Betapa Kita Harus Selalu Bersyukur

December 25th, 2005

Seminggu sudah saya bekerja. Melelahkan memang. Jadi mengerti betapa melelahkannya orang tua saya yang sudah dua puluh tahun lebih “menafkahi” keluarga. Meskipun pekerjaan saya sekarang bukan merupakan impian dan cita-cita saya. Saya tetap berusaha mencintai pekerjaan saya. Meskipun…Masih setengah-setengah. Masih ada rasa enggan. Dan masih mengeluh juga…:). Padahal, saya masih bujangan…(bukan promosi loh!!). Tentu berbeda jauh jika dibandingkan dengan beban yang harus dipikul kedua orang tua saya yang harus menafkahi 3 orang anaknya. Membiayai sekolah, biaya rumah sakit, utang (kalau ada)…atau keperluan mendadak lainnya.

Teman saya, Yusuf, pernah mengatakan…”Makanya, jangan suka minta traktiran seenaknya sama orang lain…baru tahu kan gimana capek-nya nyari duit?…”…Ih, siapa juga yang suka minta traktiran?? (…sedikit pembelaan…)…:D. Ibu saya pun pernah menceritakan betapa sepupu-sepupu saya jadi “lebih” mencintai ayah mereka setelah bekerja, karena sudah merasakan beratnya suatu pekerjaan. Tentunya, saya pun merasakan hal yang sama.

Hei…saya tidak sedang mengeluh sekarang. Tidak juga sedang mengutuk betapa beratnya pekerjaan atau ingin membuat orang paranoid bekerja. Tidak!! Bukan itu…Ada hal lain yang ingin saya ceritakan…

Setiap hari, saya berangkat kerja menggunakan KRL jurusan Bogor-Jakarta. Kelas Ekonomi. Artinya…pada jam-jam sibuk, pagi sekira jam 6 - 8 dan sore sekira jam 16-19…KRL akan sangat penuh, alias berdesak-desakan. Saling jepit. Laki-laki dan perempuan. Riskan sebetulnya untuk para perempuan…karena selalu saja ada orang yang memanfaatkan kondisi tersebut. Artinya lagi, kelas Ekonomi adalah tempat berkumpulnya orang-orang dari berbagai macam strata sosial. Dari yang paling kaya sampai paling miskin. Dari yang paling biadab sampai yang paling beradab. Entahlah…mungkin hanya di sana satu-satunya tempat orang berkumpul dari berbagai macam kalangan. Semuanya berbaur.

Perhatian saya selalu tertuju pada banyaknya pedagang, pengamen dan pengemis di kereta tersebut. Berbagai macam cara dilakukan untuk mendapatkan uang atau supaya laku dagangan mereka. “Teh Botol di kredit…”, “Salak…salak…2000 sekarung…!!”…dan lain-lain…itu adalah celetukan mereka pada saat dagang. Kadang saya tersenyum sendiri kalau mendengar celetukan-celetukan mereka. Pengemis?? Lebih “kreatif” lagi…ada ibu-ibu yang bawa anak, dimana setiap saya bertemu mereka, anaknya selalu…saja menangis…padahal tidak ada air mata. Ada yang nyapu lantai kereta. Ada yang meminta langsung…macam-macam!!

Akhirnya, saya pun berpikir….betapa masih beruntungnya saya!! Allah masih memberi saya pekerjaan, meskipun di awal-awal terasa berat, ditambah dengan jarak yang jauh. Tapi, saya bisa memperoleh “penghasilan tetap”…yang membuat saya masih bisa optimis dan bermimpi akan masa depan. Meskipun, “digaji” bukanlah cita-cita saya.

Beberapa hari lalu, saya sempat ngobrol tentang gaji dengan teman saya yang sama-sama baru bekerja. Subhanallah!! Betapa kagetnya saya ketika mendengar bahwa ternyata gaji yang akan dia terima masih lebih kecil dari saya. Padahal, level kami di perusahaan sama. Sama-sama tidak berpengalaman, sama-sama pegawai baru, dalam beberapa hal dia lebih unggul daripada saya. Dia lebih dulu di-interview daripada saya ketika membicarakan tentang gaji. Entah penilaian apa yang digunakan, sehingga pewawancara menawarkan gaji yang berbeda dan lebih tinggi kepada saya. Padahal, kami sama-sama mengharapkan angka yang sama untuk gaji yang diminta. Saya sangat tidak mengerti. Saya berpikir bahwa itu adalah pertolongan Allah.

Hal lain yang patut saya syukuri adalah untuk bekerja seperti sekarang…saya hanya perlu sekali mengirimkan lamaran pekerjaan. Sementara ada teman dan saudara saya yang lebih dari sepuluh kali mengirimkan lamaran. Tapi belum juga memiliki pekerjaan…

Saya sadar, betapa selama ini saya kurang mensyukuri nikmat yang telah Allah berikan. Di sisi lain, masih ada yang bekerja jauh lebih berat daripada saya, tapi memiliki penghasilan yang lebih rendah. Bahkan yang satu level dengan saya pun ternyata memiliki rezeki yang berbeda.

Wajar jika Allah sampai mengulang berkali-kali dalam satu surat Ar-Rahman, saya menghitung ada sekira 32 kali…”Nikmat mana kah yang engkau dustakan??” Jadi, masih perlukah saya mengeluh?? Rasa-rasanya kurang ajar sekali kalau saya masih mengeluh….

Gedung Gajah. 13:33. Setahun Tsunami Aceh.

NB : Untuk saya yang sedang belajar bersyukur…




One Response to “Betapa Kita Harus Selalu Bersyukur”

  1.   Catur on December 26, 2005 7:13 am

    bener oge nya don, urang2 teh masih beruntung…
    walau urang2 lulusan ti PTS (yang sedang dalam proses akreditasi) tp urang2 bs meunang gawe
    “Di atas langit ada yg lebih tinggi”

    Alhamdulillah…
    eta wungkul don

Comments RSS

Leave a Reply

Name (required)

Email (required)

Website

Speak your mind