Sial, Aku Jatuh Cinta Lagi
Sial, Aku Jatuh Cinta Lagi…
Setelah cukup lama aku angkuh dalam kesendirianku,
Tiba-tiba saja kamu hadir dalam hidupku,
Meski hanya sekejap,
Meruntuhkan setiap pondasi keangkuhan yang telah aku bangun,
Lantas, kamu menghilang lama,
dan kemudian muncul lagi begitu saja.
Sial, Aku Jatuh Cinta Lagi…
Dan kenyataan terburuk adalah….Kita tidak saling mengenal,
Bahkan, hampir-hampir tidak ada celah buatku untuk mengenalmu,
Kamu tampak begitu sempurna dimataku,
Membuatku seperti kehilangan superioritasku,
Dalam segala hal,
Meskipun aku tahu pasti,
Kamu tidak lah sempurna.
Sial, Aku Jatuh Cinta Lagi…
Tapi aku tidak pernah mengerti,
sungguh-sungguh tidak mengerti,
mengapa rasa ini tumbuh dan menggerogoti hatiku.
Lucunya, aku membiarkan rasa ini mendominasiku,
dan yang aku takutkan, aku menyukainya,
aku takut, aku menginginkan rasa ini menguasaiku.
Dan, Tahukah kamu, rasa ini mulai menggangguku,
Mengganggu makanku,
Mengganggu tidurku,
Mengganggu kerjaku,
Mengganggu otakku untuk tetap sadar dan…WARAS!!
Aku mulai sibuk memikirkanmu,
Bibirku mulai banyak berbicara tentangmu, menyebut namamu, mendoakanmu.
Bahkan, terlalu banyak…
Aku mulai menulis dengan coretan-coretan namamu,
di kertas, di buku, di komputer, di tembok, di pintu, bahkan di kaca angkot!!
Dan, Tahukah kamu?
Aku mulai mencari tahu,
buku yang kamu baca,
makanan yang kamu sukai,
olahraga yang kamu gemari,
nomor hp-mu,
alamat rumahmu,
segala tentang kamu,
bahkan, lelaki yang kamu impikan.
Tahukah kamu?
Bagiku,
kamu lebih rumit daripada semua bahasa pemrograman yang pernah aku pelajari,
lebih sulit dipahami daripada semua algoritma yang pernah aku pecahkan,
lebih memusingkan daripada integral dan diferensial,
dan bahkan lebih sulit dimengerti daripada teori chaos,
kamu, mungkin, melebihi ke-kompleks-an gambar fraktal.
Kamu tampak sangat misterius,
Kamu begitu pendiam,
Kamu membuatku sangat penasaran,
kamu tampak begitu menyejukkan setiap mataku mencuri pandang padamu,
Dan aku sangat menyukai cara kamu tersenyum dan tertawa,
meskipun senyum dan tawa itu bukan untukku.
Sedangkan kamu…
Kamu bahkan tidak tahu namaku,
Kamu bahkan tidak tahu siapa aku,
Sementara setiap namamu terdengar di telingaku,
Sudah cukup membuat saraf-saraf otakku bekerja melukis sosokmu,
sudah cukup membuat degupan jantungku meningkat dua kali lipat,
dan sudah cukup untuk membuatku tampak bodoh.
Sial, Aku Jatuh Cinta Lagi…
Dan Aku tahu,
Kamu bukan seperti wanita kebanyakan,
Kamu begitu terjaga dari sentuhan setiap lelaki,
Kamu begitu terlindung,
Dan mungkin, ada ranjau di sekelilingmu yang membuat lelaki sepertiku berfikir 1000 kali untuk mendekatimu.
Dan Aku pun tahu,
Kamu hanya akan memberikan cintamu
pada lelaki yang menjemputmu ke dalam sebuah lingkaran suci,
lingkaran akad.
Bagimu, tidak ada pacaran dalam kamus kehidupanmu.
Buatmu, cinta ILAHI lebih utama.
Aku mendukungmu,
Karenanya, aku sangat menginginkanmu.
Dan Aku ingin menjadi lelaki itu,
tapi aku lemah dan kepayahan untuk mengumpulkan keberanian hatiku yang berserakan.
Ah, aku memang pengecut.
Dan Ketakutan terbesarku…
Kamu malah akan membuat luka di hatiku kembali tergores.
Aku takut kamu menambah panjang daftar kekecewaanku.
Meskipun aku tahu itu akan membuatku semakin kuat.
Sial, Aku Jatuh Cinta Lagi…
Dan Aku benci jika rasa ini sudah mengendalikanku,
mengendalikan cara bicaraku,
mengendalikan cara berfikirku,
mengendalikan tingkah laku-ku,
mengendalikan suasana hatiku,
Walaupun, jujur saja, aku rindu untuk merindukan orang sepertimu.
Sial, Aku Jatuh Cinta Lagi…
Tapi, Aku bahkan tidak bisa menemukan kata-kata yang indah,
kata-kata yang romantis, untuk mengungkapkan semua ini.
Aku tidak pandai memuji,
aku pun tidak pandai merangkai kalimat yang bisa membuatmu terbang.
Tapi, siapa peduli?
Toh, aku pun bukan orang yang romantis.
Lagipula, tidak ada aturan yang mengharamkan orang tidak romantis sepertiku untuk jatuh cinta, kan?
Sial, Aku Jatuh Cinta Lagi…
Pak puk pak puk plak plak plak dzig!! Woi,Sadar Don…SADAR!!!!
Nyebut, Don…Nyebut!!! ISTIGHFAR!!!!
D01717WHY, S3K3L04, 23.25, 4 Ramadhan 1426 H.
Semoga ALLAH mengampuniku,
Teruntuk…Akhwat;20thn;UPI; 5 huruf, eh 4 huruf, eh…Bahkan aku tidak tahu namamu yang sebenarnya…pyuuuhhhh!
Sebuah Do’a di Malam Ramadhan ke-4
"Aslmwb. Bla bla bla bla bla. Kang, makasih yah dah bla bla bla bla bla. Doa **** untuk akang, moga Allah selalu menyayangi akang dimanapun, until the end…"
Pengirim :
Princess Kaori
+62819 sekian sekian sekian sekian
Dikirim :
21:06:51
07/10/2005
Duh, dalem…
NB : Sebuah sms dari seorang akhwat yang sedang belajar untuk menjadi seorang akhwat!
**** = 4 huruf nama-nya. Di phone book, "Princess Kaori".
Bangsa Pesimis
Beberapa saat yang lalu, saya dan beberapa teman di Redaksi Birama, diskusi, atau mungkin lebih tepatnya, berdebat. Topiknya, apalagi kalau bukan tentang masalah yang sedang panas sekarang ini. Kenaikan BBM. Entah bagaimana awalnya. Tiba-tiba saja obrolan jadi agak panas. Berawal dari ‘keluhan’ saya yang jadi lebih suka jalan kaki, ketimbang naik angkot, karena ongkos angkot yang naiknya gila-gilaan dan bikin malas bepergian. Apalagi, untuk bulan ini, ’subsidi’ ke kantong pun agak seret. Bikin tambah malas aja bepergian.
Dimulai dari ‘teori-teori’ yang keluar dari mulut saya,
"Kita ini kan produsen minyak, kok terpengaruh sih sama naiknya harga minyak dunia ? Menurut Kwik Kian Gie aja, kita tuh harusnya punya surplus besar. Sebagai produsen, seharusnya kita yang mengendalikan harga minyak di pasar dunia, bukan kita yang dikendalikan. Dan seharusnya lagi, kenaikan BBM itu tidak perlu terjadi dengan besarnya potensi negara kita menghasilkan minyak."…Meskipun, saya akui, negara kita ini ‘hanya’ menghasilkan minyak mentah, bukan minyak ‘matang’. Itu berarti, pengolahannya diserahkan ke negara lain, setelah diolah, ‘dijual’ lagi ke negara kita…ini yang bikin mahal! Okelah, bagaimana praktik pengolahannya saya tidak mengerti sama sekali, dan saya hanya ber-asumsi saja.
Lalu, teman1 bilang, "Ah, itu sih kau aja, kalau kau yang jadi presiden pun pasti bakalan kau naikkan harganya. Mendingan juga mikirin bagaimana mencari solusi-nya, emangnya kau bisa dapat solusi-nya ?"
Terus saya bilang, "Hei…siapapun presidennya, pasti bakalan naikkin harga BBM. Tapi, pernah gak sih pemerintah kita berfikir untuk membuat ‘pabrik’ pengolahannya? Okelah, untuk awal-awal, pasti bakalan mengeluarkan dana yang sangat besar. Tapi, gua yakin hasilnya bakalan sebanding dengan apa yang dikeluarkan. Gua tuh gak pernah ngerti dengan cara pikir pemerintah Indonesia. Pemerintah kita tuh, sulit banget untuk menginvestasikan uangnya di bidang-bidang yang sangat penting. Seperti pendidikan dan teknologi Informasi. Kita malah ngebanyakin investasi di Militer. Sekarang pun militer nasibnya gak jelas. Alasannya, terlalu mahal lah, ada yang lebih penting lah. Pikirannya pendek-pendek banget. Gak pernah mikir jangka panjang."
Teman2 bilang, "Masalahnya, kalo kita punya pabrik ‘minyak’nya, orang-orangnya mampu gak ?"
Saya lagi,"Mampu!! Negara kita kan udah banyak menghasilkan insinyur perminyakan. Gua yakin mampu. Kalau pun kurang orang, apa susahnya sih kita sekolahkan ke luar negeri, seperti yang pernah dilakukan oleh Jepang dan Malaysia. Lalu, orang-orang yang disekolahkan itu, kita suruh ngajarin lagi di Indonesia. Bagaimanapun, kita harus yakin dengan kekuatan orang-orang kita, caranya, adalah dengan memberikan kesempatan. Memang perlu proses yang lumayan lama, tapi hasilnya akan bagus."
Teman1, "Tapi Jepang, Singapura dan Malaysia kan wilayahnya lebih kecil dari Indonesia, jadi lebih mudah untuk memantaunya."
Saya, "Hei, Amerika pun jauh lebih besar dari Indonesia, tapi mereka mampu. Kenapa kita nggak? Bahkan Malaysia kan dulu berguru ke Indonesia, harusnya sebagai guru kita lebih mampu daripada mereka. Kekurangan kita adalah kita tidak punya orang-orang yang amanah. Kalau dipegang sama orang-orang yang amanah, kita sudah dari dulu maju."
Teman1, "Ya udah, buktikan dong, jangan cuma berteori aja…"
Saya, "Masalahnya, gua bukan pemerintah! Ngomong sehebat apa pun gak akan ngaruh!! Gua cuma bisa ngomong seharusnya…seharusnya…dan seharusnya…Tapi, gua akan berkarya dengan cara gua sendiri, biar gak disebut ngomong doang!"…Sampai sekarang, saya bingung harus berkarya apa???
Ya, itulah yang menjadi perdebatan. Saya hanya bisa mengkritik pemerintah aja. Kesal juga sih sama pemerintah kita. Saya pernah membaca sebuah artikel yang berisi keluhan para scientis kita karena kurangnya "dukungan" pemerintah kita terhadap penelitian. Dukungan disini sudah pasti…kucuran dana. Alasannya, buang-buang duit. Wajar kalau kemudian kita sering mendengar banyak profesor atau doktor yang berkiprah di negeri orang dan gemilang pula. Bahkan, tidak sedikit profesor di Indonesia yang menyarankan kepada kolega-nya yang di luar negeri untuk tidak pulang. Katanya,"Kamu gak akan bisa ngapa-ngapain di sini (Indonesia maksudnya)..". Yang dimaksud ngapa-ngapain adalah penelitian. Padahal, seorang profesor atau doktor memang identik dengan penelitian. Disanalah mereka berkarya, menemukan jati diri dan memperoleh kepuasan, lahir batin.
Bahkan, saya yang bukan seorang profesor pun amat ‘merindukan’ untuk melakukan suatu penelitian. Tapi, yaitu, fasilitasnya yang gak ada. Saya pernah merasakan kebingungan yang amat sangat ketika menjabat sebagai ketua Software Clubs di kampus saya. Dengan visi dan misi menghasilkan Software yang bagus, saya dihadapkan dengan kenyataan tidak adanya Lab untuk berkumpul dan berinovasi. Meskipun pada akhirnya kami memiliki akses ke lab dan saya berusaha tidak tergantung dengan kebutuhan akan lab, tapi, saya dan teman-teman, pada akhirnya menyerah pada keadaan. Dikerjakan di kostan? Wah, suasananya tidak kondusif untuk melakukan penelitian. Meskipun secara perorangan memiliki karya sendiri, tapi secara organisasi, kami mati!!
Saya iri dengan India, bukan karena filmnya, tapi karena perkembangan Bidang IT mereka benar-benar luar biasa. Coba saja perhatikan di setiap software yang kita gunakan, pasti ada nama-nama India di sana. Konon, 80 % pegawai Microsoft adalah orang-orang India. Karena IT juga, banyak orang India yang naik Kasta.
Dalam sebuah artikel, diceritakan bahwa Universitas-universitas di India, tidak sebagus Universitas di Indonesia, dalam hal fasilitas. Tapi, para pengajarnya lah yang luar biasa. Profesor. Siapapun mahasiswanya, para Profesor-lah yang mengajarnya. Sementara di Indonesia, seringkali diserahkan kepada asistennya, atau hanya pada saat Studium Generale saja. Walaupun jujur saja, saya kapok diajar sama seorang Profesor. Gak ngerti. Meskipun tidak semua Profesor seperti itu tentunya. Dan saya pun jarang menemukan para profesor di kampus saya menghasilkan karya yang luar biasa, atau memang karena mereka tidak berkarya? Entahlah.
Saya pernah ngobrol dengan seorang Staff Language Center di ITB, katanya,"Kalau kamu mau S2, mending di luar negeri saja, yang ngajarnya profesor-profoser, kualitasnya juga sudah pasti. Jangan di Indonesia, bahkan di ITB sekalipun…". Walah!
Yang saya rasakan, orang Indonesia kebanyakan, termasuk saya mungkin, tumbuh menjadi orang-orang yang pesimis, berfikir pendek dan berorientasi pada hasil. Kalau tidak menghasilkan dalam waktu dekat, lebih baik jangan dilakukan. Sayang sekali memang. Padahal, berinvestasi itu, bukan seperti menanam toge yang di tanam hari ini, besok tumbuh. Tapi, seperti menanam pohon kelapa, yang di tanam hari ini, baru akan tumbuh tinggi dan bermanfaat beberapa tahun lagi. Kita, mungkin, tidak akan merasakan hasilnya. Tapi, setidaknya kita meninggalkan sesuatu yang bisa berarti untuk orang lain di masa depan, entah itu anak, cucu bahkan orang yang tidak kita kenal sama sekali. Dan nama kita akan tercatat dalam sejarah…Bukankah itu indah?
NB : Sekarang, saya sedang amat sangat merindukan…INternet MURAH, se-MURAH-MURAH-nya!!! Please…
Ngelantur | Comment (0)Pelurusan
Sering kita nerima sms atau pesan, "Maafkan segala kesalahan saya, baik yang disengaja maupun yang tidak sengaja…", terutama di awal-awal Ramadhan dan 1 Syawal.
Tapi, tahukah kita, bahwa secara Islam…kalimat itu salah…karena, ALLAH telah membebaskan umat islam dari dosa 3 kesalahan, yaitu yang Lupa, Terpaksa dan Tidak Disengaja…Al-Qur’an loh yang "ngomong". Dosa, itu adalah segala perbuatan yang di sengaja. Saya lebih setuju dengan kata-kata "disadari" dan "tidak disadari"…contoh dosa yang tidak disadari, banyak…biasanya kita tahu itu dosa, tapi kita masih melakukannya juga…contoh, Nge-GOSIP!! Biasanya kan kalo nge-Gosip itu, kita gak sadar kalo itu adalah dosa, dan gak ada GOSIP yang gak disengaja, yang namanya GOSIP pasti sengaja, sebab, memang bener sih, ngomongin orang tuh topik paling seru!!!…yang lain-nya, PACARAN, gak ada kan PACARAN gak disengaja?? Nah loh…Sadar gak sih kalo itu adalah suatu dosa??
Sekalian…Mumpung mau Ramadhan, "Maafkan Segala dosa-dosa saya yang banyak disengaja, yang disadari maupun yang tidak disadari kepada teman-teman semua…, mudah-mudahan ALLAH selalu mengampuni kita, di setiap langkah kita, di setiap detik, di setiap nafas kita, sehingga ketika kita menghadap-Nya, kita terbebas dari segala Dosa!!"..Amin ya Robbal ‘alamin.
Wallahualam.
Nb : Tolong koreksi kalo ada kesalahan…
Religi | Comments (5)My Big Mistake
Kesalahan terbesar saya adalah DIAM!! Ya, DIAM…Bahkan ketika saya tahu bahwa apa yang ada dihadapan saya itu adalah sesuatu yang salah…Arrrrggggghhhhhhh!!! Haruskah selamanya jadi setan bisu ?? Yang men-DIAM-kan orang-orang yang salah…Sedikit saja keberanian yang saya butuhkan, sedikit…hanya untuk mengatakan…TIDAK!! Hanya untuk mengatakan…JANGAN!! Haruskah selalu tidak peduli…?? Dan berkata, "itu bukan urusan saya…??", Haruskah..?? Padahal, mereka adalah teman-teman saya, saudara-saudara saya, yang suatu saat akan menuntut saya…karena saya telah "Tega" men-DIAM-kan mereka ketika mereka melakukan kesalahan.
Ya, ALLAH…Ampuni sikap DIAM saya ini!!!
Ngelantur | Comment (0)Cerpen Pendek : Insomnia, Wisuda dan G30-S/BBM
Sabtu, 1 Oktober 2005, dini hari, ketika semua orang tidur, gua malah gak bisa tidur. Gak jelas apa yang bikin gak bisa tidur. Bukan karena pagi-nya mau wisuda, sebab buat gua peristiwa itu gak terlalu luar biasa sebetulnya. Gua merasakan sesuatu yang luar biasa, justru 2 bulan sebelumnya. Moment yang mengantarkan gua bisa wisuda. Pada saat gua selesai sidang skripsi, dan gua telepon Ortu gua, lalu bilang…"Pa, Ma, udah selesai…". Rasanya luar biasa, ada haru, ada bahagia juga ada sedih…meskipun gak sampai keluar air mata. Di seberang telepon juga, gua merasakan transfer energi bahagia dan haru dari ortu gua di telinga gua. Yaaah…setidaknya seperti melepaskan beban 10 ton di pundak, menjadi lebih ringan, meskipun sebetulnya ada beban yang jauh lebih berat, tapi pada saat itu…untuk sementara terlupakan.
Dengan berbekal tidur 1 jam, tepatnya dari jam 2 sampai jam 3, aktivitas gua dimulai dengan sms-an dan miskolan dengan seseorang di kota bogor sana. Seseorang yang bahkan wujudnya aja belum pernah gua lihat. Gua menyebutnya, "Teman di Dunia 160 karakter". Lumayan, sms-an 1 jam, meskipun gak banyak sms, sebab kepotong-potong dengan tahajjud, dianya yang tahajjud, gua?? Hihihi…."Obrolan" berakhir karena dia mau beres-beres rumah katanya, dan mempersiapkan segala sesuatunya buat ngajar. Gua, karena ngantuk banget, tertidur lagi sampai jam 4.45…Bangun tidur, ku terus mandi, tidak lupa menggosok gigi, habis mandi ku kedinginan, tempat tidur gak diberesin…Cek lagi, toga siap, rambut dah rapi, bulu-bulu di wajah dah bersih…kecuali jenggot dikit…ongkos? Nah itu dia, gak ada duit kecil…cuma 10000-10000-nya, satu-satunya lagi…Supir bisa ngamuk kalo shubuh2 udah pake uang segede itu. Tiba-tiba, Aha, sambil nukerin duit, sambil sarapan…"Kang, Indomie Rebus-nya pake telor"…Sambil nunggu pesenan, lihat TV, musik RnB di pagi hari, arrrggggghhh, sampai pesenan datang dan habis dilahap pun…tetep musik-musik garing.
"Kang, udah…berapa-eun ?", dengan muka bodoh, padahal ada daftar harga segede papan billboard.
"2500-eun"
"Nih kang uangnya…", masih dengan muka bodoh dan berharap ada uang kembalian buat ongkos.
"Gak ada uang pas ? ", sambil nyari-nyari di laci.
"Gak ada Kang…", tetep dengan muka bodoh…dan mulai cemas gak ada kembalian.
"Ya udah atuh, nanti aja ke sini lagi…", dengan menyodorkan kembali duit 10000.
"Oh…Iya atuh, ntar kesini lagi…", dengan tampang semakin bodoh dan agak kesel sebab pagi-pagi udah ngutang.
Akhirnya, kembali deh ke kost-an dengan beban utang 2500, dan tetep bingung mikirin gimana bisa nge-recehin duit 10000-an…pas masuk pintu gerbang ada Rendra dan temennya yang entah namanya siapa…
"Eh, pinjem duit dong 1000, buat ongkos, gua gak ada duit kecil…". Dengan muka agak memelas.
"Yakin cuma 1000 aja ?"
"iya, 1000 aja buat ongkos ini, ke situ…", komunikasi gak efektif.
"nih pake ini aja", kata temennya Rendra, padahal gak gua ajakin ngomong.
"oh, iya…makasih".
"nih 1000-nya.", kata Rendra.
"gak ini udah kok dari temennya…"
"Sekalian 1000 lagi, takut ada apa-apa…"
"oh, ya udah deh…sini. Ntar gua gantiin sore".
05.30. Dengan berbekal duit 10.000 satu lembar, duit 100 empat keping, duit 500 satu keping dan duit 1000 dua lembar serta utang 4500…gua berangkat menuju rumah saudara gua di daerah Tongkeng. So, gua nyetop angkot Riung Bandung - Dago, berhenti di jalan Anggrek, bayar 1000….aman! Trus, naek sekali lagi yang ke arah Tongkeng…Bayar 500.
"Darimana ?"
"Dari situ kang, perempatan depan…", dengan muka yakin tidak bersalah.
"Iya, tau…tapi ngerti dong, kan BBM-nya juga udah naek…", dengan tampang rada sinis.
"Oh…emang udah naek ?"…yang ini, asli, muka bodoh banget!!!
"Iya, nih lihat…", kata salah seorang penumpang yang lagi baca koran, sekilas gua lihat tulisan Rp. 4500 di headline.
"Oh, maaf…saya gak tau", sambil merogoh kantong celana lagi.
"Tambahin aja deh, berapa aja…", masih dengan muka sinis.
"Nih kang, punten pisan…", sambil menyodorkan uang 200 rupiah, dan kesel sebab gak inget kalo hari itu BBM naek.
Sepanjang jalan menuju rumah saudara, gua mengutuk-ngutuk dalam hati…"kok bisa ya, gua gak inget BBM mau naek…". Gua, bahkan gak inget kalo di malam yang sama, 40 tahun lalu, terjadi peristiwa yang melukai negeri ini….G30-S/PKI…sekarang pun sama juga sih, lebih melukai malah….namanya, G30-S/BBM…
Sampai rumah saudara, Ortu dan Adik gua, kecuali si bungsu, udah nunggu dengan semua pesenan gua…Jas, Kemeja, Celana dan Sepatu…yang gua gak nyangka, kenapa semua baru? padahal gua kan mesennya minjem…Kata ortu, "gak apa-apa, sekalian buat nanti ngelamar kerja atau kerja…", dalam hat gua,"Kebetulan…gua kan emang gak punya pakaian resmi kayak gitu…beruntung punya ortu pengertian…". Hehehe…Setelah semua di pake…aduh jas-nya asli kekecilan, trus, kaos kakinya mana??
"Kenapa gak bilang atuh kalo gak punya kaos kaki?"…
"Hihihi…lupa, ya udah ntar aja nyari dulu, kan lewat pasar ini…"
Setelah menikmati bala-bala yang bikin wajah tambah bala…keluarga gua izin sama yang punya rumah untuk berangkat. Eh, salah seorang saudara sekalian numpang ikut, soalnya searah ke tempat kerja dia…ya udah, ayo!!
Setelah nurunin saudara, kami nyari toserba yang udah buka sepagi itu. Dapat di DU. Ibu gua beli dua pasang..hitam semua. Lengkap deh. Setelah cukup sabar dengan kemacetan, akhirnya tiba juga di lokasi, Sabuga. Ada yang dianter sama kakek-nenek, saudara-saudara, pacar…untungnya gak sampai di anter se kampung kayak jamaah haji kita….Setelah semua lengkap, gua tunjukkin arah masuk buat ortu gua…tapi berhubung cuma buat 2 orang, salah seorang gak bisa masuk, adik gua yang jadi korban, jadi deh dia..dipelak…untung gak berakar dan berbuah juga!! Setelah nunjukin, gua gabung sama temen-temen di pintu masuk wisudawan…biasalah foto-foto dulu, ngobrol-ngobrol dulu, ngobral-ngobral dulu, absensi dulu, cengengesan…"Eh, bajunya kebalik tuh…", eugh! Ketauan deh gak pernah wisuda…hehehe. Tapi, "Ih, gak lagi bener kayak gitu kok…", "woi, yang bener gimana sih…", makin ketauan pada gak pernah diwisuda. Hihihi. Bahkan, sampai acara mau dimulai pun, kegiatan pertamanya adalah, ngebalikin toga…80 persen kebalik semua. Ckakackakackaka.
Acara baru mulai jam 09.00. Diawali dengan basa-basi protokoler yang udah basi…setelah beberapa rangkaian acara. Menyanyikan Lagu Indonesia Raya, diikuti oleh seluruh Hadirin. "Indonesia, Tanah Air ku…Tanah Tumpah Darahku". Hiiyyy…jadi rada merinding juga. Dah lama banget kan gak nyanyiin lagi itu bareng-bareng, sejak lulus SMA. Kecuali sebulan sebelumnya waktu latihan buat pentas di Ospek Kampus, dengan versi Rock-nya, meskipun gak jadi. Acara mulai kerasa garing pada saat Rektor ngasih sambutan…tapi, dasar pada gila…gua bareng Devies, Irwan n Wahyu, malah ngomentarin pidatonya rektor yang baca teks abis…walhasil, sepanjang beliau pidato, isinya tentang perkembangan IT di Indonesia, yang berempat ini malah ngakak ampe sakit perut…macem-macem lah komentarnya.
"Kok, kayak laporan penjualan aja, pake ada jumlah pembelian komputer di Indonesia."
"Ini kuliah terakhir tau, ntar sebelum dilantik ada ujian dulu…"
"Eh, gua yakin rektor-nya juga bingung dan gak ngerti sama yang diomongin, lihat aja mukanya, orang yang bikin teks-nya juga sekretarisnya, dia mah tinggal baca."
"Eh, emang yang dibacain ngaruh ke apa sih ? Lihat aja para ortu bete begitu, ada yang tidur pula…"
"Ah, itu mah buat nyeneng-nyenengin ortu aja, bilangnya lapangan kerja buat orang-orang IT itu luas, lha kita yang ngerasain…malah bingung"
"Anak-anak yang jurusan non-IT, pada ngerti gitu apa yang dia omongin?"
Udah gitu, masih juga sempet-sempetnya punya pikiran jail…
"Tadinya, talinya mau gua lem biar rapet ke topi nya…kan susah tuh mindahinnya, jadi yang dipindahin topinya". (ngakak…)
"Kalo gua, pake dadu…jadi mindahin talinya sebanyak angka dadu yang keluar…kan seru tuh…"(ngakak…)
"Kalo gua, sebelum dekan nya mindahin tali gua, gua pindahin dulu tali pak dekan…"(ngakak…)
"Kalo gua, talinya aja gua tempelin ingus…"(hiyyyy….ngakak juga)
"Sekalian aja talinya pake superglue…biar tangan dekan gak lepas-lepas…"(ngakak lagi….)
"Ntar kalo dekannya mau mindahin tali, kita ngehindar aja terus sampai dia dapat talinya…"(ngakak juga)
"kita kok kayak yang abis ngisep ganja gini ya ? orang pada serius kita ngakak-ngakak…", "iya nih, emang lu pernah ngisep ganja ? ", "nggak pernah…hehehe", ngakak lagi…
"eh, yang cum laude kan duduknya misah tuh…ntar kalo pas foto jurusan suruh misah aja, dilarang ikutan foto jurusan…"
"setuju…diskriminasi tuh!! masa yang cum laude aja yang dapet penghargaan, kalo gak ada kita-kita kan, cum laude-nya gak ngaruh…harusnya kita juga dapet penghargaan."
"iya, harusnya yang ipk-nya rendah juga dapet penghargaan…."
"eh…pada diem napa, berisik tau…"
"kenapa lu, kalo mau ikutan aja…."
"kayaknya, yang kita obrolin barusan, kalo direalisasikan jadi film kayak-nya seru yah…??"
"iya, pasti jadi film wisuda paling bodor…"
Pokoknya…banyak banget lah yang dikomentarin, sepanjang lebih kurang setengah jam, yang 4 orang ini udah ketawa-ketawa ampe nangis-nangis dan sakit perut. Belum lagi pas orasi ilmiah…si ibu yang bacainnya lagi gak sehat dan batuk-batuk…komentarnya juga udah makin aneh-aneh lagi. Untung lah gua deket orang gila, jadinya gak kerasa terlalu garing. Tapi, gara-gara kecapean, gua sempet tidur juga sehabis penyematan, soalnya nunggu penyematan jurusan yang lain juga yang jumlahnya banyak banget. Tapi, langsung dikasih ijazah asli euy…yang taun sebelumnya harus nunggu 3 bulan dulu buat dapetin ijazah asli. Bagus lah. Itu baru peningkatan!
Kerasa khidmat pas pembacaan do’a…aduh kata-katanya itu loh…bikin merinding, beberapa temen gua malah sempet keluar air mata…gua, yah cuma bisa merenung aja sebentar…setelah itu, acara foto-foto per jurusan…setelah selesai…bubar deh, padahal acara belum dibubarkan. Masing-masing sibuk dengan keluarganya buat foto-foto, gua juga sibuk foto-foto, ama ortu, temen-temen, ama cleaning service, ama PUREK, bareng satpam…cuma gak sempet ama dosen dan PW gua yang keburu pulang duluan, capek katanya. Aneh juga ada PW yang menawarkan diri, katanya pengen lihat acara wisuda tuh kayak apa, hihihi…terserah aja lah, pacar bukan, istri bukan, gua sih asyik-asyik aja, cantik ini…Meskipun gua pernah bilang, "emang siap kalo ada yang nanya, ‘jadi ini calonnya Donny ?’, hayoooo….", tapi dia mau dateng juga…ya udah…kata dosen gua, "Bukan Wisuda kalo gak ada PW, itu mah bagi rapot namanya…". Hihihi. Jauh hari sebelum wisuda, Devies pernah bilang, "Gua bakal ngetawain lu kalo gak bawa PW…", pas pelaksanaan….Gua yang ngetawain dia karena gak ada PW. Hehehe. Tapi, sebetulnya, gua gak terlalu mikirin tentang PW sih…kasian aja sampai dipelak 4 jam gitu nunggu di luar, meskipun PW gua ikutan jadi undangannya temen gua, soalnya ortunya gak ada…mending gak usah ada, gua malah bersyukur si PW pulang duluan, jadinya konsentrasi gua gak terlalu pecah…mikirin ortu, padahal masih pengen ngumpul ama temen-temen buat mengabadikan moment…wah ribet!!! Untung, ortu pulang duluan ke Cimahi, ke rumah saudara yang lain…jadi gua rada bebas acara foto-fotonya…meskipun, sial!! Batere-nya habis…Dzig!! Ugh…bete…bete…bete. Terpaksa deh duduk-duduk, sambil istirahat dan lihat-lihat yang di foto…Tiba-tiba. Eh, ‘itu’ siapa ya ?
"Benk, lu ke sini ama siapa aja ? ", sambil pengen tau, yang ‘itu’.
"itu cewek gua, adik gua, dan pacarnya…"…
dalam hati gua…"Sial si Ibenk, punya adik cakep gak bilang-bilang…."hehehe. Coba tau dari dulu…. gak ngaruh apa-apa sih…Hehehe.
Setelah acara selesai, gitu aja toh wisuda itu? Ah, gak seru….Meskipun, badan in rasanya ancur banget…mungkin imbas dari kurang tidur…Malamnya, gua tidur…lama banget…dari bada maghrib ampe jam 1/2 2…shalat isya…tidur lagi, sambil bersiap menyongsong esok hari yang belum jelas….
NB : Cerpen Pendek = Cerita Pendek Pendek…..Hihihihii…..dilarang protes!!! PUREK (Pembantu Rektor), PW (Pendamping Wisuda).
S3K3L04. 031005.10.03.