6 Pernikahan
Bulan lalu, sebagian waktu saya, terutama weekend, habis untuk
menghadiri pernikahan 6 orang teman. Sebagian besar, 5 dari 6 acara
tersebut, berlangsung di luar kota Bandung. Dan saya menghadiri 5 acara
tersebut sendirian. Perjalanan yang melelahkan sebetulnya, karena dalam
beberapa hari itu, saya melakukan perjalanan beberapa rute. Rute
pertama, Bandung - Ciracas (JakTim) - Cengkareng (JakBar) - Tangerang
(Batal) - Bandung. Rute kedua, Bandung - Sukabumi - Bandung. Dan rute
terakhir, Bandung - Garut - Sumadra (masih sekitar 2 jam dari Garut).
Berawal
dari undangan-undangan yang pernah saya tuliskan di postingan tulisan
sebelumnya. Saya kemudian menjadwalkan untuk menghadiri seluruh acara
tersebut. Satu hal saja yang paling saya sesalkan, ketika menghadiri
acara-acara tersebut tidak ada dokumentasi sama sekali yang saya pegang.
4 Agustus 2007 : Menginjakkan Kaki Lagi di Jakarta
Hari
bahagia untuk 3 orang teman saya. Awan, sahabat saya saat kuliah,
menikah di Ciracas. Tidak jauh dari terminal bus antar kota Kampung
Rambutan. Mumtahah Annisa, menikah di Cengkareng. Terakhir, Fitri
(Fievie), menikah di Tangerang. Rencananya, saya berangkat dari Bandung
pukul 7 pagi, akan tetapi karena ada gangguan, saya baru berangkat dari
kost-an saya pukul 9 pagi. Saya tidak naik bus di terminal Leuwi
Panjang, tapi naik dari Cileunyi, lebih murah beberapa ribu rupiah. Dan
kalau dihitung-hitung lagi, lama perjalanan Dipati Ukur - Leuwi Panjang
+ ngetem di Leuwi Panjang, tidak terlalu berbeda dengan perjalanan
Leuwi Panjang - Cileunyi menggunakan DAMRI. Selain itu bus jurusan
Garut - Lebak Bulus yang saya gunakan juga tidak ngetem.
Tujuan
pertama saya adalah Ciracas. Baru berangkat dari Cileunyi pukul 10, dan
perjalanan berjalan lancar. Gerbang Tol Pondok Gede yang biasanya
macet, hari itu terasa lengang. Begitu juga dari Pondok Gede ke Pasar
Rebo, hampir-hampir tidak ada hambatan, kecuali di beberapa titik
seperti UKI yang memang jalurnya sempit. Menginjakkan kaki di Pasar
Rebo jam setengah dua belas. Seperti biasa, saya selalu paranoid setiap
berada di Jakarta. Itulah salah satu alasan saya tidak betah di
Jakarta. Selalu saja terasa menegangkan, tidak santai, apalagi di
wilayah-wilayah terminal di Jakarta.
Dari Pasar Rebo,
menggunakan angkot ke arah Bogor. Saya salah naik angkot, beruntung
orang-orang di angkot tersebut ramah dan akhirnya memberi tahu saya
angkot yang saya gunakan. Pas adzan dzuhur saya tiba di tempat resepsi
pernikahan Awan. Hmm, sempat bingung karena tidak satu pun yang saya
kenal, sebelum tiba-tiba adik perempuan Awan menegur saya.
"Donny ya?"
"Eh, iya…"
"Sendirian aja?"
"Iya, tapi nanti ada Deden mau ke sini, yang lain pada sibuk soalnya"
Tanya-tanya
kabar, dan mengobrol sebentar, sebelum akhirnya saya menuju meja
prasmanan. Lapar soalnya. Sekaligus mengistirahatkan badan. Heran juga,
dalam 2 kali pertemuan saya dengan adik perempuan Awan, tidak sekalipun
pernah mengobrol, tapi hari itu begitu akrab. Sambil makan, lihat-lihat
situasi dan kondisi (background : lagu jawa). Hmm, tidak satu pun tamu
yang saya kenal. Sementara Deden mengabarkan baru tiba di Karawang,
menjemput pacarnya. Doh!
Setelah istirahat sekitar 20 menit,
saya memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Pamitan kepada kedua
mempelai, tapi saya tidak melihat adiknya Awan untuk pamitan. Kemudian,
saya menuju masjid terdekat, melakukan shalat Jama-Qashar (Dzuhur -
Ashar).
Tujuan selanjutnya, Cengkareng. Whew! Ciracas -
Cengkareng itu dari ujung ke ujung, alias bersebrangan. Dari Kp.
Rambutan, naik bus jurusan Kalideres. Bukan perjalanan yang
menyenangkan, mengingat perjalanan Cileunyi - Pasar Rebo masih jauh
lebih cepat dari pada Kp. Rambutan - Cengkareng. Sempat nostalgia
sebentar, mengingat-ingat kejadian ketika bekerja di Tebet, sebelum
akhirnya tertidur selama beberapa puluh menit. Terbangun di Jalan Daan
Mogot. Baru saat itu saya tahu jalan tersebut. Jalan yang teramat
panjang, terasa neverending.
Tiba di Ramayana Cengkareng pukul 15. Masih harus naik satu kali lagi.
Sialnya, saya kebagian angkot yang ngetem cukup lama juga. Ditambah
kemacetan sepanjang jalan, sempurna sekali bagi siapapun yang ingin
tahu rasanya stress di Kota Jakarta.
Tiba di tempat pernikahan
Mumtahah tepat ashar. Datang disambut oleh Chusnia, dan langsung
menemui kedua mempelai untuk langsung meminta ijin pulang. Namun, saya
ditahan agar tidak cepat-cepat. Setelah dipikir-pikir, benar juga, saya
perlu istirahat sebentar. Sambil menikmati jeruk dan segelas air, saya
duduk sebentar sambil melihat-lihat situasi dan kondisi. Tidak ada yang
saya kenal juga. Akan tetapi, di sana saya dikenalkan dengan
orang-orang dari komunitas Kota Santri, sebagian besar datang dari
Bandung. Sempat diajak untuk pulang bareng, tapi saya menolak.
Melakukan perjalanan, apalagi menumpang, dengan orang-orang yang baru
dikenal, tidak membuat saya merasa nyaman. Lebih baik pulang sendirian
saja.
Sempat terjadi dilema antara memilih ke Tangerang dulu
atau tidak. Saat itu sudah cukup sore, pukul 16. Sementara itu, saya
harus berada di Bandung lagi Isya, untuk melakukan Briefing panitia
pernikahan teman saya yang lain keesokan harinya. Dengan berbagai
pertimbangan, akhirnya saya memutuskan untuk tidak menghadiri acara
pernikahan Fitri. Lagipula, sore hari biasanya acara sudah selesai.
Baru 2 hari kemudian saya menelpon Fitri dan mengucapkan selamat
sekaligus meminta maaf karena tidak jadi datang.
Setelah mantap,
saya memutuskan pulang ke Bandung. Dari Cengkareng naik bus jurusan Kp.
Rambutan, berhenti di UKI untuk menunggu bus jurusan Bandung. Dapat bus
AC - Ekonomi yang bertarif 30 ribu. Tidak terlalu nyaman, mengingat
asap rokok bertebaran di mana-mana. Sempat tertidur sebentar, tapi
terbangun ketika memasuki Tol Cipularang. Jalan Tol Cipularang yang
bergelombang tidak pernah membuat saya nyaman untuk tidur. Turun di
perempatan Pasir Koja - Soekarno Hatta, untuk selanjutnya menuju
Sukaluyu menggunakan angkot Caringin - Dago. Saya tiba di gedung
Ad-Da’wah pukul 21, terlambat memang, untungnya teman-teman saya masih
berada di sana, bahkan ternyata acara baru saja akan dimulai.
Setelah
melakukan briefing sekitar 1 jam, saya pulang dengan badan yang terasa
lemah, meskipun secara keseluruhan perjalanan tersebut juga
menyenangkan buat saya. Belum tentu besok-besok lagi saya bisa
menghadiri pernikahan lintas wilayah semacam itu. Meskipun ternyata
setelah sampai kostan tidak bisa langsung tidur, tapi hari itu, saya
tidur tanpa bermimpi sama sekali.
5 Agustus 2007 : Pernikahan 2 Ketua
Hari
bahagia untuk 2 orang teman saya di SSG. Taryadi dan Wulan Yulianti.
Jika biasanya dalam sebuah organisasi ‘affair’ yang terjadi melibatkan
Ketua dan Sekretaris, pada pernikahan kali ini melibatkan 2 orang
ketua. Taryadi selaku Ketua SSG Wilayah Cibeunying dan Wulan selaku
ketua keputrian. Seperti halnya pernikahan para aktivis dakwah lainnya,
mereka menikah tanpa melalui proses pacaran. Pernikahan Taryadi juga
menegaskan sebuah tradisi di organisasi tersebut, siapapun yang jadi
ketua, tidak lama kemudian akan menikah. Apa iya saya harus jadi ketua
Wilayah dulu baru bisa nikah ya? Haha.
Dalam kepanitiaan,
sebetulnya saya ditugasi untuk memisah tamu pria dan wanita. Bukan
tugas yang mudah, mengingat tradisi yang sudah melekat di masyarakat
tidak mengenal hal-hal semacam itu. Agak mengherankan untuk bangsa yang
mengklaim dirinya memiliki Umat Islam terbesar di seluruh dunia. Namun,
jika kita pelajari dari sejarah masuknya Islam ke Indonesia, kita bisa
memahami mengapa itu bisa terjadi. Beruntung saya mendapat bantuan dari
panitia yang berasal dari pihak keluarga. Untungnya, sebagian besar
tamu yang hadir juga nampaknya sudah mulai ‘terbiasa’ dengan pernikahan
semacam ini yang belakangan sudah tidak terlalu asing.
Sebetulnya
saya paling malas jika disuruh menggunakan pakaian adat, kesannya
ribet. Ditambah lagi saya paling tidak suka dengan situasi yang formal.
Akan tetapi, hari itu, saya mengalah dan merelakan diri untuk memakai
pakaian adat sunda. Untungnya tidak ada acara make up segala.
Acara
berakhir tepat pukul 14, tapi bagi saya aktivitas hari itu tidak
berakhir pada jam tersebut, karena saya harus melakukan kewajiban saya.
Bekerja. Agak malas-malas sebetulnya, tapi akhirnya memaksakan diri
juga, mengingat hari sebelumnya saya sudah ijin tidak bekerja. Dan hari
itu, saya baru sampai kostan lagi pukul 12 malam.
12 Agustus 2007 : Dunia memang sempit
Awalnya,
dalam jadwal saya, ada 2 orang teman yang akan menikah pada hari ini.
Dini di Sukabumi, dan Ai di Garut. Hal tersebut menimbulkan dilema pada
diri saya untuk memilih salah satu, karena tidak mungkin untuk
menghadiri kedua pernikahan tersebut. Beruntung, beberapa hari
sebelumnya, Ai mengirim kabar bahwa pernikahannya diundur menjadi
tanggal 27 Agustus 2007, karena alasan tertentu. Betapa leganya hati
saya, karena itu berarti saya bisa menghadiri pernikahan keduanya.
Menjadwalkan
untuk berangkat ke Sukabumi pukul 7 pagi, namun saya malah baru
berangkat dari Bandung pukul 10 pagi. Mengetahui bahwa saya akan ke
menghadiri pernikahan Dini, Adi menitip hadiah. Saya kira hadiah yang
harus saya bawa itu akan masuk tas yang saya bawa, ternyata…ya ampun,
saya harus menenteng hadiah itu di kantong plastik, karena begitu
besar. Padahal, saya paling benci jika melakukan perjalanan, tangan
saya menenteng sesuatu, payung, kantong plastik, apa pun itu. Namun,
karena saya sudah menyanggupi, dan konon hadiah tersebut merupakan
hadiah perpisahan, akhirnya saya bawa juga.
Dalam jadwal
undangan, acara tersebut akan berakhir pukul 14 siang, karena menyewa
gedung. Semantara, pada jam itu, saya masih berada di Cianjur. "Wah,
telat!" pikir saya. Dan saya baru menyadari betapa lambatnya bus yang
saya gunakan. Dalam obrolan di SMS, saya tahu bahwa Dini juga sempat
menunggu kehadiran saya, namun pada akhirnya, saya disarankan untuk
datang ke rumahnya saja.
Tepat pukul 15 saya tiba di Terminal
Sukabumi. Seperti biasa, mencari masjid terdekat untuk melakukan shalat
Jama-Qashar, sebelum akhirnya meluncur ke rumahnya Dini. Tiba di rumah
Dini tepat adzan ashar. Baru kali itu saya melihat suaminya Dini.
Tampak jauh lebih tua, karena memang usia yang terpaut cukup jauh, 18
tahun. Sementara Dini sendiri baru lulus SMA. Cukup lama mengobrol
dengan mereka berdua, sambil makan tentunya, dan menikmati suguhan
makanan ringan khas Jawa Barat yang tidak asing lagi bagi saya. Obrolan
berlangsung santai, tapi sayangnya kakak perempuan Dini, sedang tidur.
Sempat juga mengobrol dengan orangtua Dini, meski sebentar sekali. Akan
tetapi, itu lah hikmah dari keterlambatan tersebut. Situasi yang tidak
formal membuat suasana lebih cair.
Tepat pukul 16, saya
memutuskan untuk pulang, malahan saya dibekali berbagai jenis makanan
ringan. Rezeki. Bentuk hikmah lainnya dari keterlambatan. Hehe. Setelah
pamitan dan berterima kasih serta meminta maaf atas keterlambatan yang
terjadi, saya meluncur ke terminal Sukabumi untuk melanjutkan
perjalanan kembali ke Bandung. Padahal sebetulnya saya ingin sekali
pulang ke Bogor, sayangnya saya masih ada kewajiban lainnya.
Di
Bus, saya bertemu dengan seorang teman yang kebetulan sedang bekerja di
Sukabumi. Setelah melihat saya, dia pindah dan duduk sebangku dengan
saya. Mengobrol banyak hal. Salut atas niatnya datang ke Bandung hanya
untuk menghadiri Liqa mingguan yang biasa dia ikuti. Membuat saya cukup
malu sebetulnya. Setelah menceritakan tujuan saya ke Sukabumi,
ternyata…
"Tadi siapa nama perempuan yang menikah itu?"
"Dini"
"Yang baru lulus SMA itu bukan?"
"Iya. Kok tahu…?"
"Haha. Tadi saya tuh yang ngisi panggungnya bersama tim nasyid saya"
"Oh ya? Sayangnya saya terlambat, jadi nggak lihat…"
"Dunia memang sempit ya?"
Setelah
itu, selama perjalanan kami banyak berdiskusi dan mengobrol. Soal
proses khitbah dia, soal pekerjaan dia, soal fenomena pernikahan
sekarang…meskipun yang lebih banyak bicara memang dia, karena saya
sendiri sudah cukup lelah sebetulnya. Dan hari itu masih cukup panjang
buat saya, karena tengah malam, giliran saya untuk jaga warnet. Pyuuhh.
27 Agustus 2007 : Special Date, But Wasn’t For Me
Sempat
terjadi kebingungan beberapa hari menjelang tanggal tersebut. Tidak ada
kabar yang pasti dari Ai soal pernikahan tersebut, sehingga tidak ada
persiapan khusus untuk menghadiri acara tersebut. Bahkan saya sempat
memikirkan untuk tidak menghadirinya. SMS yang saya kirim tidak masuk
dan tidak dibalas. Untungnya, pagi itu, Aulia mengirim SMS untuk
mengabari bahwa acara tersebut jadi.
Terkesan mendadak bagi
saya, meskipun akhirnya saya berangkat juga, meskipun dengan keadaan
kantong yang pas-pasan. Kebetulan hari itu, pekerjaan di Dinas
Kependudukan Bandung belum resmi di mulai karena data-data yang
dibutuhkan belum sampai. Inginnya saya berangkat bareng-bareng dengan
anak-anak Birama, tapi ternyata ada yang sudah berangkat duluan,
sementara Aulia dan Milah juga kemungkinannya telat. Akhirnya,
lagi-lagi, saya melakukan perjalanan sendirian.
Berangkat dari
kostan pukul 10 pagi, naik bus Dipati Ukur - Jatinangor, dan turun di
Cileunyi untuk selanjutnya naik bus Primajasa jurusan Lebak Bulus -
Garut. Salah satu alasan saya naik bus AC sebetulnya karena ingin
nyaman saja dan terhindar dari gangguan asap rokok. Tidak tahu pasti
arah yang harus saya tuju, sepanjang jalan SMS-an dengan Riyantini yang
sudah lebih dulu sampai. Berdasarkan ceritanya, dari terminal Garut
masih sekitar 3 jam lagi. Itu pun karena kendaraan Elf yang digunakan
ngetem selama 1 jam. Walah!!
Sempat terjadi keributan antara
saya dengan seorang pedagang di bus tersebut. Berawal ketika bus
tersebut berhenti untuk melakukan pengecekan penumpang, naik beberapa
pedagang menawarkan barang dagangannya.
"Seribu…seribu…Tahu,
Gehu". Kebetulan perut saya juga belum kemasukan makanan apa pun sejak
pagi. Sempat ragu untuk membeli makanan tersebut, namun setelah
beberapa menit, akhirnya saya memutuskan untuk membeli.
"Kang, Satu…", sambil menyodorkan uang seribu rupiah
"Nih, kurang seribu lagi…", sambil menyodorkan makanan yang saya minta
"Lho, katanya seribu?" protes saya
"Dua ribu jang, tanya aja semua yang dagang di sini!"
"Terus tadi yang disebut seribuan itu apa…?" tanya saya
"Kalo yang seribu mah bacang, jang…"
"Ya udah, saya ambil bacang aja…"
"Eh, ini juga dua ribu…"
"Terus apa atuh yang seribuan teh..?"
"Nggak ada, jang…"
"Kumaha sih? Teu jadi ah…!!" sambil merebut uang yang sudah ditangannya
Selanjutnya,
yang saya dengar adalah gerutuan dan usaha mempermalukan saya.
Perlakuan biasa dari pedagang yang putus asa, tidak terlalu mengganggu
saya, saya malah menertawakan dia sebetulnya. Saya tidak bermaksud
untuk dzalim kepada siapa pun, tidak untuk merugikan siapa pun…akan
tetapi, saya juga seorang pedagang, dan sebagai seorang pedagang, bagi
saya perbuatan tersebut bukanlah perbuatan yang terpuji. Bahkan, lebih
sadis lagi, bagi saya hal semacam itu adalah sebuah pengkhianatan
terhadap profesi pedagang. Tidak akan menjadi masalah buat saya, dan
saya akan tetap membelinya, kalau sejak awal pedagang tersebut menyebut
harga dua ribu rupiah. Akan tetapi, yang terjadi adalah dia meneriakan
angka seribu rupiah, sementara tidak satupun barang dagangan yang
berharga seribu rupiah. Ini penipuan namanya, dimana barakahnya dengan
dagang seperti itu? Bisa saja saya memberi lagi seribu rupiah, tapi
bukankah dengan begitu saya membantu dia untuk menikmati harta haram?
Tiba
di terminal Garut tidak lama setelah adzan dzuhur berakhir. Seperti
biasa, cari masjid untuk shalat Jama-Qashar, agar perjalanan lebih
tenang. Kebiasaan saya, setiap tiba di daerah yang tidak atau kurang
dikenal adalah mencari masjid atau membeli minuman di warung terdekat.
Tujuannya untuk memetakan dan mempelajari situasi dan lingkungan dimana
saya berada, dan menghindari kesan sebagai pendatang di tempat itu.
Untuk menghindari orang-orang yang memiliki tujuan jahat tentunya, tapi
hal tersebut hanya berlaku di daerah Jawa Barat, karena saya bisa lebih
leluasa menggunakan bahasa Sunda.
Belajar dari cerita Riyantini,
saya mempelajari lalu lintas kendaraan di sekitar Terminal Guntur,
Garut. Tujuannya adalah mencari jalur dimana kendaraan yang harus saya
naiki, dengan begitu, saya tidak harus berlama-lama ikutan ngetem,
karena saya bisa menunggu di tempat lain. Meskipun berjalan cukup jauh,
sekitar 500 meter, tapi lebih saya sukai ketibang ngetem berpuluh-puluh
menit di terminal. Dugaan saya ternyata benar, meskipun di beberapa
kilometer pertama kendaraan yang saya gunakan berjalan sangat lambat
karena mencari penumpang, tapi setidaknya kendaraan tersebut tidak
diam. Setelah itu, semuanya berjalan lancar, meskipun saya masih belum
tahu pasti kemana saya menuju.
Meskipun dalam situasi yang serba
membingungkan dan waspada karena takut tempat tujuan saya terlewat,
saya benar-benar menikmati perjalanan tersebut. Lansekap dan
pemandangan daerah yang saya lalui benar-benar luar biasa, selain itu
jalan yang saya lalui juga tidak terlalu berkelok-kelok. Segalanya
terasa lebih luas. Jenis daerah yang beragam menjadikan perjalanan
tersebut tidak membosankan bagi saya. Awalnya persawahan, lalu masuk
perkebunan, dan berakhir di tengah-tengah perkebunan teh. Yup, karena
rumah Ai tepat di tengah-tengah kebun teh. Jika kita terbiasa di kota
yang terasa serba sempit, berada di tempat itu akan terasa serba
lapang. Itulah yang sangat saya sukai. Sayangnya, tidak satupun
dokumentasi yang bisa dijadikan bukti. Akan tetapi, dari perjalanan
tersebut, saya bisa menyimpulkan bahwa sepertinya daerah Jawa Barat
bagian selatan akan menjadi tujuan yang menarik untuk melakukan
perjalanan.
Seperti juga pada pernikahan Dini, saya datang
terlambat, tepat adzan ashar. Tuan rumah sedang membereskan seluruh
peralatan yang digunakan. Meskipun masih ada beberapa tamu dan keluarga
dari pihak suami Ai, namun saya lah satu-satunya ‘orang lain’ di tempat
itu. Sempat merasa kikuk, begitu juga tuan rumah yang berkali-kali
meminta maaf karena merasa ‘nyuekin’ saya. Saya tidak pernah merasa
dicuekin sebetulnya. Bagi saya, yang penting bisa sampai tujuan dan
tiba dengan selamat. Perkara bagaimana sambutan pihak keluarga terhadap
saya, benar-benar tidak saya pedulikan. Namun, dari keterlambatan kali
ini pun, saya mendapatkan hikmah lainnya.
Dengan Ai sendiri saya
malah tidak sempat mengobrol, tapi saya banyak mengobrol dengan
beberapa orang dari pihak keluarga Ai. Bahkan sambil makan, santai
sekali. Lagipula, kendaraan yang menuju ke Garut juga sangat jarang
sekali. Sebetulnya saya masih ingin menikmati pemandangan di sekitar
tempat tersebut, namun waktu saya tidak banyak. Ditambah lagi,
kendaraan yang datang tidak lama setelah selesai makan, dicurigai
sebagai kendaraan terakhir menuju Garut. Waduh!
Terus terang
saja, perjalanan terakhir ini merupakan perjalanan yang paling menarik
buat saya. Bahkan, tempat tersebut selalu terbayang-bayang sampai
sekarang.
Sandal Jepit
Apa
hubungannya 6 pernikahan tersebut dengan sendal jepit? Terus terang
saja, semakin hari, kaki saya semakin tidak betah jika menggunakan
sepatu. Dengan tujuan agar leluasa dan agar kaki tidak terlalu lelah,
maka dalam seluruh perjalanan menghadiri pernikahan di luar Bandung,
saya menggunakan sandal jepit. Sepatu tetap saya bawa, tetapi saya
gunakan hanya saat tiba di acara pernikahan tersebut. Biasanya saya
mencari masjid untuk mengganti sandal jepit dengan sepatu. Setelah
selesai, saya pakai sandal jepit lagi. Andai saja tidak ada yang
keberatan, saya akan tetap menggunakan sandal jepit itu. Akan tetapi,
demi kesopanan, entah kesopanan siapa, saya ‘terpaksa’ memakai sepatu.
Dengan
cara itu juga saya tidak terlalu khawatir orang-orang yang berfikiran
jahat akan ‘memperhatikan’ saya selama perjalanan, orang cuma pake
sandal jepit kok. Hahaha.
C1H3UL4176. 100907. 5.20
Journey |3 Responses to “6 Pernikahan”
Leave a Reply
postingan kayak gini neh yg paling gwa demen dari doni, cerita berdasarkan pengalaman dan kronologis
Yay! elu tur, komen kok sama isinya di 2 tempat ;))
ckk..ckk..
mereka baik kok.
repot ya a’
tapi kalo ke terminal ga usah paranoid lagi, asal waspada aja.
soalnya waktu la ga ngerti jalan (waktu itu mau ke tangerang sendiri lagi) nanya jalan ke preman setempat