Seri Takdir II : Allah Programmer Terhebat
Saya sempat tersentak ketika menyadari bahwa ternyata, jika apa yang
saya pikirkan benar, Allah ‘menulis’ catatanNya persis seperti seorang
programmer membuat program. Dan konsep yang digunakan adalah tree atau
menggunakan if-bersarang (nested-if).
Dalam dunia pemrograman komputer, konsep if merupakan salah satu
‘nyawa’ dari suatu pemrograman komputer. Bisa dipastikan, seluruh
program (software) yang kita
pakai menggunakan kondisional if dalam proses pengolahan datanya. If
digunakan untuk melakukan pemilihan terhadap suatu kondisi.
Sederhananya, kondisional if digunakan sebagai pengambil keputusan.
Berikut ini saya gunakan sintak script PHP untuk memberikan gambaran,
bagi yang tidak ‘tertarik’ membaca sintak di bawah ini, mohon maaf yang
sebesar-besarnya, namun bagi para programmer, saya yakin sintak di
bawah ini sudah tidak asing lagi.
<?php
$value = 10; // variabel value diberi nilai 10
if ( $value <= 5 ) { // variabel value di cek, apakah nilai pada variabel value kurang atau = 5?
echo "Anda tidak lulus kuliah"; // jika ya, maka akan ditampilkan tulisan ‘Anda tidak lulus kuliah’
}else {
echo "Anda lulus kuliah"; // jika tidak, maka akan ditampilkan tulisan ‘Anda lulus kuliah’
}
// karena $value bernilai 10, maka pesan yang akan ditampilkan adalah ‘Anda lulus kuliah’
?>
Adapun if-bersarang (nested-if) merupakan if yang berada di dalam if. Contoh:
<?php
// … bla bla bla ….
if ( $sex == ‘pria’ ) { // awal dari if pria (level I)
if ( $kulit == ‘merah’ ){ // level II
echo "Anda seorang pria keturunan indian ya?";
}else if ( $kulit == ‘kuning’ ){ // level II
echo "Anda seorang pria keturunan china ya?";
}else if ( $kulit == ‘hitam’ ){ // level II
echo "Arang kali ya?";
}
} // akhir dari if pria
if ( $sex == ‘wanita’ ) { // awal dari if wanita (level I), satu level dengan if pria
if ( $kulit == ‘hitam’ ){ // level II
echo "Sering-sering pake pemutih dong, non!!";
}else if ( $kulit == ‘coklat’ ){ // level II
echo "Masih mendingan lah…";
}
} // akhir dari if wanita
?>
Dari
sintak program di atas, alur ceritanya begini… Program akan
memeriksa, apa jenis kelamin anda? Ada 2 pilihan di sana, pria dan
wanita. Jika kita menjawab pria, kita diberi pilihan lagi, ada 3
pilihan warna: merah, kuning dan hitam. Pesan yang dimunculkan,
tegantung dari 2 jawaban kita sebelumnya. Dari 2 ‘pertanyaan’ itu saja,
kita memiliki 1 dari 5 kemungkinan jawaban. Namun, yang jelas, kita
hanya akan mendapatkan 1 jawaban. Dalam hidup, 1 jawaban itulah yang
kemudian dinamakan takdir kita. Bedanya dengan program komputer adalah
kita tidak bisa kembali lagi untuk mendapatkan jawaban yang berbeda.
Sekali kita mendapatkan jawaban itu, sudah, pilihan lain hilang.
Sementara pada program komputer, kita bisa memberikan input dan
menghasilkan output yang berbeda setiap saat.
Gambar Tree
Saya benar-benar
tidak bisa membayangkan bagaimana rumitnya ‘program’ yang Allah buat.
Bahkan jika jutaan komputer digabungkan untuk bekerja ‘menjalankan
program’ Allah tesebut, saya jamin tidak akan pernah bisa. Berbeda
dengan program buatan manusia, program buatan Allah dipastikan tidak
memiliki ‘bug’ sama sekali. Semuanya berjalan sesuai dengan rencanaNya.
Dengan cara seperti ini, saya juga bisa lebih mudah memahami apa yang
dimaksud dengan ‘kehendak Allah’, persis sama dengan bagaimana seorang
programmer merancang program yang dibuatnya. Bagaimana program itu
dirancang, bagaimana pengolahan data pada program tersebut, semuanya
terserah pada programmer tersebut. Dengan kata lain, apapun yang
dikehendaki oleh programmer, semuanya ‘dituliskan’ dan ‘dicurahkan’
dalam program tersebut. Suka-suka programmer, itulah ‘kehendak
programmer’, programmer rules!! Dengan begitu, programmer tersebut
sudah tahu bagaimana program yang dibuatnya akan bekerja. Sedangkan
user harus membaca manual book terlebih dahulu untuk bisa menjalankan
program tersebut dengan benar. Dalam kehidupan kita, Allah adalah
programmernya, manusia adalah usernya, kehidupan ini adalah programnya
dan manual booknya adalah Al-Quran. Bagaimana user menggunakan
programnya, itu semuanya menjadi tanggung jawab user. Bagaimana
seseorang menggunakan ‘kehidupannya’, semuanya tanggung jawab manusia
itu sendiri. Programmer tidak bertanggung jawab atau tidak bisa
disalahkan dalam penyalahgunaan program oleh user.
Seorang
programmer akan memberikan warning (peringatan) dalam programmnya
apabila seorang user melakukan kesalahan dalam pengolahan data.
Misalnya, salah input tipe data atau mencoba memasuki area yang
terlarang. Dengan cara seperti ini, user bisa memahami, memperbaiki dan
tidak mengulangi lagi kesalahannya tersebut. Begitu juga dengan apa
yang Allah lakukan terhadap manusia. Adakalanya peringatan dari Allah
sangat lembut, namun adakalanya terasa sangat keras. Semuanya
tergantung dari besar kecilnya kesalahan yang kita lakukan.
Leave a Reply
