Respect

October 27th, 2005

"Apa yang kamu inginkan ?"
"Yang semua orang inginkan. Respect.  Sedikit pengakuan."

Dialog di atas gua dapat dari film komedi situasi di TV7 jam 00.30, Jumat.  Judulnya gua gak tau, soalnya nontonnya di tengah-tengah dan baru pertama kali juga nonton.

Sesaat gua berfikir, "Apa bener ‘itu’ yang diinginkan semua orang ?".  Mungkin, memang benar.  Selama hidup kita, gua yakin, apa pun caranya, yang kita usahakan adalah untuk menarik perhatian orang lain.  Dihormati.  Disegani.  Diakui.  Contoh sederhana waktu ospek kemarin.  Gua tau, banyak banget yang rela diseleksi untuk jadi seksi "Keamanan" or "Komdis", karena seksi itu yang paling disegani, ditakuti dan dihormati.  Sementara seksi lain kurang orang, padahal gak ada seleksi, atau seleksi-nya gak seketat "Keamanan".  Tapi, di mata gua sih, sama aja!!  Gak ada yang spesial!!  Sama-sama orang!! Oh…emang lu orang ya, Don?? Apa sih ini teh? gak penting!

Memang sih manusiawi.  Yang gua gak suka, kalo untuk dihormati justru caranya yang tidak terhormat, kadang sampai harus merusak kehormatan orang lain.  Ini yang jadi masalah.  Terutama di negeri drakula Indonesia Raya ini.  Bisa jadi, tiap hari kita bersinggungan dengan orang-orang seperti ini.

Masalahnya lagi, di Indonesia ini aneh.  Orang yang jelas-jelas salah pun, masih banyak yang nolongin.  Sementara orang yang gak punya salah, pada gak ada yang berani nolong.  Yang salah dibener-benerin, yang bener disalahin.  Jadilah kita orang-orang yang bingung.  Akhirnya, apatis.  Daripada mikirin yang gak jelas salah dan benernya, mending mikirin diri sendiri.  Individualis aja jadinya.  Masing-masing.

Masalah lain lagi.  Untuk dihormati orang lain, kita justru mengorbankan kehormatan diri kita sendiri.  Kadang tidak disadari.  Ya…kayak para koruptor itu tuh.  Aduh, gua kok pengen banget ya ngelihat para koruptor di tembak mati aja, atau digantung, atau disetrum, atau disuntik mati, atau digelitikin rame-rame aja kali yeeeee…..Eh, kok jadi horor gini ya??

Sayangnya, kebanyakan terjebak dengan paradigma kalau yang dihormati itu adalah orang yang kaya, memiliki jabatan dan kedudukan tinggi.  Orientasinya adalah materi.  Padahal, kita tahu, segala hal yang sifatnya materi, tidak pernah abadi.  Materi bisa rusak, materi bisa hilang dan materi bisa habis.  Ketika materi habis, maka habislah kehormatan kita.  Itu sudah menjadi hukum alam.

Sering gua mendengar, ketika orang-orang dari perantauan ditanya, kenapa tidak pulang kampung.  Jawabannya, "Saya malu, saya belum punya apa-apa, masa jauh-jauh merantau gak bawa apa-apa?".  Dalam hati, gua ngomong, "Hey, Who care..??".  Emang orang lain peduli sama kita ?

Kita sering kali lupa bahwa sebetulnya orang lain tidak akan pernah peduli kepada kita, selama kita tidak peduli pada mereka.  Dalam buku Skill With People, karangan Les Giblin, disebutkan, orang itu lebih tertarik kepada dirinya 10000 kali, daripada kepada orang lain.  Jadi, kita tuh hanya bagian kecil saja dari apa yang ada dipikiran orang lain.  Gua pikir, adalah hal yang buang-buang waktu, tenaga dan pikiran kalau selama hidup kita hanya mengharapkan respect dan pengakuan orang lain, entah itu keluarga, saudara, lawan jenis, camer, tetangga…Setidaknya gua pun pernah mengalami betapa capeknya hati ini hanya untuk sekedar mendapatkan respect dan pengakuan.  Padahal kalau dapat pengakuan pun, tidak banyak merubah nasib kita.  Kecuali, kita termotivasi untuk berbuat lebih baik, itu saja.  Pengakuan justru datangnya tak terduga, justru saat kita gak mengharapkan.

Kalau belajar dari sejarah, orang-orang yang mendapatkan Respect dan pengakuan, justru adalah orang-orang yang lebih banyak berbuat untuk orang lain, yang lebih menghargai orang lain.  Dirinya dan keluarganya, bahkan seringkali dikorbankan untuk kebahagiaan orang lain.  Teramat banyak nama-nama agung memenuhi sejarah dunia ini.  Nabi Muhammad SAW, sepanjang hidupnya beliau memikirkan kebaikan untuk masyarakat pada saat itu, dan bahkan untuk umatnya di masa depan.  Mahatma Gandhi dan Mother Theresa, mereka tidak kaya, tapi mereka diakui sebagai orang-orang yang terhormat.  Lady Di, meskipun dia tenar karena cantik, tapi orang-orang menghormati dia karena jiwa sosialnya tinggi.  Indonesia punya Kartini, yang begitu peduli terhadap hak-hak wanita, meskipun sekarang disalahartikan dengan kata-kata "Emansipasi" dan "Feminisme".  Dan, masih banyak lagi…

Jadi, mau mendapatkan respect dan pengakuan ?  Sebanyak apa kita menghormati dan mengakui orang lain, sebanyak itu pula orang akan menghormati dan mengakui kita.  Semakin kita hormat kepada orang lain, semakin hormat orang lain pada kita…Hukum Aksi-Reaksi berlaku disini.  Tapi, kok, kalo semakin kita naksir orang, belum tentu orang itu naksir sama kita ya…???  Tanya kenapa……..Hihihihi….

Ditulis tangan di NewLand, Buitenzorg, 02:40, 230905.
Diketik ulang dan ditambahin di S3K3L04, 22:58, 20 Ramadhan 1426 H.

NB :  Harta itu, semakin kita mengejarnya, semakin dia berlari.  Tapi, semakin kita tidak mengharapkannya, semakin dia mencari kita…Sebuah kutipan dan saduran bebas dari seorang Ustadz yang gua lupa lagi namanya.




Comments RSS

Leave a Reply

Name (required)

Email (required)

Website

Speak your mind