Seri Takdir I : Jaring-jaring Takdir
Sebelum membahas masalah yang menjadi inti tulisan ini, yaitu takdir, saya ingin meminta maaf buat Obenk, Opie dan Ila
karena belum bisa memenuhi request tulisannya. Saat menulis ini, yang
paling ‘mendesak’ untuk segera dituliskan adalah tentang takdir ini.
Gara-garanya sewaktu chatting sama Agus Uban
yang lagi kebingungan setelah membaca tentang masalah-masalah yang
selalu menjadi ’serangan’ orang-orang yang sinis terhadap Islam. Dan
memang pertanyaan-pertanyan yang Agus tanyakan kepada saya adalah
perkara yang penting dan bisa menyesatkan. Namun, dengan menuliskan
ini, tidak berarti saya adalah orang yang paham sekali tentang Islam.
Saya juga seringkali ‘mati kutu’ ketika membaca pertanyaan-pertanyaan
yang memojokkan Islam dan ajarannya.
Mudah-mudahan tulisan ini
bisa menjawab apa yang selalu ‘dibingungkan’ oleh sebagian diantara
kita, tentang Takdir. Satu hal yang harus menjadi perhatian, tulisan
ini bukanlah bentuk final dari pemikiran saya, suatu saat bisa berubah
jika mendapatkan kritikan atau tambahan yang saya yakini kebenarannya.
Sedikit sekali tulisan tentang takdir yang saya baca, karena itu hasil
pemikiran ini bisa dikatakan berasal dari perenungan-perenungan saja.
Tidak menutup kemungkinan juga, ada juga tulisan yang serupa dengan
tulisan saya ini. Beberapa saat lalu, saya juga pernah menuliskan
tentang takdir di blog ini. Namun, pendekatan kali ini sedikit berbeda.
Saya
membagi tulisan ini menjadi beberapa sesi. Setidaknya, melalui tulisan
Seri Takdir ini, saya bisa berbagi pemahaman. Pendekatan yang saya
gunakan dalam tulisan ini sebetulnya cukup umum, namun seringkali tidak
kita sadari. Satu hal yang saya yakini adalah…"inilah yang
sebenarnya". Coba saja pertemukan pemahaman saya dalam tulisan ini
dengan ayat-ayat Al-Quran atau Hadits, insya allah tidak ditemukan
pertentangan. Namun, saya selalu terbuka untuk perbaikan-perbaikan,
karena pikiran manusia tidak sempurna, apalagi dengan informasi yang
terbatas. Saya juga tidak tahu apakah tulisan-tulisan ini mudah
dipahami atau tidak, yang jelas saya sudah berusaha untuk menuliskannya
dengan bahasa yang mudah dipahami.
Sederhananya, inti dari
pertanyaan Agus adalah "Jika segala sesuatu sudah ditetapkan oleh Allah
dalam catatanNya, bahkan daun yang jatuh sekalipun, lantas untuk apa
kita berusaha? untuk apa kita berdo’a? Apakah itu berarti, misalnya,
suami-istri yang bercerai juga sudah ditetapkan oleh Allah harus
bercerai?"
Satu hal yang menjadi sorotan saya adalah pemahaman
mengenai ‘catatanNya’. Apakah catatan/ketetapan itu menentukan
bagaimana ‘pastinya’ kehidupan seseorang dari sejak lahir sampai
meninggal? Misal, si A sudah dipastikan untuk menjadi pengacara, si B
sudah dipastikan jadi pelacur, atau si D sudah dipastikan mati karena
dibunuh. Jika seperti itu kenyataannya, Anda berhak untuk mengatakan
bahwa Allah tidak adil. Akan tetapi, logika sederhana saya tidak
‘mengatakan’ seperti itu.
Menurut saya, isi catatanNya berbentuk
persis seperti jaring laba-laba (web), atau jaringan jalan atau dalam
Ilmu komputer dikenal dengan konsep tree. Setiap titik dan detik
kehidupan yang kita lalui berisi berbagai macam pilihan. Misal, kita
bertemu dengan seseorang yang menarik hati kita di angkot, ada berbagai
kemungkinan yang bisa kita lakukan. Kita bisa mencoba berkenalan, bisa
juga cuma sekedar ‘ngelihatin’ aja, kita cuekin, kita beri senyuman,
atau misalnya kita tampar. Itu semua adalah berbagai macam kemungkinan
yang bisa kita lakukan. Pilihan manapun yang kita ambil, akan
memberikan ‘efek’ yang berbeda dalam hidup kita. Jika kita berkenalan,
bisa jadi kita dapat nomor telepon rumahnya. Namun, jika kita tampar
dia, tentu hasilnya belum tentu sama. Nah, berbagai kemungkinan inilah
yang sebenarnya menjadi catatanNya tersebut.
Lebih mudah jika
kita memisalkan sedang berada di sebuah persimpangan jalan. Kita hanya
boleh memilih satu jalan, kita tidak pernah tahu apa yang ada di
sepanjang jalan-jalan tersebut. Sekali kita memilih salah satu jalan
yang ingin, kita tidak bisa kembali. Setiap jalan berakhir pada ujung
yang berbeda. Adakalanya, di jalan yang kita pilih, kita dihadapkan
lagi dengan persimpangan lain. Terus seperti itu. Suka atau tidak suka
dengan ‘pemandangan’ dan ‘fasilitas’ yang ada di jalan yang kita pilih,
itulah pilihan kita. Itulah takdir kita. Perkaranya adalah kita
dituntut untuk memilih jalan yang benar, jika pilihan kita salah, maka
dipastikan kita akan menyesal selamanya. Nah, untuk memilih jalan yang
benar tersebut, Allah sudah menempatkan petunjukNya. Seringkali kita
sudah tahu dengan petunjuk tersebut, tapi kita sering mengabaikan
petunjuk tersebut. Inilah yang menjadikan seseorang tersesat di suatu
jalan.
Jadi, sebetulnya untuk satu orang saja, ada berbagai
macam kemungkinan yang dicatat olehNya. Ada berjuta kemungkinan yang
bisa terjadi dalam diri kita, segalanya tergantung pilihan-pilihan
kita. Satu pilihan kita ambil, itulah yang menjadi takdir kita. Allah
hanya menetapkan berjuta-juta pilihan dan hasil dari pilihan tersebut
dalam catatanNya, kita lah decision maker nya. Maka, disinilah luar
biasanya Allah. Untuk satu orang saja ada jutaan kemungkinan, apalagi
mengatur kemungkinan-kemungkinan berjalannya alam semesta ini. Itu
berarti ada jutaan kemungkinan juga bagaimana kehidupan manusia ini
bisa berjalan.
Maka, dengan konsep ini, saya meyakini ada ribuan
kemungkinan kita menikah dengan orang yang berbeda, ada jutaan
kemungkinan cara kita mati, ada jutaan kemungkinan juga kita
mendapatkan rezeki. Semuanya tergantung kepada apa yang menjadi pilihan
kita. Pilihan manapun yang kita ambil, Allah sudah tahu bagaimana nasib
kita selanjutnya, karena Allah sudah mencatat kemungkinan-kemungkinan
itu. Dengan kata lain, mungkin, Allah hanya sedang ‘menonton’ saja saat
ini, karena segala kemungkinan sudah tercatat. Sementara 2 malaikat
yang setia mengikuti kita hanya membantu ‘menandai’ pilihan kita,
persis seperti kita mengerjakan pilihan berganda, hanya saja pilihannya
luar biasa banyaknya.
Satu hal yang paling menarik dari konsep
ini adalah bahwa kematian selalu terselip di setiap kemungkinan itu. Di
setiap ‘persimpangan jalan’, kita selalu dihadapkan dengan pilihan atau
kemungkinan untuk mati. Sungguh benar apa yang Rasulullah ajarkan bahwa
kematian sangat dekat dengan kita. Dengan kata lain, dalam setiap detik
yang kita lalui, kita selalu dihadapkan dengan kemungkinan untuk mati.
Itu artinya, bagaimana kita mati ditentukan juga oleh pilihan-pilihan
hidup kita. Dengan kata lain, mati juga bisa menjadi pilihan kita.
Maka, kemudian kita kenal mati khusnul khotimah dan su’ul khotimah
dalam Islam. Kedua jenis kematian tersebut tergantung dengan apa yang
kita lakukan selama hidup kita. Oleh karena itu, kematian khusnul
khotimah bisa diusahakan. Bahkan, ‘kemungkinan’ anda bunuh diri setelah
membaca tulisan ini pun sudah tercatat.
Hal ini juga berarti bahwa
panjang umur juga bisa diusahakan.
Sebagai contoh, seseorang
yang mati karena gangguan jantung yang diakibatkan oleh tidak pernah
berolahraga. Jika saja orang tersebut sering melakukan olahraga, maka
belum tentu orang tersebut mati karena gangguan jantung. Atau orang
yang mati karena tertabrak kereta, dia akan tetap hidup jika tidak
berjalan di rel kereta tersebut. Namun, di titik manapun kita berada
saat ini, toh kita tetap tidak pernah tahu bagaimana dan kapan kita
mati, tapi Allah bahkan sudah menetapkan seluruh kemungkinan kondisi
kematian kita.
Kemungkinan kita berdo’a juga sudah tercatat
dalam catatanNya. Oleh karena itu, menurut saya, bentuk pengabulan do’a
tersebut pun sudah tercatat. Bagaimanapun, berdo’a juga adalah sebuah
pilihan. Benarlah sabda Rasulullah yang menyatakan bahwa do’a setiap
hamba itu dipastikan terkabul, kecuali orang-orang yang ‘memakan’ harta
haram. Jadi, terkabul atau tidaknya do’a yang kita ucapkan kepada Allah
juga tergantung dari bagaimana kondisi kita ketika berdo’a.
Leave a Reply