Be Yourself…?

May 28th, 2006

Seringkali saya menemukan ketika seseorang diminta untuk tidak
melakukan sesuatu hal, yang karena alasan tertentu dinilai tidak lazim
atau tidak sesuai dengan aturan, maka alasan yang keluar dari mulutnya
adalah "Ini kan diri gua, dan gua suka melakukan ini dan bikin gua
bahagia..", atau alasan-alasan yang sejenisnya.  Be Yourself.  Sebuah jargon yang sering kita dengar dan mungkin sering juga kita ucapkan.  Jadilah diri sendiri…agar kita bahagia.

Dalam beberapa curhatan teman-teman saya, sering juga saya menemukan
ada kerancuan dalam penggunaan "motto" tersebut.  Entahlah, kalau
menurut saya, ada semacam rasa sombong ketika kalimat itu terucap.
Ketika seseorang diberikan atau menerima saran dan nasihat untuk
melakukan sesuatu yang "seharusnya", maka kalimat yang pertama kali
keluar adalah…"Ah, nggak mau, itu kan bukan diri gua yang
sebenarnya…".  Alasan "kebahagiaan" menjadi yang pertama dikedepankan.

Muncul pertanyaan di kepala saya belakangan ini, sehubungan dengan
jargon tersebut…"Benarkah kita sudah menjadi diri kita yang
sebenarnya…?", "Apakah dengan melakukan sesuatu yang kita sukai, kita
sudah menjadi diri sendiri…?"…"Apakah hakikat dari menjadi diri
sendiri..?" (Hakikat..?? Walah!! Berat…!! ;p)…terlalu cepat jika saya menjawab "ya" atau "tidak".

Pada dasarnya, manusia hidup "dari" Informasi.  Manusia melakukan
identifikasi terhadap berbagai macam hal karena informasi yang
diterimanya melalui Panca Indera.  Semakin hari, informasi yang masuk
ke dalam otak kita, semakin bertambah.  Meskipun, kegiatan yang kita
lakukan itu-itu saja setiap hari, tapi secara logika, informasi yang
masuk selalu informasi baru setiap harinya, minimal informasi bahwa
tanggal hari ini bertambah daripada kemarin…:D.  Hal ini terlihat
jelas pada masa pertumbuhan anak-anak yang kalau kita perhatikan akan
kita temukan perubahan yang signifikan dalam melakukan pengolahan
informasi.  Seorang bayi selalu membuat saya kagum.  Ketika terlahir,
dia tidak tahu apa-apa, tiba-tiba dalam 5 tahun selanjutnya, dia sudah
bisa berlari, menendang bola, meloncat dan bahkan menjadi sangat aktif
dan kritis. 

Seharusnya, semakin tua seseorang, semakin memiliki banyak ilmu,
semakin luar biasa orang tersebut.  Tapi, kenyataan yang kita dapatkan
tidak demikian.  Semakin dewasa seseorang, maka dia memiliki pilihan
untuk menentukan informasi mana saja yang boleh masuk dan tidak, bahkan
untuk menentukan tidak boleh ada informasi yang masuk sama sekali.
Informasi yang sudah masuk pun, bisa kita buang.  Hal ini tidak terjadi
pada bayi yang "belum memiliki" filter terhadap informasi.  Adalah
benar bahwa usia sampai 8 tahun merupakan masa-masa yang paling penting
dalam "menentukan masa depan" karakter seseorang.  Pada usia tersebut,
seorang anak menangkap semua informasi.  Jika informasi yang diterima
bagus, maka dia akan memiliki pondasi sebagai seseorang yang "bagus",
juga sebaliknya.

Lalu, apa hubungannya antara Informasi dengan Be YourSelf…?
Inilah point yang ingin saya sampaikan.  Menurut saya, entah kalau ada
orang lain yang berpendapat sama, seseorang merupakan "gambaran" dari
berbagai macam informasi yang dia terima.  Itu berati tingkah laku,
tindak-tanduk, sikap dan perkataan seseorang tergantung dari informasi
yang dia dapatkan selama hidupnya.  Dari informasi-informasi yang
didapatkan, kita akan melakukan filter lagi untuk menentukan informasi
mana yang akan kita pertahankan, biasanya yang kita sukai.  Lalu, dari
informasi yang terseleksi tersebut, kita implementasikan dalam
perbuatan kita, dalam tutur kata, dalam sikap dan pada akhirnya menjadi
karakter kita.  Ketika sesuatu menjadi karakter, hal tersebut membuat
kita nyaman.  Pada titik ini, kita "merasa" telah menemukan diri kita
yang sebenarnya.  Padahal, kalau mau jujur, seseorang merupakan
"kumpulan" dari berbagai jenis "individu".  Bagaimana hal tersebut bisa
terjadi?  Tentu saja melalui informasi. 

Sadar atau tidak, pengaruh orang lain, entah itu melalui tingkah
lakunya, melalui kata-katanya, melalui pemikirannya atau melalui
sikapnya, sangat besar terhadap kita.  Lihatlah betapa besarnya
pengaruh Nabi Muhammad SAW terhadap Umat Islam, Karl Marx terhadap
orang-orang Sosialis, atau Soekarno terhadap kaum Nasionalis di
Indonesia.  Maka, ketika kita berbicara tentang Islam, misalnya,
pemikiran siapakah yang berpengaruh ketika kita bicara? Tentunya
pemikiran Nabi Muhammad SAW, lalu ketika kita berbicara, apakah kita
"sedang" menjadi diri sendiri? Saya rasa tidak.  Pada saat itu, kita
sedang mengidentifikasikan diri kita "seperti" Nabi Muhammad SAW,
karena apa-apa yang kita sampaikan merupakan "pemikiran" Nabi Muhammad
SAW.  Begitu juga ketika kita mengikuti gaya Punk, misalnya, kita tidak
sedang menjadi diri sendiri, tapi kita sedang "menjadi" orang lain yang
bergaya "Punk".  Pada kasus Ulil Abshar Abdala, yang merupakan pentolan
Islam Liberal, adalah contoh pengaruh dari perpaduan berbagai
"individu", di satu sisi dia terpengaruh oleh Islam, di sisi lain dia
terpengaruh oleh pemikiran kaum Liberal.

Lalu, kapan kita menjadi diri sendiri…?  Saya rasa, selamanya kita
tidak akan pernah menjadi diri sendiri.  Pada kenyataannya, kita
bukanlah pemilik dari diri kita sendiri, karena kita memiliki
ketergantungan terhadap informasi, dan yang paling kuat, kita memiliki
ketergantungan kepada ALLAH SWT.  Ketika kita memiliki ketergantungan
terhadap sesuatu, maka pada dasarnya kita sudah "kehilangan" diri
kita.  Pada saat itu, yang memiliki pengaruh pasti akan "menguasai"
orang yang memiliki ketergantungan kepadanya, sehingga orang tersebut
akan melakukan sesuatu yang berada diluar kehendaknya, disadari atau
tidak oleh orang tersebut.  Coba kita ingat-ingat, siapa saja dan
informasi apa saja yang berpengaruh terhadap diri kita ?  Saya yakin,
lebih dari satu orang dan banyak informasi.

Ketika kita menyadari kenyataan seperti itu, maka akan timbul kesadaran
dalam diri kita bahwa sebuah informasi bisa menjadi sangat penting
dalam menentukan arah hidup kita.  Sehingga, kita akan berusaha untuk
selalu mencari informasi yang mendekati suatu kebenaran atau yang
bernilai "benar".  Saya juga sudah menyinggung hubungan antara
informasi yang menghasilkan karakter dan berdampak pada rasa nyaman.
Ketika informasi lain yang kita terima "menggoyang" rasa nyaman
tersebut, maka biasanya kita akan melakukan semacam counter atau
pembelaan, salah satunya dengan kalimat-kalimat semacam…"Inilah gua yang sebenarnya..", atau "gua lebih enak begini...",
atau mungkin menimbulkan semacam keragu-raguan dan keresahan di dalam
diri.  Ketika kita melakukan pembelaan dengan kalimat-kalimat tersebut,
maka satu peluang untuk melakukan perbaikan dalam diri hilang begitu
saja, padahal kalau kita pikirkan lebih matang, seringkali informasi
tersebut sangat benar dan apa yang kita pertahankan sangat salah.

Lantas, manakah informasi yang benar-benar benar???  Saya tidak akan
ragu mengatakan bahwa informasi yang paling benar adalah dari ALLAH
SWT, Tuhan kita semua.  Sadar atau tidak, kita sering kali meragukan
informasi yang telah ALLAH berikan.  Ketika informasi itu datang dari
ALLAH, kita sibuk mempertanyakan kebenaran dan manfaat dari informasi
tersebut.  Ketika informasi itu datang dari orang lain, yang sudah
pasti tidak sempurna, kita sering kali menelannya bulat-bulat tanpa
banyak tanya.  Padahal, kalau kita cek dan ricek lagi, informasi dari
orang lain itu lebih banyak salahnya.  Ketika kita membaca tentang
pemikiran suatu tokoh, kita nyaris 100% mempercayainya dan bahkan
mengikutinya, tapi ketika kita membaca informasi dari ALLAH, berbagai
macam pertanyaan muncul untuk mengkritisi isinya.

Ibarat mobil atau motor, yang lebih tahu isi mesin dari kendaraan
tersebut tentu saja vendor yang membuatnya.  Maka, ketika kita mencoba
untuk mengganti sparepartnya dengan yang bajakan, dijamin akan terjadi
ketidaksinkronan dalam kendaraan tersebut yang menyebabkan kendaraan
tersebut cepat rusak atau malah kacau.  Sama halnya dengan manusia,
ketika informasi yang kita terima salah, kita akan dinilai sebagai
orang yang ngaco, bahkan akan tumbuh terus sebagai orang yang ngaco.
Kalau kendaraan ngaco, dia tidak akan menularkan ke-ngaco-annya, tapi
kalau manusia yang ngaco, dijamin dia bisa menularkan ke-ngaco-annya.
Dalam hal ini, orang ngaco lebih berbahaya daripada HIV/AIDS…heu heu
heu…Intermezzo!!  Dan yang lebih tahu segala macam software dan
hardware manusia ini, tentu saja yang menciptakan manusia itu sendiri,
yaitu ALLAH.

(*…Komentator : asa rada OOT, euy..! …*)
(*…Penulis    : Cuek AJAH!!…*)

Satu contoh, kasus Jilbab atau Hijab.  Bagaimana tanggapan perempuan
yang mengaku muslimah terhadap Jilbab ? Ada yang menerima, kemudian
memakai Jilbab, meskipun setelah melakukan berbagai macam pertimbangan
yang cukup panjang, dan memakainya secara bertahap.  Ada yang "mengakui
kewajibannya", namun ragu untuk mulai memakai, takut dicaci maki, takut
dijauhi teman, takut nggak dapat pekerjaan, takut nggak dapat pacar,
merasa belum "cukup" ilmu keislamannya.  Ada yang meragukannya dengan
berbagai macam dalil yang mereka cari atau mereka dapatkan dari hasil
pemikiran orang lain, alasan karena Hijab itu budaya Arab, mengekang
wanita, kurang modern dan lain-lain. 

(*…Komentator:  Kalau kita
pikir-pikir, budaya Indonesia itu kan Kebaya ya? Kenapa nggak pake baju
kebaya aja ya? Oh, mungkin mereka kepengen jadi orang Amerika atau
Hawaii sana ya? Tanyaken…napa?..*)

Padahal, ketika informasi tentang Jilbab/Hijab tersebut turun, muslimah
pada saat itu langsung memakaikan Hijab mereka tanpa banyak tanya,
tanpa takut dicaci maki, tanpa takut nggak kebagian suami, tanpa takut
nggak dapat kerja, tanpa peduli apakah mereka siap atau tidak.  Mereka
tidak peduli itu semua, sebab mereka yakin dengan jaminannya, surga
kok!  Masa nggak mau sih dikasih surga?  Yang nggak punya penutup
kepala, mereka cari Gorden, Taplak Meja, atau kain yang tidak terpakai
untuk menutupi kepala dan dada mereka.  Bandingkan dengan zaman
sekarang ? Kerudung dimana-mana, kain banyak ditoko-toko, tapi kenapa
pada cuek aja ya?

"Ah, yang penting kan hati nya, kalau pakai Jilbab tapi kelakuannya nggak sesuai kan percuma aja..!"..Seriiiiing sekali saya mendengar kalimat "menyesatkan" seperti ini.  Kalau boleh saya mengkritik, "punya prinsip hidup kok tanggung banget sih??".
Kenyataannya, hati nya nggak baik, kelakuannya juga nggak bener dan
nggak pake jilbab pula.  Salah satu kekurangan kita adalah kita sering
kali merasa cukup dengan kebaikan yang telah kita lakukan.  Kalau
memang hatinya sudah baik, kenapa tidak sekalian menjadi wanita yang
sholehah aja sih?  Atau jadi lelaki yang sholeh?..oopss, maksudnya
bukan untuk kasus jilbab..:D..Kenapa harus setengah-setangah?

(*…Komentator:  Woi! Back To Topic, donk!!..*)
(*…Penulis   :  OK-OK! Sorry, lagi rada emosional…eh, nulis tentang apa sih ??…*)
(*…Komentator:  Walah!! Itu tuh, tentang Be YourSelf!!…*)
(*…Penulis   :  Oh, iya…sorry…pikirannya lagi loncat-loncat…OK, kita lanjut!!…*)

Satu hal yang harus diingat, bahwa manusia adalah seorang hamba dari
Tuhannya.  Ketika manusia menjadi seorang hamba, sebetulnya manusia
tidak memiliki hak apa pun.  Coba kita perhatikan sejarah-sejarah zaman
dulu, apakah seorang budak memiliki hak ?  Hampir-hampir tidak memiliki
hak sama sekali, jika saja tuannya tidak memiliki kebaikan dalam
hatinya, sudah pasti dia akan menjadi budak yang paling sial.  Seorang
budak, karena posisinya itu, dia bahkan tidak bisa berbuat sesuai
dengan keinginannya, tidak sama sekali.  Itu berarti budak tersebut
tidak pernah menjadi dirinya sendiri, seluruh haknya sudah dicabut.
Lalu, bagaimanakah kedudukan Allah dan Manusia ?  Hampir tidak berbeda
sebetulnya, hanya saja, seorang budak hampir-hampir tidak memiliki
pilihan sama sekali, tapi seluruh manusia pada dasarnya, karena
"Kebaikan" Allah, diberikan hak untuk memilih.  Pengambilan keputusan
pada saat memilih, sangat tergantung dari informasi yang dimiliki oleh
seseorang.

(*…Komentator: Duh, kok jadi melebar begini sih…??…*)
(*…Penulis   : Iya, ya? Gua juga bingung nih…heu heu heu…*)

Jadi, intinya adalah…Dalam hidup ini, yang paling penting adalah
bukan bagaimana caranya menjadi diri sendiri, tapi bagaimana menjadi
manusia yang Allah inginkan.  Bukan tentang bagaimana bebas berekspresi
sesuka hati, tapi tentang bagaimana berekspresi sesuai dengan yang
Allah perintahkan.  Ketika kita sudah menjadi manusia yang Allah
inginkan, akan tiba saatnya kita benar-benar menjadi diri sendiri,
tanpa aturan, tanpa batasan, bebas berekspresi,
sebebas-bebasnya…bahkan selamanya, kita menjadi diri sendiri, yang
sebenar-benarnya diri sendiri.  Bagaimana caranya?  Baca informasi yang
benar!!  Masih bingung juga…?  Baca Al-Quran!!

(*…Komentator: Ah, ngaco lu….!!! Opini nya ngasal banget tuh…nyuruh baca Qur’an aja pake berbelit-belit segala…*)
(*…Penulis   : Biarin!!…yang penting mah Usaha…:p…*)

Dedicated To :
- My Self, Of Course!! 
- My Lovely Sista…(Sister maksudnya..:p) and My Brother.
- Seorang Teman, BIO-ITB’05, yang sedang kebingungan dengan "Diri Sendiri", semoga tulisan ini sedikit bermanfaat.
- Yang mau baca, yang nyempet-nyempetin baca dan yang nggak sengaja baca.
- Yang setuju dan yang nggak setuju, yang peduli dan yang nggak peduli, yang suka dan yang nggak suka.

S3K3L04. 26,27,280506.
Dalam kegalauan, dalam keresahan, dalam kebingungan, Dalam kesepian…
For Better Life, I Hope…

Runtah

May 28th, 2006

Liburan panjang di Bandung kali ini diwarnai pemandangan yang kurang enak di mata.  Sampah di mana-mana dan menggunung pula, dan yang paling mengganggu, tentu saja baunya itu.  Banyak sekali efek negatif dari sampah yang seabrek-abrek itu.  Tapi, untuk beberapa orang, hal tersebut tentu saja menjadi kesempatan untuk berkreativitas.  Kalau tidak salah, beberapa orang dari berbagai kampus di Bandung, sudah membuat alat untuk mencacah sampah-sampah tersebut.  Tapi, sebuah solusi akan menjadi sulit untuk dilakukan, jika tidak ada yang mendukung solusi tersebut.  Buktinya, yaitu, sampah masih menggunung begitu, dan semakin bertambah pula.  Konon, dengan kekuatan truk sampah yang ada di Bandung saat ini, permasalahan sampah tersebut baru akan selesai setelah lebih kurang menghabiskan waktu 200 hari.  Itu pun, kalau TPA nya sudah ada.  Lha, sekarang ini, sampah dari Bandung ini ditolak dimana-mana.  Walah!  Kasihan sekali Bandung.  Kamana atuh euy Bandung bermartabat teh…?  Tapi, untungnya untuk tempat-tempat yang biasa saya datangi, permasalahan sampah ini tidak terlalu parah, masih terlihat agak bersih.

Masalah lain adalah gempa Jogja yang bikin beberapa teman saya kebat-kebit.  Ada yang sibuk sms-an dengan keluarga dan teman-temannya, ada yang tampak sedih karena rumah neneknya hancur.  Beberapa saat lalu, Penduduk di pegunungan disuruh untuk turun gunung, sekarang justru malah pada lari ke gunung gara-gara takut tsunami.  Kalau berbarengan, bagaimana jadinya ya? Mau pada lari kemana lagi…?  Ah, kasihan sekali manusia…Sering kali sombong tidak membutuhkan Tuhan, ketika terjadi bencana, beramai-ramai menyebut nama Tuhan.  Tuhan memang Aneh ya..? Ketika benih-benih kesombongan dalam diri manusia mulai muncul, tidak sekalipun Dia menegur kita, tetapi ketika kesombongan itu sudah sangat terpatri dalam diri manusia, tiba-tiba saja Dia, dengan amat sangat mudah membalikan keadaan kita menjadi sangat terpuruk.  Seolah-olah ada satu pesan yang ingin Dia sampaikan…"Kamu tidak apa-apanya dibandingkan dengan Aku!!"…Saya tidak menuduh bahwa kejadian di Jogja adalah karena kesombongan orang-orang Jogja, juga kejadian di Aceh setahun yang lalu.  Tapi, seringkali kita lupa dengan siapa sebenarnya yang berkuasa di Dunia ini.  Dan tampaknya kita harus selalu diingatkan dengan cara-cara yang cukup mengerikan.  Apakah kalimat "Allahu Akbar" harus selalu terucap "hanya" ketika kita sedih dan menderita saja?  Atau ketika kita marah..?  Lalu kemana kalimat-kalimat tersebut ketika kita berbahagia…??

Hmmm..cukup dulu dengan berita-berita bencananya.  Sekarang saya hanya ingin fokus pada apa saja yang terjadi selama saya di Bandung.  Empat hari di Bandung, ada beberapa kegiatan yang saya kerjakan.  Ikut pelantikan anggota Birama yang baru, kemudian ke DT, hanya untuk merasakan kembali suasana di sana, kebetulan ketemu dengan beberapa teman lama, dan kami ngobrol banyak tentang kewirausahaan, Alhamdulillah banyak informasi yang saya dapatkan.   Mungkin sebagian waktu saya lebih banyak dihabiskan di Birama, ngobrol-ngobrol tentang skripsi dan jadwal sidang beberapa teman saya, tentang rencana penerbitan Majalah selanjutnya, tentang permasalahan-permasalahan di Birama.

Kalau saya ingat-ingat lagi penerbitan majalah Birama di setiap edisinya, maka yang saya ingat adalah kejadian-kejadian dibalik penerbitan majalah-majalah tersebut.  Banyak hal yang bisa diambil dari kejadian tersebut sebetulnya.  Ada pertengkaran, perselisihan, amarah, dendam, kekacauan, ketidakpercayaan, ego, segala macam konflik yang membuat setiap penerbitan majalah tersebut di tiap edisinya selalu memiliki cerita dan makna tersendiri.  Makanya, pada kesempatan terakhir saya berkumpul dengan teman-teman di Birama, saya mengingatkan, adalah sebuah prestasi yang sangat luar biasa ketika Birama selalu sanggup menerbitkan majalah, di tengah-tengah konflik yang luar biasa tekanannya.  Orang lain hanya tahu bahwa majalah tersebut sudah jadi, tapi anggota Birama sendiri merasakan bahwa untuk menerbitkan satu majalah saja, diperlukan "tetesan darah, keringat dan air mata".  Pada akhirnya, saya merasa bersyukur pernah menjadi bagian dari Birama.  Banyak hal yang bisa saya dapatkan, meskipun uang tidak pernah saya dapatkan di Birama…:P

Cerita lain saya dapatkan ketika saya berkunjung ke rumah seorang sahabat saya yang sudah menikah.  Cerita tentang aktivis dakwah dan segala permasalahannya.  Hmmm..mungkin, suatu saat saya harus menulis cerita tersendiri tentang permasalahan aktivis dakwah.  Sebetulnya pernikahan teman saya ini agak unik, sebab keduanya memiliki latar belakang organisasi yang agak berseberangan dalam hal metode dakwah yang digunakan, kalau tidak mau dikatakan sulit untuk disatukan.  Tapi, karena keteguhan teman saya ini, akhirnya mereka bisa menyatukan visi juga.  Belakangan permasalahan timbul ketika istri teman saya tersebut mulai memasuki "dunia yang sesungguhnya".  Jika selama kuliah objek dakwah adalah kalangan mahasiswa, maka setelah lulus, objek dakwah lebih luas lagi, anak-anak sampai orang tua, yang ternyata ketika realitas (objek dakwah, red) yang didapatkan berbenturan dengan prinsip-prinsip organisasi yang diikutinya, agak kesulitan untuk menemukan titik temu keduanya.  Disisi lain, istri teman saya tersebut memasuki masa-masa hamil muda, yang ternyata berpengaruh terhadap kondisi badannya, sehingga dia agak kesulitan untuk tetap konsisten dan komitmen terhadap organisasinya.  Kegiatan mengajar pun dijalankan semata-mata karena kewajiban akibat terikat kontrak.

Tekanan datang dari pihak organisasi yang mulai menanyakan komitmennya.  Ada berbagai macam pertanyaan yang diajukan kepada istri teman saya itu, yang intinya mempermasalahkan kejadian tersebut, jika selama ini mengajar bisa, mengapa untuk ikutan pengajian tidak bisa.  Di sisi lain, teman saya tidak ingin istrinya terlalu kecapekan, mengingat kondisi badannya yang mulai lemah.  Teman saya bukan berarti tidak mendukung aktivitas dakwah tersebut, tapi sebagai suami, dia pun memiliki hak untuk menentukan dan mengijinkan untuk ikut atau tidak.  Intinya, pada akhirnya istri teman saya tersebut menyatakan untuk off terlebih dahulu dari kegiatan pengajian tersebut.

Permasalahan-permasalahan seperti itu sebetulnya merupakan permasalahan yang lumrah terjadi di kalangan aktivis dakwah, semakin dewasa, maka semakin berat masalah yang dihadapi.  Untuk aktivis yang belum menikah, mereka masih bisa konsentrasi terhadap aktivitas-aktivitas yang menuntut "keberadaan" dirinya, tapi ketika aktivis tersebut menikah, maka akan terjadi perbenturan kepentingan.  Ada kepentingan keluarga, kepentingan diri sendiri, kepentingan organisasi dan kepentingan dakwah itu sendiri.  Aktivis yang baik, adalah aktivis yang sanggup untuk menjaga kepentingan-kepentingan tersebut agar tetap seimbang.  Dukungan keluarga sangat penting, ketika seorang aktivis kehilangan dukungan dari keluarganya, jangan harap dakwahnya akan berjalan dengan baik, karena itu kepentingan (hak) keluarga tidak bisa diabaikan begitu saja.

Kejadian lain adalah ketika saya bertemu dengan beberapa teman, ketika saya ke DT lagi.  Ada teman kuliah saya, yang secara tidak terduga bertemu dengan saya di DT, padahal selama ini, dia agak malas untuk datang ke DT atau ke pengajian-pengajian sejenis, hari itu dia mengikuti dua pengajian, Percikan Iman dan di DT.  Dia juga bercerita tentang "rekor" dia yang sudah 2 minggu tidak melepas kerudungnya, karena selama ini, dia termasuk semaunya kalau memakai kerudung.  Satu lagi contoh bahwa sebuah permasalahan yang cukup berat bisa merubah seseorang menjadi lebih religius, mengingat sebelumnya dia pernah bercerita tentang masalahnya yang "dirasakan cukup berat".  Sementara, saya hanya berkomentar…"Bagus lah, kalau udah sadar…."…Dan dia memelototi saya sambil memonyongkan bibirnya…Hihihi.

Selain itu, saya bertemu dengan beberapa teman dari PAR-DT, salah satunya dengan Ketuanya, dan yang paling seru ketika mengobrol dengan teman yang selama ini tidak pernah mengobrol sebetulnya, tetapi pada saat itu, tiba-tiba saja kami menjadi akrab.  Bercerita tentang rencana pernikahan nya yang gagal, tentang kondisi PAR-DT, dan tentang gosip di PAR-DT. Salah satunya tentang akhwat yang selama ini menjadi "perhatian" dan "rebutan" banyak ikhwan di PAR-DT.  Cantik? Jelas. Sholeh? Sepertinya begitu.  Cerdas? Entahlah, belum pernah berkomunikasi.  Wajar jika banyak ikhwan yang tertarik kepada dia.  Yang pasti, ada kelucuan tersendiri yang saya rasakan, sehingga terkadang saya tersenyum-senyum ketika kami membicarakan hal tersebut, atau mungkin saya sedang menertawakan kejadian tersebut. Entahlah.  Ketika mengobrol itu juga, saya melihat seseorang yang teman saya coba jodohkan dengan saya, tapi dia tampaknya tidak melihat kami…:D…(kalau baca jangan GR ya..? tenang aja, nggak ada yang tau kok…:p)…pada akhirnya, kami malah lebih seperti "sahabat" daripada sebagai orang yang dijodohkan, dan tampaknya saat-saat yang berbahagia untuk dia akan segera tiba, tinggal nunggu undangannya nih…:D…(semoga lancar aja deh…:D).

Selama 4 hari di Bandung, satu pertanyaan yang paling sering saya dapatkan, "Kapan atuh nikah…?".  Seperti biasa, speechless…suka bingung kalau ditanya itu, paling cuma senyum aja, selanjutnya biarkan mereka menyimpulkan sendiri.  Perasaan yang paling kuat, ada semacam kerinduan terhadap teman-teman saya.  Saat ini saya rasanya kesepian sekali.  Mungkin benar kata Obenk, "dunia orang dewasa itu sepi". Ketika saya perhatikan kamar saya, banyak sekali saya lihat ID Card Panitia, ID Card Workshop, gambaran betapa "sibuk" nya saya dulu dan betapa banyaknya teman saya.  Tapi, sekarang, saya menjadi seorang tahanan di sebuah "Penjara Eksekutif" yang membuat saya tidak memiliki banyak waktu untuk bersosialisasi.  Rindu sekali berkumpul, melakukan kegiatan atau menghabiskan waktu untuk membicarakan sesuatu yang bahkan penuh dengan omong kosong sekalipun.

S3K3L04. 280605. 17.31.
Duh, di "penjara" lagi…:(

NB : Untuk kali ini, nama-nama sengaja tidak saya cantumkan…bahaya!! :P

Sekali

May 21st, 2006

Untuk sekali ini saja,
Izinkan aku untuk menyerah…

Tebet, 22 Mei 2006, 13.06.
Badan Panas, Kepala pusing dan Mata perih.

Berburu Buku

May 1st, 2006

Seperti biasa, awal bulan, Berburu buku…dapat beberapa buku yang udah saya beli…lumayan besar juga pengeluaran untuk buku ini, tapi karena udah di budget-kan, jadi…cuek aja. :) Kali ini giliran Gramedia Bogor yang kebagian Rezeki.  Beli hari Minggu kemaren, dengan keadaan lemah dan lesu serta lapar akibat lembur dan begadang di kantor karena kerjaan masih banyak errornya.
Ada 6 buah buku yang baru dibeli :

Hafalan Shalat Delisa (Novel, Tere Liye)
Tuhan yang menenteramkan, Bukan Tuhan yang Menggelisahkan : Studi Banding Tauhid dan Trinitas (Purwanto Abd Al-Ghaffar)
Melacak Teori Einstein dalam Al-Qur’an : Penjelasan Ilmiah Teori Einstein dalam Al-Qur’an (Wisnu Arya Wardhana)
Mengusung Peradaban yang Berkeimanan (Anis Matta)
Nafas Islam Kebudayaan Indonesia (Departemen Pariwisata zamannya Orde Baru)
Berperang Demi Tuhan (Karen Armstrong)

Dari 6 buku tersebut, Buku Mengusung Peradaban udah tamat dalam 2 jam, sementara Melacak Teori Einstein dan Berperang Demi Tuhan, baru masuk halaman pendahuluan, sisanya, masih kata pengantar dan daftar Isi..hehehe. Tapi, yang menarik dari buku Nafas Islam adalah, full color, kertasnya bagus, (..apa ya nama kertasnya? ..) Udah gitu, banyak Foto-nya..dan murah!! Cuma Rp.15.000, beli di tukang jual majalah2 lama yang saya temui di Stasiun Tebet, tadinya mau nyari National Geohraphics yang bisa dapat dengan harga Rp.7.000,- lagipula, untuk NG, meskipun keluaran lama, tapi tetep menarik, karena memang isinya yang sesuai sepanjang zaman…tapi, sayang…kehabisan.  Jadinya aja, beli Nafas Islam, tapi cukup memuaskan…

Yang jelas, buku2 tersebut pengen juga sih dibikin resensinya, tapi…lagi males!  Huhuhu…

Nggak tahu kenapa, buku yang saya beli bulan ini, sebagian besar..eh, semua… bertemakan tentang Islam, bulan sebelumnya juga…tapi, belakangan emang lagi tertarik dengan perbandingan antara Islam dengan agama lain.

Tadinya pengen beli Musashi atau Perang Salib Sudut Pandang Islam, tapi berhubung budgetnya nggak mencukupi, jadinya beli buku itu aja.

Entah berapa lama bakalan tamatin tuh buku, sebelum beli aja, masih banyak waiting list yang belum tamat…ditambah lagi waktu obrak-abrik lemari ibu saya, saya menemukan lumayan banyak Tabloid Risalah, keluaran PERSIS (Persatuan Islam), jadinya makin banyak waiting list nya…pyuuuhh!

Itu saja yang bisa saya tulis kali ini, lagi kerepotan untuk menulis yang berat2 dan mikir2….heu heu heu

Tebet, Ba’da Ashar, 01052006.  15.47.