Dasar Amatir!
Ya, ‘umpatan’ itulah yang pantas saya dapatkan. Dasar Amatir! Beberapa
saat lalu, Alhamdulillah, ada orang baik yang mau ngasih pinjem kamera,
Opie. Merk kameranya Nikon F65, SLR, masih analog, artinya masih pake
film. Fasilitasnya lumayan lengkap, bisa Auto Focus
atau manual. Itu hanya sedikit dari seluruh fasilitas yang ada. Kata
yang punya, kamera itu mau dijual, harganya 1,6 juta. Dia belinya belum
lama, jadi kondisinya masih 90-95%. Ada yang berminat?
Kesempatan
bagus itu tidak saya lewatkan begitu saja, tidak tanggung-tanggung,
saya langsung beli 3 roll film untuk memuaskan hobi fotografi saya. Dua
roll berwarna, satu roll hitam putih. Jika dibandingkan dengan kamera
digital, menggunakan kamera analog jauh lebih seru. Seni-nya lebih
terasa. Kalau menggunakan kamera digital, kita tidak dibatasi oleh
jumlah film, kalau ada hasil yang jelek pun bisa langsung kalihatan
hasilnya dan bisa dihapus. Sementara kalau menggunakan kamera analog,
kita harus mikir dulu sebelum mengambil suatu objek. Sehingga, jika
terjadi kegagalan, kita harus menunggu film dicetak dulu untuk
melakukan analisa. Objek yang diambil pun harus benar-benar bagus.
Selain itu, penggunaan teknik-teknik fotografi benar-benar terpakai
ketika menggunakan kamera analog. Disinilah serunya, disinilah
tantangannya.
Nah, masalahnya, saya belum menguasai teknik
fotografi yang baik dan benar, ditambah saya lupa lagi dengan
teknik-teknik yang pernah diajarkan, maklum sudah lumayan lama tidak
pernah pakai kamera SLR. Sehingga, setelah film tersebut dicetak, 40%
gagal! Menyedihkan, bukan? Lebih parah lagi, justru yang gagal itu
adalah objek-objek yang sangat menarik kalau teknik yang saya gunakan
benar. Dari hasil cetakan yang sudah ada, ternyata saya masih lemah
ketika mengambil objek bergerak dan dalam ruangan. Namun, ada juga
beberapa foto yang hasilnya bagus, padahal tidak sengaja atau malah
tanpa teknik, asal jepret saja. Sebagian besar foto saya ambil tanpa
blitz (flash), itu juga yang menyebabkan sebagian foto gagal, saya
harus belajar lebih banyak lagi untuk itu.
Berikut ini index print
dari 2 roll film yang sudah saya cetak, klik pada gambar untuk melihat
ukuran yang lebih besar, untuk yang hitam putih menyusul. Lagi bokek
saudara-saudara…Huahuahua.
S 3 k 3 l 0 4. 250407. 22.10.
Design & Fotografi | Comments (3)Lagu Dalam Cerita
Satu
Kebayang nggak, ketika nyanyi lagu-nya Bunga Citra Lestari yang…"Kirim Aku Malaikatmu…", tiba-tiba…
JRENG!!! Malaikat Maut datang kehadapanmu…Apa yang akan kamu lakukan?
Dua
Andai saja setiap orang mau lebih rendah hati untuk sekedar menyanyikan bait-bait berikut ini pada pasangannya…
Malam-malam yang mencekam,
akan benderang kala engkau datang.
Tangis pilu anak kita,
Akan berganti penuh canda dan tawa.
(Kurusetra / JavaJive)
Mungkin tidak perlu terjadi perceraian-perceraian itu.
S 3 k 3 l 0 4. 250407. 15.36.
Badai Pasti Berlalu
Badai Pasti Berlalu
Namun, di depan masih menunggu
Berbagai macam cobaan lainnya:
Gempa bumi, gunung meletus, banjir, kemarau panjang
Siapkah kita?
Semoga cahaya optimisme selalu terpancar di mata kita.
S 3 k 3 l 0 4. 210407. 12.36.
Refleksi | Comments (6)Iseng-iseng Berkreasi
Bosen coding dan merasa mentok. Seharian iseng-iseng belajar lagi
Photoshop 7.0. Lihat-lihat foto yang ada di komputer,
tiba-tiba…tumben…ide melayang-layang. Buat teman-teman yang saya
‘isengin’, maaf ya?!
Habisnya lagi kurang kerjaan nih, daripada
tidur melulu. Kalau mau lihat gambar ukuran aslinya, klik aja pada
gambar.
Ternyata jadi aneh hasilnya kalau lihat di komputer
orang lain. Monitor saya memang rada masalah, kurang bright, jadinya
lebih gelap. Dengan bekal ilmu yang seadanya, hasilnya…lihat saja di
bawah.

Judul : Speed and Courage
Foto, Ide dan Desain : Donny Reza
Judul : The Tales of Amy and Ucup
Model : Amy dan Ucup
Foto, Ide dan Desain : Donny Reza

Judul : I’m Different
Model : Mia and Soccer Warrior
Foto, Ide dan Desain : Donny Reza

Judul : Jejaka Petualang
Model : Anak-anak tingkat 1 Jurusan Teknik Informatika UNIKOM
Foto, Ide dan Desain : Donny Reza
Fonts on ‘Jejaka Petualang’ courtesy of Dafont

Judul : Provokasi
Model : QQ dan Herdyan ‘Thez’ Fajar
Foto, Ide dan Desain : Donny Reza

Judul : Speed
Foto, Ide dan Desain : Donny Reza
All Photo Courtesy of Donny Reza.
UnakUnik | Comments (3)Ganti Nomor HP? No Way!
Dari obrolan panjang dengan Obenk beberapa saat lalu, salah satu yang
menjadi topik pembicaraan adalah ganti nomor HP. Saya dan Obenk
memiliki kesamaan pendapat tentang nomor HP. Berbicara tentang nomor
HP, saya bukanlah orang yang gampang ‘kabita’ dengan
fasilitas-fasilitas menarik yang ditawarkan. Buat saya, nomor HP adalah
sebuah identitas. Kalau saja tidak karena hilang, nomor HP pertama saya
pastilah tidak akan pernah saya ganti. Ketika nomor tersebut hilang,
dan tentu saja HPnya juga, belum ada fasilitas penggantian nomor yang
sama dari operator.
Selama menggunakan HP, saya hanya pernah
menggunakan 3 buah nomor. Itupun dari operator yang sama, Singasat ;))
Eits, nggak usah bingung, itu hanya sebutan saya untuk operator yang
saya gunakan, sejak penjualan saham perusahaan tersebut kepada
Singapura. Awal mula ketertarikan saya untuk menggunakan operator
tersebut karena melihat teman saya yang bisa menggunakannya untuk
koneksi internet. Sejak dulu saya selalu terobsesi untuk memiliki
koneksi internet di rumah, dan sampai sekarang pun, bahkan sejak
menggunakan nomor dari operator tersebut, saya masih belum pernah bisa
memilikinya, karena ternyata mahal juga. Mending ke warnet aja.
Nomor
pertama yang saya gunakan adalah dari IMTiga, dengan HP paling tenar
seri 5510 yang cocok juga untuk digunakan nimpukin maling. Awalnya,
gaptek! Bukan karena nggak ngerti bagaimana menggunakan HP, tapi karena
ketidaktahuan saya terhadap frekuensi yang berbeda antara operator dan
HP. Operator ‘bekerja’ pada GSM 1800 MHz, sedangkan fitur HP hanya
bekerja di frekuensi GSM 900 MHz, jelas nggak nyambung. Untungnya
ketika itu, nomor yang saya gunakan bisa lintas operator, sehingga saya
bisa menggunakan operatornya Matahari. Saat itu, IMTiga dan Matahari
masih belum bergabung dalam satu operator.
Saya sempat mengganti
HP. Masih menggunakan merk yang paling tenar, barang bekas, dengan seri
hitungan mundur dari 3 sampai 0. Meskipun seri itu sudah ditinggalkan,
namun setidaknya operator dan HP sudah bisa nyambung, jadi saya nggak
perlu repot-repot lintas operator lagi. Sayangnya, 2 minggu setelah
memiliki HP ‘baru’ tersebut, karena keteledoran saya, HP tersebut
hilang dicuri. Menyakitkan. Saya paham rasanya kemalingan, wajar kalau
kemudian ada maling yang tertangkap pasti babak belur, saat itu saya
juga sangat ingin menangkap dan memukulinya sampai babak belur.
Sebetulnya, yang paling saya tangisi adalah nomor-nomor yang ada di HP
tersebut. Nomor tersebut jauh lebih penting daripada HPnya. Untunglah,
saya masih memiliki catatan beberapa nomor ketika saya belum memiliki
HP.
Sekitar 3 bulan hari-hari saya kosong dari HP, meskipun
kemudian saya membeli nomor baru, masih IMTiga juga, tanpa HP. Untuk
keperluan SMS atau telpon, saya biasanya ‘merampok’ HP teman. Nomor
tersebut adalah nomor yang sampai sekarang masih digunakan, sudah 4
tahun lebih. Jadi, bisa dikatakan, saya adalah orang yang setia. Alah!
Gubrak!! Heuheuheu. Selama itu, berbagai macam godaan dari operator
lain sudah saya rasakan. Bahkan, yang paling gila adalah godaan dari
operator-operator CDMA. Namun, tetap saja saya tidak tergoda. Prinsip
saya, kalaupun harus punya nomor baru, saya harus punya HP baru juga.
Maka, kemudian saya berpoligami dengan ‘menikahi’ saudara IMTiga dan
Matahari, yaitu kartu pasca bayar dengan nama yang sama dengan salah
satu bab dalam pelajaran Matematika. Alhamdulillah, sampai saat ini,
dua-duanya belum pernah protes karena merasa diperlakukan tidak
adil…Heuheuheu. Namun, kalau dibandingkan, harga 2 buah HP yang saya
miliki tidak ada apa-apanya dengan HP terbaru saat ini. Awalnya, ada
perasaan bangga punya 2 nomor dan 2 HP, serasa jadi orang kaya!
Sekarang? Orang punya HP 3 buah sudah jadi pemandangan biasa.
Poligami
nomor tersebut sudah berlangsung selama 2 tahun, tepatnya ketika saya
mulai mengerjakan skripsi. Alasan saya waktu itu karena dengan nomor
tersebut bisa mengakses internet selama 24 jam per hari, dengan beban
biaya Rp. 25.000,-/bulan. Apalagi kebutuhan saya akan koneksi internet
saat itu sedang tinggi. Bahan skripsi saya 100% dari internet. Namun,
lagi-lagi karena ‘kebodohan’ saya, fasilitas tersebut berakhir beberapa
hari setelah memiliki nomor baru tersebut. Jadi…back to warnet!
Meskipun kemudian nomor tersebut tidak saya singkirkan, bahkan saya
gunakan sampai sekarang. Dengan adanya nomor baru, tidak menjadikan
nomor yang lama terlupakan. Kedua nomor tersebut memiliki peran yang
berbeda. Nomor IMTiga biasanya diketahui oleh teman-teman lama saya,
sedangkan nomor Matematika lebih diketahui oleh kenalan-kenalan baru.
Bedanya, teman-teman lama tahu saya punya 2 nomor, kenalan baru tidak
tahu saya punya nomor IMTiga
Nomor IMTiga saya sudah tercatat
di puluhan phonebook teman-teman saya. Saya pun tidak pernah menghapus
nomor-nomor mereka dalam HP saya. Oleh karena itu, phonebook HP yang
menggunakan nomor tersebut sudah full. Tidak ada lagi ruang untuk satu
nomor pun. Makanya, saya ingin sekali meminta maaf, jika kemudian ada
yang mengirim SMS, telpon atau miskol melalui nomor tersebut, kemudian
saya bertanya "ini siapa?"
karena bisa jadi nomor yang menghubungi saya tidak ada dalam phonebook
HP tersebut. Sudah sejak 2 tahun yang lalu HP tersebut tidak bisa
ditambah dengan nomor baru. Kecuali, ada nomor-nomor yang sengaja saya
hapus karena sudah tidak bisa dihubungi lagi. Saya paham betul
bagaimana rasanya ketika menghubungi seseorang yang kita kenal,
kemudian ditanya "ini siapa?".
Makanya, saya sangat menghargai siapapun yang pernah menghubungi saya
untuk mencatat nomor-nomor mereka. Namun, apa daya, kapasitas memori HP
dan kartu terbatas, saya tidak bisa menyimpan seluruh nomor, meskipun
ingin. Dengan tidak menyimpan nomor di HP saya, bukan berarti orang
yang memilikinya tidak penting bagi saya. Tentu saja sangat penting
buat saya, siapapun dia. Oleh karena itu, biasanya saya menyimpan atau
mencatat nomor tersebut pada catatan kecil, atau dengan tidak menghapus
SMS yang masuk.
Nomor tersebut pernah hilang juga. Ketika awal
memiliki nomor Matematika, HP saya masih satu. Maka, saya menggunakan
HP tersebut bergantian untuk 2 nomor. Lagi-lagi karena kecerobohan
saya, nomor IMTiga saya taruh di dalam saku celana. Mungkin ketika saya
mengeluarkan uang untuk ongkos, nomor tersebut terjatuh dalam bus yang
saya tumpangi, dan terbawa ke Cirebon :)). Untunglah, saya bisa
mendapatkan kembali nomor yang sama setelah menghubungi customer
service operator tersebut. Meskipun saya kembali memiliki nomor yang
sama, tapi nomor-nomor yang tersimpan pada memori nomor tersebut
hilang, karena kartunya berbeda.
Kenapa saya tidak mau mengganti
nomor? Seperti yang sudah saya jelaskan, buat saya, nomor tersebut
adalah identitas. Kalau ada perlu dengan saya, hubungi saja nomor
tersebut, pasti akan ‘bertemu’ dengan saya. Insya Allah. Saya berpikir,
suatu saat, nomor tersebut akan menjadi ‘pintu rezeki’ untuk saya.
Entah bagaimana caranya, yang jelas saya percaya hal tersebut bisa
terjadi. Selain itu, jika saya ganti nomor, malas sekali rasanya jika
harus memberi tahu semua orang, "ini nomor saya yang baru, yang lama hapus aja!"
Lebih dari itu, saya sebetulnya paling sebel kalau teman-teman saya
mengganti nomor. Ooopppss. Heuheuheu. Apalagi kalau alasannya karena "operator itu mahal, ini lebih murah…" atau "soalnya pacar gua pake operator ini…",
oopppsss lagi, kayaknya banyak yang ‘ketembak’ nih ;)) Lebih-lebih
kalau ada teman yang ganti nomor, tiba-tiba SMS dengan akrabnya, tanpa
pernah memberi tahu sebelumnya kalau nomornya sudah diganti. Ketika
saya balas "siapa nih?" dia
malah pundung, nyebelin kan? Dan karena sudah ‘bikin’ pundung, saya
yang harus minta maaf, ini lebih nyebelin lagi! Dan yang lebih
menyebalkan dari itu semua, teman saya ganti nomor tanpa pernah
memberitahu saya sama sekali. Ketika saya menghubungi, yang saya dengar
adalah pesan dari tante-tante bahwa nomor tersebut sudah tidak aktif,
dan rasanya suara tante-tante tersebut sama di tiap operator. Karena
itulah saya tidak pernah ingin mengganti nomor dan menghapus
nomor-nomor di HP saya.
Saya percaya, dengan persaingan
antar-operator yang semakin edan, konsumen tidak akan dirugikan, malah
semakin diuntungkan. Bagi operator, konsumen lebih berharga dari
apapun. Ya, iya lah…kalau nggak ada konsumen, operator dapat duit
darimana? Oleh sebab itu, untuk mempertahankan pelanggan agar tidak
kabur, juga untuk meningkatkan penjualan, operator pasti akan berusaha
memanjakan konsumen. Jika kemudian ada operator menawarkan fasilitas
yang menggiurkan, itu hanya sementara saja, tidak akan bertahan lama.
Operator yang lain pasti akan menyusul dengan menawarkan fasilitas
lainnya. Jadi, saya tidak perlu merasa khawatir dan iri dengan
tawaran-tawaran menggiurkan tersebut.
Bukan tidak pernah saya
membeli nomor dari operator lain. Saya pernah menggunakan ‘kartu Remi’
dan juga kartu ‘Ukuran Baju’. Tetap saja, saya merasa berat untuk
menggantikan posisi kartu IMTiga. Mungkin karena sudah menjadi bagian
dari diri saya. Nomor-nomor tersebut hanya bertahan untuk sekali
pemakaian saja, setelah pulsa habis, ya sudah, tidak pernah saya isi
ulang lagi. Dulu kartu Ukuran Baju terhitung yang paling mahal, tapi
sekarang mereka menawarkan fasilitas yang edan-edanan. Suatu saat,
ceritanya akan lain lagi. Oleh karena itu, saya memilih untuk tidak
tertarik memikirkan ganti nomor. Terlepas dari operator manapun yang
sedang anda gunakan saat ini, saya menyarankan untuk tetap menggunakan
nomor tersebut. Entah dengan anda, tapi saya sangat percaya suatu saat
nomor tersebut bisa menjadi media untuk rezeki saya, bahkan mungkin
jodoh saya juga, siapa tahu
S 3 K 3 L 0 4. 110407. 03.22.
NB : Ada yang mau nomor HP saya?
Ayat Favorit
Terinspirasi oleh komentar Lucky di blog-nya Warastuti,
saya jadi ingin menulis tentang ayat favorit saya dalam Al-Quran. Dari
sekira 6237 ayat dalam Al-Quran (bukan 6666! terakhir saya menghitung
segitu, koreksi kalau salah), setiap orang (atau sebagian orang?)
pastinya punya ayat-ayat dalam Al-Quran yang menjadi ‘pegangan’ atau
favorit. Tujuan memfavoritkan suatu surat bukan dengan tujuan
mengkultuskan suatu ayat, tapi biasanya ayat tersebut mempunyai kesan
yang mendalam. Sehingga, setiap kali ayat tersebut terdengar atau
terbaca, mampu menimbulkan atau memunculkan sisi emosional dan
spiritual dalam dirinya, atau mampu ‘menggetarkan’ jiwa dan hatinya.
Salah seorang sahabat saya, Tiar, menjadikan ayat 5-6 dari Surat Alam Nasyrah sebagai ayat-ayat favoritnya. "…Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan…"
Menurut Tiar, ayat tersebut bisa mengingatkannya untuk tetap optimis
dalam menghadapi setiap masalah. Lebih jauh lagi, ayat tersebut
bercerita tentang kehidupan yang kadang mudah, lebih sering
sulitnya…;)) Saya sendiri menjadikan ayat tersebut sebagai opening
atau hiasan pada skripsi saya, karena sepanjang saya mengerjakan
skripsi, ayat itulah yang selalu teringat dalam pikiran saya. Hasilnya,
Alhamdulillah, saya bisa tetap optimis dengan masalah-masalah yang
terjadi sepanjang waktu mengerjakan skripsi.
Pada pemilu 2004,
dalam sebuah acara talkshow, Amien Rais yang saat itu menjadi calon
presiden, ditanya tentang motivasi dirinya untuk mencalonkan diri dari
presiden. Beliau menjawab, salah satu yang menjadi motivatornya adalah
beberapa ayat Al-Balad, yaitu dimulai dari : "…Maka
tidakkah sebaiknya (dengan hartanya itu) ia menempuh jalan yang mendaki
lagi sulit? Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu?
yaitu melepaskan budak dari perbudakan, atau memberi makan pada hari
kelaparan, kepada anak yatim yang ada hubungan kerabat, atau orang
miskin yang sangat fakir…(Al-Balad : 10-16)". Dengan ayat tersebut, Amien Rais bisa PD untuk mencalonkan diri jadi presiden.
Lantas
apakah ayat favorit saya? Ada beberapa ayat yang menjadi favorit saya
dan selama ini juga saya jadikan pegangan. Terpengaruh oleh Tiar, saya
juga memang jadi memfavoritkan ayat 5-6 Alam Nasyrah. Pengalaman
spiritual dengan ayat tersebut memang sangat saya rasakan ketika
mengerjakan skripsi, seperti yang sudah saya jelaskan.
Ayat yang lebih dulu menjadi favorit saya adalah 4 ayat terakhir dari surat Al-Fajr. "Hai
jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi
diridai-Nya. Maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hambaKu, dan masuklah
ke dalam surga-Ku." Terus terang saja, sewaktu pertama kali
membacanya, saya sempat merinding juga. Mengingat surat ini, selalu
saja mengingatkan saya dengan kematian. Kalimat pada ayat-ayat tersebut
adalah sambutan dari Allah kepada hambaNya, konon kalimat tersebut akan
didengar oleh orang-orang yang beriman sesaat setelah kematiannya,
hanya saja saya belum tahu sumber berita ini dari mana. Ayat tersebut
selalu memotivasi saya untuk selalu menjadi orang yang lebih baik dari
sekarang. Bisa dikatakan, mendapatkan ’sambutan’ tersebut adalah sebuah
obsesi dalam kematian saya nanti. Sebenarnya, itulah prestasi tertinggi
setiap orang di akhir hidupnya.
Ayat selanjutnya menjadi favorit saya setelah ayat tersebut dibahas oleh Jeffrey Lang dalam bukunya Berjuang untuk Berserah (Struggling To Surrender).
Ayat tersebut sudah sering kali terdengar atau dibaca oleh siapapun
sebetulnya, hanya karena kita tidak pernah ingin tahu artinya,
ayat-ayat tersebut seperti berlalu begitu saja tanpa makna. Ayat
tersebut adalah ayat 1-3 dari surat Adh-Dhuha : "Demi waktu dhuha, dan demi malam apabila telah sunyi, Tuhanmu tiada meninggalkan kamu dan tiada pula benci kepadamu."
Saat
membaca paparan Lang dalam buku tersebut, hati saya benar-benar
tergetar, merinding. Saya sering mendengar ayat tersebut, beberapa kali
juga membaca artinya, namun tidak sampai menimbulkan efek seperti
ketika membaca paparan Lang tersebut. Satu hal yang saya sadari ketika
itu adalah bahwa meskipun saya sudah 2 kali menamatkan membaca arti
dari seluruh ayat Al-Quran, namun saya tidak pernah benar-benar memberi
perhatian khusus terhadap apa yang saya baca. Memang benar, membaca
ayat Al-Quran perlu perenungan lebih mendalam, tidak bisa seperti
membaca novel atau cerpen. Bahkan untuk ayat-ayat yang paling sederhana
sekalipun.
Dari ayat tersebut saya memahami satu hal. Buat saya,
ayat tersebut adalah sebuah jaminan dari Allah. Bahwa Dia tidak akan
menelantarkan kita, bahwa Dia sudah menjamin kehidupan kita, bahwa Dia
tidak membenci kita, bahwa Dia dekat dengan kita. Itu adalah kalimat
cinta dari Allah, sumpah setia dari Allah. Bagaimana rasanya jika orang
yang paling kita cintai mengatakan "saya tidak akan meninggalkan kamu, saya akan setia kepadamu, saya tidak akan menyia-nyiakan dirimu?"
Kita pasti bahagia. Dan itulah yang sesungguhnya Allah lakukan terhadap
hambaNya. Membahagiakan. Namun, kita tidak pernah sadar.
Maka,
dengan berpegang kepada ayat ini saja, rasanya kita tidak perlu
khawatir untuk menjalani hidup. Ada Allah yang menjaga kita, ada Dia
yang melindungi kita. Dia tidak akan melanggar sumpah dan janjiNya.
Masalahnya hanya satu, apakah kita yakin dan percaya dengan jaminan
Allah itu? Lebih dari itu, apakah kita bisa yakin dan percaya untuk
hidup dengan caraNya? Sejujurnya, kita lebih sering meragukanNya.
Itulah sumber masalah yang sesungguhnya.
Saya bukan orang yang
mudah menangis, meskipun mudah empati atau terharu. Saya tidak pernah
bisa menangis ketika berdoa dan menyesali dosa-dosa saya seperti di
sinetron-sinetron, atau bahkan seperti teman-teman saya yang lain.
Namun, pernah suatu kali saya menangis ketika membacakan surat
Adh-Dhuha dalam salah satu shalat saya, tangisan itu dimulai tepat pada
saat membaca ayat "Tuhanmu tiada meninggalkanmu dan tiada pula benci kepadamu."
Tentunya dengan versi bahasa Al-Qurannya. Anehnya, tangisan itu muncul
dengan sendirinya. Dan setelah itu tidak pernah sekalipun saya menangis
lagi setiap membaca surat tersebut. Sejujurnya, saya merindukan
tangisan itu. Jika anda pernah merasakan tangisan seperti itu, mungkin
anda juga akan merasakan kerinduan yang sama dengan saya. Ada kesadaran
bahwa saya ternyata sangat lemah dan tidak memiliki apa pun, namun pada
saat yang sama saya merasa yakin segalanya akan baik-baik saja.
Entahlah. Mungkin karena pada saat itu saya sedikit menghayati arti
dari ayat tersebut. Mungkin…
Ada satu ayat lagi yang menjadi
favorit saya, yaitu At-Tahrim ayat 8. Secara keseluruhan berbicara
tentang perintah tobat, namun yang menjadikan ayat ini sebagai favorit
karena di dalamnya termuat sebuah do’a. Meskipun, alasan pertama saya
memfavoritkan ayat ini lebih dikarenakan ada ’sesuatu’ di dalam do’a
tersebut yang tidak bisa dan tidak tepat saya ceritakan di sini. Namun,
terlepas dari alasan apa pun, pada akhirnya do’a tersebut selalu saya
lafalkan dalam setiap kesempatan saya berdo’a.
S 3 K 3 L 0 4. 02.45. 060407.
NB : Btw, ada yang menjadikan surat An-Nisa:3 sebagai ayat favorit nggak ya? Heuheuheu…
Refleksi | Comments (5)
