Jika dibandingkan dengan para pengemis dalam tulisan sebelumnya,
anak-anak jalanan barangkali lebih baik. Kemiskinan mereka lebih nyata,
meskipun saya masih saja sangsi untuk memberi mereka uang. Itu yang
saya lihat ketika untuk pertama kalinya saya datang untuk membantu
teman-teman mengajari mereka membaca dan menulis di Pasar Ciroyom,
Bandung. Karena kegiatan tersebut juga merupakan salah satu program
kerja Divisi Dakwah dan Sosial, SSG Cibeunying, tentunya tidak hanya mengajari baca-tulis huruf latin saja, tapi juga mengaji, shalat atau nilai-nilai Islam.
Kondisinya jauh dari yang saya bayangkan daripada sebelum saya datang
ke sana. Dalam bayangan saya, kegiatan dilakukan secara klasikal, ada
papan tulis, ada kursi…ya, seperti ruangan kelas. Namun, ternyata tidak
seperti itu. Kegiatan dilakukan di emperan masjid yang terletak di
lantai 3 pasar Ciroyom, tanpa papan tulis, tanpa kursi…dilakukan sambil
duduk. Teman-teman saya memang tidak menceritakan kondisi-nya seperti
apa, jadi saya membayangkannya seperti itu.
Kegiatan tersebut rencananya akan dilakukan setiap hari Kamis,
Jum’at dan Ahad dari pukul 16 - Maghrib. Rencana saya datang hari kamis
batal karena tidak memungkinkan untuk tiba di sana sebelum maghrib.
Saya datang hari berikutnya, itu pun dengan resiko mengganti shift
kerja saya menjadi tengah malam.
Ketika saya datang ke sana, ada sekitar 25 orang anak-anak jalanan,
mayoritas laki-laki. Hanya ada 3-4 orang wanita. Dengan range umur dari
7 tahun sampai 19 tahun. Mereka terbagi menjadi 3 kelompok,
masing-masing kelompok ‘mengelilingi’ seorang calon bidadari surga mentor, yang semuanya perempuan. Dua orang adalah teman saya di SSG, yaitu Ayu
dan Dewi, satu orang lagi…saya lupa berkenalan. Saya melihat
pemandangan yang cukup kontras, meskipun ke-3 teman saya itu tidak
dandan berlebihan, tapi sudah bisa menunjukan bahwa terdapat perbedaan
kualitas hidup yang cukup jauh. Antara yang terawat dan tidak terawat.
Untungnya, sambutan mereka hangat sekali. Mereka langsung menyalami
ketika Dewi memperkenalkan saya. Beberapa bahkan ada yang langsung
dekat dengan saya. Kondisi tersebut membuat saya sedikit lebih bisa
membuka diri. Saya langsung ditugasi untuk tes mengaji anak-anak
tersebut dan membaginya ke dalam beberapa kelompok, berdasarkan buku
Iqra. Padahal niat saya tadinya hanya melihat-lihat dulu situasi dan
kondisi tempat tersebut. Dari obrolan dengan mereka, saya jadi tahu
bahwa mereka pun sebelumnya pernah belajar mengaji. Tapi, sebagian
besar lupa lagi karena tidak pernah mengaji lagi.
Ketika sedang melakukan aktivitas itu lah, saya menyadari satu hal.
Hampir setiap saat, mereka menutupi hidung mereka dengan baju. Hal ini
dilakukan oleh hampir semua anak-anak tersebut. Dan satu lagi yang
membuat saya menyadari ada yang salah adalah…bau lem aibon! Oalah, jadi
selama ini mereka belajar sambil ngelem. Entah apa yang ada di dalam
imajinasi mereka ketika mengaji itu. Saya tidak terlalu mengerti. Dan
sepertinya, akan sulit melepaskan mereka dari kebiasaan tersebut. Saya
tidak tahu apakah mereka sadar atau tidak, yang jelas saat itu mereka
tidak menunjukkan tanda-tanda sedang teler. Semuanya nampak biasa-biasa
saja. Dan mereka pun shalat dalam keadaan seperti itu. Terus terang
saja, entah karena pengaruh lem aibon itu atau bukan, yang jelas kepala
saya terasa panas saat itu, terutama otak bagian belakang. Sementara
teman-teman wanita saya itu tampak biasa-biasa saja, salut saya pada
mereka.
Jika dibandingkan dengan saya, ketiga wanita tersebut nampak lebih
mampu menangani anak-anak itu. Entahlah, barangkali karena jiwa keibuan
mereka atau karena mereka sudah terlatih untuk menangani anak-anak.
Sementara saya jarang sekali berhubungan dengan anak-anak dalam situasi
semacam itu, apalagi anak-anak jalanan. Rasanya susah sekali mengatur
mereka, tapi kepada teman-teman saya kok nurut-nurut saja.
Kotor sekali. Barangkali mereka berhari-hari tidak mandi, dan
pakaian yang digunakan pun itu-itu saja. Kecuali anak-anak wanitanya
yang terlihat lebih bersih. Ada yang berdandan ala punk, tapi sebagian
besar rambut mereka berwarna kemerahan karena kurang gizi atau terlalu
sering terkena matahari.
Atas saran dari Ayu, saya juga membawa makanan. Saya membawa 2 paket
kue bolu yang harus dipotong-potong lagi. Alasan saya waktu itu karena
tidak tahu pasti jumlah anak-anak yang ada di sana. Kalau jumlahnya
sedikit, anak-anak itu akan kebagian kue bolu lebih banyak dan
sebaliknya. Tadinya mau bawa kwaci atau sukro saja 2 bungkus yang kalau
dibagikan pada 100 orang pun pasti kebagian
Lucu sekali memperhatikan mereka mengikut kemana kue itu pergi.
Bahkan ketika saya diminta Dewi untuk memberikan nasihat atau cerita,
mereka malah mengikuti Dewi dan meninggalkan saya sendirian, karena kue
itu saya berikan kepada Dewi untuk dibagikan. Saya pun sempat
tertawa-tawa melihatnya. Konon mereka selalu berebutan kalau dibagikan
makanan, semuanya ingin mendapatkan yang pertama. Padahal sudah
berkali-kali juga kami mengatakan bahwa mereka semua akan kebagian.
Setelah membagi-bagikan makanan, kegiatan pun berakhir. Kami saling
janji untuk datang lagi pada hari minggu. Saya sendiri tidak tahu pasti
apakah hari itu bisa datang atau tidak. Hanya saja, sepanjang jalan
pulang, yang saya pikirkan adalah bagaimana caranya menghentikan
kebiasaan ngelem anak-anak tersebut. Saya tidak tahu pasti pendekatan
seperti apa yang harus digunakan, karena belum pernah punya pengalaman
seperti ini. Kepikiran sama saya untuk bercerita seperti ini…
Donny : “Barudak, ada beberapa hal yang menyebabkan
kemiskinan dan penderitaan seumur hidup, yaitu : Pertama, ngelem.
Kedua, ngelem. Ketiga, ngelem. Keempat dan seterusnya, ngelem. Jadi,
masih ada yang mau ngelem??”AAJ : “Saya…!“, sambil ngacung, serentak.
Donny : *SIGH*
C 1 H 3 U L 4 17 6. 241107. 03.30
Kadang dela juga ga ngerti atas apa yang anak jalanan lakukan sama diri mereka sendiri. pengalaman waktu dibawah jembatan semanggi, beberapa anak memang sering menghisap lem tapi beberapa anak lainnya tidak, malah beberapa anak lainnya melakukan hal tersebut agar dapat melukai diri mereka hingga cacat (katanya sih pendapatan bertambah).
don kalo gak dapet calon istri, ngelem ajah dulu, sapa tau dapet imajinasi whwhhwwh piss bro
(^_^)
1 hal yang ayu yakini, kita semua sama… ayu, t dewi, k donny, ijal, yadi, acung, nur, dkk.. semua hamba ciptaan 4UJI.. semuanya punya fitrah yang cenderung pada kebaikan..
coba liat sekali lagi..
di balik lem aibon itu, ada fitrah yang bisa membuat mereka jauh lebih baik..
buktinya??? kalau kita berinteraksi sama mereka, pasti bikin kita senyum.. ketemu mereka bikin kita seneng.. semuanya indah..
tak ada yang sulit bagi 4UJI untuk merubah keadaan seseorang..
tinggal kita memilih mau jadi penonton atau jadi bagian pertolongan 4UJI bagi mereka..
semangattt!!!!
@Dela: mungkin karena selama ini ‘dunia’ kita beda sama ‘dunia’ mereka, jadinya agak sulit memahami cara mereka berfikir.
@Catur: Daripada ngelem mending maen WE :p
@’hoshi’: Sebetulnya ketika pertama kali saya berada di sana, saya juga semakin menyadari keterbatasan diri saya sendiri. Terus terang saja, saya merasa masih harus belajar banyak lagi dari Ayu, Dewi, Bunda, Hanif, Takwir…bahkan dari Ijal, Nur dan lain-lain.
Cara mereka menyambut saya saja sudah membuat saya tersentak. Tidak seperti yang saya bayangkan. Barangkali selama ini saya terlalu berprasangka ya? ^.^ Yah, mudah-mudahan apa yang kita lakukan memang ada hasilnya, minimal diri kita bisa menjadi lebih dekat kepada 4JJ1
Hai hai..