The Art of Life : Jawaban untuk Pertanyaan Seorang Sahabat
Pada suatu malam yang cukup dingin, ketika saya sedang browsing di
suatu warnet dekat kost-an, sebuah SMS menggetarkan HP dalam saku
celana saya. Dari seorang teman, Catur. Isi SMS nya membuat saya
berpikir keras untuk menjawabnya…
Don jawab
pertanyaan gua! Dalam menjalani hidup apa kita mengikuti arus kehidupan
ato kita sendiri yang membuat arus kehidupan itu? Jawabannya ditulis di
blog lu.
Hah? Ini sih nyuruh otak saya kerja keras
namanya, nyuruh curhat juga. Heuheuheu…Dirimu terlalu berlebihan
menganggap diriku bisa menjawab pertanyaan itu. Tapi, karena sudah
diminta, jangan salahkan kalau diriku bikin dirimu tersesat ya, Tur?
Sebab saya bukan ahli agama, bukan juga ahli filsafat, pengalaman hidup
juga belum lama, baru 24 tahun, dan sulit untuk bisa dikatakan sebagai
seseorang yang sukses dalam hidup. Sebab…sekarang saja diriku sedang
pusing memikirkan bagaimana caranya untuk bisa survive besok, lusa,
minggu depan, tahun depan, meskipun sebetulnya hal semacam itu tidak
perlu terlalu dipusingkan. Besok saja belum tentu masih hidup, tapi
bermimpi untuk 50 tahun ke depan, kenapa tidak?
Jawaban untuk
pertanyaan itu adalah…tergantung bagaimana kita memandang kehidupan
itu. Kalau kita berpikir bahwa kehidupan adalah seperti perjalanan dari
hulu sungai menuju lautan, maka jadilah bagian dari sungai atau lebih
tepatnya jadi air itu sendiri, niscaya kita tidak akan tersesat dan
sampai ke tujuan. Namun, resikonya adalah kita tidak bisa menolak
dengan apa yang "pasti" terjadi, jalur yang berkelok-kelok, menabrak
batu besar, turun ke jurang, ada saat tenang, ada saat ber-riak, kita
tidak bisa berbuat banyak di sana. Tidak peduli apakah kita sudah lelah
atau tidak, apakah kita suka atau tidak, mau atau tidak mau, arus
sungai akan membawa kita, bahkan terkadang arus menyeret semakin cepat
membawa kita. Sesekali mungkin kita bisa mendapatkan ‘hiburan’ dengan
‘dibelokkan’ untuk mengairi sawah. Itu nasib yang akan kita rasakan
jika kita menjadi bagian dari sungai. Dan lebih parah lagi, mungkin
kita tidak akan bisa mencapai tujuan atau bahkan lebih lama mencapai
lautan karena terhalang bendungan, atau karena ketika masuk ke dalam
tubuh manusia dan hewan, lalu berakhir menjadi kucuran air kencing
sebelum akhirnya bergabung kembali dan mengotori ’saudara’ se-air pada
aliran sungai tersebut. Meskipun kita sampai tujuan, satu hal yang
pasti, kita tidak sebening seperti pertama kita memulai perjalanan. Di
tengah jalan tercampur limbah, tercampur sampah, bangkai hewan, kotoran
manusia dan berbagai jenis penyakit terbawa sampai tujuan. Lebih
mengenaskan lagi, kita lah ‘penyebar’ kotoran itu. Mungkin kita sudah
tidak mengenal diri kita sendiri yang sudah terkontaminasi berbagai
jenis kotoran tersebut.
Namun, lain hal-nya jika kita tidak
menjadi bagian dari sungai tersebut. Katakanlah kita manusianya. Kita
bisa saja berjalan di pinggir sungai, arus sungai tetap kita jadikan
patokan, sehingga kita tahu kemana arah sungai tersebut. Dengan tahu
nya arah sungai, mungkin kita bisa memotong jalan untuk mencapai ke
suatu titik lebih cepat, tanpa perlu melalui jalan yang berkelok-kelok,
menabrak batu besar, atau bendungan sekalipun. Namun, tidak berarti
jalur yang kita ambil tanpa hambatan atau gangguan, bisa jadi jalur
yang diambil lebih berat dan menyulitkan, namun pencapaian ke titik
tertentu bisa lebih cepat, tidak perlu berputar-putar. Atau jika perlu
kita membuka jalan baru sendiri, agar suatu saat orang lain bisa
mengikuti jalur yang kita buat. Bisa jadi, kita lah yang membelokkan
aliran air untuk mengairi sawah ketika melihat sawah yang kering.
Selain itu, kita bisa lebih leluasa untuk menentukan kapan kita
istirahat, kapan kita melanjutkan perjalanan, atau sekedar menikmati
pemandangan di sekitar, atau sesekali kita menikmati berenang dan
berarung jeram ria di sungai tersebut. Dengan menjadi bagian dari
sungai, kita tidak bisa melakukan hal itu. Meskipun, bisa saja terjadi,
ketika kita memotong jalan, kita menemukan perkampungan dimana ada
wanita cantik di sana dan kita tergoda untuk kemudian tinggal di sana,
sampai akhirnya kita lupa dengan tujuan kita. Sama juga, kita mungkin
tidak sebersih seperti ketika memulai perjalanan, namun kita bisa
meminimalisir tingkat kekotoran yang menempel pada tubuh kita, toh kita
masih bisa mandi untuk membersihkan diri. Bandingkan dengan jika kita
menjadi air sungai yang tidak bisa menolak apa pun yang dibuang
kepadanya.
Katakanlah keduanya sampai ke tujuan, lautan, namun
yang membedakan adalah pengalaman selama perjalanan. Pengalaman sebagai
bagian dari air sungai, tentu berbeda dengan pengalaman sebagai manusia
itu sendiri. Setiap pengalaman tentu saja memberikan ’sensasi’ yang
berbeda, bisa jadi pengalaman menjadi air lebih ‘menarik’, bisa juga
sebaliknya. Sebagai manusia, kita mungkin merasakan pengalaman tersesat
di hutan ketika memotong jalan, atau dikejar-kejar binatang buas.
Bahkan, jika kita kembali ke hulu sungai yang sama guna menuju lautan
lagi, mungkin kita akan mengambil jalan lain, yang memberikan
pengalaman dan sensasi yang berbeda, atau mungkin mengikuti arus
tersebut dari awal sampai akhir. Itu terserah kita. Lain halnya jika
kita menjadi air, ketika kembali ke hulu sungai yang sama, mau tidak
mau, kita melalui jalur yang itu-itu juga untuk mencapai lautan. Kita
tidak memiliki pilihan lain di sini.
Contoh lain adalah ketika
kita mau mencapai suatu tempat, ada beberapa cara, mau naik angkot,
jalan kaki, naik motor atau apalah, yang penting sampai. Kalau naik
angkot, kita sudah pasti mengikuti jalur yang sudah ditentukan, mau
macet, mau tidak, mau lambat ataupun cepat, pokoknya lewat jalur itu.
Misalkan kita kesal karena sopir angkot ngetem menunggu penumpang
sampai penuh, atau belok isi bensin dulu, bahkan mogok sekalipun, kita
tetap tidak bisa berbuat banyak, kecuali kita sopir angkotnya. Selain
itu, kita harus membayar pula, berdesak-desakan, dan terkadang harus
ribut dengan sopir angkot tersebut gara-gara masalah ongkos, belum lagi
kalau ada copet. Lain halnya kalau kita naik motor atau jalan kaki,
tidak ada aturan yang mengharuskan kita mengikuti jalur yang sama
dengan angkot tadi. Mau isi bensin dulu, mau makan dulu, kita bisa
sangat menikmati perjalanan itu.
Jika kita memandang kehidupan
seperti belantara hutan yang tidak pernah terjamah oleh manusia, dan
kita tidak pernah tahu ada apa saja di dalamnya, maka kita memang harus
menjadi pembuka jalan jika ingin keluar dari hutan tersebut. Pada saat
itu, mungkin intuisi atau naluri kita yang lebih banyak berperan,
membaca tanda-tanda alam, bersahabat dengan alam sekitar, atau menjadi
bagian dari alam itu sendiri untuk bisa beradaptasi dan tetap bertahan
hidup. Sebab jika tidak seperti itu, maka kita akan berada di hutan itu
selamanya dan menjadi ’santapan’ alam.
Maka, pilihan kita
sendiri untuk menjadi bagian dari arus kehidupan, atau membuat arus
sendiri. Arus kehidupan seringkali menyeret kita sangat cepat, bahkan
di saat kita tidak siap sekalipun. Sedikit sekali orang yang mau
membuat arus sendiri, karena memang bukan pekerjaan yang mudah. Orang
lebih tertarik untuk mengikuti arus yang ada, meskipun belum tentu arus
tersebut membawa ke arah yang benar. Dan arus kehidupan juga mudah
sekali dikendalikan oleh mereka yang berkuasa. Konsekuensinya, sebagai
bagian dari arus kehidupan, kita harus mengikuti arus itu, meskipun
kita tidak pernah tahu arus itu membawa kita kemana. Lain halnya dengan
orang-orang yang memiliki arus sendiri, jalur sendiri, jalan sendiri,
mereka tidak akan terpengaruh dengan perubahan arus yang ada, meskipun
mereka harus tersisih. Namun satu hal yang pasti, mereka boleh bangga
karena bisa membuat jalur kehidupan sendiri yang suatu saat mungkin
akan diikuti oleh orang lain.
Nampaknya mudah sekali saya
menuliskan ini, namun ternyata tidak semudah dan selancar kata-kata
yang mengalir dalam tulisan ini saat melakukannya. Saat ini saja, saya
mungkin seperti seseorang yang berada di hutan belantara yang
kebingungan dengan apa yang semestinya dilakukan dan mencoba mengenal
tanda-tanda alam untuk tetap survive di sana. Waktu lain, saya lebih
mempercayai naluri saya untuk berjalan dalam kegelapan hutan tersebut.
Kadang terpikir untuk sekali-kali ‘nyebur’ lagi ke arus kehidupan agar
nasib menjadi lebih pasti. Bahkan, sering kali saya tergoda ‘wanita
cantik’ yang saya temui di perjalanan, sehingga melalaikan saya dari
apa yang seharusnya saya capai. Lebih parah lagi, kadang-kadang saya
temukan arus lain yang lebih menjanjikan untuk memberikan jaminan
hidup, meskipun membawa saya ke ‘lautan’ lain yang berbeda. Pada saat
lain, saya memilih untuk berjalan kaki dan merasakan kebahagiaan,
meskipun melelahkan, daripada naik angkot ngetem yang membiarkan
penumpang tenggelam dalam kekesalan.
Jadi, gitu kali ya…?
Saran saya, jika ingin kehidupan yang lebih dinamis dan banyak pilihan,
jadilah pembuka jalan. Kalau ingin hidup yang serba mapan dan ‘pasti’,
ikuti saja arus kehidupan yang ada. Intinya, ini adalah tentang
bagaimana mengambil keputusan. Namun, satu hal, arus kehidupan bisa
sangat kejam, sahabat…:D
Wallahualam,
S3K3L04. 191206. 02:44.
NB : Mudah-mudahan bisa menjawab pertanyaan lu, Tur…:D
Refleksi |One Response to “The Art of Life : Jawaban untuk Pertanyaan Seorang Sahabat”
Leave a Reply
Hey, Thats my name..
Thats my name…
heuheu..*Hening