Gak Mood

February 16th, 2007

Sedikit cerita tentang pameran buku di Landmark Braga yang sudah
berakhir tanggal 7 Februari 2007 lalu. Emang udah basi banget sih.
Hanya saja, pada pameran yang terakhir ini, mood saya tidak terlalu
bagus ternyata. Agak setengah hati untuk belanja buku, padahal biasanya
kan saya selalu bersemangat untuk ngeborong, mungkin karena lagi
‘miskin’ kali ya? Hehehe. Meksipun, pada akhirnya saya berhasil
memindahkan 12 buku dari pameran ke kamar kost saya. *..Pletak!!! Gak
mood???..* Heuheuheu. Dari 12 buku itu, 11 buku beli, 1 gratisan. Dari
11 buku yang dibeli, 10 buat saya, dan 1 lagi sebagai hadiah ulang
tahun yang sudah lama tertunda untuk Neng Oci, udah janji sih. :D

Iklannya
sudah sejak jauh-jauh hari, jadi pada saat tanggal 1 Februari 2007,
hari Kamis, hari perdana pameran, saya sudah nongkrongin di sana, mulai
dari bada ashar sampai hampir tutup jam 9 malam. Biasanya, saya
melihat-lihat dulu dan mengumpulkan data tentang stand mana saja yang
menyediakan diskon besar dan judul bukunya bagus-bagus. Seperti itu
juga pada hari itu, meskipun pada akhirnya saya tidak tahan juga
setelah lihat-lihat stand Diponegoro ada buku-buku lama yang judulnya
menarik dan harganya berkisar antara Rp. 2000,- sampai Rp. 10.000,-.
Jadilah hari itu saya memborong sebanyak 6 buku dari stand diponegoro
dengan harga total Rp. 30.000,-. Huahahahaha,
senangnya….senangnya…:))

Keenam buku tersebut antara lain Membuka Tabir Upaya Orientalis Dalam Memalsukan Islam (Prof. Ahmad Muhammad Jamal), Pandangan Ibnu Khaldun Tentang Ilmu dan Pendidikan (Prof. Fathiyyah Hasan Sulaiman), Alam Pikiran Al-Ghazali Mengenai Pendidikan dan Ilmu (Prof. Fathiyyah Hasan Sulaiman), Percikan Filsafat Iqbal Mengenai Pendidikan (K.G. Saiyadain, B.A, M.ED), Ilmu dan Peradaban Menurut Islam dan Kristen (Muhammad Abduh) dan Mujahid Da’wah
(K.H.M Isa Anshary). Memang kondisi buku tersebut juga tidak
bagus-bagus amat, tapi masih layak dibaca kok, dan masih cukup terjaga
kondisinya. Diantara para pengarang buku-buku tersebut, hanya Muhammad
Abduh dan K.H.M Isa Anshary saja yang cukup familiar namanya di telinga
saya, sisanya saya baru tahu. Muhammad Abduh dikenal sebagai seorang
ulama pembaru dalam pemikiran Islam Abad 20, salah satu karyanya yang
paling fenonemal adalah Tafsir Al-Manar
yang sering dijadikan rujukan untuk menyelesaikan
permasalahan-permasalahan kontemporer di dalam masyarakat. Saya belum
pernah membacanya, kalau ada, mungkin saya beli. Sedangkan K.H.M Isa
Anshary pernah menjadi Ketua Umum Persatuan Islam (PERSIS) periode
1953-1960.

Ada yang menarik ketika saya membaca riwayat hidup
K.H.M Isa Anshary di halaman akhir buku Mujahid Da’wah. Beliau lahir 1
Juli 1916 di Maninjau, Sumatera Barat. Pada usia 10 tahun, beliau sudah
tercatat sebagai Kader PSII Maninjau, kemudian pada saat berusia 13
tahun, beliau sudah menjadi Mubaligh Muhammadiyah. Bandingkan dengan
anak-anak zaman sekarang seusia itu…main PS, nongkrong, ngerokok,
pacaran…Glek! Seumur hidupnya, beliau tercatat sebagai Pejabat atau
anggota Organisasi dan Partai Islam, diantaranya Partai Islam Indonesia
dan Majelis Syuro Muslimin Indonesia (MASYUMI). Sepertinya, beliau
bukan orang yang terlalu peduli dengan nama besar suatu Organisasi atau
Partai, yang penting baginya di sana beliau bisa berdakwah. Pada
awal-awal ‘karir’-nya berdakwah, beliau tercatat sebagai Mubaligh
Muhammadiyah, kemudian beliau juga tercatat sebagai Ketua Umum PERSIS,
dan terakhir tercatat juga sebagai Penasehat Dewan Dakwah Islam
Indonesia (DDII). Padahal, ketiga organisasi tersebut sampai saat ini
masih eksis. Namun, memang organisasi-organisasi tersebut memiliki
kedekatan ‘historis’ diantara tokoh-tokohnya, juga memiliki pola yang
sama, bahkan sampai saat ini pun ketiga organisasi tersebut ’saling
mengisi’ satu sama lain. Sering juga saya temukan orang-orang
Muhammadiyah yang belajar di pesantren-pesantren PERSIS, karena
‘kedekatan’-nya dalam banyak hal.

Ok, cukup tentang K.H.M Isa Anshary. Kembali ke lap…lap pel!! TM
:)) Kiat Sukses Manajemen Rasulullah (Cecep Darmawan, Drs, M.Si)
terbitan Khazanah Intelektual. Kok bisa gratisan? Ceritanya, sekitar
jam 7 malam, panitia mengadakan acara Talkshow, temanya sih tentang
penerbitan buku. Kebetulan saya juga sedang tertarik untuk bikin buku,
jadi lah saya nongkrongin acara tersebut selama lebih kurang 2 jam.
Meskipun tidak terlalu banyak penontonnya, maklum hari pertama, hari
kerja, malam pula, tapi sebetulnya ada banyak informasi menarik tentang
penulisan buku. Tibalah giliran tanya jawab, dan saya mengajukan sebuah
pertanyaan. Karena ikut berperan serta ‘meramaikan’ acara, panitia
ngasih reward kepada para penanya dan saya kebagian buku tersebut.
Jadi, kalau mau dapat buku gratisan selama pameran, banyak-banyak nanya
aja pada saat ada acara talkshow semacam itu. ;))

Tadinya hal
itu akan saya ulangi lagi di hari kedua saya ke pameran, yaitu hari
Sabtu, tanggal 3 Februari 2007. Namun, ternyata yang dibahas adalah
tentang parenting, dan karena waktu mulainya terlambat, sehingga jatah
untuk doorprize digagalkan. Meksipun ada satu lagi acara bedah buku Fullfilling Life,
namun saya tidak memiliki waktu banyak karena mendadak saya harus
berangkat ke Jakarta untuk menjadi relawan bencana banjir. Padahal saya
sudah berencana untuk bertanya agar dapat lagi buku gratisan yang
memang sudah diminta sama Neng Oci, saya sih nggak terlalu minat dengan
buku tersebut, tapi kalau gratisan, siapa yang nolak? Heuheuheu.
Meskipun cukup terburu-buru, tapi akhirnya saya kembali ke kostan
dengan membawa 5 buah buku lagi, yaitu Ijinkan Aku Bertutur (Neno Warisman), Dialog Peradaban (Anii Matta & Ary Ginanjar Agustian), The Kite Runner (Khaled Hosseini), Knights Templar Knights of Christ (Rizki Ridyasmara) dan Sang Pemimpi
(Andrea Hirata) yang sudah saya janjikan untuk Neng Oci. Terus terang
saja, buku-buku tersebut sebetulnya nggak ada dalam rencana pembelian
saya, karena nggak mood dan males muter-muter lagi, buku-buku itulah
yang saya dapatkan. Namun, sepertinya tidak terlalu mengecewakan juga.
Masalahnya sekarang adalah, gara-gara buku itu, perekonomian semakin
sekarat…help!! Mayday Mayday!! S. O .S!! :))

S 3 K 3 L 0 4. 150207. 18.15.




5 Responses to “Gak Mood”

  1.   Catur on February 16, 2007 5:32 pm

    Maneh mah keur teu mood 12 buku kumaha mun keur mood, sa pameran meureun

    don ada rekomendasi judul buku teu jang nu keur jomblo?? urang rek mere informasi ka ‘musuh’ urang, apal meurun maneh saha, ehehehe

  2.   Donny on February 23, 2007 7:40 am

    Wah, naon nya…? teu apal ah buku-buku kitu mah ;))

  3.   rosi on February 26, 2007 5:25 pm

    Hatur nuhun untuk Sang Pemimpi-nya :) Saya jadi ngerasa bersalah karena jadi salah satu penyebab kondisi perekonomianmu jadi sekarat :D Padahal mah saya cuma becanda minta pangbeliin teh. Dirimu mah bageur teuing atuh da… :p

    Sebenarnya buku Fulfilling Life itu rencana mau saya kasih buat seorang sahabat saya, seorang penderita “sindrom pesimisme akut”. Siapatau buku itu bisa sedikit memotivasi beliau.

    Sudah dibacakah smua buku itu? Tong hilap rikwes books review na nya, diantosan! :)

  4.   Donny on March 1, 2007 1:58 am

    Dulu kan pernah janji ngasih hadiah ultah tea…:D Daripada ntar-ntar melulu, takut nggak terpenuhi janjinya.

    Review ya? mmm….

  5.   rosi on March 1, 2007 7:45 pm

    Kalo nggak, daku pinjem aja deh buku-bukuna. Ntar daku sampulin :D

Comments RSS

Leave a Reply

Name (required)

Email (required)

Website

Speak your mind