Today Minds
1. Dapat lagu bagus lagi untuk menemani lari pagi, judulnya Spacebound, dari Evo. Bikin lari jadi semangaddddd!!
2. Tulisan saya Istiqamah Kuadrat dan Seri Takdir II : Allah Programmer Terhebat jadi nominasi lagi di Pemilihan Top Posts Mar-Apr 2007. Aha…Aha!
3. Biar kunikmati kerinduan ini…(ayo, tebak-tebakan, lirik ini diambil dari lagu apakah?) Hmm, rindu sama…(tebak-tebakan lagi!!) Hwehehe…
4. Saya sangat lelah hari ini…tapi saya benar-benar menikmati hari ini.
5. Aduh, tunduh pisan kieu…bantal…bantal…!!
6.
Wah, 2 hari berturut-turut ‘disuguhin’ gurame…!! Gede-gede
pula…Poll!! Apa lagi yang lebih nikmat daripada menikmati makanan
favorit yang tidak bisa dinikmati setiap saat…?? Dan…gratis!! Ck ck
ck…
7. Lu lagi ngapain sih?
8. Lagi nulis-nulis aja, emang kenapa?
9. Kalau nulis tuh yang jelas atuh…!!
10. Ah, biarin aja, nggak tiap hari ini nulis-nulis yang nggak jelas.
11. Eh, itu ada yang ‘lucu’!!
12. Mana…mana??
13. Huu…dasar!!
14. Hehe…
S 3 k 3 l 0 4. 270507. 23.16
Ngelantur | Comment (1)Gak Jelas
Kau yang mulai…
Kau yang mengakhiri….
Ah, sudahlah…
NB : Hayo! Dilarang su’udzhan…:p
S 3 k 3 l 0 4. 180507. 20.13
Ngelantur | Comments (7)Nostalgia Islam dan Robin Hood
Saya selalu menikmati ketika film Robin Hood : Prince of the Thieves,
yang dibintangi oleh Kevin Costner dan Morgan Freeman, diputar di layar
kaca. Ada yang selalu menarik perhatian saya. Bukan tentang kisah
cintanya. Bukan juga tentang pengorbanan Robin Hood demi cintanya pada
Marian. Yah, saya memang menyukai soundtrack-nya
yang dinyanyikan Bryan Adams…Namun, lebih dari itu, saya tertarik
terhadap citra tentang hebatnya peradaban Islam saat itu. Memangnya ada?
Ada
satu tokoh penting yang seringkali ‘terlupakan’ karena perhatian
seseorang biasanya tertuju pada kisah cinta Robin Hood dan Marian.
Tokoh yang memiliki peranan penting dalam film tersebut adalah Azeem
(Morgan Freeman) yang berkulit hitam dan berasal dari bangsa Moor
(Moro). Sejarah mencatat, bangsa Moor adalah lawan Eropa dalam Perang
Salib. Artinya, mereka adalah bangsa yang beragama Islam. Saya lupa,
apakah Moor itu sebutan bangsa Eropa terhadap tentara Islam, ataukah
memang sebuah bangsa. Dalam film tersebut Azeem digambarkan sebagai
seorang yang cerdas, rasional, bijaksana, merdeka, memenuhi sumpahnya,
memiliki harga diri, tidak meminum arak (mabuk) dan berani melawan
tirani, bahkan ketika hal tersebut terjadi di tanah yang jelas-jelas
bukan merupakan tanah airnya, tapi justru tanah lawannya dalam perang
salib. Berkarakter sekali. Karakter khas seorang muslim yang
sesungguhnya. Objektivitas semacam inilah yang menjadi nilai lebih dari
film tersebut, setidaknya di mata saya. Meskipun sebetulnya pembelaan
dan bantuan Azeem kepada Robin Hood dalam melakukan perampokan dan
pencurian terhadap para bangsawan Inggris tetap merupakan suatu
kekeliruan, karena apapun alasannya perampokan dan pencurian tetap
dilarang dalam Islam. Namun tidak menutup kemungkinan kondisi saat itu
menuntut harus melakukannya.
Kemajuan peradaban Islam di film
itu setidaknya terlihat pada beberapa hal. Pertama, dari baju zirah
(baju perang) yang digunakan Azeem. Azeem bisa leluasa menggunakan
pakaiannya dalam kehidupan sehari-hari, sementara baju zirah tentara
Eropa saat itu serba besi, yang tentunya tidak nyaman dan ribet
digunakan. Konon, baju zirah Eropa tersebut juga yang menyebabkan
banyak tentaranya tewas ‘terpanggang’ di gurun pasir ketika melakukan
ekspansi ke Palestina. Kedua, dari teropong yang digunakan di awal-awal
film. Lihatlah bagaimana Robin Hood terheran-heran saat itu! Ketiga,
ketika Azeem membuat bom menggunakan bubuk mesiu, dan lihatlah
bagaimana ekspresi teman-temannya. Oh, ya…satu lagi, pedangnya yang
berbentuk sabit semakin menegaskan bahwa sosok Azeem ‘berbeda’.
Bandingkan dengan orang-orang Inggris yang digambarkan dalam film
tersebut, kita hanya akan mendapati kebodohan: percaya takhayul,
mabuk-mabukan, jorok dan terjajah. Sudah lupa lagi? Cepat cari dan sewa
VCD-nya!! Hehehe…
Setting film ini bercerita di zaman Perang
Salib yang mempertemukan tentara Islam pimpinan Shalahuddin Al-Ayubi
dan tentara salib yang dipimpin oleh King Richards ‘The Lion Heart‘
dari Inggris. Itu berarti terjadi ketika menjelang abad ke-12. Saya
tidak tahu apakah cerita tentang Robin Hood dan Azeem adalah sebuah
fakta atau fiktif, tapi yang jelas sosok Azeem dalam film tersebut
menggambarkan betapa majunya peradaban Islam saat itu. Masa itu juga
yang kemudian dikenal sebagai The Dark Age (Zaman Kegelapan) di Eropa, sampai beberapa abad sebelum dan sesudahnya. Sementara, saat itu adalah The Golden Age (Zaman Keemasan) bagi peradaban Islam. Hmm, saya masih belum bisa membayangkan peradaban yang ‘canggih’ itu.
Jenis
‘penghinaan’ lainnya terhadap orang-orang Inggris di film tersebut
adalah ketika Azeem berteriak lantang di atas benteng dan menyemangati
orang-orang Inggris untuk ikut serta menyerang Sherif dan tentaranya. "Orang-orang
Inggris. Saya Azeem bla bla bla…Saya bukan orang Inggris, tapi saya
berjuang bersama Robin Hood untuk melawan tirani. Berjuanglah bersama
kami untuk kebebasan kalian…". Dan orang-orang Inggris
menurutinya. Padahal, Azeem berkulit hitam. Kala itu, Orang Eropa tidak
pernah menganggap orang-orang berkulit hitam sebagai manusia, mereka
sangat rasis, bahkan ada yang menganggap orang-orang kulit hitam adalah
‘produk’ gagal dari Tuhan. Namun, di film itu digambarkan sangat jelas
superioritas seorang kulit hitam terhadap masyarakat kulit putih.
Dan
lihatlah ketika film menjelang usai, saat King Richards datang pada
pernikahan Robin Hood dan Marian, sementara orang-orang Inggris
membungkuk dan menundukkan kepalanya, Azeem tetap berdiri dan
menatapnya dengan penuh percaya diri. Tidak satupun yang berani
menegurnya. Tidak teman-temannya, tidak pengawal raja, tidak juga Robin
Hood sahabatnya, bahkan King Richards pun tidak. Dan itu dilakukan di
Inggris, tanah air King Richards, musuhnya dalam perang salib…luar
biasa. Elegan sekali!! Sikap seperti itu hanya bisa dilakukan oleh
orang-orang yang merdeka, dan Islam lah sesungguhnya yang mampu
‘mengajarkan’ kemerdekaan itu. Ah, andai pemimpin-pemimpin kita bisa
bersikap seperti itu…
Ada perbedaan versi sosok Azeem antara
film tersebut dengan film seri Robin Hood yang pernah diputar di
stasiun televisi swasta pertama di Indonesia. Dalam versi film seri,
Azeem digambarkan berwajah ‘mendekati’ Arab, berkumis, berjenggot dan
berambut gondrong. Sementara dalam versi Kevin Costner, Azeem berambut
tipis mendekati botak, berkulit hitam dan jelas-jelas jauh dari wajah
Arab. Namun, keduanya sama-sama memakai baju zirah berwarna hitam. Saya
lupa apakah di film seri tersebut Azeem juga berasal dari bangsa Moor
atau bukan, yang jelas kedua Azeem memiliki kelebihan dalam hal
penguasaan teknologi dan kecerdasan.
Saya jadi berpikir, jika
satu orang sosok seperti Azeem saja bisa melakukan pembebasan suatu
masyarakat, apakah lagi jika sosok semacam itu bertebaran di muka bumi
ini? Tindakannya adalah solusi bagi orang-orang disekitarnya. Namun,
dibalik kedigdayaannya itu, Azeem juga masih bisa bersikap rendah hati
dan bijaksana ketika berkata…"Tidak ada niat yang tidak sempurna. Yang ada hanyalah manusia yang tidak sempurna."
Pada sosok Azeem kita juga bisa mendapati tahapan-tahapan diri yang
oleh Anis Matta disebut sebagai afiliasi, partisipasi dan kontribusi.
Jika sosok seperti Azeem saja sudah bisa memperbaiki keadaan suatu
masyarakat, terlalu agung rasanya jika sosok seperti Rasulullah yang
‘harus’ muncul. Terlepas dari apakah sosok Azeem pernah ada atau tidak,
entah sesuai dengan gambaran tersebut atau tidak, film tersebut
setidaknya berhasil ‘mengajari’ saya bagaimana seharusnya bersikap
dalam masyarakat. Terus terang saya masih ‘bermasalah’ dalam hal itu.
Jangankan sampai berkontribusi, berpartisipasi saja jarang.
S 3 k 3 l 0 4. 160507. 02.07.
Refleksi | Comments (5)Tersanjung
Kang Shodiq memang penuh kejutan…!
Sudah berkali-kali saya dibikin ‘tersanjung’ oleh beliau. Bikin saya tambah pede untuk selalu menulis. Setujukah teman-teman dengan ‘pendapat’ kang Shodiq tersebut?
NB : sudah ada resensi buku di katapengantar.blogspot.com
S 3 k 3 l 0 4. 130507. 14.41
Ngelantur | Comments (5)Peresmian
Katapengantar resmi launching
pada hari ini, dengan disaksikan semut-semut di sekitar meja komputer
warnet. Pun seekor cicak di langit-langit warnet. Memang belum ada
tulisan atau resensi, baru desain tampilannya saja, itu pun masih akan
melalui tahapan perbaikan lagi di sana-sini. Mungkin dalam seminggu ke
depan tampilannya akan ‘diobrak-abrik’ lagi. New-blogger layout script berbeda dengan old-blogger template script yang lebih sederhana. New-blogger menggunakan XML dan XSLT,
sehingga masih saya pelajari karakteristiknya. Saat ini saya putuskan
menggunakan template lama dulu, untuk selanjutnya akan saya ganti
dengan layout baru dari new-blogger. Ada beberapa fasilitas di new-blogger yang tidak ada di old-blogger yang akan saya manfaatkan.
Buku
pertama yang akan saya ‘ceritakan’ rencananya adalah Filosofi Naif
karya Onno W.Purbo. Oci rencananya akan menambah sebuah ‘cerita’ lagi
dari sebuah buku yang tidak saya ketahui judulnya. Mudah-mudahan bisa
bermanfaat.
S 3 k 3 l 0 4. 090507. 19.45
Ngelantur | Comments (2)Buku Baru dan Blog Baru
Dalam satu minggu terakhir, berbarengan dengan beberapa event yang ada
di kota Bandung, saya ‘berhasil’ menambah tumpukan buku di kamar saya
dan bikin kamar saya jadi semakin berantakan. Buku-buku tersebut antara
lain :
1. Muqaddimah (Ibnu Khaldun)
2. Dari Gerakan Ke Negara (Anis Matta)
3. Pengantar Memahami Tafsir Al-Quran (Ibnu Taimiyah)
4. Makelar Dongeng Holocoust : Catatan Perjalanan dari Dalam Israel (Rakhmat Jaenal)
5. Membendung Liberalisme (Prof. K.H Ali Yafie dkk)
6. Filosofi Naif Kehidupan Dunia Cyber (Onno W. Purbo)
7. Islamia (Jurnal INSISTS)
8. Suara Hidayatullah (Tabloid)
Buku
1 dan 8 saya dapatkan di Salman. Setelah lama mencari buku 1, ternyata
saya dapatnya nggak jauh-jauh. Sementara buku 8, sepertinya selanjutnya
saya akan berlangganan. Setelah memiliki 2 edisi, saya merasa cukup
puas dengan materi di dalamnya. Suara Hidayatullah merupakan tabloid
keluaran Hidayatullah, seperti Risalah yang merupakan keluaran PERSIS.
Sementara itu buku 2, saya dapatkan sebagai fasilitas dari acara bedah buku yang bertajuk "Dari Gerakan ke Negara, Dari Bangku Kuliah ke Bangku Istana" yang diadakan oleh GAMAIS ITB.
Covernya berbeda dengan versi aslinya, dimodifikasi sesuai tuntutan
acara. Acara tersebut diisi oleh Anis Matta (Sekjen PKS) sebagai
pembicara utama. Adhyaksa Dault (Menpora) yang direncanakan hadir,
tidak datang karena menuruti perintah Presiden SBY untuk tidak
meninggalkan kota Jakarta.
Sementara sisanya (buku 3,4,5,6 dan 7) saya beli di acara Islamic Book Fair (IBF)2007,
yang kali ini diselenggarakan di Be Mall, bukan di Landmark Braga.
Seingat saya, IBF yang diadakan di Jakarta ‘isinya’ lebih variatif.
Meskipun mengusung nama islamic, tapi masih bisa ditemukan buku-buku
yang bertema bukan Islam. Hal itu tidak terjadi di IBF Bandung. Bukunya
95% memang buku-buku islami. Hampir semua stand memajang buku yang
sama, inilah yang saya sesali. Beberapa penerbit atau agen yang
biasanya ikut serta, kali ini tidak saya temukan.
Namun, saya pun bisa berbahagia karena akhirnya bisa memiliki buku Filosofi Naif dan Jurnal Islamia.
Filosofi Naif sudah ditarik dari peredaran, sementara Jurnal Islamia
sulit didapatkan di Bandung. Tidak seperti buku-buku Pak Onno yang
lainnya, sesuai judulnya, Filosofi Naif memang lebih filosofis.
Jurnal Islamia merupakan terbitan INSISTS (Institute for the Study of Islamic Tought and Civilization). Saya membelinya karena saya sedang concern
terhadap permasalahan pemikiran dalam Islam. Selain itu juga sebagai
upaya saya untuk membendung pemikiran-pemikiran dari JIL (Jaringan
Islam Liberal). Meskipun saya masih cetek dalam hal ini, tapi membekali
diri kan tidak ada salahnya. Bagi saya, JIL adalah parasit dalam tubuh
Islam di Indonesia. Isi dari Islamia memang cukup ‘berat’, jarang
didapatkan Hadits atau ayat-ayat Al-Quran, lebih dekat ke filsafat.
Untuk melengkapi ketertarikan saya terhadap masalah JIL tersebut, saya
membeli juga buku Membendung Liberalisme.
Selain buku baru, ada lagi yang baru, yaitu 2 blog yang rencananya akan saya kelola. Pertama adalah katapengantar.blogspot.com dan indoenglish.wordpress.com.
Katapengantar adalah jawaban saya atas permintaan resensi buku-buku
yang saya baca. Jadi, rencananya blog tersebut akan berisi review dari
sebuah buku. Tentunya dengan cara dan gaya saya. Selain itu, saya
mengajak juga Oci untuk menjadi kontributornya. Maka, jadilah sebuah ‘project‘ antara saya dan Oci.
Indoenglish
lebih merupakan keinginan saya untuk menghadirkan sebuah blog yang
berisi tentang bagaimana belajar bahasa Inggris yang baik. Saya hanya
sebagai editor dan penggagas saja, tulisan akan diisi oleh Nana,
salah satu kenalan saya di dunia maya yang memang ahli dibidang itu.
Inginnya saya sih menggunakan Bahasa Indonesia, tapi ternyata yang
bersangkutan mengalami kesulitan. Jadi, saya bebaskan saja. Sebetulnya
tujuan utamanya adalah agar saya bisa belajar bagaimana ber-English
yang baik dari dia. Sebab English saya masih amburadul. Btw, Opie dan Salis,
bersediakah menyumbang tulisan? Kok, perempuan semua yang diajak? Lha,
mereka ahlinya kok! Kedepannya, saya berencana juga untuk membuat blog
yang membahas tentang fotografi dan tutorial, karena belajar yang
paling efektif sebetulnya adalah sambil mengajarkan juga. Bukan karena
sok tahu, tapi lebih bersifat share (berbagi). Jadi, rajin-rajin saja berkunjung ke blog-blog tadi, insya Allah akan bermanfaat.
S 3 K 3 l 0 4. 070507. 22.12
Books | Comment (0)Alastu Birobbikum?
Tulisan kali ini adalah sebuah penepatan janji terhadap Opie
yang sudah lama sekali terbengkalai. Dia meminta saya untuk membahas
tentang apakah setiap orang adalah muslim sejak lahir? Kira-kira begitu
pertanyaannya. Sebetulnya saya heran juga, yang lulusan pesantren itu
siapa sih Pie? Saya atau kamu? ;)) Seharusnya kan saya yang banyak
nanya sama dirimu tentang masalah-masalah Agama, kumaha ieu teh? Aya-aya wae…(pake logatnya Jarwo di Republik Mimpi)
Saya
kira tulisan kali ini tidak akan terlalu panjang, soalnya dalam
perspektif Islam sudah jelas. Ayat Qur’an nya jelas, Haditsnya juga
Sahih. Dalam Al-A’Raaf:172, Allah berfirman :
Dan
(ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari
sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya
berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi".
(Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak
mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang
lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)" (Al-A’raaf:172)
Dalam ayat 172, pertanyaan "Alastu Birobbikum
(Bukankah Aku Tuhanmu?)" dilakukan sebelum manusia lahir dan ditanyakan
kepada keturunan anak-anak Adam (manusia). Itu artinya, pertanyaan
tersebut ditanyakan kepada seluruh manusia. Sejak zaman Adam, hingga
kiamat nanti. Dan seluruh manusia menjawab: "Balaa, Syahidnaa (Betul, kami menjadi saksi)". Itulah syahadat pertama manusia. Kapan dan di mana? Wallahualam. Dalam buku ESQ, Ary Ginanjar Agustian menyebut kejadian tersebut dengan istilah "Anggukan Universal".
Maka, ketika manusia lahir, fitrahnya adalah seorang Muslim. Kita
memang tidak bisa mengingat kejadian tersebut, oleh karena itu Allah
mengingatkan melalui Al-A’raaf:172. Memilih percaya atau tidak, itu
adalah bagian dari keimanan kita.
Dalam sebuah hadits dikatakan
bahwa setiap bayi terlahir sebagai Muslim, orangtuanya lah yang
menjadikan anak tersebut menjadi Nasrani, Yahudi atau Majusi. Kalau
boleh saya tambahkan, termasuk Agama-agama lain juga. Dengan adanya
keterangan Hadits tersebut, semakin menguatkan isi dari ‘Al-Araaf:172.
Mungkin,
kita pernah mendapatkan pertanyaan : "jika orang yang non-muslim masuk
Islam harus melakukan syahadat, trus yang terlahir dari keluarga
muslim, kapan syahadatnya?". Sebetulnya, Al-A’raaf:172 dan hadits di
atas sudah menjawab pertanyaan tersebut. Intinya, semua orang adalah
muslim pada mulanya. Jika Islam dianalogikan sebagai rumah, syahadat
adalah pintu masuk ke dalam rumah tersebut. Jika orang-orang dari luar
rumah tersebut ingin masuk ke dalam rumah, etikanya tentu harus
mengetuk pintu dulu agar dibukakan dan bisa masuk ke dalam rumah. Nah,
jika muslim adalah penghuni rumah tersebut, apa perlunya mengetuk pintu
rumah tersebut? Mengucapkan syahadat diperlukan untuk orang-orang yang
‘keluar’ dari Islam, jika sejak lahir kita di dalam Islam, untuk apa
lagi kita mengucapkan syahadat? Kita kan tidak pernah keluar dari rumah
tersebut, tentu aneh kalau kemudian kita harus mengetuk pintu. Bedakan
antara syahadat dan mengucapkan syahadat. Syahadat adalah pintu, batas
antara muslim dan non-muslim. Sedangkan mengucapkan syahadat adalah
mengetuk pintu, jika mengetuknya benar, pintu akan terbuka, dan
orang-orang di dalamnya akan selalu menyambut dengan senang hati.
Sebetulnya yang paling menarik adalah tujuan dari diingatkannya kejadian tersebut oleh Allah.
Agar
kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya orang-orang tua kami telah
mempersekutukan Tuhan sejak dahulu, sedang kami ini adalah anak-anak
keturunan yang (datang) sesudah mereka. Maka apakah Engkau akan
membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang sesat dahulu?"
(Al-A’raaf:173)
Argumen yang bisa dimengerti, namun
ternyata tidak berarti dihadapan Allah. Karena apa? Karena manusia
memiliki akal yang bisa digunakan untuk mengetahui kebenaran. Kecuali
tidak ada satu pun informasi mengenai Islam atau tidak mendengar
tentang Islam sama sekali, masalahnya lain lagi. Dalam sejarah Islam,
Salman dikenal sebagai seorang pencari kebenaran sejati yang
berpetualang jauh ke luar kampung halamannya. Meskipun orangtuanya
Majusi, tapi dia ‘tidak puas’ dengan agamanya itu. Maka dicarilah
kebenaran itu. Sehingga akhirnya dia menemukan Islam, dan meninggal
dalam pelukan Islam. Jadi, terlahir sebagai anak dari orangtua yang
non-muslim, tidak bisa dijadikan alasan untuk lepas dari hukuman.
Makanya, terlahir sebagai muslim adalah sesuatu yang sangat saya
syukuri.
Maaf kalau bahasan tentang ini kurang mendalam, hanya
itu yang terpikir oleh saya. Mungkin karena bagi saya masalah ini sudah
cukup jelas (atau kurang bahan) :D. Wallahualam.
S 3 k 3 l 0 4. 010507. 00.40.
Religi | Comments (2)