10 Movies
Seminggu ini, lagi keedanan nyewa dan nonton VCD…Ada 10 film, Hero (Jet Li), Cry Freedom (Denzel Washington), The True About Love (Jennifer L Hewit), Endless Love (Brooke Shield), The Final Cut (Robin Williams), The Sideways, Boy’s Don’t Cry, The Notebook (Ryan Gosling), Ella Enchanced dan Get Shorty (John Travolta)…
Kecuali Hero, semuanya khas Amerika…tapi ada 2 film yang lumayan tua…Cry Freedom dan Endless Love…
Saya cuma pengen komentarin 3 film aja…The Final Cut, The Notebook dan Hero…meskipun pengen juga ngomentarin semua…
The Final Cut :
Kebayang nggak kalo di otak kita ditanam benda yang bisa ngerekam seluruh kehidupan kita dan semua yang kita lakukan, lalu ketika kita meninggal, semua orang bisa menontonnya?? Ngeri kan? Mending kalau kita sadar, kita bisa "mengontrol" kehidupan kita…kalo tidak?? Mungkin di rekaman itu menggambarkan aib kita melulu.
Robin Williams, berperan sebagai Alan, bekerja sebagai seorang "Cutter" atau "Pemotong" rekaman tersebut. Syarat seorang "Cutter" adalah tidak boleh seorang yang memiliki "Implan", perekam yang dipasang di otak sejak masih janin. Hasil potongan tersebut, bisa ditonton oleh semua orang, sebagai sebuah "Testimoni hidup". Jadi, yang buruk-buruknya di buang. Durasi "testimoni" tersebut biasanya tidak lama, kurang dari 10 menit. Bayangkan!! Katakanlah, 65 tahun hidup, lalu dipotong jadi 10 menit, sebuah proses pemotongan yang menjemukan! Tapi, masalah timbul ketika Alan baru mengetahui bahwa ternyata dia pun seorang yang ditanami Implan diotaknya…selanjutnya…tonton aja!! Heu Heu Heu…
Saya cuma ngebayangin, bukankah nanti di akhirat juga seperti itu? Semua kehidupan kita "dipertontonkan"…ini nih gambaran si Donny waktu hidup dulu…Glek!! Dalam The Final Cut, masih bisa diseleksi apa yang mau ditonton, hanya si "Cutter" aja yang tahu semua…tapi di akhirat, semua dibeberkan!! Wuih…NGERI!! Satu-satunya harapan kita adalah ALLAH, The Real Cutter, supaya Dia tidak menampakkan aib-aib kita. Betapa malunya kita, kalau Dia menampakkan semuanya…Sanggup berada di tengah-tengah situasi seperti itu? Membayangkannya saja, saya sudah ketakutan!!
HERO :
Jalan ceritanya, menurut saya kurang bagus. Tapi, saya suka dengan teknik pengambilan gambar dan kamera nya…Keren! Artistik! Indah! Efek-nya, boleh juga! Cuma itu yang bisa dikomentari…
The Notebook :
Pernah nonton 50 First Date? Yang ini beda…Hehehe! Tapi, intinya, hampir sama, tentang suami yang bersabar terhadap istrinya yang kadang-kadang "Amnesia". Aduh, lupa lagi jalan ceritanya…tapi, yang menarik…bahwa ternyata, kisah cinta "Kakek" dan "Nenek" pun bisa dibuat sedemikian romantisnya…Kisah Cinta yang semua orang inginkan, Happily Ever After, sampai tua renta!
Indonesian Movie:
Awalnya, saya sempat optimis dengan kondisi perfilman Indonesia, sejak Petualangan Sherina dan AADC, tapi makin kesini, kok makin monoton sih…ceritanya tentang Cinta Remaja melulu…Mostly! Meskipun gak semua…Kiamat Sudah Dekat menurut saya adalah salah satu film yang "Cerdas", sayang kurang promosi, untungnya di sinetronnya sukses. Mengejar Matahari juga bagus. Yang lainnya, bagaimanapun jalan ceritanya, dan siapapun pemainnya, inti ceritanya…sama saja…Kisah Cinta remaja yang absurd! Terlebih-lebih Virgin, PLEASE DEH!!! BCG (Buruan Cekek Gue), saya memang nggak sempet nonton, tapi…murahan bener sih jadi orang?!
Jarang sekali di Indonesia ada film berdasarkan kisah nyata yang dikemas dengan sangat baik! Atau yang menyampaikan pesan moral kepada masyarakat kita, seperti Si Badung di awal 90-an. Film, belum digunakan sebagai sarana untuk pendidikan…mungkin para produser, sutradara dan pemainnya…takut rugi!!
DU, 291105…Maghrib
Film | Comment (0)Sebuah Ilustrasi
Suatu saat, seorang Ibu membeli sepotong kue, sejenis Black Forest. Hanya sepotong. Kue tersebut ia beli untuk anaknya yang masih kecil, 5 tahun. Namun, si Ibu ini berniat untuk menguji kesabaran anaknya. Karena itu lah, si Ibu meminta kepada anaknya untuk jangan memakan kue tersebut sebelum malam tiba.
Namanya anak kecil, melihat kue yang bagus bentuknya, pasti tertarik. Awalnya, dia hanya mendekati kue tersebut dan melihatnya saja. Ketika ibunya melihat, ia mengingatkan perintahnya tersebut. "Enggak kok bu, cuma lihat saja", kata si anak tersebut. Semakin lama, semakin timbul keinginannya. Mulailah dia memegang piring kue tersebut, memainkannya, memutarkannya. Si Ibu kembali mengingatkan. "Cuma pegang piringnya aja kok bu", katanya. Semakin lama, dia semakin menginginkan kue tersebut. Lalu mulai mencoleknya dengan tangannya. Si Ibu lagi-lagi mengingatkan. Kata si anak,"cuma nyolek aja kok bu, nggak sampai di makan." Pada saat itu, datangnya malam terasa sangat lambat bagi si anak.
Hingga akhirnya, tibalah malam yang di nanti oleh si anak. Dia memang berhasil memenuhi permintaan Ibunya. Dia tidak memakan kue tersebut. Tapi, kue yang pada awalnya masih utuh dan terlihat bagus, berubah bentuknya tidak sebagus dan semenarik ketika pertama kali di beli. Acak-acakan. Karena kue tersebut sudah dimain-mainkan, diputar-putar bahkan dicolek-colek oleh anak tersebut.
——————————————————————————————
Jadi, apa sih moral dari cerita tersebut? Begini….
Kita kembali ke zaman nenek moyang kita semua, Adam dan Hawa. Ketika mereka masih di Surga, Allah memerintahkan mereka untuk "Tidak mendekati" pohon khuldi. Logikanya, jangankan untuk memetik atau memakan buahnya, mendekatinya saja sudah terlarang. Singkatnya, Adam dan Hawa tergoda oleh Iblis untuk mendekati pohon tersebut, bukan saja mendekati, tapi juga memakan buahnya. Ini jelas-jelas pelanggaran kelas berat, karena mendekatinya saja sudah terlarang, mereka malah memakan buahnya. Jadi, bukan saja mendekati, mereka sudah memegangnya, memetik buahnya dan memakannya. Alhasil, Allah murka karena perintahnya mereka langgar, dan Iblis tertawa. Sebagai hukuman, mereka Allah keluarkan dari surga untuk turun ke Bumi dan menjadi khalifah di muka bumi. Maka selama belum kiamat, seluruh keturunan Adam dan Hawa tinggal di bumi.
Andaikata, Allah memerintahkan untuk "Jangan memakan" buah khuldi, maka saya kira kasusnya akan berbeda. Ketika Adam dan Hawa mendekati pohon khuldi, mereka belum melanggar perintah Allah. Ketika menyentuh buahnya, memetiknya, menciumnya atau bahkan menghidangkan di meja makan pun, selama tidak memakannya, perintah Allah tetap tidak dilanggar. Karena perintahnya adalah "Jangan Memakan!!", bukan "Jangan memetik" atau "Jangan Menyentuh".
Karena itulah, Allah juga menggunakan kalimat "Jangan Mendekati!" untuk kasus zina. Bukan "Jangan Berzina!". Andaikan kalimat yang digunakan adalah "Jangan Berzina!!", tentu saja aktivitas pacaran, pegangan tangan, ciuman dan berdua-duaan antara lelaki dan perempuan di dalam kamar, misalnya, bukan termasuk "pelanggaran" atau sesuatu yang "melampaui batas" menurut Islam. Karena, selama tidak berzina, hal tersebut syah-syah saja.
Orang pun akan mudah berargumen, "Nggak kok, cuma pacaran", "kita kan cuma pegangan tangan saja", "kami kan cuma berdua di dalam kamar" atau "cuma ciuman aja kok, gak sampai…".
Maka, rahasia kalimat "Jangan Mendekati!", Allah gunakan sebagai "penjagaan" agar manusia tidak terlalu "tenggelam" lebih jauh lagi. Dalam hal ini, jelas wanita yang paling "dijaga". Kalau saya analogikan dengan cerita di atas, si anak adalah "lelaki", dan kue adalah "wanita". Meskipun, tidak sampai berzina, tapi wanita lah yang "rusak". Dimain-mainkan, diputar-putar, disentuh-sentuh, dicolek-colek. Kalau sudah rusak, diobral pun belum tentu laku. Dengan digunakannya kalimat "Jangan mendekati!" saja, masih banyak pelanggaran, apalagi kalau kalimat yang digunakan adalah "Jangan berzina!". Saya pun ngeri membayangkannya.
Karena itulah, pacaran, dalam kaca mata islam, sudah termasuk ke dalam kategori "Mendekati Zina". Jangankan pacaran, obrolan yang agak "nyetrum" pun sebetulnya sudah termasuk kategori ini. Ngeri memang kalau membayangkan bahwa ternyata hal tersebut menjadi sesuatu yang "biasa" sekarang ini, dan saya pun sering kali berada di dalamnya, bahkan menjadi pelaku, sadar atau tidak sadar, suka atau tidak suka dan mau atau tidak mau.
Dari cerita di atas pun, kalau perintah yang digunakan adalah "Jangan mendekati kue", saya pikir kue tersebut akan tetap utuh.
Kita, sering kali tidak sabar terhadap sesuatu yang, sebetulnya, pasti akan kita dapatkan. Pasti akan kita miliki. Tapi, dengan berbagai argumen dan cara, kita selalu berupaya untuk mencicipi terlebih dahulu apa-apa yang sudah pasti akan kita rasakan. Alhasil, ketika sesuatu itu betul-betul menjadi milik kita, kita hanya merasakan sisa-sisanya saja. Bukan suatu kejutan lagi. Padahal, kalau kita bisa bersabar, apa yang kita dapatkan kadang kala lebih daripada apa yang kita perkirakan.
Wallahualam. Allah Maha Tahu.
NB : Sebuah Nasihat untuk Diri Sendiri, yang sedang berusaha untuk selalu "bersabar" menunggu tibanya waktu yang tepat dan…orang yang tepat!
S3K3L04, 01:15, 261105.
Refleksi | Comments (2)Dunia Televisi Kita
Hiburan yang tidak menghibur…
Humor yang tidak lucu…
Pencerahan yang tidak mencerahkan…
Nasihat yang tidak bermakna…
Berita yang tidak mencerdaskan…
Kuburan bagi kebenaran…
Istana untuk pembenaran…
Penjajahan gaya baru…
Komposisi…80% sampah (sinetron, infotainment, gosip, lifestyle, reality show),
15% iklan sampah, 5% bumbu (ilmu pengetahuan, ceramah agama…ditayangkan diwaktu orang-orang sedang tidur dan sedang bekerja atau hanya jika diperlukan!!)
Stagnan, Statis, Memuakan, Kabur, Abu-abu, Pembodohan, syirik, memalukan, kapitalis, mengerikan, kesenjangan sosial, fiktif, distorsi, racun, dekadensi moral, primitif, norak, kampungan, gila!
Hebat! Kita masih sanggup BERMIMPI tentang kemajuan Indonesia, atau jangan-jangan, BERMIMPI merupakan satu-satunya jawaban dan hiburan yang masih bisa kita nikmati.
Parijs van DJava , 261105.
Ngelantur | Comment (1)At-Tahrim : 8
Lagi suka do’a ini..
"Ya Tuhan Kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu."…(At-Tahrim:8)
Karena…. karena…
A Brief story of Lebaran, Episode 2
Episode :Jepang, Mogok Makan, Wanita dan Futsal
Sehari setelah lebaran, Orang Tua saya berangkat ke Jepang. Alhamdulillah, mereka dapat rezeki, jadi bisa berangkat gratisan, soalnya yang bayar perusahaan Ayah saya. Kalau pake duit sendiri, belum sanggup. Tahun-tahun sebelumnya, mereka pergi ke Thailand, Malaysia, Singapura, Hongkong dan China. Semuanya Gratis. Tahun depan rencananya, Insya Allah, ke Eropa. Padahal, mana pernah kepikiran untuk jalan-jalan seperti itu.Tadinya, untuk yang ke Jepang ini, Ayah saya dan saya yang rencananya berangkat. Tapi, karena yang pertama kali terdaftar nama Ibu saya, ketika dikonfirmasi untuk diganti, tidak bisa, karena datanya sudah masuk, dan tidak bisa diganti. Hiks! Yah, gagal deh jalan-jalan ke Jepang. Padahal pengen banget tuh lihat negeri orang lain. Belum rezeki saya. Tapi, tahun depan yang ke Eropa, insya Allah, saya yang berangkat. AMIN!!!!!
Dari pengalaman Orang Tua saya, saya jadi tahu karakteristik orang Jepang. Workaholic, sulit mempercayai orang lain, tepat waktu dan sangat menghargai waktu, jujur, nasionalis dan individualis, menghargai ilmu pengetahuan. Beberapa hal yang orang tua saya ceritakan, menunjukkan hal tersebut. Banyak orang tua yang meninggal di dalam rumah, dan tidak ada yang mengetahuinya. Anak berusia 15 tahun sudah lepas dari tanggung jawab orang tua. Semangka dan Melon kotak. Hah?? Amerika yang mengemis untuk bisa memasukkan daging eksportnya ke Jepang. Saya juga jadi ingat, waktu teman cerita tentang pembangunan Fakultas MIPA-UPI, yang merupakan sumbangan Jepang. Semuanya dikerjakan oleh orang Jepang, tidak ada satupun yang dipercayakan kepada orang Indonesia. Saking tidak percaya. Walah!! Buat mereka, tidak ada barang yang melebihi kualitas barang Jepang. Petani di bayar mahal.
Bandingkan dengan Indonesia. Yakult, yang ternyata penemuan orang Indonesia, kini di hak paten sama Jepang. Karena, penemuan tersebut tidak "diakui" di Indonesia. Kita, mana pernah bangga dengan barang buatan Indonesia. Petani, duh kasihan kalau melihat nasib mereka. Ilmuwan kita yang banyak putus asa. Teknologi kita?? Jangan tanya….
Wajar, kalau kemudian Ibu saya bilang, "Suka pengen marah kalau habis dari luar negeri, lihat kondisi Indonesia. Padahal Indonesia tuh lebih kaya.", Atau Ayah saya bilang,"Mau deh sekali-kali di pimpin sama pemerintah Jepang sekarang.", Atau orang Jepang sendiri yang bilang,"Kami, orang Jepang, menganggap kalau agama orang Indonesia itu agama yang sesat, karena membiarkan orang-orang miskin di jalanan." Waduh, sampai segitunya.
Satu hal yang orang Jepang takuti. Teroris. Konon, bandara di Jepang pernah heboh sewaktu seorang turis mengatakan, "I’m Guitarist"…Hihihi…cuma karena "-ris" nya sama.
Selama seminggu mereka di Jepang, nenek saya tinggal di Rumah. Beliau juga yang masak. Tapi, mungkin beliau gak tau selera keluarga, terutama saya, masakan yang beliau buat, gak ada satu pun yang saya makan. Saya memang rada bermasalah dengan makanan. Saya lebih suka makan dengan garam saja, ketimbang makanan yang "aneh", tapi garamnya pake telor. Hehehe. Kasihan juga sih ngelihat nenek saya. Jadinya, banyak makanan yang terbuang, atau dimakan sendiri. Adik-adik saya juga sama. Bukan cuma orang tua, teman-teman saya juga sudah berkali-kali mengingatkan perihal masalah saya yang sangat atau terlalu selektif dengan makanan. Tapi, mau bagaimana lagi?? Lidah kan gak bisa dibohongi! Makanya, kalau saya berkunjung ke rumah teman atau saudara, yang paling saya takutkan adalah makanan. Takut tidak cocok. I hate milk, keju, daging sapi, daging kambing, sayur-sayuran atau makanan yang baru saya lihat, dan banyak lagi. Makanya badan saya kurus.
Daripada saya tidak makan, akhirnya saya masak sendiri. Goreng telor atau indomie atau indomie pake telor. Hehehe. Yah, cuma itu yang ada di rumah. Saat itu, saya benar-benar kangen masakan ibu saya. Beliau tahu betul selera saya.
Selama lebaran, saya seneng dengerin kaset Dewa Budjana, album Nusa Damai. Padahal album itu udah lama saya miliki. Tapi saat itu jadi suka banget dengernya. Pagi-Siang-Sore-Malam. Ada satu nomor yang sangat saya sukai, nomor Medley "Wanita - Trenggono". Musisi yang terlibat, Indra Lesmana (Digital Piano), Arie Ayunir (Drum), Bintang Indriyanto (Bass) dan Dewa Budjana (Gitar). Menarik mendengarkan lagu tersebut. Relaks, Romantis dan Lembut. Saya sampai me-rewind berkali-kali. Selain itu ada juga nomor "Bunga yang Hilang", duet Budjana dan Indra Lesmana. Nge-Jazz, tapi lembut, keren banget.
Aktivitas saya juga diisi dengan mencari Album lama GIGI, 2 X
2, sebab kaset saya hilang. Jadi, saya terpaksa nyari lagi. Soalnya, itu adalah salah satu album yang paling saya sukai. Paling keren. Apalagi di album tersebut, GIGI dibantu sama Billy Sheehan, dulunya pemain Bass Mr.Big. Full Experiment. Ternyata, saya cari di beberapa toko, udah gak ada. Katanya, album ini memang tidak di produksi lagi. Yaah…Saya jadi ingat waktu nyari album Awake (Dream Th eater), sampai satu tahun, ternyata saya dapat di pinggir jalan. Untungnya album-nya keren. Jadi gak sampai nyesel.
Aktivitas, lainnya. Baca buku, Maen PS, kumpul dengan Soccer Warrior, dan Futsal. Setelah cukup lama, akhirnya saya bisa maen Futsal lagi. Meskipun cuma 4 orang yang datang. Saya, EQ, Beller dan Yuswa. Awalnya sih sekitar 9 orang, tapi setengah jam menjelang main…"Don, sorry, harus kerja…", "Don, sorry, gak enak badan…", "Don, Sorry, masih di Jakarta…", "Don, Sorry, gak bisa…"….Yaaaaaaahhhhhhhh!!! Padahal, kapan lagi bisa ngumpul seperti itu?? Akhirnya, maennya digabung sama temen-temennya, EQ…berkahir dengan kekalahan dan Cedera!
Sehabis futsal di Gym IPB, diajak ke kebun-nya EQ, untuk bersih-bersih badan. Sekalian juga lihat-lihat penangkaran ikan lele punya EQ. Sayang, kebunnya tidak terurus. Saya ingat obrolan dengan Yuswa di sana…
Yuswa : "Gua pengen banget punya rumah kayak gini. Rumahnya sederhana, tapi halamannya luas".
Donny : "Iya, gua juga sama, pengen banget, rumahnya sih gak usah terlalu gede."
Yuswa : "Trus, anak-anak gua maen bola di halamannya, gua ama istri nonton mereka main, sambil bilang..’tuh, lihat anak-anak kita…’".
Donny : "hehehe…heu euh".
Hening…..
Habis dari sana, nengok Wahyu yang lagi di rawat di RS Salak. Demam Berdarah. Jadi inget waktu di RSHS. Tapi, saya ngeri juga lihat kondisi RS Salak. Kurang Higienis. Kucing yang masuk kamar pasien, kamar mandi yang kurang bersih, ruangan yang kurang luas…Tapi, untung Wahyu udah sembuh, terakhir SMS-an udah mulai kuliah dan kerja lagi. Syukurlah. Di salak, ketemu sama QQ dan Thez yang mau nengok juga, telat. Kami sudah mau pulang.
Kami ber-4, berpisah di depan SMUN 3. Mungkin baru tahun depan lagi kita ketemu, sekarang sih udah pada sibuk, susah ketemu. Well, I’ll Miss U, Guys!!
S3K3L04, 16:48, 23/11/05.
Photos by : Donny, except "2×2" cover album photo from www.geocities.com/sunsetstrip/pit/1070/gigi_albums.htm, and NusaDamai cover album photo from www.dewabudjana.com
Ngelantur | Comment (0)A Brief Story of Lebaran, Episode 1
Episode : Kisah Pemuda Linglung Merayakan Lebaran
29 Oktober 2005,
Setelah menyelesaikan beberapa tugas di Bandung, akhirnya saya mudik juga ke kampung halaman, Bogor, Kota Badai. Segede itu disebut hujan ?? Selain memang sudah tidak ada lagi yang bisa saya kerjakan, saya juga sudah sangat merindukan rumah dan orang tua, serta berbagi cerita dengan mereka.
Dengan menumpang motor Heri, saya mudik ke Bogor, meskipun dengan kondisi badan yang hanya 50% fit. Lumayan, bisa ngirit ongkos. Apalagi tarif Bandung - Bogor termasuk sinting. Siapapun mengatakan seperti itu. Masing-masing dengan barang bawaannya. Saya dengan tas gendong saya, Heri dengan tasnya. Dan, BERAT!! Kalau tas saya berat bukan karena terlalu banyak barang bawaan, tapi karena saya membawa beberapa buku yang lumayan tebel, diantaranya Madarijus Salikin, karya Ibnu Qayyim dan Citizen Soldier karya E. Ambrose.
Awalnya, saya dan Heri, sibuk masing-masing. Heri sibuk nyetir, saya sibuk numpang dan was-was lihat speedometer. Gimana gak deg-degan lihat speedometer sampai angka 100 km/jam?? Ternyata, jadi penumpang gak enak, selain was-was, badan juga lebih pegel daripada yang nyetir. Tapi, kalau ingat bisa ngirit Rp. 35.000, bersyukur saja…Sampai daerah ciranjang, aktivitas kami hanya seperti itu saja. Lalu, saya ingat kalau di tas saya ada kamera digital. Aha!! Saya keluarkan kamera itu dan…klik, jepret, ceklek…lumayan tuh banyak objek bagus. Di motor, saya senyum-senyum sendiri, sambil lihat-lihat hasilnya, gak tau apa yang ada dipikiran Heri. Sampai daerah Cianjur, kami istirahat di sebuah Masjid, sebab pas di Cianjur sudah masuk waktu Ashar. Cuma Heri yang Shalat, sebab saya udah di jama’ di shalat dzuhur. Waktu saya keluarkan kamera, dan memperlihatkan hasilnya, Heri komen…"Pantesan Lu kayak gak bisa diem gitu, gua kirain kenapa.."..Hehehe..Setelah Heri tahu, dia malah ngebantu dengan mengurangi kecepatan motor setiap ada objek yang bagus. Tapi, ternyata aktivitas tersebut bisa mengalihkan perhatian saya dari rasa pegal dan sakit di seluruh badan. Fun. Sampai di Masjid At-Taawun, kami berhenti dulu, untuk merasakan suasana puncak…juga mengambil beberapa objek. Perjalanan dilanjutkan sekitar pukul 17.00…Sampai kota Bogor beberapa menit menjelang adzan Maghrib. Saya diantar sampai Terminal Baranang Siang, untuk kemudian berpisah…saya naik angkot 17, Heri ke Ciawi. Sampai rumah…alamak…ancur betul badan awak!! Panas, pusing dan…tidur!!
30 Oktober 2005,
Buka puasa bareng teman-teman SMA. Soccer Warrior. Masih dengan kondisi badan yang hanya sekitar 70% fit. Janjian jam 4 sore di sekolah kami tercinta, SMAN 3 Bogor. Sebelumnya, saya janjian sama Amy untuk nemenin dia ngambil mobil ibunya di Ancol, Jakarta, katanya masih takut kalau sendirian di Jalan Tol. Tapi, kok bawanya sampai 120 KM/Jam sih?? Sampai di SMUN 3 tepat waktu, jam 4 sore…lebih sedikit sih…Ternyata yang datang belum banyak, baru Wahyu dan Ekky…yang lainnya, biasalah…
Sambil nunggu yang lain, ada bola basket…main shooting-shooting-an…sayang gak ada bola plastik…kalau ada, pasti deh…main bola!! Satu-persatu mulai datang, Ucup, Beller, Agus, Kentung, Edi, Yuswa, Thez, QQ, Wendi…Beberapa personil gak datang dan gak jadi datang, Puji, Koit, Wika, Andre, Azhev, Heri, Moza, Obenk n The Gank…Mia katanya nyusul.
Setelah Adzan Maghrib, ta’jil, shalat…menentukan tempat…terpilih KFC tugu…berangkat…kok penuh…ya udah, Pangrango Plaza aja…Meskipun terpisah jadi 3 group waktu berangkat, tapi kumpul lagi di Pangrango Plaza lantai paling atas…Pesen makanan, meskipun awalnya pada bingung, akhirnya sepakat…KFC. Yah, ayam goreng lagi…Hehehe…Sambil makan, apalagi kalau bukan ngobrol tentang aktivitas masing-masing, rencana masing-masing…saya? Ambil moment…Kata EKKy, "Aneh, dulu lu paling banyak di foto, sekarang lu jadi suka ngambilin foto…". Ih, gak tau aja dia…Setelah pada beres makan, Mia datang…yah, telat atuh Neng!!
Rencana selanjutnya, kembali ke SMUN 3…setelah di sana, ada yang langsung pulang, tapi kebanyakan sih ngobrol dulu…kebiasaan baru muncul, tiap ngumpul di SMUN3 malam-malam, pasti aja beli es krim, trus makannya bareng-bareng…Hehehe…Miss that Moment!! Trus…setelah agak malam…MARI PULANG!! MARILAH PULANG!!
1 November 2005,
Setelah istirahat satu hari karena badan masih gak enak, saya memutuskan untuk main ke Gramedia, sendirian aja. Pengen lihat-lihat buku, siapa tahu ada yang bagus. Ternyata…wah, entah kenapa, saya tuh jarang banget beli barang…tapi, kalau untuk buku…wuih, gak bisa ditahan!! Apalagi kalau lagi banyak duit!! Saya memang menyisihkan uang bulanan saya untuk buku, minimal satu buku per bulan…Setelah semua sisi rak buku dari berbagai bidang dijelajah, akhirnya saya memutuskan untuk membeli 3 buku dan 1 tabloid. "Wajah Dunia Islam dari Bani Umayyah hingga Imperialisme Modern" karya DR. Muhammad Sayyid Al-Wakil, "Und Friede Auf Erdern! (Dan Damai di Bumi)" karya Karl May, "Cara Baru Mengasah Otak dengan Asyik" karya David Gamon, Ph.D dan Allen Bragdon, dan tabloid Komputer. Total Rp. 180.000…hah??!! Itu pun dengan perasaan masih kurang. Karena masih banyak buku yang telah saya daftar yang belum terbeli.
Setelah itu, pulang. Ternyata, di rumah saya melihat ada beberapa buku di kamar adik saya. Diantaranya "Dunia yang dilipat" dan "Samurai"…Kalau saya tahu, pasti gak akan beli dulu…Akhirnya, saya pinjam novel "Samurai". Hari-hari berikutnya diisi dengan membaca buku-buku ini, 3 buku bisa saya tamatkan…"Samurai", "Wajah Dunia Islam" dan "Sang Alkemis" karya Paulo Coelho yang saya beli beberapa hari kemudian. Hah?? Sementara "Dan Damai di Bumi", masih setengahnya, sedangkan Madarijus Salikin yang berat-berat saya bawa dari Bandung, belum sempat dibaca…Belum tamat semua, nambah lagi 2 koleksi buku, "End of Science" karya John Horgan dan Jurnal Al-Insan. Itu pun masih dengan perasaan "ingin" memiliki lagi judul-judul buku yang lain. Saya memang punya cita-cita untuk bikin perpustakaan pribadi dan taman bacaan…sayang belum kaya!!
2 November 2005,
Bisa jadi malam takbiran kali ini merupakan malam takbiran paling kocak. Beberapa jam sebelum Ramadhan berakhir, saya dan beberapa orang Soccer Warrior janjian di rumah Eddy untuk…Maen PS!! Cuma ber-5 yang datang, saya, Kentung, Agus, Thez dan Ucup. Ucup pulang duluan. Sebelum maghrib, saya minta diantar ke Plaza Jambu Dua untuk mengambil HP Ayah saya yang sedang di servis…Memasuki detik-detik akhir Ramadhan, HP bisa saya ambil, itupun mau tutup katanya…Untunglah! Setelah berkeliling sebentar di PJD, saya, Thez, Agus, Eddy dan Kentung…memutuskan ke Donatello dulu sebelum makan, nganter Kentung nyari Sendal. Setelah dari Donatello. Nyari tempat makan…Tadinya mau yang di depan Donatello, tapi ada usul ke Bantarjati…ok, berangkat!! Tapi, kok…gak ada yang dagang?! Setelah rembugan, Agus yang uring-uringan karena sudah kelaparan ngasih saran ke Malabar aja…ya udah, berangkat!! Tapi, gak ada juga…Waduh!! Eh, disekitar situ ada sate…coba kesana…Nasinya udah habis!! Walah!! Kemana lagi dong?? Kita coba aja ke Bogor Permai…ternyata, lewat!! Aduh, bisa mati di jalan nih, mau makan kok susah begini ya…!! Harapan terakhir…Air Mancur! Syukurlah bisa dapat, meskipun masih juga kebingungan nentuin tempat makannya, dan tempat yang terpilih adalah…Nasi Goreng!! Akhirnya…Nikmat juga bisa makan dengan cara seperti itu…Hihihi. Kami baru bisa dapat makan sekitar jam 8 malam…
Setelah makan, balik lagi ke Rumah Eddy…lanjutin maen PS! Sampai sekitar jam 10 malam…
3 November 2005,
Idul Fitri 1426 H. Lebaran yang ke-2 kalinya di Bogor. Biasanya ke Garut dan Sumedang. Tapi, karena beberapa alasan, lebaran kali ini di Bogor saja. Pake baju koko, berangkat sekitar jam 6 pagi…Ibu dan Adik yang perempuan duluan, si Bungsu bareng teman-temannya, saya dan Ayah belakangan. Sampai lapangan…kok tumben banyak begitu?? setelah ngobrol-ngobrol, kenaikan BBM adalah alasan utama kenapa pada gak mudik…pantes!! Setelah shalat Id, silaturahmi dengan para warga di komplek…tapi, kok, saya seperti alien sih? Asing sendiri…hanya beberapa wajah lama yang saya kenal…sisanya, saya gak kenal, bahkan baru lihat…sebagian memang orang-orang baru.
Lebaran kali ini, memang tidak terlalu istimewa, penuh dengan suasana keprihatinan…dalam beberapa kali saya ngobrol dengan kedua orang tua, saya pun bisa merasakan keprihatinan yang mereka rasakan. Cerita ibu yang mendamaikan orang-orang "miskin" yang ingin mendapatkan uang 100.000. Juga keheranan beliau terhadap masyarakat kita yang mau-maunya disebut miskin. Dengan kondisi sekarang, siapa sih yang tidak mau uang 300.000 tanpa kerja? Kekesalan ayah saya terhadap para pejabat-pejabat yang gak jelas kerjanya, tapi masih menuntut kenaikan uang operasional. Banyak lagi yang kami bicarakan tentang kondisi masyarakat kita, polisi, DPR, teroris, sinetron, Islam dan lain-lain, termasuk juga perjodohan dan pernikahan…Heuheuheu…Saya baru tahu dari cerita ortu kalau ternyata banyak yang ingin "besanan" dengan mereka…Hihihi…Siapa sih yang gak mau punya besan sebaik mereka?? Waktu mereka konfirmasi ke saya dan minta pendapat saya, saya cuma bisa senyum-senyum aja, geli sendiri, dan bingung karena ternyata saya yang jadi objek pembicaraannya…Tuing!!
To Be Continued
S3K3L04, 23:00 - 01.21, 21-22/11/05.
Ngelantur | Comment (0)Say No To PAMRIH
Seperti biasanya, tiap malam jum’at saya pergi ke DT. Meskipun sebetulnya agak malas, entah kenapa. Mungkin karena siang-nya shaum, dan waktu berbuka tidak langsung makan, hanya minum dan makan 5 gorengan (ini, bukan makan??), jadinya badan agak lemas, terutama kaki saya yang masih terasa pegal akibat "kaget" setelah lama tidak olahraga, langsung dipaksa main futsal beberapa hari sebelumnya. Selain itu, karena teman saya, Beni, tidak ada di kost-an. Saya dan dia biasanya rutin ke DT, dan biasanya saya numpang motor dia. Juga karena ongkos yang masih terasa berat. Kalau saja saya tidak ingat dengan sebuah "kewajiban" bulanan yang harus saya kerjakan, saya mungkin tidak berangkat ke DT. Selain itu, saya juga kangen dengan suasana DT, sebab kadang-kadang saya ke DT bukan karena ingin ikut pengajian dan mendengarkan ceramah, tapi saya sering "merindukan" suasananya. Jadi, saya paksakan juga melangkahkan kaki ini. Apalagi, sudah hampir satu bulan saya tidak ke DT.
Meskipun saya sering mendengar tentang kontroversi AA Gym dan DT dikalangan umat Islam dan para Ustadz, bukan hanya di Bandung tapi juga di Indonesia. DT yang katanya kurang "Nyunah" dan banyak melakukan "Bid’ah". Tapi, tujuan saya memang hanya mencari ilmu.
Bagaimanapun, Di DT juga saya bisa mendapatkan apa yang saya butuhkan. Lagipula, saya bukan tipe orang yang fanatik terhadap seseorang. Saya hanya memerlukan ilmunya, saya tidak peduli siapa pun yang memberikan materi. Seperti kata Ali ra, "Dengarlah apa yang dibicarakan, jangan lihat siapa yang bicara". Toh, DT dan AA Gym pun masih banyak kekurangan. Saya sadari itu. Karenanya, DT tidak menjadi "sangat istimewa" buat saya untuk ilmu ke-Islaman. Yang menjadikan istimewa buat saya adalah karena di DT saya mendapatkan banyak sahabat dan menjadi "pintu masuk" pertama saya untuk memperdalam Islam.
Tapi, dalam perjalanan saya sempat berharap, mudah-mudahan pengisi ceramahnya Ustadz Dudi Muttaqien, bukan AA Gym. Karena saya lebih "menyukai" Ustadz Dudi dibandingkan dengan AA Gym. Meskipun sebetulnya beliau sangat jarang mengisi pengajian di DT, kecuali kalau AA Gym tidak ada. Kalau dibandingkan dengan AA Gym, Ustadz Dudi memang lebih berpengaruh terhadap "pola pikir" saya. Apalagi setelah mengikuti Ta’lim Madani yang beliau pimpin. Namun, sekarang ta’lim tersebut "diistirahatkan". Perkataan beliau yang paling saya ingat, "Kalau mau melakukan sesuatu, perhatikan dulu, apakah Islam mengijinkan atau tidak ? Kalau mengijinkan, lakukan saja!". Meskipun, pada praktiknya, saya sering merasakan kebingungan apabila dibenturkan dengan kondisi lingkungan bergaul saya yang "complicated" alias "sagala aya".
Turun dari angkot, saya langsung bertemu dengan Heri, teman saya sesama Fasilitator PAR. Ngobrol sebentar, untuk kemudian berpisah lagi. Saya ke DT, dia ke Borma Setiabudi.
Pada saat menyusuri jalan geger kalong girang menuju DT, saya mengalami sebuah peristiwa yang luar biasa menurut saya. Ketika berjalan, tiba-tiba sebuah motor menghampiri saya, pengemudinya menawari saya untuk ikut. Saya sempat berfikir sesaat, mungkin dia mengenal saya dan saya lupa pada dia. Soalnya kejadian seperti ini memang sering saya alami. Mungkin juga karena wajah saya "pasaran" atau apa saya tidak tahu, yang pasti kejadian seperti itu sudah tidak aneh buat saya. Mungkin juga karena saya tergabung di beberapa organisasi yang jumlah anggotanya memang benyak, sehingga saya sering lupa dengan wajah-wajah para anggotanya, apalagi yang hanya sekilas ketemu. Singkatnya, saya meng-iya kan tawaran orang tersebut.
Di atas motor, barulah terungkap bahwa sebetulnya saya dan pengemudi motor itu tidak saling mengenal. Bahkan, mungkin, baru saat itu saja saya bertemu dengan orang itu. Inilah obrolan kami di atas motor :
Dia : "Mau kemana ? Sekalian saja, kita kan satu arah, lagian saya kan sendiri, kalau berdua kan motor ini jadi lebih efisien, meskipun kita tidak saling kenal.."
Saya : Deg! (Hah? gak kenal?)…"Oh, ke DT, Bapak kemana ?"
Dia : "Saya ke…(saya lupa nama tempatnya, saking kagetnya tidak ter-perhatikan)"
Tidak lama kemudian, kami sudah sampai DT karena memang tidak terlalu jauh jaraknya. Saya kemudian turun dan berterima kasih, lalu dia pun pergi ke tujuannya…saya bahkan tidak tahu siapa nama dia.
Sepanjang AA Gym ceramah, pikiran saya teralihkan ke kejadian tadi. Kok ada ya orang seperti itu? Dia tidak meminta apa-apa, dan bahkan dia sepertinya senang sekali motornya saya tumpangi. Wajahnya pun tidak saya ingat sama sekali karena memang kejadiannya sangat cepat. Tapi, kalau boleh jujur, tampangnya tidak memperlihatkan bahwa dia seorang yang alim. Rambutnya gondrong, wajahnya agak kasar…tapi ternyata hatinya jauh lebih halus. Saya seperti "ditampar" oleh kejadian itu.
Saya pun berpikir, andai saja lebih banyak lagi orang seperti itu, mungkin kehidupan ini akan jauh lebih indah. Orang-orang yang punya, menolong orang-orang yang tidak punya. Tidak peduli apakah saling mengenal atau tidak. Hal yang sangat jarang sekali kita temui. Apalagi dengan keadaan bangsa Indonesia kita sekarang ini. Dan, mungkin, tidak perlu banyak kendaraan yang berlalu lalang, semuanya menjadi…seperti pengemudi motor tadi katakan… EFISIEN! Tidak akan ada kemacetan, tidak diperlukan banyak BBM, tidak banyak polusi, dan yang pasti tidak akan terjadi kesenjangan sosial yang terlalu jauh. Semuanya bisa hidup berdampingan. Yang punya mobil, bisa berbagi rasa nikmatnya naik mobil dengan yang tidak punya. Bukankah Islam mengajarkan seperti itu? Bandingkan dengan kehidupan masyarakat kita!! Saya bahkan pernah berpikir bahwa, mungkin, salah satu penyebab bobrok-nya bangsa kita adalah kurangnya keikhlasan dalam kehidupan bermasyarakat. Di semua lini. Artinya, ketika kita berbuat sesuatu…kita selalu mengharapkan "balasan" dari perbuatan kita tersebut. Wajar, kalau kemudian masyarakat kita tumbuh menjadi masyarakat yang frustasi…karena harapannya tidak terwujud.
Saya beruntung mengalami kejadian tersebut. Kejadian yang berlangsung kurang dari 3 menit tersebut, jauh lebih berpengaruh daripada ceramah AA Gym yang satu jam. Saya jadi teringat sebuah hadits yang menyuruh kita untuk mengucapkan salam kepada setiap orang, yang dikenal atau pun yang tidak. Sementara kita, jangankan mengucapkan salam, tersenyum pun sulit, bahkan terhadap tetangga sendiri…Dengan yang kita kenal pun, kita jarang mengucapkan salam. Sedangkan pengemudi motor tadi, "mengucapkan salam" dengan caranya sendiri, dengan menawarkan…apa ya namanya? saya kurang suka dengan kata "bantuan" untuk kasus ini. Pokoknya, seperti itu lah…Dalam hal ini, pengemudi motor tadi sudah melakukan salah satu Sunnah Rasul. Entah dia sadar atau tidak. Yang pasti saya berdoa untuk kebaikan dia untuk kehidupan dunia dan akhirat-nya. Semoga saja…
NB : For The Misterious MotoDriver…
DT(Daarut Tauhiid)
S3K3L04, 2:23, 181105.
Refleksi | Comment (0)Fun Trip
Baru nyampe lagi di Bandung…setelah melakukan perjalanan yang…menyenangkan!! Berangkat dari rumah jam 13:00, dari terminal BaranangSiang Bogor jam 13:45…bis yang dipake, Sinar Pasundan, AC, didekat jendela, dan sendirian…Hip..Hip..Hura!!! Asyik dong, lega…bisa bebas! Tapi…Rp.35.000,- Hiks!! Aduh, masih juga "sakit hati" kalo naek kendaraan umum yah?? Tapi perjalanan kali ini memang berbeda…Yang bikin beda adalah…sepanjang perjalanan, mulai dari puncak sampai Tol Pasir Koja, saya bebas jeprat-jepret dengan kamera digital yang saya bawa…Hi3x. Tapi, sayangnya banyak banget Objek-objek bagus yang gak dapet, coz bis-nya kan gak bisa ditahan. Jadi, objek yang saya ambil, objek "bergerak"…karenanya gambar yang didapatkan juga gak "optimal"…ada yang blur, ada yang ancur, tapi banyak juga yang "lumayan"…saya belum berani nyebut bagus. Hal lain yang saya sayangkan adalah, hanya objek-objek disebelah kanan saja yang terambil, sebab saya duduk di sebelah kanan…gak mungkin kan saya bolak-balik kanan-kiri buat ngambil objek-objek bagus, bisa-bisa saya didamprat. Gak bolak-balik aja, orang-orang udah ngelihat saya dengan tampang…ANEH!!
Tapi, saya juga sempet iseng ngambil foto penumpang yang lagi tidur…hihihihi…
Semenjak saya "punya" kamera digital, tangan saya gatal jeprat-jepret objek apa saja…Hobby baru, meskipun dari dulu udah tertarik dengan fotografi…berhubung kamera-nya gak punya, ya terpaksa…gigit jari!! Tapi, pengen banget euy punya kamera SLR-Digital…supaya hasil fotonya juga maskimal! Hanya saja…10 Juta!! Hiks! Belum kebeli…
Sewaktu mudik ke Bogor dibonceng Heri juga sama…Waktu itu lebih fun lagi, soalnya sewaktu Heri bawa motor, saya sibuk jeprat-jepret…kata Heri, "Pantesan perasaan lu kayak yang gak bisa diam!!"…tapi emang seru juga ngambil objek diatas motor dengan percepatan 100 km/jam…
Tadinya, foto-foto itu mau saya Upload semua…apa daya, gak ada yang bisa nampung file sebesar 64 MB. Tapi, akan saya upload beberapa "dokumentasi" acara sewaktu di Bogor dan perjalanan Mudik-Balik!!
Photo’s By : Donny, Olympus C-160, 16 November 2005
Ngelantur | Comments (2)KaNgEn
Wuah….gua kangen nulis blog lagi…
3 Minggu di rumah (Bogor), bikin kepala pusing, coz banyak banget yang mau gua tulis, tapi gak tersalurkan…soalnya gak ada komputer…sementara kalau ditulis tangan, males banget…gua kan penulis tangan yang "jorok"…selalu banyak coretan…gak bisa sekaligus jadi…kalo di komputer kan bisa diedit ulang…
Pokoknya…banyak deh yang akan gua tulis…Tunggu saja!!!
Oh, iya…gua punya briefcase, berisi file-file yang gua miliki yang pengen gua share sama temen-temen, daripada nganggur di kompie gua…mending gua bagi, siapa tau bermanfaat, dan gua dapet pahalanya kan?? Alamatnya, http://briefcase.yahoo.com/majesty8982 , bebas kok diambil…tapi, sewaktu gua nulis blog ini, belum ada isinya, masih folder-folder nya aja…bisa juga diakses dari blog ini, klik aja yang tulisannya My File, ada di bagian PunyaKoe…
Ramadhan? I’ll Miss You….
Buat Icha : "Cha, web lu belum sempet gua kerjakan, coz kompie-nya gua tinggal di kost-an…Tapi, insya allah, gua kebut…coz udah kebayang…"
Buat Chatoer : "File segera gua send, tunggu aja…"
Buat Widi : "Pic yang kemaren kita ambil di bogor…bakalan gua send juga, thanks juga buat portofolio-nya…dan mungkin pic lu gua ikutin lomba juga."
Buat Wahuy : "Segera sembuh yaa…Gua tahu rasanya Demam Berdarah dan dirawat di RS…Mudah-mudahan itu adalah penggugur dosa-dosa lu…Seperti temen gua bilang, itu adalah cara Allah untuk membuat lu istirahat dari segala aktivitas lu."
Buat Puji : "Masa sih lu sampai lupa gak nulis testi buat gua???"
Buat anak-anak Birama : "Keep Fighting…dan berkarya lah terus…"
Buat Tita, Obenk, Omo, Amy, Thez, Agus : "Kok pada gak pernah nulis blog lagi seehhhh??? Khusus buat obenk…Setelah lu baca "How Get Married", apa pendapat lu tentang nikah tanpa pacaran???"
Buat anak-anak Soccer Warrior : "Makasih udah bikin liburan gua gak garing-garing banget!!! I Will always Miss the moment with all of you…bener gak yah nulisnya? Pokokna kitu lah…"
Buat Nine-T, my lovely Sister : "Thanks buat novel samurai nya…What a great novel…Kamera pasti bakalan dibawa…Insya Allah"
Buat……: "Mungkin gak yah Januari ??? I’ll Pray for that…Insya Allah"
Buat semua yang baca (emang ada??)…
Taqabalallahu Minna wa Minkum
BoNeT, Padjadjaran Avenue, BuItEnZoRg, 20:41, 13 November 2005.
Ngelantur | Comment (0)





