http://psychoavatar.blogspot.com/2007/01/segelas-teh-hangat.html http://psychoavatar.blogspot.com/2007/01/cinta-keimanan-dan-kemerdekaan.html
http://psychoavatar.blogspot.com/2007/02/pulpen.html
Seri Takdir III : Bencana dan Takdir Kolektif
Selalu muncul pertanyaan dalam benak setiap orang, apakah bencana alam
dan kecelakaan-kecelakaan dalam dunia transportasi kita sudah
direncanakan oleh Allah? Apakah bencana alam itu suatu ujian, rahmat
ataukah suatu azab?
Mengenai bencana alam seperti tsunami,
gunung meletus atau gempa bumi, bisa dikatakan saya memiliki pendapat
yang ‘mendua’. Menurut saya, bencana-bencana alam tersebut bisa jadi
memang ujian yang sudah Allah rencanakan, atau juga sebagai azab
terhadap manusia. Ada 2 pendapat yang bisa saya kemukakan mengenai
bencana ini. Pertama, bencana alam sudah Allah tentukan kapan waktu
terjadinya pada catatanNya, tidak peduli apakah pada saat itu manusia
yang tertimpa bencana tersebut dalam keadaan ‘baik-baik saja’ dalam
artian tidak bermaksiat kepada Allah atau memang sedang bermaksiat.
Bencana yang seperti inilah yang menjadi ujian bagi manusia. Bagi
orang-orang yang bersabar, ujian tersebut bisa berubah menjadi rahmat,
sementara bagi yang tidak bersabar bisa jadi sebuah siksaan. Di sisi
lain, kita bisa menggunakan frasa ‘fenomena alam biasa’ untuk kasus ini.
Pendapat
kedua, bencana tersebut muncul sebagai teguran atau azab bagi manusia,
artinya bencana tersebut muncul akibat manusia yang sudah terlalu
bermaksiat, musyrik misalnya. Sederhananya begini, katakanlah dalam
suatu desa, memiliki jumlah warga sebanyak 20 orang. Dari 20 orang
tersebut, 15 orang sudah menjadi musyrik. Dalam catatanNya, misalnya,
jika ada 16 orang yang musyrik, maka akan terjadi gempa yang
memporakporandakan desa tersebut. Selama orang yang musyrik itu tidak
bertambah menjadi 16, apalagi berkurang, maka gempa itu tidak akan
pernah terjadi. Ini sesuai dengan salah satu hadits Rasulullah yang
menyatakan bahwa suatu kaum terhindar dari azab karena ada salah
seorang ‘warga’nya yang mengagungkan nama Allah. Al-Quran juga
memberikan beberapa contoh kaum yang memang Allah azab karena kesalahan
mereka, itu artinya jika kaum-kaum itu tidak melakukan kesalahan
tersebut, azab tersebut tidak akan pernah ada. Inilah yang saya sebut
Takdir Kolektif.
Lalu bagaimana dengan kecelakaan semacam Adam
Air dan Senopati? Seperti yang pernah saya tulis, segala sesuatu di
dunia ini terikat dalam hukum sebab-akibat yang semuanya sudah diatur
oleh Allah. Kehendak Allah bisa juga diartikan sebagai aturan Allah.
Api padam oleh air atau kulit menjadi keriput ketika tua, itu adalah
sebuah aturan, Allah sudah menentukan segalanya sesuai dengan ukuran.
Karena itu, kasus-kasus kecelakaan pesawat, tenggelamnya kapal-kapal
atau tergelincirnya kereta dari relnya, semuanya tunduk pada aturan
ini. Disitulah peran Allah yang sesungguhnya, menentukan aturan
tersebut. Allah tidak menenggelamkan kapal ataupun menggelincirkan
kereta. Meskipun Allah bisa melakukan hal tersebut, tapi Allah tidak
akan pernah melakukan hal tersebut. Kapal tenggelam pasti ada sebabnya,
kereta tergelincir pasti ada sebabnya, dari sebab-sebab itulah manusia
belajar untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan yang telah dilakukan.
Oleh
karena itu, saya berani mengatakan bahwa kecelakaan-kecelakaan yang
terjadi sesungguhnya disebabkan oleh kesalahan-kesalahan manusia yang
tidak memperhatikan aturan-aturan Allah. Kita tahu, kapasitas suatu
kapal terbatas, tapi kita tetap memaksakan dengan memasukan beban yang
melebihi kapasitas tersebut, maka wajar jika kapal tersebut tenggelam.
Itu adalah aturan. Allah tidak menenggelamkannya, tapi aturan Allah lah
yang menjadikan kapal tersebut tenggelam, kehendak Allah. Disinilah
fungsi akal kita, untuk mengenal dan memahami bagaimana aturan Allah
itu bekerja. Orang Jepang bisa membangun gedung yang tahan gempa karena
menggunakan akal mereka, perahu bisa berlayar karena manusia
menggunakan akalnya. Semua itu mengikuti aturan Allah, ketika aturan
itu kita langgar, bisa dipastikan akan terjadi suatu masalah, entah itu
kecelakaan atau hal-hal lain yang tidak kita harapkan.
Kasus
banjir-banjir yang terjadi di Indonesia adalah contoh dari bencana yang
diakibatkan oleh kesalahan manusia. Banjir bisa diantisipasi bahkan
dihindari, tergantung usaha kita. Sebab-sebab suatu banjir kan bisa
kita ‘baca’. Saluran air yang mampat, kurang lebar atau kurang dalam.
Banjir juga bisa kita hindari dengan membuat drainase yang baik
misalnya, dengan tidak membuang sampah di aliran sungai sehingga tidak
mampat. Jika usaha-usaha tersebut sudah optimal, saya kira banjir bisa
kita hindari. Kecuali, jika terjadi hal-hal yang memang di luar
kekuasaan manusia, seperti hujan selama seminggu tanpa henti sehingga
menyebabkan debit air ‘overload’, sementara seluruh usaha untuk
menghindari banjir sudah optimal, barulah kita bisa ‘menyalahkan’ alam.
Berbeda dengan gempa bumi yang hanya bisa kita prediksi kedatangannya,
meskipun usaha untuk meminimalisir kerugian dan kerusakan akibat gempa
bumi tetap harus kita lakukan. Dalam urusan ‘menaklukan’ gempa, kita
bisa belajar dari Jepang. Ingat, yang bisa kita lakukan adalah
meminimalisir efek dari suatu bencana, bukan meniadakan efek tersebut,
karena berbicara tentang fenomena alam, kita berbicara tentang kekuatan
yang sulit untuk diprediksi dan berada di luar kekuasaan manusia. Hanya
sebatas itulah yang bisa kita lakukan, namun apapun itu wajib dan layak
untuk diusahakan.
Satu hal yang bisa saya simpulkan dari tulisan
Seri Takdir ini adalah bahwa Allah mengajarkan manusia untuk selalu
berusaha mendapatkan yang terbaik untuk dirinya. Kalau menggunakan
istilah Andrea Hirata dalam Sang Pemimpi, kita tidak pernah bisa
mendahului takdir. Kita berjalan bersamanya. Apa pun kondisi kita saat
ini, kita masih bisa memperbaikinya. Kita masih bisa mengusahakannya.
Tidak ada yang final sebelum mati. Ada berbagai macam pilihan, namun
kita dituntut untuk selalu memilih yang terbaik.
Saya lebih suka
mengatakan bahwa Allah sedang mendidik kita, Bangsa Indonesia, daripada
menggunakan kata-kata ujian, azab atau siksaan. Sebagaimana halnya
dalam sebuah pendidikan, ujian, hukuman atau peringatan adalah sesuatu
yang lumrah. Sesuatau yang biasa. Namun, untuk bisa melewati sebuah
jenjang pendidikan, kita harus melalui proses belajar yang panjang.
Inilah yang harus kita lakukan, selalu belajar. Tidak hanya belajar
dari kesalahan, tapi juga belajar dari keberhasilan orang lain (bangsa
lain). Dalam setiap proses belajar satu hal yang menjadi pondasinya
adalah membaca. Iqro! Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang
menciptakan!
S 3 K 3 L 0 4. 17 - 27 0307.
Religi | Comments (4)Seri Takdir II : Allah Programmer Terhebat
Saya sempat tersentak ketika menyadari bahwa ternyata, jika apa yang
saya pikirkan benar, Allah ‘menulis’ catatanNya persis seperti seorang
programmer membuat program. Dan konsep yang digunakan adalah tree atau
menggunakan if-bersarang (nested-if).
Dalam dunia pemrograman komputer, konsep if merupakan salah satu
‘nyawa’ dari suatu pemrograman komputer. Bisa dipastikan, seluruh
program (software) yang kita
pakai menggunakan kondisional if dalam proses pengolahan datanya. If
digunakan untuk melakukan pemilihan terhadap suatu kondisi.
Sederhananya, kondisional if digunakan sebagai pengambil keputusan.
Berikut ini saya gunakan sintak script PHP untuk memberikan gambaran,
bagi yang tidak ‘tertarik’ membaca sintak di bawah ini, mohon maaf yang
sebesar-besarnya, namun bagi para programmer, saya yakin sintak di
bawah ini sudah tidak asing lagi.
<?php
$value = 10; // variabel value diberi nilai 10
if ( $value <= 5 ) { // variabel value di cek, apakah nilai pada variabel value kurang atau = 5?
echo "Anda tidak lulus kuliah"; // jika ya, maka akan ditampilkan tulisan ‘Anda tidak lulus kuliah’
}else {
echo "Anda lulus kuliah"; // jika tidak, maka akan ditampilkan tulisan ‘Anda lulus kuliah’
}
// karena $value bernilai 10, maka pesan yang akan ditampilkan adalah ‘Anda lulus kuliah’
?>
Adapun if-bersarang (nested-if) merupakan if yang berada di dalam if. Contoh:
<?php
// … bla bla bla ….
if ( $sex == ‘pria’ ) { // awal dari if pria (level I)
if ( $kulit == ‘merah’ ){ // level II
echo "Anda seorang pria keturunan indian ya?";
}else if ( $kulit == ‘kuning’ ){ // level II
echo "Anda seorang pria keturunan china ya?";
}else if ( $kulit == ‘hitam’ ){ // level II
echo "Arang kali ya?";
}
} // akhir dari if pria
if ( $sex == ‘wanita’ ) { // awal dari if wanita (level I), satu level dengan if pria
if ( $kulit == ‘hitam’ ){ // level II
echo "Sering-sering pake pemutih dong, non!!";
}else if ( $kulit == ‘coklat’ ){ // level II
echo "Masih mendingan lah…";
}
} // akhir dari if wanita
?>
Dari
sintak program di atas, alur ceritanya begini… Program akan
memeriksa, apa jenis kelamin anda? Ada 2 pilihan di sana, pria dan
wanita. Jika kita menjawab pria, kita diberi pilihan lagi, ada 3
pilihan warna: merah, kuning dan hitam. Pesan yang dimunculkan,
tegantung dari 2 jawaban kita sebelumnya. Dari 2 ‘pertanyaan’ itu saja,
kita memiliki 1 dari 5 kemungkinan jawaban. Namun, yang jelas, kita
hanya akan mendapatkan 1 jawaban. Dalam hidup, 1 jawaban itulah yang
kemudian dinamakan takdir kita. Bedanya dengan program komputer adalah
kita tidak bisa kembali lagi untuk mendapatkan jawaban yang berbeda.
Sekali kita mendapatkan jawaban itu, sudah, pilihan lain hilang.
Sementara pada program komputer, kita bisa memberikan input dan
menghasilkan output yang berbeda setiap saat.
Gambar Tree
Saya benar-benar
tidak bisa membayangkan bagaimana rumitnya ‘program’ yang Allah buat.
Bahkan jika jutaan komputer digabungkan untuk bekerja ‘menjalankan
program’ Allah tesebut, saya jamin tidak akan pernah bisa. Berbeda
dengan program buatan manusia, program buatan Allah dipastikan tidak
memiliki ‘bug’ sama sekali. Semuanya berjalan sesuai dengan rencanaNya.
Dengan cara seperti ini, saya juga bisa lebih mudah memahami apa yang
dimaksud dengan ‘kehendak Allah’, persis sama dengan bagaimana seorang
programmer merancang program yang dibuatnya. Bagaimana program itu
dirancang, bagaimana pengolahan data pada program tersebut, semuanya
terserah pada programmer tersebut. Dengan kata lain, apapun yang
dikehendaki oleh programmer, semuanya ‘dituliskan’ dan ‘dicurahkan’
dalam program tersebut. Suka-suka programmer, itulah ‘kehendak
programmer’, programmer rules!! Dengan begitu, programmer tersebut
sudah tahu bagaimana program yang dibuatnya akan bekerja. Sedangkan
user harus membaca manual book terlebih dahulu untuk bisa menjalankan
program tersebut dengan benar. Dalam kehidupan kita, Allah adalah
programmernya, manusia adalah usernya, kehidupan ini adalah programnya
dan manual booknya adalah Al-Quran. Bagaimana user menggunakan
programnya, itu semuanya menjadi tanggung jawab user. Bagaimana
seseorang menggunakan ‘kehidupannya’, semuanya tanggung jawab manusia
itu sendiri. Programmer tidak bertanggung jawab atau tidak bisa
disalahkan dalam penyalahgunaan program oleh user.
Seorang
programmer akan memberikan warning (peringatan) dalam programmnya
apabila seorang user melakukan kesalahan dalam pengolahan data.
Misalnya, salah input tipe data atau mencoba memasuki area yang
terlarang. Dengan cara seperti ini, user bisa memahami, memperbaiki dan
tidak mengulangi lagi kesalahannya tersebut. Begitu juga dengan apa
yang Allah lakukan terhadap manusia. Adakalanya peringatan dari Allah
sangat lembut, namun adakalanya terasa sangat keras. Semuanya
tergantung dari besar kecilnya kesalahan yang kita lakukan.
Seri Takdir I : Jaring-jaring Takdir
Sebelum membahas masalah yang menjadi inti tulisan ini, yaitu takdir, saya ingin meminta maaf buat Obenk, Opie dan Ila
karena belum bisa memenuhi request tulisannya. Saat menulis ini, yang
paling ‘mendesak’ untuk segera dituliskan adalah tentang takdir ini.
Gara-garanya sewaktu chatting sama Agus Uban
yang lagi kebingungan setelah membaca tentang masalah-masalah yang
selalu menjadi ’serangan’ orang-orang yang sinis terhadap Islam. Dan
memang pertanyaan-pertanyan yang Agus tanyakan kepada saya adalah
perkara yang penting dan bisa menyesatkan. Namun, dengan menuliskan
ini, tidak berarti saya adalah orang yang paham sekali tentang Islam.
Saya juga seringkali ‘mati kutu’ ketika membaca pertanyaan-pertanyaan
yang memojokkan Islam dan ajarannya.
Mudah-mudahan tulisan ini
bisa menjawab apa yang selalu ‘dibingungkan’ oleh sebagian diantara
kita, tentang Takdir. Satu hal yang harus menjadi perhatian, tulisan
ini bukanlah bentuk final dari pemikiran saya, suatu saat bisa berubah
jika mendapatkan kritikan atau tambahan yang saya yakini kebenarannya.
Sedikit sekali tulisan tentang takdir yang saya baca, karena itu hasil
pemikiran ini bisa dikatakan berasal dari perenungan-perenungan saja.
Tidak menutup kemungkinan juga, ada juga tulisan yang serupa dengan
tulisan saya ini. Beberapa saat lalu, saya juga pernah menuliskan
tentang takdir di blog ini. Namun, pendekatan kali ini sedikit berbeda.
Saya
membagi tulisan ini menjadi beberapa sesi. Setidaknya, melalui tulisan
Seri Takdir ini, saya bisa berbagi pemahaman. Pendekatan yang saya
gunakan dalam tulisan ini sebetulnya cukup umum, namun seringkali tidak
kita sadari. Satu hal yang saya yakini adalah…"inilah yang
sebenarnya". Coba saja pertemukan pemahaman saya dalam tulisan ini
dengan ayat-ayat Al-Quran atau Hadits, insya allah tidak ditemukan
pertentangan. Namun, saya selalu terbuka untuk perbaikan-perbaikan,
karena pikiran manusia tidak sempurna, apalagi dengan informasi yang
terbatas. Saya juga tidak tahu apakah tulisan-tulisan ini mudah
dipahami atau tidak, yang jelas saya sudah berusaha untuk menuliskannya
dengan bahasa yang mudah dipahami.
Sederhananya, inti dari
pertanyaan Agus adalah "Jika segala sesuatu sudah ditetapkan oleh Allah
dalam catatanNya, bahkan daun yang jatuh sekalipun, lantas untuk apa
kita berusaha? untuk apa kita berdo’a? Apakah itu berarti, misalnya,
suami-istri yang bercerai juga sudah ditetapkan oleh Allah harus
bercerai?"
Satu hal yang menjadi sorotan saya adalah pemahaman
mengenai ‘catatanNya’. Apakah catatan/ketetapan itu menentukan
bagaimana ‘pastinya’ kehidupan seseorang dari sejak lahir sampai
meninggal? Misal, si A sudah dipastikan untuk menjadi pengacara, si B
sudah dipastikan jadi pelacur, atau si D sudah dipastikan mati karena
dibunuh. Jika seperti itu kenyataannya, Anda berhak untuk mengatakan
bahwa Allah tidak adil. Akan tetapi, logika sederhana saya tidak
‘mengatakan’ seperti itu.
Menurut saya, isi catatanNya berbentuk
persis seperti jaring laba-laba (web), atau jaringan jalan atau dalam
Ilmu komputer dikenal dengan konsep tree. Setiap titik dan detik
kehidupan yang kita lalui berisi berbagai macam pilihan. Misal, kita
bertemu dengan seseorang yang menarik hati kita di angkot, ada berbagai
kemungkinan yang bisa kita lakukan. Kita bisa mencoba berkenalan, bisa
juga cuma sekedar ‘ngelihatin’ aja, kita cuekin, kita beri senyuman,
atau misalnya kita tampar. Itu semua adalah berbagai macam kemungkinan
yang bisa kita lakukan. Pilihan manapun yang kita ambil, akan
memberikan ‘efek’ yang berbeda dalam hidup kita. Jika kita berkenalan,
bisa jadi kita dapat nomor telepon rumahnya. Namun, jika kita tampar
dia, tentu hasilnya belum tentu sama. Nah, berbagai kemungkinan inilah
yang sebenarnya menjadi catatanNya tersebut.
Lebih mudah jika
kita memisalkan sedang berada di sebuah persimpangan jalan. Kita hanya
boleh memilih satu jalan, kita tidak pernah tahu apa yang ada di
sepanjang jalan-jalan tersebut. Sekali kita memilih salah satu jalan
yang ingin, kita tidak bisa kembali. Setiap jalan berakhir pada ujung
yang berbeda. Adakalanya, di jalan yang kita pilih, kita dihadapkan
lagi dengan persimpangan lain. Terus seperti itu. Suka atau tidak suka
dengan ‘pemandangan’ dan ‘fasilitas’ yang ada di jalan yang kita pilih,
itulah pilihan kita. Itulah takdir kita. Perkaranya adalah kita
dituntut untuk memilih jalan yang benar, jika pilihan kita salah, maka
dipastikan kita akan menyesal selamanya. Nah, untuk memilih jalan yang
benar tersebut, Allah sudah menempatkan petunjukNya. Seringkali kita
sudah tahu dengan petunjuk tersebut, tapi kita sering mengabaikan
petunjuk tersebut. Inilah yang menjadikan seseorang tersesat di suatu
jalan.
Jadi, sebetulnya untuk satu orang saja, ada berbagai
macam kemungkinan yang dicatat olehNya. Ada berjuta kemungkinan yang
bisa terjadi dalam diri kita, segalanya tergantung pilihan-pilihan
kita. Satu pilihan kita ambil, itulah yang menjadi takdir kita. Allah
hanya menetapkan berjuta-juta pilihan dan hasil dari pilihan tersebut
dalam catatanNya, kita lah decision maker nya. Maka, disinilah luar
biasanya Allah. Untuk satu orang saja ada jutaan kemungkinan, apalagi
mengatur kemungkinan-kemungkinan berjalannya alam semesta ini. Itu
berarti ada jutaan kemungkinan juga bagaimana kehidupan manusia ini
bisa berjalan.
Maka, dengan konsep ini, saya meyakini ada ribuan
kemungkinan kita menikah dengan orang yang berbeda, ada jutaan
kemungkinan cara kita mati, ada jutaan kemungkinan juga kita
mendapatkan rezeki. Semuanya tergantung kepada apa yang menjadi pilihan
kita. Pilihan manapun yang kita ambil, Allah sudah tahu bagaimana nasib
kita selanjutnya, karena Allah sudah mencatat kemungkinan-kemungkinan
itu. Dengan kata lain, mungkin, Allah hanya sedang ‘menonton’ saja saat
ini, karena segala kemungkinan sudah tercatat. Sementara 2 malaikat
yang setia mengikuti kita hanya membantu ‘menandai’ pilihan kita,
persis seperti kita mengerjakan pilihan berganda, hanya saja pilihannya
luar biasa banyaknya.
Satu hal yang paling menarik dari konsep
ini adalah bahwa kematian selalu terselip di setiap kemungkinan itu. Di
setiap ‘persimpangan jalan’, kita selalu dihadapkan dengan pilihan atau
kemungkinan untuk mati. Sungguh benar apa yang Rasulullah ajarkan bahwa
kematian sangat dekat dengan kita. Dengan kata lain, dalam setiap detik
yang kita lalui, kita selalu dihadapkan dengan kemungkinan untuk mati.
Itu artinya, bagaimana kita mati ditentukan juga oleh pilihan-pilihan
hidup kita. Dengan kata lain, mati juga bisa menjadi pilihan kita.
Maka, kemudian kita kenal mati khusnul khotimah dan su’ul khotimah
dalam Islam. Kedua jenis kematian tersebut tergantung dengan apa yang
kita lakukan selama hidup kita. Oleh karena itu, kematian khusnul
khotimah bisa diusahakan. Bahkan, ‘kemungkinan’ anda bunuh diri setelah
membaca tulisan ini pun sudah tercatat.
Hal ini juga berarti bahwa
panjang umur juga bisa diusahakan.
Sebagai contoh, seseorang
yang mati karena gangguan jantung yang diakibatkan oleh tidak pernah
berolahraga. Jika saja orang tersebut sering melakukan olahraga, maka
belum tentu orang tersebut mati karena gangguan jantung. Atau orang
yang mati karena tertabrak kereta, dia akan tetap hidup jika tidak
berjalan di rel kereta tersebut. Namun, di titik manapun kita berada
saat ini, toh kita tetap tidak pernah tahu bagaimana dan kapan kita
mati, tapi Allah bahkan sudah menetapkan seluruh kemungkinan kondisi
kematian kita.
Kemungkinan kita berdo’a juga sudah tercatat
dalam catatanNya. Oleh karena itu, menurut saya, bentuk pengabulan do’a
tersebut pun sudah tercatat. Bagaimanapun, berdo’a juga adalah sebuah
pilihan. Benarlah sabda Rasulullah yang menyatakan bahwa do’a setiap
hamba itu dipastikan terkabul, kecuali orang-orang yang ‘memakan’ harta
haram. Jadi, terkabul atau tidaknya do’a yang kita ucapkan kepada Allah
juga tergantung dari bagaimana kondisi kita ketika berdo’a.
Vote!!
Beberapa saat lalu, atas saran dari Kang Shodiq, saya memberanikan diri untuk mengikutsertakan beberapa tulisan saya dalam Pemilihan Top Posts Jan-Feb 2007, dimana beliau sebagai penyelenggaranya. Tulisan-tulisan yang saya ikutsertakan adalah :
Dan…surprise…surprise. Setelah membaca postingan terbaru Kang Shodiq, dua tulisan saya, Pulpen dan Segelas Teh Hangat masuk menjadi nominasi. Whehehe. Pulpen masuk dalam kategori Holistic, sementara Segelas Teh Hangat masuk ke dalam nominasi di kategori Critical. Adapun tulisan yang lain, Cinta, Keimanan dan Kemerdekaan tidak masuk nominasi. Padahal tulisan itu yang paling saya jagokan.
Ada beberapa kemungkinan tulisan saya masuk nominasi. Pertama, karena memang bagus, itu berarti sebuah ‘pengakuan’ untuk tulisan saya. Dan yang kedua, bisa jadi karena yang menyertakan tulisan dalam kategori tersebut sedikit, itu berarti tulisan saya ‘terpaksa’ jadi nominasi. Heu3x. Namun, apapun itu, ada perasaan ‘bangga’ dan ’senang’ dalam diri saya. Hmm, pantesan ya penulis-penulis yang bisa menerbitkan buku bisa menjadi sangat bahagia.
Ada beberapa kemungkinan juga tulisan yang lain tidak masuk nominasi. Bisa jadi karena tulisan ‘pesaing’ lain lebih baik dan bisa jadi saya salah memasukan kategori. Kalau yang pertama yang terjadi, saya kalah terhormat. Kalau yang kedua, itu karena ‘ketololan’ saya :))
Agak ‘berat’ untuk menjadi pemenang sebetulnya. Tulisan saya bersaing dengan tulisan-tulisan yang ternyata jauh lebih baik. Ada tulisan mbak Lita yang bersaing dengan Segelas Teh Hangat, yang menurut saya isinya jauh lebih menarik. Tulisan-tulisan lain pun tidak kalah menarik dan berbobot.
Bagi saya, hal ini bisa jadi sebagai sebuah ‘hiburan’, setelah dalam beberapa kali ‘perlombaan’ , tulisan saya ‘kalah bersaing’. Pertama, sewaktu mbak Asma Nadia mengadakan tulisan tentang poligami, kemudian ketika Kang Shodiq mengajak saya untuk menyumbang tulisan tentang ‘Muslim Romantis’. Namun, bagi saya hal tersebut tidak pernah terlalu mengganggu pikiran saya. Saya masih pemula dalam dunia tulis menulis, masih harus banyak belajar. Jujur saja, tulisan saya pernah dikoreksi habis-habisan oleh seorang calon Sarjana Bahasa Indonesia
Namun, manfaatnya terasa. Belakangan, tulisan saya jadi lebih enak dibaca, katanya.
Intinya, kalau ingin ikut serta jadi juri, segera kunjungi http://muhshodiq.wordpress.com/2007/03/24/pemilihan-top-posts-jan-feb-2007/. Penjurian hanya dibuka dari tanggal 26 - 31 Maret 2007 dan terbuka untuk siapapun. Meskipun kalau menurut saya terlalu pendek waktunya, karena untuk membaca seluruh tulisan tersebut bisa menghabiskan waktu ’seharian’. Apalagi kalau yang di warnet.
Kalau boleh ‘memaksa’, saya ingin memaksa Anda untuk memberikan suara pada tulisan saya. Heuheuheu. Namun, itu tidak akan saya lakukan. Jika Anda punya waktu luang lebih banyak, jadilah juri, baca semua tulisan di sana, dan pilihlah yang menurut Anda tulisan terbaik. Ada banyak tulisan bagus, sayang kalau Anda lewatkan begitu saja.
Selamat membaca.
S 3 K 3 L 0 4. 270307.
Ditulis ngedadak.
Istiqamah Kuadrat TM
Istiqamah, arti sederhananya komitmen, konsisten, berkesinambungan,
kontinyu. Arti-arti tersebut tidak saya dapatkan dari kamus, asal saja,
diartikan sakadaek
(semaunya), karena memang dalam praktiknya istiqamah merujuk kepada
kata-kata itu. Untuk membangun sebuah konsistensi dalam diri kita
ternyata bukan hal yang mudah tapi juga tidak terlalu sulit sebetulnya.
Masalahnya, untuk membangun sebuah konsistensi, diperlukan komitmen,
ketekunan, kegigihan, kesabaran, keteraturan dan konsisten itu sendiri.
Itulah sebabnya saya menggunakan istilah Istiqamah KuadratTM, karena untuk bisa istiqamah (konsisten), kita juga harus bisa istiqamah untuk tetap istiqamah.
Dalam sebuah hadits kan ada ungkapan "Allah menyukai seseorang yang melakukan sesuatu yang meskipun sedikit, tapi dilakukan secara terus menerus (dawam)".
Dan hadits tersebut juga tidak hanya merujuk kepada urusan
ibadah-ibadah utama, tapi juga kepada urusan-urusan dunia yang, tentu
saja, tidak menyalahi aturanNya. Maka, sederhananya, Allah menyukai
orang-orang yang konsisten. Konsistensi juga yang membedakan
orang-orang sukses dan tidak.
Sebagai contoh, saya sendiri. Saya
orang sukses? Oh, sayang sekali belum. Untuk saat ini, biarlah saya
merelakan diri masuk kategori orang-orang yang belum sukses.
Mungkin, bagi yang kebetulan lewat blog ini, dan membaca tulisan ini,
dalam benaknya ada pikiran "Siapa Elu yang merasa perlu dijadikan contoh??" ;)). Jawabannya "inikan blog gua, suka-suka gua dong mau nulis apa pun!! :p"
meskipun saya juga sadar blognya masih numpang di tempat yang gratisan.
Nah lho, kok jadi nulis ginian? Itu artinya saya sedang tidak
konsisten. Masih nyambung kan? :))
Tanya : Kenapa belum sukses?
Jawab : Karena sampai saat ini, belum ada satu pun target-target saya yang tercapai.
Tanya : Masalahnya apa?
Nah,
untuk jawaban ini, saya bisa saja mengatakan banyak sekali masalahnya.
Namun, ternyata setelah saya renungkan dan saya rumuskan, ternyata
masalah utamanya adalah selama ini saya tidak konsisten. Belum bisa
istiqamah, kurang sabar. Lalu, setelah saya telusuri lagi, ternyata
masalahnya adalah saya belum memiliki komitmen untuk itu. Belum lagi
bicara tentang tidak adanya skala prioritas yang menjadikan saya tidak
fokus terhadap target-target saya. Jadi, dalam kasus saya, dan mungkin
juga kebanyakan diantara kita, fokus, skala prioritas, komitmen, sabar
dan konsisten, semuanya berhubungan. Salah satunya terabaikan,
menjadikan sebuah ancaman terhadap kegagalan pencapaian target.
Sampai
saat ini ‘kata-kata’ tersebut memang belum menjadi bagian dari diri
saya. Selama ini saya lebih suka untuk jadi orang yang ‘dinamis’
daripada yang ’statis’. Bagi saya, coding
seharian, misalnya, adalah sesuatu yang membosankan. Saya lebih iri
melihat Riyani Djangkaru dengan acara Jejak Petualangnya, atau melihat
fotografer yang dikirim bertugas ke luar negeri, daripada jadi
programmer yang handal. Sampai saat ini, hal-hal yang saya ‘cintai’
adalah main sepak bola dan online di internet. Hanya saja sepak bola
kan perlu tim, jadi tidak mungkin main sepak bola sendirian, karena itu
sudah jarang dilakukan. Maka, jika saja di kostan saya ada koneksi
internet, mungkin saya tidak akan pernah keluar dari sana.
Ada puluhan ebook
tentang programming dan komputer di komputer saya. Dengan jumlah yang
banyak itu, seharusnya saya sudah menjadi orang yang ‘pintar’ dalam
bidang itu. Kenyataannya tidak seperti itu. Lagi-lagi, masalahnya
adalah saya tidak bisa bersabar dalam melahap dan mempraktikan isi ebook
tersebut. Meskipun saya menyadari kondisi tersebut sudah sejak lama,
namun perbaikan ke arah itu belum pernah saya lakukan, jadinya begini,
tidak terjadi perubahan yang terlalu signifikan setiap tahun.
Fokus
adalah masalah saya yang lain. Selama ini pikiran saya seperti
meloncat-loncat, mood-mood an. Hari ini ingin mengerjakan ini, besok
ingin mengerjakan yang lain lagi. Suatu saat, Chris, teman saya pernah
‘bertanya’ kepada saya sewaktu melihat judul-judul buku yang ada di
kamar saya. "Don, sebenernya lu tuh pengen ‘kemana’ sih? buku-buku lu tuh nggak berhubungan sama sekali."
Itu karena buku saya macam-macam jenisnya, meskipun yang terbanyak
sebetulnya buku-buku tentang Islam. Bagi Chris, mungkin buku-buku saya
dijadikan parameter tujuan hidup saya. Karena tidak fokus, saya
misalnya belum menemukan yang benar-benar ‘cocok’ untuk saya, sementara
orang lain dengan ’start’ yang sama dengan saya sudah lebih expert.
Hanya
sedikit buku-buku manajemen yang saya baca. Prinsip-prinsip manajemen
saya rasakan pentingnya justru dari diskusi atau sekedar ngobrol dengan
teman-teman yang sebetulnya memiliki masalah yang sama. Devies, teman
kuliah saya yang umurnya 5 tahun lebih tua, pernah mengingatkan agar
kita bisa ‘menikmati’ kebosanan dalam mengerjakan sesuatu hal. Belum
lama, sewaktu diskusi dengan beberapa teman SSG, saya juga mendapati
permasalahan yang sama. Bahwa waktu yang kita miliki ternyata tidaklah
banyak untuk bisa ‘menguasai’ berbagai hal. Maka, dari situ kesadaran
saya terhadap skala prioritas dibangkitkan lagi. Bukan tidak pernah
saya mendengar atau membaca ‘kata-kata’ itu, tapi saya baru menyadari
pentingnya ‘kata-kata’ itu saat ini.
Setelah melakukan analisa
terhadap permasalahan-permasalahan dalam diri saya, maka saya
tersadarkan untuk mencoba bersahabat dengan ‘kebosanan’ dalam mencapai
tujuan-tujuan saya. Saya mulai menyusun target dengan skala prioritas,
lebih difokuskan, lebih terstruktur dan mencoba untuk ‘mencintai’ apa
yang saya kerjakan. Dan itu memang saya rasakan tidak mudah, godaannya
banyak. Saya juga mulai menentukan standar-standar yang harus saya
capai, dan itu berarti ada banyak hal dalam diri saya yang harus saya
perbaiki dan ditingkatkan. Dan ternyata, semua hal itu adalah hal-hal
kecil yang selama ini saya anggap sepele. Ada beberapa standar yang
ingin saya capai. Misalnya, standar sebagai seorang muslim ideal,
standar fisik, standar intelektual. Tentu tidak mungkin saya
memperbaiki semuanya sekaligus, harus dilakukan secara bertahap.
Contoh, jika selama ini jarang sekali shalat berjamaah, maka untuk satu
bulan ke depan, harus bisa shalat berjamaah setiap waktu. Jika shalat
berjamaah ini sudah menjadi bagian dari diri kita (karakter), maka kita
bisa fokus ke masalah lain, misalnya puasa sunat.
Reward dan punishment
juga diperlukan untuk menjaga agar kita tetap konsisten dengan apa yang
kita lakukan. Dari contoh shalat berjamaah tadi, jika sekali saja saya
tidak melakukan shalat berjamaah, maka sebagai hukumannya saya harus
push up 1000x, jika dalam sebulan itu target tercapai, maka saya bisa
makan di restaurant yang agak
mahal. Ini hanya contoh. Masalahnya, kita juga harus tetap konsisten
dalam menghukum diri ini, untuk bisa keras pada diri sendiri, kita
mungkin lebih enggan untuk melakukannya. Namun, justru disinilah sekali
lagi konsistensi kita diuji. Sebetulnya lebih mudah jika ada watcher
(pengawas) dalam hal memberikan hukuman ini. Jadi, sebetulnya, ada
benarnya juga proses mentoring dan kaderisasi yang dilakukan oleh
beberapa organisasi Islam di Indonesia ini. Kalau sistemnya lebih baik,
proses mentoring tidak hanya sekedar sebagai media ‘pencerahan’ atau
ajang curhat, tapi juga bisa sebagai pembentuk karakter seseorang. Hmm,
lagi-lagi saya tersadarkan tentang pentingnya masalah ini. Watcher bisa siapa saja: teman, kakak, adik, istri atau suami. Yang jelas seorang watcher
adalah orang-orang yang bisa kita mintai ‘tolong’ dalam proses
perbaikan diri. Masalahnya, kita juga seringkali tidak jujur untuk
mengakui kesalahan-kesalahan kita di depan orang lain.
Belum
lama ini, ketika mengikuti sebuah pengajian rutin, saya dibuat
tercengang dengan apa yang pemateri lakukan dalam menghukum dirinya.
Beliau bercerita, ketika targetnya tidak tercapai, maka dia akan
menghukum dirinya dengan ‘menunda’ menggauli istrinya. Beliau juga
bercerita tentang bentuk hukuman yang dilakukan oleh temannya yang
konon sudah menjadi ustadz yang terkenal di Bandung karena hafal 30 juz
Al-Quran. Selama proses menghafal Al-Quran, ustadz tersebut berjanji
untuk tidak tidur di kasur selama target hafalannya belum tercapai,
tapi tidur di lantai. Hal ini serupa dengan apa yang Patih Gadjah Mada
lakukan dengan sumpah palapanya. Sejarah mencatat, Gadjah Mada adalah
seorang patih dari Majapahit yang bercita-cita untuk menyatukan
Nusantara. Selama belum tercapai cita-citanya tersebut, Gadjah Mada
bersumpah untuk tidak makan apapun yang mengandung garam (CMIIW).
Padahal, sebagian besar makanan di Indonesia dipastikan menggunakan
garam sebagai bumbu utamanya. Itupun bentuk sebuah punishment(hukuman) terhadap diri sendiri.
Pyuuuuh.
Ternyata ‘perjalanan’ saya masih sangat panjang ya? Saya harus keras
pada diri sendiri. Ada berbagai macam karakter negatif yang ingin saya
ganti dengan karakter positif, dan karakter positif yang ingin saya
tingkatkan. Anehnya, karakter positif dalam diri seseorang cenderung
lebih mudah dan cepat digantikan dengan karakter negatif. Sementara
untuk menggantikan karakter negatif dengan positif dibutuhkan
perjuangan ekstra keras dan membutuhkan lebih banyak waktu.
Berbicara
tentang proses pengenalan diri, berbicara tentang kelebihan dan
kekurangan kita dan bagaimana memperbaiki atau meningkatkannya, mungkin
dibutuhkan waktu seumur hidup kita sebetulnya. Maka disinilah
pentingnya skala prioritas, proses memilih dan menentukan di jalur mana
kita akan berjalan. Lalu setelah itu kita mantapkan pilihan kita dengan
komitmen kita terhadap pilihan tersebut. Selanjutnya, istiqamah di
jalur tersebut, dan untuk itu diperlukan kesabaran tingkat tinggi,
kegigihan, ketekunan, keuletan, antusiasme dan semangat pantang
menyerah. Haduh, gawat, saya udah ngomong kayak motivator dan trainer hebat aja nih. :))
Siapapun
mereka yang kita kenal sebagai orang-orang yang hebat atau sukses,
pasti melewati proses-proses ini. Zinedine Zidane, Valentino Rossi, AA
Gym, Bill Gates. Saya jadi teringat sewaktu ketika masih SMP dulu. Saya
dan teman-teman PMR saya waktu itu mencatat sebuah prestasi yang cukup
membanggakan. Juara I lomba P3K se-Bogor (Kodya Bogor dan Kabupaten
Bogor). Namun, 2 bulan sebelum mencapai prestasi tersebut adalah sebuah
proses panjang yang melelahkan, membosankan dan memalukan. Tiada hari
tanpa latihan, bahkan di hari minggu sekalipun. Tidak peduli hujan atau
panas, bahkan saya nyaris tenggelam ketika latihan di sungai. Ketika
sedang panas terik, es kelapa menjadi begitu sangat nikmat…(plak!!
kenapa jadi nulis ini ya? :D) Tidak jarang juga terjadi perselisihan
dalam tim. Diantara teman saya malah ada yang kemudian bermasalah
dengan orangtuanya, atau dengan pacarnya gara-gara latihan itu. Namun,
hasilnya justru terasa pada saat perlombaan. Semuanya terasa ‘biasa’
saja dalam perlombaan itu, bahkan kami masih bisa melakukan perlombaan
sambil tertawa dan…menertawakan tim lain. :)) Maka, gelar Juara I
saya rasa sangat layak kami sandang, bukan sebagai penghargaan pada
saat perlombaan tersebut, tetapi sebagai penghargaan atas ‘kerja keras’
ketika persiapan menuju perlombaan tersebut.
Sebetulnya
‘kata-kata’ itu sering kita temukan dalam buku-buku psikologi atau
manajemen. Juga di pelatihan-pelatihan dan ceramah-ceramah. Namun, bagi
saya sendiri selama ini, saya kira ‘kata-kata’ itu bukan hal yang
penting-penting amat. Sampai akhirnya saya merasakan sendiri pentingnya
‘kata-kata’ itu dalam karakter diri saya. Musuh terbesar dari bisa
tidaknya kita konsisten adalah diri kita sendiri, atau mungkin lebih
spesifiknya adalah sifat malas dalam diri kita. Saya merasakan betul
bagaimana kemalasan mengalahkan ‘kata-kata’ itu semua.
Untuk
membangun sebuah konsistensi dalam diri kita memang harus melalui
proses yang panjang dan pahit. Tidak jarang kita harus mengorbankan
banyak hal juga, kesenangan, rasa nyaman, rasa aman, jam tidur. Namun,
seperti yang sudah terbukti pada banyak orang, konsistensi memang
menghasilkan buah yang ‘manis’. Benar kata pepatah, berakit-rakit ke
hulu, berenang-renang ke tepian. Bersakit-sakit dahulu…mati kemudian!
:)) Saat ini, saya memang sedang menyiapkan standar-standar yang ingin
saya capai. Setelah standar-standar itu ada, baru kemudian menentukan
langkah-langkah ‘kecil’ yang akan saya ambil. Setelah mencoba-coba
melakukan analisa SWOT, ternyata…karakter negatif saya lebih dominan
daripada karakter positif saya. Pantas saja saya merasa ‘kacau’ sekali
belakangan ini. Jadi, saya memang harus ‘bekerja’ lebih keras untuk
mengejar ketertinggalan saya, selain itu juga saya harus berpacu dengan
waktu yang belakangan ini terasa terlalu cepat buat saya.
Whew…SEMANGAT!!
S3K3L04. 130307. 23.46.
Refleksi | Comments (2)