Sebuah Ilustrasi
Suatu saat, seorang Ibu membeli sepotong kue, sejenis Black Forest. Hanya sepotong. Kue tersebut ia beli untuk anaknya yang masih kecil, 5 tahun. Namun, si Ibu ini berniat untuk menguji kesabaran anaknya. Karena itu lah, si Ibu meminta kepada anaknya untuk jangan memakan kue tersebut sebelum malam tiba.
Namanya anak kecil, melihat kue yang bagus bentuknya, pasti tertarik. Awalnya, dia hanya mendekati kue tersebut dan melihatnya saja. Ketika ibunya melihat, ia mengingatkan perintahnya tersebut. "Enggak kok bu, cuma lihat saja", kata si anak tersebut. Semakin lama, semakin timbul keinginannya. Mulailah dia memegang piring kue tersebut, memainkannya, memutarkannya. Si Ibu kembali mengingatkan. "Cuma pegang piringnya aja kok bu", katanya. Semakin lama, dia semakin menginginkan kue tersebut. Lalu mulai mencoleknya dengan tangannya. Si Ibu lagi-lagi mengingatkan. Kata si anak,"cuma nyolek aja kok bu, nggak sampai di makan." Pada saat itu, datangnya malam terasa sangat lambat bagi si anak.
Hingga akhirnya, tibalah malam yang di nanti oleh si anak. Dia memang berhasil memenuhi permintaan Ibunya. Dia tidak memakan kue tersebut. Tapi, kue yang pada awalnya masih utuh dan terlihat bagus, berubah bentuknya tidak sebagus dan semenarik ketika pertama kali di beli. Acak-acakan. Karena kue tersebut sudah dimain-mainkan, diputar-putar bahkan dicolek-colek oleh anak tersebut.
——————————————————————————————
Jadi, apa sih moral dari cerita tersebut? Begini….
Kita kembali ke zaman nenek moyang kita semua, Adam dan Hawa. Ketika mereka masih di Surga, Allah memerintahkan mereka untuk "Tidak mendekati" pohon khuldi. Logikanya, jangankan untuk memetik atau memakan buahnya, mendekatinya saja sudah terlarang. Singkatnya, Adam dan Hawa tergoda oleh Iblis untuk mendekati pohon tersebut, bukan saja mendekati, tapi juga memakan buahnya. Ini jelas-jelas pelanggaran kelas berat, karena mendekatinya saja sudah terlarang, mereka malah memakan buahnya. Jadi, bukan saja mendekati, mereka sudah memegangnya, memetik buahnya dan memakannya. Alhasil, Allah murka karena perintahnya mereka langgar, dan Iblis tertawa. Sebagai hukuman, mereka Allah keluarkan dari surga untuk turun ke Bumi dan menjadi khalifah di muka bumi. Maka selama belum kiamat, seluruh keturunan Adam dan Hawa tinggal di bumi.
Andaikata, Allah memerintahkan untuk "Jangan memakan" buah khuldi, maka saya kira kasusnya akan berbeda. Ketika Adam dan Hawa mendekati pohon khuldi, mereka belum melanggar perintah Allah. Ketika menyentuh buahnya, memetiknya, menciumnya atau bahkan menghidangkan di meja makan pun, selama tidak memakannya, perintah Allah tetap tidak dilanggar. Karena perintahnya adalah "Jangan Memakan!!", bukan "Jangan memetik" atau "Jangan Menyentuh".
Karena itulah, Allah juga menggunakan kalimat "Jangan Mendekati!" untuk kasus zina. Bukan "Jangan Berzina!". Andaikan kalimat yang digunakan adalah "Jangan Berzina!!", tentu saja aktivitas pacaran, pegangan tangan, ciuman dan berdua-duaan antara lelaki dan perempuan di dalam kamar, misalnya, bukan termasuk "pelanggaran" atau sesuatu yang "melampaui batas" menurut Islam. Karena, selama tidak berzina, hal tersebut syah-syah saja.
Orang pun akan mudah berargumen, "Nggak kok, cuma pacaran", "kita kan cuma pegangan tangan saja", "kami kan cuma berdua di dalam kamar" atau "cuma ciuman aja kok, gak sampai…".
Maka, rahasia kalimat "Jangan Mendekati!", Allah gunakan sebagai "penjagaan" agar manusia tidak terlalu "tenggelam" lebih jauh lagi. Dalam hal ini, jelas wanita yang paling "dijaga". Kalau saya analogikan dengan cerita di atas, si anak adalah "lelaki", dan kue adalah "wanita". Meskipun, tidak sampai berzina, tapi wanita lah yang "rusak". Dimain-mainkan, diputar-putar, disentuh-sentuh, dicolek-colek. Kalau sudah rusak, diobral pun belum tentu laku. Dengan digunakannya kalimat "Jangan mendekati!" saja, masih banyak pelanggaran, apalagi kalau kalimat yang digunakan adalah "Jangan berzina!". Saya pun ngeri membayangkannya.
Karena itulah, pacaran, dalam kaca mata islam, sudah termasuk ke dalam kategori "Mendekati Zina". Jangankan pacaran, obrolan yang agak "nyetrum" pun sebetulnya sudah termasuk kategori ini. Ngeri memang kalau membayangkan bahwa ternyata hal tersebut menjadi sesuatu yang "biasa" sekarang ini, dan saya pun sering kali berada di dalamnya, bahkan menjadi pelaku, sadar atau tidak sadar, suka atau tidak suka dan mau atau tidak mau.
Dari cerita di atas pun, kalau perintah yang digunakan adalah "Jangan mendekati kue", saya pikir kue tersebut akan tetap utuh.
Kita, sering kali tidak sabar terhadap sesuatu yang, sebetulnya, pasti akan kita dapatkan. Pasti akan kita miliki. Tapi, dengan berbagai argumen dan cara, kita selalu berupaya untuk mencicipi terlebih dahulu apa-apa yang sudah pasti akan kita rasakan. Alhasil, ketika sesuatu itu betul-betul menjadi milik kita, kita hanya merasakan sisa-sisanya saja. Bukan suatu kejutan lagi. Padahal, kalau kita bisa bersabar, apa yang kita dapatkan kadang kala lebih daripada apa yang kita perkirakan.
Wallahualam. Allah Maha Tahu.
NB : Sebuah Nasihat untuk Diri Sendiri, yang sedang berusaha untuk selalu "bersabar" menunggu tibanya waktu yang tepat dan…orang yang tepat!
S3K3L04, 01:15, 261105.
Refleksi |2 Responses to “Sebuah Ilustrasi”
Leave a Reply
ayooo, terus berjuang!!!!
he99x
AssWw…Sukron dah ngasih comment di blog olint…:D