Nostalgia SMA : Catatan Menjelang Reuni Akbar SMA Negeri 3 Bogor, part 1

June 19th, 2007

Tidak terasa. Sudah 7 tahun sejak kelulusan SMA pada tahun 2000. SMA
Negeri 3 Bogor, sekolah yang meninggalkan kesan cukup mendalam bagi
saya. Memori saya pada sekolah ini bisa disimpulkan dalam beberapa kata
: persahabatan, tawuran, bola plastik, kantin, Robot, musholla
dan…menderita karena cinta :)) Tentunya, cerita ini berdasarkan sudut
pandang dari apa yang saya alami selama 3 tahun.

Sebetulnya,
beberapa saat menjelang lulus SMP, saya benar-benar dalam keadaan tidak
siap. Saya tidak tahu peta SMA di Bogor, yang saya tahu hanya 2
sekolah, STM Negeri Bogor yang berjarak beberapa ratus meter dari
rumah, dan SMA Negeri 8 Bogor yang tidak terlalu jauh dari SMP tempat
saya bersekolah. Maklumlah, ‘anak kabupaten’…teman-teman SMP saya
nggak jauh-jauh dari sekitaran sekolah, dan tempat main saya juga nggak
jauh-jauh dari sekitar rumah dan sekolah. Selain itu, saya merasa berat
untuk cepat-cepat meninggalkan SMP, karena memang meninggalkan kesan
cukup mendalam juga.

Di SMP itu, saya masih terhitung anak yang
‘beruntung’. Diantara teman-teman dekat, saya adalah yang paling
‘pintar’, paling beruntung dari segi ekonomi, salah satu dari dua orang
yang melanjutkan ke SMA, dan satu-satunya yang melanjutkan kuliah. Di
sekolah itulah saya bersahabat dengan orang-orang yang termarginalkan.
Hampir semua sahabat saya melanjutkan ke STM, tujuannya jelas, agar
setelah lulus bisa langsung bekerja. Ada juga yang kemudian tidak bisa
melanjutkan sekolah dan kemudian bekerja menjadi buruh karena masalah
ekonomi, atau putus cinta gara-gara perbedaan status sosial.
Sahabat-sahabat SD saya lebih tragis lagi, 2 orang diantaranya saya
dapati sedang menjadi calo angkot dan preman. Cerita-cerita semacam itu
memang ada, meskipun tidak sedramatis apa yang ditulis Andrea Hirata
dalam Laskar Pelangi. Namun, saya merasa sangat beruntung pernah
bersekolah di SMP tersebut, SMP Negeri 1 Kedung Halang, yang beberapa
saat menjelang saya lulus berubah menjadi SMP Negeri 15 Bogor, imbas
dari pengembangan Kotamadya Bogor. Disanalah saya mendapatkan
persahabatan yang jujur.

Alasan saya memilih SMAN 3 sebetulnya
bermula dari cerita salah seorang alumni SMP tersebut yang saat itu
sedang bersekolah di sana. Tidak ada cerita yang benar-benar ‘bagus’
sebetulnya. Hanya cerita tentang PMR sekolah tersebut yang cukup
disegani, karena saat itu dari organisasi itulah saya banyak
mendapatkan sahabat dan pengalaman yang berharga. Saya berniat
melanjutkan lagi masuk PMR ketika SMA, dengan harapan akan mendapatkan
sahabat, pengalaman dan cerita-cerita konyol yang bisa diceritakan
kepada anak-cucu saya nanti :)) Selain itu, hanya cerita tentang
tawuran-tawuran yang melibatkan SMAN 3 dan bahwa sekolah tersebut
memiliki tetangga sekaligus musuh abadi, SMAN PGRI 1. Namun, itu juga
yang membuat saya semakin tertarik untuk masuk ke sekolah tersebut,
meskipun tidak pernah sekalipun saya terlibat. Terbukti, selama 3 tahun
saya menjadi bagian dari sekolah tersebut, serang-menyerang antara 2
sekolah tersebut yang terjadi puluhan kali, menjadi sesuatu yang
‘biasa’. Justru terasa hambar jika SMAN 3 tidak terlibat tawuran. Mulai
saat itu, saya bertekad melanjutkan ke SMAN 3 Bogor. Sayangnya,
organisasi PMR mengalami kemunduran ketika saya tergabung didalamnya,
sehingga tidak banyak yang bisa saya dapatkan dari sana.

Guru
Matematika SMP yang saya kenal cukup dekat, meragukan ‘kemampuan’ saya
untuk bisa seperti di SMP tersebut jika saya melanjutkan ke SMAN 3.
Alasannya, persaingan di sana lebih ketat. Oleh sebab itu, beliau
menyarankan agar saya memilih SMAN 6 saja, namun saya tetap keukeuh
memilih SMAN 3. Ketika itu, saya memang terkenal karena beberapa kali
menjadi juara kelas, juga sebagai ‘raja’ Matematika. Ferry Hasdi, yang
bersama-sama dengan saya melanjutkan ke SMAN 3, adalah sahabat
sekaligus saingan saya. Satu lagi saingan kami berdua adalah seorang
perempuan berjilbab yang juga jadi ‘love story’ saya ketika SMP :))
Pada akhirnya, ketika perpisahan SMP, kami bertiga termasuk ke dalam 10
orang yang mendapatkan penghargaan NEM terbaik. Ferry ke-2, my ‘love
story’ ke-5, dan saya…pertama! :))

Memang, dikemudian hari,
prediksi guru Matematika SMP tersebut terbukti. Bedanya, Ferry tetap
cemerlang dengan prestasinya, bahkan ketika lulus dari SMAN 3, Ferry
mendapatkan predikat NEM tertinggi untuk jurusan IPA. Ketika acara
perpisahan, dialah yang menjadi ‘raja’ acara tersebut, dan yang menjadi
‘ratu’-nya…ah, tak usahlah saya sebutkan, yang jelas saya iri dan
‘cemburu’ pada Ferry saat itu. Hihihi. Di sisi lain saya juga bangga,
karena setidaknya Ferry bisa mengangkat almamater SMP kami, meskipun
sebetulnya tidak ada yang peduli dari sekolah mana kami berasal.
Sementara saya…saya benar-benar tenggelam dalam prestasi yang
pas-pasan. Bukan karena tidak bisa bersaing, tapi ketika SMA saya
benar-benar malas belajar. Meskipun, khusus untuk Matematika, saya
tetap menguasai pelajaran tersebut ketika kelas 1 dan 2. Hanya
Matematika satu-satunya yang bisa saya kuasai secara alami, tanpa perlu
proses belajar yang panjang, kadang-kadang apa yang baru diajarkan
sekali, bisa saya pahami dan ingat dalam jangka waktu lama. Sementara
kelas 3 adalah puncak kemalasan saya. Ironisnya, Matematika lah yang
memiliki nilai terendah dalam NEM SMA saya. Entah apa penyebabnya, yang
jelas ketika kelas 3 SMA, otak saya turun jauh ke level inferior.

Salah
satu keunikan sekolah ini adalah adanya seleksi untuk kelas Taruna,
yaitu kelas yang dibuat khusus untuk menjadi tim paskibra sekolah.
Lucunya, alumni yang juga teman dekat saya tersebut memprovokasi untuk
mengatakan tidak bersedia menjadi Taruna. Maka, pada saat seleksi, saya
mengatakan "tidak!" di tiap pos yang saya masuki. Di sisi lain,
keberadaan kelas ini menciptakan gap yang cukup lebar diantara kelas
Taruna dan non-Taruna. Saya sendiri termasuk salah seorang yang tidak
menyukai keberadaan kelas Taruna. Untunglah, ketika kelas 2 dan kelas
3, semuanya dilebur kembali. Pada akhirnya, saya malah mendapatkan
banyak teman dekat yang berasal dari kelas Taruna tersebut.

Tawuran
adalah keunikan lain dari sekolah ini. Menjadi unik, karena rasanya
cukup ganjil mendapati anak-anak yang pintar, tapi doyan tawuran. Jika
dibandingkan dengan seluruh sekolah yang ada di Bogor, SMAN 3 adalah
sekolah yang paling banyak mencatat rekor tawuran, juga paling banyak
musuh. Kecuali SMAN 1, 4 dan 5, semua SMA Negeri pernah berhadapan
dengan SMAN 3. Dengan SMAN 1, jenis persaingan yang terjadi lebih
merupakan persaingan gengsi sekolah. Meskipun patut diakui, dalam
banyak hal, SMAN 3 selalu menjadi nomor 2 jika dibandingkan SMAN 1.
Frekuensi tawuran sekolah tersebut melebihi frekuensi tawuran STM-STM
yang ada di Bogor. Sekolah mana lagi yang melakukan tawuran seminggu
sekali? Tawuran-tawuran yang terjadi tentunya menjadi cerita tersendiri
bagi para pelakunya. Sedangkan bagi saya itu adalah sebuah gangguan.
Bagaimana tidak terganggu jika setiap berangkat dan pulang ke sekolah
saya harus merasa tegang sepanjang jalan gara-gara takut ketemu musuh
sekolah kami?

Ada cerita unik ketika saya kelas 2. Kelas kami
sedang dalam tahap renovasi, karena itu kelas kami dipindahkan
sementara ke kelas lain yang lebih dekat dengan pintu gerbang dan
pinggir jalan. Saat itu giliran jadwal siang dan ulangan Matematika.
Sunyi, karena kami sibuk dengan soal-soal Matematika. Sebelum tiba-tiba
terdengar suara riuh sepatu berlari yang jumlahnya sekitar puluhan
orang. Beberapa orang diantara kami, termasuk saya, tergelitik untuk
melihat ke luar, karena tempat duduk saya tepat di sebelah jendela.
Maka, ketika kami lihat puluhan orang berseragam SMA yang bersiap
melempar batu, saat itu juga kami berteriak "diserang!!".  Seketika itu kelas kami membubarkan diri, beberapa detik kemudian…"Prang!!!"
batu-batu memecahkan kaca jendela kelas kami, termasuk jendela tempat
saya melihat. Untunglah kelas sudah hampir kosong ketika kaca-kaca
tersebut pecah, meskipun ada juga seorang perempuan yang terkena
lemparan batu tepat dikepalanya. Semuanya terjadi begitu cepat. Chaos.
Serangan balik dilakukan oleh teman-teman saya, dan tidak lama kemudian
mereka terusir.

Pelajaran selanjutnya adalah Agama Islam.  Maka, sebelum pelajaran dimulai, guru tersebut bertanya "Siapa yang tadi membalas serangan?".
Dan…jreng, kecuali saya dan ketua kelas, semua laki-laki di kelas
tersebut mengacungkan tangannya. Whahaha…hebat! Padahal, jika
dibandingkan kelas lain, laki-laki di kelas kami hanya sedikit yang
suka terlibat tawuran. Mungkin gara-gara ulangan Matematika, membuat
otak mereka jadi korslet :))

Seragam batik sekolah kami juga
paling unik. Sementara batik-batik sekolah lain berwarna biru, SMAN 3
berwarna hitam-coklat, dengan corak persis batik Jawa. Di satu sisi,
batik ini menjadi ciri khas dan kebanggaan tersendiri, tapi di sisi
lain, batik tersebut memudahkan murid-murid dari sekolah lain untuk
melakukan sweeping ketika terjadi tawuran. Untungnya, pasangan baju
batik tersebut adalah celana hitam, sehingga ketika pulang sekolah,
batik tersebut bisa diganti dengan pakaian lain. Apalagi, seragam
tersebut dipakai pada hari sabtu, tidak jarang setelah pulang sekolah,
diantara kami ada yang langsung ber-malam mingguan.

Memori
yang paling berkesan bagi saya adalah cerita tentang sepak bola platik.
Sebelumnya, sepak bola hanya dipertandingkan ketika acara 17-an atau class meeting
saja. Namun, sejak angkatan kami, sepak bola bisa dilakukan setiap
saat, tepatnya ketika kami kelas 2. Tiada hari tanpa sepak bola, bahkan
hingga kami lulus pun, kami masih sering bermain di sana. Namun,
sebelum akhirnya bisa dilakukan setiap hari, mulanya kami mencuri-curi
waktu istirahat, atau jeda antara jadwal pagi dan siang. Tidak jarang
juga kami diusir dari lapangan basket yang kami bajak jadi lapangan
sepak bola gara-gara mengganggu proses belajar jadwal siang. Namun,
kelamaan, guru-guru kami merasakan bosan juga karena teguran-tegurannya
tidak pernah kami tanggapi. Dan mungkin, mereka juga menyadari bahwa
dengan dibebaskannya sepak bola bagi kami, akan mengurangi frekuensi
tawuran, karena energi kami habis dengan bermain sepak bola. Sejak saat
itulah, kami bebas melakukan pertandingan sepak bola sesuka kami.

Banyak
hal terjadi di lapangan tersebut. Sesekali bola plastik yang kami
gunakan masuk ke dalam kelas dan ‘disandera’ oleh guru yang sedang
mengajar, atau membentur kaca kelas dan membuat seisi kelas berteriak
histeris…dan kami pun bubar beberapa saat, untuk selanjutnya kembali
lagi ke lapangan seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa. Pernah juga
tendangan-tendangan kami melenceng hingga mengenai wajah kepala sekolah
atau teman kami, telak! Dan kami tertawa terbahak-bahak sambil
berguling-gulingan di lapangan, puas…:)) Atau terkekeh centil tatkala
bola yang kami tendang mengenai seorang wanita adik kelas kami. Kali
lain, kami tiba-tiba membubarkan diri untuk mengusir murid sekolah lain
yang menyerang kami, ketika guru-guru dan sebagian besar murid yang
lain membicarakan penyerangan tersebut, kami kembali ke lapangan dan
memainkan bola dengan riang.

Dan orang-orang gila mana lagi yang
sanggup bermain dari waktu dzuhur sampai isya, panas terik ataupun
hujan lebat, puasa atau tidak puasa dan dilakukan setiap hari?
Satu-satunya yang bisa menghentikan kami adalah cedera atau…pacar
yang cerewet dan manja yang datang dengan ultimatum "pilih sepak bola atau gua?"
Saya sendiri pernah berhenti total bermain bola selama 2 minggu
gara-gara jari kaki saya patah dan engkel kaki saya keseleo. Syukurlah,
sebagian besar diantara kami adalah jomblo sejati, sehingga hampir
tidak pernah melewatkan sepak bola gara-gara ultimatum pacar. Di mana
lagi bisa ditemukan orang-orang sinting yang sanggup membuat guru les
menunda mengajar gara-gara menunggu kami kelelahan bermain sepak bola,
padahal jadwal mengajar sudah ditentukan. Bisa dipastikan, proses
belajar mengajar tidak berjalan optimal karena kami kelelahan, bahkan
kadang-kadang masih berkeringat, lalu diajari tentang Fisika, Biologi
dan Kimia. Malah ngantuk yang ada.

Di lapangan itulah saya
bermain dengan orang-orang gila yang mengaku-aku titisan Fabian Barthez
dan Paolo Maldini, tapi dipanggil Thez dan selanjutnya jadi Tessy :))
Ada juga yang ngaku-ngaku titisan Shevcehenko seperti Ucup dan
Azhevchenko, tidak jelas siapa yang benar-benar titisannya. Belum lagi
Ekky, yang ngaku-ngaku The Next Francesco Totti.
Ada yang doyan diving bergaya Filippo Inzaghi, atau ngaku-ngaku
reinkarnasi Darko Kovacevic. Dan saya kebagian dibanding-bandingkan
dengan Edgar Davids gara-gara kerasnya tendangan saya, tapi tidak
akurat. Kalau kata Thez, power 95%, akurasi 5% :)) Namun, dari akurasi
yang 5% itulah, saya menghasilkan gol-gol cantik :p

Demi untuk
menciptakan dan mengembangkan bakat-bakat sepak bola di SMAN 3, maka
kami kemudian merancang sebuah kompetisi antar-kelas. Selama kelas 2
yang terbagi ke dalam 3 caturwulan, kami melakukan 3 kali kompetisi
dengan 3 sistem kompetisi yang berbeda. Caturwulan pertama dengan
sistem gugur, tiap tim bertemu 2 atau 3 kali, tapi yang lolos ke babak
selanjutnya bukan berdasarkan selisih gol. Jika pada pertandingan
pertama Tim A menang melawan Tim B, dan pada pertandingan kedua Tim A
kalah dari Tim B, maka dilakukan satu kali pertandingan lagi, tidak
peduli berapapun selisih golnya. Pada Caturwulan I, kelas saya, 2-4,
yang menjadi juara bersama dengan kelas 2-5, karena pertandingan final
tidak pernah terlaksana. Caturwulan kedua dengan sistem setengah
kompetisi, seperti Piala Dunia. Namun, kelas saya gagal menuju final,
pemenangnya adalah kelas 2-7. Kompetisi ketiga menggunakan sistem
kompetisi penuh, semua kelas saling bertemu satu sama lain. Dan kelas
saya menjadi juaranya.

Hal yang paling menarik dari kompetisi
semacam ini adalah atmosfir yang tercipta. Atmosfir persaingan. Setiap
pertandingan adalah pertaruhan gengsi kelas atau gengsi pribadi. Maka,
tidak mengherankan jika kelas kami kalah, malamnya kami sulit bahkan
tidak bisa tidur, saya dan teman-teman saya pernah mengalami ini.
Muncul perasaan dendam jika kalah, dan perasaan puas dan bangga jika
kalah. Apa yang ada dalam pikiran kami adalah bagaimana memenangkan
pertandingan, tidak peduli nilai-nilai kami berantakan, yang penting
jangan kalah dalam kompetisi. Itu adalah sebuah harga mutlak bagi kami.
Entah apa yang merasuki kami, yang jelas kami benar-benar ke-edan-an
sepak bola melebihi apa pun. Gara-gara sepak bola juga, kami selalu
menjadi anak-anak yang paling lama berada di sekolah, tidak jarang baru
pulang menjelang tengah malam. :))

Dari seringnya interaksi di
lapangan, pada akhirnya membentuk sebuah komunitas yang kuat dan solid.
Bahkan, setelah hampir 7 tahun lulus dari SMAN 3, silaturahmi diantara
kami masih terjalin dengan sangat baik. Termasuk dengan sahabat-sahabat
wanita kami yang kadang-kadang disebut ‘Cheerleader’. Padahal, mereka
hanya penonton dan penunggu ’setia’ ketika kami bermain sepak bola,
meskipun sesekali juga jadi ’setan’ karena meminta kami untuk jangan
main sepak bola melulu.

S 3 k 3 l 0 4. 200607. 10.47




5 Responses to “Nostalgia SMA : Catatan Menjelang Reuni Akbar SMA Negeri 3 Bogor, part 1”

  1.   widya on June 29, 2007 9:47 pm

    hi kenalkan nama gw widya. gw alumni smp 15 bgr. angkatan 2003/2004. senang gw bs kenal lu. add fs gw ya. Widya_medis_tina@yahoo.co.id

  2.   Pandu on July 5, 2007 3:44 am

    Nostalgia SMA memang sedap…
    just keep flame your memory

    ujie ‘pandu’ sunaryo, alumni87, Pembela Panji Pakuan Empat.

    Salam Alumni

  3.   HeRdyAN on July 8, 2007 11:22 pm

    Don, sumpah gw kangen masa2 tu..btw udah terlalu lama kita mundur dari dunia persepak bolaan, gimana kalo kita turun gunung untuk meramaikan lagi dunia persepak bolaan?^_^ gw tunggu part II nya..VIVA SOCCER WARRIORS

  4.   Donny on July 23, 2007 12:27 am

    widya:
    doooh…salam kenal juga, kirain widya yang manaaa gitu ;)
    Pandu :
    Bener bosss..ow, alumni 87? dah sepuh ternyata…:))

    Herdyan :
    Heuheuheu…jadwalkeun atuh, yuk kita tumbuhkan lagi semangat Futsal sehariannya…:)) biar nggak pada gembrot!!

  5.   azra on April 11, 2009 10:58 am

    widya u angkatan 2004 kan w bukan anak negeri tiga bgr tp w sedang cari mantan gw yang namany indah irawan u kenal ga sebelumnya. tolong reply ke email gw ok

Comments RSS

Leave a Reply

Name (required)

Email (required)

Website

Speak your mind