana pengaruh bulan pernama terhadap pasang-surut
air laut? Nah, ternyata bulan purnama itu juga berpengaruh terhadap
pasang-surut libido manusia juga. Ketika purnama, akan terasa betul
hasrat seks itu ada di puncaknya, coba saja perhatikan dan rasakan…!

Wah, kok saya baru tahu ya?  Perasaan kok biasa-biasa saja ya?  Apa karena tidak pernah saya perhatikan kali ya?

Ya, mungkin karena tidak pernah diperhatikan. Hal ini juga
cukup menjadi alasan kenapa Rasulullah menjadikan pertengahan bulan
(13,14,15) hijriyah untuk melakukan shaum sunat, terutama bagi para
bujangan seperti kalian. Pada saat itu kan bulan sedang purnama. Tentu
kita sudah tidak asing lagi dengan perintah shaum bagi mereka yang
mampu menikah, tapi belum memiliki kesempatan. Shaum itu bisa menjadi
rem. Ini juga menjadi bukti bahwa perintah-perintah Rasulullah tersebut
bukan asal perintah, tapi ada makna di balik itu semua.

Hmm, saya jadi penasaran nih pak, jangan-jangan cerita soal
Werewolf itu juga inspirasinya dari fenomena ini ya? saking ‘berat’-nya
menahan hasrat, jadi aja Serigala…
” canda saya.

Oh, iya…bisa jadi. Barangkali itu merupakan simbol bahwa ketika
bulan purnama, nafsu kita sedang memuncak dan menyerupai binatang dari
sisi itu.

Wah, pantesan tiap-tiap film romantis biasanya disorot adegan
bulan purnama, tapi sebetulnya sih banyakan film horor kalau bulan
purnama. Apa karena itu juga kenapa, bisa dikatakan, setiap orang suka
melihat bulan purnama dan jadi sentimentil tiap lihat bulan purnama?
Trus, yang kebayang tuh…’
andai ada si dia disisiku, halah!’
Hehehe. Kalau yang sudah menikah kan asyik, nah yang belum kayak
kita-kita ini kan jadinya…shaum lagi, shaum lagi, mupeng deh!!

Haha, iya, mungkin itu juga alasannya, kenapa ketika bulan purnama yang terbayang hal-hal yang romantis melulu.

Pembicaraan kami berakhir karena pemateri untuk ta’lim saat itu
sudah datang. Hmm, ada yang punya pengalaman lain dengan purnama nggak
ya?

C 1 H 3 U L 4 17 6. 121107. 03.30




Comments RSS

Leave a Reply

Name (required)

Email (required)

Website

Speak your mind