Surat Untuk Saya
Masih dalam keadaan lelah setelah pulang dari kegiatan yang memang sangat melelahkan yang insya allah akan saya ceritakan di blog ini. Baru sempet baca-baca blog beberapa orang, dan saya menemukan sesuatu yang menarik.
Terkait tulisan saya yang berjudul Saya dan Polemik Poligami, teman saya Dina Mardiana, yang biasa dipanggil Obenk, memberikan tanggapannya di blognya dengan judul Surat untuk Donny. Saya pun sudah memberikan komentar di tulisan tersebut. Silahkan berkunjung ke blog nya bagi yang ingin membacanya…:D
Haurpancuh. 251206.22.18.
Ngelantur | Comment (0)Bulan Bahagia : Barakallahu
Bener ya, ternyata deket-deket bulan haji itu musim kawin…:D
Setelah 3 minggu berturut-turut Andi "Mr. Spock" Rahmanto, disusul Andrian "Adiw" Rusnandi dua-dua nya teman SMA saya, disusul oleh Inayah Ika Agustia, Sabtu 16 Desember 2006 yang lalu. Dia adalah seorang wanita yang saya kenal gara-gara hobby iseng saya.
Setelah itu, ketika saya buka-buka email, menyusul kemudian Chintya "Manyun", Nur Ayu Lestari, anggota terakhir genk "Lestari" yang menikah, setelah jauh-jauh hari sebelumnya, Anjar Lestari vs Mumu Damanhuri, dan Nuryana Lestari menikah lebih dulu. Mereka adalah teman-teman SMA saya juga. Perihal pernikahan Ayu, Departemen PercenahanTM pernah memberi kabar bahwa Ayu sudah menikah sejak bulan Agustus, berbarengan dengan Yudho dan pernikahan Antin. Ternyata kabar resminya baru saya dapatkan sekarang. Email lain menyusul, Yudi Sarif Arifin akan menikah tanggal 7 Januari 2007 di Jatinangor. Dia adalah salah satu teman perjuangan saya di HIMA IF UNIKOM.
Belum lama, saya mendapatkan kabar lagi dari ayah saya, kakak sepupu saya, Wawan Rahwandi, akan menikah tanggal 5 Januari 2007 di Bogor.
Barakallahu laka wa baraka alaika wa jama’a bainakuma fi khoir…Amin.
Tentang bulan bahagia, saya jadi teringat suatu ketika dimana saya dan Azhev, teman SMA juga menghadiri pernikahan sahabat kami, Andriansyah "Zamrud".
Dalam perjalanan, kami iseng menghitung jumlah janur kuning yang kami
temui pada jalur yang kami lalui. Saya berhasil menghitung sampai 30
janur kuning…di gang, di gedung, di depan rumah…berarti dalam
sehari itu, ada 30 pasangan yang berbahagia yang kami "lalui" atau 60
orang.
Lalu, setelah 11 bulan menikah, minggu ini adalah minggu yang berbahagia bagi sahabat saya pasangan Beni M.Kadarisman dan Nurma "Hasna",
karena telah dikaruniai seorang "pangeran", pada hari Minggu, 17
Desember 2006, sehari setelah pernikahan sahabat kami, Inayah.
Sayangnya, daku belum dapat kabar tentang nama pangeran yang
bersangkutan. Seorang laki-laki, terlahir dengan berat 3,5 kg dan
panjang 50 cm. Tidak lama akan menyusul, Insya Allah, pangeran dari
pasangan Lilik dan Ani, teman-teman di kostan saya di Sekeloa. Barakallahu.
Lantas…kapan nih saya akan mendapatkan undangan Agus Setiawan vs Anis? Herdyan "Thez" Fajar dan Kiki Novianti? Atau Eva Fatmawati Hidayat dan Hendra? Deden Hermansyah & Hera? Azhev dan Kori (masih…?), Ahmad "Ozie" Fauzi melawan Indri?
Lalu…kapankah saya menyusul? Kelak akan tersebar undangan…"Menikah, Donny Reza
dan seorang wanita yang entah sedang berada dimana saat ini, yang
pastinya saat ini juga sedang merindukan daku..:p. Bertempat di Masjid
Salman, Jl. Ganeca. Tanggal : sesegera mungkin di tahun 2007…" Hahahaha…Entah kenapa saya kepengen banget ijab qabul di Masjid Salman, kepengen aja…Amin, ya Rabbal ‘alamin…:D
Haur Pancuh, 00:07, 221206.
Ngelantur | Comments (2)The Art of Life : Jawaban untuk Pertanyaan Seorang Sahabat
Pada suatu malam yang cukup dingin, ketika saya sedang browsing di
suatu warnet dekat kost-an, sebuah SMS menggetarkan HP dalam saku
celana saya. Dari seorang teman, Catur. Isi SMS nya membuat saya
berpikir keras untuk menjawabnya…
Don jawab
pertanyaan gua! Dalam menjalani hidup apa kita mengikuti arus kehidupan
ato kita sendiri yang membuat arus kehidupan itu? Jawabannya ditulis di
blog lu.
Hah? Ini sih nyuruh otak saya kerja keras
namanya, nyuruh curhat juga. Heuheuheu…Dirimu terlalu berlebihan
menganggap diriku bisa menjawab pertanyaan itu. Tapi, karena sudah
diminta, jangan salahkan kalau diriku bikin dirimu tersesat ya, Tur?
Sebab saya bukan ahli agama, bukan juga ahli filsafat, pengalaman hidup
juga belum lama, baru 24 tahun, dan sulit untuk bisa dikatakan sebagai
seseorang yang sukses dalam hidup. Sebab…sekarang saja diriku sedang
pusing memikirkan bagaimana caranya untuk bisa survive besok, lusa,
minggu depan, tahun depan, meskipun sebetulnya hal semacam itu tidak
perlu terlalu dipusingkan. Besok saja belum tentu masih hidup, tapi
bermimpi untuk 50 tahun ke depan, kenapa tidak?
Jawaban untuk
pertanyaan itu adalah…tergantung bagaimana kita memandang kehidupan
itu. Kalau kita berpikir bahwa kehidupan adalah seperti perjalanan dari
hulu sungai menuju lautan, maka jadilah bagian dari sungai atau lebih
tepatnya jadi air itu sendiri, niscaya kita tidak akan tersesat dan
sampai ke tujuan. Namun, resikonya adalah kita tidak bisa menolak
dengan apa yang "pasti" terjadi, jalur yang berkelok-kelok, menabrak
batu besar, turun ke jurang, ada saat tenang, ada saat ber-riak, kita
tidak bisa berbuat banyak di sana. Tidak peduli apakah kita sudah lelah
atau tidak, apakah kita suka atau tidak, mau atau tidak mau, arus
sungai akan membawa kita, bahkan terkadang arus menyeret semakin cepat
membawa kita. Sesekali mungkin kita bisa mendapatkan ‘hiburan’ dengan
‘dibelokkan’ untuk mengairi sawah. Itu nasib yang akan kita rasakan
jika kita menjadi bagian dari sungai. Dan lebih parah lagi, mungkin
kita tidak akan bisa mencapai tujuan atau bahkan lebih lama mencapai
lautan karena terhalang bendungan, atau karena ketika masuk ke dalam
tubuh manusia dan hewan, lalu berakhir menjadi kucuran air kencing
sebelum akhirnya bergabung kembali dan mengotori ’saudara’ se-air pada
aliran sungai tersebut. Meskipun kita sampai tujuan, satu hal yang
pasti, kita tidak sebening seperti pertama kita memulai perjalanan. Di
tengah jalan tercampur limbah, tercampur sampah, bangkai hewan, kotoran
manusia dan berbagai jenis penyakit terbawa sampai tujuan. Lebih
mengenaskan lagi, kita lah ‘penyebar’ kotoran itu. Mungkin kita sudah
tidak mengenal diri kita sendiri yang sudah terkontaminasi berbagai
jenis kotoran tersebut.
Namun, lain hal-nya jika kita tidak
menjadi bagian dari sungai tersebut. Katakanlah kita manusianya. Kita
bisa saja berjalan di pinggir sungai, arus sungai tetap kita jadikan
patokan, sehingga kita tahu kemana arah sungai tersebut. Dengan tahu
nya arah sungai, mungkin kita bisa memotong jalan untuk mencapai ke
suatu titik lebih cepat, tanpa perlu melalui jalan yang berkelok-kelok,
menabrak batu besar, atau bendungan sekalipun. Namun, tidak berarti
jalur yang kita ambil tanpa hambatan atau gangguan, bisa jadi jalur
yang diambil lebih berat dan menyulitkan, namun pencapaian ke titik
tertentu bisa lebih cepat, tidak perlu berputar-putar. Atau jika perlu
kita membuka jalan baru sendiri, agar suatu saat orang lain bisa
mengikuti jalur yang kita buat. Bisa jadi, kita lah yang membelokkan
aliran air untuk mengairi sawah ketika melihat sawah yang kering.
Selain itu, kita bisa lebih leluasa untuk menentukan kapan kita
istirahat, kapan kita melanjutkan perjalanan, atau sekedar menikmati
pemandangan di sekitar, atau sesekali kita menikmati berenang dan
berarung jeram ria di sungai tersebut. Dengan menjadi bagian dari
sungai, kita tidak bisa melakukan hal itu. Meskipun, bisa saja terjadi,
ketika kita memotong jalan, kita menemukan perkampungan dimana ada
wanita cantik di sana dan kita tergoda untuk kemudian tinggal di sana,
sampai akhirnya kita lupa dengan tujuan kita. Sama juga, kita mungkin
tidak sebersih seperti ketika memulai perjalanan, namun kita bisa
meminimalisir tingkat kekotoran yang menempel pada tubuh kita, toh kita
masih bisa mandi untuk membersihkan diri. Bandingkan dengan jika kita
menjadi air sungai yang tidak bisa menolak apa pun yang dibuang
kepadanya.
Katakanlah keduanya sampai ke tujuan, lautan, namun
yang membedakan adalah pengalaman selama perjalanan. Pengalaman sebagai
bagian dari air sungai, tentu berbeda dengan pengalaman sebagai manusia
itu sendiri. Setiap pengalaman tentu saja memberikan ’sensasi’ yang
berbeda, bisa jadi pengalaman menjadi air lebih ‘menarik’, bisa juga
sebaliknya. Sebagai manusia, kita mungkin merasakan pengalaman tersesat
di hutan ketika memotong jalan, atau dikejar-kejar binatang buas.
Bahkan, jika kita kembali ke hulu sungai yang sama guna menuju lautan
lagi, mungkin kita akan mengambil jalan lain, yang memberikan
pengalaman dan sensasi yang berbeda, atau mungkin mengikuti arus
tersebut dari awal sampai akhir. Itu terserah kita. Lain halnya jika
kita menjadi air, ketika kembali ke hulu sungai yang sama, mau tidak
mau, kita melalui jalur yang itu-itu juga untuk mencapai lautan. Kita
tidak memiliki pilihan lain di sini.
Contoh lain adalah ketika
kita mau mencapai suatu tempat, ada beberapa cara, mau naik angkot,
jalan kaki, naik motor atau apalah, yang penting sampai. Kalau naik
angkot, kita sudah pasti mengikuti jalur yang sudah ditentukan, mau
macet, mau tidak, mau lambat ataupun cepat, pokoknya lewat jalur itu.
Misalkan kita kesal karena sopir angkot ngetem menunggu penumpang
sampai penuh, atau belok isi bensin dulu, bahkan mogok sekalipun, kita
tetap tidak bisa berbuat banyak, kecuali kita sopir angkotnya. Selain
itu, kita harus membayar pula, berdesak-desakan, dan terkadang harus
ribut dengan sopir angkot tersebut gara-gara masalah ongkos, belum lagi
kalau ada copet. Lain halnya kalau kita naik motor atau jalan kaki,
tidak ada aturan yang mengharuskan kita mengikuti jalur yang sama
dengan angkot tadi. Mau isi bensin dulu, mau makan dulu, kita bisa
sangat menikmati perjalanan itu.
Jika kita memandang kehidupan
seperti belantara hutan yang tidak pernah terjamah oleh manusia, dan
kita tidak pernah tahu ada apa saja di dalamnya, maka kita memang harus
menjadi pembuka jalan jika ingin keluar dari hutan tersebut. Pada saat
itu, mungkin intuisi atau naluri kita yang lebih banyak berperan,
membaca tanda-tanda alam, bersahabat dengan alam sekitar, atau menjadi
bagian dari alam itu sendiri untuk bisa beradaptasi dan tetap bertahan
hidup. Sebab jika tidak seperti itu, maka kita akan berada di hutan itu
selamanya dan menjadi ’santapan’ alam.
Maka, pilihan kita
sendiri untuk menjadi bagian dari arus kehidupan, atau membuat arus
sendiri. Arus kehidupan seringkali menyeret kita sangat cepat, bahkan
di saat kita tidak siap sekalipun. Sedikit sekali orang yang mau
membuat arus sendiri, karena memang bukan pekerjaan yang mudah. Orang
lebih tertarik untuk mengikuti arus yang ada, meskipun belum tentu arus
tersebut membawa ke arah yang benar. Dan arus kehidupan juga mudah
sekali dikendalikan oleh mereka yang berkuasa. Konsekuensinya, sebagai
bagian dari arus kehidupan, kita harus mengikuti arus itu, meskipun
kita tidak pernah tahu arus itu membawa kita kemana. Lain halnya dengan
orang-orang yang memiliki arus sendiri, jalur sendiri, jalan sendiri,
mereka tidak akan terpengaruh dengan perubahan arus yang ada, meskipun
mereka harus tersisih. Namun satu hal yang pasti, mereka boleh bangga
karena bisa membuat jalur kehidupan sendiri yang suatu saat mungkin
akan diikuti oleh orang lain.
Nampaknya mudah sekali saya
menuliskan ini, namun ternyata tidak semudah dan selancar kata-kata
yang mengalir dalam tulisan ini saat melakukannya. Saat ini saja, saya
mungkin seperti seseorang yang berada di hutan belantara yang
kebingungan dengan apa yang semestinya dilakukan dan mencoba mengenal
tanda-tanda alam untuk tetap survive di sana. Waktu lain, saya lebih
mempercayai naluri saya untuk berjalan dalam kegelapan hutan tersebut.
Kadang terpikir untuk sekali-kali ‘nyebur’ lagi ke arus kehidupan agar
nasib menjadi lebih pasti. Bahkan, sering kali saya tergoda ‘wanita
cantik’ yang saya temui di perjalanan, sehingga melalaikan saya dari
apa yang seharusnya saya capai. Lebih parah lagi, kadang-kadang saya
temukan arus lain yang lebih menjanjikan untuk memberikan jaminan
hidup, meskipun membawa saya ke ‘lautan’ lain yang berbeda. Pada saat
lain, saya memilih untuk berjalan kaki dan merasakan kebahagiaan,
meskipun melelahkan, daripada naik angkot ngetem yang membiarkan
penumpang tenggelam dalam kekesalan.
Jadi, gitu kali ya…?
Saran saya, jika ingin kehidupan yang lebih dinamis dan banyak pilihan,
jadilah pembuka jalan. Kalau ingin hidup yang serba mapan dan ‘pasti’,
ikuti saja arus kehidupan yang ada. Intinya, ini adalah tentang
bagaimana mengambil keputusan. Namun, satu hal, arus kehidupan bisa
sangat kejam, sahabat…:D
Wallahualam,
S3K3L04. 191206. 02:44.
NB : Mudah-mudahan bisa menjawab pertanyaan lu, Tur…:D
Refleksi | Comment (1)Saya dan Polemik Poligami
Prolog
Setelah sekian
lama ingin menulis tentang poligami, akhirnya baru bisa menulis
sekarang, memang sudah terlalu terlambat jika dihubungkan dengan
kondisi ramai tidaknya masalah ini di Indonesia. Namun, tujuan saya
menulis bukan ingin ikut-ikutan meramaikan keadaan, sudah sejak lama
saya ingin menuliskannya, namun belakangan sedang ramai-ramainya, jadi
tidak ada salahnya saya publish sekarang. Tulisan ini ternyata yang
paling menghabiskan energi saya. Dua minggu lebih saya memikirkan
tentang ini, membaca dan mendengarkan opini orang lain, berdebat dan
berdiskusi. Berkali-kali diedit, diperbaiki susunan kata-katanya, saya
sendiri tidak pernah puas dengan tulisan yang satu ini, bahkan ragu
untuk mem-publish tulisan ini, takut banyak salahnya. Belum pernah saya
seserius ini menulis tentang suatu topik. Yup, saya tidak tahan juga
untuk sekedar berceloteh tentang poligami yang selalu ramai
didiskusikan, meskipun saya tahu, sulit untuk mendapatkan kata sepakat
tentang masalah ini. Berkali-kali saya diskusi, tidak pernah sekalipun
saya mendapatkan kata sepakat. Sebenarnya tidak akan terlalu
berpengaruh apa-apa buat saya, tapi saya merasa perlu saja untuk
menuliskan apa yang ada di kepala saya selama ini tentang poligami.
Dan…sepertinya akan panjang juga, soalnya saya selalu bersemangat
kalau membahas ini…:D Pada tulisan ini pun saya yakin banyak juga
yang tidak setuju dengan pendapat saya, tapi saya kira saya tidak perlu
terlalu memikirkan hal itu. Setelah diminta dan "ditunggu" oleh
beberapa teman (halah!) yang ingin mengetahui pandangan saya terhadap
poligami, inilah hasil "kerja keras" itu.
Latar Belakang
Hanya
satu kata, tapi belakangan membuat Indonesia geger. Dari sudut pandang
Islam, boleh, dan tidak terlalu banyak "variabel" yang dibutuhkan untuk
melakukannya. Jika kemudian masalah poligami menjadi rumit, karena
banyak sekali "variabel" yang dipergunakan sebagai bahan pertimbangan.
Menurut saya, syarat-syarat dan argumen-argumen yang kemudian muncul
dikalangan umat Islam untuk "menekan" angka poligami, sebetulnya
merupakan kebijaksanaan ulama, terutama menyangkut perempuan. Meskipun
masalah perempuan hanya satu, masalah perasaan yang sulit dikompromikan
jika menyangkut "saingan", atau mungkin lebih tepatnya, masalah
eksistensi diri.
Nabi Muhammad dan para sahabatnya
melakukannya. Namun, sepengetahuan saya, bahwa syarat poligami adalah
"harus" janda, lebih tua dengan tujuan menolong, misalnya, tidak pernah
menjadi syarat mutlak di zaman Rasulullah dulu, Rasulullah pun tidak
pernah mensyaratkan hal itu. Adalah kebijaksanaan Rasulullah saja
melakukan hal tersebut, sama seperti halnya ketika beliau melakukan
shalat sepanjang malam, tapi tidak pernah dianjurkan kepada ummatnya,
karena perbedaan kualitas ruhani. Itu pun, jika rujukan saya benar,
hanya satu orang istrinya, selain Khadijah, yang lebih tua dari beliau.
Selebihnya, jauh lebih muda dari beliau, karena ketika Khadijah
meninggal usia Rasulullah pun sudah berusia 50 tahun lebih. Sementara
dengan usia nikah perempuan pada zaman itu, rata-rata antara 12-16
tahun, seorang janda beranak 3 pun bisa jadi masih berusia lebih kurang
30-an. Sebab, jika memang tujuannya adalah untuk menolong dan mengurusi
anak-anaknya, maka misalkan Rasulullah menikah dengan seorang janda
berusia 50 tahun, bisa jadi anak-anaknya sudah menikah semua dan bisa
mengurusi dirinya sendiri.
Satu contoh kasus pernikahan Rasulullah dengan Sauda binti Zam’a, dalam Sejarah Hidup Muhammad, Muhammad Husain Haekal menulis :
Tidak
ada suatu sumber yang menyebutkan, bahwa Sauda adalah seorang wanita
yang cantik, atau berharta atau mempunyai kedudukan yang akan memberi
pengaruh karena hasrat duniawi dalam perkawinannya itu. Melainkan
soalnya ialah, Sauda adalah isteri orang yang termasuk mula-mula dalam
lslam, termasuk orang-orang yang dalam membela agama, turut memikul
pelbagai macam penderitaan, turut berhijrah ke Abisinia setelah
dianjurkan Nabi hijrah ke seberang lautan itu. Sauda juga sudah Islam
dan ikut hijrah bersama-sama, ia juga turut sengsara, turut menderita.
Kalau sesudah itu Muhammad kemudian mengawininya untuk memberikan
perlindungan hidup dan untuk memberikan tempat setarap dengan Ummul
Mu’minin, maka hal ini patut sekali dipuji dan patut mendapat
penghargaan yang tinggi.
Pertanyaannya, memangnya
kita sanggup seperti Rasulullah? Jelas ini adalah sesuatu yang sulit.
Rasulullah dibimbing dan "dididik" olah Allah langsung, sementara kita
lebih banyak dibimbing dan dididik oleh setan dan hawa nafsu kita.
Maka, dalam hal poligami pun, saya tidak yakin setiap laki-laki sanggup
dan mau mengikuti Rasulullah. Sebelumnya, akan saya kutip terlebih
dahulu ayat yang menjadi legalitas poligami, tapi pada saat yang sama,
ayat tersebut juga menganjurkan untuk tidak berbuat aniaya (terhadap
istri), yaitu An-Nisaa’ ayat 3 :
Dan jika kamu takut
tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim
(bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang
kamu senangi : dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak
akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau
budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat
kepada tidak berbuat aniaya.
Kalimat "...maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat.
"…jelas-jelas menolak argumen yang mengatakan atau mensyaratkan bahwa
jika ingin menikah lagi harus dengan janda, lebih tua dan tidak cantik,
sebab kriteria tersebut sulit sekali untuk masuk kategori "yang kamu senangi"
sesuai ayat di atas. Maka, jika merujuk kepada ayat di atas, syah-syah
saja untuk menikah lagi dengan gadis yang cantik sekalipun. Pikiran
sederhana saya mencerna ayat tersebut sebagai ke-Maha Tahu-an Allah
terhadap karakter laki-laki yang memiliki kecenderungan untuk
berpoligami dan menyukai wanita yang cantik. Adapun anjuran yang
diberikan, bukanlah anjuran yang diungkapkan dengan tegas, seperti
halnya larangan atau tuntutan. Namun, hanya anjuran lembut, sama
seperti kita mengatakan…"jangan terlalu capek, banyak-banyak istirahat, supaya tidak sakit". Artinya, melakukan atau tidak, itu adalah sebuah pilihan bagi laki-laki.
Kalau
merujuk ke ayat di atas, poligami memang nampak sederhana sekali. Bagi
laki-laki, nampak sangat mudah jika hanya sekedar adil. Namun, ternyata
realita nya tidak seindah itu. Bukan hal yang mudah untuk "tidak
aniaya" kepada perempuan jika berbicara poligami dan keadilan. Dengan
poligami, bagi perempuan mungkin berarti…meruntuhkan kepercayaan
diri, mengganggu eksistensi diri dan siksaan lahir batin. Adil dalam
hal lahiriyah, seperti harta, pembagian giliran hari, mungkin bisa
adil, namun dalam hal perasaan, ini yang sangat sulit, karena memang
tidak ada alat ukurnya. Bahkan seorang Rasulullah pun sempat merasakan
kesulitan berhadapan dengan ego istri-istrinya dan sempat mengancam
keutuhan rumah tangga beliau. Dalam surat yang sama, An-Nisaa’ ayat
129, Allah juga menggambarkan betapa sulitnya untuk berbuat adil 100%,
berikut ini redaksi ayat tersebut :
Dan kamu
sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara isteri-isteri(mu),
walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu
terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang
lain terkatung-katung. Dan jika kamu mengadakan perbaikan dan
memelihara diri (dari kecurangan), maka sesungguhnya Allah Maha
Pengampun lagi Maha Penyayang.
Kedua ayat
tersebut, An-Nisaa’:3 dan An-Nisaa’:129, sebetulnya berbeda bab, namun
An-Nisaa’:129 sangat relevan untuk menggambarkan keadaan ketika terjadi
perselisihan rumah tangga, dalam hal ini mereka yang menjadi bagian
poligami. Ayat tersebut juga menggambarkan, meskipun seorang laki-laki
sangat ingin berbuat adil, namun selalu ada keberpihakan kepada salah
satu istri. Ayat ini juga seolah-olah berkata, meskipun laki-laki
merasa adil, namun dari sudut pandang wanita hal tersebut bisa berarti
tidak adil. Mungkin karena salah satu merasa tidak dibela, tidak
dimenangkan dan lain sebagainya. Jika An-Nisaa’:3 memihak laki-laki,
maka ayat 129 lebih memihak perempuan dan seolah-olah mewakili sudut
pandang perempuan. Jika ayat 3 menggugah kepercayaan diri laki-laki,
ayat 129 meruntuhkan kepercayaan diri tersebut.
Selanjutnya,
ayat-ayat tersebut menjadi landasan berpikir saya dalam
paragraf-paragaraf berikutnya. Alasan saya, dua fitrah yang saling
bersebarangan antara laki-laki dan perempuan sangat terwakili oleh dua
ayat tersebut. Oleh karena itu, saya sengaja tidak memberikan porsi
besar keteladanan Rasulullah sebagai rujukan saya untuk kasus poligami,
karena untuk saya, sebagai manusia biasa, dan laki-laki khususnya, agak
sulit jika seseorang melakukan poligami tanpa melibatkan unsur yang
menjadi fitrahnya. Katakanlah dalam hal niat dan tujuan, sering kali
unsur hawa nafsu lebih kuat menjadi alasan, meskipun ditutupi dengan
kata-kata "sunnah" atau "ibadah" atau "dakwah" sekalipun. Dan An-Nisaa’
ayat 3 pun tidak menafikkan hal tersebut, malah menegaskan bahwa
seperti itulah karakter laki-laki. Sementara apa yang dilakukan
Rasulullah, lebih berlatar belakang dakwah dan politik.
Tentu
saja, dari seluruh laki-laki dan perempuan yang ada di muka bumi ini,
selalu ada pengecualian. Ada laki-laki yang lebih memilih monogami
seumur hidupnya, karena kecintaannya kepada istrinya. Ada juga
perempuan yang bersedia dan terang-terangan tidak berkebaratan untuk
dipoligami. Namun, dalam bahasan selanjutnya, saya lebih
menitikberatkan kepada dua jenis sifat laki-laki dan perempuan yang
berseberangan, ekstrim laki-laki dan ekstrim perempuan, lebih ke
fitrah-nya. Lebih tepatnya, melakukan generalisir terhadap sifat
laki-laki dan perempuan. Akan tetapi, tulisan ini mungkin "cowok
banget", karena saya tidak tahu bagaimana perasaan sesungguhnya dari
perempuan. Oleh sebab itu, jika ada yang tidak terwakili, atau merasa
tidak terwakili, tidak perlu sewot atau marah, cukup dijadikan bacaan
saja. Syukur-syukur mau memberikan komentar.
Jadi, intinya adalah…
Selama
ini, saya adalah orang yang pro-poligami, dengan asumsi hanya ada 2
pihak, yaitu pro dan kontra, tapi tidak berarti bahwa saya adalah orang
yang ingin poligami. Pro dalam artian tidak menolak. Alasannya,
sederhana saja, karena Allah mengijinkan dan dalam Islam poligami
bukanlah sesuatu yang hina. Maka, menjadi sangat mengherankan saya,
jika saat ini poligami dipandang sebagai sesuatu yang hina. Buat saya,
apa yang sudah Allah halalkan, pastilah terdapat kebaikan di sana. Jika
kemudian terjadi hal-hal negatif, bukan poligaminya yang salah, tapi
pasti orang yang melakukannya yang salah. Sama saja seperi kita makan 1
piring, tidak ada larangan untuk nambah lagi sampai 4 piring. Namun,
jika kemudian kita sakit perut sampai tidak bisa jalan atau ada makanan
yang terbuang, bukan makan-nya yang salah, tapi kita atau cara makan
kita yang salah karena tidak mengukur kemampuan diri kita. Merasa
sanggup makan 4 piring, tapi ternyata malah membuat kita sakit dan
menyia-nyiakan makanan yang ada.
Mungkin analogi tersebut kurang
tepat, karena tidak mempertimbangkan ‘perasaan’ sang makanan :D. Namun,
dari sisi laki-laki, analogi tersebut menurut saya cocok. Lalu
bagaimana dengan sisi perempuan? Suatu saat, saya pernah makan bareng
dengan 4 orang perempuan teman saya setelah selesai melakukan kegiatan.
Melihat mereka ber-4 tampak akrab dan akur, saya kepikiran tentang
poligami. Lalu, saya iseng mengeluarkan celetukan…"Eh, kalau misalkan saya punya istri 4 kayak kalian, akur gitu, kayaknya asyik ya…?"..:D Salah seorang teman saya itu menjawab…"Eits, tunggu dulu, belum tentu kami jadi akur lagi kalau misalkan kami jadi istri kamu semua…".
Jadi, memang sulit untuk mendamaikan perasaan perempuan tentang masalah
ini. Bahkan dengan sahabat karib sekalipun. Pada diri istri-istri
Rasulullah pun hal ini merupakan masalah yang sulit untuk didamaikan,
apalagi perempuan-perempuan masa kini. Namun, justru hal tersebutlah
yang menjadi kunci dari permasalahan poligami ini. Poligami tidak akan
terlalu dipermasalahkan ketika perempuan sudah bisa berdamai dengan
perasaan dan ego-nya sendiri. Akan tetapi, perempuan terlalu lemah
untuk ini.
Makanya, dalam berbagai kesempatan yang membahas
tentang poligami, saya selalu menekankan bahwa seharusnya perempuan lah
yang lebih banyak berbicara tentang anjuran berpoligami. Sebab, selama
lelaki yang berbicara, tidak akan terlalu berpengaruh terhadap
perempuan. Disebut nafsu lah, menganiaya wanita lah, harus adil
lah…intinya mungkin, "Tolong hentikan membicarakan poligami, itu menyakiti kami…"
Sayangnya, dikalangan "daiyah/ustadzah" pun jauh lebih banyak yang
berkebaratan untuk sekedar membicarakan apalagi sampai membahas masalah
ini, terlebih untuk menjadi contoh apalagi menganjurkan. Padahal ini
adalah masalah penting yang menyangkut kehidupan perempuan juga. Di
sisi lain, ‘musuh’ Islam mengobrak-abrik Islam melalui isu poligami,
pada saat yang sama para "daiyah/ustadzah" menyetujui pemikiran mereka,
semakin berantakanlah umat Islam. Indikasinya sangat jelas. Terkait
masalah AA Gym saja, sangat sulit saya menemukan tulisan dari muslimah
yang membela apa yang AA Gym lakukan. Lebih banyak perempuan yang
mencibir, bahkan atas nama ibu-ibu pengajian?
Faktanya, ada atau
tidak ada poligami, lelaki tidak terlalu dirugikan sebetulnya. Namun,
dengan dilarangnya poligami, justru perempuan yang lebih banyak menjadi
korban. Jadi, sebetulnya perempuan lah yang lebih banyak menganiaya
dirinya dan sesamanya. Kebanyakan berfikiran seperti ini…"Saya
menyadari bahwa Allah tidak melarang poligami, asalkan jangan saya aja
yang dipoligami…". Hehehe. Egois kan?
Pada mulanya, poligami
bukan masalah yang besar, ‘hanya’ sesuatu yang biasa saja. Dan dalam
Islam pun, poligami bukan masalah yang perlu dibesar-besarkan
sebetulnya. Salah satu syarat dari poligami yang selalu saja dijadikan
’syarat mutlak’ adalah adil, karena dalam Al-Quran hal ini diungkapkan.
Namun, pada saat yang sama, Allah menegaskan bahwa selamanya laki-laki
sulit dan bahkan tidak mungkin untuk bisa adil. Itu artinya, menurut
saya, Allah sudah mengingatkan bahwa sangat berat sebetulnya untuk
berpoligami. Namun, jika merasa mampu, silahkan lakukan, tidak hina dan
tidak menjadi dosa. Lantas bagaimana dengan syarat adil? Karena adil
sudah Allah tegaskan sebagai sesuatu yang tidak mungkin bisa kita
lakukan, maka saya berpendapat bahwa sebetulnya adil hanyalah suatu
tujuan yang harus dicapai semaksimal mungkin, yang lebih penting dari
itu adalah proses untuk bersikap adil. Jika seseorang berusaha sekuat
tenaga untuk mendekati adil, saya kira hal tersebut pun akan
mendapatkan ‘penghargaan’ dari Allah. Dan yang paling penting adalah
sikap ridha dari istri-istrinya. Sebab jika istri-istrinya sudah ridha,
saya kira kata adil sudah bukan menjadi masalah yang besar lagi,
namanya juga sudah ridha. Hal ini tentu saja akan memudahkan sang suami
untuk menjalankan kewajiban-kewajibannya. Lagi-lagi, perempuan lah yang
menjadi kunci dari ’sukses’-nya poligami. Makanya, saya sering kali
menekankan bahwa poligami hanya akan menjadi solusi, jika
perempuan-perempuan, terutama muslimah, sudah ridha. Selama masih belum
ridha, jangan harap poligami akan berkahir indah, yang ada perasaan
saling mencurigai dan saling iri. Sedangkan prasangka dan iri adalah
pangkal dari berbagai permasalahan di dunia ini.
Suatu saat saya
pernah mengobrol dengan seorang teman saya. Meskipun hanya kesepakatan
kami berdua, tapi kami mengambil sebuah kesimpulan bahwa betapa luar
biasa sabarnya seorang laki-laki yang sanggup bertahan dengan satu
istri selama hidupnya. Hal ini tentu saja berdasarkan apa yang kami
‘rasakan’ sebagai laki-laki. Umumnya, untuk seorang laki-laki, fisik
seorang wanita adalah ’segalanya’. Maka, ketika menyaksikan
‘perkembangan rumputnya yang sudah tidak lagi hijau’ setiap hari,
sementara ‘rumput’ di luar sana selalu nampak lebih hijau dan lebih
subur, adalah sesuatu yang wajar jika laki-laki tergoda oleh ‘hijaunya
rumput’ tersebut. Jangankan pada saat ‘rumput’ yang dimiliki sudah tua,
ketika ‘rumput’ yang dimiliki masih muda pun, tetap saja ‘rumput’ di
luar selalu tampak lebih hijau. Terlebih jika ‘rumput’ itu lebih muda
daripada ‘rumput’ yang dimiliki saat ini. Pada saat seperti inilah,
kesabaran seorang laki-laki diuji, sementara di sisi lain, laki-laki
tersebut dilarang oleh istrinya untuk menikah lagi, itulah saat dimana
perempuan menganiaya laki-laki. Maka, terjadilah perselingkuhan antara
sang suami dengan perempuan lain. Jadi, ketika poligami dilarang, yang
teraniaya tidak hanya laki-laki, tapi juga perempuan menjadi korban.
Masalahnya adalah perempuan lebih banyak tidak menyadari tentang
kondisi ini, merasa suaminya baik-baik saja, padahal menyimpan perasaan
‘teraniaya’ itu dalam-dalam. Perempuan selama ini ke-GR-an, seolah-olah
menjadi yang paling teraniaya dengan adanya poligami. Memangnya dengan
dilarangnya poligami, laki-laki tidak teraniaya? Maka, disinilah
perlunya kompromi dan saling memahami satu sama lain. Bersyukurlah jika
perempuan mendapatkan suami yang ‘tidak minat’ untuk berpoligami, tapi
hati seseorang siapa yang tahu, bisa saja apa yang diucapkan hanya
ingin menyenangkan istrinya, sehingga sang suami ‘berbohong’ tidak
ingin melakukan poligami.
Pernah suatu saat, dalam sebuah acara
talkshow di televisi swasta Indonesia yang sedang membahas poligami,
saya menyaksikan seorang aktivis perempuan mengatakan bahwa seharusnya
laki-laki qana’ah(merasa cukup, mensyukuri) dengan apa yang ada pada
istrinya. Entah itu kekurangan atau kelebihannya, sehingga ‘tidak
perlu’ untuk melakukan poligami. Saya hanya bisa tersenyum saja
mendengar ungkapan tersebut. Sebab, jika seperti itu, perempuan pun
seharusnya qana’ah juga dengan apa yang ada pada suaminya. Salah
satunya adalah kecenderungan dan potensi untuk melakukan poligami yang
diberikan Allah kepada laki-laki. Maka, selama kita sama-sama egois,
poligami yang seharusnya menjadi sebuah solusi, hanya akan menjadi
malapetaka bagi setiap rumah tangga.
Selalu ada sifat yang
berlawanan antara laki-laki dan perempuan. Perempuan mengharapkan
seorang laki-laki yang setia, sementara di sisi lain laki-laki selain
ingin istri yang setia, juga memiliki potensi untuk memiliki istri
lebih dari satu, dan itu bukan berarti tidak setia. Sebab jika tidak
setia, pastilah seorang laki-laki memilih untuk menceraikan istri
pertamanya untuk menikah dengan perempuan lain. Kenyataannya, untuk
kasus-kasus poligami, lebih banyak istri pertama yang meminta cerai
kepada suaminya. Sementara laki-laki pada umumnya tidak ingin
menceraikan istri pertamanya, hanya karena istri pertama tidak pernah
bisa menerima, maka terjadilah perceraian itu. Pada saat yang sama,
seorang laki-laki bisa mencintai beberapa orang perempuan, bahkan lebih
dari 4 orang, dan bisa mencintai masing-masing perempuan itu secara
‘utuh’. Ibaratnya ada beberapa ruang kosong dalam hati seorang
laki-laki yang tidak mungkin diisi oleh satu orang perempuan saja.
Itulah sebabnya mengapa laki-laki cenderung menjadi playboy. Jadi,
sebetulnya perempuan tidak perlu khawatir laki-laki tidak setia, sebab
seorang laki-laki bisa ’setia’ kepada beberapa perempuan sekaligus.
Saya kira itulah keagungan Allah yang diberikan kepada kaum laki-laki,
sementara pada perempuan, Allah memberikan perasaan yang sangat
sensitif. Hal ini tentu saja agar kedua hal tersebut bisa disinergikan
dan dikompromikan, agar segalanya menjadi seimbang. Dan juga ke-Maha
Bijaksanaan Allah yang membolehkan seorang laki-laki untuk menikahi
lebih dari satu perempuan, karena Allah sangat mengetahui karakter
laki-laki, namun Allah hanya membatasi sampai 4 orang saja. Sebelum
Islam datang, poligami memang tidak dibatasi, mau punya 100 istri juga
tidak ada yang melarang saat itu. Maka, disinilah, lagi-lagi Maha
Bijaksana-Nya Allah, potensi yang ada tidak serta merta "dibunuh", tapi
diatur, dibatasi. Jika Allah saja ‘memfasilitasi’, lantas apa hak kita
untuk melarang? Saya menduga, akan lebih banyak perselingkuhan
seandainya poligami dilarang oleh manusia. Dan sampai kapanpun, rasanya
sangat sulit untuk melarang laki-laki untuk poligami. Apalagi dengan
adanya wacana pelarangan poligami untuk dijadikan undang-undang, saya
kira hal tersebut bukanlah suatu wacana yang bijaksana.
Jika
beberapa teman saya tidak bisa membenarkan "menghindari zina" dijadikan
alasan sebagai poligami. Saya justru berpendapat syah-syah saja
beralasan seperti itu, karena bagaimanapun, alasan itu memang paling
manusiawi dan tidak hina. Berapa persen sih poligami yang tidak
melibatkan "urusan bawah perut"? Saya yakin tidak banyak. Dan bahwa
seringkali kata-kata "sunnah","karena Allah" digunakan untuk menutupi
alasan yang sebenarnya adalah "nafsu", masih lebih baik daripada mereka
yang melakukan selingkuh sembunyi-sembunyi. Pun orang-orang yang
melakukan poligami dengan alasan "nafsu" sekalipun masih lebih
"ksatria", karena mereka tidak menyembunyikan "niatnya". Sedangkan
orang-orang yang selingkuh, jelas mereka bisa dikategorikan orang-orang
yang pengecut. Saya berpendapat seperti itu, karena saya tidak hanya
berbicara tentang orang-orang "yang mengerti" saja, tidak hanya tentang
orang-orang yang berpendidikan tinggi saja, tapi juga tentang mereka
yang mungkin tidak memiliki alasan lain untuk poligami selain "daripada
zina", atau bahkan mereka yang tidak memiliki pemahaman terhadap agama
dengan baik. Tentang pendapat bahwa poligami tidak mungkin
menyelesaikan masalah perzinaan, saya setuju, tapi pada saat yang sama,
saya juga berpendapat bahwa poligami bisa meminimalisir "penyakit"
tersebut. Saya seringkali heran, sebagian besar wanita menolak untuk
dipoligami atau dijadikan istri kedua secara sah, tapi pada saat yang
sama kita juga menemukan banyak perempuan yang mau dijadikan wanita
simpanan. Aneh…
Merujuk ke dua berita yang sempat ramai di
seluruh media massa di Indonesia. Ada sebuah pelajaran yang bisa
diambil dari kedua kasus tersebut, pada kasus AA Gym, saya tahu
poligami mungkin terasa sangat berat untuk Teh Ninih sebagai istrinya.
Namun dengan sikap Teh Ninih yang mencoba untuk ridha dan pasrah kepada
Allah, dan mungkin juga dengan keinginan untuk membahagiakan suaminya,
hal itu sedikit meringankan langkah AA Gym untuk menikah lagi dan bisa
membantu menyelamatkan kehancuran rumah tangga mereka. Dan saya kira,
keputusan yang diambil oleh AA Gym bukanlah keputusan yang seenaknya,
tapi memerlukan pertimbangan yang sangat matang, karena
pertanggungjawabannya sangat berat, apalagi sebagai seorang tokoh yang
begitu dicintai banyak kalangan. Konon, pertimbangan yang dilakukan
selama setahun lebih. Sementara kasus skandal cinta anggota DPR Yahya
Zaini dan penyanyi dangdut Maria Eva, sudah dipastikan menghancurkan
rumah tangga Yahya Zaini dan masa depan karir Yahya Zaini dan Maria Eva
sendiri. Dan sudah pasti juga, istri Yahya Zaini akan jauh lebih sakit
hati, karena merasa dikhianati. Kalaupun selama ini mereka tampil di
televisi "seolah-olah" baik-baik saja, minimal mereka sudah menanggung
malu yang luar biasa.
Saya tahu banyak yang tidak setuju
membandingkan dua kasus tersebut sebagai tesis-anti tesis. Akan tetapi,
menurut saya akar dari kedua masalah tersebut sebetulnya sama,
katakanlah ‘keinginan’ untuk memiliki istri lagi, namun cara dan
tujuannya berbeda. AA Gym melalui jalan halal, dan berdasarkan
pengakuannya, hal itu bertujuan untuk mengingatkan bahwa poligami
sebetulnya tidak perlu terlalu dipermasalahkan, tapi juga jangan sampai
dijadikan legitimasi terhadap poligami yang seenaknya. Sementara Yahya
mengambil jalan selingkuh, dan akibatnya sangat fatal. Dan kunci dari
kedua permasalahan tersebut adalah perempuan. Teh Ninih mencoba untuk
meridhai, dan hasilnya adalah pernikahan yang ‘damai’, sementara istri
Yahya sepertinya bukan tipikal orang yang mau dimadu, dan hasilnya
adalah perselingkuhan. Jadi buat mereka yang ingin menikah lagi,
tinggal pilih saja mau cara seperti apa. Dan untuk kaum hawa, dua kasus
tersebut bisa dijadikan sebuah perenungan dan pertimbangan mengenai
poligami.
Untuk kasus AA Gym, tanggapan yang didapatkan memang
lebih beragam, ada yang setuju, ada yang mengecam, dan ada yang tidak
terlalu peduli seperti saya, tapi saya juga sebetulnya memuji langkah
yang diambil AA Gym. Tapi kok nulis ini? karena saya hanya tertarik
untuk membahas poligaminya. Lagipula saya juga punya misi untuk
mengingatkan bahwa sebetulnya poligami tidak perlu untuk terlalu
dipermasalahkan. Kuncinya satu, laki-laki dan perempuan, ridha dengan
sebuah ketetapan yang Allah berikan. Dengan ridhanya kita terhadap
ketetapan-ketetapan yang ada, kita akan lebih mudah untuk
mengkompromikan perasaan kita, terlebih jika kita meyakini bahwa Allah
pasti memberikan jalan terbaik dengan ketetapan-ketetapanNya itu.
Misalnya, sebagai laki-laki, harus memahami kondisi perempuan yang
pencemburu, sedangkan sebagai perempuan, harus memahami bahwa Allah
memberikan laki-laki kelebihan dalam hal kemampuan dan kecenderungan
untuk ‘mendua’, ‘mentiga’ atau pun ‘meng-empat’. Kedua kondisi tersebut
adalah ketetapanNya. Kemudian munculkan kesadaran untuk memberikan yang
terbaik untuk pasangannya masing-masing. Insya Allah, kondisi
keseimbangan itu akan tercapai. Selama kita masih bergelut dengan
perasaan kita, rasanya sangat sulit untuk bisa menemukan solusinya.
Meskipun pro-poligami, saya bukanlah orang yang berminat untuk
poligami, nikah aja belum kok, tapi juga saya tidak berani untuk
berstatement "tidak akan pernah melakukan poligami", saya khawatir
tidak bisa konsisten dengan ucapan itu, karena ternyata hati ini memang
sangat sulit untuk diatur. Saya hanya percaya bahwa apapun yang
dihalalkan oleh Allah itu baik, itu saja. Jika ada yang mau
berpoligami, lakukanlah dengan cara yang baik, jika tidak mau, tentu
saja itu lebih baik.
Wallahualam.
Saya membayangkan ilustrasi seperti di bawah ini, jika laki-laki dan perempuan saling memahami…:D
Istri : "Bang, nikah lagi sana, pusing ngelihat abang sering ngelamun sendirian".
Suami : "Ih, siapa yang mau nikah lagi…?"
Istri : "Alah…suka pura-pura, bilang aja terus terang. Aku ridha kok."
Suami : "Nggak mau ah, ntar kamu cemburu lagi, ntar kamu nangis, ntar kamu sedih"
Istri : "Ih, abang GR banget sih…? :p emangnya siapa abang yang harus saya tangisi…?:p"
Suami : "Huu,
nggak percaya, ntar kamu malah pengen bunuh diri kalau abang nikah
lagi. Nggak mau ah…Lagian kalau aku nikah lagi, gimana dengan kamu?"
Istri : "Yeee…PD!!
Aku kan ada anak-anak yang bisa diurus dan jadi pelipur lara :p Lagian
kalau abang bahagia, aku juga akan sangat bahagia. Beneran nih nggak
mau? ntar kebawa-bawa mimpi loh…" ;;)
Suami : "Iya, beneran…swear!!"
Istri : "Serius nih…? kesempatan kayak gini jarang loh…"
Suami : "Kalau kamu maksa, ya udah deh…mau…hehehehe"
Istri : "Huuu…dasar laki-laki" (sambil nyubit)
Suami : "Hahaha…abisnya kamu maksa gitu sih…:p. Tapi…kamu tahu kan kalau aku selalu cinta kamu?".
Istri : "Iya, bang. Aku juga selalu cinta kamu".
Heuheuheu…:p
S3K3L04.061206-141206.02:14.
NB :
- Bukan berarti saya tidak memahami perasaan perempuan tentang masalah ini, tapi memang sengaja buat nyindirin perempuan :p
- Saya tahu, secara keseluruhan, tulisan ini tidak terlalu objektif, memang sengaja sih…;;)
-
Naskah ini juga saya kirimkan kepada Asma Nadia untuk disertakan dalam
"lomba" penulisan tentang poligami, siapa tahu "layak" untuk bersanding
dengan tulisan orang lain yang lebih hebat dalam sebuah buku. Heu3x.
Tulisan ini adalah versi terakhirnya, sementara tulisan yang saya
kirimkan, terlalu banyak yang bisa dikritik, meskipun tulisan ini pun
pasti banyak yang bisa dikritik dan bikin yang membacanya eneg…:D
Penjelasan Teh Ninih dan Alasan AA Gym Memilih Teh Rini
Berikut ini adalah penjelasan Teh Ninih mengenai poligami yang
dilakukan oleh AA Gym. Kutipan di bawah ini adalah kelanjutan dari
tulisan yang berjudul Penjelasan AA Gym Tentang Pernikahan Kedua.
Kutipan di bawah ini juga bersumber dari rekaman yang sama, yang saya
pindahkan menjadi tulisan, mudah-mudahan bisa membantu siapapun yang
membacanya untuk mendapatkan informasi yang lebih jelas perihal
pernikahan kedua AA Gym.
Selain itu, saya tuliskan juga alasan
AA Gym memilih Alfarini Eridani (Teh Rini). Saya pikir sangat penting
juga untuk saya sertakan di postingan kali ini. Sehingga akar
masalahnya menjadi jelas, tidak sekedar gosip, atau ghibah.
Penjelasan Teh Ninih
Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh…
Maha
suci Allah, yang melembutkan hati-hati kita. Mudah-mudahan dengan
kelembutan hati, Allah menuntun kita agar kita mudah untuk menerima
kebenaran. Terima kasih AA…saya pribadi merasa bersyukur memiliki
suami yang diberikan karunia yang sangat besar, bisa mengenal Allah
sejak sebelum menikah. Dan saya…banyak evaluasi untuk saya sebagai
istri, kurang terima kasih saya kepada suami, sehingga dengan
pernikahan 20 tahun, walaupun saya sebagai istri sudah mulai dikenalkan
dengan Allah oleh orang tua, tetapi untuk langsung bisa mempraktekan,
Alhamdulillah, syariatnya lewat AA. Hakikatnya Allah SWT yang sayang,
Allah memilih AA.Perjalanan 20 tahun menikah penuh dengan liku,
kadang sering tidak setuju dengan apa yang AA lakukan. Berawal dari
bagaimana AA selalu melatih istri untuk tidak cinta dunia. Sempat
terpikir, "Kenapa AA seperti ini, kok nyiksa istri…?". Tetapi,
subhanallah, dengan kesabaran AA, sebagai suami begitu paham perasaan
istri. Dan 20 tahun kemudian, inilah saatnya, latihan demi latihan yang
luar biasa ujian besar. Di saat istri sangat cinta kepada suami, karena
suami sedang diuji dengan penghormatan, dan suami juga selalu memuji
istri. Nah, pada saat inilah, subhanallah, Allah mendatangkan kejadian
yang menguji keikhlasan istri. Maka yang pertama kali, hikmah dari
kejadian ini, "Ya Allah, saya sedang diuji dengan kemudahan, dengan
penghormatan". Dan suami begitu bangga kepada saya, kadang terucap
dalam hati, dalam pikiran…"inilah saya yang paling hebat, yang bisa
mengantarkan suami saya menjadi hebat seperti ini"…Allah nggak suka,
Allah Maha Cemburu…"Bukan karena engkau…", bukan karena saya
sebagai istri, tapi Allah yang menuntun, Allah yang memberikan kekuatan
kepada suami. Maka, Allah mendatangkan seorang wanita yang AA pilih
sebagai istrinya.Awalnya, hancurlah sudah perasaan
diriku…tapi, subhanallah, terus minta kepada Allah…oh, ternyata
nggak ada yang hebat, tidak ada yang hebat, yang hebat hanya Allah.
Itulah ujian keikhlasan, sehingga akhirnya…ketika tahu bahwa AA sudah
menikah, subhanallah, pasti ini ada hikmahnya, pasti ada hikmahnya.
Langsung merujuk apakah ini akan mengikuti nafsu saya takut
kehilangan…kehilangan…nama istri AA Gym yang hebat, atau merujuk
kepada hukum Allah. Istikharah, sujud, minta tolong, sambil
menangis…dan, subhanallah, ketika hati kita lembut, itu terasa sekali
penghambaan kita kepada Allah, minta yang terbaik…minta yang terbaik.
Dan, Allah membukakan hati bahwa apa yang dilakukan suami saya ini
adalah sebuah kebenaran. Saya harus berjuang untuk memanage
nafsu…memanage nafsu.Dan, yang kedua, hikmahnya adalah,
setelah meyakini bahwa ini sebuah kebenaran, disinilah benar, bahwa
dengan poligami itu sangat komplit, bagaimana manajemen qalbu bisa
dilatih semuanya. Yang pertama, bagaimana melatih supaya tidak dengki
kepada orang. Di saat ada orangnya, dengki tidak? padahal hati terusik.
Kalau saya dengki, berarti terhalang saya untuk mendekat kepada Allah.
Kemudian yang kedua, evaluasi untuk diri. Apakah ini, saya termasuk
tamak, tidak mau berbagi? Padahal selama ini, di hadits, di
Quran…bahwa kita harus mencintai saudara seiman seperti mencintai
diri sendiri. Saya punya suami yang begitu hebat, sholeh, kaya,
cakep…ini orang yang paling saya cintai, bisa nggak berbagi kepada
sesama muslimah. Ternyata tidak mudah AA…(terdengar audiens dan Teh
Ninih sendiri tersenyum/tertawa ringan)…ngejungkel(terjungkal) juga
yah? Istilahnya…AA takut sama yang lain. Tapi, subhanallah, dengan
pertolongan Allah, terus diberikan pemahaman…pemahaman. Berarti saya
nggak boleh mundur, ini kesempatan, harus lulus…harus lulus…harus
bisa.Itu hikmah yang kedua, dan yang terakhir, barangkali ini
satu harapan dari Teteh sebagai…sebagai orang yang dipilih
mendampingi AA dalam berjuang. Di saat melihat akhwat, perilaku kepada
teh Rini khususnya, sangat beragam. Sampai ada yang ingin menjenggut
katanya kalau ketemu, ingin menjambak, ada yang malah sampai…disihir
aja katanya, A, diguna-guna. Wah, udah macem-macem. Pokoknya,
subhanallah, ini sebuah pelajaran untuk saya secara pribadi…oh,
berarti sikap wanita itu sangat beragam, dan saya tidak bisa menuntut
akhwat sama, semua legowo, semua memaafkan…tapi inilah tanggung jawab
seorang pendakwah, seperti apa yang AA tadi sampaikan. Jadi, maaf
sekali…Teteh menghargai sekali yang sayang kepada teteh mungkin
sangat ingin, membalas lah…kalau itu dikatakan ketidaksukaan,
bagaimana menjadi seorang anak atau santrinya membela gurunya, untuk
supaya tidak sakit. Tapi, tolong…berperilakulah, perilaku yang baik,
karena walau bagaimanapun teteh sekarang mulai berfikir…saya
bersyukur dan berterima kasih kepada teh Rini yang menjadi jalan saya
bisa evaluasi, sejauh mana keseriusan(?) saya taat kepada suami, sejauh
mana saya berlatih untuk berbagi, berlatih untuk tidak dengki, berlatih
untuk memaafkan orang yang sepertinya menyakiti. Seperti itu A, terima
kasih.Wassalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh.
Alasan AA Gym memilih Teh Rini
Mengapa
dipilih Alfarini? Seorang yang baru masuk ke sini (DT). Saya lebih
mendasarkan kepada istikharah, satu tahun, kurang lebih. Kalau baik,
mudahkan…kalau tidak baik, jangan pernah terjadi. Saya tidak memilih
karena saya mencintai berlebih. Tidak bisa dipungkiri Alfarini
dikaruniai sesuatu yang menarik perhatian, tetapi …(ada satu kata
yang tidak jelas)…sadar, saya tidak mau hanya karena itu.Nah,
rekan-rekan sekalian. Alfarini usianya hari ini genap 38 tahun.
Alfarini, kakeknya adalah…neneknya adik-kakak dengan orangtuanya pak
Habibie. Jadi, ini lahir di keluarga besar pak Habibie. SD, SMP nya di
Al-Azhar, SMA di Surabaya, kuliah di UNAIR. Yang saya dengar, memiliki
kecerdasan memadai, tanding dengan teh Ninih yang tidak pernah rangking
2, kecuali rangking 1 terus. IP nya 3,6. Saya pilih, diantara hikmahnya
adalah karena ketabahan dan kesabarannya menghadapi situasi-situasi
yang sangat berat dalam kehidupannya. Ibunya sudah stroke, ayahnya
sudah uzur, pikun. Dia harus memikul tanggung jawab atas keluarganya
seorang diri. Sudah janda, anaknya 3, usianya selisih setahun dengan
istri saya. Dan teruji dalam situasi yang saaangat berat seperti ini,
dimana saya tidak bisa mendampingi teh Rini dihina, dicaci, dimaki
begitu banyak orang, dia harus menghadapinya seorang diri. Maha Suci
Allah, yang membuka sedikit demi sedikit hikmah.Sahabat saya
Hari Sudarsono, yang membangun pesantren ini dari awal, baru saya tahu
bahwa itu adalah saudara dekatnya, dan beliaulah, Hari Sudarsono lah
yang menceritakan. Jadi, kalau selama ini ada informasi yang simpang
siur, siapakah wanita ini? Jangan…jangan disisipkan intel dan
sebagainya. Semakin lama, semakin saya kenali, Qiyamul Lailnya,
standarnya adalah jam setengah 2 pagi, jam 2 pagi. Kesabarannya,
alhamdulillah, saya syukuri. Tentu banyak kekurangan-kekurangan sebagai
manusia, tetapi sesudah ijab qabul, saya sebagai suaminya memikul
tanggung jawab untuk bisa membuat istri saya ini menjadi bagian dari
dakwah ini. Mudah-mudahan Teteh bisa menjadi Kakak, berikut gurunya.
Saya harap saudara tidak berburuk sangka kepada istri saya yang kedua
ini. Dia adalah bagian dari takdir ini, teteh akan berubah menjadi
lebih baik, insya Allah, syariatnya hadirnya Rini. Anak-anak saya lebih
dekat dengan Allah, syariatnya dengan hadirnya Alfarini. Saya bisa
belajar untuk terus mengubah diri, syariatnya adalah ditakdirkannya ada
wanita bernama Alfarini.Kenapa tidak dipilih dari anak Kyai
yang sudah jadi? Mungkin takdir ini membuktikan bahwa menikahi itu
harus bertanggung jawab memperbaiki, maaf, meningkatkan. Teh Ninih
orangtuanya ulama, sudah jadi dari awal, saya hanya tinggal memoles.
Alfarini, pengetahuan agamanya tidak sebanyak saudara-saudara, namun
banyak juga pengetahuan dan pengalaman lainnya yang mungkin saudara
belum memiliki. (sampai sini, rekaman terputus…)
Saya
sengaja tidak memberikan kesimpulan di sini, agar tidak tercampur
pendapat saya dan berita tersebut. Silahkan saja ambil kesimpulan
sendiri. Sudah menjadi kewajiban saya untuk menyebarkan informasi yang
sebenarnya, agar tidak terjadi "pengkaburan" informasi.
Wallahualam
S3K3L04. 141206. 11:02.
Refleksi | Comments (2)Penjelasan AA Gym Tentang Pernikahan Kedua
Berikut ini adalah kutipan Penjelasan AA Gym tentang penikahan kedua
beliau. Kutipan tersebut saya ketik sendiri setelah mendengarkan file
rekaman penjelasan beliau di depan santri-nya di Daarut Tauhiid pada
tanggal 4 Desember 2006. Saya tidak mengutip seluruhnya, karena
durasinya lumayan lama. Akan saya bagi menjadi dua sesi, sesi pertama
berisi penjelasan AA Gym, sesi kedua, insya Allah menyusul, penjelasan
dari Teh Ninih selaku istrinya. Dan tidak ada satupun kata yang saya
kurangi.
Jika dibandingkan versi rekamannya, tentu saja tulisan
ini kurang "greget", karena dalam versi rekamannya, jauh lebih
emosional dan ada tekanan-tekanan dalam kata-kata tertentu. Sementara
jika membaca tulisan ini, mungkin akan menimbulkan penafsiran yang
berbeda. Namun, mudah-mudahan kutipan berikut ini bisa menjelaskan apa
yang selama ini masih kabur. Selamat membaca.
—————————————————————————————
Alhamdulillah,
rekan-rekan sekalian. Inilah saat yang ditunggu-tunggu oleh kita semua.
Saya akan menyampaikan, sesuatu yang sangat sangat penting, dan…hal
yang dianggap akan menjadi hal yang strategis untuk siapapun yang
menginginkan perubahan.Saya mengucapkan permohonan maaf yang
sebesar-besarnya kepada seluruh civitas santri daarut tauhiid,
andaikata keputusan yang aa ambil ini membuat banyak ketidaknyamanan.
Pertama, ketidaknyamanan perasaan karena informasi yang kurang jelas.
Yang kedua, ketidaknyamanan…karena mungkin bertentangan dengan
sebagian keyakinan. Yang ketiga, karena akan ada dampak bagi Daarut
Tauhiid, MQ maupun Kopontren.Keputusan berpoligami ini bukan
hal yang ringan, saya sadar sepenuhnya akan dampak (baik dan buruknya).
5 tahun dibahas, prolognya sudah sering dibacakan, apa gerangan
alasannya, mengapa mengambil resiko yang sangat besar seperti ini?
Pertama,
kita lihat bahwa…kata poligami bagi sebagian masyarakat indonesia
masih dianggap sesuatu perilaku yang buruk. Tidak heran bila ibu-ibu
memberi nasihat…"Jangan berpoligami…!"Apalagi dengan adanya
kejadian ini, sms yang… -sebagian sms yang saya lihat-…ibu-ibu yang
begitu marahnya, sampai mau meludahi, memukul kalau bertemu AA,
buku-buku disobek, potret tidak mau dilihat. Ini adalah bukan hal yang
membuat kita emosi, tapi ini peta(?tidak terdengar jelas), betapa belum
semua orang bisa siap mendengar kata poligami.Ini menjadi
pikiran…shalat jalan, shaum jalan, haji, umrah…tapi ketika
mendengar kata poligami…tersengat. Menjadi marah, menjadi…ghibah,
seakan ada hukum Allah yang salah. Saya mengerti…bahwa wanita begitu
berat mendengar kata ini, dan ini manusiawi. Tetapi…manjadi tidak
yakin kepada kebenaran, khususnya yang satu ini, menjadi memaki,
memusuhi…ini yang harus kita bantu perbaiki.Kita lihat juga,
pada saat yang sama, pergaulan bebas, perzinahan,
ttm…menjadi…sepertinya bukan sebuah perilaku buruk, masyarakat
makin permissive terhadap hal ini. Saya sebetulnya menunggu akan ada
tokoh yang berani mengubah paradigma ini, seperti zaman jilbab dulu.Saudaraku
sekalian, sesudah istikharah hampir satu tahun, maka…walaupun mungkin
ada banyak kekurangan dan kesalahan di dalam pengambilan keputusan ini,
saya memilih untuk melakukannya. Mengapa baru diumumkan sekarang?
seperti halnya sepak bola, karena ini membutuhkan tim yang tangguh,
saya harus menanti saat tim saya kuat…Teh Ninih, Anak-anak, Orang
Tua. Besar harapan, Allah membuka waktunya, dan Alhamdulillah,
pertolongan Allah…kemarin diberi kesempatan dibuka waktunya.Satu…hikmahnya,
bagi saya pribadi, ini saat yang paling tepat untuk menguji apakah
selama ini saya menikmati pujian, penghargaan, popularitas,
penghormatan, atau saya berjuang karena ingin sesuatu yang saya yakini
benar. Alhamdulillah, dengan adanya situasi ini, betapa banyak
perhatian dalam aneka bentuk, caci maki, kutukan, ancaman…dan saya
sependapat seperti yang dikatakan pak Miftah Faridl, kita harus ikhlas
menerima caci maki ini, andai kata kita benar-benar mau komit.
Alhamdulillah…Hikmah yang kedua, inilah kesempatan bagi
masyarakat. Saya ingin tahu, dakwah saya selama ini mengajak orang
komit kepada hukum Allah, aturan Allah, atau baru komit kepada suka
Abdullah Gymnastiar. Kalau dia komit kepada hukum, berarti tidak ada
masalah. Ini hal yang halal, ini hal yang dibolehkan, bukan
dianjurkan…ini hal yang, juga Rasulullah tidak melarang, sahabat juga
melakukan. Ini hal yang, aturan negara juga memberikan peluang. Ini
bukan kejahatan, ini bukan zina, ini bukan selingkuh…INI HALAL!!
Sesuatu yang halal, sesuatu yang boleh, tetapi mengapa sebagian orang
sampai seperti itu kata-katanya? Berarti…saya dakwah belum berhasil
membuat orang lebih yakin kepada kebenaran dari Allah, baru sampai
kepada figur AA Gym. Ini baik hadirin, untuk menguji sampai sejauh mana
efek dakwah.Bagi saya pribadi, ini cobaan yang luar biasa
mantapnya. Ternyata, poligami tidak semudah diucap. Setiap hari teruji
sekali, bagaimana 2 istri ini dari sudut yang berbeda? belum lagi
anak-anak, belum lagi masyarakat…menguras…AA pemula belum pernah
berpoligami sebelumnya. Guru-guru saya juga jarang yang berpoligami
terbuka. Ada yang nasihat diam-diam, ada yang memberi nasehat
bagus…belum juga. Jadi, untuk terbuka secara nasional, belum ada
gurunya. Dan ini tidak mudah, hadirin. Kalau ada gurunya mungkin lebih
mudah.Tetapi, saya yakin, saya bukan melakukan kejahatan. Saya
tidak melakukan kemaksiatan, ini legal, ini halal…Bismillah.
Hikmahnya, jadi lebih sungguh-sungguh bergantung kepada ALlah. Kepada
siapa lagi, selain kepada ALLAH? Maha suci ALlah, mudah2an besok lusa
akan nampak karunia ALlah lainnya bagaimana kita sudah serius
menggantungkan kepada Allah.Hikmah untuk istri saya. Ada yang
bertanya…"AA Gym kurang apa teh Ninih? Teh Ninih baik, pandai,
sholehah, cantik." Sulit saya mengemukakan…ini adalah tanda cinta
saya kepada istri saya. Saya tahu istri saya sangat baik, dan saya
ingin istri saya menjadi lebih baik. Saya rindu melihat teh Ninih
menjadi bidadari di sorga kelak…dan saya tahu…saya adalah salah
satu penghalang yang membuat teteh bisa mencintai Allah sepenuh hati.
Siapa suami yang tidak rindu istrinya menjadi pecinta Allah? Saya pasti
mati…Apa yang bisa dilakukan oleh seorang suami yang cinta ke
istrinya, kecuali ingin menjadi pecinta Allah yang dapat menjamin
dirinya. Tapi, saya susah menjelaskan ini kepada umum. Saya tahu istri
saya akan sakit. Tetapi seperti yang disuntik vitamin, mungkin sakit
sebentar, besok lusa dia akan lebih kuat. Kalau saya nanti mati,
mudah2an inilah warisan terbaik sebagai tanda cinta saya kepada istri
saya…Saya percaya betul teteh akan kuat. Ayahnya ulama,
nenek-kakeknya ulama, adik-kakaknya orang-orang yang terjaga, dia
didoakan banyak orang. Saya tahu bagaimana teteh bangun malam. Saya
ingin teteh hanya mencintai Allah daripada mencintai saya (AA Gym
berbicara sambil menangis). Ini benar hadirin…(pada bagian ini,
terdapat jeda beberapa detik, karena AA Gym dipeluk oleh seorang
koleganya, dan terdengar juga suara tangisan AA Gym. Sebetulnya, di
bagian ini, jika mendengarkan rekamannya lebih mengharukan daripada
sekedar tulisan di sini. Karena emosinya lebih terdengar, dan pada
beberapa bagian kalimat, AA Gym berbicara sambil menangis).Susah saya mengungkapan dengan bahasa umum…
Mudah2an
besok lusa, cita-cita saya, teteh selama di bumi ini menjadi ulama
wanita, yang benar2 sesuai perkataan dan perbuatannya. Saya lihat umat
terlalu banyak berkiblat kepada saya, ini tidak sehat. Jarang ada ulama
wanita yang begitu penuh(?). Saya harus menggeser cinta para muslimah,
mungkin lebih tepat kepada figur seorang ulama wanita. Saya siap
menerima caci maki, saya siap dihina orang, saya siap dijauhi
orang…mudah2an Allah menerima ini sebagai tanda cinta saya kepada teh
Ninih, cinta saya kepada ummat, untuk mendapat figur yang lebih tepat.
Wallahualam, Allah lah yang Maha Tahu. Hanya waktu yang akan memberikan
bukti ini.Mengapa saya berbuat kejam kepada anak2 saya? Bukan
kejam. Siapa yang lebih mencintai anaknya selain orangtuanya sendiri?
Apakah cinta dengan dibiarkan dia tidak mengenal kebenaran? Apakah
cinta dibiarkan dengan segala sesuatu yang enak? Saya ingin anak saya
tidak (pernah/terlalu?) mengatakan sesuatu yang salah tentang hukum
Allah. Dia harus mengatakan bahwa ini adalah hukum Allah. Nggak boleh
dicacati hati ini terhadap kebenaran dari Allah. Tidak mungkin Allah
membolehkan sesuatu yang akan mencelakakan manusia. Tidak mungkin Allah
memberikan aturan yang akan mencelakakan dan membinasakan, Allah yang
paling tahu tentang manusia.Saya tahu luka hati Gaida, Ghazi
dan beraat sekali bagi saya. Tapi, saya percaya sepenuhnya saya tidak
berbuat jahat. Ini adalah kebenaran yang tidak umum dilakukan.
Alhamdulillah. Dan saya ingin anak-anak saya kuat, terlatih menghadapi
yang sulit. Selama ini enak, dipuji, dihargai. Mereka akan menghadapi
teman-temannya, lingkungannya. Saya ingin mereka kuat menjadi anak-anak
yang kuat, dan mereka harus belajar berbagi kebahagiaan dengan yang
lain.Alhamdulillah. Tadi pagi sebelum anak-anak pergi ke
sekolah…katakan Anakku untuk bapakmu…"harus kuat pak, harus
kuat..". Anak-anak memberikan dukungan luar biasa. Saya dapat sms dari
gurunya…"Anak-anak AA kuat dan tegar, di sekolah biasa, walaupun saya
tahu biasanya yang lain terpuruk".Saya percaya pertolongan
Allah, bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan. Untuk daarut tauhiid,
inilah saatnya, saudara lebih banyak bergantung kepada Allah daripada
kepada Abdullah Gymnastiar. Mungkin akan ada penurunan jumlah jama’ah
yang datang, pelatihan, pembeli…kalau saudara bergantung kepada
Abdullah Gymnastiar, inilah saatnya saudara kecewa. Yang membagi rezeki
bukanlah saya, Allah yang maha kuasa. Kita sudah sering
mengatakan,"suatu saat jangan bergantung kepada AA". Inilah saatnya.
Yang daftar ke MQ Travel ada yang membatalkan, TIDAK APA-APA, BAGUS!!
MEREKA HARUS LURUS NIATNYA!! Bukan karena AA Gym, HARUS KARENA ALLAH!!.
Tamu ada yang membatalkan datang ke sini..ITU BAGUS!! Mereka tidak
boleh datang karena manusia, mereka harus datang karena mau mencari
ilmu, mencari kebenaran. Saya tidak melihat kerugian dengan
berkurangnya orang datang, berkurangnya transaksi jual beli, disanalah
keberuntungan dari ALlah, agar kita bener-bener tauhiid nya lurus.Bagi
kaum muslimah, yang takut suaminya menikah lagi, yang tiba-tiba menjadi
benci kepada teh Rini… Teh Rini hanyalah seorang makhluk yang
ditakdirkan oleh Allah menjadi bagian dari terjadinya ketentuan ini.
Insya Allah, suatu saat mudah2an teh Ninih bisa menjelaskan apa
hikmahnya. Apakah saudara benci kepada sesama wanita sendiri, dengki
sehingga seperti yang dikatakan pak Miftah Faridl, berbuat
sadis…orang yang berghibah itu orang yang dianggap sadis, karena
seperti memakan daging bangkai saudaranya sendiri. Ini ujian keimanan
bagi AKhwat. Bagi lelaki, ikhwan di daarut tauhiid, ini juga ujian
keimanan, apakah serta merta ingin melakukan hal yang sama, padahal
tidak tahu ilmunya?Bagi ummat, ini adalah saatnya, mengetes
apakah yang dicari selama ini hanya sesuatu yang enak, sesuai dengan
seleranya, atau yang dicari yang benar menurut ALlah SWT. Mengapa
begitu marah kepada saya? Karena tidak sesuai dengan harapannya.
Harusnya, ummat menginginkan saya sesuai dengan harapan Allah, bukan
harapannya. Alhamdulillah, akan ada saatnya sebagian orang tidak mau
mendengar,menjauh, marah…tetapi saya percaya setiap hati itu adalah
dalam genggaman Allah. Saat ini benci, belum tentu besok akan benci.
Saat ini mencaci, belum tentu besok akan mencaci. Mengapa? Karena yang
menanamkan cinta bukanlah rekayasa kita, yang menanamkan cinta hanyalah
Allah SWT. Insya Allah, bagi saya tidak ada masalah, dihina, dicaci,
dikutuk, diancam…ini adalah bagian yang belum pernah saya jalani
selama ini.Saudaraku sekalian, ini akan berproses beberapa
waktu. Kalau saudara mengharapkan pertolongan ALlah dan ikhlas,
semuanya menjadi mudah. Kalau saudara mencintai dunia, mencintai
pujian, penghargaan, bergantung kepada makhluk…inilah saat yang
terberat yang saudara jalani. Barang siapa yang Allah baginya,
Hasbiyallah wa ni’mal wakil, ni’mal maula wa ni’mal nassir.Saudaraku
sekalian, mudah2an kedepan dengan ijin ALlah akan terbukti, bentuk
cinta seorang suami kepada keluarganya, kepada ummatnya, Insya ALlah.
Saya harus kuat menjaga keikhlasan ini, saudarapun teruji kesetiaan,
cinta kepada AA. Saya tidak berharap agar rekan2 mencintai, membela
saya…Jangankan kepada rekan2, kepada teh Ninih saja…"Mamah, AA
tidak menuntut mamah melakukan apapun untuk keputusan yang AA ambil
ini". Karena tidak bisa diungkapkan sekarang hikmahnya. Mudah2an rekan2
memaklumi, memaafkan, dan siap. Inilah babak baru dalam kehidupan saya,
mungkin satu-dua tahun ini akan latihan mengembangkan kemampuan.
Sebagai penggantinya, mudah2an ibu2 akan…tempat saya digunakan oleh
teh Ninih. Mudah2an akan ada figur ulama lain yang bisa mengisi
kekosongan ini, pada saatnya mudah2an AA Gym yang tampil lebih layak
disebut ulama daripada sekarang ini yang hanya baru belajar berdakwah
biasa. Saya membutuhkan situasi dimana teruji keikhlasan, teruji
kegigihan, konsisten dalam kebenaran, apakah karena ALlah ataukah
karena mencari kedudukan kepada manusia.
——————————————————————————————-
Itulah penjelasan dari AA Gym, insya allah, akan saya ketik juga penjelasan dari teh Ninih.
S3K3L04.131206.21.26.
Refleksi | Comments (2)Nyoba Template Baru
Lihat blog saya yang ini , saya dah ganti template, kalau di blog ini sih nggak bisa ganti-ganti template. Kalau ada caci maki, saran atau apa saja, kirim lewat comment aja ya…???
S3K3L04. 23.15. 041206
Your December
Bulan Desember ini, ada beberapa orang yang berulang tahun. Dalam
daftar saya, hampir semuanya wanita. Itu artinya, makan-makan…!!!
Heuheuheu. Nggak ding, sebenernya saya kurang sreg juga dengan budaya
traktiran-traktiran pas ultah, tapi kalo diajakin mah nggak akan pernah
nolak.
Asal jangan minta traktir balik aja pas saya
ultah…Hahahaha…:D. Inilah mereka…
1 Desember : Desi "Raihana" Triyanti
2 Desember : Tita Hendaryani
9 Desember : Rosi Rosmala Dewi
11 Desember : Seseorang yang jika saya tuliskan namanya di sini akan menjadi masalah buat saya. Heuheuheu.
24 Desember : Mia Amaliah
27 Desember : Desi yang lain lagi
Kalau nggak salah, Irma Herdianti juga Desember ya???
Semuanya
berjilbab, dari yang minimalis sampai yang maksimalis…heuheuheu.
Yeah, mudah-mudahan kalian menjadi ‘ladang’ tempat tumbuhnya
‘bibit-bibit’ berkualitas, yang bisa menjadi agen perubahan negeri ini
menjadi lebih baik, yang bisa membawa orang-orang di negeri ini ke
‘Jalan Cahaya’. Mudah-mudahan saja. Amin.
Trus…
6 Desember : Catur
Siapa lagi ya? Adakah yang terlupa?? Ngacung aja ya atau tulis dikomen…!!!
Mau dikasih kado apa??
Saya kasih lirik lagu dari GIGI aja ya?
Selamat Ulang Tahun
Suasana Indah dan Ceria
Membawa Suka Cita
Bersama Gembira
Menyambut Datang Hari Bahagia
Tak Sabar Hati ini
Tuk Berbagi Rasa
Seiring waktu berjalan usiamu
Terucap Untukmu Selamat Ulang Tahun
Semoga kita selalu bersama
dalam canda dan tawa
yang masih tersisa
Tambahan
dari saya, Woi!! Tobat Woi…Jangan pernah senang dengan bertambahnya
umur. Itu artinya, kalian semakin mendekati waktu kematian kalian.
Sudah nyiapin bekal apa aja??
Do’a dari saya…(Kecuali buat Catur)
Semoga
dapat suami yang sepinter saya, seganteng saya dan seaneh saya.
Heuheuheu…Nggak ding, becanda, lagi narsis tingkat tinggi nih. :p
Kalau yang ini serius…
Semoga
kalian mendapatkan suami yang mencintai Allah, dan Allah
mencintainya…Amin. Cukup??? Cukup lah…kalau do’a saya dikabulkan,
kalian akan mendapatkan ’segalanya’, insya Allah.
S3K3L04. Saturday. 021206. 03.20.
Ngelantur | Comments (3)2 X 2 = Bahagia
Akhirnya, setelah pencarian yang cukup lama, saya dapat menikmati lagi
Album lama GIGI, 2 X 2. Senangnya…senangnya… Seperti yang
sudah-sudah, saya menemukan album ini secara tidak sengaja. Ketika saya
kembali ke Bandung, setelah 2 hari sebelumnya pulang ke Bogor. Saya
mendapatkannya di Kebon Kalapa, setelah shalat Jum’at di Mesjid Raya
Bandung. Hanya saja, MAHAL!! Harganya 3 kali lipat dari harga aslinya
yang ketika album ini keluar, sekitar tahun 1997, hanya Rp.8000,-.
Meskipun setelah ditawar, hanya turun Rp.2000,- Tapi, nggak apa-apa
lah. Maklum saja barang langka dan, tentu saja, Great Music!!!.
Bayangkan saja, 3 tahun lebih saya mencari album ini. Pernah suatu
saat, seluruh toko kaset di mall-mall besar di Bogor saya datangi, demi
untuk memenuhi rasa ‘cinta’ saya pada album ini. Eh, dapatnya malah di
emperan pinggir jalan. Padahal, toko kaset bekas yang ada di Bandung
pun pernah saya datangi, dan memang sulit mencari album ini. Sebuah
pelajaran, kalau punya koleksi kaset-kaset lama atau barang apa saja,
jangan dibuang, tapi rawat dengan baik, siapa tahu suatu saat harganya
bisa jadi berlipat-lipat.
So, setelah sampai kost-an, saya sibuk
nyari walkman ke sana-sini, soalnya saya nggak punya tape atau walkman.
Ada beberapa orang yang saya telpon dan sms. Rupanya walkman sudah
bukan zamannya lagi. Akhirnya, ada seorang teman kostan yang berbaik
hati meminjamkan tape yang katanya agak besar, dan kenyataannya, sangat
besar!!. Demi untuk mendengarkan lagi album tersebut, saya pun rela
untuk mengangkat dari lantai 2 ke lantai 1. Asli, berat!! Pyuuhhh!! Dan
bagusnya lagi, teman saya itu punya kabel audio yang bisa saya gunakan
untuk merekam ke komputer untuk saya jadikan MP3. Lengkaplah sudah
kebahagiaan saya.
Dengan kembali memiliki album ini, hampir
lengkaplah daftar pencarian saya, setelah jauh-jauh hari sebelumnya
saya mendapatkan hampir seluruh track dari Liquid Tension Experiment dan John Petrucci. Dua album dari Liquid Tension Experiment (Album I dan II) dan John Petrucci (Suspended Animation)
merupakan album-album yang luar biasa. Terutama Liquid Tension
Experiment yang memberi ‘pengalaman baru’ dalam menikmati sebuah sajian
musik yang berkarakter, chaos, megah dan pada beberapa bagian,
terdengar ‘lucu’. Jadi, pencarian saya tinggal album-album dari
Transatlantic, Jordan Rudess dan OSI. Masih lumayan banyak ternyata,
dan susahnya, album-album tersebut sangat langka di Indonesia.
Oke,
kembali ke Album 2 X 2. Saya akan cerita sedikit tentang album ini.
Album ini merupakan album transisi ketika GIGI mengalami kegamangan
setelah ditinggal 3 personelnya, yaitu Baron (Gitar) yang melanjutkan
kuliah ke Amerika, Thomas (Bass) yang saat itu sedang dalam masa
penyembuhan dari penyakitnya, mabok!! Dan Ronald (Drum) yang
meninggalkan GIGI karena memiliki visi yang berbeda. 
Sepeninggalan Baron, GIGI dengan 4 personel yang tersisa, yaitu Armand,
Budjana, Thomas dan Ronald masih sempat menelorkan sebuah Album yang
diberi judul 3/4. Sebuah album yang minimalis, nge-rock, eksperimental
tapi juga nampak totalitas mereka dalam bermusik. Menurut saya, pada
album ini, semua personel bermain sangat baik dan benar-benar
‘mengerahkan’ seluruh kemampuan mereka. Saya sangat kagum pada
bagaimana Ronald memainkan drum-nya di album ini. Sayangnya, setelah di
album ini, yang merupakan album terakhir Ronald bersama GIGI, saya
tidak pernah mendapatkan lagi permainan drum Ronald seperti di album
3/4 ketika Ronald bermain di luar GIGI, termasuk ketika membentuk Dr.PM.
Setelah
album 3/4 inilah, Thomas ‘istirahat’ dari GIGI, disusul beberapa bulan
kemudian oleh Ronald yang mengundurkan diri. Tersisa Armand dan
Budjana. Konon, mereka berdua sempat berfikir untuk membubarkan GIGI
dan berduet saja. Namun, mereka urung melaksanakan niat tersebut dan
menambah 2 orang personel baru, Budhy Haryono (Drum) dan Ophet Alatas
(Bass) yang merupakan kru GIGI. Bahkan sebelum Thomas istirahat, Ophet
pernah beberapa kali menggantikan Thomas ketika mabok. Akhirnya,
keluarlah album 2 X 2 di bawah bendera Ceepee.
Ada apa aja sih
di album ini? Dan mengapa saya sangat menyukai album ini? Hmmm, apa ya?
Menurut saya, album ini sangat fenomenal karena pertama, banyak
melibatkan musisi dari dalam dan luar negeri. Kedua, album ini sangat
eksperimental, terkesan sedang mencari bentuk, tapi justru menghasilkan
lagu-lagu yang luar biasa. Ketiga, warna musik yang lebih unik.
Keempat, hampir semua lagu saya suka. Tentu saja semuanya tidak
objektif, karena penilaian orang terhadap musik berbeda-beda, tapi
itulah menurut saya.
Ada 11 lagu di album ini, 8 lagu dengan
lirik Bahasa Indonesia, 2 dengan lirik Bahasa Inggris dan 1 lagu
instrumental. Album ini dibuka dengan lagu yang sangat keren, Flamenco,
sesuai judulnya musik yang ditawarkan bernuansa Flamenco, seperti
musik-musik spanyol dan latin. Juga dengan beat yang membuat badan
ingin bergoyang dan menari. Disusul dengan lagu Mereka,
sebuah lagu yang sangat nge-rock!! Pada lagu ini, GIGI dibantu oleh
Billy Sheehan yang saat itu masih menjadi Bassis Mr.Big, bahkan di lagu
ini Billy menampilkan kebolehannnya bermain solo bass, bersahut-sahutan
dengan solo gitarnya Budjana. Konon Billy sempat terkagum-kagum dengan
kemampuan Budjana dalam bermain gitar, dan pernah menawari Budjana jadi
gitaris Mr.Big. Namun, saya tidak pernah mendengar berita tersebut dari
mulut Budjana langsung (halah, kesannya akrab banget ya …? heuheuheu
:p). Menariknya, di lagu ini juga ikut menyumbangkan beberapa pemain
trompet terkenal, yaitu Eric Marienthal, Harry Kim dan Arturo Velasco
yang mewarnai lagu ini menjadi lebih gagah. Disusul kemudian dengan
lagu Bumi Meringis, bernuansa
etnis dan akustik dengan latar string section dari Sak Unine String
Trio, menjadikan lagu ini lebih ‘menggigit’. Saya benar-benar kagum
dengan kemampuan vokal Armand di lagu ini. Sangat prima.
Lagu keempat, Kurindukan.
Pada awalnya, saya tidak terlalu suka dengan lagu ini. Namun, seiring
berjalannya waktu, saya jadi menyukai lagu ini. Tidak banyak yang bisa
saya ceritakan dari lagu ini, hanya saja lagu ini lebih bernuansa
kelam. Lagu selanjutnya, Tractor.
Dengan lirik Bahasa Inggris, hampir menyerupai lagu Mereka, namun lebih
nge-rock dan ada sedikit unsur jazz, karena dibantu juga oleh Indra
Lesmana.
Masuk side B, diawali sebuah lagu keren, Kau Dengar. Sebuah lagu yang pernah membuat saya mengharu biru ketika zaman SMA dulu, terutama karena lirik yang ini…"Sadarlah, ada bidadari, yang menanti hatimu. Jangan biarkan dia sendiri, menangis, tanpa belai, tanpa kasih…". Bagian yang paling saya sukai dari lagu ini adalah pada bagian solo gitar nya Budjana. Disusul dengan Cry Baby. Sebuah lagu yang ‘berisi’, nge-jazz, progressive, nge-rock, ah sagala rupa lah…heuheuheu. Masuk lagu Sang Nayaga,
diawali dengan intro rebab disusul rampak gendang dari IDEA Percussion,
dan selanjutnya mewarnai keseluruhan lagu ini. Sangat eksotis dan lebih
meng-Indonesia. Lagu ini diakhiri dengan rampak gendang selama kurang
lebih 30 detik, impressive. Berikutnya, masuk sebuah lagu instrumental
medley, Bronchitis-Kronis. No Comment.
Dua lagu terakhir terdengar lebih bersahabat dengan telinga. Lagu kesepuluh, Selamat Ulang Tahun,
dengan nada yang lebih ceria, sederhana dan paduan suara ceria
anak-anak, menjadikan lagu ini cocok untuk dijadikan sebagai lagu ulang
tahun. Dan terakhir, Ingin Kubicara. Hmm, the most favourite song.
Seperti lagu Kau Dengar, lagu ini juga pernah membuat saya menjadi
sangat sentimentil. Karena pada saat itu lagu ini sangat sesuai dengan
apa yang saya rasakan…"Ingin Kubicara, semua yang ada, namun jiwa ini diam, beku…".
Heuheuheu. Bahkan saya sering sekali mengutip lirik ini ketika SMA
dulu. Dengan sentuhan gitar akustik dari Budjana, Bass yang sederhana
dari Ophet dan Perkusi dari Budhy, serta String Section yang dominan
menjadi latar belakang lagu ini, menjadikan lagu ini benar-benar cocok
untuk mereka yang sedang jatuh cinta. Sangat melankolis.
Jadi, begitulah…:D Ada yang mau minjem?? hehehehe.
S3K3L04. Saturday. 021206. 02.46.
Music | Comments (5)

