Ganti Nomor HP? No Way!
Dari obrolan panjang dengan Obenk beberapa saat lalu, salah satu yang
menjadi topik pembicaraan adalah ganti nomor HP. Saya dan Obenk
memiliki kesamaan pendapat tentang nomor HP. Berbicara tentang nomor
HP, saya bukanlah orang yang gampang ‘kabita’ dengan
fasilitas-fasilitas menarik yang ditawarkan. Buat saya, nomor HP adalah
sebuah identitas. Kalau saja tidak karena hilang, nomor HP pertama saya
pastilah tidak akan pernah saya ganti. Ketika nomor tersebut hilang,
dan tentu saja HPnya juga, belum ada fasilitas penggantian nomor yang
sama dari operator.
Selama menggunakan HP, saya hanya pernah
menggunakan 3 buah nomor. Itupun dari operator yang sama, Singasat ;))
Eits, nggak usah bingung, itu hanya sebutan saya untuk operator yang
saya gunakan, sejak penjualan saham perusahaan tersebut kepada
Singapura. Awal mula ketertarikan saya untuk menggunakan operator
tersebut karena melihat teman saya yang bisa menggunakannya untuk
koneksi internet. Sejak dulu saya selalu terobsesi untuk memiliki
koneksi internet di rumah, dan sampai sekarang pun, bahkan sejak
menggunakan nomor dari operator tersebut, saya masih belum pernah bisa
memilikinya, karena ternyata mahal juga. Mending ke warnet aja.
Nomor
pertama yang saya gunakan adalah dari IMTiga, dengan HP paling tenar
seri 5510 yang cocok juga untuk digunakan nimpukin maling. Awalnya,
gaptek! Bukan karena nggak ngerti bagaimana menggunakan HP, tapi karena
ketidaktahuan saya terhadap frekuensi yang berbeda antara operator dan
HP. Operator ‘bekerja’ pada GSM 1800 MHz, sedangkan fitur HP hanya
bekerja di frekuensi GSM 900 MHz, jelas nggak nyambung. Untungnya
ketika itu, nomor yang saya gunakan bisa lintas operator, sehingga saya
bisa menggunakan operatornya Matahari. Saat itu, IMTiga dan Matahari
masih belum bergabung dalam satu operator.
Saya sempat mengganti
HP. Masih menggunakan merk yang paling tenar, barang bekas, dengan seri
hitungan mundur dari 3 sampai 0. Meskipun seri itu sudah ditinggalkan,
namun setidaknya operator dan HP sudah bisa nyambung, jadi saya nggak
perlu repot-repot lintas operator lagi. Sayangnya, 2 minggu setelah
memiliki HP ‘baru’ tersebut, karena keteledoran saya, HP tersebut
hilang dicuri. Menyakitkan. Saya paham rasanya kemalingan, wajar kalau
kemudian ada maling yang tertangkap pasti babak belur, saat itu saya
juga sangat ingin menangkap dan memukulinya sampai babak belur.
Sebetulnya, yang paling saya tangisi adalah nomor-nomor yang ada di HP
tersebut. Nomor tersebut jauh lebih penting daripada HPnya. Untunglah,
saya masih memiliki catatan beberapa nomor ketika saya belum memiliki
HP.
Sekitar 3 bulan hari-hari saya kosong dari HP, meskipun
kemudian saya membeli nomor baru, masih IMTiga juga, tanpa HP. Untuk
keperluan SMS atau telpon, saya biasanya ‘merampok’ HP teman. Nomor
tersebut adalah nomor yang sampai sekarang masih digunakan, sudah 4
tahun lebih. Jadi, bisa dikatakan, saya adalah orang yang setia. Alah!
Gubrak!! Heuheuheu. Selama itu, berbagai macam godaan dari operator
lain sudah saya rasakan. Bahkan, yang paling gila adalah godaan dari
operator-operator CDMA. Namun, tetap saja saya tidak tergoda. Prinsip
saya, kalaupun harus punya nomor baru, saya harus punya HP baru juga.
Maka, kemudian saya berpoligami dengan ‘menikahi’ saudara IMTiga dan
Matahari, yaitu kartu pasca bayar dengan nama yang sama dengan salah
satu bab dalam pelajaran Matematika. Alhamdulillah, sampai saat ini,
dua-duanya belum pernah protes karena merasa diperlakukan tidak
adil…Heuheuheu. Namun, kalau dibandingkan, harga 2 buah HP yang saya
miliki tidak ada apa-apanya dengan HP terbaru saat ini. Awalnya, ada
perasaan bangga punya 2 nomor dan 2 HP, serasa jadi orang kaya!
Sekarang? Orang punya HP 3 buah sudah jadi pemandangan biasa.
Poligami
nomor tersebut sudah berlangsung selama 2 tahun, tepatnya ketika saya
mulai mengerjakan skripsi. Alasan saya waktu itu karena dengan nomor
tersebut bisa mengakses internet selama 24 jam per hari, dengan beban
biaya Rp. 25.000,-/bulan. Apalagi kebutuhan saya akan koneksi internet
saat itu sedang tinggi. Bahan skripsi saya 100% dari internet. Namun,
lagi-lagi karena ‘kebodohan’ saya, fasilitas tersebut berakhir beberapa
hari setelah memiliki nomor baru tersebut. Jadi…back to warnet!
Meskipun kemudian nomor tersebut tidak saya singkirkan, bahkan saya
gunakan sampai sekarang. Dengan adanya nomor baru, tidak menjadikan
nomor yang lama terlupakan. Kedua nomor tersebut memiliki peran yang
berbeda. Nomor IMTiga biasanya diketahui oleh teman-teman lama saya,
sedangkan nomor Matematika lebih diketahui oleh kenalan-kenalan baru.
Bedanya, teman-teman lama tahu saya punya 2 nomor, kenalan baru tidak
tahu saya punya nomor IMTiga
Nomor IMTiga saya sudah tercatat
di puluhan phonebook teman-teman saya. Saya pun tidak pernah menghapus
nomor-nomor mereka dalam HP saya. Oleh karena itu, phonebook HP yang
menggunakan nomor tersebut sudah full. Tidak ada lagi ruang untuk satu
nomor pun. Makanya, saya ingin sekali meminta maaf, jika kemudian ada
yang mengirim SMS, telpon atau miskol melalui nomor tersebut, kemudian
saya bertanya "ini siapa?"
karena bisa jadi nomor yang menghubungi saya tidak ada dalam phonebook
HP tersebut. Sudah sejak 2 tahun yang lalu HP tersebut tidak bisa
ditambah dengan nomor baru. Kecuali, ada nomor-nomor yang sengaja saya
hapus karena sudah tidak bisa dihubungi lagi. Saya paham betul
bagaimana rasanya ketika menghubungi seseorang yang kita kenal,
kemudian ditanya "ini siapa?".
Makanya, saya sangat menghargai siapapun yang pernah menghubungi saya
untuk mencatat nomor-nomor mereka. Namun, apa daya, kapasitas memori HP
dan kartu terbatas, saya tidak bisa menyimpan seluruh nomor, meskipun
ingin. Dengan tidak menyimpan nomor di HP saya, bukan berarti orang
yang memilikinya tidak penting bagi saya. Tentu saja sangat penting
buat saya, siapapun dia. Oleh karena itu, biasanya saya menyimpan atau
mencatat nomor tersebut pada catatan kecil, atau dengan tidak menghapus
SMS yang masuk.
Nomor tersebut pernah hilang juga. Ketika awal
memiliki nomor Matematika, HP saya masih satu. Maka, saya menggunakan
HP tersebut bergantian untuk 2 nomor. Lagi-lagi karena kecerobohan
saya, nomor IMTiga saya taruh di dalam saku celana. Mungkin ketika saya
mengeluarkan uang untuk ongkos, nomor tersebut terjatuh dalam bus yang
saya tumpangi, dan terbawa ke Cirebon :)). Untunglah, saya bisa
mendapatkan kembali nomor yang sama setelah menghubungi customer
service operator tersebut. Meskipun saya kembali memiliki nomor yang
sama, tapi nomor-nomor yang tersimpan pada memori nomor tersebut
hilang, karena kartunya berbeda.
Kenapa saya tidak mau mengganti
nomor? Seperti yang sudah saya jelaskan, buat saya, nomor tersebut
adalah identitas. Kalau ada perlu dengan saya, hubungi saja nomor
tersebut, pasti akan ‘bertemu’ dengan saya. Insya Allah. Saya berpikir,
suatu saat, nomor tersebut akan menjadi ‘pintu rezeki’ untuk saya.
Entah bagaimana caranya, yang jelas saya percaya hal tersebut bisa
terjadi. Selain itu, jika saya ganti nomor, malas sekali rasanya jika
harus memberi tahu semua orang, "ini nomor saya yang baru, yang lama hapus aja!"
Lebih dari itu, saya sebetulnya paling sebel kalau teman-teman saya
mengganti nomor. Ooopppss. Heuheuheu. Apalagi kalau alasannya karena "operator itu mahal, ini lebih murah…" atau "soalnya pacar gua pake operator ini…",
oopppsss lagi, kayaknya banyak yang ‘ketembak’ nih ;)) Lebih-lebih
kalau ada teman yang ganti nomor, tiba-tiba SMS dengan akrabnya, tanpa
pernah memberi tahu sebelumnya kalau nomornya sudah diganti. Ketika
saya balas "siapa nih?" dia
malah pundung, nyebelin kan? Dan karena sudah ‘bikin’ pundung, saya
yang harus minta maaf, ini lebih nyebelin lagi! Dan yang lebih
menyebalkan dari itu semua, teman saya ganti nomor tanpa pernah
memberitahu saya sama sekali. Ketika saya menghubungi, yang saya dengar
adalah pesan dari tante-tante bahwa nomor tersebut sudah tidak aktif,
dan rasanya suara tante-tante tersebut sama di tiap operator. Karena
itulah saya tidak pernah ingin mengganti nomor dan menghapus
nomor-nomor di HP saya.
Saya percaya, dengan persaingan
antar-operator yang semakin edan, konsumen tidak akan dirugikan, malah
semakin diuntungkan. Bagi operator, konsumen lebih berharga dari
apapun. Ya, iya lah…kalau nggak ada konsumen, operator dapat duit
darimana? Oleh sebab itu, untuk mempertahankan pelanggan agar tidak
kabur, juga untuk meningkatkan penjualan, operator pasti akan berusaha
memanjakan konsumen. Jika kemudian ada operator menawarkan fasilitas
yang menggiurkan, itu hanya sementara saja, tidak akan bertahan lama.
Operator yang lain pasti akan menyusul dengan menawarkan fasilitas
lainnya. Jadi, saya tidak perlu merasa khawatir dan iri dengan
tawaran-tawaran menggiurkan tersebut.
Bukan tidak pernah saya
membeli nomor dari operator lain. Saya pernah menggunakan ‘kartu Remi’
dan juga kartu ‘Ukuran Baju’. Tetap saja, saya merasa berat untuk
menggantikan posisi kartu IMTiga. Mungkin karena sudah menjadi bagian
dari diri saya. Nomor-nomor tersebut hanya bertahan untuk sekali
pemakaian saja, setelah pulsa habis, ya sudah, tidak pernah saya isi
ulang lagi. Dulu kartu Ukuran Baju terhitung yang paling mahal, tapi
sekarang mereka menawarkan fasilitas yang edan-edanan. Suatu saat,
ceritanya akan lain lagi. Oleh karena itu, saya memilih untuk tidak
tertarik memikirkan ganti nomor. Terlepas dari operator manapun yang
sedang anda gunakan saat ini, saya menyarankan untuk tetap menggunakan
nomor tersebut. Entah dengan anda, tapi saya sangat percaya suatu saat
nomor tersebut bisa menjadi media untuk rezeki saya, bahkan mungkin
jodoh saya juga, siapa tahu
S 3 K 3 L 0 4. 110407. 03.22.
NB : Ada yang mau nomor HP saya?
7 Responses to “Ganti Nomor HP? No Way!”
Leave a Reply
orang aneh..
jadi imtiga sama matematikanya aktiph smua nih skg? ;))
gitu dunkz..jadi ndak bingung kl mo nelp/sms.
Eeh..awas kl nomerku ndak ada di phonebookny kang dodol!! X(
Ho oh…aktif 2 2 nya..:D
Kan dah dibilangin, gk akan dihapus, kecuali kalau dah dihubungin, gak aktif lagi nomornya.
oi kang, urang karek nyaho siah mun ente boga nomer anu mata kuliah “aljabar dan matriks”
sabaraha nomerna? SMS ka urang
sama don, saya juga termasuk orang yang “SETIA” nomer HP yang sekarang ini merupakan nomer HP pertama kali saya punya HP, saya memilih nomer ini pun gara2 terprovokasi oleh teman saya
tapi lama kelamaan sya enjoy dgn segala plus minus nomer ini selain itu nomer ini sudah melanglang buana ke mana mana
oya nomer kita sama ya don satu provider, (i em telu)
(heheheh, inget teu don baheula maneh mere nyaho urang, cara SMS gratisan anu ngarubah nomer SMS centre na, trus sms an gratis)
Ahahah…gua inget sekarang, padahal gua dah lupa lagi loh soal kejadian itu ;))
Duh, jangan gitu atuh kang!! Daku jadi ngerasa bersalah ni. (Glodak!!) Daku ya pengennya gak ganti nomer, tapi kalo harus ngurus nomer yang dulu ke semarang bawah ya… ogah lah. cz gak ada motor yang bisa dipinjem nih.:( Makanye nih sampe sekarang masih pake XL. ya maap… kalo dirimu harus merogoh kocek lebih dalem buat bales sms q.
Oh ya…Daku sering tuh dulu manfaatin sms gratis yang cuma tinggal ganti no pusat pesannya aja. Puaaaaas banget. Cz bisa smsan sama temen pas perjalanan dari Sekaran sampe Poncol. Gratissss!!! Trus, pas dah masuk kreta srasa gak rela gt… Hwaaa, masa gak bisa gratisan lagi gara2 udah kluar area Semarang.
hwaa… masa gak boleh ganti nomer?
no koment….ikut aza yang penting kita ada yang sefaham….setia sama nomor hp
gue dari dokter neh don..sakit.jd rada gak conect….