Cerita Dari BHTV Gathering

November 9th, 2007

Berawal dari sebuah undangan di milis KLuB yang dikirimkan oleh Zaki Akhmad soal pertemuan BHTV (Bandung High-Tech Valley) yang akan
diadakan di Bimbingan Belajar IZI, Jl. Ambon 19 Bandung, kemudian
memunculkan minat saya untuk mengikuti kegiatan tersebut. Meskipun
sudah cukup sering mendengar membaca soal BHTV, tapi
awalnya tidak terlalu membuat saya berminat, karena saya pikir
komunitas tersebut bersifat tertutup. Namun, ketika undangan tersebut
sampai ke email saya, apalagi melihat susunan acaranya yang bernuansa
ilmiah, membuat saya tertarik untuk menghadiri acara tersebut. Sudah
cukup lama saya tidak terlibat dalam kegiatan-kegiatan yang ‘berbau’
ilmiah, tepatnya sejak lulus kuliah. Terus terang, saya merindukan
suasana tersebut.

Maka, berangkatlah saya pada waktu yang dijadwalkan, meskipun terlambat
setengah jam akibat hujan deras yang mengguyur Bandung. Saya tertahan
di Masjid Salman selama 30 menit, dan tiba di lokasi jam 7 kurang.
Untunglah, ketika saya tiba di sana, acara belum dimulai. Setelah
bertanya kepada satpam di mana tepatnya tempat kegiatan, saya langsung
menuju ke sana. Kikuk juga, karena itu pertama kali saya mengikuti
kegiatan BHTV, selain itu karena memang tidak satu pun yang saya kenal
atau kenal saya. Meskipun nama-nama yang hadir saat itu tidak asing
bagi saya, ada pak Budi Raharjo dan pak Dimitri Mahayana.

Dalam 2 minggu terakhir, kegiatan ini merupakan yang kedua, setelah PestaBlogger,
dimana saya tidak pernah bertemu sebelumnya dengan para pesertanya.
Awalnya merasa minder juga, tapi setelah dipikir-pikir, kalau saya
minder seperti itu, saya tidak akan pernah maju. Apalagi, dalam acara
BHTV, saya merasa satu-satunya orang yang non-ITB, tapi akhirnya
pikiran-pikiran semacam itu berhasil disingkirkan dan saya bisa hadir
di acara tersebut, no regret.

Acara dimulai tepat jam 7, dipandu oleh pak Budi, dengan sesi
pertama presentasi dari Zaki tentang Panduan Penelitian OpenSource.
Dokumentasinya sendiri bisa di-download di sini.
Zaki sedikit bercerita tentang tantangan dan hambatan penelitian yang
berhubungan dengan OpenSource. Sementara, pak Budi sendiri menjelaskan
bahwa panduan tersebut gunanya untuk memetakan atau sebagai road map jenis penelitian yang seperti apa saja yang dibiayai oleh pemerintah.

Sesi kedua diisi oleh Anto dari Pusat Mikroelektronika ITB yang mempresentasikan tentang Virtual Office.
Konsepnya sederhana sebetulnya, memindahkan organisasi (perusahaan) ke
dunia maya. Dengan cara seperti ini, setiap orang yang terlibat dalam
organisasi/perusahaan yang menggunakan virtual office tidak perlu datang ke kantor, namanya juga virtual.  Seperti ada tapi tiada, seperti tiada tapi ada.  Untuk melakukan atau mengetahui task yang harus dikerjakan, cukup mengakses web virtual office tersebut.

Sesi ketiga diisi oleh Pak Sanny yang menceritakan pengalamannya
pergi ke Bangalore, India. Dan ceritanya membuat peserta kegiatan
tersebut terperangah sekaligus prihatin dengan kondisi Indonesia (atau hanya perasaan saya saja ya?),
namun pada saat yang bersamaan menumbuhkan semangat peserta juga agar
bisa seperti itu. Beliau bercerita soal kemajuan kota Bangalore,
terutama bidang IT-nya yang mampu menyumpang 26% pemasukan APBN
kota/negara tersebut, saya lupa lagi. Kemajuan IT India memang sudah
cukup lama saya dengar, tapi setelah mendengarkan paparan Pak Sanny,
saya menjadi semakin bertambah yakin, sekaligus penasaran juga. Soalnya
di film-film India, soal IT, setahu saya, tidak pernah dibicarakan. Pak
Sanny juga membacakan fakta-fakta soal kemajuan kota Bangalore,
sayangnya tidak saya catat. Satu-satunya yang saya sesali adalah tidak
sempat menanyakan tentang kondisi pendidikan di sana, maksud saya,
biayanya. Konon tidak berbeda jauh dengan Indonesia.

Sesi keempat, giliran Pak Dimitri Mahayana yang berbagi cerita,
tentang pengalamannya di Korea. Lagi-lagi, cerita beliau cukup membuat
peserta terperangah (atau, lagi-lagi, hanya saya?)  Konon, di Korea, jurusan-jurusan kuliah itu lebih terfokus, sampai-sampai ada jurusan Game Developer.
Sehingga, ketika lulus, sudah jelas keahliannya. Bandingkan dengan
Indonesia yang ketika lulus kuliah banyak sarjana yang tidak tahu mau
apa dan kemana, contohnya, ya…saya ini :D. Dalam perjalanannya, pak
Dimitri memang lebih fokus untuk study-banding soal game developer.  Dan, katanya, beliau dibuat tercengang oleh kemajuan game developer di Korea.

Sesi kelima, presentasi tentang sebuah proyek Fiber Optic,
tapi ada beberapa hal yang harus diolah lagi, lebih bersifat bisnis.
Sesi ini yang paling ramai, karena kalau proyek ini bisa berjalan
dengan baik, bisa menjadi ‘masa depan’ dunia internet di Kota Bandung.
Saya sendiri belum terbayang akan bagaimana proyek ini jadinya, yang
jelas memang masih akan diolah lagi oleh tim BHTV. Inginnya ikut
terlibat juga, tapi saya masih baru dan belum paham harus apa di sana.
Untuk saat ini sih ikut-ikut saja dulu, siapa tahu bisa ‘kecipratan’.
Hehe.

Menjelang akhir kegiatan, Pak Sanny ‘menantang’ komunitas ini untuk mengadakan event besar di bulan Desember.  Dan ternyata, para peserta pun cukup antusias menerima tantangan tersebut, meskipun belum tahu event
semacam apa yang akan diadakan. Wah, saya harus terlibat kalau begitu,
jangan sampai ketinggalan, harus!! Kegiatan tersebut ditutup menjelang
pukul 9 malam, sesuai dengan rencana.

Bagi saya, kegiatan semacam ini cukup menjawab kerinduan saya
terhadap sebuah komunitas yang selama ini saya cari. Bersifat ilmiah,
tapi tidak terlalu formal. Namun lebih dari itu, punya cita-cita besar,
ini yang paling penting. Menyenangkan rasanya bisa satu forum dengan
mereka yang sudah dikatakan ahli dibidangnya masing-masing. Selain itu,
penerimaan mereka yang terbuka membuat saya merasa nyaman. Saya jadi
terpacu untuk lebih meningkatkan kemampuan saya. Dan rasanya, dengan
bergabung di BHTV, kesarjanaan saya akan lebih berguna jika
dibandingkan dengan apa yang saya kerjakan selama ini. And, yes…finally, i found the community.

C 1 H 3 U L 4 17 6. 101107. 03.40.




Comments RSS

Leave a Reply

Name (required)

Email (required)

Website

Speak your mind