Kita dan Ramadhan : Sebuah usaha pencarian makna Ramadhan

October 19th, 2005

Setengah Ramadhan telah kita lalui bersama.  Terasa cepat, bahkan diantara kita ada juga yang tidak menyadarinya. Saking cepatnya waktu berlalu.  Masjid-masjid yang pada awal Ramadhan terasa sempit, kini mulai terasa lengang kembali.  Puncaknya akan terlihat pada akhir-akhir Ramadhan, dimana masjid-masjid mulai terlihat sepi.  Kecuali beberapa masjid besar yang biasanya digunakan untuk ‘itikaf.

Bulan Ramadhan merupakan bulan yang sangat istimewa bagi umat Islam.  Pada bulan ini, setiap ibadah yang kita lakukan memiliki nilai pahala yang berlipat.  Ibadah sunat, nilainya sama dengan ibadah wajib yang biasa dilakukan pada hari-hari di luar Ramadhan.  Sedangkan ibadah wajib nilainya berlipat-lipat.  Hanya Allah yang tahu besarnya.

Ramadhan kali ini, sebetulnya tidak berbeda dengan Ramadhan-ramadhan sebelumnya dan yang akan datang.  Selama kiamat belum tiba, Ramadhan akan selalu hadir.  Yang membedakan antara Ramadhan yang satu dengan yang lainnya adalah kita. Ya, kita, sebagai pelaku utama yang Allah perintahkan untuk berpuasa di bulan ini.  Kita yang masih Allah beri kesempatan untuk berjumpa lagi dengan Ramadhan.  Tidak hanya berpuasa, tetapi kita juga diperintahkan untuk meningkatkan aktivitas ibadah di bulan ini.  Kita lah yang memiliki pilihan untuk menjadikan Ramadhan lebih bermakna atau tidak.

Ramadhan merupakan suatu penghormatan dari Allah untuk kita.  Tanda cinta Allah buat kita.  Karena di bulan ini Allah membuka seluas-luasnya pintu rahmat dan ampunan.  Yang menjadi pertanyaan adalah, sejauh mana usaha kita memaknai Ramadhan kali ini ?  Apa saja yang kita lakukan agar Ramadhan kali ini membekas di dalam aktivitas kita sehari-hari di bulan-bulan selanjutnya ? Apakah kita membiarkan Ramadhan kali ini berlalu begitu saja ?  Sudahkah kita meningkatkan kualitas dan kuantitas tilawah Qur’an kita, sedekah kita, shalat kita ? Atau kita lebih memilih melepaskan cinta-Nya ? Padahal tidak ada cinta yang lebih besar daripada cinta-Nya.

Harapan kita, ketika Ramadhan berakhir, kita benar-benar menjadi seorang pemenang.  Orang-orang yang kembali ke fitrah, yang Allah bebaskan dari dosa.  Bagaimanapun, kita selalu akan merasa ada yang kurang setiap Ramadhan berlalu.  Selalu ada penyesalan.  Namun, yang paling penting adalah usaha kita untuk selalu meningkatkan kualitas aktivitas ibadah kita di bulan Ramadhan.  Jika setengah Ramadhan sudah kita lalui tanpa makna, ya sudah, lupakan saja, toh waktu tidak akan kembali.  Kita masih memiliki kesempatan setengah Ramadhan lagi.  Maka fokus dan manfaatkanlah waktu tersebut.  Mulailah dengan membuka kembali Al-Qur’an,  keluarkan lah sedekah, optimalkan segala daya dan upaya kita.  Setidaknya untuk hari ini, jam ini, detik ini.  Esok, belum tentu kita bertemu dengan matahari pagi.

Semoga, kita termasuk orang-orang yang selalu merindukan Ramadhan dan orang-orang yang selalu Allah rindukan.  Amin.

NB : Ini adalah tulisan yang gua buat untuk BURAM (Buletin Birama), atas permintaan Pemred-nya.  Tapi, kok kayak kurang ber-bobot n kurang greget ya ? Kayak yang aneh kalo gua nulis-nulis yang serius.




Comments RSS

Leave a Reply

Name (required)

Email (required)

Website

Speak your mind