Special Moments
Dalam 10 hari terakhir, ada beberapa event yang ingin saya ceritakan pada tulisan saya kali ini. Bisa dikatakan tulisan kali ini adalah sebuah Jurnal atau catatan perjalanan saya. Pertama adalah hari ulang tahun saya pada tanggal 8 September yang lalu. Kemudian perjalanan saya bersama rekan-rekan sekantor dalam rangka refreshing ke Sukabumi pada tanggal 8-10 September 2006. Dan yang terakhir adalah keikutsertaan saya sebagai tamu pada acara Acara Keakraban Mahasiswa Teknik Informatika 2006 (AKTIF 06), di Kiara Payung, Jatinangor, pada tanggal 16-17 September 2006.
Episode 1 : Kado Ulang Tahun
Milad kali ini, memiliki keistimewaan sendiri, meskipun kali ini saya tidak terlalu tertarik untuk terlalu meramaikannya apalagi menggembar-gemborkannya. Seperti biasa, ucapan selamat dari teman-teman melalui telepon juga sms dan yang paling menarik adalah mendapatkan ucapan dari teman-teman saya di dunia maya yang saya kenal melalui Mesenger, Friendster, Blog dan Forum di Internet. Inilah yang membuat sedikit lebih istimewa dari tahun-tahun sebelumnya. Memang sejak saya bekerja di kantor saya saat ini, saya lebih banyak berinteraksi dengan teman-teman di dunia maya. Ada yang pernah bertemu di darat, ada juga yang tidak pernah bertemu sama sekali, dan ada juga yang akan bertemu. Hmm, baru sadar kalau ternyata mereka juga memiliki peran yang cukup penting, sehingga hari-hari kerja saya tidak terlalu membosankan. Macam-macam cara saya berkomunikasi dengan mereka, ada yang hanya lewat email, ada yang hanya lewat YM dan ada juga yang hanya lewat forum diskusi semacam dudung.net atau MyQuran. Juga melalui komentar-komentar di Blog. Tidak jarang juga saya ‘menunggu-nunggu’ email jawaban dari teman saya di ’seberang sana’, rasanya lega sekali ketika email jawaban tersebut datang. Kadang email-email tersebut berisi berbagai pesan dan pencerahan yang membuat saya kembali bersemangat.
Ada moment istimewa yang terjadi pada milad tahun ini, Gerhana Bulan. Sayangnya saya tidak terlalu lama menyaksikannya, hanya beberapa menit saja, itu pun karena saya sudah sangat ngantuk karena gerhana tersebut terjadi pada saat dini hari. Saya sendiri menyaksikannya pada jam 01.30. Tadinya saya tidak tahu sama sekali tentang akan adanya gerhana bulan, namun setelah mendapatkan sms dan menonton berita di TV, saya jadi tahu. Meskipun tidak terlalu penasaran, tapi senang juga bisa menyaksikan gerhana yang, konon, terjadi selama satu jam setengah. Sayang saya tidak bisa mengabadikan moment tersebut.
Sudah sejak lama kantor saya merencanakan untuk mengadakan refreshing bersama, setelah melalui berbagai pertimbangan, akhirnya diputuskan bahwa acara refreshing tersebut dilaksanakan pada tanggal 8-10 September 2006, dengan tempat yang dituju adalah Sukabumi. Bertepatan dengan milad saya. Buat saya, itu adalah kado yang cukup spesial sekaligus kado perpisahan untuk saya yang akan berhenti dari kantor tersebut, meskipun tidak ada satupun teman-teman kantor menyadari bahwa saya sedang ultah, dan saya pun ‘enggan’ untuk memberi tahu. Entahlah, saya merasa lebih tenang saja dan saya pikir itu lebih baik untuk saya.
Mengapa kado yang cukup spesial? Inti dari acara tersebut memang hanya refreshing saja, tapi juga sekaligus family gathering dan keakraban diantara karyawan dengan keluarga karyawan. Karyawan yang sudah berkeluarga membawa serta keluarganya, sementara yang belum berkeluarga seperti saya hanya bisa iri dan sedikit berfikir,"Kapan yah sayah bisa berkeluarga…?". Heu heu heu. Bukan hanya saya saja sih, tapi teman-teman saya yang lain juga, "tampak" iri. Kasihan…;)) Apalagi anak-anak teman saya semuanya masih dalam usia yang sedang lucu-lucunya, 6 tahun ke bawah. Sebagian besar balita. Secara tidak langsung bayi-bayi itulah yang menjadi media antara karyawan dengan keluarga karyawan, sehingga acara menjadi lebih akrab, hangat dan ceria. Pokoknya bayi-bayi itu nge-gemes-in semua deh. Ada yang malu-malu difoto, ada yang sedang belajar menirukan, ada juga yang bercerita tentang pacarnya. Dooh!! Kami semua menginap dengan menyewa beberapa paviliun di daerah Selabintana. Cuacanya cukup dingin, menyerupai kawasan Lembang atau Cisarua, Bogor. Maklum saja, letaknya memang di bawah kaki Gunung Gede.
Ada 2 acara yang merupakan acara inti, yaitu Rafting (Arung Jeram) dan Paintball (perang menggunakan peluru cat). Rafting dilaksanakan hari sabtu, 9 September 2006, di Sungai Cicati, 1 jam lebih dari tempat kami menginap. Sayangnya saat itu sungai sedang surut, karena memang sedang musim kemarau, sehingga sungai tersebut tidak terlalu deras. Akibatnya, tantangannya sedikit berkurang, meskipun tidak mengurangi kesenangan dari kegiatan tersebut. Jarak yang harus kami tempuh sejauh 12 km yang diperkirakan akan menghabiskan waktu selama 3 jam. Pyuuhh!! Diantara sekira 25 orang, hanya satu orang yang pernah mengikuti arung jeram, sisanya belum pernah, jadi hal tersebut merupakan pengalaman pertama. Perlengkapan yang harus kami pakai adalah helm dan pelampung yang dipasang di badan, serta sebuah dayung.
Sebanyak 20 buah jeram yang harus kami lalui, dengan tingkat kesulitan yang berbeda-beda. Lucu-lucu juga nama jeramnya, ada Jeram Ngehe, Marjuki, Patah Hati, Kerinduan, Harga diri, dan lain-lain. Saya sendiri lupa keseluruhan namanya. Pastinya, kami sangat senang, bahkan sampai bisa melupakan sesaat masalah-masalah, terutama masalah kerjaan yang sangat menyita sebagian besar waktu kami. Pemandangan di sekitar juga cukup menyejukkan mata. Di kanan-kiri yang terlihat pemandangan bukit-bukit yang mengapit sungai tersebut. Di tengah perjalanan, kami sempat beristirahat sebentar di sebuah gubuk di pinggir sungai sambil menikmati air kelapa muda dan bala-bala. Hmmm, Nikmat.
Tidak gampang ternyata mengendalikan perahu karet. Jika ada satu pendayung yang kurang kompak, maka jalannya perahu akan tidak sesuai dengan yang diinginkan. Tiap perahu terdiri dari 3 pendayung dan 1 orang pemandu sekaligus yang memegang kendali dan komando. Cara memegang dayung pun tidak bisa sembarangan. Selain itu, ada teknik-teknik tertentu untuk mengendalikan perahu tersebut. Misalnya ketika perahu menyangkut di batu, atau pada saat melalui jeram yang berbahaya.
Meskipun tingkat kesulitan tidak terlalu tinggi, akibat dari surutnya sungai, tapi kegiatan tersebut merupakan sebuah pengalaman yang tidak terlupakan. Seru, santai dan ceria. Seorang atasan saya bahkan sampai merasa bahagia sekali setelah mengikuti kegiatan tersebut.
Acara ke-2, paintball, dilaksanakan pada hari Minggu, 10 September 2006, di kawasan Selabintana. Hanya 20 menit waktu yang kami tempuh dengan berjalan kaki dari tempat kami menginap. Melewati kawasan kebun teh, mengingatkan saya akan kawasan Puncak, Bogor. Area tempat kegiatan paintball merupakan sebuah area yang digunakan khusus untuk kegiatan Outbond training. Di tempat tersebut bisa ditemukan tempat-tempat untuk melakukan Flying Fox (meluncur), jembatan satu tali, dan peralatan Outbond lainnya.
Perlengkapan yang digunakan adalah pakaian khusus, pelindung badan dan kepala, serta sebuah senjata. Peluru yang digunakan berbentuk seperti kelereng, hanya saja peluru tersebut terbuat dari plastik dan akan pecah apabila mengenai sasaran. Pada saat pecah, maka cairan yang ada dalam peluru tersebut akan menempel pada sasaran untuk menandai bahwa peluru tersebut mengenai sasaran. Namun, meskipun begitu, apabila terkena peluru tersebut, rasanya cukup menyakitkan dan bisa membuat meringis juga. Dalam kegiatan tersebut, dua kali saya terkena peluru, di lengan atas dan di pinggang. Dan sialnya, peluru tersebut juga menghasilkan memar seukuran kelereng di tangan saya. Sampai saat ini, masih terasa sedikit sakitnya, padahal sudah seminggu. Karena itu, jarak tembak minimal adalah 10 meter, jika kurang dari jarak itu akan sangat membahayakan. Teman saya sampai berdarah ditangannya karena berperang dalam jarak yang sangat dekat, 1 meter. Saya saja yang terkena peluru dari jarak lebih dari 10 meter rasa sakitnya cukup membuat saya kapok, apalagi yang 1 meter dan berdarah pula. Heuheuheu.
Pada permainan tersebut dibagi menjadi 2 kelompok. Misi dari permainan tersebut adalah merebut bendera musuh. Jika yang pertama kali terebut, maka pihak tersebut kalah. Waktu permainan hanya 15 menit. Jika setelah 15 menit tidak ada satupun yang berhasil merebut bendera, maka pemenangnya adalah yang terbanyak ‘membunuh’ lawannya. Peserta dinyatakan ‘tewas’ jika peluru mengenai bagian manapun dari seluruh badan kita. Hanya saja, kadang ada juga peluru yang tidak pecah saat mengenai sasaran, sehingga wasit tidak bisa melihat tanda, meskipun sebetulnya peluru tersebut telah mengenai sasaran. Karena itu, ada juga peserta yang masih bisa bermain meskipun sebetulnya dia sudah tertembak.
Seru juga. Tidak mudah menembak tepat sasaran, perlu ketenangan dan juga perhitungan yang tepat. Saya sampai kesal karena peluru yang saya tembakkan tidak mengenai sasaran. Padahal, saat itu sasaran sangat jelas. Berkali-kali saya menembak, tidak satu pun yang kena. Saking penasarannya, saya sampai lupa dengan lawan saya yang lain, sehingga pada akhirnya malah saya yang kena, karena ketika saya ‘asyik’ menembaki sasaran saya, lawan saya juga bisa dengan ‘asyik’ mengincar saya yang sangat terbuka. Lalu, Dor! Tiba-tiba tangan saya terasa sakit, dan cat berlumuran di tangan saya. Kena deh..:(
Acara terakhir di kawasan ‘padang rumput’ Selabintana yang hijau dan cukup ramai, dilakukan setelah paintball. Tempat tersebut rupanya sering dijadikan tempat untuk rekreasi keluarga. Nampak jelas dari banyaknya keluarga yang datang ke sana. Area tersebut mengingatkan saya kepada ‘padang rumput’ di Kebun Raya Bogor. Sangat lapang, meskipun ‘dihiasi’ oleh pohon pinus di sisi-sisi padang rumput tersebut. Kegiatan yang dilakukan adalah yang biasa dilakukan pada saat 17 agustusan: tarik tambang, balap karung dan bakiak. Cukup mengundang perhatian pengunjung Selabintana lainnya, dan cukup ceria juga.
Setelah acara tersebut, kami beristirahat dan bersiap untuk packing barang, karena akan melakukan perjalanan pulang ke Jakarta. Namun, saya turun di Ciawi karena pulang ke Bogor. Meskipun menyisakan rasa lelah, sakit di sekujur badan dan pegal-pegal juga, tapi acara tersebut bisa membuat otak kami lebih segar daripada sebelumnya. Sebuah kado ultah dan perpisahan yang indah.
———–Masih ada sambungannya, ntar nyusul …fotonya juga————
Ngelantur | Comment (1)Seven Things
Dapat tantangan dari Mumtahah Annisa, tentang 7 hal. Tadinya males ngerjain yang beginian. Namun, karena udah ditantang dan udah janji…ya udah deh!
7 Things that Scares me :
1. Takut Mati dalam keadaan Su’ul khatimah
2. Neraka
3. Nggak bisa ngelakuin apa yang diomongin (Omdo)
4. Bikin ortu sedih
5. Apa lagi ya?
6. Apa coba?
7. Hmmm….
7 random Songs at the Moment :
1. Hourglass (Liquid Tension Experiment)
2. Lost Without You (John Petrucci)
3. Goodnight Kiss (Dream Theater)
4. Home (Dream Theater)
5. Merepih Alam (Chrisye) >> Nggak tau kenapa, lagi seneng aja sama lagu ini.
6. Biarkan Aku Kembali (Indra Lesmana) >> An Old Song, tapi lagi seneng nyanyiinnya.
7. Only God Know Why (Kid Rock)
7 Things that I Like Most :
1. Baca Buku
2. Nulis Blog
3. Nonton VCD Sewaan
4. Beli buku
5. Playing Football
6. Motret-motret
7. Jalan kaki
7 Important things in My Bedroom :
1. Buku
2. Sarung
3. Bantal
4. Debu
5. Sajadah
6. Selimut
7. Bakteri
7 random facts about me :
1. Gampang ngantuk
2. Paling males rapih-rapih
3. Agak Anti-kemapanan
4. Benci sama uang, tapi butuh
5. Moody dan sensitif juga kadang-kadang
6. Lagi kebingungan
7. Lagi pengen nikah :p
7 things I said the Most :
1. Assalamualaikum…
2. Wa alaikum salam
3. Bismillah
4. euh…
5. Oohh…
6. Halah..
7.
7 Things I Plan to do before die :
1. Tobat
2. Tobat
3. Tobat
4. Tobat
5. Tobat
6. Tobat
7. Tobat
7 peoples i want to pass this on to :
1. Rosi Rosmala Dewi (Oci) >> Hehehe…maaf ya Ci, kebagian juga.
2. Dina "Obenk"
3. Agus Setiawan alias Awan alias Agus Uban
4. Herdyan Fajar
5. Puji Wianthi
6. Catur
7. Widi
Ketika Bencana Menjadi ‘Mainan’
Lihat judul ini 40 Paranormal Adu Kekuatan Hentikan Lumpur Lapindo di detik.com. Sedih ngelihatnya. Bencana kok dijadikan ‘mainan’…? Rupa-rupanya, masyarakat kita masih banyak yang belum "cerdas". Hal yang sangat saya khawatirkan adalah ketika "kebetulan" salah satu dari 40 orang tersebut "berhasil" menghentikan lumpur. Maksud saya begini, misalkan pada saat seorang paranormal tersebut beraksi, dan pada saat itu ternyata yang sebenarnya terjadi adalah lumpur tersebut sudah saatnya berakhir, tebak apa yang akan terjadi…! Berita yang dibesar-besarkan oleh media, tentu saja. Dan yang pasti, paranormal yang "beruntung" tersebut akan menjadi terkenal, disegani, dan dijadikan bahan "referensi" untuk segala hal. Lalu, musyrik masal.
Sedih. Seakan-akan para ahli yang menghabiskan bertahun-tahun kuliah dan melakukan penelitian tidak memiliki arti sama sekali. Bukankah seharusnya pejabat pemerintah setempat melarang hal-hal semacam ini…? Jangan-jangan, mereka juga yang memiliki ide ini? Wah…
Ternyata benar, ketika manusia berada pada titik nadir, manusia cenderung untuk selalu putus asa, mengambil jalan pintas untuk menyelesaikan masalah, lalu akhirnya musyrik. Ketika manusia putus asa, saat itulah setan menggoda manusia untuk berpaling dari-Nya. Naudzubillah.
Ya Allah, lindungilah kami dari godaan untuk berpaling dari-Mu. Amin.
Gedung Gajah. 060906. 19.13.
Refleksi | Comments (6)When Art and Science Unite v.3
Berbicara tentang sains, maka kita berbicara tentang metodologi,
sistematis, analisa, aturan, otak kiri dan fakta. Sementara bicara
tentang seni, kita berbicara tentang sesuatu yang abstrak, tanpa
aturan, tanpa batas, fantasi dan otak kanan. Berbicara sinergi
keduanya, maka kita berbicara tentang keindahan. Sains adalah pondasi,
dan seni adalah hiasan. Ketika keduanya ‘menikah’, hasilnya adalah
kreativitas.
Dalam acara Driving Design
di Metro TV, dijelaskan bahwa untuk mendesain bentuk suatu mobil,
diperlukan sinergi antara sains, yang diwakili oleh ilmu matematika dan
fisika, dan seni, untuk merancang desain suatu mobil agar tampak modis
dan indah. Dengan sains, sebuah mobil dapat bekerja sebagaimana
mestinya, dan dengan sains pula efisiensi dan efektifitas kinerja mobil
secara keseluruhan, diperhitungkan. Dengan sains, tingkat kebisingan
sebuah mobil bisa diperkecil, begitu juga dengan efisiensi bahan bakar.
Sementara, dengan seni, sebuah mobil bisa memiliki bentuk yang sangat
indah, tata ruang yang ergonomis dan nyaman. Pada mobil-mobil Eropa dan
Amerika, kombinasi sains dan seni begitu terlihat. Karenanya,
mobil-mobil Eropa dan Amerika tampak lebih elegan, dan mahal, tentu
saja. Bandingkan dengan mobil-mobil Asia yang terkesan seadanya.
Program-program
pengolah gambar, animasi dan video pada dasarnya dibangun dari
algoritma dan rumus-rumus matematika. Komputer, bagaimanapun, hanya
mengenal angka 1 dan 0. Data apapun, entah itu gambar, teks, film dan
musik, semua dikenal sebagai kumpulan angka 1 dan 0. Ada satu cabang
ilmu yang khusus mendalami tentang pengolahan gambar pada komputer,
yaitu Computer Graphic
(Grafika Komputer). Di sini dibahas tentang bagaimana suatu gambar
direpresentasikan dalam komputer, dan apa saja yang diperlukan untuk
mengolahnya. Kebanyakan bermain dengan rumus-rumus matematika. Untuk
satu jenis pengolahan data, misalnya untuk mengubah dari gambar
berwarna menjadi hitam putih, diperlukan suatu rumus (fungsi) tertentu.
Bayangkan ada berapa rumus yang digunakan untuk membangun suatu program
pengolah gambar seperti Photoshop, CorelDraw, dan lain-lain.
Seorang
pengguna program tersebut, biasanya tidak tahu-menahu tentang bagaimana
gambar tersebut diolah. Dia hanya tinggal menggunakannya saja. Yang dia
tahu, di program tersebut terdapat puluhan jenis efek yang bisa
digunakan untuk mengolah dan menghasilkan gambar baru. Disinilah
peranan seni berbicara. Gambar yang dihasikan, sepenuhnya tergantung
kepada bagaimana orang tersebut ber-fantasi, ber-imajinasi dan
ber-kreasi. Seaneh apapun gambar yang dihasilkan, itulah hasil dari
kreativitasnya.
Mendengar kata Matematika dan Fisika, orang
sudah phobia terlebih dahulu. Tapi, di dunia matematika juga pertama
kali terjadi revolusi dalam bidang Computer Graphics,
yaitu diciptakannya gambar Fraktal yang pertama kali oleh seorang
ilmuwan Matematika, Benoit Mandelbrot. Sejak saat itu, Fraktal menjadi
sesuatu yang wajib dipelajari oleh orang-orang yang terjun ke dalam
bidang Computer Graphics.
Fraktal dibentuk dari sebuah rumus yang sangat sederhana, namun dengan
citarasa seni yang tinggi, terciptalah sebuah gambar yang jika semakin
diperbesar, maka kita akan mendapatkan ‘dimensi lain’ dari suatu
fraktal. Dan sangat mengagumkan. Saya masih sering terkagum-kagum
dengan kenyataan bahwa sebuah gambar fraktal dibentuk oleh hanya sebuah
rumus yang sangat sederhana.
Partitur lagu hanyalah sebuah
kumpulan ‘gambar’ not balok yang tidak dipahami oleh sebagian besar
manusia. Tapi, partitur bisa menjadi suatu musik yang sangat indah,
elegan dan mungkin menyentuh hati, dengan sentuhan seni dari musisi
yang bersangkutan. Not balok, adalah sains, karena merupakan pondasi
dari suatu musik, tapi sentuhan seni menjadikan kumpulan not balok
menghasilkan musik yang indah. Saya kurang menyukai lagu Stasiun
Balapan versi campur sari, tapi setelah menemukan versi Jazz-nya, saya
jadi sangat menyukainya, meskipun tidak mengerti sama sekali tentang
isi lagunya.
Sains dan seni, pada hakikatnya ada untuk digunakan
bagi kepentingan seluruh umat manusia. Karena itu, keduanya haruslah
memiliki manfaat bagi kepentingan orang banyak, tidak hanya penemu dan
penciptanya saja, tapi juga bagi penikmat sains dan seni tersebut.
Karena itu, menurut saya, adalah sebuah ‘pemerkosaan’ terhadap sains
dan seni, apabila keduanya digunakan hanya untuk kepentingan pemuasan
nafsu pribadi, dan menimbulkan kerugian dan kerusakan bagi orang
banyak. Contoh, pornografi. Saya tidak bisa menerima begitu saja klaim
seni terhadap pornografi. Ada jutaan objek yang bisa dijadikan bahan
seni, kenapa harus yang serba ‘aurat’? Bagi saya, apapun namanya,
karya-karya tersebut hanyalah sampah. Dan yang namanya sampah, harus
dibuang.
Seorang seniman, boleh saja berargumen tentang
karya-karyanya. Tapi, lagi-lagi, saya menilainya sebagai karya yang
‘kehabisan ide’. Mentok. Tidak Kreatif. Kalangan seniman, ketika
ribut-ribut menolak RUU-APP, mengatakan bahwa RUU tersebut menghambat
kreativitas. Buat saya, orang yang kreatif adalah mereka yang sanggup
berkarya dengan segala keterbatasan yang ada pada dirinya dan
lingkungannya. Jika karena RUU tersebut merasa terancam tidak bisa
berkreativitas, patut ditanyakan, benarkah mereka seorang seniman??
Ngomong-ngomong, RUU-APP kemana ya…? Sepi…..
Suatu saat saya
pernah ditanya, seberapa kreatif-kah saya? Terus terang saja, saya
bingung. Jika ukuran kreativitas adalah memiliki dan menghasilkan karya
bagi masyarakat, saya belum kreatif. Jika ukuran kreativitas adalah
bisa membuat lagu, saya kreatif. Jika ukurannya adalah tulisan, saya
kreatif. Karena itu, menurut saya, kreativitas seseorang tergantung
seberapa banyak ilmu (sains) yang dia miliki, karena, sekali lagi, ilmu
adalah pondasi, dan seberapa besar citarasa seni dalam dirinya, karena
dengan citarasa seni yang tinggi, seseorang bisa mengolah ilmu-ilmu
yang dia miliki menjadi ’sesuatu’. Karena itu, jika ingin mengetahui
seberapa kreatif diri kita, tanyakan kepada diri kita, sebanyak apa
ilmu yang kita tahu dan sebesar apa citarasa seni yang kita miliki.
————————————————————————————————
NB: Di judul nya ada tambahan v.3, karena……ini adalah tulisan ke-3 saya untuk judul yang sama.
v.1 nya sudah saya tulis seminggu yang lalu, tapi, karena saya ceroboh,
saya lupa bikin backupnya, dan ketika akan di Upload, komputernya
nge-hang dan…Hilang! Hiks.
v.2 nya saya tulis tangan, dengan
fokus, mood dan sense yang berbeda dari tulisan pertama…tapi, karena
bete duluan akibat v.1 hilang, nggak selesai. Selain itu, males
mindahin ke-komputer.
v.3 nya, ya ini…dengan fokus, mood dan sense yang berbeda dari v.1 dan v.2.
Judulnya terinspirasi dari judul Album ke-2 Dream Theater, When Dream and Day Unite, sementara tulisan based on true story…(maksudnya, terinspirasi oleh acara Driving Design @ Merto TV…heu..heu..)
————————————————————————————————
DU. 030906. 22.20.
Ngelantur | Comment (1)..
Belum pernah, aku merasa menjadi orang yang paling pengecut seperti saat ini….
DU. 030906
Puisi | Comments (4)Tulus
Ketika kita mencintai orang lain, cinta dalam bentuk apa pun, pernah
kah kita tidak egois? Maksud saya, misal dalam kasus cinta antara lawan
jenis, seringkali cinta yang kita berikan tidak sepenuhnya tulus.
Bahkan jika kita merasa benar-benar tulus sekalipun. Kita seringkali
lupa bahwa dalam cinta yang kita berikan, ada sebuah ‘harapan’ agar
cinta kita berbalas. Karena itulah, saya selalu berpendapat bahwa,
hampir-hampir sulit ditemukan cinta yang 100% tulus. Cinta kita kepada
Allah, karena ada imbalan surga. Cinta orang tua kepada anaknya, ada
imbalan pahala. Terlebih-lebih cinta kita kepada kekasih kita. Ada
harapan-harapan yang kita inginkan ketika kita mencintai orang lain.
Terserah
bagaimana cinta itu diartikan dan dimanifestasikan kepada orang yang
kita cintai. Tapi, kita sering kali melupakan hal yang sangat penting
dalam sebuah hubungan cinta. Do’a. Kapan terakhir kita mendo’akan
orang-orang yang kita cintai? Orang Tua, adik, kakak, sahabat, guru,
kekasih bahkan musuh dan orang yang kita benci atau pun membenci kita
sekalipun. Masih ingatkah? Jika sudah lupa, tidak ada salahnya kita
memulai untuk mendo’akan mereka.
Sayangnya, dalam berdo’a pun,
kita selalu saja egois. Berapa persen sih do’a dan harapan yang kita
minta kepada Allah yang untuk diri kita? Hampir 100%, saya kira. Minta
kebahagiaan, minta kekasih yang diinginkan, minta harta. Udah gitu,
maksa pula. Pernahkah kita mendo’akan agar Allah memberikan jodoh yang
terbaik untuk ’seseorang’ yang kita cintai? Dan kita rela dan turut
berbahagia jika Allah menentukan ‘jodoh terbaik’ untuk si ‘dia’ adalah
bukan kita. Tidak pernah? Berarti cinta kita memang tidak tulus.
Padahal, kita belum tentu orang yang ‘terbaik’ untuk dia. Sering kali
do’a kita…"Ya, Allah, entah bagaimana caranya, yang penting dia jadi
milikku…"..;)).."Ya, Allah, Engkaulah yang membolak-balikkan hati
seseorang, balikan lah hatinya agar mencintaiku…"…dll..dll.
Intinya, agar si dia jadi milik kita.
Dulu, saya pernah juga
mendapatkan sebuah email dari seorang teman tentang anekdot do’a minta
jodoh yang isinya benar-benar egois. "Ya, Allah, jadikanlah dia
jodohku. Jika dia memang bukan jodohku, jangan jodohkan dia dengan
siapa-siapa…". Saya lupa lagi, karena seingat saya isi email do’a nya
lebih panjang. Saya hanya bisa tertawa membacanya. Tapi, sadar atau
tidak sadar, kita sering juga berfikiran seperti itu.
Seringkali,
ketika kita gagal dalam urusan cinta, kita beranggapan bahwa, mungkin,
dia bukan yang terbaik. Kenapa kita tidak melihat kepada diri kita
sendiri, dan tanyakan, jangan-jangan kita lah yang "tidak baik" untuk
dia. Bisa jadi, kegagalan tersebut adalah karena memang kita yang bukan
terbaik untuk dia. Bisa jadi, jika dia dengan kita, dia akan menderita.
Kita mungkin akan bahagia mendapatkan dia, tapi dia mungkin tersiksa
dengan kita. Dan percayalah, lebih menyakitkan mengetahui orang yang
kita cintai tidak bahagia justru ketika bersama kita.
Saya
pernah merasa sangat bahagia, justru ketika saya mendengar kabar bahwa
orang yang pernah saya ‘inginkan’, menikah. Ketika itu, rasanya ada
sebuah beban yang lepas. Begitu ringan. Dan saya sampai senyum-senyum
sendiri di angkot, untung saja duduknya di depan. Kalau di belakang,
entah apa pikiran orang lain terhadap saya. Dalam perjalanan pulang,
yang saya pikirkan adalah justru ‘nasib’ saya sekarang lebih jelas.
Dia, toh, sudah menjadi milik orang lain, dan saya, untuk apa menangisi
kebahagiaan orang lain? Saat itu, belum pernah saya merasakan
kemantapan hati seperti itu. Begitu optimis, tercerahkan. Hari-hari
sebelumnya, tentu saja, begitu suram. Otak saya terpenjara oleh sebuah
harapan yang tidak pasti. Tapi, dari situ, saya mendapat sebuah
pelajaran bahwa ternyata adakalanya kebahagiaan itu datang menghampiri
kita, pada saat kita berbesar hati untuk melepaskan sesuatu yang
‘menurut kita’ sangat berharga untuk kita. Kabar terakhir, dia sudah
memiliki seorang anak. Alhamdulillah.
Untuk saya, yang sedang belajar mencintai secara tulus.
S3K3L04. 030906. 1630-1733.