Saya Tidak Tahu
Penanya : "Shalat Apakah yang Rasulullah lakukan pertama kali ?"
Quraish Shihab : "Saya Tidak Tahu".
Ada yang menarik perhatian saya dan membuat saya terhenyak juga sewaktu menonton acara Al-Misbah, di Metro TV tadi shubuh. Seorang Quraish Shihab, yang notabene ulama kaliber, dengan kerendahan hatinya, "berani" mengatakan "Saya Tidak Tahu".
Tidak tahu, tidak berarti bodoh. Kita sering kali enggan untuk mengakui ke-tidaktahu-an kita. Saya sendiri pun, kadang dengan alasan jaga image, sering kali merasa malu untuk mengatakan "Saya Tidak Tahu". Dalam beberapa kasus, tidak berani untuk mengatakan "Tidak Bisa" atau "Tidak Mampu". Alasan lain adalah karena rasa kasihan kita terhadap orang lain ketika kita dimintai pertolongan, menyebabkan kita tidak "tega" untuk mengatakan "Tidak bisa".
Di satu sisi, kemungkinan untuk tahu, bisa atau mampu, terbuka lebar ketika untuk mengerjakan sesuatu, kita memiliki waktu yang cukup untuk mempelajari, katakanlah bahan-bahan, atau informasi tentang "sesuatu" itu. Saya sering mengalami kasus seperti ini. Kadang, ketika orang lain over-estimate kepada kita, ada semacam perasaan tertantang untuk membuktikan bahwa saya memang sesuai dengan apa yang orang-orang pikirikan. Meskipun, jujur saja, saya sering terganggu ketika orang berharap lebih atau over-estimate. Bagaimana tidak terganggu jika orang lain berfikir bahwa kita memiliki "sesuatu" yang tidak kita miliki? Mengatakan "Tidak", dibilang merendah, bilang "Ya", bohong…trus kalo diem aja, apalagi ditambah senyum…diartikan meng"iya"kan. Serba salah kan??
Sisi lain lagi, saya bersyukur, dikarunia kemampuan untuk cepat mempelajari sesuatu. Tapi, tidak untuk menghafal…Menyadari memiliki kemampuan itu, kadang ada perasaan sombong juga. Sehingga, ada keengganan untuk mengatakan, "Saya Tidak bisa" atau "Saya Tidak Tahu"…Dalam pikiran saya, "semua bisa dipelajari", hanya masalah waktu saja. Tapi, saya juga sering lupa, kalau saya memiliki kelemahan…Saya sangat moody, sehingga menghambat saya untuk mempelajari "sesuatu" itu. Masih bagus kalau mood nya bagus, seringnya tidak…kekurangan lainnya adalah sering menunda pekerjaan, sehingga hasilnya tidak optimal.
Saya pernah merasakan "akibat" dari ke-soktahu-an saya. Fatal. Bahkan sampai menurunkan kapabilitas saya di mata orang lain. Selain itu, apa yang saya keluarkan justru malah tidak sebanding dengan apa yang saya dapatkan. Paling parah, saya kehilangan kepercayaan. Yah, kadang mengatakan "tidak tahu", jauh lebih baik daripada "sok tahu". Mengatakan "Tidak Tahu", sebetulnya tidak akan merusak citra diri kita di mata orang lain. Selain itu, dengan mengakui ketidaktahuan, sebetulnya merupakan penghargaan terhadap diri kita sendiri. Bahwa kita lemah, bahwa kita masih memiliki kekurangan. Karenanya, kita bisa menjadi lebih bijaksana terhadap orang lain yang juga tidak tahu. Jangan sampai, karena ke-soktahu-an kita, malah menyesatkan orang lain.
Kalau mau jujur, negara ini pun berantakan karena terlalu banyak orang-orang yang "sok tahu" seperti saya. Merasa Tahu. Merasa Mampu. Merasa Bisa. Padahal, otaknya "kosong".
DipatiUkur, 22:45, 281005.
NB: Lagi keedanan nulis blog nih…
Refleksi |Leave a Reply