Badai vs Badai

June 20th, 2007
    

Setelah mendengarkan The New Version of
OST. Badai Pasti Berlalu (BPB), saya jadi tergelitik untuk
membandingkan dengan judul yang sama garapan Erwin Gutawa keluaran
tahun 1999. Sayangnya, saya tidak memiliki koleksi versi pertama album
tersebut, yang keluar tahun 1975. Itu lho, yang covernya berwarna hijau
dan bergambar Christine Hakim sedang berlari. Konon, album tersebut
menggebrak pasar musik Indonesia yang cenderung statis saat itu. Kalau
didengarkan dari 2 album versi terbarunya, bisa dipastikan bahwa album
tersebut memang beberapa langkah lebih maju dibandingkan musik saat
itu. Saya tidak menyangka, Eros Djarot yang sekarang lebih terkenal
menjadi seorang politikus, adalah orang yang memiliki peran besar dalam
menghasilkan album tersebut. Beberapa lagu ciptaannya, juga bareng
dengan Chrisye, memang menjadi lagu-lagu evergreen, tidak habis dimakan
zaman. Sebut saja Pelangi, Cintaku dan Angin Malam.

Berbicara
tentang album BPB, tentunya tidak bisa lepas dari sosok almarhum
Chrisye, legenda yang belum genap 3 bulan meninggalkan dunia ini.
Menyadari hal itu, Andi Rianto, arranger sekaligus penggarap album BPB
versi terbaru, rupanya ingin melepaskan bayang-bayang Chrisye dari
album garapannya. Aransemen lagu dirombak total, beberapa musisi dan
penyanyi terbaik negeri ini dilibatkan. Bukan tugas mudah untuk semua
yang terlibat, ada beban mental pastinya. Hasilnya, tidak terlalu
mengecewakan, mekipun pada beberapa lagu saya kecewa berat. Tentunya,
ini adalah penilaian subyektif dari saya setelah membandingkan dengan
album garapan Erwin Gutawa, yang menurut saya sangat fenomenal, entah
dengan versi pertamanya, adakah yang bisa bantu mendapatkan?

Sesuatu
yang lumrah jika saya membandingkan kedua album tersebut, meskipun
sebetulnya dalam berkarya, pembandingan-pembandingan semacam itu
tentulah tidak obeyektif. Setiap orang punya cara dan sense yang
berbeda dalam menggarap suatu karya, dan setiap orang juga punya selera
yang berbeda dalam mengapresiasi suatu karya. Satu lagu bisa menjadi
sangat berbeda di tangan setiap orang, dan apapun hasilnya, tidak bisa
dikatakan lebih jelek daripada yang lain. Hanya saja, pasti ada
kelebihan tersendiri jika karya yang lain lebih menonjol dibandingkan
yang lain, meskipun menggarap lagu yang sama. Itulah yang saya
bandingkan, kelebihan-kelebihan dalam 2 album ini, dan inilah penilaian
saya, dengan segala kesoktahuan saya.

Cintaku
Menarik sekali mendengarkan versi swing jazz
dari lagu ini, tapi Lucky ‘Idol’ perlu menambah jam terbang untuk
menyanyikan lagu semacam ini. Saya mendengar ada beberapa bagian yang
tidak sinkron antara Lucky dan musik, tapi sebetulnya untuk musik jazz
yang full improvisasi,
sah-sah saja. Suara Lucky yang berat, memang cocok dengan lagu ini,
hanya saja, ya itu tadi, perlu jam terbang lebih banyak.

Sementara itu, Erwin Gutawa menyajikan lagu ini lebih groovy,
ditambah gesekan biola dari Hendry Lamiri dan kocokan gitar Tohpati
juga cukup dominan mengiringi sepanjang lagu. Lebih cocok didengarkan
atau dinyanyikan dalam suasana bahagia. Point saya berikan untuk versi
2007, karena berhasil menjadikan lagu ini lebih unik.

Merepih Alam
Adalah
salah satu lagu favorit saya. Versi 1999 tampil dengan aransemen yang
dominan suara gitar akustik, versi 2007 tampil dengan petikan gitar
saja. Audi berhasil membawakan lagu ini dengan baik, apalagi dengan
hanya ‘ditemani’ oleh petikan gitar, lagu ini menjadi lebih syahdu,
cocok untuk jadi ‘teman’ malam. Petikan gitar akustiknya juga berhasil
membawakan suasana lagu menjadi lebih romantis, emosional dan
sentimentil. Saya menyukai kedua versi lagu ini, tapi karena harus
memilih, maka point saya berikan untuk versi 2007.

Semusim
Jika Erwin memilih untuk menonjolkan unsur ethnic
pada lagu ini, Andi Rianto memilih kesan modern. Keberanian Erwin
memadukan Chrisye dengan Waljinah yang pesinden itu, menjadikan lagu
ini cukup menarik didengarkan. Pemilihan beberapa alat musik ethnic
menjadikan lagu ini terasa eksotis, meskipun kadang-kadang serasa
mendengarkan Wayang Kulit juga sih. Namun, pilihan Andi Rianto dengan
melibatkan Winky Wiryawan sebagai DJ di versi terbaru, patut diancungi
jempol. Nuansa 70-an berbalut musik dugem atau disko, boleh juga. Cocok
sebagai lagu pengiring senam dan bergoyang di pagi hari. Ini bukan
sebuah penghinaan lho, tapi memang enak didengarkan sambil bergoyang.
Hanya saja, Raihanuun yang menyanyikan lagu ini, terasa kurang cocok
dengan musik. Kalau saya merasa lagu ini akan cocok jika dinyanyikan
oleh Melly Goeslaw yang bisa lebih centil.

Saya lebih menyukai
versi terbaru untuk jadi pilihan. Dari total durasi hampir 6 menit,
setengahnya adalah intro, tapi bagian itulah yang saya sukai.

Merpati Putih
Duh,
sayang sekali, saya seperti mendengar kuntilanak bernyanyi di versi
terbaru lagu ini, terkesan jadi horor sekali. Memang berhasil membuat
saya merinding, sayangnya bukan merinding karena lagu ini luar biasa,
tapi karena takut. Heu3x. Jangan-jangan, memang ini yang menjadi
kelebihannya ya? Dan desahan-desahan Astrid itu, aduh, kok rasanya
mengganggu sekali buat saya ya? Padahal lagu ini sangat sederhana
sebetulnya, tidak terlalu memerlukan aransemen yang aneh-aneh. Pada
lagu ini, musiknya juga cukup dominan oleh suara dari mesin sampling.
Namun, andaikan lagu ini tidak pernah ada sebelumnya, saya jamin lagu
ini akan cepat dilupakan.

Erwin Gutawa berhasil menjadikan lagu
ini sebagai lagu yang akan ‘dirindukan’ oleh mereka yang pernah
mendengarnya. Dengan balutan orksestra, lagu ini memang terkesan
sederhana, tapi kuat sekaligus megah. Pilihan saya untuk versi Erwin
Gutawa.

Khayalku
Di
album garapan Erwin Gutawa, lagu ini adalah yang paling saya sukai,
tapi di versi terbaru saya kecewa berat dengan lagu ini. Tadinya saya
berharap lagu ini bisa lebih menggigit. Duet Chrisye dan Nicky Astria,
dibalut kesolidan musik dari Erwin Gutawa, Eddy Kemput, Thomas Ramdhan
dan Ronald, dalam banyak hal tidak ‘terkejar’ oleh versi terbaru.
Memang menawarkan sesuatu yang baru, tapi juga banyak yang hilang dari
lagu ini. Warna dan nuansa lagu ini juga menjadi tidak terlalu jelas,
terlalu tanggung untuk disebut rock, tapi tidak bisa juga disebut pop,
sementara penyanyinya, Paul t-Five, berwarna R&B. Entah saya salah
atau tidak, tapi saya merasa penyanyi dan musiknya tidak nyambung,
bahkan seperti memaksakan diri. Belum lagi dari aransemen lagu, Erwin
berhasil menggarap lagu ini lebih apik dengan balutan musik yang lebih
progressive, sehingga tidak cepat membosankan. Sialnya, kebosanan
inilah yang, belum apa-apa, sudah saya rasakan saat pertama kali
mendengar versi terbaru. Sayang sekali memang. Point untuk versi 1999.

Baju Pengantin
Versi
1999 disajikan dengan musik orkestra, lebih emosional. Pada beberapa
bagian terasa ruang kosong yang bisa membangkitkan imajinasi kita untuk
mengisinya dengan musik-musik tambahan kita sendiri. Ruang kosong
itulah yang menjadikan suara Chrisye di lagu ini juga terasa dominan.
Hebatnya Chrisye, dengan suaranya yang sederhana, bisa menjadi ruh dari
lagu ini.

Versi terbaru lebih nge-pop. Bagus, tapi nuansa musik
malah mengingatkan pada lagu Kesan Dimatamu yang dibawakan Chrisye awal
90-an. Terutama dari beberapa suara alat musik yang menonjol. Marshanda
juga pas menyanikannya. Namun, secara keseluruhan, lagu ini berhasil
disajikan dengan baik. Akan tetapi, pilihan saya jatuh pada versi 1999.

Serasa
Di
album versi 1999, lagu ini adalah yang paling meriah dan paling panjang
durasinya. Bernuansa musik-musik festival atau musik tahun 80-an, dan
terkesan ramai sekali. Sepertinya lagu Semusim versi 2007 juga
‘mencontek’ aransemen lagu ini. Diakhiri oleh solo panjang dari Hendry
Lamiri dan rampak gendang…dan kesan yang saya dapat, ya itu…ramai!

Pada
versi terbaru, agak jazz juga, dibawakan oleh Ello. Namun, saya tidak
merasakan sesuatu yang special pada lagu ini, sehingga tidak sampai
menarik perhatian saya untuk ingin selalu mendengarkan. Pada dasarnya,
saya juga memang kurang menyukai lagu ini. Akan tetapi, pilihan saya
jatuh pada versi Erwin.

Angin Malam
Pertama
kali saya mendengarkan lagu ini ketika saya sedang sentimentil sekali
di zaman SMA dulu, mendengarkan di radio menjelang tengah malam, dan
saya langsung menyukainya. Bahkan menjadi salah satu lagu yang paling
sering saya dengarkan hingga saat ini. Dengan intro piano, untuk
selanjutnya disambung oleh orkestra dan sedikit sentuhan gitar akustik,
lagu ini menjadi sangat megah, tapi tetap sederhana. Sepanjang lagu,
suara piano sangat dominan. Saya salut kepada Erwin Gutawa yang
berhasil memikirkan detil musik dari lagu ini, luar biasa.

Andi
/rif mendapatkan tugas berat menyanyikan lagu ini. Dengan suara
serak-serak beceknya, dia memang berhasil membawakan lagu ini dengan
cukup baik. Berhasil juga menawarkan warna baru dari lagu ini, tapi
itupun tidak lepas dari baiknya aransemen lagu ini yang dominan petikan
gitar akustik. Seperti Merepih Alam yang dibawakan oleh Audi, lagu ini
cocok didengarkan saat malam hari. Saya menyukainya, tapi versi 1999
masih lebih baik secara keseluruhan.

Pelangi
Giliran
Glen Fredly yang kebagian tugas berat lainnya. Lagu paling populer di
album ini. Yuni Shara pun pernah mempopulerkan lagu ini pada medio
90-an. Sayangnya, Glen tidak didukung oleh aransemen seluarbiasa,
segagah dan semegah versi 1999. Aransemennya cenderung biasa-biasa
saja, tipikal lagu-lagu Glen, tidak menawarkan warna baru. Meskipun,
dengan nuansa semi-jazz dan R&B, lagu ini jadi terasa lebih
eksklusif. Kenapa ya, aransemen di album terbaru cenderung membosankan?
Termasuk juga aransemen lagu ini.

Salah satu alasan saya
mengagumi versi 1999, karena berhasil memainkan emosi saya dengan
aransemen musiknya. Inilah nilai lebih dari seorang Erwin Gutawa. Sulit
ditebak, sehingga tidak menjadikan cepat bosan ketika mendengar lagu
tersebut berulang-ulang. Dan Pelangi di tangan Erwin menjadi salah satu
lagu yang paling kuat dari sisi aransemen musik, meskipun pada tahun
1999 lagu ini tidak terlalu populer. Selain itu, gebukan Drum dari
Ronald cukup memberi pengaruh unsur rock pada lagu ini. Satu lagi point
untuk versi 1999.

Matahari
Efek
suara Sitar dari Gitar Dewa Budjana dominan mengiring sepanjang lagu
ini di versi 1999. Itu juga yang menjadikan lagu ini menarik. Selain
itu juga suara suling pada beberapa bagian lagu, dan juga suara-suara
kendang menjadikan lagu ini terasa eksotis. Menariknya, di lagu ini,
Chrisye diduetkan dengan Aning Katamsi, yang menyumbangkan suara
seriosanya. Di album aslinya, Chrsiye berduet dengan ibu dari Aning
Katamsi. Selain itu, paduan suara dari Impromptu juga membantu menambah
kekayaan khazanah lagu ini.

Sementara itu, tidak banyak yang
ditawarkan dari versi 2007. Meskipun dari sisi aransemen, lagu ini
sudah bagus. Namun, bagi yang tidak menyukai versi 1999, versi 2007
bisa menjadi alternatif dalam menikmati lagu Matahari. Versi 1999,
mendapat nilai lebih dari kekayaan unsur yang terlibat didalamnya.

Badai Pasti Berlalu
Aransemen
musik versi 1999 sebetulnya sangat sederhana. Sepanjang lagu, yang
paling dominan adalah pengulangan dari nada-nada keyboard dan gebukan
drum yang itu-itu saja. Namun, di sepanjang lagu itu juga, keluar-masuk
unsur-unsur lain. Saluang, Serinai, Paduan Suara dan perkusi. Dan
menjelang akhir lagu, semua unsur itu masuk menjadi satu. Jadi, dari
awal sampai akhir lagu, emosinya semakin menaik, meskipun temponya
tidak berubah.

Pada versi baru, sebetulnya lagu ini digarap
dengan baik. Namun, saya merasa Ari Lasso tidak memberikan penjiwaan
yang cukup pada lagu ini, jadi seperti tidak punya ruh. Mengalir begitu
saja, tiba-tiba sampai di akhir lagu. Seperti beberapa lagu lainnya,
lagu ini juga malah terkesan membosankan. Akan tetapi, jika
dibandingkan versi 1999, saya tentu akan memilih versi baru untuk
konsumsi telinga saya.

Hasil akhir, 7:4 untuk versi 1999.
Terlepas dari subyektivitas penilaian, saya tetap menyatakan apresiasi
yang setinggi-tingginya untuk mereka yang terlibat dalam penggarapan
kedua album ini. Lagipula, mereka juga tidak akan terpengaruh oleh
penilaian saya ini, baca saja belum tentu. Penilaian ini juga dilakukan
oleh orang yang tidak terlalu ahli memainkan alat musik atau
mengaransemen lagu, hanya seorang penikmat musik saja. Namun, alangkah
baiknya jika ternyata penilaian saya yang seadanya ini juga ternyata
bisa memacu para musisi kita untuk menyajikan musik-musik yang
berkualitas.

S 3 k 3 l 0 4. 210607. 10.37.




One Response to “Badai vs Badai”

  1.   rosi on November 18, 2007 5:15 pm

    Punya lagu Chrisye yang judulnya “Cinta”? Mau…

Comments RSS

Leave a Reply

Name (required)

Email (required)

Website

Speak your mind