Say No To PAMRIH

November 23rd, 2005

Seperti biasanya, tiap malam jum’at saya pergi ke DT. Meskipun sebetulnya agak malas, entah kenapa.  Mungkin karena siang-nya shaum, dan waktu berbuka tidak langsung makan, hanya minum dan makan 5 gorengan (ini, bukan makan??), jadinya badan agak lemas, terutama kaki saya yang masih terasa pegal akibat "kaget" setelah lama tidak olahraga, langsung dipaksa main futsal beberapa hari sebelumnya. Selain itu, karena teman saya, Beni, tidak ada di kost-an.  Saya dan dia biasanya rutin ke DT, dan biasanya saya numpang motor dia.  Juga karena ongkos yang masih terasa berat.  Kalau saja saya tidak ingat dengan sebuah "kewajiban" bulanan yang harus saya kerjakan, saya mungkin tidak berangkat ke DT.  Selain itu, saya juga kangen dengan suasana DT, sebab kadang-kadang saya ke DT bukan karena ingin ikut pengajian dan mendengarkan ceramah, tapi saya sering "merindukan" suasananya.  Jadi, saya paksakan juga melangkahkan kaki ini.  Apalagi, sudah hampir satu bulan saya tidak ke DT.

Meskipun saya sering mendengar tentang kontroversi AA Gym dan DT dikalangan umat Islam dan para Ustadz, bukan hanya di Bandung tapi juga di Indonesia. DT yang katanya kurang "Nyunah" dan banyak melakukan "Bid’ah".  Tapi, tujuan saya memang hanya mencari ilmu.
Bagaimanapun, Di DT juga saya bisa mendapatkan apa yang saya butuhkan.  Lagipula, saya bukan tipe orang yang fanatik terhadap seseorang.  Saya hanya memerlukan ilmunya, saya tidak peduli siapa pun yang memberikan materi.  Seperti kata Ali ra, "Dengarlah apa yang dibicarakan, jangan lihat siapa yang bicara".  Toh, DT dan AA Gym pun masih banyak kekurangan. Saya sadari itu.  Karenanya, DT tidak menjadi "sangat istimewa" buat saya untuk ilmu ke-Islaman.  Yang menjadikan istimewa buat saya adalah karena di DT saya mendapatkan banyak sahabat dan menjadi "pintu masuk" pertama saya untuk memperdalam Islam.

Tapi, dalam perjalanan saya sempat berharap, mudah-mudahan pengisi ceramahnya Ustadz Dudi Muttaqien, bukan AA Gym.  Karena saya lebih "menyukai" Ustadz Dudi dibandingkan dengan AA Gym.  Meskipun sebetulnya beliau sangat jarang mengisi pengajian di DT, kecuali kalau AA Gym tidak ada.  Kalau dibandingkan dengan AA Gym, Ustadz Dudi memang lebih berpengaruh terhadap "pola pikir" saya.  Apalagi setelah mengikuti Ta’lim Madani yang beliau pimpin.  Namun, sekarang ta’lim tersebut "diistirahatkan".  Perkataan beliau yang paling saya ingat, "Kalau mau melakukan sesuatu, perhatikan dulu, apakah Islam mengijinkan atau tidak ? Kalau mengijinkan, lakukan saja!".  Meskipun, pada praktiknya, saya sering merasakan kebingungan apabila dibenturkan dengan kondisi lingkungan bergaul saya yang "complicated" alias "sagala aya".

Turun dari angkot, saya langsung bertemu dengan Heri, teman saya sesama Fasilitator PAR.  Ngobrol sebentar, untuk kemudian berpisah lagi.  Saya ke DT, dia ke Borma Setiabudi.

Pada saat menyusuri jalan geger kalong girang menuju DT, saya mengalami sebuah peristiwa yang luar biasa menurut saya.  Ketika berjalan, tiba-tiba sebuah motor menghampiri saya, pengemudinya menawari saya untuk ikut.  Saya sempat berfikir sesaat, mungkin dia mengenal saya dan saya lupa pada dia.  Soalnya kejadian seperti ini memang sering saya alami.  Mungkin juga karena wajah saya "pasaran" atau apa saya tidak tahu, yang pasti kejadian seperti itu sudah tidak aneh buat saya.  Mungkin juga karena saya tergabung di beberapa organisasi yang jumlah anggotanya memang benyak, sehingga saya sering lupa dengan wajah-wajah para anggotanya, apalagi yang hanya sekilas ketemu.  Singkatnya, saya meng-iya kan tawaran orang tersebut.

Di atas motor, barulah terungkap bahwa sebetulnya saya dan pengemudi motor itu tidak saling mengenal.  Bahkan, mungkin, baru saat itu saja saya bertemu dengan orang itu.  Inilah obrolan kami di atas motor :

Dia : "Mau kemana ? Sekalian saja, kita kan satu arah, lagian saya kan sendiri, kalau berdua kan motor ini jadi lebih efisien, meskipun kita tidak saling kenal.."
Saya : Deg! (Hah? gak kenal?)…"Oh, ke DT, Bapak kemana ?"
Dia : "Saya ke…(saya lupa nama tempatnya, saking kagetnya tidak ter-perhatikan)"

Tidak lama kemudian, kami sudah sampai DT karena memang tidak terlalu jauh jaraknya.  Saya kemudian turun dan berterima kasih, lalu dia pun pergi ke tujuannya…saya bahkan tidak tahu siapa nama dia.

Sepanjang AA Gym ceramah, pikiran saya teralihkan ke kejadian tadi.  Kok ada ya orang seperti itu? Dia tidak meminta apa-apa, dan bahkan dia sepertinya senang sekali motornya saya tumpangi.  Wajahnya pun tidak saya ingat sama sekali karena memang kejadiannya sangat cepat.  Tapi, kalau boleh jujur, tampangnya tidak memperlihatkan bahwa dia seorang yang alim.  Rambutnya gondrong, wajahnya agak kasar…tapi ternyata hatinya jauh lebih halus.  Saya seperti "ditampar" oleh kejadian itu.

Saya pun berpikir, andai saja lebih banyak lagi orang seperti itu, mungkin kehidupan ini akan jauh lebih indah.  Orang-orang yang punya, menolong orang-orang yang tidak punya.  Tidak peduli apakah saling mengenal atau tidak.  Hal yang sangat jarang sekali kita temui.  Apalagi dengan keadaan bangsa Indonesia kita sekarang ini.  Dan, mungkin, tidak perlu banyak kendaraan yang berlalu lalang, semuanya menjadi…seperti pengemudi motor tadi katakan… EFISIEN!  Tidak akan ada kemacetan, tidak diperlukan banyak BBM, tidak banyak polusi, dan yang pasti tidak akan terjadi kesenjangan sosial yang terlalu jauh.  Semuanya bisa hidup berdampingan.  Yang punya mobil, bisa berbagi rasa nikmatnya naik mobil dengan yang tidak punya.  Bukankah Islam mengajarkan seperti itu?  Bandingkan dengan kehidupan masyarakat kita!!  Saya bahkan pernah berpikir bahwa, mungkin, salah satu penyebab bobrok-nya bangsa kita adalah kurangnya keikhlasan dalam kehidupan bermasyarakat.  Di semua lini.  Artinya, ketika kita berbuat sesuatu…kita selalu mengharapkan "balasan" dari perbuatan kita tersebut.  Wajar, kalau kemudian masyarakat kita tumbuh menjadi masyarakat yang frustasi…karena harapannya tidak terwujud.

Saya beruntung mengalami kejadian tersebut.  Kejadian yang berlangsung kurang dari 3 menit tersebut, jauh lebih berpengaruh daripada ceramah AA Gym yang satu jam.  Saya jadi teringat sebuah hadits yang menyuruh kita untuk mengucapkan salam kepada setiap orang, yang dikenal atau pun yang tidak.  Sementara kita, jangankan mengucapkan salam, tersenyum pun sulit, bahkan terhadap tetangga sendiri…Dengan yang kita kenal pun, kita jarang mengucapkan salam.  Sedangkan pengemudi motor tadi, "mengucapkan salam" dengan caranya sendiri, dengan menawarkan…apa ya namanya? saya kurang suka dengan kata "bantuan" untuk kasus ini.  Pokoknya, seperti itu lah…Dalam hal ini, pengemudi motor tadi sudah melakukan salah satu Sunnah Rasul.  Entah dia sadar atau tidak.  Yang pasti saya berdoa untuk kebaikan dia untuk kehidupan dunia dan akhirat-nya.  Semoga saja…

NB : For The Misterious MotoDriver…

DT(Daarut Tauhiid)

S3K3L04, 2:23, 181105.




Comments RSS

Leave a Reply

Name (required)

Email (required)

Website

Speak your mind