Coming Soon

June 28th, 2007

Akhirnya, setelah memaksakan diri, saya berhasil memiliki domain sendiri www.donnyreza.net.  Saat ini belum berisi apa pun, rancangan websitenya belum selesai, tertunda terus.  Maklum, sedang malas sekali coding.
Saya punya kapasitas 100Mb, ada saran untuk diisi apa saja? Asal jangan
minta aplikasi-aplikasi atau apapun yang berbau bajakan, terbentur policy dengan pihak penyedia layanan Hosting, Qwords.
Mudah-mudahan saya tidak salah pilih. Pemilihan Qwords sendiri setelah
melalui perbandingan dengan penyedia layanan yang sama, selain itu,
karena mereka ada di Bandung, sehingga lebih memudahkan untuk saya.

So, tunggu saja tanggal mainnya :) Sayangnya dalam 2 minggu ke depan, website pribadi itu masih dalam tahap under construction.  Jadi, belum berisi apa-apa.  Rancangan websitenya sudah 60%, masih perlu perbaikan dan tambahan sana-sini, terutama security-nya.
Meskipun, sebetulnya saya tidak keberatan website saya ada yang
‘mengacak-acak’, asal…kasih tahu saya dimana kelemahannya. Jadi,
sekalian saya belajar…;) Apalagi, rencana ke depan, saya akan
menggunakan juga untuk keperluan e-commerce,
berbisnis lewat internet, yang terpikir oleh saya sih jualan buku
online, meskipun sudah banyak juga yang sejenis. Ada masukan?

Akan tetapi, saya bingung…infinityproject, psychoavatar, katapengantar dan IndoEnglish dihapus jangan ya? :(

S 3 K 3 l 0 4. 280607. 23.25.

NB : Duh, lagu Nirwana-nya GIGI jam segini bener-bener enak di telinga dan bikin memori saya berputar ke masa lalu…:)

Badai vs Badai

June 20th, 2007
    

Setelah mendengarkan The New Version of
OST. Badai Pasti Berlalu (BPB), saya jadi tergelitik untuk
membandingkan dengan judul yang sama garapan Erwin Gutawa keluaran
tahun 1999. Sayangnya, saya tidak memiliki koleksi versi pertama album
tersebut, yang keluar tahun 1975. Itu lho, yang covernya berwarna hijau
dan bergambar Christine Hakim sedang berlari. Konon, album tersebut
menggebrak pasar musik Indonesia yang cenderung statis saat itu. Kalau
didengarkan dari 2 album versi terbarunya, bisa dipastikan bahwa album
tersebut memang beberapa langkah lebih maju dibandingkan musik saat
itu. Saya tidak menyangka, Eros Djarot yang sekarang lebih terkenal
menjadi seorang politikus, adalah orang yang memiliki peran besar dalam
menghasilkan album tersebut. Beberapa lagu ciptaannya, juga bareng
dengan Chrisye, memang menjadi lagu-lagu evergreen, tidak habis dimakan
zaman. Sebut saja Pelangi, Cintaku dan Angin Malam.

Berbicara
tentang album BPB, tentunya tidak bisa lepas dari sosok almarhum
Chrisye, legenda yang belum genap 3 bulan meninggalkan dunia ini.
Menyadari hal itu, Andi Rianto, arranger sekaligus penggarap album BPB
versi terbaru, rupanya ingin melepaskan bayang-bayang Chrisye dari
album garapannya. Aransemen lagu dirombak total, beberapa musisi dan
penyanyi terbaik negeri ini dilibatkan. Bukan tugas mudah untuk semua
yang terlibat, ada beban mental pastinya. Hasilnya, tidak terlalu
mengecewakan, mekipun pada beberapa lagu saya kecewa berat. Tentunya,
ini adalah penilaian subyektif dari saya setelah membandingkan dengan
album garapan Erwin Gutawa, yang menurut saya sangat fenomenal, entah
dengan versi pertamanya, adakah yang bisa bantu mendapatkan?

Sesuatu
yang lumrah jika saya membandingkan kedua album tersebut, meskipun
sebetulnya dalam berkarya, pembandingan-pembandingan semacam itu
tentulah tidak obeyektif. Setiap orang punya cara dan sense yang
berbeda dalam menggarap suatu karya, dan setiap orang juga punya selera
yang berbeda dalam mengapresiasi suatu karya. Satu lagu bisa menjadi
sangat berbeda di tangan setiap orang, dan apapun hasilnya, tidak bisa
dikatakan lebih jelek daripada yang lain. Hanya saja, pasti ada
kelebihan tersendiri jika karya yang lain lebih menonjol dibandingkan
yang lain, meskipun menggarap lagu yang sama. Itulah yang saya
bandingkan, kelebihan-kelebihan dalam 2 album ini, dan inilah penilaian
saya, dengan segala kesoktahuan saya.

Cintaku
Menarik sekali mendengarkan versi swing jazz
dari lagu ini, tapi Lucky ‘Idol’ perlu menambah jam terbang untuk
menyanyikan lagu semacam ini. Saya mendengar ada beberapa bagian yang
tidak sinkron antara Lucky dan musik, tapi sebetulnya untuk musik jazz
yang full improvisasi,
sah-sah saja. Suara Lucky yang berat, memang cocok dengan lagu ini,
hanya saja, ya itu tadi, perlu jam terbang lebih banyak.

Sementara itu, Erwin Gutawa menyajikan lagu ini lebih groovy,
ditambah gesekan biola dari Hendry Lamiri dan kocokan gitar Tohpati
juga cukup dominan mengiringi sepanjang lagu. Lebih cocok didengarkan
atau dinyanyikan dalam suasana bahagia. Point saya berikan untuk versi
2007, karena berhasil menjadikan lagu ini lebih unik.

Merepih Alam
Adalah
salah satu lagu favorit saya. Versi 1999 tampil dengan aransemen yang
dominan suara gitar akustik, versi 2007 tampil dengan petikan gitar
saja. Audi berhasil membawakan lagu ini dengan baik, apalagi dengan
hanya ‘ditemani’ oleh petikan gitar, lagu ini menjadi lebih syahdu,
cocok untuk jadi ‘teman’ malam. Petikan gitar akustiknya juga berhasil
membawakan suasana lagu menjadi lebih romantis, emosional dan
sentimentil. Saya menyukai kedua versi lagu ini, tapi karena harus
memilih, maka point saya berikan untuk versi 2007.

Semusim
Jika Erwin memilih untuk menonjolkan unsur ethnic
pada lagu ini, Andi Rianto memilih kesan modern. Keberanian Erwin
memadukan Chrisye dengan Waljinah yang pesinden itu, menjadikan lagu
ini cukup menarik didengarkan. Pemilihan beberapa alat musik ethnic
menjadikan lagu ini terasa eksotis, meskipun kadang-kadang serasa
mendengarkan Wayang Kulit juga sih. Namun, pilihan Andi Rianto dengan
melibatkan Winky Wiryawan sebagai DJ di versi terbaru, patut diancungi
jempol. Nuansa 70-an berbalut musik dugem atau disko, boleh juga. Cocok
sebagai lagu pengiring senam dan bergoyang di pagi hari. Ini bukan
sebuah penghinaan lho, tapi memang enak didengarkan sambil bergoyang.
Hanya saja, Raihanuun yang menyanyikan lagu ini, terasa kurang cocok
dengan musik. Kalau saya merasa lagu ini akan cocok jika dinyanyikan
oleh Melly Goeslaw yang bisa lebih centil.

Saya lebih menyukai
versi terbaru untuk jadi pilihan. Dari total durasi hampir 6 menit,
setengahnya adalah intro, tapi bagian itulah yang saya sukai.

Merpati Putih
Duh,
sayang sekali, saya seperti mendengar kuntilanak bernyanyi di versi
terbaru lagu ini, terkesan jadi horor sekali. Memang berhasil membuat
saya merinding, sayangnya bukan merinding karena lagu ini luar biasa,
tapi karena takut. Heu3x. Jangan-jangan, memang ini yang menjadi
kelebihannya ya? Dan desahan-desahan Astrid itu, aduh, kok rasanya
mengganggu sekali buat saya ya? Padahal lagu ini sangat sederhana
sebetulnya, tidak terlalu memerlukan aransemen yang aneh-aneh. Pada
lagu ini, musiknya juga cukup dominan oleh suara dari mesin sampling.
Namun, andaikan lagu ini tidak pernah ada sebelumnya, saya jamin lagu
ini akan cepat dilupakan.

Erwin Gutawa berhasil menjadikan lagu
ini sebagai lagu yang akan ‘dirindukan’ oleh mereka yang pernah
mendengarnya. Dengan balutan orksestra, lagu ini memang terkesan
sederhana, tapi kuat sekaligus megah. Pilihan saya untuk versi Erwin
Gutawa.

Khayalku
Di
album garapan Erwin Gutawa, lagu ini adalah yang paling saya sukai,
tapi di versi terbaru saya kecewa berat dengan lagu ini. Tadinya saya
berharap lagu ini bisa lebih menggigit. Duet Chrisye dan Nicky Astria,
dibalut kesolidan musik dari Erwin Gutawa, Eddy Kemput, Thomas Ramdhan
dan Ronald, dalam banyak hal tidak ‘terkejar’ oleh versi terbaru.
Memang menawarkan sesuatu yang baru, tapi juga banyak yang hilang dari
lagu ini. Warna dan nuansa lagu ini juga menjadi tidak terlalu jelas,
terlalu tanggung untuk disebut rock, tapi tidak bisa juga disebut pop,
sementara penyanyinya, Paul t-Five, berwarna R&B. Entah saya salah
atau tidak, tapi saya merasa penyanyi dan musiknya tidak nyambung,
bahkan seperti memaksakan diri. Belum lagi dari aransemen lagu, Erwin
berhasil menggarap lagu ini lebih apik dengan balutan musik yang lebih
progressive, sehingga tidak cepat membosankan. Sialnya, kebosanan
inilah yang, belum apa-apa, sudah saya rasakan saat pertama kali
mendengar versi terbaru. Sayang sekali memang. Point untuk versi 1999.

Baju Pengantin
Versi
1999 disajikan dengan musik orkestra, lebih emosional. Pada beberapa
bagian terasa ruang kosong yang bisa membangkitkan imajinasi kita untuk
mengisinya dengan musik-musik tambahan kita sendiri. Ruang kosong
itulah yang menjadikan suara Chrisye di lagu ini juga terasa dominan.
Hebatnya Chrisye, dengan suaranya yang sederhana, bisa menjadi ruh dari
lagu ini.

Versi terbaru lebih nge-pop. Bagus, tapi nuansa musik
malah mengingatkan pada lagu Kesan Dimatamu yang dibawakan Chrisye awal
90-an. Terutama dari beberapa suara alat musik yang menonjol. Marshanda
juga pas menyanikannya. Namun, secara keseluruhan, lagu ini berhasil
disajikan dengan baik. Akan tetapi, pilihan saya jatuh pada versi 1999.

Serasa
Di
album versi 1999, lagu ini adalah yang paling meriah dan paling panjang
durasinya. Bernuansa musik-musik festival atau musik tahun 80-an, dan
terkesan ramai sekali. Sepertinya lagu Semusim versi 2007 juga
‘mencontek’ aransemen lagu ini. Diakhiri oleh solo panjang dari Hendry
Lamiri dan rampak gendang…dan kesan yang saya dapat, ya itu…ramai!

Pada
versi terbaru, agak jazz juga, dibawakan oleh Ello. Namun, saya tidak
merasakan sesuatu yang special pada lagu ini, sehingga tidak sampai
menarik perhatian saya untuk ingin selalu mendengarkan. Pada dasarnya,
saya juga memang kurang menyukai lagu ini. Akan tetapi, pilihan saya
jatuh pada versi Erwin.

Angin Malam
Pertama
kali saya mendengarkan lagu ini ketika saya sedang sentimentil sekali
di zaman SMA dulu, mendengarkan di radio menjelang tengah malam, dan
saya langsung menyukainya. Bahkan menjadi salah satu lagu yang paling
sering saya dengarkan hingga saat ini. Dengan intro piano, untuk
selanjutnya disambung oleh orkestra dan sedikit sentuhan gitar akustik,
lagu ini menjadi sangat megah, tapi tetap sederhana. Sepanjang lagu,
suara piano sangat dominan. Saya salut kepada Erwin Gutawa yang
berhasil memikirkan detil musik dari lagu ini, luar biasa.

Andi
/rif mendapatkan tugas berat menyanyikan lagu ini. Dengan suara
serak-serak beceknya, dia memang berhasil membawakan lagu ini dengan
cukup baik. Berhasil juga menawarkan warna baru dari lagu ini, tapi
itupun tidak lepas dari baiknya aransemen lagu ini yang dominan petikan
gitar akustik. Seperti Merepih Alam yang dibawakan oleh Audi, lagu ini
cocok didengarkan saat malam hari. Saya menyukainya, tapi versi 1999
masih lebih baik secara keseluruhan.

Pelangi
Giliran
Glen Fredly yang kebagian tugas berat lainnya. Lagu paling populer di
album ini. Yuni Shara pun pernah mempopulerkan lagu ini pada medio
90-an. Sayangnya, Glen tidak didukung oleh aransemen seluarbiasa,
segagah dan semegah versi 1999. Aransemennya cenderung biasa-biasa
saja, tipikal lagu-lagu Glen, tidak menawarkan warna baru. Meskipun,
dengan nuansa semi-jazz dan R&B, lagu ini jadi terasa lebih
eksklusif. Kenapa ya, aransemen di album terbaru cenderung membosankan?
Termasuk juga aransemen lagu ini.

Salah satu alasan saya
mengagumi versi 1999, karena berhasil memainkan emosi saya dengan
aransemen musiknya. Inilah nilai lebih dari seorang Erwin Gutawa. Sulit
ditebak, sehingga tidak menjadikan cepat bosan ketika mendengar lagu
tersebut berulang-ulang. Dan Pelangi di tangan Erwin menjadi salah satu
lagu yang paling kuat dari sisi aransemen musik, meskipun pada tahun
1999 lagu ini tidak terlalu populer. Selain itu, gebukan Drum dari
Ronald cukup memberi pengaruh unsur rock pada lagu ini. Satu lagi point
untuk versi 1999.

Matahari
Efek
suara Sitar dari Gitar Dewa Budjana dominan mengiring sepanjang lagu
ini di versi 1999. Itu juga yang menjadikan lagu ini menarik. Selain
itu juga suara suling pada beberapa bagian lagu, dan juga suara-suara
kendang menjadikan lagu ini terasa eksotis. Menariknya, di lagu ini,
Chrisye diduetkan dengan Aning Katamsi, yang menyumbangkan suara
seriosanya. Di album aslinya, Chrsiye berduet dengan ibu dari Aning
Katamsi. Selain itu, paduan suara dari Impromptu juga membantu menambah
kekayaan khazanah lagu ini.

Sementara itu, tidak banyak yang
ditawarkan dari versi 2007. Meskipun dari sisi aransemen, lagu ini
sudah bagus. Namun, bagi yang tidak menyukai versi 1999, versi 2007
bisa menjadi alternatif dalam menikmati lagu Matahari. Versi 1999,
mendapat nilai lebih dari kekayaan unsur yang terlibat didalamnya.

Badai Pasti Berlalu
Aransemen
musik versi 1999 sebetulnya sangat sederhana. Sepanjang lagu, yang
paling dominan adalah pengulangan dari nada-nada keyboard dan gebukan
drum yang itu-itu saja. Namun, di sepanjang lagu itu juga, keluar-masuk
unsur-unsur lain. Saluang, Serinai, Paduan Suara dan perkusi. Dan
menjelang akhir lagu, semua unsur itu masuk menjadi satu. Jadi, dari
awal sampai akhir lagu, emosinya semakin menaik, meskipun temponya
tidak berubah.

Pada versi baru, sebetulnya lagu ini digarap
dengan baik. Namun, saya merasa Ari Lasso tidak memberikan penjiwaan
yang cukup pada lagu ini, jadi seperti tidak punya ruh. Mengalir begitu
saja, tiba-tiba sampai di akhir lagu. Seperti beberapa lagu lainnya,
lagu ini juga malah terkesan membosankan. Akan tetapi, jika
dibandingkan versi 1999, saya tentu akan memilih versi baru untuk
konsumsi telinga saya.

Hasil akhir, 7:4 untuk versi 1999.
Terlepas dari subyektivitas penilaian, saya tetap menyatakan apresiasi
yang setinggi-tingginya untuk mereka yang terlibat dalam penggarapan
kedua album ini. Lagipula, mereka juga tidak akan terpengaruh oleh
penilaian saya ini, baca saja belum tentu. Penilaian ini juga dilakukan
oleh orang yang tidak terlalu ahli memainkan alat musik atau
mengaransemen lagu, hanya seorang penikmat musik saja. Namun, alangkah
baiknya jika ternyata penilaian saya yang seadanya ini juga ternyata
bisa memacu para musisi kita untuk menyajikan musik-musik yang
berkualitas.

S 3 k 3 l 0 4. 210607. 10.37.

Launching Lagi

June 19th, 2007

Setelah, susah payah launching katapengantar, kini giliran IndoEnglish:Try This At Home yang resmi launching, setelah sekitar 2 bulan tertunda.  Mohon maaf untuk Nana karena keterlambatan ini, ditunggu tulisan-tulisan selanjutnya.  Buat Opie, contohnya langsung aja lihat di IndoEnglish, saya tunggu kontribusinya.  Lebih dari itu, semoga 2 project ini bisa bermanfaat untuk semuanya.  Silahkan kunjungi katapengantar dan IndoEnglish. :)  Jika ada yang berminat jadi kontributor, hubungi saya aja ;)

Nostalgia SMA : Catatan Menjelang Reuni Akbar SMA Negeri 3 Bogor, part 1

June 19th, 2007

Tidak terasa. Sudah 7 tahun sejak kelulusan SMA pada tahun 2000. SMA
Negeri 3 Bogor, sekolah yang meninggalkan kesan cukup mendalam bagi
saya. Memori saya pada sekolah ini bisa disimpulkan dalam beberapa kata
: persahabatan, tawuran, bola plastik, kantin, Robot, musholla
dan…menderita karena cinta :)) Tentunya, cerita ini berdasarkan sudut
pandang dari apa yang saya alami selama 3 tahun.

Sebetulnya,
beberapa saat menjelang lulus SMP, saya benar-benar dalam keadaan tidak
siap. Saya tidak tahu peta SMA di Bogor, yang saya tahu hanya 2
sekolah, STM Negeri Bogor yang berjarak beberapa ratus meter dari
rumah, dan SMA Negeri 8 Bogor yang tidak terlalu jauh dari SMP tempat
saya bersekolah. Maklumlah, ‘anak kabupaten’…teman-teman SMP saya
nggak jauh-jauh dari sekitaran sekolah, dan tempat main saya juga nggak
jauh-jauh dari sekitar rumah dan sekolah. Selain itu, saya merasa berat
untuk cepat-cepat meninggalkan SMP, karena memang meninggalkan kesan
cukup mendalam juga.

Di SMP itu, saya masih terhitung anak yang
‘beruntung’. Diantara teman-teman dekat, saya adalah yang paling
‘pintar’, paling beruntung dari segi ekonomi, salah satu dari dua orang
yang melanjutkan ke SMA, dan satu-satunya yang melanjutkan kuliah. Di
sekolah itulah saya bersahabat dengan orang-orang yang termarginalkan.
Hampir semua sahabat saya melanjutkan ke STM, tujuannya jelas, agar
setelah lulus bisa langsung bekerja. Ada juga yang kemudian tidak bisa
melanjutkan sekolah dan kemudian bekerja menjadi buruh karena masalah
ekonomi, atau putus cinta gara-gara perbedaan status sosial.
Sahabat-sahabat SD saya lebih tragis lagi, 2 orang diantaranya saya
dapati sedang menjadi calo angkot dan preman. Cerita-cerita semacam itu
memang ada, meskipun tidak sedramatis apa yang ditulis Andrea Hirata
dalam Laskar Pelangi. Namun, saya merasa sangat beruntung pernah
bersekolah di SMP tersebut, SMP Negeri 1 Kedung Halang, yang beberapa
saat menjelang saya lulus berubah menjadi SMP Negeri 15 Bogor, imbas
dari pengembangan Kotamadya Bogor. Disanalah saya mendapatkan
persahabatan yang jujur.

Alasan saya memilih SMAN 3 sebetulnya
bermula dari cerita salah seorang alumni SMP tersebut yang saat itu
sedang bersekolah di sana. Tidak ada cerita yang benar-benar ‘bagus’
sebetulnya. Hanya cerita tentang PMR sekolah tersebut yang cukup
disegani, karena saat itu dari organisasi itulah saya banyak
mendapatkan sahabat dan pengalaman yang berharga. Saya berniat
melanjutkan lagi masuk PMR ketika SMA, dengan harapan akan mendapatkan
sahabat, pengalaman dan cerita-cerita konyol yang bisa diceritakan
kepada anak-cucu saya nanti :)) Selain itu, hanya cerita tentang
tawuran-tawuran yang melibatkan SMAN 3 dan bahwa sekolah tersebut
memiliki tetangga sekaligus musuh abadi, SMAN PGRI 1. Namun, itu juga
yang membuat saya semakin tertarik untuk masuk ke sekolah tersebut,
meskipun tidak pernah sekalipun saya terlibat. Terbukti, selama 3 tahun
saya menjadi bagian dari sekolah tersebut, serang-menyerang antara 2
sekolah tersebut yang terjadi puluhan kali, menjadi sesuatu yang
‘biasa’. Justru terasa hambar jika SMAN 3 tidak terlibat tawuran. Mulai
saat itu, saya bertekad melanjutkan ke SMAN 3 Bogor. Sayangnya,
organisasi PMR mengalami kemunduran ketika saya tergabung didalamnya,
sehingga tidak banyak yang bisa saya dapatkan dari sana.

Guru
Matematika SMP yang saya kenal cukup dekat, meragukan ‘kemampuan’ saya
untuk bisa seperti di SMP tersebut jika saya melanjutkan ke SMAN 3.
Alasannya, persaingan di sana lebih ketat. Oleh sebab itu, beliau
menyarankan agar saya memilih SMAN 6 saja, namun saya tetap keukeuh
memilih SMAN 3. Ketika itu, saya memang terkenal karena beberapa kali
menjadi juara kelas, juga sebagai ‘raja’ Matematika. Ferry Hasdi, yang
bersama-sama dengan saya melanjutkan ke SMAN 3, adalah sahabat
sekaligus saingan saya. Satu lagi saingan kami berdua adalah seorang
perempuan berjilbab yang juga jadi ‘love story’ saya ketika SMP :))
Pada akhirnya, ketika perpisahan SMP, kami bertiga termasuk ke dalam 10
orang yang mendapatkan penghargaan NEM terbaik. Ferry ke-2, my ‘love
story’ ke-5, dan saya…pertama! :))

Memang, dikemudian hari,
prediksi guru Matematika SMP tersebut terbukti. Bedanya, Ferry tetap
cemerlang dengan prestasinya, bahkan ketika lulus dari SMAN 3, Ferry
mendapatkan predikat NEM tertinggi untuk jurusan IPA. Ketika acara
perpisahan, dialah yang menjadi ‘raja’ acara tersebut, dan yang menjadi
‘ratu’-nya…ah, tak usahlah saya sebutkan, yang jelas saya iri dan
‘cemburu’ pada Ferry saat itu. Hihihi. Di sisi lain saya juga bangga,
karena setidaknya Ferry bisa mengangkat almamater SMP kami, meskipun
sebetulnya tidak ada yang peduli dari sekolah mana kami berasal.
Sementara saya…saya benar-benar tenggelam dalam prestasi yang
pas-pasan. Bukan karena tidak bisa bersaing, tapi ketika SMA saya
benar-benar malas belajar. Meskipun, khusus untuk Matematika, saya
tetap menguasai pelajaran tersebut ketika kelas 1 dan 2. Hanya
Matematika satu-satunya yang bisa saya kuasai secara alami, tanpa perlu
proses belajar yang panjang, kadang-kadang apa yang baru diajarkan
sekali, bisa saya pahami dan ingat dalam jangka waktu lama. Sementara
kelas 3 adalah puncak kemalasan saya. Ironisnya, Matematika lah yang
memiliki nilai terendah dalam NEM SMA saya. Entah apa penyebabnya, yang
jelas ketika kelas 3 SMA, otak saya turun jauh ke level inferior.

Salah
satu keunikan sekolah ini adalah adanya seleksi untuk kelas Taruna,
yaitu kelas yang dibuat khusus untuk menjadi tim paskibra sekolah.
Lucunya, alumni yang juga teman dekat saya tersebut memprovokasi untuk
mengatakan tidak bersedia menjadi Taruna. Maka, pada saat seleksi, saya
mengatakan "tidak!" di tiap pos yang saya masuki. Di sisi lain,
keberadaan kelas ini menciptakan gap yang cukup lebar diantara kelas
Taruna dan non-Taruna. Saya sendiri termasuk salah seorang yang tidak
menyukai keberadaan kelas Taruna. Untunglah, ketika kelas 2 dan kelas
3, semuanya dilebur kembali. Pada akhirnya, saya malah mendapatkan
banyak teman dekat yang berasal dari kelas Taruna tersebut.

Tawuran
adalah keunikan lain dari sekolah ini. Menjadi unik, karena rasanya
cukup ganjil mendapati anak-anak yang pintar, tapi doyan tawuran. Jika
dibandingkan dengan seluruh sekolah yang ada di Bogor, SMAN 3 adalah
sekolah yang paling banyak mencatat rekor tawuran, juga paling banyak
musuh. Kecuali SMAN 1, 4 dan 5, semua SMA Negeri pernah berhadapan
dengan SMAN 3. Dengan SMAN 1, jenis persaingan yang terjadi lebih
merupakan persaingan gengsi sekolah. Meskipun patut diakui, dalam
banyak hal, SMAN 3 selalu menjadi nomor 2 jika dibandingkan SMAN 1.
Frekuensi tawuran sekolah tersebut melebihi frekuensi tawuran STM-STM
yang ada di Bogor. Sekolah mana lagi yang melakukan tawuran seminggu
sekali? Tawuran-tawuran yang terjadi tentunya menjadi cerita tersendiri
bagi para pelakunya. Sedangkan bagi saya itu adalah sebuah gangguan.
Bagaimana tidak terganggu jika setiap berangkat dan pulang ke sekolah
saya harus merasa tegang sepanjang jalan gara-gara takut ketemu musuh
sekolah kami?

Ada cerita unik ketika saya kelas 2. Kelas kami
sedang dalam tahap renovasi, karena itu kelas kami dipindahkan
sementara ke kelas lain yang lebih dekat dengan pintu gerbang dan
pinggir jalan. Saat itu giliran jadwal siang dan ulangan Matematika.
Sunyi, karena kami sibuk dengan soal-soal Matematika. Sebelum tiba-tiba
terdengar suara riuh sepatu berlari yang jumlahnya sekitar puluhan
orang. Beberapa orang diantara kami, termasuk saya, tergelitik untuk
melihat ke luar, karena tempat duduk saya tepat di sebelah jendela.
Maka, ketika kami lihat puluhan orang berseragam SMA yang bersiap
melempar batu, saat itu juga kami berteriak "diserang!!".  Seketika itu kelas kami membubarkan diri, beberapa detik kemudian…"Prang!!!"
batu-batu memecahkan kaca jendela kelas kami, termasuk jendela tempat
saya melihat. Untunglah kelas sudah hampir kosong ketika kaca-kaca
tersebut pecah, meskipun ada juga seorang perempuan yang terkena
lemparan batu tepat dikepalanya. Semuanya terjadi begitu cepat. Chaos.
Serangan balik dilakukan oleh teman-teman saya, dan tidak lama kemudian
mereka terusir.

Pelajaran selanjutnya adalah Agama Islam.  Maka, sebelum pelajaran dimulai, guru tersebut bertanya "Siapa yang tadi membalas serangan?".
Dan…jreng, kecuali saya dan ketua kelas, semua laki-laki di kelas
tersebut mengacungkan tangannya. Whahaha…hebat! Padahal, jika
dibandingkan kelas lain, laki-laki di kelas kami hanya sedikit yang
suka terlibat tawuran. Mungkin gara-gara ulangan Matematika, membuat
otak mereka jadi korslet :))

Seragam batik sekolah kami juga
paling unik. Sementara batik-batik sekolah lain berwarna biru, SMAN 3
berwarna hitam-coklat, dengan corak persis batik Jawa. Di satu sisi,
batik ini menjadi ciri khas dan kebanggaan tersendiri, tapi di sisi
lain, batik tersebut memudahkan murid-murid dari sekolah lain untuk
melakukan sweeping ketika terjadi tawuran. Untungnya, pasangan baju
batik tersebut adalah celana hitam, sehingga ketika pulang sekolah,
batik tersebut bisa diganti dengan pakaian lain. Apalagi, seragam
tersebut dipakai pada hari sabtu, tidak jarang setelah pulang sekolah,
diantara kami ada yang langsung ber-malam mingguan.

Memori
yang paling berkesan bagi saya adalah cerita tentang sepak bola platik.
Sebelumnya, sepak bola hanya dipertandingkan ketika acara 17-an atau class meeting
saja. Namun, sejak angkatan kami, sepak bola bisa dilakukan setiap
saat, tepatnya ketika kami kelas 2. Tiada hari tanpa sepak bola, bahkan
hingga kami lulus pun, kami masih sering bermain di sana. Namun,
sebelum akhirnya bisa dilakukan setiap hari, mulanya kami mencuri-curi
waktu istirahat, atau jeda antara jadwal pagi dan siang. Tidak jarang
juga kami diusir dari lapangan basket yang kami bajak jadi lapangan
sepak bola gara-gara mengganggu proses belajar jadwal siang. Namun,
kelamaan, guru-guru kami merasakan bosan juga karena teguran-tegurannya
tidak pernah kami tanggapi. Dan mungkin, mereka juga menyadari bahwa
dengan dibebaskannya sepak bola bagi kami, akan mengurangi frekuensi
tawuran, karena energi kami habis dengan bermain sepak bola. Sejak saat
itulah, kami bebas melakukan pertandingan sepak bola sesuka kami.

Banyak
hal terjadi di lapangan tersebut. Sesekali bola plastik yang kami
gunakan masuk ke dalam kelas dan ‘disandera’ oleh guru yang sedang
mengajar, atau membentur kaca kelas dan membuat seisi kelas berteriak
histeris…dan kami pun bubar beberapa saat, untuk selanjutnya kembali
lagi ke lapangan seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa. Pernah juga
tendangan-tendangan kami melenceng hingga mengenai wajah kepala sekolah
atau teman kami, telak! Dan kami tertawa terbahak-bahak sambil
berguling-gulingan di lapangan, puas…:)) Atau terkekeh centil tatkala
bola yang kami tendang mengenai seorang wanita adik kelas kami. Kali
lain, kami tiba-tiba membubarkan diri untuk mengusir murid sekolah lain
yang menyerang kami, ketika guru-guru dan sebagian besar murid yang
lain membicarakan penyerangan tersebut, kami kembali ke lapangan dan
memainkan bola dengan riang.

Dan orang-orang gila mana lagi yang
sanggup bermain dari waktu dzuhur sampai isya, panas terik ataupun
hujan lebat, puasa atau tidak puasa dan dilakukan setiap hari?
Satu-satunya yang bisa menghentikan kami adalah cedera atau…pacar
yang cerewet dan manja yang datang dengan ultimatum "pilih sepak bola atau gua?"
Saya sendiri pernah berhenti total bermain bola selama 2 minggu
gara-gara jari kaki saya patah dan engkel kaki saya keseleo. Syukurlah,
sebagian besar diantara kami adalah jomblo sejati, sehingga hampir
tidak pernah melewatkan sepak bola gara-gara ultimatum pacar. Di mana
lagi bisa ditemukan orang-orang sinting yang sanggup membuat guru les
menunda mengajar gara-gara menunggu kami kelelahan bermain sepak bola,
padahal jadwal mengajar sudah ditentukan. Bisa dipastikan, proses
belajar mengajar tidak berjalan optimal karena kami kelelahan, bahkan
kadang-kadang masih berkeringat, lalu diajari tentang Fisika, Biologi
dan Kimia. Malah ngantuk yang ada.

Di lapangan itulah saya
bermain dengan orang-orang gila yang mengaku-aku titisan Fabian Barthez
dan Paolo Maldini, tapi dipanggil Thez dan selanjutnya jadi Tessy :))
Ada juga yang ngaku-ngaku titisan Shevcehenko seperti Ucup dan
Azhevchenko, tidak jelas siapa yang benar-benar titisannya. Belum lagi
Ekky, yang ngaku-ngaku The Next Francesco Totti.
Ada yang doyan diving bergaya Filippo Inzaghi, atau ngaku-ngaku
reinkarnasi Darko Kovacevic. Dan saya kebagian dibanding-bandingkan
dengan Edgar Davids gara-gara kerasnya tendangan saya, tapi tidak
akurat. Kalau kata Thez, power 95%, akurasi 5% :)) Namun, dari akurasi
yang 5% itulah, saya menghasilkan gol-gol cantik :p

Demi untuk
menciptakan dan mengembangkan bakat-bakat sepak bola di SMAN 3, maka
kami kemudian merancang sebuah kompetisi antar-kelas. Selama kelas 2
yang terbagi ke dalam 3 caturwulan, kami melakukan 3 kali kompetisi
dengan 3 sistem kompetisi yang berbeda. Caturwulan pertama dengan
sistem gugur, tiap tim bertemu 2 atau 3 kali, tapi yang lolos ke babak
selanjutnya bukan berdasarkan selisih gol. Jika pada pertandingan
pertama Tim A menang melawan Tim B, dan pada pertandingan kedua Tim A
kalah dari Tim B, maka dilakukan satu kali pertandingan lagi, tidak
peduli berapapun selisih golnya. Pada Caturwulan I, kelas saya, 2-4,
yang menjadi juara bersama dengan kelas 2-5, karena pertandingan final
tidak pernah terlaksana. Caturwulan kedua dengan sistem setengah
kompetisi, seperti Piala Dunia. Namun, kelas saya gagal menuju final,
pemenangnya adalah kelas 2-7. Kompetisi ketiga menggunakan sistem
kompetisi penuh, semua kelas saling bertemu satu sama lain. Dan kelas
saya menjadi juaranya.

Hal yang paling menarik dari kompetisi
semacam ini adalah atmosfir yang tercipta. Atmosfir persaingan. Setiap
pertandingan adalah pertaruhan gengsi kelas atau gengsi pribadi. Maka,
tidak mengherankan jika kelas kami kalah, malamnya kami sulit bahkan
tidak bisa tidur, saya dan teman-teman saya pernah mengalami ini.
Muncul perasaan dendam jika kalah, dan perasaan puas dan bangga jika
kalah. Apa yang ada dalam pikiran kami adalah bagaimana memenangkan
pertandingan, tidak peduli nilai-nilai kami berantakan, yang penting
jangan kalah dalam kompetisi. Itu adalah sebuah harga mutlak bagi kami.
Entah apa yang merasuki kami, yang jelas kami benar-benar ke-edan-an
sepak bola melebihi apa pun. Gara-gara sepak bola juga, kami selalu
menjadi anak-anak yang paling lama berada di sekolah, tidak jarang baru
pulang menjelang tengah malam. :))

Dari seringnya interaksi di
lapangan, pada akhirnya membentuk sebuah komunitas yang kuat dan solid.
Bahkan, setelah hampir 7 tahun lulus dari SMAN 3, silaturahmi diantara
kami masih terjalin dengan sangat baik. Termasuk dengan sahabat-sahabat
wanita kami yang kadang-kadang disebut ‘Cheerleader’. Padahal, mereka
hanya penonton dan penunggu ’setia’ ketika kami bermain sepak bola,
meskipun sesekali juga jadi ’setan’ karena meminta kami untuk jangan
main sepak bola melulu.

S 3 k 3 l 0 4. 200607. 10.47

Proyek Sangkuriang, Kaki Lima dan Nasib Kartu Undangan

June 5th, 2007

Sudah lama saya tidak menuangkan cerita tentang kejadian sehari-hari ke
dalam tulisan. Kali ini, saya ingin berbagi cerita tentang apa yang
saya lakukan dalam 2 minggu terakhir ini. Meskipun sebetulnya saya
lebih banyak ‘nganggur’, tidur dan kadang-kadang melantur akibat mimpi
jadi direktur, sambil sesekali makan bubur dan minum jus anggur atau
bajigur, juga sering begadang sampai waktu sahur, sehingga seringkali
lupa kalau pakaian-pakaian saya belum sempat dijemur. Hehehe…

Suatu malam, menjelang tengah malam, saya ditelpon oleh teman saya, Kang Adam.
"Don, besok sibuk nggak?"
"Nggak.  Ada apa pak?" saya biasanya menyebut ‘pak’ kepada teman saya itu.
"Besok bantuin saya ya? saya dapat orderan kartu undangan 1000 lembar, sekarang istirahat dulu, besok pagi saya jemput."
"Siap, pak."

Demi
untuk itu, saya ‘terpaksa’ tidur lebih cepat dari biasanya. Bagi saya,
ukuran cepat itu jika tidur dibawah jam 12 malam. Sahabat saya itu
memang terobsesi untuk memiliki usaha percetakan, modalnya hanya
kepercayaan dari orang lain dan keinginan belajar yang kuat, serta
dorongan untuk menghidupi anak istri, tentu saja, apalagi dorongan yang
bisa lebih kuat dari itu? Seperti saya, dia juga tipikal orang yang
tidak betah atau tidak berminat untuk jadi orang ‘kantoran’. Demi untuk
mewujudkan obsesinya tersebut, dia mengajak saya untuk membantunya.
Maka, mulailah saya diajak untuk sama-sama belajar tentang dunia
percetakan. Saya pun antusias saja setiap diajak, karena saya merasa
bisa banyak belajar dan mendapatkan pengalaman. Jadi, kalau ada yang
mau bikin kartu undangan, hubungi saya aja ya? Dikasih harga murah
deh…Hehehe.

Sekitar jam 7 pagi, saya dijemput dan dibawa ke
rumahnya. Dan tampaklah beberapa dus dan lebih dari dua ribu lembar
kertas di teras ruang tamunya. Tugas saya kali ini adalah membantu
teman saya itu untuk mengelem, melipat dan memasukan kartu undangan ke
dalam plastik. Targetnya, besok siang harus sudah selesai karena akan
dikirim ke Sumedang. Ini Proyek Sangkuriang namanya. Ingat kan
bagaimana cerita Legenda Sangkuriang? Jika dia ingin menikahi Dayang
Sumbi, syaratnya adalah Sangkuriang harus membuat sebuah perahu sebelum
ayam berkokok. Proyek Sangkuriang adalah sebutan kami untuk
pekerjaan-pekerjaan yang memaksa kami begadang semalaman akibat
deadline yang biasanya hanya satu hari. Bedanya, tidak ada jin yang
terlibat dalam pekerjaan kami.

Tidak lama, teman saya yang lain,
Trisna, datang. Teman saya yang satu ini cukup unik dan sedang
semangat-semangatnya mendalami Islam. Melihat semangatnya itu, saya
jadi teringat pada diri sendiri 2 tahun yang lalu. Pernah hampir gila
akibat stress berat, karena usahanya tidak berjalan sesuai rencana dan
menghasilkan utang yang cukup besar, untuk ukuran seorang mahasiswa
tingkat akhir yang sedang bersemangat berbisnis. Gara-gara itu, selama
3 bulan dia mengurung diri di kamar kost-annya untuk menghindari
kejaran tagihan utang dan malu pada keluarganya, hanya keluar pada
malam hari untuk makan saja. Tentu bisa dibayangkan bagaimana kondisi
mentalnya ketika suatu hari Kang Adam menemukannya di kostannya,
kemudian diajak keluar siang hari, dan kalimat yang keluar adalah "sudah lama saya tidak pernah melihat cahaya matahari…".
Setelah itu dijemput pulang oleh keluarganya untuk memulihkan kondisi
mentalnya, dan selama sebulan ‘diasingkan’ ke kota Serang. Dalam
obrolannya, dia mengatakan, "kalau ingat diri saya 8 bulan yang lalu, ih amit-amit…"
Namun, dibalik tampangnya yang chubby, lumayan ganteng dan nampak
pendiam itu, saya dan Kang Adam benar-benar dikagetkan dan terhibur
dengan cerita-cerita konyol khas sunda yang mengalir dari mulutnya.
Maka, kehadirannya cukup membuat fresh suasana ‘kerja’ kami selama
sehari semalam itu. Sehari-harinya, dia sedang berjibaku untuk
menyelesaikan skripsinya yang tertunda.

Menjelang tengah hari,
ketika kami sedang sibuk dengan pekerjaan kami, keponakan Kang Adam
yang berumur 7 tahun, Ai, pulang dari sekolahnya. Dia selalu antusias
membantu setiap Kang Adam mendapatkan orderan. Kali ini pun begitu, dia
membantu merapikan tumpukan kartu undangan, menyapu sampahnya, meski
sesekali dia pun meninggalkan kami begitu saja karena merasa kelelahan.
Saya dan Kang Adam sampai tertawa ketika dengan lugunya dia berceloteh,

"Ngapain
sih bikin kartu undangan banyak-banyak? Biasanya juga kan cuma dilihat,
terus disimpen. Kalau nggak, dikasihin ke anaknya untuk dicoret-coret
atau disobek. Kenapa nggak bikin satu aja, terus datangin aja yang mau
diundang dan lihatin kartu undangan itu, suruh mereka tulis
tanggalnya…kan nggak buang-buang duit."

"Ai cerdas ya…"
puji Kang Adam kepada keponakannya. Saya sendiri hanya tertawa karena
sebetulnya saya juga menyepakati apa yang Ai bicarakan. Bagi saya,
sebuah undangan tidak mesti berupa kartu undangan. Maka, ketika
undangan itu sampai dalam bentuk email, blog, sms, telpon, atau bahkan
hanya dari ajakan yang mengundang atau kabar dari teman yang lain, dan
saya yakin orang yang mengundang tidak akan keberatan dengan kehadiran
saya, apalagi sampai mengharapkan kehadiran saya, saya akan
mengusahakan untuk memenuhi undangan itu. Dengan ini, sebetulnya saya
ingin mengkritik pola pikir orang-orang yang tidak bersedia memenuhi
undangan karena tidak mendapatkan kartu undangan, seolah-olah informasi
undangan non-kartu tidak dianggap sebagai sebuah undangan. Tidak
mendapatkan kartu undangan, bukan berarti tidak diundang. Apalagi, jika
yang sedang mengadakan hajatan itu adalah orang-orang yang sebetulnya
sangat kita kenal, pernah sekelas, pernah ngobrol bareng atau pernah
seorganisasi. Saya bahkan berpendapat, untuk orang-orang yang sudah
dekat dengan kita, tidak perlu lagi pakai undangan-undangan semacam
itu, kecuali kartu undangan itu dijadikan tanda masuk dan wajib dibawa
untuk ditukarkan dengan makanan atau bakalan dapat door prize. Hmm,
nanti saya nikah pake kartu undangan jangan ya? :D

Hal yang
menarik dari pekerjaan seperti ini adalah ketidakformalannya. Saya bisa
bekerjasama dengan anak 7 tahun, atau dengan seorang ibu rumah tangga
yang rame bercerita, tentang keluarganya atau tentang gosip terbaru di
daerah sekitarnya. Asyik juga mendengar celotehan ibu tukang gosip.
Saya juga menyaksikan anak Kang Adam, Maula, yang belum genap 1 tahun
sedang belajar berjalan. Seru. Luar biasa menyaksikan perjuangan
seorang bayi mencoba berdiri dan berjalan kemudian terjatuh. Dicoba
lagi, jatuh lagi, tapi tidak pernah menyerah, meskipun nampak juga
kelelahan dan sesekali beristirahat. Dan hal-hal lain yang sebetulnya
bisa ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.

Satu lagi yang jadi
pekerjaan saya adalah jadi Pedagang Kaki Lima. Sudah 3 kali hari
minggu, jualan gantungan HP, gantungan kunci dan pin di Telkom Geger
Kalong, dimana pada hari itu biasanya ada pengajian Majelis Percikan
Iman yang diasuh oleh Ustadz Aam Amirudin. Sebetulnya ini hanyalah
kerjaan sampingan, tapi saya benar-benar menikmati. Lagi-lagi diajak
Kang Adam. Awalnya hanya menemani saja, tapi selanjutnya diserahkan
kepada saya, karena Kang Adam meneruskan jualan di Gasibu.

Terkadang hati saya berbicara,"Hey, gua seorang sarjana komputer.  Apa-apaan nih? gak malu sama gelar tuh?"
Namun, ternyata saya sangat menikmati semua itu. Menikmati rasa malu,
menikmati rasa takut, menikmati beratnya bawa barang, semuanya. Memang,
materi yang didapatkan tidak ada apa-apanya, bahkan kadang-kadang untuk
ongkos saja sudah habis. Namun, bagi saya ini adalah sebuah kesempatan
untuk belajar dari orang-orang yang memiliki jiwa wirausaha. Kalau
ingin jadi wirausahawan, gaulnya juga harus dengan wirausahawan juga
kan? Jadi apa yang saya lakukan sebetulnya adalah menyerap spirit dari orang-orang semacam itu dan dalam rangka mengumpulkan referensi.

Benar
saja, belum apa-apa, saya sudah memiliki kenalan seorang ‘wanita
pejuang’. Spiritnya itu loh…luar biasa. Teh Nina namanya. Manis,
berjilbab, masih muda dan dikaruniai 3 orang anak. Cocok sebagai tempat
curhat dan diskusi. Ceritanya selalu bersemangat, sehingga
kadang-kadang saya merasa malu sendiri. Saya dan Kang Adam bisa
berjualan di sana pun karena kebaikan dia yang bersedia memberikan space
lapaknya untuk kami gunakan. Dia biasanya berjualan jilbab, tapi selain
itu dia berjualan buku bergambar islami terbitan sendiri yang berani
dijual sangat murah. Kalau ada pameran, Teh Nina dan suaminya biasanya
ikut serta menyewa stand. Bahkan di luar kota sekalipun, seperti
Semarang, Malang, Bogor dan Jakarta. Itulah sebabnya kenapa kami
menyebutnya ‘wanita pejuang’. Dari dia, saya juga cukup banyak belajar
tentang manajemen usaha, meskipun secara tidak langsung, hanya dari
sharing pengalaman saja.

Terakhir kali saya berteriak-teriak
menawarkan barang dagangan adalah ketika lulus SMA. Saat itu, saya dan
teman-teman berinisiatif untuk menjual murah buku-buku pelajaran yang
pernah kami gunakan kepada adik-adik kelas. Setelah buku-buku
terkumpul, digelar di dekat sekolah kami. Hanya saja, saat itu, yang
menunggu barang juga banyak, jadi nggak pake malu-malu teriak-teriaknya
juga. Do you  remember, guys? (buat teman-teman SMA ku…) Kalau sekarang, wah, saya sendirian.  "Gantungan kuncinya Teh…", "Gantungan HP-nya Bu.." itupun masih dengan malu-malu, jadi suaranya tertahan.  Jadi merasa lucu sendiri…saya tertawa dalam hati sebetulnya.

Hal
lain yang menarik adalah memperhatikan karakter calon pembeli. Ada
ibu-ibu yang saklek nawar barang, sampai-sampai saya pernah bilang, "Duh, serem kalau denger ibu-ibu nawar barang…"  Udah gitu nggak jadi beli pula.

Ada juga perempuan manis yang malu-malu nawar barang,
"ini 5000 aja ya?"
"Duh, belum bisa Teh…", meskipun dalam hati saya ngomong juga, "kalau mau nikah sama saya sih, minta gratis juga dikasih semua Teh…" Hehehe.  Nggak kebayang apa jadinya kalau beneran keluar dari mulut saya.

Ada juga tipe pembeli yang bingung.
"Duh, bagus semua nih…lucu-lucu, jadi bingung", sambil semua barang dilihat satu per satu selama hampir 5 menit.
"Beli semua aja atuh Teh, supaya nggak bingung lagi…" kata saya.
"Yee, kalau gratisan mah mau…"

Kali lain ada pembeli yang ngasih duit duluan,
"nih, duitnya dulu deh…barangnya saya pilih-pilih ya"
"udah bener-bener niat beli…" pikir saya.
tidak lama kemudian dia sudah menentukan pilihannya. "saya ambil yang ini aja ya…?"
"oh, iya Teh…makasih"

Nampak
sekali perbedaan laki-laki dan wanita dalam menawar barang. Perempuan
terkadang sampai merengek-rengek, dan saklek nawar barang, sampai bikin
saya mengelus-ngelus dada…dan diakhiri dengan nggak jadi beli dan
pergi tanpa dosa. Sementara laki-laki, biasanya lebih gampang beli
kalau merasa cocok, apalagi untuk anaknya, bahkan jarang sekali menawar
barang. Pernah satu keluarga, ibu bapak dan satu orang anaknya melihat
barang dagangan saya.
"Kamu mau…?" tanya si bapak pada anaknya.
"Iya, bagus…beli 2 ya, buat kakak satu." jawab anaknya.
"ya udah, pilih aja…!"
"Ini berapaan?" tanya ibunya pada saya.
"7500-an bu…" jawab saya.
"5000 aja deh, beli 4…"
"walah…bisa tekor gua" pikir saya.  "Belum bisa bu…"
"beli 4, 20000 deh ya?"
"aduh bu, maaf, belum bisa…paling bisa juga 25000"
"ya udah…ayo!" sambil mengajak pergi si bapak dan anaknya.
"ck ck ck, ngeri…" pikir saya.

Ada
sisi lain dari diri saya yang muncul ketika jadi pedagang. Biasanya
saya agak malu-malu terhadap perempuan yang tidak saya kenal, tapi
ketika berjualan itu, saya ceplas-ceplos kalau ngomong, sehingga bisa
jadi lebih cepat akrab, meskipun banyak juga yang saya simpan dihati
saja, terutama kalau komentarin perempuan cantik…hwehehe.

Kali
lain, saya diminta untuk memeriksa komputer kakak iparnya Kang Adam,
ada masalah katanya, bayarannya lumayan. Bisa untuk 3 hari makan, untuk
bujangan seperti saya. Saya diajak ke suatu tempat di Bandung yang
belum pernah saya datangi. Dengan dibonceng motor Kang Adam yang
berumur hampir 3 windu, kondisinya mengenaskan, kami diajak ke daerah
Ciwastra. Daerah Bandung Selatan. Saya diajak melalui jalan-jalan yang
tidak pernah terpikirkan kalau naik angkot. Namun, itulah serunya. Saya
suka jalan-jalan ke daerah yang belum pernah saya datangi. Itulah salah
satu alasan kenapa saya menyukai pekerjaan-pekerjaan semacam ini. Tidak
terikat waktu kerja, tidak terikat tempat kerja, dan bisa bekerja
dimana saja. Selain itu ada kepuasan tersendiri ketika, dengan ilmu
yang saya miliki, saya bisa berbagi atau mengedukasi orang lain tentang
komputer dan IT. Meskipun hanya hal-hal kecil seperti bagaimana
mematikan komputer yang baik dan menginstall suatu aplikasi.

Yah,
saya menganggap semua ini hanya sebuah latihan untuk memperbaiki mental
dan karakter diri. Semuanya saya lakukan demi untuk mencapai apa yang
menjadi tujuan hidup saya sesungguhnya, menjadi manusia merdeka.
Bagaimanapun, saya mencoba untuk tetap tidak akan meninggalkan apa yang
menjadi minat dan kompetensi saya, dunia IT, tapi pembelajaran hidup
saya kira tidak cukup hanya dari itu saja, meskipun saya rasa sangat
terlambat sebetulnya.

S 3 k 3 l 0 4.  050607.  21.20.

NB : Kalau ada yang mau pesan kaos, kartu undangan, yaasinan atau kartu nama,  hubungi diriku ya? Hwehehe…Promosi.