Fighting
Hari Kamis, Jam 13, saya ada jadwal Upgrading Fasilitator PAR-DT, yang diadakan oleh Manajemen Divisi Pelatihan, DT. Saya berangkat dari kost-an jam 12.30. Seperti biasa, pake kaos oblong dan jaket, sesederhana mungkin.
Saya naik angkot jurusan Cicaheum - Ciroyom dari UNPAD DU, sebab untuk ke DT, harus naik angkot 2 kali. Biasanya bareng Beni, naik motor, tapi berhubung Beni pulang kampung ke Tasik, saya harus naik angkot.
Di angkot, saya duduk paling pojok, di kursi yang panjang. Disebelah saya, seorang mahasiswa UNPAD, di depan saya seorang perempuan, dan di sebelah perempuan itu teman Mahasiswa UNPAD tadi. Suasana di angkot, biasa saja, paling cuma obrolan 2 mahasiswa UNPAD tadi saja. Ketika sampai di simpang dago, angkot tersebut menaikkan penumpang. Ada sekitar 4 orang yang naik, karena saya tidak terlalu peduli. Satu orang di bangku panjang, kemudian berturut-turut, seorang perempuan, kemudian seorang lelaki yang mengambil tempat duduk diantara perempuan tersebut dan Mahasiswa UNPAD yang di depan saya, kemudian seorang lelaki yang masuk terakhir. Jadi, perempuan tersebut diapit oleh 2 orang lelaki yang baru saja masuk.
Namun, ketika lelaki terakhir ini masuk, saya mulai curiga dengan gerak-geriknya. Dia memepet si perempuan tersebut agar agak merapat kepada lelaki yang satunya, meskipun dia kemudian "berpura-pura" meminta maaf. Lalu, tiba-tiba si lelaki terakhir ini berpura-pura mau muntah atau membuang ludah ke belakang si perempuan ini, padahal dia duduk tepat di pinggir pintu masuk. Si Perempuan, mungkin karena tidak sadar bahwa sebetulnya jendela di belakangnya tidak bisa dibuka, agak bergeser memepet si lelaki yang satunya. "Tidak salah lagi, kedua lelaki itu, gerombolan pencopet". Saya berpikir seperti itu, karena saya sering membaca tentang modus pencopetan yang seperti itu. Lalu saya perhatikan tas perempuan tersebut, dan ternyata ada "sesuatu" yang bergerak-gerak di dalam tas tersebut, padahal tangan perempuan tersebut terlihat bebas dua-duanya. Saya yakin, itu pasti tangan si lelaki yang satunya lagi, meskipun "aktivitas" tersebut tidak terlihat, karena dihalangi oleh tas lelaki tersebut. Awalnya saya ragu untuk memberitahu perempuan tersebut, takut salah.
Tapi, tiba-tiba…"Mbak, hati-hati tasnya…tangan si Mas ini udah masuk ke dalam tas Mbak!", kata saya sambil menunjuk si lelaki tersebut. Suasana pun menjadi tegang, karena mungkin para pencopet tersebut kaget dengan ucapan saya tersebut. Saya pun, sebetulnya setengah tidak sadar mengucapkan kata-kata itu, mungkin pada saat itu amigdala saya membajak peran neokorteks di otak saya. Tidak ada satu kata pun yang terucap dari kedua lelaki tersebut, mereka memandangi saya…saya pun memandangi mereka, meskipun sejujurnya, saya sangat takut sekali, sebab tidak ada satu orang pun yang saya kenal, apalagi mereka berdua, dan salah seorang berbadan kekar, sementara saya kurus begini, tapi saya tidak menunjukkan rasa takut itu. Saya terus menatap mereka berdua. Anehnya, mereka masih "sanggup" bersikap tenang, meskipun saya tahu pasti mereka pun merasakan kegelisahan yang saya rasakan, bahkan lelaki yang berpura-pura muntah tadi berpindah duduk ke bangku "ulang tahun" dan masih sempat-sempatnya juga memberi kepada pengamen, karena memang angkotnya belum berjalan.
Suasana tegang tersebut, berlangsung sekitar 3 menit, tapi terasa lama sekali buat saya. Mau tahu apa yang ada dipikiran saya ?…"Sial, kenapa gua harus ngasih tahu ?? bisa bahaya nih gua, kok gua bisa sih ngomong kayak gitu, kayaknya mereka bakalan nunggu gua turun deh untuk selanjutnya, ngebantai gua!!…" dan lain-lain, intinya, saya memikirkan nasib saya selanjutnya. Tegang Bo!!! Tapi, saya tetap mencoba menunjukkan keberanian saya, dengan terus menatap mereka berdua. Sekitar 200 meter angkot berjalan, seorang penumpang turun di SSC, lalu lelaki yang dikursi tersebut mencoba berpindah ke sebelah saya…
"Geser bang!", katanya
"Nggak lihat apa, disini udah penuh!!"
"Cuma geser aja.."
"Gak bisa! udah sempit!"…sambil tangan saya agak mendorong lelaki tersebut, karena saya yakin orang tersebut berniat jelek terhadap saya.
Tiba-tiba…Plak!! Tangan lelaki tersebut menampar muka saya. Sialan! Saya pun mencoba melawan, tapi saya tidak bisa bergerak leluasa, karena memang sempit, apalagi saya duduk di pojok.
"Eh, apa-apaan lu!!", kata saya…kemudian lelaki yang satu lagi berdiri juga dan bogemnya memukul kepala saya…Buk! Saya pun terdesak! "Eh, apa-apaan sih? Kalian tuh yang penjahat!!"…Kemudian mereka mencoba memukul saya lagi! Lalu…
"Eh, udah! Gua udah sering lihat muka kalian…", Kata mahasiswa yang di depan saya.
Mereka pun berhenti, dan memandangi kami. Saya pun masih sempat mengeluarkan kata-kata umpatan pada mereka. Mungkin karena malu, mereka turun juga…
"Emang ada apaan?", kata sopir angkot tersebut.
"Barusan bang, mau nyoba nyopet…", kata penumpang yang lain.
"Lho…kok dibiarin aja?! Saya gak tahu ada copet. Masa gak berani padahal banyakan begini, kenapa gak dikeroyok aja?", kata sopir tersebut agak emosi.
Para penumpang pun terdiam. Saya pun berpikiran sama dengan sopir tersebut sebetulnya. Kemudian sopir tersebut melanjutkan perjalanan. Barulah kemudian, terungkap bahwa sebetulnya, bukan saya saja yang curiga, penumpang yang lain bahkan sudah ada yang mengetahui, seperti yang diceritakan seorang perempuan berkerudung.
"Saya juga udah tahu, makanya saya nyubit ke yang disebelah saya untuk ngasih tanda, tapi dia gak nyadar…"
"Saya memang udah sering lihat tampang mereka itu…", kata mahasiswa yang tadi mencoba melerai saya dan pencopet itu.
Walah! Kok pada diem aja ?…pikir saya.
"Terima kasih banyak, gak ada yang hilang kok!", kata si perempuan yang hampir dicopet.
"Mas, tahu dari mana ?", tanyanya. Kemudian saya ceritakan saja semuanya apa adanya, kecuali bahwa ucapan tersebut tidak sepenuhnya saya sadari dan saya sangat ketakutan.
Saya dan perempuan tersebut sama-sama berhenti di jalan Cihampelas. Kami berdua ternyata ke arah yang sama. Kami kemudian naik angkot Cicaheum - Ledeng.
"Mbak mau kemana ?", tanya saya.
"Mau ke Ledeng…Emang udah sering yah kejadian kayak barusan?"
"Saya sering aja membaca dan mendengar modus seperti itu, makanya saya langsung curiga, terus saya juga lihat tas mbak udah dirogoh-rogoh gitu."
"Oh…gitu ya?"
Kemudian, tidak ada obrolan lagi. Hening. Saya sibuk dengan pikiran saya, si mbak pun mungkin sibuk juga dengan pikirannya, saya gak tahu. Dia turun lebih dulu, dan masih menyempatkan untuk berterima kasih lagi. Saya tidak tahu dan tidak mencari tahu namanya, dan dia pun tidak tahu nama saya. Tidak penting, saya pikir. Sampai akhirnya, saya berkesimpulan…"Pantesan aja, penjahat-penjahat itu pada berani, dan kejadian seperti itu sering berulang, karena ternyata orang yang jauh lebih banyak, tidak menjamin memiliki keberanian untuk mencegah kejahatan, bahkan yang sudah mengetahui kejahatan tersebut sekalipun"…Saya bukan ingin membanggakan "keberanian" yang telah saya lakukan tersebut, tidak! Karena sesungguhnya, saya pun tidak benar-benar berani dan menyadarinya, saya juga pada akhirnya merasakan ketakutan akan nasib saya selanjutnya. Saya betul-betul merasakan nasib saya diujung tanduk. Hanya ALLAH satu-satunya harapan saya saat itu. Sampai sekarang, saya masih "agak" merasakan ketakutan kalau mau berjalan ke arah simpang dago, takut bertemu para penjahat itu lagi. Dan saya pun berdoa supaya saya tidak dipertemukan dengan orang-orang seperti itu lagi…
Saya, tidak menyesal atas kejadian tersebut, tapi yang saya sesali adalah kenyataan bahwa ternyata keberanian untuk mencegah suatu kejahatan yang tampak di depan mata adalah hal yang masih belum kita miliki. Kita masih "sanggup" membiarkan kedzaliman yang sudah jelas. Kita masih "takut" nyawa kita malah menjadi terancam, seperti yang saya alami. Sangat pantas, kalau ALLAH menggelari "syuhada" bagi mereka yang meninggal di jalan "nahyi munkar", mencegah kejahatan. Para "syuhada", langsung masuk surga, tidak ada hisab. Karena ternyata, hal tersebut sangat berat untuk dijalani, karena menyangkut nyawa kita. Saya malah takut mati. Ah, ilmu nya belum sampai, satu bukti bahwa saya masih lebih takut pada manusia daripada kepada ALLAH.
Sebetulnya, pada kasus yang saya alami, semua penumpang diangkot tersebut memiliki kesempatan yang sama untuk "menolong" perempuan tadi, bukan hanya saya saja. Seharusnya, ketika saya mencegah kejadian tersebut, ada yang membantu saya, apalagi yang sudah mengetahui, sehingga saya dan siapapun yang berbuat sama, tidak merasakan ketakutan.
Sebuah pelajaran berharga buat saya, mungkin juga bagi yang membaca. Tapi saya pun tidak tahu jika ada kejadian seperti itu lagi di depan mata saya, apakah saya akan berbuat hal yang sama atau tidak…
NB : PAR-DT (Pelatihan Anak dan Remaja Daarut Tauhiid), UNPAD (Universitas Padjadjaran), DU (Dipati Ukur), SSC (Sony Sugema College).
Donny, Berantem?? Wah, kudu syukuran….
S3K3L04, 00:47, 021205.
Ngelantur |2 Responses to “Fighting”
Leave a Reply
whahahahahah, si dony wanian euy..
ari maneh teu nanaon don..
kumis jeung jenggot maneh geus dicukur sih, jadi meureun teu sieun ka maneh..
salutlah doni
woooiiiii…
jiwa anak 3 nya keluar hahahahahaha……. loe pake “jurus” nomer berapa donk…?
tapi salut juga euy, gw aja blom seberani itu (dah 2 kali gw ngeliat, secara gak langsung gw diem ajah :((, how same i am?)