:D
Sore hari, 3 pemuda, berusia 23, 27 dan 25 tahun…sedang santai di depan televisi…sesekali terdengar suara tawa cekikikan dan komentar-komentar…
“Bodoh….”
“Uh…sakit banget tuh.”
“Gila…kok gak mati??”
“Kuat banget yah…?”
“Hahahaha….”
Sore hari, 3 pemuda, berusia 23, 27 dan 25 tahun…sedang menonton film Tom and Jerry
![]()
Tersentuh
Jam 8 pagi, saya sudah di kantor. Seperti biasa…utak-atik komputer dan source code program. Juga Online…
15 menit kemudian, seorang teman datang, dan langsung menuju ke lantai atas.
Suasana hening. Sampai tiba-tiba…”audzubillahi minassyaithannirrojim…”…lalu mengalun ayat-ayat Al-Qur’an…saya tertegun…tersentuh…dan damai! Seperti itu, selama 15 menit….
Selalu…lebih indah dari lagu apa pun yang pernah saya dengar…
Gdung Gajah. 231205.
Ngelantur | Comment (0)Betapa Kita Harus Selalu Bersyukur
Seminggu sudah saya bekerja. Melelahkan memang. Jadi mengerti betapa melelahkannya orang tua saya yang sudah dua puluh tahun lebih “menafkahi” keluarga. Meskipun pekerjaan saya sekarang bukan merupakan impian dan cita-cita saya. Saya tetap berusaha mencintai pekerjaan saya. Meskipun…Masih setengah-setengah. Masih ada rasa enggan. Dan masih mengeluh juga…:). Padahal, saya masih bujangan…(bukan promosi loh!!). Tentu berbeda jauh jika dibandingkan dengan beban yang harus dipikul kedua orang tua saya yang harus menafkahi 3 orang anaknya. Membiayai sekolah, biaya rumah sakit, utang (kalau ada)…atau keperluan mendadak lainnya.
Teman saya, Yusuf, pernah mengatakan…”Makanya, jangan suka minta traktiran seenaknya sama orang lain…baru tahu kan gimana capek-nya nyari duit?…”…Ih, siapa juga yang suka minta traktiran?? (…sedikit pembelaan…)…:D. Ibu saya pun pernah menceritakan betapa sepupu-sepupu saya jadi “lebih” mencintai ayah mereka setelah bekerja, karena sudah merasakan beratnya suatu pekerjaan. Tentunya, saya pun merasakan hal yang sama.
Hei…saya tidak sedang mengeluh sekarang. Tidak juga sedang mengutuk betapa beratnya pekerjaan atau ingin membuat orang paranoid bekerja. Tidak!! Bukan itu…Ada hal lain yang ingin saya ceritakan…
Setiap hari, saya berangkat kerja menggunakan KRL jurusan Bogor-Jakarta. Kelas Ekonomi. Artinya…pada jam-jam sibuk, pagi sekira jam 6 - 8 dan sore sekira jam 16-19…KRL akan sangat penuh, alias berdesak-desakan. Saling jepit. Laki-laki dan perempuan. Riskan sebetulnya untuk para perempuan…karena selalu saja ada orang yang memanfaatkan kondisi tersebut. Artinya lagi, kelas Ekonomi adalah tempat berkumpulnya orang-orang dari berbagai macam strata sosial. Dari yang paling kaya sampai paling miskin. Dari yang paling biadab sampai yang paling beradab. Entahlah…mungkin hanya di sana satu-satunya tempat orang berkumpul dari berbagai macam kalangan. Semuanya berbaur.
Perhatian saya selalu tertuju pada banyaknya pedagang, pengamen dan pengemis di kereta tersebut. Berbagai macam cara dilakukan untuk mendapatkan uang atau supaya laku dagangan mereka. “Teh Botol di kredit…”, “Salak…salak…2000 sekarung…!!”…dan lain-lain…itu adalah celetukan mereka pada saat dagang. Kadang saya tersenyum sendiri kalau mendengar celetukan-celetukan mereka. Pengemis?? Lebih “kreatif” lagi…ada ibu-ibu yang bawa anak, dimana setiap saya bertemu mereka, anaknya selalu…saja menangis…padahal tidak ada air mata. Ada yang nyapu lantai kereta. Ada yang meminta langsung…macam-macam!!
Akhirnya, saya pun berpikir….betapa masih beruntungnya saya!! Allah masih memberi saya pekerjaan, meskipun di awal-awal terasa berat, ditambah dengan jarak yang jauh. Tapi, saya bisa memperoleh “penghasilan tetap”…yang membuat saya masih bisa optimis dan bermimpi akan masa depan. Meskipun, “digaji” bukanlah cita-cita saya.
Beberapa hari lalu, saya sempat ngobrol tentang gaji dengan teman saya yang sama-sama baru bekerja. Subhanallah!! Betapa kagetnya saya ketika mendengar bahwa ternyata gaji yang akan dia terima masih lebih kecil dari saya. Padahal, level kami di perusahaan sama. Sama-sama tidak berpengalaman, sama-sama pegawai baru, dalam beberapa hal dia lebih unggul daripada saya. Dia lebih dulu di-interview daripada saya ketika membicarakan tentang gaji. Entah penilaian apa yang digunakan, sehingga pewawancara menawarkan gaji yang berbeda dan lebih tinggi kepada saya. Padahal, kami sama-sama mengharapkan angka yang sama untuk gaji yang diminta. Saya sangat tidak mengerti. Saya berpikir bahwa itu adalah pertolongan Allah.
Hal lain yang patut saya syukuri adalah untuk bekerja seperti sekarang…saya hanya perlu sekali mengirimkan lamaran pekerjaan. Sementara ada teman dan saudara saya yang lebih dari sepuluh kali mengirimkan lamaran. Tapi belum juga memiliki pekerjaan…
Saya sadar, betapa selama ini saya kurang mensyukuri nikmat yang telah Allah berikan. Di sisi lain, masih ada yang bekerja jauh lebih berat daripada saya, tapi memiliki penghasilan yang lebih rendah. Bahkan yang satu level dengan saya pun ternyata memiliki rezeki yang berbeda.
Wajar jika Allah sampai mengulang berkali-kali dalam satu surat Ar-Rahman, saya menghitung ada sekira 32 kali…”Nikmat mana kah yang engkau dustakan??” Jadi, masih perlukah saya mengeluh?? Rasa-rasanya kurang ajar sekali kalau saya masih mengeluh….
Gedung Gajah. 13:33. Setahun Tsunami Aceh.
NB : Untuk saya yang sedang belajar bersyukur…
Refleksi | Comment (1)Tentang Perubahan
“Kerja boleh Don, tapi jangan lupa nulis, udah dua kali ke warnet gak ada kemajuan…”. Begitu kata Dina lewat SMS mengomentari blog ini yang memang agak terbengkalai beberapa hari ini.
Memang, saya agak kaget dengan perubahan yang terjadi pada diri saya beberapa hari ini. Semuanya terasa sangat cepat, bahkan sebelum saya menyadarinya. Kadang dalam pikiran saya muncul berbagai pertanyaan. “Gua udah kerja, ya…?”…”Kok bisa ya…?” dll….yang jelas perubahan tersebut diikuti dengan berbagai macam kebingungan yang menyusul.
Implikasi dari semua itu adalah saya dituntut untuk bisa beradaptasi secepat mungkin. Sebelum ini, saya adalah orang yang “paling bebas”. Saya bisa menentukan kapan main, kapan makan, kapan belajar, kapan tidur, kapan ngehayal….seenaknya. Sekarang, tidak lagi. Banyak waktu yang harus terpakai pada saat kerja. 5 jam perjalanan bolak-balik Bogor - Jakarta, padahal saya bisa membuat dua tulisan dalam waktu selama itu. 8 Jam bekerja di kantor, itu normalnya, kalau nggak normal bisa lebih…itu artinya saya kehilangan banyak waktu untuk membaca dan memperhatikan fenomena-fenomena yang terjadi. Yang paling saya rasakan adalah saya mulai kehilangan minat membaca. Wah, GAWAT!!! 11 jam lagi, adalah waktu-waktu yang masih belum bisa saya atur, katakanlah tidur 5 jam, itu berarti ada 6 jam sisa yang sampai saat ini belum saya atur.
Hal lain adalah senjata saya, my lovely computer, saya tinggal di Bandung, di kost-an saya. Padahal, saya sering bisa menulis, justru di jam-jam dini hari dan di depan kompie. Pada saat hening. Ketika orang tertidur. Pada saat itu, ide-ide yang saya “endapkan” kerap kali bermunculan…kadang-kadang sangat sporadis, sehingga saya malah tidak tidur.
Meskipun saya sudah terbiasa dengan berbagai macam perubahan. Tapi, tetap saja selalu ada saat-saat dimana perlu adaptasi. Seperti sekarang, saya dituntut untuk bisa mengatur waktu saya agar tidak terlalu kelelahan. Mungkin saya perlu belajar dari Wahyu atau Thez nih…
Saya harus sering latihan ngedorong angkot, supaya kuat dorong-dorongan di kereta. Harus juga membiasakan untuk “mengeraskan” hati, karena banyaknya pengemis di kereta. Harus membiasakan dengerin celetukan-celetukan yang Asbun dari para penumpang lain dan para pedagang. Heran, teman-teman saya bisa kuat sampai 4 tahun di kondisi seperti itu.
Bagaimanapun. Itulah kehidupan. Siapa yang bisa menduga. Orang lain, mungkin heran, kenapa saya yang sudah lulus masih sering main ke kampus. Tapi, gara-gara itu, saya dapat pekerjaan sekarang. Sampai suatu waktu saya melihat sebuah pengumuman lowongan kerja. Siapapun tidak akan menduga. Hanya yang saya ingat, seorang pengangguran, memang sebaiknya jangan diam saja. Harus selalu bergerak. Silaturahmi. Jalan-jalan. Main. Apa saja yang bisa dilakukan, lakukan! Apa yang bisa dikerjakan, kerjakan! Meskipun hanya sekedar menyeberangkan seorang nenek, meskipun hanya tersenyum pada orang lain, meskipun hanya sekedar ngebantuin ngecat rumah teman. Bisa jadi, rezeki kita melalui mereka.
Tentang perubahan ini, bagaimanapun saya lah yang menentukan akan survive atau tidak. Karena saya lah yang merasakan dan menjalani setiap perubahan dalam hidup ini. Yang lain…siapa kamu???
NB : Nulis sambil nyuri-nyuri waktu kerja….
Gedung Gajah, 201005. 11.02.
Ngelantur | Comments (3)Kembali Terjaga
Lepas, Bebas…
Kudapatkan Jiwa
Lepas, Bebas…
Kutuju Dunia*
*)Taken From “Kembali Terjaga”, GIGI, Album BAIK.
Sepertinya sudah saatnya bagi saya untuk “Kembali Terjaga”….
Gedung Gajah AM, Saharjo. 16:39. 191205.
Ngelantur | Comment (0)Change
Wadaw! Hidup saya berubah hanya dalam waktu satu minggu. Hari Kamis yang lalu, tanggal 8 Desember 2005, saya dapat selebaran lowongan kerja ketika saya silaturahmi ke Senat Mahasiswa Unikom, status saya masih sebagai Freelance…maklum, gak mau disebut pengangguran banget…Hari Jum’at-nya, saya berencana untuk kirim CV lewat Email, tapi alamat emailnya lupa. Hari Sabtu, saya kirim CV, dan nothong to lose aja…Hari Minggu, jarang-jarang saya mau jalan-jalan lihat-lihat Gasibu di Pagi Hari, itu juga diajakin Heru…kebayang dong Gasibu di Minggu pagi kayak apa…Hari Senin, saya masih menyempatkan nyewa VCD 5 buah, salah satunya Janji Joni (Nicholas Saputra dan Mariana Renatha)…Hari Selasa Pagi, HP saya berbunyi…nomor Jakarta…
"Pak Donny, bisa datang besok Jam 1 Siang untuk Interview..?"…
"Oh…Bisa, Pak…"
"Ok..Saya tunggu ya Pak Donny…?!"
"Baik Pak…"
Hmmm…saya harus membiasakan dengan panggilan "Pak" nih…
Sebentar, ada perasaan aneh di hati saya…kok, tiba-tiba jadi sedih yah?? Sedih karena mau ninggalin Bandung…Kata saya,"Ru, gua ke-pede-an banget diterima yah…?", pada Heru yang sudah beberapa hari menginap di kost-an.
"Ru, Gua harus berangkat sekarang, lusa (Kamis), Insya Allah gua balik lagi, soalnya ada acara di DT, kalau gua datang dengan tampang sedih, berarti gua diterima, kalo seneng, berarti gua gak diterima…", Kata saya.
"Lho…Kok gitu? Orang yang aneh…", Kata Heru.
"Gua males aja ninggalin Bandung, pengennya sih kerja di sini…padahal gua cuma nyoba aja masukin CV…", karena seingat saya, itu adalah CV pertama yang saya kirim setelah dapat Ijazah.
"Justru yang nyoba-nyoba yang sering beruntung…", ceuk Heru.
So…hari itu (Selasa), saya langsung pulang ke Bogor…naik bis Sinar Pasundan…dalam perjalanan, sempet bikin puisi, cieeeee, judulnya "Puisi Naif seorang Lelaki Naif"…kata-kata Naif-nya tercetus begitu aja…mungkin karena saya lagi keedanan nyari buku "Filosofi Naif"-nya Mr. Onno W. Purbo…gak dapet-dapet.
Di DSE Cipanas, Cianjur…Bis tersebut berhenti dan meng-over kan ke bis lain, karena sejak awal memang saya rasakan bermasalah…pantes Nona Tita kayak yang benci banget sama Bis Bandung-Bogor…tadinya, saya pikir…"kayaknya jalan kaki aja ke Puncak seru juga", sebab dari DSE ke Puncak memang tidak terlalu jauh, hanya kira-kira 10 KM..DziG!! Gak Jauh??!
Lagipula, saya kan memang pengen banget nyoba jalan kaki kayak gitu…tapi, berhubung waktu sudah sore dan besok harus di Interview, sementara Ortu sudah menunggu di rumah, akhirnya saya memutuskan naik "ELF"…hanya berempat penumpangnya…wuih, asyik banget.
Di Cisarua, tepat di pasarnya…tiba-tiba Mogok! Dzig! Lagi…???!!!! "Wah, Bensin nya habis…", kata Sopir-nya. Waduh!! Kok bisa lupa ngisi bensin sih….??? Kata bapak yang bareng saya…"Biasanya saya naik kereta ke Bogor, tapi sekarang saya nyoba naik Bis…kok kayak gini jadinya, ya??"…Setelah beli bensin 3 botol…akhirnya, mobil tersebut jalan lagi…singkatnya, saya sampai ke Bogor….
Hari Rabu, saya perkirakan perjalanan 2,5 jam, jadi saya berangkat dari rumah jam 10.30…baru sampai Istana Bogor…HP saya bergetar, maklum di silent…
"Assalamu’alaikum…"
"Waalaikum salam…", kata lawan bicara saya.
"Kang Donny…", tanyanya.
"Iya…"
"Ini Hasan, tanggal 16, 17 dan 18 bisa ngisi Sanlat ?"
"Insya ALLAH, bisa!"
"Kalau begitu, ditunggu jam 1 yah…"
"Kapan? Hari ini…?"
"Iya…TOT nya sekarang…"
"Wah..gak bisa, saya lagi di Bogor…"
"Jadi, gimana dong…"
"Ya, udah, gapapa…ke yang lain aja, soalnya kondisinya juga memang tidak memungkinkan…", kata saya.
"Ya, udah…Assalamu’alaikum.."
"Waalaikumsalam…"
Yaaahhhh…bukan rezeki saya…padahal, saya tunggu-tunggu tuh!! Bukan karena uang-nya, tapi karena kesempatannya…
Sampai ke TEBET, jam 12.30…celingak-celinguk…naik apa ya???
Akhirnya…naik ojek aja…5000 aja!!!
Sampai di perusahaan tersebut, langsung disambut dengan Interview, 2 sesi….
Sesi pertama, ditanya tentang segala hal yang berhubungan diri saya…termasuk juga, "Seberapa kreatifkah Anda..?"…nah loh, pertanyaan ini yang sering bikin saya bingung!! Kalau ukuran kreatif adalah "membuat" sesuatu…betapa tidak kreatifnya diriku!! Akhirnya, saya jawab…"Kalau menurut saya, kreativitas seseorang, tergantung skill orang tersebut…semakin ber-skill…semakin kreatif biasanya…"…ketika ditanya, "pernah buat apa saja…?"….saya malah jawab,"kalau buat sesuatu, jarang…tapi kalau menulis, saya sering…", "Pernah di Publish??", "Pernah, di majalah kampus dan yang paling banyak di blog saya…"…Well, betapa banyak ide-ide berserakan di kepala ini…tapi, aplikasinya yang sulit…kebanyakan proyek mahal!!! Andai seperti itu bisa disebut kreatif, tentu akan saya jawab…Dan pertanyaan terakhir…"Menurut anda, berapa jumlah lampu pijar di Indonesia…??" Hah?! Saya kaget sebetulnya dengan pertanyaan tersebut…boro-boro kepikiran..,Andai bisa jawab seperti ini,"Emang saya tukang lampu apa???"…tapi…"Sekitar 200 juta lampu…", "mengapa Anda berpikir begitu…?", "Saya perkirakan, ada sekitar 40 juta KK di Indonesia, itu berarti sama dengan 40 juta rumah…kalau misalkan kita rata-ratakan tiap rumah memiliki 5 lampu pijar…kalikan saja dengan jumlah rumah…", "Anda dapat darimana data tersebut..?", "Itu kan menurut perkiraan saya, tidak darimana-mana…Bapak kan nanyanya, menurut saya…"…Sebetulnya, saya kelupaan dengan lampu pijar yang di mobil, motor, di pabriknya dan di toko-toko…entah apa yang ada dipikiran si penanya.
Sesi kedua, hanya ditanya pengalaman saya di dunia programming…saya ceritakan saja apa adanya…
Saya harus menghadap lagi besoknya…itu berarti, saya harus menggagalkan acara saya yang di DT!! Arrrrgggghhhh…
Hari kamis, saya diInterview lagi…kali ini, tentang gaji…itu, berarti saya sudah diterima…dan, hanya 75% dari gaji yang saya harapkan…saya sadar, ternyata saya harus belajar lagi ber-negosiasi…payah banget!!! "Besok, udah bisa kerja…??"…"Senin, aja gimana, pak??"…"Besok aja lah…"…"Hmm..ya, udah!!"…See?? Payah banget kan negosiasi saya…itu berarti, Jum’at saya harus datang dan mulai kerja…
Semuanya diluar perkiraan saya…bikin rencana dan jadwal saya berantakan!
Well, saya dah kerja sekarang…itu berarti, saya kehilangan 50% bahkan bisa sampai 80% kebebasan saya!!! Ugh!! Yang pasti, semalaman, saya ngerasa sedih…tiba-tiba saja segala hal tentang Bandung dan aktivitas rutin saya di Bandung…melayang-layang di otak saya…Diskusi di Birama, MPI minggu pagi, Lari pagi di Sabuga, Jumatan di Salman dan pulangnya jalan kaki melewati ITB, jalan kaki di DU, Warnet, Singkong goreng Monumen, DT, FC, keliling-keliling Bandung, jalan kaki malam-malam sendirian, nongkrongin Gramedia…huh!!
Hari pertama kerja, cukup berkesan…mungkin saya akan merasa betah…seperti dejavu…wajah-wajah rekan kerja saya, seperti sudah familiar…berdasarkan pengalaman saya, kalau sudah begitu, biasanya saya bisa "survive"…sama halnya ketika saya pertama kali kuliah, Birama, SSG, FC, termasuk juga teman-teman dekat saya merupakan orang-orang yang "seperti pernah saya kenal…"
Saya diperkenalkan dengan software yang mereka kembangkan…manual book nya, diagram data, source code dan software-nya sendiri…seharian saya belajar!! Untuk software-nya, sudah terbayang di kepala saya…tapi, untuk source code dan DFD-nya…waduh!! Selama ini, saya berhadapan dengan suatu database yang berjumlah paling banyak 10 Entitas, dan biasanya saya mudah memetakan aliran datanya dikepala saya. Tapi, sekarang, saya dihadapkan dengan database dengan jumlah Entitas mencapai 40…gila aja!! Boro-boro terpetakan, melihatnya saja sudah eneg! Selain itu, saya juga biasa membuat software dengan jumlah form yang seminimal mungkin…sekarang, saya harus berhadapan dengan jumlah form yang mencapai 100!! Hiks!! Selain itu, program tersebut adalah buatan orang lain…sesuatu yang paling saya hindari! Bagaimana tidak, saya harus "membaca" code-code yang jumlahnya ribuan baris…dan belum tentu logika saya "nyambung" dengan logika yang buat! Bisa jadi logika saya lebih sederhana, atau sebaliknya…
Tapi, tantangan!!! Saya seperti anak baru ngerti IT disana…bener-bener blank! weleh-weleh…Saya harus belajar Java dan Oracle…
Untungnya, perusahaan saya tidak terlalu ketat dengan jadwal kerja…fleksibel…disesuaikan dengan jiwa para programmer yang memang tidak bisa "dipaksa"…tidak mengikuti jadwal 9 to 5…yang penting pekerjaan selesai…mudah-mudahan saya juga bisa "memanfaatkan" hal tersebut untuk pemenuhan jadwal FC di DT yang setiap hari kamis, dua minggu sekali…
Saya jadi orang yang tepat waktu dan rapi, hanya dalam satu minggu…beda banget dengan saya yang doyan ngaret, dan cuek!!! kayak yang aneh!! Saya mengalami banyak hal yang serba pertama…
Akhirnya, saya "terpaksa" kerja di Jakarta, termakan ucapan sendiri juga…kadang kita perlu kompromi dengan segala hal…saya pun, pada akhirnya memang harus berkompromi…tapi saya berjanji untuk kembali lagi ke Bandung suatu saat…menjemput seseorang kah??? Nggak tau atuh ya….
NB : TUh, lagi-lagi…gak sesuai ama yang di otak!! Loncat-loncat gitu….
MPI (Majelis Percikan Iman), FC(Fasilitator Club), DFD(Data Flow Diagram), DT(Daarut Tauhiid), TOT(Training Orientasi Trainer), DSE(Dago Stock Export)…dago pindah ke cipanas ya???!!
DipatiUkur, 0:52, 171205.
Ngelantur | Comment (0)Infinity Project
Terpikir untuk membuat sebuah web site resmi…Official Site Diriku…Halah!! Yah…kelanjutan dari Infinity Project yang saya bangun untuk sepanjang hidup saya…tapi, saya masih bingung, yang bener tuh…Infinity atau Infinite yah?? Kalau ada yang mau koreksi…bakalan saya ganti namanya.
Yang jelas, keinginan itu muncul selama saya mengerjakan "September Project"-nya punya Icha…Jujur, selama ini, saya kurang memperhatikan aspek grafis dari suatu website…yang penting coding-nya saja, meskipun sudah lama juga saya tidak ngoding…dan…"September Project" merupakan proyek yang bener-bener pengen serius saya garap dan lebih profesional…karenanya, saya belajar Photoshop, belajar lagi PHP lebih dalam, belajar lagi tentang Content Management, design web dan everything tentang Web…mumpung saya punya waktu yang sangat luang…makanya agak lambat mengerjakan "September Project" ini, tidak sesuai dengan jangka waktu yang saya janjikan…maaf ya Cha??!!
Jadi, 5 tahun ini kemana aja atuh kamu teh, don?? Hehehe…Makanya, saya agak menyesal juga, betapa waktu terasa sangat cepat…
Dua minggu terakhir ini, waktu saya habis untuk, coding, sleeping, reading, learning, writing, and khayaling…hehehe…saya pinjem meja komputer, supaya saya bisa lebih betah, ketimbang harus duduk di lantai…dan ternyata memang berpengaruh…selama komputer saya masih di bawah, paling lama saya kuat 2 jam di depan komputer…tapi, semenjak ada meja komputer, bisa seharian gak turun-turun dari depan komputer…kecuali makan dan shalat…jadi keingetan, betapa saya bersemangatnya ngulik komputer sewaktu smp…sampai lupa makan!! Pinjem meja komputer itu juga merupakan salah satu usaha saya untuk mengembalikan "semangat" itu, yang selama kuliah benar-benar hilang.
Yah…mudah-mudahan saja, "September Project" merupakan pintu pembuka bagi project-project lainnya. Makanya, saya sangat serius dengan project ini…mudah-mudahan tidak mengecewakan…
DU, 101205, 14:52…Lapar!
Ngelantur | Comment (0)Fighting
Hari Kamis, Jam 13, saya ada jadwal Upgrading Fasilitator PAR-DT, yang diadakan oleh Manajemen Divisi Pelatihan, DT. Saya berangkat dari kost-an jam 12.30. Seperti biasa, pake kaos oblong dan jaket, sesederhana mungkin.
Saya naik angkot jurusan Cicaheum - Ciroyom dari UNPAD DU, sebab untuk ke DT, harus naik angkot 2 kali. Biasanya bareng Beni, naik motor, tapi berhubung Beni pulang kampung ke Tasik, saya harus naik angkot.
Di angkot, saya duduk paling pojok, di kursi yang panjang. Disebelah saya, seorang mahasiswa UNPAD, di depan saya seorang perempuan, dan di sebelah perempuan itu teman Mahasiswa UNPAD tadi. Suasana di angkot, biasa saja, paling cuma obrolan 2 mahasiswa UNPAD tadi saja. Ketika sampai di simpang dago, angkot tersebut menaikkan penumpang. Ada sekitar 4 orang yang naik, karena saya tidak terlalu peduli. Satu orang di bangku panjang, kemudian berturut-turut, seorang perempuan, kemudian seorang lelaki yang mengambil tempat duduk diantara perempuan tersebut dan Mahasiswa UNPAD yang di depan saya, kemudian seorang lelaki yang masuk terakhir. Jadi, perempuan tersebut diapit oleh 2 orang lelaki yang baru saja masuk.
Namun, ketika lelaki terakhir ini masuk, saya mulai curiga dengan gerak-geriknya. Dia memepet si perempuan tersebut agar agak merapat kepada lelaki yang satunya, meskipun dia kemudian "berpura-pura" meminta maaf. Lalu, tiba-tiba si lelaki terakhir ini berpura-pura mau muntah atau membuang ludah ke belakang si perempuan ini, padahal dia duduk tepat di pinggir pintu masuk. Si Perempuan, mungkin karena tidak sadar bahwa sebetulnya jendela di belakangnya tidak bisa dibuka, agak bergeser memepet si lelaki yang satunya. "Tidak salah lagi, kedua lelaki itu, gerombolan pencopet". Saya berpikir seperti itu, karena saya sering membaca tentang modus pencopetan yang seperti itu. Lalu saya perhatikan tas perempuan tersebut, dan ternyata ada "sesuatu" yang bergerak-gerak di dalam tas tersebut, padahal tangan perempuan tersebut terlihat bebas dua-duanya. Saya yakin, itu pasti tangan si lelaki yang satunya lagi, meskipun "aktivitas" tersebut tidak terlihat, karena dihalangi oleh tas lelaki tersebut. Awalnya saya ragu untuk memberitahu perempuan tersebut, takut salah.
Tapi, tiba-tiba…"Mbak, hati-hati tasnya…tangan si Mas ini udah masuk ke dalam tas Mbak!", kata saya sambil menunjuk si lelaki tersebut. Suasana pun menjadi tegang, karena mungkin para pencopet tersebut kaget dengan ucapan saya tersebut. Saya pun, sebetulnya setengah tidak sadar mengucapkan kata-kata itu, mungkin pada saat itu amigdala saya membajak peran neokorteks di otak saya. Tidak ada satu kata pun yang terucap dari kedua lelaki tersebut, mereka memandangi saya…saya pun memandangi mereka, meskipun sejujurnya, saya sangat takut sekali, sebab tidak ada satu orang pun yang saya kenal, apalagi mereka berdua, dan salah seorang berbadan kekar, sementara saya kurus begini, tapi saya tidak menunjukkan rasa takut itu. Saya terus menatap mereka berdua. Anehnya, mereka masih "sanggup" bersikap tenang, meskipun saya tahu pasti mereka pun merasakan kegelisahan yang saya rasakan, bahkan lelaki yang berpura-pura muntah tadi berpindah duduk ke bangku "ulang tahun" dan masih sempat-sempatnya juga memberi kepada pengamen, karena memang angkotnya belum berjalan.
Suasana tegang tersebut, berlangsung sekitar 3 menit, tapi terasa lama sekali buat saya. Mau tahu apa yang ada dipikiran saya ?…"Sial, kenapa gua harus ngasih tahu ?? bisa bahaya nih gua, kok gua bisa sih ngomong kayak gitu, kayaknya mereka bakalan nunggu gua turun deh untuk selanjutnya, ngebantai gua!!…" dan lain-lain, intinya, saya memikirkan nasib saya selanjutnya. Tegang Bo!!! Tapi, saya tetap mencoba menunjukkan keberanian saya, dengan terus menatap mereka berdua. Sekitar 200 meter angkot berjalan, seorang penumpang turun di SSC, lalu lelaki yang dikursi tersebut mencoba berpindah ke sebelah saya…
"Geser bang!", katanya
"Nggak lihat apa, disini udah penuh!!"
"Cuma geser aja.."
"Gak bisa! udah sempit!"…sambil tangan saya agak mendorong lelaki tersebut, karena saya yakin orang tersebut berniat jelek terhadap saya.
Tiba-tiba…Plak!! Tangan lelaki tersebut menampar muka saya. Sialan! Saya pun mencoba melawan, tapi saya tidak bisa bergerak leluasa, karena memang sempit, apalagi saya duduk di pojok.
"Eh, apa-apaan lu!!", kata saya…kemudian lelaki yang satu lagi berdiri juga dan bogemnya memukul kepala saya…Buk! Saya pun terdesak! "Eh, apa-apaan sih? Kalian tuh yang penjahat!!"…Kemudian mereka mencoba memukul saya lagi! Lalu…
"Eh, udah! Gua udah sering lihat muka kalian…", Kata mahasiswa yang di depan saya.
Mereka pun berhenti, dan memandangi kami. Saya pun masih sempat mengeluarkan kata-kata umpatan pada mereka. Mungkin karena malu, mereka turun juga…
"Emang ada apaan?", kata sopir angkot tersebut.
"Barusan bang, mau nyoba nyopet…", kata penumpang yang lain.
"Lho…kok dibiarin aja?! Saya gak tahu ada copet. Masa gak berani padahal banyakan begini, kenapa gak dikeroyok aja?", kata sopir tersebut agak emosi.
Para penumpang pun terdiam. Saya pun berpikiran sama dengan sopir tersebut sebetulnya. Kemudian sopir tersebut melanjutkan perjalanan. Barulah kemudian, terungkap bahwa sebetulnya, bukan saya saja yang curiga, penumpang yang lain bahkan sudah ada yang mengetahui, seperti yang diceritakan seorang perempuan berkerudung.
"Saya juga udah tahu, makanya saya nyubit ke yang disebelah saya untuk ngasih tanda, tapi dia gak nyadar…"
"Saya memang udah sering lihat tampang mereka itu…", kata mahasiswa yang tadi mencoba melerai saya dan pencopet itu.
Walah! Kok pada diem aja ?…pikir saya.
"Terima kasih banyak, gak ada yang hilang kok!", kata si perempuan yang hampir dicopet.
"Mas, tahu dari mana ?", tanyanya. Kemudian saya ceritakan saja semuanya apa adanya, kecuali bahwa ucapan tersebut tidak sepenuhnya saya sadari dan saya sangat ketakutan.
Saya dan perempuan tersebut sama-sama berhenti di jalan Cihampelas. Kami berdua ternyata ke arah yang sama. Kami kemudian naik angkot Cicaheum - Ledeng.
"Mbak mau kemana ?", tanya saya.
"Mau ke Ledeng…Emang udah sering yah kejadian kayak barusan?"
"Saya sering aja membaca dan mendengar modus seperti itu, makanya saya langsung curiga, terus saya juga lihat tas mbak udah dirogoh-rogoh gitu."
"Oh…gitu ya?"
Kemudian, tidak ada obrolan lagi. Hening. Saya sibuk dengan pikiran saya, si mbak pun mungkin sibuk juga dengan pikirannya, saya gak tahu. Dia turun lebih dulu, dan masih menyempatkan untuk berterima kasih lagi. Saya tidak tahu dan tidak mencari tahu namanya, dan dia pun tidak tahu nama saya. Tidak penting, saya pikir. Sampai akhirnya, saya berkesimpulan…"Pantesan aja, penjahat-penjahat itu pada berani, dan kejadian seperti itu sering berulang, karena ternyata orang yang jauh lebih banyak, tidak menjamin memiliki keberanian untuk mencegah kejahatan, bahkan yang sudah mengetahui kejahatan tersebut sekalipun"…Saya bukan ingin membanggakan "keberanian" yang telah saya lakukan tersebut, tidak! Karena sesungguhnya, saya pun tidak benar-benar berani dan menyadarinya, saya juga pada akhirnya merasakan ketakutan akan nasib saya selanjutnya. Saya betul-betul merasakan nasib saya diujung tanduk. Hanya ALLAH satu-satunya harapan saya saat itu. Sampai sekarang, saya masih "agak" merasakan ketakutan kalau mau berjalan ke arah simpang dago, takut bertemu para penjahat itu lagi. Dan saya pun berdoa supaya saya tidak dipertemukan dengan orang-orang seperti itu lagi…
Saya, tidak menyesal atas kejadian tersebut, tapi yang saya sesali adalah kenyataan bahwa ternyata keberanian untuk mencegah suatu kejahatan yang tampak di depan mata adalah hal yang masih belum kita miliki. Kita masih "sanggup" membiarkan kedzaliman yang sudah jelas. Kita masih "takut" nyawa kita malah menjadi terancam, seperti yang saya alami. Sangat pantas, kalau ALLAH menggelari "syuhada" bagi mereka yang meninggal di jalan "nahyi munkar", mencegah kejahatan. Para "syuhada", langsung masuk surga, tidak ada hisab. Karena ternyata, hal tersebut sangat berat untuk dijalani, karena menyangkut nyawa kita. Saya malah takut mati. Ah, ilmu nya belum sampai, satu bukti bahwa saya masih lebih takut pada manusia daripada kepada ALLAH.
Sebetulnya, pada kasus yang saya alami, semua penumpang diangkot tersebut memiliki kesempatan yang sama untuk "menolong" perempuan tadi, bukan hanya saya saja. Seharusnya, ketika saya mencegah kejadian tersebut, ada yang membantu saya, apalagi yang sudah mengetahui, sehingga saya dan siapapun yang berbuat sama, tidak merasakan ketakutan.
Sebuah pelajaran berharga buat saya, mungkin juga bagi yang membaca. Tapi saya pun tidak tahu jika ada kejadian seperti itu lagi di depan mata saya, apakah saya akan berbuat hal yang sama atau tidak…
NB : PAR-DT (Pelatihan Anak dan Remaja Daarut Tauhiid), UNPAD (Universitas Padjadjaran), DU (Dipati Ukur), SSC (Sony Sugema College).
Donny, Berantem?? Wah, kudu syukuran….
S3K3L04, 00:47, 021205.
Ngelantur | Comments (2)Most Wanted
Buku :
Filosofi Naif(Onno W Purbo), Tafsir Al-Azhar(HAMKA), Tasawuf Modern(HAMKA), Di Bawah Lindungan Ka’Bah (HAMKA), Change (Rhenald Kasali), Genome, A Brief History of Time (Stephen Hawking), Winnetou I, II dan III (Karl May), Musashi, Supernova: Petir (Dee), Mukadimah (Ibnu Khaldun), Majmu Fatawa (Ibnu Taimiyah), Harun Yahya Series, Tafsir Ibnu Katsir, 7 Habits dan 8 Habits (Stephen Covey), ESQ (Ary Ginanjar), Memoar of Geisha (Remy Silado), Parijs van Djava (Remy Silado), Sahih Bukhari dan Muslim, Sunan Abu Dawud, Psikologi Komunikasi (Jalaludin Rahmat), Relativitas (Albert Einstein), Kosmos (Carl Sagan), La Tahzaan (’Aidh Al Qarni), Fi Zhilalil Qur’an (Sayyid Quthb), Tafsir Al-Misbah (Quraish Shihab), Ketika Mas Gagah Pergi (Helvy Tiana Rossa), Menikahlah! Engkau Menjadi Kaya, Sam Kok, Jangan Mau Seumur Hidup Jadi Orang Gajian (Valentino Dinsi), Chaos For Beginner, Tafsir Kontemporer (Yusuf Qardhawi), Sains yang Sesat (Robin Baker), Buku-buku Paulo Coelho, Buku-buku Anis Matta, Tarbawi Edisi Rahmat Abdullah, Sejarah Tuhan (Karen Armstrong), Yerusalem (Karen Armstrong), Perang Suci (Karen Armstrong), Berperang Demi Tuhan (Karen Armstrong), Dunia yang Dilipat, The Tao of Physic, The Hidden Connection (Fritjof Capra), Titik Balik Peradaban (Fritjof Capra),The Blue Nowhere, Psikoanalisis (Freund), Balada Manusia dan Mesin, Elegi Gutenberg (Putut Widjanarko), Juru Bicara Tuhan : Antara Sains dan Agama (Ian G. Barbour), Black Holes and Baby Universe (Stephen Hawkings),
Dan, masih banyaaaaaaaaaakkkkkkkkkkkk….lagi!!
Musik :
Liquid Tension Experiment I & II, 2 X 2 (GIGI), Album-album Transatlantic, OSI.
Kalau misalkan, bangun dari tidur, semuanya tiba-tiba ada di depan mata…Wuih!! Sujud syukur deh!! Kalo Ada yang mau ngasih pinjem, or beliin, atau ngasih??? MAU BANGET!!! HEHEHEHE
Ngelantur | Comment (0)Pelajaran Cinta, Episode 2 : Nikah Tanpa Pacaran
Pernah membayangkan, ketika suatu saat nanti, kita menikahi orang yang belum kita kenal, bahkan sangat asing? Dalam beberapa kasus, saya menemukan kedua mempelai baru bertemu ketika akad nikah.
Entah kenapa, Nikah tanpa Pacaran, menjadi sesuatu yang asing bagi kita saat ini. Padahal, kalau kita mau mengakui, jujur dan belajar dari sejarah, pacaran merupakan "produk" abad terakhir. Sebelumnya, pernikahan terlaksana melalui proses perjodohan, atau kalaupun tidak, ketika seorang lelaki menyukai seorang perempuan, dia langsung datang ke rumah perempuan itu untuk meminang. Wow, Gentleman, EUY! Dan proses pernikahan pun, tidak ribet, tidak berbelit-belit. Kalaupun ada proses pengenalan, tidak berlangsung terlalu lama biasanya.
Berbeda sekali dengan kebanyakan orang-orang saat ini.
"Kalau belum kenal kan, ngeri juga…"
"Emang kita hidup di zaman Firaun, pake nikah dijodoh-jodohin segala…"
"Udah nggak zaman lagi deh, nikah pake dijodohin…"
"Pacaran itu kan proses, supaya kita saling mengenal, supaya nggak nyesel dan salah pilih…"
Ya, kira-kira seperti itu lah beberapa argumen yang sempat masuk ke telinga saya, termasuk saya juga pernah berpikiran seperti itu.
Ada satu pertanyaan, mana yang lebih banyak, kasus perceraian saat ini, atau di zaman kakek dan nenek kita dahulu? Saya yakin, jawabannya pasti lebih banyak saat ini. Padahal, zaman kakek-nenek kita itu masih zamannya perjodohan. Jadi, apakah pacaran menjamin kelanggengan hubungan suami-istri? Tidak Juga!
Seorang ustadz pernah bercerita, temannya berpacaran 7 tahun sebelum menikah. Tapi, kemudian bercerai 3 bulan setelah menikah…alasannya, karena istrinya tidak bisa tidur kalau tidak ditemani kucing dan lampu yang mati, sementara dia alergi kucing dan tidak bisa tidur kalau lampu terang. Kemudian, saya juga ingat bahwa ternyata pasangan suami-istri yang terlalu lama berpacaran sebelum menikah, lebih mudah merasakan kebosanan dalam hubungan rumah tangganya. Ini merupakan fakta yang pernah saya dengar dari paman seorang teman yang psikolog.
Berapapun lama pacaran, tidak menjamin kita untuk bisa lebih mengetahui segala hal tentang pasangan kita. Ketika memasuki gerbang rumah tangga, segalanya akan jauh berbeda dengan sebelum menikah. Ada detil-detil pasangan kita yang selama berpacaran "tersembunyi" atau "disembunyikan" yang kemudian muncul. Dalam banyak hal. Faktanya, dalam pacaran memang banyak hal yang sering ditutupi terhadap pasangannya. Meskipun tidak semua orang seperti itu.
Pada dasarnya, perasaan cinta, bisa ditumbuhkan. Terhadap siapapun. Bahkan orang yang menurut kita tidak menarik sama sekali. Tidak percaya? Saya pernah mengalaminya, meskipun kemudian pikiran tersebut saya buang jauh-jauh. Toh, kita pun sering menemukan kasus cinta pada pandangan pertama. Ego kita saja yang kemudian mengalahkan perasaan cinta tersebut. Karena, menurut kita, kurang cantik, kurang cerdas…dan kurang-kurang yang lainnya.
Pada kasus saya, saya awalnya mencoba untuk mempraktikan tips dari seorang ustadz agar kita bisa menumbuhkan rasa cinta terhadap seseorang. Katanya,"Pikirkan saja nama seseorang, setiap hari…meskipun awalnya tidak ada perasaan suka, lama-lama perasaan tersebut akan muncul juga"…lebih kurang redaksinya seperti itu. Saya pun, entah kenapa, penasaran dan saya coba juga. Awalnya, memang tidak ada perasaan apa-apa. Interaksi yang sering dan melihat hal-hal positif dari orang itu yang kemudian "memunculkan" rasa itu. Sampai kemudian, saya pun menyadari, bahwa ternyata, perasaan cinta, simpati atau empati memang bisa ditumbuhkan. Tergantung bagaimana kita mengolahnya dan kemauan kita untuk membuka hati kita. Itu saja sebetulnya. Hal lain adalah kesadaran bahwa setiap orang memang memiliki kelebihan dan kekurangan. Orang lain pun ingin diperlakukan sebagaimana kita diperlakukan. Meskipun, pada kasus Lelaki dan Perempuan, berbeda cara perlakuan. Kalau sudah begitu, saya kira, kita akan mudah untuk "jatuh cinta" kepada siapa pun.
Saya sering ngobrol dengan teman-teman yang menikah tanpa pacaran, bahkan dengan orang yang belum mereka kenal sebelumnya. Saya meminta mereka untuk bercerita tentang kesan-kesan pernikahan mereka. Ternyata, banyak hal menarik yang mereka ceritakan. Terutama, di malam pertama mereka. Heu heu heu…Kata mereka, "justru seninya adalah ketika kita berusaha untuk saling mengenal, meraba-raba perasaan pasangan kita, bagaimana kalau dia sedih, marah, senang, apa yang menyebabkan dia marah, sedih atau senang, ketika petama kali berpegangan tangan, ketika pertama kali mencium, atau pada saat sama-sama merasa malu ketika berduaan di dalam kamar, suasana hening yang tercipta karena sama-sama bingung memulai pembicaraan, sementara di kepala kita ada berjuta pertanyaan tentang pasangan kita, perasaan berdebar-debar, yang mungkin tidak dirasakan lagi oleh orang yang berpacaran, itu adalah perasaan yang sangat luar biasa bagi orang-orang yang belum pernah merasakan semua itu". Dan mereka melakukan itu pun, halal, tidak ada dosa. Perselisihan, pasti ada, bahkan bagi mereka yang berpacaran sekalipun. Tapi, semuanya bisa diatasi dengan saling pengertian.
Saya pun sering meminta mereka untuk berbicara tentang pasangan mereka, ada yang mengatakan, "istri saya sangat luar biasa, dia sangat sholeh..", "istri saya sangat pengertian…", "istri saya memang tidak cantik, tapi kebaikannya yang membuat saya semakin sayang…"…dan lain-lain.
Pada akhirnya, saya memang tidak setuju dengan dalih-dalih…
"Ini kan zaman modern, beda dengan zaman para nabi…"
"Masa di zaman seperti ini, masih ada juga yang dijodohin…"
Sebab…pada dasarnya, potensi manusia itu sama, sejak Nabi Adam diturunkan sampai nanti Kiamat pun, perangkatnya sama saja…dan kebutuhan kita pun sama saja…Ketenangan, Kebahagiaan, rasa Aman, Cinta, Kasih Sayang, Damai, Rasa Hormat…kalau kemudian kita hidup di zaman sekarang ini, tidak berarti bahwa kemudian kebutuhan kita berbeda dengan orang-orang di zaman para Nabi. Materi-materi dan kemajuan peradaban, hanya merupakan fasilitas saja, yang pada akhirnya digunakan untuk pemenuhan kebutuhan-kebutuhan tadi.
Fenomena Nikah Tanpa Pacaran, memang masih bertahan di komunitas-komunitas Islam…PKS, HTI, LDK…atau di daerah-daerah. Tapi, tidak berarti bahwa Fenomena tersebut masuk kategori "Kampungan" atau "Primitif". Menurut saya, malah Fenomena itu yang lebih "Modern". Apalagi, belakangan, saya memang agak "muak" dengan hal-hal yang berbau pacaran dan cinta picisan yang menjadi kebanggaan di zaman sekarang ini. Kadang-kadang, cuma jadi bahan tertawaan saya. Pada akhirnya, saya menyadari bahwa aktivitas tersebut lebih banyak kesia-siaannya. Meskipun saya memang belum pernah berpacaran. Tapi, saya kira, saya tidak perlu pacaran untuk mengetahui sia-sia atau tidak, bukan begitu? Sama halnya seperti kita tidak perlu nyebur kalau cuma ingin tahu sungai itu dalam atau tidak, suruh aja orang lain, atau lihat orang lain yang udah nyebur.
Jadi, Nikah Tanpa Pacaran?? GAK TAKUT!!
NB : PKS(Partai Keadilan Sejahtera), HTI(Hizbut Tahrir Indonesia), LDK(Lembaga Dakwah Kampus)
- Buat Obenk : Sorry, pesenan lu belum bisa gua tulis di sini, beda kasus.
- Buat Jalal : Ini layak nggak masuk ke BURAM ??
- Kayaknya temen-temen gua bakalan nyangka…"Si Donny keur Lieur!!"…Heu heu heu!!
- Kok, tulisannya gak sesuai dengan alur yang ada di kepala yah?!! Jadi agak kemana-mana. - Kayaknya, perlu buat lagi yang seri ke-2. Hehehe…Bener, Keur LIEUR!!
S3K3L04, 22:00,301105-00:17,011205.
Refleksi | Comments (5)