Belajar dari Ilalang
Jika
perjuangan yang kita hadapi dapat kita ibaratkan membabat ilalang
ribuan hektar, sedangkan kita hanya punya sebilah pisau, lakukanlah
itu! Jangan menunggu engkau punya traktor. Gunakanlah pisau itu
sebaik-baiknya dan tunjukkanlah kepada Allah bahwa engkau
sungguh-sungguh dalam bekerja. Mungkin, ketika engkau membabat ilalang
dengan pisau seperti itu, hasilnya hanya beberapa meter dalam sehari.
Engkau babat depannya, lusa ilalang di belakangmu tumbuh kembali.
Engkau babat yang belakang, yang depan tumbuh pula. Lalu, ketika engkau
babat yang kiri, yang di sebelah kanan merimbun lagi, dan jika engkau
babat yang kanan, yang kiri tumbuh menjadi. Namun, apa pun hasilnya,
kerjakanlah! Sebab, saat itu, Allah yang Maha Tahu sedang melihatmu.
Jika Dia melihatmu bersungguh-sungguh menggunakan pisaumu, esok atau
lusa, Dia akan memberimu golok. Gunakanlah golokmu sebaik-baiknya, dan
bersungguh-sungguhlah dalam bekerja. Sebab, jika engkau sudah pandai
menggunakan golok, kapan-kapan Allah akan memberimu traktor. Jika sudah
begitu, apa yang tidak dapat kamu lakukan?
Kutipan
di atas saya dapatkan dari buku Pelangi Islami 1, terbitan Khazanah
Intelektual, yang merupakan kumpulan artikel dari Dr. Afif Muhammad,
MA. Judul tulisan ini pun sengaja saya ambil dari judul yang sama
dengan salah satu artikel tersebut. Beliau pun mengutipnya dari
‘Allamah Abul A’la Maududi, salah seorang ulama terdahulu. Bukan tanpa
alasan saya mengutip nasihat tersebut. Sejujurnya, saya merasa nasihat
itu ditujukan kepada saya secara langsung. Nasihat semacam ini, sekali
lagi, berhasil ‘menampar’ secara telak untuk menyadarkan saya agar
tidak selalu mengeluh dalam bekerja.
Seringkali, dalam melakukan sesuatu, muncul bermacam pikiran yang ‘mengeluhkan’ kondisi saat ini.
"Ah, andai aku punya laptop, mungkin kerjaku akan maksimal…"
"Kalau gua punya kamera DSLR, gua yakin foto-foto yang gua ambil bakalan lebih bagus…"
"Gara-gara nggak punya motor nih…gua kejebak macet melulu, jadi aja telat terus…"
Dan
bermacam-macam ‘keluhan’ sejenis. Padahal, ketika kemudian apa yang
kita inginkan itu kita miliki, seringkali tidak mengubah keadaan.
Kalaupun ada, tidak banyak, karena permasalahan yang sebenarnya adalah
mental kita.
Dalam
salah satu ceramahnya, Ustadz Dudi Muttaqien pernah mendefinisikan
tentang rasa syukur. Orang-orang yang bersyukur adalah orang-orang yang
menerima atau ridha dengan apa yang dimilikinya, dan menggunakannya
secara optimal. Dengan mengoptimalkan apa yang ada, diharapkan akan
memberikan manfaat bagi dirinya, keluarganya dan syukur-syukur bisa
untuk orang lain. Itulah yang kemudian disebut dengan barakah. Betapa
agungnya nilai rasa syukur, sehingga Islam menempatkan syukur sebagai
salah satu pintu masuk ke dalam surga. Dan satu lagi pintu bagi
orang-orang yang bersabar. Sepemahaman saya, syukur dan sabar merupakan
sebuah kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Jika sikap sabar membentuk
orang-orang yang selalu bersemangat dan pantang menyerah dalam hidup,
maka sikap syukur akan membentuk orang-orang yang selalu ridha dengan
hasil akhir yang didapatkan, baik atau pun buruk hasil usahanya
tersebut. Kedua sikap inilah yang kurang muncul dalam diri kita pada
umumnya, terutama di Indonesia. Dari sini, bisa ditarik kesimpulan
bahwa barakah-nya sesuatu (ilmu, uang atau harta benda) berbanding
lurus dengan sikap sabar dan rasa syukur.
Kutipan
di atas pun secara tidak langsung menasehati kita untuk selalu bersabar
dan bersyukur. Kita punya pisau, syukurilah itu! Kita punya komputer,
syukurilah! Kita punya motor, syukurilah! Gunakanlah sebaik-baiknya
untuk membantu pekerjaanmu, kemudian bersabarlah dengan apa yang kamu
kerjakan! Suatu saat, mungkin ada orang yang melihat baiknya pekerjaan
yang kita lakukan dan ‘jatuh cinta’ pada karya kita, sehingga tidak
segan-segan untuk ‘menghargai’ kita atau karya kita dengan ‘bayaran’
yang tinggi. Bukan tidak mungkin pada akhirnya kita memiliki golok,
laptop atau mobil, bahkan ketiga-tiganya sekaligus. Semuanya berawal
dari sikap sabar dan syukur yang tertanam dalam diri kita. Inilah sikap
mental yang wajib kita miliki, karena dengan kedua sikap inilah kita
bisa survive.
Namun,
bukan pula hal yang mudah untuk menjadikan sabar dan syukur sebagai
karakter diri kita. Perlu latihan yang terus menerus, dan kita pun
dituntut untuk sabar dengan latihan tersebut. Memang luar biasa
perjuangan untuk bisa ‘berhasil’ dalam hidup, dan sedikit yang bisa
bertahan dalam tempaan kehidupan, karenanya hanya sedikit orang yang
benar-benar bisa disebut ‘berhasil’ dalam hidupnya. Dan saya selalu
berusaha untuk menjadi bagian dari orang-orang yang sedikit itu.
Terus
terang saja, saya ‘terlambat’ memahami syukur dan sabar. Saya
benar-benar disadarkan atas pentingnya rasa syukur setelah memutuskan
resign dari pekerjaan saya dahulu. Akan tetapi, karenanya saya juga
mendapatkan pelajaran tentang kesabaran dari orang-orang yang
berinteraksi dengan saya belakangan ini. Dan kini, tibalah pada bagian
terberat dari semuanya…menghayati. Hayat berarti hidup, menghayati
berarti menghidupkan. Dan menghidupkan, bukan hanya ‘memikirkan’ atau
‘menangkap’ makna yang terkandung di dalamnya…tapi melakukannya,
mengamalkan, implementasi, aksi. Sebab tanpa aksi, apa yang bisa kita
buktikan?
S 3 K 3 L 0 4. 170707. 3:08.
Tulisan sejenis : Istiqamah Kuadrat
Refleksi |Leave a Reply