Be Yourself…?
Seringkali saya menemukan ketika seseorang diminta untuk tidak
melakukan sesuatu hal, yang karena alasan tertentu dinilai tidak lazim
atau tidak sesuai dengan aturan, maka alasan yang keluar dari mulutnya
adalah "Ini kan diri gua, dan gua suka melakukan ini dan bikin gua
bahagia..", atau alasan-alasan yang sejenisnya. Be Yourself. Sebuah jargon yang sering kita dengar dan mungkin sering juga kita ucapkan. Jadilah diri sendiri…agar kita bahagia.
Dalam beberapa curhatan teman-teman saya, sering juga saya menemukan
ada kerancuan dalam penggunaan "motto" tersebut. Entahlah, kalau
menurut saya, ada semacam rasa sombong ketika kalimat itu terucap.
Ketika seseorang diberikan atau menerima saran dan nasihat untuk
melakukan sesuatu yang "seharusnya", maka kalimat yang pertama kali
keluar adalah…"Ah, nggak mau, itu kan bukan diri gua yang
sebenarnya…". Alasan "kebahagiaan" menjadi yang pertama dikedepankan.
Muncul pertanyaan di kepala saya belakangan ini, sehubungan dengan
jargon tersebut…"Benarkah kita sudah menjadi diri kita yang
sebenarnya…?", "Apakah dengan melakukan sesuatu yang kita sukai, kita
sudah menjadi diri sendiri…?"…"Apakah hakikat dari menjadi diri
sendiri..?" (Hakikat..?? Walah!! Berat…!! ;p)…terlalu cepat jika saya menjawab "ya" atau "tidak".
Pada dasarnya, manusia hidup "dari" Informasi. Manusia melakukan
identifikasi terhadap berbagai macam hal karena informasi yang
diterimanya melalui Panca Indera. Semakin hari, informasi yang masuk
ke dalam otak kita, semakin bertambah. Meskipun, kegiatan yang kita
lakukan itu-itu saja setiap hari, tapi secara logika, informasi yang
masuk selalu informasi baru setiap harinya, minimal informasi bahwa
tanggal hari ini bertambah daripada kemarin…:D. Hal ini terlihat
jelas pada masa pertumbuhan anak-anak yang kalau kita perhatikan akan
kita temukan perubahan yang signifikan dalam melakukan pengolahan
informasi. Seorang bayi selalu membuat saya kagum. Ketika terlahir,
dia tidak tahu apa-apa, tiba-tiba dalam 5 tahun selanjutnya, dia sudah
bisa berlari, menendang bola, meloncat dan bahkan menjadi sangat aktif
dan kritis.
Seharusnya, semakin tua seseorang, semakin memiliki banyak ilmu,
semakin luar biasa orang tersebut. Tapi, kenyataan yang kita dapatkan
tidak demikian. Semakin dewasa seseorang, maka dia memiliki pilihan
untuk menentukan informasi mana saja yang boleh masuk dan tidak, bahkan
untuk menentukan tidak boleh ada informasi yang masuk sama sekali.
Informasi yang sudah masuk pun, bisa kita buang. Hal ini tidak terjadi
pada bayi yang "belum memiliki" filter terhadap informasi. Adalah
benar bahwa usia sampai 8 tahun merupakan masa-masa yang paling penting
dalam "menentukan masa depan" karakter seseorang. Pada usia tersebut,
seorang anak menangkap semua informasi. Jika informasi yang diterima
bagus, maka dia akan memiliki pondasi sebagai seseorang yang "bagus",
juga sebaliknya.
Lalu, apa hubungannya antara Informasi dengan Be YourSelf…?
Inilah point yang ingin saya sampaikan. Menurut saya, entah kalau ada
orang lain yang berpendapat sama, seseorang merupakan "gambaran" dari
berbagai macam informasi yang dia terima. Itu berati tingkah laku,
tindak-tanduk, sikap dan perkataan seseorang tergantung dari informasi
yang dia dapatkan selama hidupnya. Dari informasi-informasi yang
didapatkan, kita akan melakukan filter lagi untuk menentukan informasi
mana yang akan kita pertahankan, biasanya yang kita sukai. Lalu, dari
informasi yang terseleksi tersebut, kita implementasikan dalam
perbuatan kita, dalam tutur kata, dalam sikap dan pada akhirnya menjadi
karakter kita. Ketika sesuatu menjadi karakter, hal tersebut membuat
kita nyaman. Pada titik ini, kita "merasa" telah menemukan diri kita
yang sebenarnya. Padahal, kalau mau jujur, seseorang merupakan
"kumpulan" dari berbagai jenis "individu". Bagaimana hal tersebut bisa
terjadi? Tentu saja melalui informasi.
Sadar atau tidak, pengaruh orang lain, entah itu melalui tingkah
lakunya, melalui kata-katanya, melalui pemikirannya atau melalui
sikapnya, sangat besar terhadap kita. Lihatlah betapa besarnya
pengaruh Nabi Muhammad SAW terhadap Umat Islam, Karl Marx terhadap
orang-orang Sosialis, atau Soekarno terhadap kaum Nasionalis di
Indonesia. Maka, ketika kita berbicara tentang Islam, misalnya,
pemikiran siapakah yang berpengaruh ketika kita bicara? Tentunya
pemikiran Nabi Muhammad SAW, lalu ketika kita berbicara, apakah kita
"sedang" menjadi diri sendiri? Saya rasa tidak. Pada saat itu, kita
sedang mengidentifikasikan diri kita "seperti" Nabi Muhammad SAW,
karena apa-apa yang kita sampaikan merupakan "pemikiran" Nabi Muhammad
SAW. Begitu juga ketika kita mengikuti gaya Punk, misalnya, kita tidak
sedang menjadi diri sendiri, tapi kita sedang "menjadi" orang lain yang
bergaya "Punk". Pada kasus Ulil Abshar Abdala, yang merupakan pentolan
Islam Liberal, adalah contoh pengaruh dari perpaduan berbagai
"individu", di satu sisi dia terpengaruh oleh Islam, di sisi lain dia
terpengaruh oleh pemikiran kaum Liberal.
Lalu, kapan kita menjadi diri sendiri…? Saya rasa, selamanya kita
tidak akan pernah menjadi diri sendiri. Pada kenyataannya, kita
bukanlah pemilik dari diri kita sendiri, karena kita memiliki
ketergantungan terhadap informasi, dan yang paling kuat, kita memiliki
ketergantungan kepada ALLAH SWT. Ketika kita memiliki ketergantungan
terhadap sesuatu, maka pada dasarnya kita sudah "kehilangan" diri
kita. Pada saat itu, yang memiliki pengaruh pasti akan "menguasai"
orang yang memiliki ketergantungan kepadanya, sehingga orang tersebut
akan melakukan sesuatu yang berada diluar kehendaknya, disadari atau
tidak oleh orang tersebut. Coba kita ingat-ingat, siapa saja dan
informasi apa saja yang berpengaruh terhadap diri kita ? Saya yakin,
lebih dari satu orang dan banyak informasi.
Ketika kita menyadari kenyataan seperti itu, maka akan timbul kesadaran
dalam diri kita bahwa sebuah informasi bisa menjadi sangat penting
dalam menentukan arah hidup kita. Sehingga, kita akan berusaha untuk
selalu mencari informasi yang mendekati suatu kebenaran atau yang
bernilai "benar". Saya juga sudah menyinggung hubungan antara
informasi yang menghasilkan karakter dan berdampak pada rasa nyaman.
Ketika informasi lain yang kita terima "menggoyang" rasa nyaman
tersebut, maka biasanya kita akan melakukan semacam counter atau
pembelaan, salah satunya dengan kalimat-kalimat semacam…"Inilah gua yang sebenarnya..", atau "gua lebih enak begini...",
atau mungkin menimbulkan semacam keragu-raguan dan keresahan di dalam
diri. Ketika kita melakukan pembelaan dengan kalimat-kalimat tersebut,
maka satu peluang untuk melakukan perbaikan dalam diri hilang begitu
saja, padahal kalau kita pikirkan lebih matang, seringkali informasi
tersebut sangat benar dan apa yang kita pertahankan sangat salah.
Lantas, manakah informasi yang benar-benar benar??? Saya tidak akan
ragu mengatakan bahwa informasi yang paling benar adalah dari ALLAH
SWT, Tuhan kita semua. Sadar atau tidak, kita sering kali meragukan
informasi yang telah ALLAH berikan. Ketika informasi itu datang dari
ALLAH, kita sibuk mempertanyakan kebenaran dan manfaat dari informasi
tersebut. Ketika informasi itu datang dari orang lain, yang sudah
pasti tidak sempurna, kita sering kali menelannya bulat-bulat tanpa
banyak tanya. Padahal, kalau kita cek dan ricek lagi, informasi dari
orang lain itu lebih banyak salahnya. Ketika kita membaca tentang
pemikiran suatu tokoh, kita nyaris 100% mempercayainya dan bahkan
mengikutinya, tapi ketika kita membaca informasi dari ALLAH, berbagai
macam pertanyaan muncul untuk mengkritisi isinya.
Ibarat mobil atau motor, yang lebih tahu isi mesin dari kendaraan
tersebut tentu saja vendor yang membuatnya. Maka, ketika kita mencoba
untuk mengganti sparepartnya dengan yang bajakan, dijamin akan terjadi
ketidaksinkronan dalam kendaraan tersebut yang menyebabkan kendaraan
tersebut cepat rusak atau malah kacau. Sama halnya dengan manusia,
ketika informasi yang kita terima salah, kita akan dinilai sebagai
orang yang ngaco, bahkan akan tumbuh terus sebagai orang yang ngaco.
Kalau kendaraan ngaco, dia tidak akan menularkan ke-ngaco-annya, tapi
kalau manusia yang ngaco, dijamin dia bisa menularkan ke-ngaco-annya.
Dalam hal ini, orang ngaco lebih berbahaya daripada HIV/AIDS…heu heu
heu…Intermezzo!! Dan yang lebih tahu segala macam software dan
hardware manusia ini, tentu saja yang menciptakan manusia itu sendiri,
yaitu ALLAH.
(*…Komentator : asa rada OOT, euy..! …*)
(*…Penulis : Cuek AJAH!!…*)
Satu contoh, kasus Jilbab atau Hijab. Bagaimana tanggapan perempuan
yang mengaku muslimah terhadap Jilbab ? Ada yang menerima, kemudian
memakai Jilbab, meskipun setelah melakukan berbagai macam pertimbangan
yang cukup panjang, dan memakainya secara bertahap. Ada yang "mengakui
kewajibannya", namun ragu untuk mulai memakai, takut dicaci maki, takut
dijauhi teman, takut nggak dapat pekerjaan, takut nggak dapat pacar,
merasa belum "cukup" ilmu keislamannya. Ada yang meragukannya dengan
berbagai macam dalil yang mereka cari atau mereka dapatkan dari hasil
pemikiran orang lain, alasan karena Hijab itu budaya Arab, mengekang
wanita, kurang modern dan lain-lain.
(*…Komentator: Kalau kita
pikir-pikir, budaya Indonesia itu kan Kebaya ya? Kenapa nggak pake baju
kebaya aja ya? Oh, mungkin mereka kepengen jadi orang Amerika atau
Hawaii sana ya? Tanyaken…napa?..*)
Padahal, ketika informasi tentang Jilbab/Hijab tersebut turun, muslimah
pada saat itu langsung memakaikan Hijab mereka tanpa banyak tanya,
tanpa takut dicaci maki, tanpa takut nggak kebagian suami, tanpa takut
nggak dapat kerja, tanpa peduli apakah mereka siap atau tidak. Mereka
tidak peduli itu semua, sebab mereka yakin dengan jaminannya, surga
kok! Masa nggak mau sih dikasih surga? Yang nggak punya penutup
kepala, mereka cari Gorden, Taplak Meja, atau kain yang tidak terpakai
untuk menutupi kepala dan dada mereka. Bandingkan dengan zaman
sekarang ? Kerudung dimana-mana, kain banyak ditoko-toko, tapi kenapa
pada cuek aja ya?
"Ah, yang penting kan hati nya, kalau pakai Jilbab tapi kelakuannya nggak sesuai kan percuma aja..!"..Seriiiiing sekali saya mendengar kalimat "menyesatkan" seperti ini. Kalau boleh saya mengkritik, "punya prinsip hidup kok tanggung banget sih??".
Kenyataannya, hati nya nggak baik, kelakuannya juga nggak bener dan
nggak pake jilbab pula. Salah satu kekurangan kita adalah kita sering
kali merasa cukup dengan kebaikan yang telah kita lakukan. Kalau
memang hatinya sudah baik, kenapa tidak sekalian menjadi wanita yang
sholehah aja sih? Atau jadi lelaki yang sholeh?..oopss, maksudnya
bukan untuk kasus jilbab..:D..Kenapa harus setengah-setangah?
(*…Komentator: Woi! Back To Topic, donk!!..*)
(*…Penulis : OK-OK! Sorry, lagi rada emosional…eh, nulis tentang apa sih ??…*)
(*…Komentator: Walah!! Itu tuh, tentang Be YourSelf!!…*)
(*…Penulis : Oh, iya…sorry…pikirannya lagi loncat-loncat…OK, kita lanjut!!…*)
Satu hal yang harus diingat, bahwa manusia adalah seorang hamba dari
Tuhannya. Ketika manusia menjadi seorang hamba, sebetulnya manusia
tidak memiliki hak apa pun. Coba kita perhatikan sejarah-sejarah zaman
dulu, apakah seorang budak memiliki hak ? Hampir-hampir tidak memiliki
hak sama sekali, jika saja tuannya tidak memiliki kebaikan dalam
hatinya, sudah pasti dia akan menjadi budak yang paling sial. Seorang
budak, karena posisinya itu, dia bahkan tidak bisa berbuat sesuai
dengan keinginannya, tidak sama sekali. Itu berarti budak tersebut
tidak pernah menjadi dirinya sendiri, seluruh haknya sudah dicabut.
Lalu, bagaimanakah kedudukan Allah dan Manusia ? Hampir tidak berbeda
sebetulnya, hanya saja, seorang budak hampir-hampir tidak memiliki
pilihan sama sekali, tapi seluruh manusia pada dasarnya, karena
"Kebaikan" Allah, diberikan hak untuk memilih. Pengambilan keputusan
pada saat memilih, sangat tergantung dari informasi yang dimiliki oleh
seseorang.
(*…Komentator: Duh, kok jadi melebar begini sih…??…*)
(*…Penulis : Iya, ya? Gua juga bingung nih…heu heu heu…*)
Jadi, intinya adalah…Dalam hidup ini, yang paling penting adalah
bukan bagaimana caranya menjadi diri sendiri, tapi bagaimana menjadi
manusia yang Allah inginkan. Bukan tentang bagaimana bebas berekspresi
sesuka hati, tapi tentang bagaimana berekspresi sesuai dengan yang
Allah perintahkan. Ketika kita sudah menjadi manusia yang Allah
inginkan, akan tiba saatnya kita benar-benar menjadi diri sendiri,
tanpa aturan, tanpa batasan, bebas berekspresi,
sebebas-bebasnya…bahkan selamanya, kita menjadi diri sendiri, yang
sebenar-benarnya diri sendiri. Bagaimana caranya? Baca informasi yang
benar!! Masih bingung juga…? Baca Al-Quran!!
(*…Komentator: Ah, ngaco lu….!!! Opini nya ngasal banget tuh…nyuruh baca Qur’an aja pake berbelit-belit segala…*)
(*…Penulis : Biarin!!…yang penting mah Usaha…:p…*)
Dedicated To :
- My Self, Of Course!!
- My Lovely Sista…(Sister maksudnya..:p) and My Brother.
- Seorang Teman, BIO-ITB’05, yang sedang kebingungan dengan "Diri Sendiri", semoga tulisan ini sedikit bermanfaat.
- Yang mau baca, yang nyempet-nyempetin baca dan yang nggak sengaja baca.
- Yang setuju dan yang nggak setuju, yang peduli dan yang nggak peduli, yang suka dan yang nggak suka.
S3K3L04. 26,27,280506.
Dalam kegalauan, dalam keresahan, dalam kebingungan, Dalam kesepian…
For Better Life, I Hope…
3 Responses to “Be Yourself…?”
Leave a Reply
halo donny bodong.. wah bagus sekali tulisan anda.. aduh aduh.. jadi tersentuh bacanya.. keep on writing!!!
panjang amat jd lieur macana, cik lah rada make enter lah, hehehehe, tp alus oge, asup tah don
hi3…critanya lagi curhat nie…bikin tulisan panjang amat kang?! wa, kyae bakal ngalahin aq bikin novel nie…Ayo SMANGAT!!!