Istiqamah Kuadrat TM

March 16th, 2007

Istiqamah, arti sederhananya komitmen, konsisten, berkesinambungan,
kontinyu. Arti-arti tersebut tidak saya dapatkan dari kamus, asal saja,
diartikan sakadaek
(semaunya), karena memang dalam praktiknya istiqamah merujuk kepada
kata-kata itu. Untuk membangun sebuah konsistensi dalam diri kita
ternyata bukan hal yang mudah tapi juga tidak terlalu sulit sebetulnya.
Masalahnya, untuk membangun sebuah konsistensi, diperlukan komitmen,
ketekunan, kegigihan, kesabaran, keteraturan dan konsisten itu sendiri.
Itulah sebabnya saya menggunakan istilah Istiqamah KuadratTM, karena untuk bisa istiqamah (konsisten), kita juga harus bisa istiqamah untuk tetap istiqamah.

Dalam sebuah hadits kan ada ungkapan "Allah menyukai seseorang yang melakukan sesuatu yang meskipun sedikit, tapi dilakukan secara terus menerus (dawam)".
Dan hadits tersebut juga tidak hanya merujuk kepada urusan
ibadah-ibadah utama, tapi juga kepada urusan-urusan dunia yang, tentu
saja, tidak menyalahi aturanNya. Maka, sederhananya, Allah menyukai
orang-orang yang konsisten. Konsistensi juga yang membedakan
orang-orang sukses dan tidak.

Sebagai contoh, saya sendiri. Saya
orang sukses? Oh, sayang sekali belum. Untuk saat ini, biarlah saya
merelakan diri masuk kategori orang-orang yang belum sukses. :D Mungkin, bagi yang kebetulan lewat blog ini, dan membaca tulisan ini,
dalam benaknya ada pikiran "Siapa Elu yang merasa perlu dijadikan contoh??" ;)).  Jawabannya "inikan blog gua, suka-suka gua dong mau nulis apa pun!! :p"
meskipun saya juga sadar blognya masih numpang di tempat yang gratisan.
Nah lho, kok jadi nulis ginian? Itu artinya saya sedang tidak
konsisten. Masih nyambung kan? :))

Tanya : Kenapa belum sukses?
Jawab : Karena sampai saat ini, belum ada satu pun target-target saya yang tercapai.
Tanya : Masalahnya apa?

Nah,
untuk jawaban ini, saya bisa saja mengatakan banyak sekali masalahnya.
Namun, ternyata setelah saya renungkan dan saya rumuskan, ternyata
masalah utamanya adalah selama ini saya tidak konsisten. Belum bisa
istiqamah, kurang sabar. Lalu, setelah saya telusuri lagi, ternyata
masalahnya adalah saya belum memiliki komitmen untuk itu. Belum lagi
bicara tentang tidak adanya skala prioritas yang menjadikan saya tidak
fokus terhadap target-target saya. Jadi, dalam kasus saya, dan mungkin
juga kebanyakan diantara kita, fokus, skala prioritas, komitmen, sabar
dan konsisten, semuanya berhubungan. Salah satunya terabaikan,
menjadikan sebuah ancaman terhadap kegagalan pencapaian target.

Sampai
saat ini ‘kata-kata’ tersebut memang belum menjadi bagian dari diri
saya. Selama ini saya lebih suka untuk jadi orang yang ‘dinamis’
daripada yang ’statis’. Bagi saya, coding
seharian, misalnya, adalah sesuatu yang membosankan. Saya lebih iri
melihat Riyani Djangkaru dengan acara Jejak Petualangnya, atau melihat
fotografer yang dikirim bertugas ke luar negeri, daripada jadi
programmer yang handal. Sampai saat ini, hal-hal yang saya ‘cintai’
adalah main sepak bola dan online di internet. Hanya saja sepak bola
kan perlu tim, jadi tidak mungkin main sepak bola sendirian, karena itu
sudah jarang dilakukan. Maka, jika saja di kostan saya ada koneksi
internet, mungkin saya tidak akan pernah keluar dari sana.

Ada puluhan ebook
tentang programming dan komputer di komputer saya. Dengan jumlah yang
banyak itu, seharusnya saya sudah menjadi orang yang ‘pintar’ dalam
bidang itu. Kenyataannya tidak seperti itu. Lagi-lagi, masalahnya
adalah saya tidak bisa bersabar dalam melahap dan mempraktikan isi ebook
tersebut. Meskipun saya menyadari kondisi tersebut sudah sejak lama,
namun perbaikan ke arah itu belum pernah saya lakukan, jadinya begini,
tidak terjadi perubahan yang terlalu signifikan setiap tahun.

Fokus
adalah masalah saya yang lain. Selama ini pikiran saya seperti
meloncat-loncat, mood-mood an. Hari ini ingin mengerjakan ini, besok
ingin mengerjakan yang lain lagi. Suatu saat, Chris, teman saya pernah
‘bertanya’ kepada saya sewaktu melihat judul-judul buku yang ada di
kamar saya. "Don, sebenernya lu tuh pengen ‘kemana’ sih? buku-buku lu tuh nggak berhubungan sama sekali."
Itu karena buku saya macam-macam jenisnya, meskipun yang terbanyak
sebetulnya buku-buku tentang Islam. Bagi Chris, mungkin buku-buku saya
dijadikan parameter tujuan hidup saya. Karena tidak fokus, saya
misalnya belum menemukan yang benar-benar ‘cocok’ untuk saya, sementara
orang lain dengan ’start’ yang sama dengan saya sudah lebih expert.

Hanya
sedikit buku-buku manajemen yang saya baca. Prinsip-prinsip manajemen
saya rasakan pentingnya justru dari diskusi atau sekedar ngobrol dengan
teman-teman yang sebetulnya memiliki masalah yang sama. Devies, teman
kuliah saya yang umurnya 5 tahun lebih tua, pernah mengingatkan agar
kita bisa ‘menikmati’ kebosanan dalam mengerjakan sesuatu hal. Belum
lama, sewaktu diskusi dengan beberapa teman SSG, saya juga mendapati
permasalahan yang sama. Bahwa waktu yang kita miliki ternyata tidaklah
banyak untuk bisa ‘menguasai’ berbagai hal. Maka, dari situ kesadaran
saya terhadap skala prioritas dibangkitkan lagi. Bukan tidak pernah
saya mendengar atau membaca ‘kata-kata’ itu, tapi saya baru menyadari
pentingnya ‘kata-kata’ itu saat ini.

Setelah melakukan analisa
terhadap permasalahan-permasalahan dalam diri saya, maka saya
tersadarkan untuk mencoba bersahabat dengan ‘kebosanan’ dalam mencapai
tujuan-tujuan saya. Saya mulai menyusun target dengan skala prioritas,
lebih difokuskan, lebih terstruktur dan mencoba untuk ‘mencintai’ apa
yang saya kerjakan. Dan itu memang saya rasakan tidak mudah, godaannya
banyak. Saya juga mulai menentukan standar-standar yang harus saya
capai, dan itu berarti ada banyak hal dalam diri saya yang harus saya
perbaiki dan ditingkatkan. Dan ternyata, semua hal itu adalah hal-hal
kecil yang selama ini saya anggap sepele. Ada beberapa standar yang
ingin saya capai. Misalnya, standar sebagai seorang muslim ideal,
standar fisik, standar intelektual. Tentu tidak mungkin saya
memperbaiki semuanya sekaligus, harus dilakukan secara bertahap.
Contoh, jika selama ini jarang sekali shalat berjamaah, maka untuk satu
bulan ke depan, harus bisa shalat berjamaah setiap waktu. Jika shalat
berjamaah ini sudah menjadi bagian dari diri kita (karakter), maka kita
bisa fokus ke masalah lain, misalnya puasa sunat.

Reward dan punishment
juga diperlukan untuk menjaga agar kita tetap konsisten dengan apa yang
kita lakukan. Dari contoh shalat berjamaah tadi, jika sekali saja saya
tidak melakukan shalat berjamaah, maka sebagai hukumannya saya harus
push up 1000x, jika dalam sebulan itu target tercapai, maka saya bisa
makan di restaurant yang agak
mahal. Ini hanya contoh. Masalahnya, kita juga harus tetap konsisten
dalam menghukum diri ini, untuk bisa keras pada diri sendiri, kita
mungkin lebih enggan untuk melakukannya. Namun, justru disinilah sekali
lagi konsistensi kita diuji. Sebetulnya lebih mudah jika ada watcher
(pengawas) dalam hal memberikan hukuman ini. Jadi, sebetulnya, ada
benarnya juga proses mentoring dan kaderisasi yang dilakukan oleh
beberapa organisasi Islam di Indonesia ini. Kalau sistemnya lebih baik,
proses mentoring tidak hanya sekedar sebagai media ‘pencerahan’ atau
ajang curhat, tapi juga bisa sebagai pembentuk karakter seseorang. Hmm,
lagi-lagi saya tersadarkan tentang pentingnya masalah ini. Watcher bisa siapa saja: teman, kakak, adik, istri atau suami.  Yang jelas seorang watcher
adalah orang-orang yang bisa kita mintai ‘tolong’ dalam proses
perbaikan diri. Masalahnya, kita juga seringkali tidak jujur untuk
mengakui kesalahan-kesalahan kita di depan orang lain.

Belum
lama ini, ketika mengikuti sebuah pengajian rutin, saya dibuat
tercengang dengan apa yang pemateri lakukan dalam menghukum dirinya.
Beliau bercerita, ketika targetnya tidak tercapai, maka dia akan
menghukum dirinya dengan ‘menunda’ menggauli istrinya. Beliau juga
bercerita tentang bentuk hukuman yang dilakukan oleh temannya yang
konon sudah menjadi ustadz yang terkenal di Bandung karena hafal 30 juz
Al-Quran. Selama proses menghafal Al-Quran, ustadz tersebut berjanji
untuk tidak tidur di kasur selama target hafalannya belum tercapai,
tapi tidur di lantai. Hal ini serupa dengan apa yang Patih Gadjah Mada
lakukan dengan sumpah palapanya. Sejarah mencatat, Gadjah Mada adalah
seorang patih dari Majapahit yang bercita-cita untuk menyatukan
Nusantara. Selama belum tercapai cita-citanya tersebut, Gadjah Mada
bersumpah untuk tidak makan apapun yang mengandung garam (CMIIW).
Padahal, sebagian besar makanan di Indonesia dipastikan menggunakan
garam sebagai bumbu utamanya. Itupun bentuk sebuah punishment(hukuman) terhadap diri sendiri.

Pyuuuuh.
Ternyata ‘perjalanan’ saya masih sangat panjang ya? Saya harus keras
pada diri sendiri. Ada berbagai macam karakter negatif yang ingin saya
ganti dengan karakter positif, dan karakter positif yang ingin saya
tingkatkan. Anehnya, karakter positif dalam diri seseorang cenderung
lebih mudah dan cepat digantikan dengan karakter negatif. Sementara
untuk menggantikan karakter negatif dengan positif dibutuhkan
perjuangan ekstra keras dan membutuhkan lebih banyak waktu.

Berbicara
tentang proses pengenalan diri, berbicara tentang kelebihan dan
kekurangan kita dan bagaimana memperbaiki atau meningkatkannya, mungkin
dibutuhkan waktu seumur hidup kita sebetulnya. Maka disinilah
pentingnya skala prioritas, proses memilih dan menentukan di jalur mana
kita akan berjalan. Lalu setelah itu kita mantapkan pilihan kita dengan
komitmen kita terhadap pilihan tersebut. Selanjutnya, istiqamah di
jalur tersebut, dan untuk itu diperlukan kesabaran tingkat tinggi,
kegigihan, ketekunan, keuletan, antusiasme dan semangat pantang
menyerah. Haduh, gawat, saya udah ngomong kayak motivator dan trainer hebat aja nih. :))

Siapapun
mereka yang kita kenal sebagai orang-orang yang hebat atau sukses,
pasti melewati proses-proses ini. Zinedine Zidane, Valentino Rossi, AA
Gym, Bill Gates. Saya jadi teringat sewaktu ketika masih SMP dulu. Saya
dan teman-teman PMR saya waktu itu mencatat sebuah prestasi yang cukup
membanggakan. Juara I lomba P3K se-Bogor (Kodya Bogor dan Kabupaten
Bogor). Namun, 2 bulan sebelum mencapai prestasi tersebut adalah sebuah
proses panjang yang melelahkan, membosankan dan memalukan. Tiada hari
tanpa latihan, bahkan di hari minggu sekalipun. Tidak peduli hujan atau
panas, bahkan saya nyaris tenggelam ketika latihan di sungai. Ketika
sedang panas terik, es kelapa menjadi begitu sangat nikmat…(plak!!
kenapa jadi nulis ini ya? :D) Tidak jarang juga terjadi perselisihan
dalam tim. Diantara teman saya malah ada yang kemudian bermasalah
dengan orangtuanya, atau dengan pacarnya gara-gara latihan itu. Namun,
hasilnya justru terasa pada saat perlombaan. Semuanya terasa ‘biasa’
saja dalam perlombaan itu, bahkan kami masih bisa melakukan perlombaan
sambil tertawa dan…menertawakan tim lain. :)) Maka, gelar Juara I
saya rasa sangat layak kami sandang, bukan sebagai penghargaan pada
saat perlombaan tersebut, tetapi sebagai penghargaan atas ‘kerja keras’
ketika persiapan menuju perlombaan tersebut.

Sebetulnya
‘kata-kata’ itu sering kita temukan dalam buku-buku psikologi atau
manajemen. Juga di pelatihan-pelatihan dan ceramah-ceramah. Namun, bagi
saya sendiri selama ini, saya kira ‘kata-kata’ itu bukan hal yang
penting-penting amat. Sampai akhirnya saya merasakan sendiri pentingnya
‘kata-kata’ itu dalam karakter diri saya. Musuh terbesar dari bisa
tidaknya kita konsisten adalah diri kita sendiri, atau mungkin lebih
spesifiknya adalah sifat malas dalam diri kita. Saya merasakan betul
bagaimana kemalasan mengalahkan ‘kata-kata’ itu semua.

Untuk
membangun sebuah konsistensi dalam diri kita memang harus melalui
proses yang panjang dan pahit. Tidak jarang kita harus mengorbankan
banyak hal juga, kesenangan, rasa nyaman, rasa aman, jam tidur. Namun,
seperti yang sudah terbukti pada banyak orang, konsistensi memang
menghasilkan buah yang ‘manis’. Benar kata pepatah, berakit-rakit ke
hulu, berenang-renang ke tepian. Bersakit-sakit dahulu…mati kemudian!
:)) Saat ini, saya memang sedang menyiapkan standar-standar yang ingin
saya capai. Setelah standar-standar itu ada, baru kemudian menentukan
langkah-langkah ‘kecil’ yang akan saya ambil. Setelah mencoba-coba
melakukan analisa SWOT, ternyata…karakter negatif saya lebih dominan
daripada karakter positif saya. Pantas saja saya merasa ‘kacau’ sekali
belakangan ini. Jadi, saya memang harus ‘bekerja’ lebih keras untuk
mengejar ketertinggalan saya, selain itu juga saya harus berpacu dengan
waktu yang belakangan ini terasa terlalu cepat buat saya.
Whew…SEMANGAT!!

S3K3L04. 130307. 23.46.




2 Responses to “Istiqamah Kuadrat TM”

  1.   ila on March 16, 2007 10:34 pm

    Wduh, kerasa kesindir nih.:D Habis aq jg sering gt, gak bisa fokus, sk telat wudhu kalo jamaah di kos, sk lp target yg udh ditulis di agenda, yg paling parah… ternyata aq tmsk org yg gak sk diatur alias ada bakat jd ‘pemberontak’(Eits, kalo soal yg satu ini, gak parah2 banget sih). Kalo dalam dunia pembelajar, udah bisa dibilang termasuk tipe ‘Acak Abstrak’ kali ya. Nah, bisa mbayangin kan…udah acak… abstrak pula!! :p Susah menguatkan tekad untuk tetap fokus pada target yang dicapai. Makanya kadang target2nya sering gak tercapai.

    Btw, mana tuh daftar 101 goal hidup dirimu? Kok belum dikirim sih? Tak tunggu lho.

  2.   Catur on March 17, 2007 2:26 am

    don gwa tambahin, target2 itu juga harus tetep istiqomah ato konsisten, jangan suka rubah-rubah

    btw mo nanya, ada target mo nikah umur berapa don?

    wkakakkaka, ditunggu tulisan tentang kegiatan sehari-harinya

    PS: jd pengen ke kosan doni liad buku2 yg mbeling itu

Comments RSS

Leave a Reply

Name (required)

Email (required)

Website

Speak your mind