Dua Wanita : Sepenggal Cerita Masa Lalu

November 14th, 2006

Dulu saya pernah membuat sebuah tulisan mengenai kedekatan saya dengan
2 orang wanita yang merupakan teman sekelas, katakanlah A dan B,
dua-duanya merupakan junior saya di kampus. Namun, tulisan itu ada di
blog saya yang lama, di spymac. Dua-duanya cantik, berjilbab dan ketika
itu sedang melalui tahapan proses untuk menjadi wanita sholehah. Dan
sialnya, saya ‘menyukai’ dua-duanya…(dasar maruk!!). Saya lebih dulu
mengenal dan dekat dengan B daripada A. Namun, sampai 2,5 tahun
selanjutnya, A yang lebih dekat dan sering berinteraksi dengan saya.
Sementara dengan B, sudah tidak pernah ada komunikasi sama sekali.
Beginilah ceritanya…(halah!!)

A lebih dulu memakai jilbab,
ketika kelas 2 SMA. Melalui proses mimpi menghadapi kematian, dia
tersadarkan bahwa sebuah kematian itu sangatlah dekat, sementara dia
ketika itu, masih merupakan seorang perempuan remaja yang bandel,
tukang ‘berantem’, labrak sana-sini, anak band, tukang kabur dari
sekolah dan musuh anggota DKM di sekolahnya. Maka setelah kejadian
mimpi itu, esoknya, dia langsung memakai jilbab dan langsung mendatangi
anggota DKM untuk bergabung dengan mereka. Terheran-heran lah
orang-orang DKM.

Sementara B, dia menggunakan jilbab setelah
lulus SMA. Meskipun tidak ’segarang’ A, B juga memiliki latar belakang
yang tidak terlalu berbeda sebetulnya, seorang drummer, tipikal anak
gaul, anak basket, cuek, meskipun sebetulnya sangat sensitif, dan
berasal dari keluarga broken home yang bahagia, bingung kan??. B
menggunakan jilbab lebih dikarenakan pengaruh dari kakak-kakaknya yang
berjilbab dan telah lebih dulu mengenal islam dan terjun ke dunia
dakwah. Ketika pertama kenal, B masih menggunakan jilbab yang
’seadanya’ dan masih lebih suka memakai celana jeans. Sampai suatu
saat, ketika kami sedang ngobrol, lewatlah seorang perempuan yang
memakai gamis. Lalu tiba-tiba, keluarlah celetukan saya, "Berani nggak
pakaiannya kayak itu ?", sambil menunjuk kepada perempuan ber-gamis
yang baru saja lewat. "Wah, belum berani ah…eh, tapi kalau ntar
Ramadhan mungkin saya mau pake, tapi nggak kayak gitu ah, cuma ganti
aja celananya pake rok". Memang kejadian tersebut terjadi beberapa
minggu menjelang Ramadhan. "Ya udah, beneran ya..? saya tunggu
buktinya…!", tantang saya.

Ternyata dia memang benar-benar
membuktikannya. Awal ramadhan, kami janjian untuk bertemu di
Perpustakaan kampus, karena biasanya dia selalu meminta bimbingan saya
ketika mengerjakan tugas-tugasnya di perpustakaan. Tiba-tiba saja dia
menyuruh saya, "Kang, coba lihat ke bawah…! Cocok nggak ?". Antara
kagum dan kaget, tidak banyak yang bisa saya katakan, "Oh…Ternyata,
beneran mau pake juga…". "Tapi cuma bulan Ramadhan aja ah…",
katanya. "Terserah aja, kamu ini yang pake baju". Namun, hal tersebut
tidak terbukti, karena selanjutnya dia lebih ‘menyukai’ untuk
menggunakan rok, dan selanjutnya tidak pernah sekalipun saya
menyaksikan dia memakai lagi celana jeans nya. Dan bahkan setiap saat,
pakaiannya jauh lebih baik daripada sebelumnya. Tentu saja, itu
menjadikan dia lebih cantik dan anggun. Saya sendiri tidak pernah
merasa perubahan yang terjadi dikarenakan tantangan saya. Saya menduga,
dia memang sudah memiliki rencana untuk itu, dengan adanya tantangan
dari saya, dia merasa ada semacam "penguat" untuk melanjutkan
rencananya, atau mungkin ketika Ramadhan itu lah dia mendapatkan
"kekuatan" untuk berubah menjadi muslimah yang lebih baik. Wallahualam.

Namun,
justru setelah Ramadhan, saya merasakan perubahan sikap dari dia, tapi
tidak pernah saya tanyakan atau permasalahkan kepada dia. Saya
berpura-pura untuk tidak mengetahui perubahan tersebut, saya bersikap
biasa-biasa saja, seperti sebelumnya. Namun, semakin hari, komunikasi
kami pun menjadi semakin ‘tidak biasa’, tidak lancar lagi dan tidak
banyak lagi yang bisa kami bicarakan. Sampai suatu saat, saya membaca
surat yang dia ketik dan simpan di disket saya yang dia pinjam. Tahulah
saya bahwa ternyata dia terganggu dengan sikap dan pandangan orang lain
terhadap hubungan kami berdua. Dia terganggu dengan selalu
dihubung-hubungkannya dia dengan saya, seolah-olah kami pacaran.
Apalagi ketika itu, dia baru saja memakai jilbab, dan dia tidak ingin
memiliki penilaian negatif seperti itu. Saya sebenarnya sudah menyadari
hal itu, tapi saya tidak pernah menganggap hal itu sebagai masalah yang
besar, karena kenyataannya kami memang tidak pacaran.

Akhirnya,
kami sepakat untuk membatasi komunikasi kami. Namun, yang terjadi
sebenarnya adalah PHK (Pemutusan Hubungan Komunikasi). Kami tidak
pernah lagi sms-an, apalagi ngobrol. Pernah suatu saat saya mengajak
untuk membicarakan masalah ini, namun ternyata dia menolak. Meskipun
terasa berat, akhirnya saya terpaksa mengikuti keinginan dia. Maka
sejak saat itu, sampai hari-hari selanjutnya, tidak pernah sekalipun
kami berkomunikasi lagi, bahkan jika kami bertemu di jalan, seperti
bertemu musuh saja, diam. Pernah suatu saat ingin menyapa, tapi tidak
pernah bisa, karena enggan dan takut. Selanjutnya lebih parah lagi,
saling menghindar. Saya merasa hal tersebut sebagai suatu beban, karena
saya bukanlah orang yang suka memutuskan silaturahim. Namun, pada
akhirnya saya berusaha memahami pilihan yang dia ambil, dengan harapan
suatu saat hubungan kami akan menjadi baik. Saya pikir, mungkin itu
adalah suatu proses pendewasaan untuk kami. Maka, saya pun memutuskan
untuk tidak lagi peduli dengan dia. Bahkan ketika saya bertemu dengan
dia dan teman-temannya, saya hanya menyapa atau ngobrol dengan
teman-temannya saja, karena meskipun ada ‘masalah’ dengan dia, saya
tidak memiliki masalah apa-apa dengan teman-temannya.

Berbarengan
dengan mulai renggangnya hubungan saya dan B, saya mulai kenal dengan
A. Seperti halnya dengan B, hubungan kami pun dimulai karena adanya
keperluan mengenai tugas dan berbagai permasalahan kuliah. Ketika itu,
saya memang sering dijadikan tempat konsultasi mengenai permasalahan
kuliah dan tugas-tugas kuliah oleh adik tingkat saya di jurusan. Selain
alasan itu, hubungan kami semakin dekat karena kami termasuk pendiri
salah satu sebuah organisasi dakwah di kampus, meskipun sebagian besar
hubungan kami karena keperluan konsultasi perkuliahan. Seperti pada B,
pada A pun muncul desas-desus serupa. Untungnya, si A ini termasuk cuek
dengan desas-desus semacam itu. Sehingga tampak tidak pernah dijadikan
beban, malah dia bilang, "Biarin aja digosipin gitu mah, saya kan malah
jadi tenar…hehehe". Soal sikap dia, saya juga mungkin termasuk
tipikal orang yang tidak peduli dan cuek dengan desas-desus atau gosip
semacam itu. Biarkan saja, saya pikir tidak ada untungnya juga buat
saya untuk meributkan hal-hal semacam itu.

Meskipun usia
keduanya sama, tapi A lebih dewasa daripada B. A lebih peduli terhadap
permasalahan-permasalahan yang terjadi di masyarakat, sementara B masih
sering terbawa-bawa oleh teman-temannya yang cenderung hedonis. Namun,
keduanya mampu memberi warna terhadap suasana kelasnya. Keduanya memang
cantik, sehingga mampu menarik perhatian banyak laki-laki. Misalnya
saja, A seringkali ganti nomor HP karena banyak yang miskol, atau ada
yang ngajak kenalan lewat HP. Akan tetapi, keduanya juga nampak
memiliki persaingan terselubung, mungkin karena keduanya cantik dan
menjadi ’sentral’ perhatian di kelasnya. Dan lucunya, A menganggap saya
menyukai B, dan B menganggap saya menyukai A, padahal saya menyukai
keduanya Hehehe…:p Sebetulnya, ketika saya berinteraksi dengan A,
tidak pernah sekalipun saya membicarakan B, dan juga sebaliknya.

Namun,
semakin sering saya berinteraksi dengan A, saya justru tidak ingin
menjadikan dia lebih dari sekedar ’seorang’ adik. Sehingga pada
akhirnya hubungan saya dan A menjadi hubungan yang biasa-biasa saja,
bukan hubungan yang terlalu istimewa. Bahkan, pada akhirnya, A lebih
banyak curhat tentang perjodohan yang dilakukan oleh orang tuanya pada
saya. Dan layaknya orang yang dicurhati, saya pun memberikan
saran-saran kepada dia. Hingga akhirnya, setelah Idul Fitri 1427 H, A
menikah dengan lelaki yang dijodohkan oleh orang tuanya.

Ketika
menghadiri pernikahan A inilah, terjadi sebuah kejadian yang
membuktikan bahwa, time will heals everything. Sudah saya duga, B akan
menghadiri walimahan A, karena mereka adalah teman sekelas. Saya hadir
bersama seorang teman saya, dan B juga hadir bersama teman-teman
sekelasnya. Seperti sebelumnya, saya hanya menyapa dan mengobrol dengan
teman-temannya. Tapi, tidak dengan B, karena saya pikir, B belum ingin
untuk ‘berbaikan’ dengan saya. Toh kalaupun memang tidak ingin
berkomunikasi lagi, akan lebih baik untuk kami berdua. Lagipula, saya
sudah benar-benar tidak peduli lagi dengan apa pun tentang B.

Namun,
ketika sedang mengantri untuk memberi selamat kepada pengantin, yaitu A
dan suaminya, salah seorang teman dekat saya, yang juga teman sekelas B
menghampiri mendekati saya, dan bicara di belakang saya.
"Kang, ada
yang minta untuk manggilin Akang…", saya mengerti bahwa yang dimaksud
adalah B. Namun, ketika itu, saya pikir teman saya itu hanya becanda,
karena memang biasanya kami becanda.
Kata saya,"Yee, apaan sih, ntar aja deh…".
"Ih, kang…beneran".
"Udah deh, ntar aja…", sanggah saya lagi.

Namun,
tiba-tiba saja dari belakang saya, "Akang…". Saya sangat mengenal
suara itu, suara B. Lalu saya menengok ke belakang, dan nampak B sedang
tersenyum kepada saya, "Akang sombong ih, kok nggak nyapa B, apa
kabarnya kang…?". "Baik…", kata saya, sambil tersenyum juga, antara
kaget dan tidak percaya. "Akang jangan nangis ya…?", candanya, tentu
saja yang dimaksud adalah agar saya jangan menangisi pernikahan A. Dan
saya, lagi-lagi hanya bisa tersenyum saja. Tiba-tiba, teman saya
menimpali, "Wah, Donny sih udah kebal masalah beginian mah, udah
keseringan…". Saya hanya bisa tertawa saja. Sialnya, saya disangka
nangis beneran sama teman-temannya, karena ketika itu mata saya merah
sekali dan bengkak. Padahal itu akibat dari debu yang masuk ke mata
saya sepanjang 2 jam perjalanan, apalagi mata saya memang sangat
sensitif dan gampang sekali berubah warna menjadi merah, selain itu
juga karena saya memang kurang tidur.

"Akang nangis ya ?".
"Nggak lah, ngapain pake nangis segala…?".
"Itu kok matanya merah gitu?".
"Yeee, ini kan gara-gara kena debu naek motor…".
"Ah, bilang aja nggak mau mengakui…!!", sambil nyelonong pergi.
"Halah!! coba aja naek motor dan kelilipan debu selama 2 jam…", tapi itu cuma dalam hati saja.

Pikir
saya, biarkan saja mereka berpikir macam-macam, percuma juga
memperdebatkan sesuatu yang tidak penting. Kenyataannya, saya datang
dengan perasaan bahagia, tidak terpikir untuk sedih, apalagi menangis.
Bahkan, beberapa hari sebelumnya, saya masih bercanda dengan A di
telpon.

"A, gimana acara nikahnya, jadi?"
"Insya Allah, kang."
"Syukurlah, Alhamdulillah, akhirnya…"
"Pokoknya akang harus datang, bawa kado yang gede!! Awas kalo nggak datang…"
"Kado yang gede? Ya udah, akang bawa truk aja ya…?"
"Nggak mau truk, pengennya BMW aja…"
"Wah, matre…"
"Biarin aja…hehehe"
"Ya udah, insya Allah saya datang."

Begitulah.
Jadi, tidak ada alasan untuk membuat saya sedih. Apalagi menangisi
sebuah pernikahan, bukan gue banget!!! Justru yang mengganggu pikiran
saya saat itu adalah sikap B terhadap saya yang kembali ‘ramah’. Saya
hanya bisa bergumam, "Akhirnya…". Hanya satu kata saja, tapi mewakili
segala yang menganggu pikiran saya tentang B, karena itu berarti akhir
dari segala kesalahpahaman, akhir dari segala prasangka, akhir dari
sebuah beban yang mengganggu pikiran saya. Setelah 2,5 tahun, saya bisa
bernafas lega kembali, dan mencoba untuk tidak mempedulikan masa lalu
saya dan B yang memiliki noda hitam dalam sejarah hidup saya. "Dia
sudah menjadi seorang wanita yang dewasa…", gumam saya dalam hati.
Maka, hari itu, kembali saya menjadi seorang saksi yang membuktikan
bahwa waktu memang dapat menyembuhkan berbagai hal.

Setelah
makan, saya dan teman saya memutuskan untuk cepat pulang, karena kalau
terlalu sore, khawatir kehujanan. Setelah meminta ijin kepada
pengantin, teman-teman undangan yang hadir, terakhir saya minta ijin
pulang kepada B, meskipun obrolan kami juga agak rikuh.

"B, akang pulang duluan ya…?"
"Kok, buru-buru amat…?"
"Ada perlu, lagian saya kan ikut sama teman kesininya juga…"
"Langsung pulang ke Bogor?"
"Nggak kok, saya pulang ke Bandung…"
"Oh, ya udah…eh, kang, minal aidin ya?"
"Iya, sama-sama…Taqabalallhu minna wa minkum…yuk, ah, Assalamualaikum…"
"Wa alaikum salam…"

Lalu,
pulanglah saya dengan sebuah perasaan baru, ada sesuatu yang lepas dari
jiwa saya, dan membuat saya merasa nyaman, ringan dan bahagia. Sebuah
akhir, sekaligus menjadi awal dalam membangun kembali sebuah hubungan.
Mungkin tidak sedekat dan seakrab dulu lagi, atau tidak dengan perasaan
‘cinta’ yang pernah melekat di hati saya, tapi setidaknya saya merasa
dibebaskan dari sebuah belenggu yang mengikat saya. Meskipun telah
terjadi masalah tersebut, sudah sejak lama saya memaafkan dan memaklumi
apa yang B lakukan. Maka, ketika pada akhirnya dia datang kembali ke
dalam hidup saya, tidak ada yang lebih baik daripada menyambutnya
dengan tangan terbuka dan, semoga saja, dengan hati yang lebih bersih.

S3K3L04, 131106.  23:36.




2 Responses to “Dua Wanita : Sepenggal Cerita Masa Lalu”

  1.   rosi on November 15, 2006 10:47 pm

    Entah untuk keberapa kalinya, saya ngucapin makasih buat akang:
    “Makasih, hatur nuhun, tengkyu peri mac, merci, gracias, dll (cuma hapal segitu :D)”
    Kenapa? Karena saya tidak lain tidak bukan alias sama nasibnya dengan B. Dengan kata lain, saya sedang menjalani fase “penghindaran diri” dan “pendiaman diri” pada seorang lelaki (akang ge udah hapal meureun, nu bikin saya patah hati tea…).
    Akang pun nasibnya persis seperti lelaki yg saya diamkan tersebut. Pokonya kisahna ge mirip pisan (apalagi yang behubungan sama “rok”, hehehe…). Naha nya bisa mirip pisan kitu? Heran…
    Dan saya ngucapin makasih sama akang karena saya setidaknya bisa meraba-raba, mungkin seperti itu pula yang dirasakan dan dipikirkan lelaki tsb untuk menilai hubungan interaksi kami yang jadi sangat merenggang.
    Hmmm… jadi inget lagi sama tulisan akang yang “Time Will Heals Everything”…
    Kami udah 5 bulan lebih saling mendiamkan, ga tegur sapa, dan saling menghindar. Yah, PHK juga. Sama.
    Semoga suatu saat, mungkin butuh waktu bertahun-tahun lagi, saya bisa seperti si B, bisa menegur lelaki tsb dengan perasaan biasa-biasa aja, dan menganggap yang lalu biar berlalu.
    Minta doa ya kang, semoga semua ini juga merupakan bagian dari proses pendewasaan diri saya. Semoga… :)

  2.   Amka on November 23, 2006 2:00 am

    Moga2x dapet jodoh yang namanya ngga hanya inisal doank yach… khan ntar ngga enak klo lagi reunian, waktu ditanya ama orang “don sapa nama bini loe?” loe jawab “nama bini gwe dr.B”. Khan bingung, heheh… bercanda denk

Comments RSS

Leave a Reply

Name (required)

Email (required)

Website

Speak your mind