Wanita-Wanita Tangguh

November 30th, 2007

Bulan Desember selalu memiliki arti
penting bagi saya. Alasannya hanya 1, karena ternyata banyak juga
teman-teman wanita yang saya kenal lahir di bulan ini. Beberapa orang
yang lahir di bulan ini juga memiliki posisi yang ‘istimewa’ dalam
hidup saya. Istimewa sebagai sahabat, guru, atau pun…ya, tahu sendiri
lah. Setidaknya sampai saat ini. Dan karena itulah, tepat di awal
Desember, tulisan ini saya dedikasikan bagi wanita-wanita tersebut.

Jika tulisan-tulisan sebelumnya lebih banyak ‘nyepetin’ wanita, maka
untuk kali ini, dengan segala kerendahan hati, saya berusaha untuk
menuliskan sisi positifnya. (Gawat!! Mayday…Mayday!!  Donny udah mulai sering kerasukan setan romantis nih…)
Akan tetapi, wanita-wanita yang menjadi inspirasi tulisan ini tidak
selalu lahir di bulan Desember, bahkan ada yang tidak saya ketahui
tanggal kelahirannya.

Saya sering kali merasa malu dengan spirit yang dimiliki
oleh teman-teman wanita yang saya kenal di beberapa organisasi yang
saya ikuti. Dalam banyak hal, saya juga banyak belajar dan menyerap
ilmu dari mereka. Wanita-wanita yang tidak hanya berkata-kata, tapi
juga lebih berorientasi aksi. Berbeda dengan saya yang masih banyak
omong, tapi kurang aksi.

Dalam kegiatan Kemah Juara 2007 Rumah Zakat
beberapa bulan yang lalu. Saya terlibat sebagai panitia saat itu.
Setidaknya ada 100 orang lebih panitia, karena itu merupakan sebuah
perhelatan akbar, dengan skala regional Jakarta-Banten-Jawa Barat.
Menariknya, sebagian besar panitianya adalah wanita dan beberapa posisi
penting kepanitiaan juga dipegang oleh wanita. Pressure dari
kegiatan tersebut sangat tinggi, bahkan bisa membuat stress panitia,
terutama seksi konsumsi yang harus ‘mengenyangkan’ lebih dari 1500
perut peserta dan panitia. Koordinator dan seluruh anggota seksi
konsumsi adalah wanita. Saya pernah diminta untuk jadi anggota seksi
konsumsi, tapi saya menolak karena dari kegiatan-kegiatan yang pernah
saya ikuti, konsumsi memang masalah yang paling pelik.

Ternyata, kekhawatiran saya memang terbukti, konsumsi menjadi
masalah terbesar dalam acara tersebut. Susunan acara jadi berantakan
gara-gara ada ratusan peserta yang kelaparan. Sebagai panitia, saya
merasakan tekanan dari para peserta dan panitia yang berasal dari kota
lain, apalagi seksi konsumsi yang memang bertanggung jawab untuk
mengurusi makanan, tak terbayangkan oleh saya pressure-nya
seperti apa. Kadang saya merasa kasihan juga melihat wajah-wajah
mereka, tapi sampai acara berakhir, mereka tetap bekerja dengan baik
dan berusaha untuk tenang.

Masih di acara yang sama, tapi berbeda seksi kerja. Kali ini bagian
seksi keamanan. Saya sampai terkekeh-kekeh dan geleng-geleng kepala
ketika mendengar dan menyaksikan sendiri bagaimana wanita-wanita yang
menjadi seksi keamanan hanya tidur 1 jam, bahkan ada yang tidak tidur
selama 2 hari. Militan sekali. Seksi keamanan yang laki-laki saja tidak
sampai seperti itu. Bahkan, koordinatornya sampai habis-habisan
dikritik oleh mereka gara-gara masalah ini. Sementara saya yang masih
bisa merasakan tidur 4 jam tiap malam di acara tersebut, diam-diam
menaruh hormat dan salut pada mereka.

Wanita-wanita tangguh lain saya temukan di SSG Cibeunying.
Program anak-anak jalanan yang sekarang menjadi program kerja
organisasi ini, para pengajarnya sebagian besar wanita. Saya yang sudah
terlibat beberapa kali pun tidak terlalu banyak memiliki peran.
Kegiatan yang dilakukan sore hari sudah pasti cukup menguras tenaga
setelah seharian bekerja atau kuliah. Namun, mereka sepertinya selalu
antusias untuk datang dan mengajari anak-anak jalanan itu. Bahkan
dengan keceriaan yang seperti tiada habisnya. Tidak ada bayaran sama
sekali, malah sebaliknya, mereka lebih banyak mengeluarkan uang untuk
kegiatan ini. Dan jarang sekali saya mendengar mereka mengeluh.
Lagi-lagi saya merasa disindir karena belum bisa memberikan kontribusi
yang berarti.

Sampai tulisan ini dibuat, saya baru sekali ikut serta aksi atau
demonstrasi. Saya memang bukan orang yang terlalu suka dengan kegiatan
demonstrasi. Akan tetapi, bahwa kegiatan ini menghabiskan energi, sudah
tidak diragukan lagi. Long march, berlari, bernyanyi,
berteriak dan berdesak-desakan apalagi disertai dengan cuaca yang
panas, sudah pasti menguras energi. Belum lagi jika terlibat bentrokan
dengan aparat keamanan atau kubu lain. Akan tetapi, tidak sedikit juga
saya mengenal wanita-wanita yang sering terlibat dalam kegiatan ini.
Dan anehnya, mereka tampak senang sekali melakukannya.

Sebagian besar wanita-wanita tangguh tersebut saya kenal di
organisasi-organisasi dakwah. Keterlibatan saya di
organisasi-organisasi itu juga lebih memudahkan saya untuk memahami
kenapa mereka bisa memiliki sikap semacam itu. Di tengah-tengah kondisi
zaman yang serba materialistis ini, sikap mereka barangkali bisa
dikatakan ‘menantang’ arus. Barangkali, itulah jihad bagi mereka.
Ajaib, bagaimana dakwah bisa membentuk wanita-wanita seperti itu.

Menariknya, mereka adalah wanita-wanita yang tidak pernah
berteriak-teriak soal emansipasi wanita, feminisme atau kesetaraan
gender. Dalam soal kepemimpinan, mereka tetap beranggapan bahwa
bagaimana pun, laki-laki adalah pemimpin bagi wanita. Dan bahwa dalam
soal-soal tertentu, laki-laki memang lebih baik daripada wanita, begitu
juga sebaliknya. Para ikhwan pun menyadari bahwa ada tempat-tempat khusus yang memang menjadi ‘keahlian’ wanita dan tak tergantikan.

Kenyataannya, organisasi-organisasi dakwah yang saya ikuti memang
memberikan keleluasaan kepada mereka untuk memiliki peran di dalam
masyarakat. Dengan sendirinya, mereka bisa mengisi kekosongan pada
wilayah-wilayah yang membutuhkan peran mereka. Fakta semacam ini tidak
pernah muncul ke media-media mainstream. Akan tetapi, mereka
bisa membuktikan diri bahwa mereka bisa eksis dan memberikan kontribusi
yang cukup besar, tanpa pernah menuntut, karena mereka meyakini bahwa
balasan yang lebih besar akan mereka dapatkan. Bukan dari manusia, tapi
dari Allah.

Barangkali masih banyak wanita-wanita tangguh yang tidak saya kenal
dan bertebaran di sekitar kita. Entah mereka yang bergerak di
organisasi dakwah atau bukan. Kebetulan saja wanita-wanita tangguh yang
saya kenal memang kebanyakan bergerak di organisasi dakwah. Apa yang
saya tulis, hanya sebagian kecil saja dari yang saya tahu dan lihat.
Harapan saya, mudah-mudahan saya masih bisa dipertemukan dengan
wanita-wanita tangguh lainnya, yang bisa dan selalu menginspirasi saya.

C 1 H 3 U L 4 17 6. 011207. 05.00

The Most Inspiring Love Story: Kabayan and Iteung

November 27th, 2007

Kuatnya pengaruh film-film barat dan
perasaan inferior yang sudah sangat kronis dari bangsa Indonesia,
membuat kita silau akan segala hal yang berbau Barat. Termasuk juga
dalam film dan cerita-cerita yang menjadi inspirasi. Dalam novel 5cm,
yang pengarangnya memiliki nama depan sama dengan saya, tidak ditemukan
satu pun film dari Indonesia yang menjadi inspirasi dari novel
tersebut. Hampir seluruhnya Amerika punya. Padahal, menurut saya, ada
film-film yang cukup menginspirasi.

Bagi saya, kisah cinta Kabayan dan Iteung lebih menginspirasi
daripada kisah-kisah cinta yang pernah ada. Bukan Romeo and Juliet,
tidak cerita Nabi Yusuf dan Zulaikha, tidak juga kisah cinta Fahri dan
Aisha di Ayat-ayat cinta, atau Layla Majnun, apalagi cerita film
Titanic. Romeo dan Juliet, entah kenapa saya malah menganggapnya
sebagai kisah cinta paling bodoh yang pernah ada. Fahri dan Aisha,
ah…terlalu sempurna, meskipun tidak mustahil ada laki-laki seperti
Fahri di dunia ini.

Sebagai anak yang ditakdirkan sebagai suku Sunda, orang tua saya
lebih dulu mengenalkan saya dengan cerita-cerita dari tanah sunda.
Kabayan adalah salah satunya. Akan tetapi, gambaran sosok yang agak
lebih utuh saya dapatkan ketika menonton film-film Kabayan yang
diperankan dengan sangat baik oleh Didi Petet, bahkan lebih baik
daripada Kang Ibing. Saya tidak tahu persis apakah sosok Kabayan memang
seperti itu atau tidak, yang jelas peran Didi Petet sebagai Kabayan
memang belum tergantikan sampai saat ini. Terus terang saja, saya cukup
merindukan peran Didi Petet sebagai Kabayan lagi, hanya saja agak sulit
untuk membuat -misalnya- film ‘Si Kabayan jadi 2′.

Dari film-film Kabayan itu, jadi lebih tergambar jelas bagaimana
kisah cinta Kabayan dan Iteung. Itulah hebatnya media gambar bergerak.
Serta bagaimana ‘benci’-nya si Abah terhadap Kabayan, tapi sesungguhnya
sangat sayang kepada si Kabayan. Panggilan ‘borokokok’ adalah panggilan
’sayang’ si Abah untuk Kabayan, dan hanya dimiliki oleh si Kabayan.
Jadi kalau suatu saat Malaysia mau mengklaim dan mempatenkan panggilan
‘borokokok’, harus berhadapan dulu dengan si Abah D

Cinta si Kabayan juga tidak neko-neko, terlebih cinta si Iteung pada
si Kabayan. Meskipun sudah beberapa kali didekati oleh pria-pria yang
secara ekonomi jauh lebih baik dan masa depan yang lebih cerah daripada
si Kabayan, Iteung tidak bergeming. Cinta-nya hanya untuk Kabayan,
seorang lelaki pemalas yang teman setianya hanya kerbau dan dijamin
tidak punya masa depan yang cerah. Bahkan ketika cinta-nya berusaha
dihalang-halangi oleh Abah, yang merupakan ayah si Iteung, mereka
berdua tidak pernah menyerah, bahkan mereka semakin cinta.

Kabayan adalah kombinasi spontanitas, keluguan, kecerdasan sekaligus
ketulusan dan kepasrahan terhadap takdir. Sebenarnya, masih terjadi
polemik apakah si Kabayan itu orang yang bodoh atau cerdas, tapi kalau
saya cenderung mengatakan cerdas. Karena keluguannya, dia disukai
orang-orang. Karena kecerdasannya, dia bisa survive menjalani
hidup yang apa adanya dan bisa selamat dari berbagai ancaman, dan
karena ketulusannya dia selalu menolong orang tanpa pamrih. Akan
tetapi, karena ‘dilahirkan’ di tanah sunda, atribut tukang heureuy dan usil juga melekat pada diri si Kabayan.

Dalam ‘Si Kabayan Saba Kota‘, Kabayan menyusul ke kota Bandung yang baru sekali dipijaknya, berbekal alamat rumah temannya untuk disinggahi.  Dalam ‘Si Kabayan Saba Metropolitan‘, dia menyusul Iteung ke Ibu Kota, Jakarta, tanpa satu pun orang yang dikenalnya.  Bahkan harus dihukum push-up oleh polisi gara-gara salah tempat ketika menyeberang jalan.  Dan dalam ‘Si Kabayan dan Anak Jin‘, dia menyusul ke Yogyakarta untuk menyelamatkan Iteung.  Bukankah itu romantis?

Akan tetapi, Kabayan juga bukan sosok yang egois. Dia juga sosok
yang realistis. Kecintaan Kabayan pada Iteung ternyata tidak membuatnya
mengorbankan sesuatu yang lebih penting dan lebih besar. Dalam ‘Si Kabayan Saba Metropolitan
diceritakan Kabayan dipaksa untuk menjual tanah yang dimilikinya kepada
para konglomerat. Bahkan, Kabayan diiming-imingi akan dinikahkan dengan
Iteung jika dia bersedia menjual tanah tersebut. Kabayan sempat tergoda
dan ‘terpaksa’ menyetujui untuk menjualnya, sebelum akhirnya memutuskan
untuk membatalkannya dan meninggalkan Iteung serta Abah di Jakarta,
sambil mencium tanah dan mengatakan “Pffuah…tanah di Kota mah tidak enak!! saya mah mau pulang saja, terserah Abah dan Iteung kalau mau menjual tanah milik abah mah“.
Sebab, dengan menjual tanahnya kepada orang-orang kota, Kabayan tahu
akan terjadi kerusakan di tanah yang dicintainya. Namun, pada akhirnya,
Abah dan Iteung yang menyusul pulang dan menyesali perbuatannya.

Kecintaannya pada Iteung juga tidak membuat Kabayan mengumbar
habis-habisan nafsunya, meskipun kesempatan itu ada. Dia menghormati
Iteung, dan lebih dari itu, dia juga masih menghormati ‘keberadaan’
Tuhan. Tidak pernah diceritakan Kabayan dan Iteung bermesra-mesraan,
apalagi mendapati cerita Kabayan berciuman dengan Iteung sebelum
menikah. Cerita cinta ‘kan tidak berarti harus ada adegan ciuman, dan
tidak ‘kering’ juga suatu film tanpa adegan ciuman. Sementara sekarang,
sudah menjadi stereotip kalau film-film romantis harus ada adegan
ciuman.  Bahkan, meskipun sering, Kabayan dan Iteung masih saja
malu-malu jika bertemu.  Ini yang membuat saya gemas.

Film Kabayan lekat dalam ingatan saya karena selain kisah cintanya,
juga karena terasa lebih dekat dengan kehidupan saya, dan mungkin
kehidupan orang-orang Indonesia. Apalagi unsur budaya sunda-nya yang
cukup kuat. Terlebih ketika digambarkan suasana pesawahan dengan background suling sunda, ‘asa waas
kalau kata orang sunda. Apalagi jika film ini ditonton di tanah
perantauan…wuih, bisa bikin kangen habis-habisan. Sudah lama rasanya
sineas perfilman Indonesia tidak mengangkat cerita-cerita semacam
Kabayan yang mengangkat kearifan budaya setempat. Padahal, film juga
bisa digunakan untuk menjaga kelestarian budaya bangsa Indonesia.

C 1 H 3 U L 4 17 6. 271107. 23.30

Kamana Atuh, Cinta?

November 26th, 2007

Berkali-kali aku meyakinkan diri

Bahwa rasa itu tidak pernah ada

Sekarang aku tidak bisa membohongi diri

Bahwa rasa itu memang ada

Terjebak, antara  keinginan yang sulit kugapai

Dan apa yang bisa kugapai tapi tak sunguh-sungguh kuingini

Ah, kamana atuh, cinta…cinta…

NB : Heu3x.  Geuleuh ih, jadi nulis yang beginian D

C 1 H 3 U L 4 17 6. 261107.  20.00

Total Football, Where Are You?

November 25th, 2007

Jika bisa menyerang menggunakan Tank, untuk apa menggunakan tangan kosong?” (Rinus Michel)

Sebagai salah satu fans setia Timnas Belanda, terus terang saya
merasa khawatir dengan kondisi permainan anak-anak asuh Marco van
Basten sekarang. Kurang greget. Dari beberapa pertandingan terakhir
yang saya saksikan, diantaranya melawan Romania dan Luxemburg, saya
tidak mendapatkan militansi dari skuad orange. Bahkan ketika melawan
Luxemburg yang secara kualitas jauh dari Belanda, hanya menang 1-0, di
kandang pula. Dengan kondisi seperti itu, saya tidak yakin Belanda bisa
sukses di Piala Eropa 2008.

Bahwa Belanda memiliki banyak pemain muda berbakat, ya…saya setuju.
Akan tetapi, skill individu saja tidak cukup. Sebab sepak bola adalah
olahraga tim. Betapa kesalnya saya ketika menyaksikan Piala Dunia 2006,
Belanda ‘hanya’ mengandalkan Arjen Robben. Dan sekarang, ketika Arjen
Robben terlalu sering bergelut dengan cedera, giliran Wesley Sneijder
yang diandalkan. Memang masih ada pemain muda lain, seperti Rafael van
der Vaart dan Robin van Persie, tapi mereka pun memiliki nasib yang
sama dengan Robben, rentan cedera.

Sebagai kader dari Rinus Michel, founding father Total
Football, Marco van Basten seakan tidak mampu menerapkan ilmunya kepada
anak-anak asuhnya. Pemain sepak bola yang hebat, belum tentu menjadi
pelatih yang hebat, itulah yang terjadi pada van Basten. Setiap
bertanding, mereka selalu tampil monoton. Tidak ada lagi
serangan-serangan yang mematikan dan variatif. Terakhir kali, ketika
Piala Eropa 2000 saya menyaksikan Belanda tampil impresif, saat itu
diasuh olah Frank Rijkaard, meskipun harus kalah adu penalti di
semifinal dari Italia yang waktu itu tampil super-defensif. Setelah
itu, hanya kegagalan yang menghampiri tim orange. Gagal total di Piala
Dunia 2002, alias tidak masuk sama sekali untuk ikut serta di Piala
Dunia 2002. Saking nge-fans nya, ketika ditanya, siapa yang akan juara
di PD2002? Saya jawab, Belanda!! Padahal sudah tahu mereka tidak lulus
dari babak kualifikasi. Ini sih sudah gila namanya D Gagal juga di Piala Eropa 2004.  Tersingkir di babak kedua pada saat Piala Dunia 2006.

Saya paling benci dengan tim-tim yang tampil defensif. Bagi saya
tampil defensif sama saja dengan penakut, apalagi hanya mencari adu
penalti seperti yang dilakukan Italia ketika melawan Belanda di
semifinal Piala Eropa 2002. Arrrggghhh, malas sekali menontonnya. Saya
paling suka dengan tim yang bermain terbuka, apalagi jika dalam suatu
pertandingan, kedua tim bermain terbuka. Saling menyerang. Seperti
Brazil vs Belanda di semifinal Piala Dunia 1998. Meskipun kalah, saya
puas menontonnya. Bagi saya, yang penting bermain cantik, menghibur dan
menarik untuk dinikmati. Sehingga, jika harus bela-belain begadang juga
tidak merasa menyesal. Bermain defensif memang efektif, saaaangat
efektif sekali untuk menghindari kekalahan, tapi ini merupakan sebuah
‘pembunuhan karakter’ sepak bola yang tujuannya mencetak gol.

Filosofi bermain cantik dan menyerang ini selalu saya terapkan
ketika bermain Winning Eleven, Football Manager atau Championship
Manager. Pokoknya menyerang habis-habisan, walaupun resiko dari sepak
bola menyerang adalah kebobolan lebih banyak. Meskipun kalau ‘ngadu’ WE
sama teman-teman, saya sering kalah, yang penting kalah terhormat dan
kelihatan usahanya D

Nah, persoalannya, filosofi bermain cantik ini sepertinya sudah
mulai ditinggalkan oleh Belanda, setidaknya sejak dipegang oleh van
Basten. Sehingga, wajar saja, jika setiap bertanding, mereka selalu
tampil monoton dan membosankan. Wajar saja, jika setiap bertanding,
selalu terdengar konser siul dari para penonton. Konser siul adalah
sebuah ekspresi dari penonton yang menggambarkan bahwa “kalian bermain jelek sekali“, “kalian membosankan“, “apa yang kalian lakukan di lapangan? kami ingin menonton sepak bola, bukan sebuah pertunjukan drama…!!” dan ejekan-ejekan semacam itu.

Sialnya, di PD2006 tahun lalu, sepak bola menyerang yang saya
dambakan justru diperagakan oleh Jerman yang merupakan musuh bebuyutan
Belanda di setiap kompetisi. Belanda sendiri, lagi-lagi tampil monoton
dan membosankan, sebelum akhirnya tersingkir di babak 16 besar. Saya
sendiri sudah merasa khawatir akan seperti ini ketika para personil
Piala Dunia 1998 semacam Dennis Bergkamp, Marc Overmars atau Edgar
Davids sudah menurun performa-nya. Dan kekhawatiran saya ternyata
terbukti.

Pada dasarnya Total Football mengharuskan keterlibatan seluruh
pemain untuk melakukan penyerangan, kecuali kiper, tentu saja. Sebuah
penyerangan sporadis, tanpa henti. Oleh sebab itu, Total Football
menuntut pemain-pemain yang bisa bermain di berbagai macam posisi.
Tujuannya, agar setiap pemain bisa saling mengisi posisi yang
ditinggalkan temannya ketika menyerang. Paling tidak, seorang bek pun
harus bisa dan berani menyerang jika dibutuhkan. Namun, Total Football
juga membutuhkan peran seorang pengatur (playmaker). Peran ini
pernah dilakukan dengan baik oleh Johan Cruijff dan Ruud Gullit. Rinus
Michel sendiri pernah mengakui kalau strateginya tidak mungkin berjalan
dengan baik tanpa peran pemain semacam Cruijff atau Gullit. Inilah
masalah utama Belanda saat ini, tidak adanya sosok playmaker.
Saat ini, ada van der Vaart yang diharapkan mampu untuk mengisi peran
itu, tapi sayangnya dia masih belum matang dan belum mampu memimpin
rekan-rekannya dengan baik. Perlu proses memang. Akan tetapi,
mudah-mudahan Belanda bisa kembali mendapatkan formula terbaiknya di
Piala Eropa 2008 nanti. Kita tunggu saja.

C 1 H 3 U L 4 17 6.  261107.  03.09

Mengaji Yes, Teler OK!

November 23rd, 2007

Jika dibandingkan dengan para pengemis dalam tulisan sebelumnya,
anak-anak jalanan barangkali lebih baik. Kemiskinan mereka lebih nyata,
meskipun saya masih saja sangsi untuk memberi mereka uang. Itu yang
saya lihat ketika untuk pertama kalinya saya datang untuk membantu
teman-teman mengajari mereka membaca dan menulis di Pasar Ciroyom,
Bandung. Karena kegiatan tersebut juga merupakan salah satu program
kerja Divisi Dakwah dan Sosial, SSG Cibeunying, tentunya tidak hanya mengajari baca-tulis huruf latin saja, tapi juga mengaji, shalat atau nilai-nilai Islam.

Kondisinya jauh dari yang saya bayangkan daripada sebelum saya datang
ke sana. Dalam bayangan saya, kegiatan dilakukan secara klasikal, ada
papan tulis, ada kursi…ya, seperti ruangan kelas. Namun, ternyata tidak
seperti itu. Kegiatan dilakukan di emperan masjid yang terletak di
lantai 3 pasar Ciroyom, tanpa papan tulis, tanpa kursi…dilakukan sambil
duduk. Teman-teman saya memang tidak menceritakan kondisi-nya seperti
apa, jadi saya membayangkannya seperti itu.

Kegiatan tersebut rencananya akan dilakukan setiap hari Kamis,
Jum’at dan Ahad dari pukul 16 - Maghrib. Rencana saya datang hari kamis
batal karena tidak memungkinkan untuk tiba di sana sebelum maghrib.
Saya datang hari berikutnya, itu pun dengan resiko mengganti shift
kerja saya menjadi tengah malam.

Ketika saya datang ke sana, ada sekitar 25 orang anak-anak jalanan,
mayoritas laki-laki. Hanya ada 3-4 orang wanita. Dengan range umur dari
7 tahun sampai 19 tahun. Mereka terbagi menjadi 3 kelompok,
masing-masing kelompok ‘mengelilingi’ seorang calon bidadari surga mentor, yang semuanya perempuan.  Dua orang adalah teman saya di SSG, yaitu Ayu
dan Dewi, satu orang lagi…saya lupa berkenalan. Saya melihat
pemandangan yang cukup kontras, meskipun ke-3 teman saya itu tidak
dandan berlebihan, tapi sudah bisa menunjukan bahwa terdapat perbedaan
kualitas hidup yang cukup jauh. Antara yang terawat dan tidak terawat.

Untungnya, sambutan mereka hangat sekali. Mereka langsung menyalami
ketika Dewi memperkenalkan saya. Beberapa bahkan ada yang langsung
dekat dengan saya. Kondisi tersebut membuat saya sedikit lebih bisa
membuka diri. Saya langsung ditugasi untuk tes mengaji anak-anak
tersebut dan membaginya ke dalam beberapa kelompok, berdasarkan buku
Iqra. Padahal niat saya tadinya hanya melihat-lihat dulu situasi dan
kondisi tempat tersebut. Dari obrolan dengan mereka, saya jadi tahu
bahwa mereka pun sebelumnya pernah belajar mengaji. Tapi, sebagian
besar lupa lagi karena tidak pernah mengaji lagi.

Ketika sedang melakukan aktivitas itu lah, saya menyadari satu hal.
Hampir setiap saat, mereka menutupi hidung mereka dengan baju. Hal ini
dilakukan oleh hampir semua anak-anak tersebut. Dan satu lagi yang
membuat saya menyadari ada yang salah adalah…bau lem aibon! Oalah, jadi
selama ini mereka belajar sambil ngelem. Entah apa yang ada di dalam
imajinasi mereka ketika mengaji itu. Saya tidak terlalu mengerti. Dan
sepertinya, akan sulit melepaskan mereka dari kebiasaan tersebut. Saya
tidak tahu apakah mereka sadar atau tidak, yang jelas saat itu mereka
tidak menunjukkan tanda-tanda sedang teler. Semuanya nampak biasa-biasa
saja. Dan mereka pun shalat dalam keadaan seperti itu. Terus terang
saja, entah karena pengaruh lem aibon itu atau bukan, yang jelas kepala
saya terasa panas saat itu, terutama otak bagian belakang. Sementara
teman-teman wanita saya itu tampak biasa-biasa saja, salut saya pada
mereka.

Jika dibandingkan dengan saya, ketiga wanita tersebut nampak lebih
mampu menangani anak-anak itu. Entahlah, barangkali karena jiwa keibuan
mereka atau karena mereka sudah terlatih untuk menangani anak-anak.
Sementara saya jarang sekali berhubungan dengan anak-anak dalam situasi
semacam itu, apalagi anak-anak jalanan. Rasanya susah sekali mengatur
mereka, tapi kepada teman-teman saya kok nurut-nurut saja.

Kotor sekali. Barangkali mereka berhari-hari tidak mandi, dan
pakaian yang digunakan pun itu-itu saja. Kecuali anak-anak wanitanya
yang terlihat lebih bersih. Ada yang berdandan ala punk, tapi sebagian
besar rambut mereka berwarna kemerahan karena kurang gizi atau terlalu
sering terkena matahari.

Atas saran dari Ayu, saya juga membawa makanan. Saya membawa 2 paket
kue bolu yang harus dipotong-potong lagi. Alasan saya waktu itu karena
tidak tahu pasti jumlah anak-anak yang ada di sana. Kalau jumlahnya
sedikit, anak-anak itu akan kebagian kue bolu lebih banyak dan
sebaliknya. Tadinya mau bawa kwaci atau sukro saja 2 bungkus yang kalau
dibagikan pada 100 orang pun pasti kebagian D

Lucu sekali memperhatikan mereka mengikut kemana kue itu pergi.
Bahkan ketika saya diminta Dewi untuk memberikan nasihat atau cerita,
mereka malah mengikuti Dewi dan meninggalkan saya sendirian, karena kue
itu saya berikan kepada Dewi untuk dibagikan. Saya pun sempat
tertawa-tawa melihatnya. Konon mereka selalu berebutan kalau dibagikan
makanan, semuanya ingin mendapatkan yang pertama. Padahal sudah
berkali-kali juga kami mengatakan bahwa mereka semua akan kebagian.

Setelah membagi-bagikan makanan, kegiatan pun berakhir. Kami saling
janji untuk datang lagi pada hari minggu. Saya sendiri tidak tahu pasti
apakah hari itu bisa datang atau tidak. Hanya saja, sepanjang jalan
pulang, yang saya pikirkan adalah bagaimana caranya menghentikan
kebiasaan ngelem anak-anak tersebut. Saya tidak tahu pasti pendekatan
seperti apa yang harus digunakan, karena belum pernah punya pengalaman
seperti ini. Kepikiran sama saya untuk bercerita seperti ini…

Donny : “Barudak, ada beberapa hal yang menyebabkan
kemiskinan dan penderitaan seumur hidup, yaitu : Pertama, ngelem.
Kedua, ngelem. Ketiga, ngelem. Keempat dan seterusnya, ngelem. Jadi,
masih ada yang mau ngelem??

AAJ : “Saya…!“, sambil ngacung, serentak.

Donny : *SIGH*

C 1 H 3 U L 4 17 6. 241107. 03.30

Mau Kaya? Ngemis Aja!!

November 22nd, 2007

Surat Pembaca koran Pikiran Rakyat hari
Rabu kemarin, 21 Nopember 2007, memuat sebuah cerita yang sebetulnya
sangat memprihatinkan, tapi saya sempat terbahak-bahak juga membacanya.
Sewaktu sedang mengobrol di depan kamar salah satu teman kost-an saya,
tiba-tiba saya disodori koran tersebut “nih, baca…!” katanya.

Penulis surat pembaca tersebut menceritakan soal pengalamannya dengan
pengemis. Ketika dia sedang duduk-duduk di pelataran Masjid Agung
Bandung, tiba-tiba datang pengemis sedang menggendong anaknya, dengan
tampang yang memprihatinkan. Bilangnya sih, “belum makan 2 hari“.
Karena merasa iba, penulis tersebut, yang ternyata seorang mahasiswi
Fikom Unpad, berniat memberi uang sebesar Rp. 5000. Namun, sebelum
sempat diberikan, tiba-tiba terdengar ringtone HP, konon lagu dari group band Ungu.  Tiba-tiba saja, pengemis tersebut misah-misuh
merogoh tasnya dan mengeluarkan…jreng…HP Nokia terbaru, dan lebih bagus
daripada si mahasiswi tersebut. Konon pengemis tersebut mengatakan…”nanti telpon lagi, saya sedang kerja sekarang.

Pengalaman lain, baru saya alami sebelum menulis ini. Ketika jaga
warnet, datang seorang pengemis. Seperti biasa, saya dan teman-teman di
warnet itu selalu memberi kepada setiap pengemis yang datang. Saya
memberi Rp. 1000 kepada pengemis itu. Namun, tiba-tiba pengemis itu
meminta untuk menukar seluruh uang receh miliknya. Setelah
dihitung-hitung, total uang yang ditukarkan sebanyak Rp. 40.000. Whew!!
Lebih besar daripada gaji harian seluruh pegawai warnet itu. Gila, itu
baru setengah hari…misalkan dia mendapatkan tambahan Rp. 40.000 lagi
setengah hari berikutnya, total dia dapat Rp. 80.000. Misalkan dia
‘kerja’ selama 6 hari/minggu. Dia sudah ‘menghasilkan’ uang’ lebih dari
Rp. 1.800.000/bulan. Weleh-weleh…!!

Cerita lain, sewaktu saya dan teman duduk di kursi depan sebuah
angkot. Saat itu, kami melihat seorang pengemis yang memang sangat
mengkhawatirkan, lebih-lebih karena secara fisik, dia memang cacat.
Ketika saya dan teman saya ngobrol ‘mengasihani’ orang tersebut,
tiba-tiba sopir angkot tersebut menimpali. “Wah, dia tuh sehari
bisa dapat 400 ribu, kalau lagi sepi juga bisa dapat 200 rb. Dia udah
punya 4 buah motor, dan anak-anaknya bisa kuliah. Rumah nya aja loteng.
” Dan tiba-tiba, saya ingin mengutuk…

C 1 H 3 U L 4 17 6.  221107. 15.07

Bakat Terpendam: Jadi Psikopat!!

November 16th, 2007

Satu hal yang saya sadari dalam diri
saya adalah potensi untuk melakukan hal-hal usil atau jahat. Pernah
suatu saat di sebuah rumah makan, ketika saya dan teman-teman telah
menyelesaikan makan, datang satu rombongan wanita. Kebetulan tempat
makan tersebut sedang penuh. Menyadari hal itu, kami tadinya berniat
untuk pergi dari meja yang kami gunakan, untuk memberikan kesempatan
kepada rombongan tersebut. Tidak ada niat apa pun, karena memang tidak
ada satu pun wanita yang menarik perhatian kami…loh?! D  Sesaat sebelum kami beranjak, tiba-tiba salah seorang perempuan dari rombongan tersebut berbicara cukup keras, “wah, kita nggak kebagian tempat nih…

Tiba-tiba saja, saya jadi ingin usil, dan membatalkan rencana kami itu.
Saya pandang wajah teman-teman saya, dan ternyata mereka pun berpikiran
sama. Kami sama-sama tersenyum…usil. Kami pun batal beranjak dari
tempat tersebut. Kami pura-pura cuek, ngobrol atau pura-pura baca
koran. Sesekali kami saling pandang dan…saling senyum. Entahlah,
setelah tiba-tiba mendengar ‘penderitaan’ mereka, kami malah jadi ingin
menambah penderitaan mereka. Tiba-tiba saja kami jadi orang usil.
Meskipun tidak lama, hanya 5 menit, tapi cukup bisa membuat kami
tertawa-tawa sepanjang jalan pulang menuju kost-an. Jahat ya? Niat
ingin dapat pahala, malah jadi dosa.

Kali lain, masih di tempat makan yang sama. Biasanya di tempat makan
tersebut tersedia koran sebagai bahan bacaan atau mungkin untuk
digunakan sambil menunggu makanan pesanan tiba. Saat itu, giliran saya
yang memegang koran dan membacanya. Tidak lama kemudian, makanan kami
tiba. Namun, saya tidak melepaskan koran tersebut, malah saya makan
sambil membaca. Kebetulan di meja kami juga ada orang lain yang sedang
menunggu makanan.

Setelah selesai makan dan meninggalkan meja tersebut, teman saya bercerita…

Don, lu tau nggak, orang yang disebelah lu tadi
ngelihatin lu terus…kayaknya sih dia pengen banget baca koran, tapi
bingung mau gimana, soalnya lu makan, tapi baca juga

Iya, tau gua…sengaja kok, lagi pengen bikin kesel orang…

Haha, emang kelihatan ya…?

Kelihatan lah, dari cara ngelihatnya juga kelihatan banget…cuma gua pura-pura cuek aja…hehehe

Namun, berdasarkan pengalaman jadi orang usil itu, kami jadi tahu satu hal…jangan pernah mengeluh atau memperlihatkan penderitaan di depan orang lain!!
Sebab bisa jadi orang lain malah bahagia melihat kita menderita dan
semakin menambah penderitaan kita. Ya, seperti kasus saya itu…^.^
Untungnya, sifat usil saya tidak sering muncul, bahkan teramat sangat
jarang. Masih bisa dikendalikan, meskipun sebetulnya ide-ide usil itu
juga suka muncul dan membuat saya tertawa-tawa sendiri. Psikopat banget
ya?!

Terakhir kali muncul, tidak lama sebelum posting tulisan ini. Kawan
lama saya, seorang perempuan, yang juga merupakan mantan pacar kawan
dekat saya tiba-tiba SMS dan meminta nomor hp kawan dekat saya itu.
Kemudian saya balas,

SMS Donny (SD): “Wah, curigation nih…*siul2* ada apa ya?

SMS Teman Wanita Itu (STWI): “Gak ada apa2 kok, ada urusan bisnis sama dia

SD : “Hati-hati ah, pacarnya yang sekarang cemburuan

STWI : “Wah, kok pacarnya cemburuan semua sih, kecuali gua…

SD : “Kalau lu maju dan ganggu dia lagi juga kayaknya pacarnya bakalan tersingkir…

STWI : “Wah, ntar deh kalau gua udah putus sama pacar yang sekarang…

SD: “Saran : putusin pacar lu, dan ganggu dia…!! :D”

STWI : “Ok deh, saran lu akan gua pertimbangkan…!!

SD: “Saran lagi : pertimbangkannya jangan kelamaan, keburu merit
dia, udah ancar2 tuh. Tapi, kalau ada apa2, jangan salahin gua ya?
*siul2*

STWI: “Ya jelas gua salahin lu lah…lu kompornya!!  Kalau ketemu dia, titip salam ya dan bilang gua minta nomornya

SD: “Ok, ntar kalau dia lagi sama pacarnya gua bilang, ‘ada salam dari bla bla bla, tadi dia minta nomor HP lu juga‘  heuheuheu

STWI: “Boleh, cepat laksanakan ya?!”

Sebetulnya yang paling saya takutkan adalah ketika marah. Seringkali
muncul pikiran-pikiran yang setelah saya reda dari kemarahan itu
membuat saya berkali-kali istighfar. Meskipun jarang, tapi
ternyata saya juga memiliki potensi menjadi seorang pendendam dan tidak
mudah melupakan kejadian-kejadian yang pernah membuat hati saya
tersinggung. Untungnya lagi, orang-orang seperti ini juga jarang dan
pembawaan saya yang belakangan lebih cuek juga menolong saya dari
sifat-sifat semacam itu. Lagipula, sudah lama sekali saya tidak pernah
marah kok…

C 1 H 3 U L 4 17 6. 171107. 04.12.  Saat Adzan shubuh bergema.

Purnama, Shaum dan Simbol Romantisme

November 11th, 2007

Berselang cukup lama, sekitar 3 bulan, ketika sebuah diskusi bersama teman-teman seperjuangan menjelang Ta’lim Rutin SSG Cibeunying,
menginspirasi saya untuk menuliskan hasil diskusi tersebut. Ide
menulisnya sudah cukup lama, tapi baru teringat lagi sekarang. Diskusi
tersebut berbicara tentang…seks. Di dalam masjid…tapi memang tidak ada
masalah dengan itu kan?

Saya lupa lagi darimana awalnya, yang jelas pada akhirnya diskusi
tersebut berujung di topik tersebut. Ada 4 orang yang terlibat diskusi,
1 orang sudah cukup lama menikah, 1 orang baru menikah, 2 orang lagi
belum, saya salah satu dari yang terakhir itu. Berawal dari rasa
penasaran saya, saya mengajukan pertanyaan kepada rekan yang sudah
cukup lama menikah.

Pak, penasaran nih…Dalam Al-Quran kan ada satu ayat
yang mengijinkan untuk melakukan hubungan suami-istri di malam hari,
pada bulan Ramadhan. Memang seberapa besar sih pengaruh ayat tersebut
kepada orang yang menikah?

Makanya, kalian harus menikah dulu, baru tahu bagaimana
rasanya. Hehehe. Islam itu luar biasa, betul-betul Agama fitrah, sangat
mengerti betul dengan kebutuhan manusia. Salah satunya adalah ayat
tersebut. Kalau kalian sudah menikah, akan terasa betul manfaat dari
ayat tersebut. Apalagi pada saat bulan purnama?

Purnama, pak? Memang apa hubungannya?”  tanya saya lagi keheranan.

Tahu kan bagaimana pengaruh bulan pernama terhadap pasang-surut
air laut? Nah, ternyata bulan purnama itu juga berpengaruh terhadap
pasang-surut libido manusia juga. Ketika purnama, akan terasa betul
hasrat seks itu ada di puncaknya, coba saja perhatikan dan rasakan…!

Wah, kok saya baru tahu ya?  Perasaan kok biasa-biasa saja ya?  Apa karena tidak pernah saya perhatikan kali ya?

Ya, mungkin karena tidak pernah diperhatikan. Hal ini juga
cukup menjadi alasan kenapa Rasulullah menjadikan pertengahan bulan
(13,14,15) hijriyah untuk melakukan shaum sunat, terutama bagi para
bujangan seperti kalian. Pada saat itu kan bulan sedang purnama. Tentu
kita sudah tidak asing lagi dengan perintah shaum bagi mereka yang
mampu menikah, tapi belum memiliki kesempatan. Shaum itu bisa menjadi
rem. Ini juga menjadi bukti bahwa perintah-perintah Rasulullah tersebut
bukan asal perintah, tapi ada makna di balik itu semua.

Hmm, saya jadi penasaran nih pak, jangan-jangan cerita soal
Werewolf itu juga inspirasinya dari fenomena ini ya? saking ‘berat’-nya
menahan hasrat, jadi aja Serigala…
” canda saya.

Oh, iya…bisa jadi. Barangkali itu merupakan simbol bahwa ketika
bulan purnama, nafsu kita sedang memuncak dan menyerupai binatang dari
sisi itu.

Wah, pantesan tiap-tiap film romantis biasanya disorot adegan
bulan purnama, tapi sebetulnya sih banyakan film horor kalau bulan
purnama. Apa karena itu juga kenapa, bisa dikatakan, setiap orang suka
melihat bulan purnama dan jadi sentimentil tiap lihat bulan purnama?
Trus, yang kebayang tuh…’
andai ada si dia disisiku, halah!’
Hehehe. Kalau yang sudah menikah kan asyik, nah yang belum kayak
kita-kita ini kan jadinya…shaum lagi, shaum lagi, mupeng deh!!

Haha, iya, mungkin itu juga alasannya, kenapa ketika bulan purnama yang terbayang hal-hal yang romantis melulu.

Pembicaraan kami berakhir karena pemateri untuk ta’lim saat itu
sudah datang. Hmm, ada yang punya pengalaman lain dengan purnama nggak
ya?

C 1 H 3 U L 4 17 6. 121107. 03.30

Cerita Dari BHTV Gathering

November 9th, 2007

Berawal dari sebuah undangan di milis KLuB yang dikirimkan oleh Zaki Akhmad soal pertemuan BHTV (Bandung High-Tech Valley) yang akan
diadakan di Bimbingan Belajar IZI, Jl. Ambon 19 Bandung, kemudian
memunculkan minat saya untuk mengikuti kegiatan tersebut. Meskipun
sudah cukup sering mendengar membaca soal BHTV, tapi
awalnya tidak terlalu membuat saya berminat, karena saya pikir
komunitas tersebut bersifat tertutup. Namun, ketika undangan tersebut
sampai ke email saya, apalagi melihat susunan acaranya yang bernuansa
ilmiah, membuat saya tertarik untuk menghadiri acara tersebut. Sudah
cukup lama saya tidak terlibat dalam kegiatan-kegiatan yang ‘berbau’
ilmiah, tepatnya sejak lulus kuliah. Terus terang, saya merindukan
suasana tersebut.

Maka, berangkatlah saya pada waktu yang dijadwalkan, meskipun terlambat
setengah jam akibat hujan deras yang mengguyur Bandung. Saya tertahan
di Masjid Salman selama 30 menit, dan tiba di lokasi jam 7 kurang.
Untunglah, ketika saya tiba di sana, acara belum dimulai. Setelah
bertanya kepada satpam di mana tepatnya tempat kegiatan, saya langsung
menuju ke sana. Kikuk juga, karena itu pertama kali saya mengikuti
kegiatan BHTV, selain itu karena memang tidak satu pun yang saya kenal
atau kenal saya. Meskipun nama-nama yang hadir saat itu tidak asing
bagi saya, ada pak Budi Raharjo dan pak Dimitri Mahayana.

Dalam 2 minggu terakhir, kegiatan ini merupakan yang kedua, setelah PestaBlogger,
dimana saya tidak pernah bertemu sebelumnya dengan para pesertanya.
Awalnya merasa minder juga, tapi setelah dipikir-pikir, kalau saya
minder seperti itu, saya tidak akan pernah maju. Apalagi, dalam acara
BHTV, saya merasa satu-satunya orang yang non-ITB, tapi akhirnya
pikiran-pikiran semacam itu berhasil disingkirkan dan saya bisa hadir
di acara tersebut, no regret.

Acara dimulai tepat jam 7, dipandu oleh pak Budi, dengan sesi
pertama presentasi dari Zaki tentang Panduan Penelitian OpenSource.
Dokumentasinya sendiri bisa di-download di sini.
Zaki sedikit bercerita tentang tantangan dan hambatan penelitian yang
berhubungan dengan OpenSource. Sementara, pak Budi sendiri menjelaskan
bahwa panduan tersebut gunanya untuk memetakan atau sebagai road map jenis penelitian yang seperti apa saja yang dibiayai oleh pemerintah.

Sesi kedua diisi oleh Anto dari Pusat Mikroelektronika ITB yang mempresentasikan tentang Virtual Office.
Konsepnya sederhana sebetulnya, memindahkan organisasi (perusahaan) ke
dunia maya. Dengan cara seperti ini, setiap orang yang terlibat dalam
organisasi/perusahaan yang menggunakan virtual office tidak perlu datang ke kantor, namanya juga virtual.  Seperti ada tapi tiada, seperti tiada tapi ada.  Untuk melakukan atau mengetahui task yang harus dikerjakan, cukup mengakses web virtual office tersebut.

Sesi ketiga diisi oleh Pak Sanny yang menceritakan pengalamannya
pergi ke Bangalore, India. Dan ceritanya membuat peserta kegiatan
tersebut terperangah sekaligus prihatin dengan kondisi Indonesia (atau hanya perasaan saya saja ya?),
namun pada saat yang bersamaan menumbuhkan semangat peserta juga agar
bisa seperti itu. Beliau bercerita soal kemajuan kota Bangalore,
terutama bidang IT-nya yang mampu menyumpang 26% pemasukan APBN
kota/negara tersebut, saya lupa lagi. Kemajuan IT India memang sudah
cukup lama saya dengar, tapi setelah mendengarkan paparan Pak Sanny,
saya menjadi semakin bertambah yakin, sekaligus penasaran juga. Soalnya
di film-film India, soal IT, setahu saya, tidak pernah dibicarakan. Pak
Sanny juga membacakan fakta-fakta soal kemajuan kota Bangalore,
sayangnya tidak saya catat. Satu-satunya yang saya sesali adalah tidak
sempat menanyakan tentang kondisi pendidikan di sana, maksud saya,
biayanya. Konon tidak berbeda jauh dengan Indonesia.

Sesi keempat, giliran Pak Dimitri Mahayana yang berbagi cerita,
tentang pengalamannya di Korea. Lagi-lagi, cerita beliau cukup membuat
peserta terperangah (atau, lagi-lagi, hanya saya?)  Konon, di Korea, jurusan-jurusan kuliah itu lebih terfokus, sampai-sampai ada jurusan Game Developer.
Sehingga, ketika lulus, sudah jelas keahliannya. Bandingkan dengan
Indonesia yang ketika lulus kuliah banyak sarjana yang tidak tahu mau
apa dan kemana, contohnya, ya…saya ini :D. Dalam perjalanannya, pak
Dimitri memang lebih fokus untuk study-banding soal game developer.  Dan, katanya, beliau dibuat tercengang oleh kemajuan game developer di Korea.

Sesi kelima, presentasi tentang sebuah proyek Fiber Optic,
tapi ada beberapa hal yang harus diolah lagi, lebih bersifat bisnis.
Sesi ini yang paling ramai, karena kalau proyek ini bisa berjalan
dengan baik, bisa menjadi ‘masa depan’ dunia internet di Kota Bandung.
Saya sendiri belum terbayang akan bagaimana proyek ini jadinya, yang
jelas memang masih akan diolah lagi oleh tim BHTV. Inginnya ikut
terlibat juga, tapi saya masih baru dan belum paham harus apa di sana.
Untuk saat ini sih ikut-ikut saja dulu, siapa tahu bisa ‘kecipratan’.
Hehe.

Menjelang akhir kegiatan, Pak Sanny ‘menantang’ komunitas ini untuk mengadakan event besar di bulan Desember.  Dan ternyata, para peserta pun cukup antusias menerima tantangan tersebut, meskipun belum tahu event
semacam apa yang akan diadakan. Wah, saya harus terlibat kalau begitu,
jangan sampai ketinggalan, harus!! Kegiatan tersebut ditutup menjelang
pukul 9 malam, sesuai dengan rencana.

Bagi saya, kegiatan semacam ini cukup menjawab kerinduan saya
terhadap sebuah komunitas yang selama ini saya cari. Bersifat ilmiah,
tapi tidak terlalu formal. Namun lebih dari itu, punya cita-cita besar,
ini yang paling penting. Menyenangkan rasanya bisa satu forum dengan
mereka yang sudah dikatakan ahli dibidangnya masing-masing. Selain itu,
penerimaan mereka yang terbuka membuat saya merasa nyaman. Saya jadi
terpacu untuk lebih meningkatkan kemampuan saya. Dan rasanya, dengan
bergabung di BHTV, kesarjanaan saya akan lebih berguna jika
dibandingkan dengan apa yang saya kerjakan selama ini. And, yes…finally, i found the community.

C 1 H 3 U L 4 17 6. 101107. 03.40.

Tambah Katalog

November 1st, 2007

Setidaknya ada 7 buku baru yang masuk ke dalam katalog perpustakaan pribadi saya dalam 2 minggu terakhir ini. Belum termasuk beberapa tabloid, majalah, suplemen dan booklet. Beberapa ada yang saya dapatkan secara gratisan, selebihnya beli. Ke tujuh buku tersebut adalah :

40 Days in Europe (Maulana M. Syuhada, Novel, Indonesia, Non-Fiksi, Bentang)
Pembawa Kabar dari Andalusia (Ali Al Ghareem, Novel, Terjemahan, Adaptasi Sejarah, Syaamil)
Life of Pi (Yann Martel, Novel, Terjemahan, Kisah Nyata, Gramedia Pustaka Utama)
Humor Cerdas ala Orang-orang Cerdik (Ibnu Al-Jauzi, Kumpulan Kisah, Terjemahan, Qisthi Press)
Night of Chaos (Jofry HS, Novel, Terjemahan, Science Fiction, Sheila/Andi)
Alam Pikiran Yunani (Mohammad Hatta, Filsafat, Indonesia, Non-Fiksi, UI Press)
Ilmu, Filsafat dan Agama (Endang Saifudin Anshari, Filsafat, Indonesia, Non-Fiksi, Bina Ilmu)

 
Dua buku terakhir saya beli karena nama penulisnya yang sudah cukup
dikenal, namun saya belum pernah membaca karya-karya mereka.  Mohammad Hatta, siapa yang tak kenal beliau? Wakil Presiden RI Pertama, terkejut juga saya ketika mendapati buku tersebut. Sementara Endang Saifudin Anshari merupakan salah seorang ulama periode 70-80an yang cukup dikenal di Bandung. Selain itu, beliau juga pernah menjadi pembina dan merupakan produk asli Masjid Salman. Menariknya, buku tersebut dipersembahkan kepada 2 tokoh Islam lainnya, M.Natsir dan M. Rasjidi. Barangkali,
selain karena kedua tokoh tersebut merupakan guru dan sahabat baliau,
juga dikarenakan perjuangan mereka dalam menghalau gelombang liberisme
dan sekularisme di Indonesia. Seperti yang kita tahu, liberalisme dan sekularisme merupakan produk dari filsafat.

Selain itu, saya sendiri sedang mencoba ‘memasuki’ ranah filsafat. Bidang ilmu yang, katanya, membingungkan dan memusingkan. Padahal, filsafat sendiri sesungguhnya merupakan pondasi dari ilmu pengetahuan yang berkembang hingga saat ini. Konon, jika tidak hati-hati, mempelajari filsafat bisa menyebabkan seseorang menjadi murtad dari agamanya. Yah, itulah kesan yang saya dapatkan mengenai filsafat. Makanya,
saya cukup penasaran juga, dan kalau suatu saat mendapati saya
ngaku-ngaku jadi Nabi, salahkan saja buku-buku filsafat ya? Hehe. Takdir Allah mempertemukan saya dengan buku ‘Ilmu, Filsafat dan Agama‘ di toko buku BBC (Bandung Book Corner). Selain hanya satu-satunya yang saya temui, harganya pun terbilang murah Rp. 17.500, itu belum di diskon 20%. Buku Mohammad Hatta pun hanya Rp. 12.000, belum termasuk diskonnya juga 20%.

40 Days in Europe‘ saya beli karena…ya itu, saya terobsesi mengelilingi dunia, dan Eropa adalah salah satunya. Melihat judulnya saja sudah cukup membuat saya tidak berfikir 2 kali apalagi berkali-kali membelinya. Sayangnya,
buku ini tidak sesuai dengan harapan saya, tapi cukup membuat obsesi
saya semakin bertambah dan membuat saya semakin ‘gila’ gara-gara
berimajinasi (atau lebih tepatnya berkhayal) berkeliling Eropa. Resensi buku ini sedang saya kerjakan, mudah-mudahan bisa selesai secepatnya dan rasa malas tidak menguasai diri saya lagi.

‘Life of Pi’, buku yang sudah cukup lama masuk dalam list saya, tapi selalu bergeser semakin ke bawah gara-gara buku lain yang saya rasa lebih menarik. Selain itu, saya cukup ragu juga apakah buku tersebut ‘pantas’ dibeli atau tidak. Nyatanya, buku tersebut memang tidak pantas dibeli, karena ternyata saya mendapatkan buku tersebut gratis. Heuheuheu. Adalah
Oci yang menghadiahkan buku tersebut kepada saya, katanya sebagai kado
ulang tahun buat saya, dan entah atlas siapa yang dirobek-robek untuk
dijadikan bungkus kado tersebut, yang jelas kertas kadonya bergambar
peta dunia. Yah, Oci memang paling tahu obsesi saya keliling dunia. Buat Oci, hanya saran, lain kali sekalian beliin tiket pesawatnya ya? :p Buku ini masih dibaca dan sepertinya hanya membutuhkan waktu 1 - 2 jam lagi untuk menyelesaikannya.

Pembawa Kabar dari Andalusia‘ dan ‘Night of Chaos‘ adalah buku-buku yang saya beli secara gambling, soalnya saya jarang melihat buku-buku tersebut. ‘Pembawa Kabar dari Andalusia’ hanya satu-satunya di SMM DT. Sialnya, setelah saya membeli buku tersebut, saya mendapati buku itu bertumpuk-tumpuk di BBC. Sementara ‘Night of Chaos‘ sepertinya menarik karena berhubungan dengan dunia IT atau kriptografi.

 Lalu kenapa saya membali buku ‘Humor Cerdas ala Orang-orang Cerdik‘? Gara-garanya di halaman belakang ada tulisan ini nih…

“Dalam sebuah khutbahnya, Nabi Sulaiman berkata, ‘Salah seorang dari kalian telah mencuri angsa tetangganya. Kemudian, ia masuk ke dalam masjid ini dengan bulu angsa di atas kepalanya.’ Dan tanpa sadar, si pencuri pun meraba-raba kepalanya. Maka, Nabi Sulaiman pun berkata, ‘Dialah pencurinya, tangkap dia!’”

Huehehe. Saya senyum-senyum sendiri membacanya. Dan saya tidak berfikir lagi untuk membelinya.

Saya kadang merasa tidak memiliki alasan apa pun setiap membeli buku. Satu-satunya alasan adalah karena saya ingin membeli saja. Tidak peduli apakah buku tersebut bagus atau tidak. Dan rasanya sulit sekali dikendalikan. Satu-satunya yang bisa mengendalikan saya adalah…kalau tidak punya uang. Barangkali kalau ada kredit buku yang bisa dibayarkan selama 10 tahun, saya akan mengambilnya juga. Bayangkan saja, buku seharga 60 ribu dicicil selama 120 bulan, itu artinya 500 rupiah per bulan, apa tidak murah meriah namanya? Hmm, tapi, kalau dijadikan bisnis, bagus nggak ya? Pantas dicoba nih. Tapi jangka waktunya tidak lebih dari 1 tahun pastinya. Eh, kalau dihitung-hitung, kalau buku saya diuangkan, sepertinya sudah cukup buat modal nikah atau dijadikan mas kawin sekalian. Sayangnya, KUA belum tentu mau dibayar pakai buku, dan aneh juga kalau pas ijab kabul nanti isinya…”Saya terima nikahnya Si Eneng binti Bapaknya dengan mas kawin selemari buku di kamar saya, tunai!“. Hehehe.

S 3 K 3 L 0 4. 011107. 19.30