Nostalgia Islam dan Robin Hood
Saya selalu menikmati ketika film Robin Hood : Prince of the Thieves,
yang dibintangi oleh Kevin Costner dan Morgan Freeman, diputar di layar
kaca. Ada yang selalu menarik perhatian saya. Bukan tentang kisah
cintanya. Bukan juga tentang pengorbanan Robin Hood demi cintanya pada
Marian. Yah, saya memang menyukai soundtrack-nya
yang dinyanyikan Bryan Adams…Namun, lebih dari itu, saya tertarik
terhadap citra tentang hebatnya peradaban Islam saat itu. Memangnya ada?
Ada
satu tokoh penting yang seringkali ‘terlupakan’ karena perhatian
seseorang biasanya tertuju pada kisah cinta Robin Hood dan Marian.
Tokoh yang memiliki peranan penting dalam film tersebut adalah Azeem
(Morgan Freeman) yang berkulit hitam dan berasal dari bangsa Moor
(Moro). Sejarah mencatat, bangsa Moor adalah lawan Eropa dalam Perang
Salib. Artinya, mereka adalah bangsa yang beragama Islam. Saya lupa,
apakah Moor itu sebutan bangsa Eropa terhadap tentara Islam, ataukah
memang sebuah bangsa. Dalam film tersebut Azeem digambarkan sebagai
seorang yang cerdas, rasional, bijaksana, merdeka, memenuhi sumpahnya,
memiliki harga diri, tidak meminum arak (mabuk) dan berani melawan
tirani, bahkan ketika hal tersebut terjadi di tanah yang jelas-jelas
bukan merupakan tanah airnya, tapi justru tanah lawannya dalam perang
salib. Berkarakter sekali. Karakter khas seorang muslim yang
sesungguhnya. Objektivitas semacam inilah yang menjadi nilai lebih dari
film tersebut, setidaknya di mata saya. Meskipun sebetulnya pembelaan
dan bantuan Azeem kepada Robin Hood dalam melakukan perampokan dan
pencurian terhadap para bangsawan Inggris tetap merupakan suatu
kekeliruan, karena apapun alasannya perampokan dan pencurian tetap
dilarang dalam Islam. Namun tidak menutup kemungkinan kondisi saat itu
menuntut harus melakukannya.
Kemajuan peradaban Islam di film
itu setidaknya terlihat pada beberapa hal. Pertama, dari baju zirah
(baju perang) yang digunakan Azeem. Azeem bisa leluasa menggunakan
pakaiannya dalam kehidupan sehari-hari, sementara baju zirah tentara
Eropa saat itu serba besi, yang tentunya tidak nyaman dan ribet
digunakan. Konon, baju zirah Eropa tersebut juga yang menyebabkan
banyak tentaranya tewas ‘terpanggang’ di gurun pasir ketika melakukan
ekspansi ke Palestina. Kedua, dari teropong yang digunakan di awal-awal
film. Lihatlah bagaimana Robin Hood terheran-heran saat itu! Ketiga,
ketika Azeem membuat bom menggunakan bubuk mesiu, dan lihatlah
bagaimana ekspresi teman-temannya. Oh, ya…satu lagi, pedangnya yang
berbentuk sabit semakin menegaskan bahwa sosok Azeem ‘berbeda’.
Bandingkan dengan orang-orang Inggris yang digambarkan dalam film
tersebut, kita hanya akan mendapati kebodohan: percaya takhayul,
mabuk-mabukan, jorok dan terjajah. Sudah lupa lagi? Cepat cari dan sewa
VCD-nya!! Hehehe…
Setting film ini bercerita di zaman Perang
Salib yang mempertemukan tentara Islam pimpinan Shalahuddin Al-Ayubi
dan tentara salib yang dipimpin oleh King Richards ‘The Lion Heart‘
dari Inggris. Itu berarti terjadi ketika menjelang abad ke-12. Saya
tidak tahu apakah cerita tentang Robin Hood dan Azeem adalah sebuah
fakta atau fiktif, tapi yang jelas sosok Azeem dalam film tersebut
menggambarkan betapa majunya peradaban Islam saat itu. Masa itu juga
yang kemudian dikenal sebagai The Dark Age (Zaman Kegelapan) di Eropa, sampai beberapa abad sebelum dan sesudahnya. Sementara, saat itu adalah The Golden Age (Zaman Keemasan) bagi peradaban Islam. Hmm, saya masih belum bisa membayangkan peradaban yang ‘canggih’ itu.
Jenis
‘penghinaan’ lainnya terhadap orang-orang Inggris di film tersebut
adalah ketika Azeem berteriak lantang di atas benteng dan menyemangati
orang-orang Inggris untuk ikut serta menyerang Sherif dan tentaranya. "Orang-orang
Inggris. Saya Azeem bla bla bla…Saya bukan orang Inggris, tapi saya
berjuang bersama Robin Hood untuk melawan tirani. Berjuanglah bersama
kami untuk kebebasan kalian…". Dan orang-orang Inggris
menurutinya. Padahal, Azeem berkulit hitam. Kala itu, Orang Eropa tidak
pernah menganggap orang-orang berkulit hitam sebagai manusia, mereka
sangat rasis, bahkan ada yang menganggap orang-orang kulit hitam adalah
‘produk’ gagal dari Tuhan. Namun, di film itu digambarkan sangat jelas
superioritas seorang kulit hitam terhadap masyarakat kulit putih.
Dan
lihatlah ketika film menjelang usai, saat King Richards datang pada
pernikahan Robin Hood dan Marian, sementara orang-orang Inggris
membungkuk dan menundukkan kepalanya, Azeem tetap berdiri dan
menatapnya dengan penuh percaya diri. Tidak satupun yang berani
menegurnya. Tidak teman-temannya, tidak pengawal raja, tidak juga Robin
Hood sahabatnya, bahkan King Richards pun tidak. Dan itu dilakukan di
Inggris, tanah air King Richards, musuhnya dalam perang salib…luar
biasa. Elegan sekali!! Sikap seperti itu hanya bisa dilakukan oleh
orang-orang yang merdeka, dan Islam lah sesungguhnya yang mampu
‘mengajarkan’ kemerdekaan itu. Ah, andai pemimpin-pemimpin kita bisa
bersikap seperti itu…
Ada perbedaan versi sosok Azeem antara
film tersebut dengan film seri Robin Hood yang pernah diputar di
stasiun televisi swasta pertama di Indonesia. Dalam versi film seri,
Azeem digambarkan berwajah ‘mendekati’ Arab, berkumis, berjenggot dan
berambut gondrong. Sementara dalam versi Kevin Costner, Azeem berambut
tipis mendekati botak, berkulit hitam dan jelas-jelas jauh dari wajah
Arab. Namun, keduanya sama-sama memakai baju zirah berwarna hitam. Saya
lupa apakah di film seri tersebut Azeem juga berasal dari bangsa Moor
atau bukan, yang jelas kedua Azeem memiliki kelebihan dalam hal
penguasaan teknologi dan kecerdasan.
Saya jadi berpikir, jika
satu orang sosok seperti Azeem saja bisa melakukan pembebasan suatu
masyarakat, apakah lagi jika sosok semacam itu bertebaran di muka bumi
ini? Tindakannya adalah solusi bagi orang-orang disekitarnya. Namun,
dibalik kedigdayaannya itu, Azeem juga masih bisa bersikap rendah hati
dan bijaksana ketika berkata…"Tidak ada niat yang tidak sempurna. Yang ada hanyalah manusia yang tidak sempurna."
Pada sosok Azeem kita juga bisa mendapati tahapan-tahapan diri yang
oleh Anis Matta disebut sebagai afiliasi, partisipasi dan kontribusi.
Jika sosok seperti Azeem saja sudah bisa memperbaiki keadaan suatu
masyarakat, terlalu agung rasanya jika sosok seperti Rasulullah yang
‘harus’ muncul. Terlepas dari apakah sosok Azeem pernah ada atau tidak,
entah sesuai dengan gambaran tersebut atau tidak, film tersebut
setidaknya berhasil ‘mengajari’ saya bagaimana seharusnya bersikap
dalam masyarakat. Terus terang saya masih ‘bermasalah’ dalam hal itu.
Jangankan sampai berkontribusi, berpartisipasi saja jarang.
S 3 k 3 l 0 4. 160507. 02.07.
Refleksi |5 Responses to “Nostalgia Islam dan Robin Hood”
Leave a Reply
donny tuh bisaan, melihat sesuatu yg gak kepikiran menjadikan sayah tergerak untuk menontonnya don, panasaran euy
Deuuu… yang habis dapet gratisan bukunya anis matta?? Hm,… jadi ngiri nih. Aq pengen banget punya buku dari gerkan ke negar, tapi belum ada budget aja. Eh, kak donny ma tofan malah rame2 nyerbu IBF buat beli itu.
Nasib.. nasib…
Oya, sharing tentang perang salib nya nanti aja ya… Aq belum selese baca bukunya.
Catur : sebenernya film itu teh dah diputar lagi seminggu yang lalu, senin kalau nggak salah. Sayah asa diingetan deui weh…da dulu mah teu kapikiran bisa jadi tulisan.
Ila : Kalau soal Afiliasi, partisipasi dan kontribusi itu mah nggak ada di Gerakan ke Negara, tapi di 2 buku lainnya, Dialog Peradaban dan Model Manusia Muslim.
Emang buku yang mana yang lagi dibaca sekarang?
Daku baru nonton film ini dua hari yang lalu
Langsung inget deh kalo dirimu pernah nulis soal film ini dan tokoh Azzam… eh, Azeem (kebawa2 sinetron PPT :p). Langsung daku baca lagi, dan daku manggut-manggut 