News Of the Day
14:00
Data-data Birama, sebagian bisa diselamatkan, syukurlah!! Termasuk juga foto-foto wisuda diriku…senangnya…senangngya…Si Dajal kelupaan kalo dia pernah nge-backup di temennya…waduh…ada Dajal kok pelupa gitu sih???
15:00
Aduh!! Kok perut gua tiba-tiba gak jelas rarasaan begini sih?? What happened???
17:48
Buka puasa, dengan menu gak sehat!! Fruit tea, sukro dan gorengan!! Walah…
18:48
Pergi ke BEC untuk nyari memory card buat kamera digital…
Donny : "Jual xD card…??"
Penjual : "Ada…"
Donny : "Yang 128 MegaByte, berapaan ?"
Penjual : "240 ribu…"
Donny : (Asyik…rada murah, EUY!!)…"Bisa lihat dulu ??"
Penjual : "Sebentar yah ?"..(sambil nyari-nyari barang yang diminta).
Donny : "Kompatibel sama Olympus nggak ?"
Penjual : "Hah? SD Card atau xD card??"
Donny : "XD…pake X!!"
Penjual : "Oh…kirain SD, kalo itu mah harganya 375, bisa turun jadi 350 deh, kalo xD emang rada mahal…"
Donny : (Sial!!!).."Aduh, kok sering pabeulit yah kalo nanyain xD-Card, suka ketuker sama SD-Card!"
Penjual : "Hehehe…iyah…"
Donny : (Sedikit bete)…"ya udah, sekalian sama batere kameranya…punya saya hilang satu."
20:00, Gramedia…
Lihat-lihat buku yang berlabel Disc 10%…sialan, bagus-bagus!! Apalagi gua tertarik sama buku "Cara Rasulullah memperlakukan Istri"…Tarik ulur dalam hati…(beli…nggak…beli…nggak…beli…nggak…sambil hitung-hitung stok dana)…eugh, kalo gak karena duit kepake buat xD card, gua beli deh…Kemudian, dengan langkah gontai meninggalkan Gramedia…
20:19, Angkot Dago-Kalapa…
Mr. Andri : "Hey…abis darimana ?"
Donny : "Eh, abis dari BEC pak, beli memory card buat kamera…"
Mr. Andri : "Wah, maenannya yang kecil-kecil, tapi mahal yah…"
Donny : !#$!%$^%$@
20:30, Warnet…
Nulis blog-blog gak jelas, sambil sms-an sama Desi, Desi dan My Sister…
22:30, masih di warnet…sms masuk
"guys, hr minggu jam 4 kumpul di smunti qt mo ad bk puasa brg ok men!"..Oecoep
Akhirnya…dah gua tunggu-tunggu.
23:11, kelaparan di warnet, karena belum sempet makan….
Ngelantur | Comments (3)Saya Tidak Tahu
Penanya : "Shalat Apakah yang Rasulullah lakukan pertama kali ?"
Quraish Shihab : "Saya Tidak Tahu".
Ada yang menarik perhatian saya dan membuat saya terhenyak juga sewaktu menonton acara Al-Misbah, di Metro TV tadi shubuh. Seorang Quraish Shihab, yang notabene ulama kaliber, dengan kerendahan hatinya, "berani" mengatakan "Saya Tidak Tahu".
Tidak tahu, tidak berarti bodoh. Kita sering kali enggan untuk mengakui ke-tidaktahu-an kita. Saya sendiri pun, kadang dengan alasan jaga image, sering kali merasa malu untuk mengatakan "Saya Tidak Tahu". Dalam beberapa kasus, tidak berani untuk mengatakan "Tidak Bisa" atau "Tidak Mampu". Alasan lain adalah karena rasa kasihan kita terhadap orang lain ketika kita dimintai pertolongan, menyebabkan kita tidak "tega" untuk mengatakan "Tidak bisa".
Di satu sisi, kemungkinan untuk tahu, bisa atau mampu, terbuka lebar ketika untuk mengerjakan sesuatu, kita memiliki waktu yang cukup untuk mempelajari, katakanlah bahan-bahan, atau informasi tentang "sesuatu" itu. Saya sering mengalami kasus seperti ini. Kadang, ketika orang lain over-estimate kepada kita, ada semacam perasaan tertantang untuk membuktikan bahwa saya memang sesuai dengan apa yang orang-orang pikirikan. Meskipun, jujur saja, saya sering terganggu ketika orang berharap lebih atau over-estimate. Bagaimana tidak terganggu jika orang lain berfikir bahwa kita memiliki "sesuatu" yang tidak kita miliki? Mengatakan "Tidak", dibilang merendah, bilang "Ya", bohong…trus kalo diem aja, apalagi ditambah senyum…diartikan meng"iya"kan. Serba salah kan??
Sisi lain lagi, saya bersyukur, dikarunia kemampuan untuk cepat mempelajari sesuatu. Tapi, tidak untuk menghafal…Menyadari memiliki kemampuan itu, kadang ada perasaan sombong juga. Sehingga, ada keengganan untuk mengatakan, "Saya Tidak bisa" atau "Saya Tidak Tahu"…Dalam pikiran saya, "semua bisa dipelajari", hanya masalah waktu saja. Tapi, saya juga sering lupa, kalau saya memiliki kelemahan…Saya sangat moody, sehingga menghambat saya untuk mempelajari "sesuatu" itu. Masih bagus kalau mood nya bagus, seringnya tidak…kekurangan lainnya adalah sering menunda pekerjaan, sehingga hasilnya tidak optimal.
Saya pernah merasakan "akibat" dari ke-soktahu-an saya. Fatal. Bahkan sampai menurunkan kapabilitas saya di mata orang lain. Selain itu, apa yang saya keluarkan justru malah tidak sebanding dengan apa yang saya dapatkan. Paling parah, saya kehilangan kepercayaan. Yah, kadang mengatakan "tidak tahu", jauh lebih baik daripada "sok tahu". Mengatakan "Tidak Tahu", sebetulnya tidak akan merusak citra diri kita di mata orang lain. Selain itu, dengan mengakui ketidaktahuan, sebetulnya merupakan penghargaan terhadap diri kita sendiri. Bahwa kita lemah, bahwa kita masih memiliki kekurangan. Karenanya, kita bisa menjadi lebih bijaksana terhadap orang lain yang juga tidak tahu. Jangan sampai, karena ke-soktahu-an kita, malah menyesatkan orang lain.
Kalau mau jujur, negara ini pun berantakan karena terlalu banyak orang-orang yang "sok tahu" seperti saya. Merasa Tahu. Merasa Mampu. Merasa Bisa. Padahal, otaknya "kosong".
DipatiUkur, 22:45, 281005.
NB: Lagi keedanan nulis blog nih…
Refleksi | Comment (0)Brontok Sialan!!!
Duh, kok ada ya orang yang pengen tenar dengan cara yang gak bener? Tuh, si pembuat virus Brontok sialan itu…gimana nggak? Gua hampir setiap hari ditanya, "Don, gimana cara ngehilangin virus Brontok??"…Nah loh…gua juga baru denger 2 minggu kebelakang aja…dan gua juga belum sempet mempelajari seluk beluk tuh virus…cara nyebarnya sih gak beda jauh sama virus kangen, cuma yang ini dibikin lebih ‘pinter’, udah gitu, variannya banyak banget, terakhir gua denger sampai 7 varian…sinting juga!!
Konon yang bikin anak ITB, ada juga yang bilang anak UGM…tapi, siapapun dia…(isi kebun binatang deh….)…Sayang banget sebetulnya ketika ilmu disalahgunakan…Kalo gua ketemu orangnya, pengen banget nonjok…(Sabar Don, ini kan Ramadhan!!!)…Tuh orang tujuannya apa sih?? Gak jelas gitu!!!
Komputer Birama jadi korban, udah gitu ada juga yang bilang ke gua kalo temen dan temen2nya sekelas yang punya komputer, kena semua…
Yang lebih parah, dicurigai akibat virus ini, Data-data Birama hilang semua!!! Termasuk juga data-data gua dan Foto-foto Wisuda gua yang belum sempet gua BackUP!! Jadi, Buat Catur…Sorry, datanya hilang semua…Awalnya sih, bikin lambat kompie, trus restart sendiri, trus gak bisa masuk windows, trus partisi hilang…trus data pada hilang!!! Entah karena Brontok atau bukan, tapi gara-gara nih virus semuanya jadi berantakan…Penerbitan Birama gagal, padahal dah tinggal cetak…data TA temen gua hilang, data keuangan Hilang…Artikel2 hilang, tulisan-tulisan hilang, SEMUA!! Apa gak gila?? Udah gua coba recover dengan beberapa software, emang sih ada lagi tuh data…tapi useless…udah gak bisa dibaca…sialan banget kan???
Gua sering juga diminta untuk bikin virus…tapi gue sering bilang," Gak mau!! Emang lu mau dikutuk sama puluhan orang, ratusan bahkan kalo nyebar ke se-antero dunia, bisa jutaan orang…gak bakalan tenang dan barokah lu hidup kayak gitu!!!"…padahal emang gak bisa bikin sih…hihihihii!!! Dan sekarang, tuh yang bikin virus, udah ribuan orang yang ngutuk!!! Makan tuh kutukan!!!!
NB : Sorry, kasar banget ya?? Tapi, kesel pisan atuh da…..
Ngelantur | Comment (0)Cigar
Suatu saat, di suatu malam, Donny dan seorang teman berjalan untuk melepas kepenatan di Kawasan Monumen Perjuangan Rakyat, Gazebo, Bandung. Sambil menikmati cahaya redup lampu-lampu taman dan sesekali melihat ke langit yang tampak luas dan indah oleh Bintang dan Bulan. Tiba-tiba…
Donny : "Lu tau, siapa orang-orang paling bodoh ? "
Teman : "Hmm..Siapa ?"
Donny : "Mereka adalah produsen dan konsumen rokok…"
Taman : "Emang kenapa ? "
Donny : "Coba aja lu lihat, di rokok itu kan ada tulisan ‘Merokok bla bla bla bla….’, apa gak disebut bodoh, ketika kita menghasilkan suatu produk, lalu kita suruh orang-orang untuk gak beli produk kita ? Dan lebih bodoh lagi, mereka mau aja nyantumin tulisan itu, padahal yang nyuruh-nya orang lain…Apa gak disebut bodoh juga ketika ada peringatan ‘ini racun!!’, dan kita tahu itu racun, terus kita masih makan juga…?"
Teman : "Hahaha…."
Di saat lain, ketika sedang menikmati pemandangan jalan Dipati Ukur di lantai 3 kampus, sambil senyum-senyum gak jelas.
Teman : "Don, sekali-kali belajar dong nge-rokok, biar gaul…"
Donny : "(senyum) Boleh, asal lu juga belajar untuk nggak nge-rokok…"
Teman : "Oke…Gua siap!!"
Donny : "Gak deh…makasih! Cukup badan lu aja yang rusak…."
Well, Guys…Terutama untuk para perokok, coba deh hitung-hitung duit yang udah habis dibakar dan yang akan habis untuk dibakar…Terus, kalian pikirin deh…
"Silahkan saja rokoknya di bawa, tapi tolong jangan bawa asapnya…" (AA Gym)
NB : Merokok itu sehat, tapi tidak merokok itu jauh lebih sehat!!
Eh, temen-temenku yang nge-rokok…gak boleh marah ya???? :D…Peace, I Love U!!!!
S3K3L04, 271005, Menjelang Sahur, 22 Ramadhan 1426 H
Ngelantur | Comment (0)FlashBack
Oktober 2005,
Saat ini, entah kenapa, gua kok pengen balik lagi ke masa-masa awal kuliah ya ? Ada sesuatu yang sangat gua sesali. Waktu 5 tahun yang berlalu, ternyata gua rasa kurang bermakna ya ? Ya, kurang aja…Entahlah…Gua pun gak ngerti dengan perasaan gua sendiri. Mungkin karena masa-masa awal kuliah, gua kurang gaul. Ya, gimana mau disebut gaul, kerjaan cuma kuliah, dan maen ama temen-temen sekelas dan sekost. Meskipun, sejak awal gua pengen banget ikutan organisasi kampus, entah itu HIMA atau UKM. Gak tau kenapa, gua tuh selalu kangen dengan kegiatan-kegiatan organisasi. Kangen ngumpul-ngumpul, kangen rapat, kangen bikin kegiatan, walaupun capek, tapi gua selalu menikmati saat-saat seperti itu. Mungkin karena gua selalu berorganisasi sejak SD, sampai kuliah pun kebawa-bawa.
Pertengahan 2002 - Awal 2003,
Kesempatan untuk gabung di HIMA dateng waktu temen gua, (Alm) Achlan, nawarin ke gua untuk bantuin gabung jadi panitia Seminar. Gua, seneng banget diajakin gitu. Setelah itu, mulai deh, berangsur-angsur organisasi-organisasi lain gua ikutin. HMIF, SCIF, SSG, BIRAMA, Sepak Bola. Belum lagi kepanitiaan di dalam dan luar kampus, juga beberapa organisasi tanpa bentuk. Plus jadi ASDOS. Belum lagi seminar-seminar, workshop, kursus dan pelatihan. Dan, waktu itu juga, gua lagi jatuh cinta sama…ada deh!! Tiba-tiba aja gua jadi orang yang super sibuk. Gaul. Dan…Tenar. Hehehe. Saking sibuknya, gua bolos di beberapa mata kuliah. Praktis, semester 5 dan 6 , nilai gua turun.
Februari - Maret 2003,
Lagi sibuk-sibuknya, digigit nyamuk, Demam Berdarah deh…lumayan tuh, 1 minggu lebih dirawat di RSHS dari total 2 minggu gua sakit, lemesnya masih kerasa selama sebulan kemudian. Kata yang nengok sih, " Itu tuh ALLAH nyuruh kamu istirahat, kamu kan sibuk banget…". Allah memang "bekerja" dengan cara-Nya sendiri. Misterius. Bukan cuma itu, gua pun mendapat 2 "musibah" lagi, hilang hape dan…gebetan gua jadian sama orang lain. Wuih…waktu itu, rasanya gua jadi orang paling sial sedunia. Kayak yang dikutuk gitu deh. Gimana nggak, dalam jangka waktu 3 minggu, gua dapetin 3 ujian itu semua. Pertama, sakit, terus gebetan "diculik" dan terakhir hilang hape…Untung sampai sekarang masih waras juga. Ya, berkat pertolongan Allah juga sih…dan karena orang-orang yang selalu ngasih support ama gua. Termasuk gebetan gua itu…Hiks!! Tapi, kabar terakhir dia dah punya anak. Emang jodohnya, mau gimana lagi…???
Maret 2003 - September 2004
Setelah kejadian itu…Gua mulai re-orientasi lagi semuanya, re-shedule lagi, pilah-pilah, banyak mikir dan merenung. Mana yang penting, mana yang nggak. Dan, ternyata, semua penting buat gua…Dzig!! Meskipun, akhirnya ada kegiatan yang terpaksa gua korbankan, terutama kegiatan-kegiatan luar kampus. Jadi, fokus di dalam kampus aja. Meskipun 2 bulan kemudian, balik lagi ke luar kampus. Dan malah tambah banyak aja kegiatan dan organisasi yang gua ikutin. Padahal, gak ada satupun organisasi yang gua ikutin, ngasih duit ama gua. Tapi, sejak awal pun, niat gua bukan nyari duit. Like my mother said, "duit mah gampang dicari, yang penting mah ilmu dan pengalamannya aja dulu, cari aja pengalaman sebanyak-banyaknya."…Ok deh mother…Akur!! Di masa-masa ini, segalanya lebih stabil, keadaan jiwa gua, fisik gua, emosi gua dan kantong gua…hehehe. Termasuk juga perkuliahan gua. Tapi, tetep aja sih ada beberapa "kerikil" tajam yang nancep ke hati…untunglah udah terlatih, gua bisa lebih mengatur emosi dan hati gua untuk tetap tenang…dan, segalanya berjalan dengan baik. Artinya, gua bisa lebih cuek…dan bisa bilang, "Ih, Siapa elu…???" or "Gak usah ke-GR-an gitu dong…" atawa "Bodo amat ah…", hmm…arogan ya??
September 2004 - Juli 2005,
Masuk ke tingkat 5, alias semester 9, masih tetep dengan kesibukan gua…tapi nggak sesibuk tahun-tahun sebelumnya. Periode ini, gua ngerjain skripsi, satu tahun totalnya. Setelah ganti judul dan pembimbing. Gua nyebut-nya sih masa transisi. Masa dimana ada perubahan yang cukup signifikan pada diri gua. Re-Islamisasi diri. Meskipun, sebetulnya udah sejak 2 tahun sebelumnya. Tapi, di masa transisi ini, lebih intens dan lebih progressive aja. Kenapa Re-Islamisasi ? Karena memang bener-bener banyak hal baru tentang Islam yang gua dapetin di masa ini. Jauh lebih banyak. Terutama tentang Fiqih dan Ibadah. Sampai akhirnya gua berkesimpulan, Islam Itu Indah!!! Di periode ini juga, gua mendeklarasikan Gelandangan Ta’lim bareng temen-temen…Hehehe….namanya emang gak keren. Kerjaannya ngelilingin Majelis Ta’lim yang ada di Bandung. Gua juga lebih banyak diskusi tentang permasalahan Islam, lebih banyak baca buku dan majalah tentang Islam. Periode ini, gua rasa yang paling penting dalam masa 5 tahun gua kuliah. Perasaan mah udah paling sholeh aja….hehehehehehe. Hus!! Gua jadi lebih tau tentang PERSIS, Muhamaddiyah, HTI, NU, PKS, JT, Salafy…terutama tentang metode dakwahnya, meskipun gak tau banyak, tapi cukup untuk membuat gua lebih bijaksana dalam bergaul. Periode ini berakhir pada saat gua sidang skripsi, dan berakhir pula masa Re-Islamisasi, soalnya gara-gara kejar tayang skripsi, jadwal jadi berantakan, serba gak nyaman aja ngerjain segala sesuatunya. Dan yang gua rasain sekarang, susah untuk memulai lagi, males aja bawaannya, meskipun sisa-sisa semangatnya masih ada.
Oktober 2005
Sampai akhir gua di Wisuda, gua masih menjabat kepengurusan di BIRAMA, FORMASI dan SCIF, juga sebagai anggota di Fotografi. Untuk SCIF, karena emang gak pernah ada Mubes lagi sejak pertama kali kepengurusan terbentuk. Dan, bisa jadi, SCIF adalah dosa terbesar gua…Gimana nggak, nasib SCIF gak jelas gitu sejak gua jadi ketua. Mudah-mudahan sih temen-temen gua meng-ikhlaskan. Biar tanggung jawab gua di akhirat nanti lebih ringan. FORMASI, karena gak ada orang lagi…menyedihkan kalo ngelihat organisasi-organisasi dakwah kita. Selalu kurang dukungan. Padahal ngajakin ke Surga. Aneh ya?? Sementara BIRAMA, sebetulnya gua udah mengundurkan diri dari kepengurusan, tapi, berhubung pada saat pengajuan SK Rektor nama gua masih tercantum, gua masih tercatat sebagai pengurus sampai tahun depan. Hihihi. Gila ya, alumni jadi pengurus. Tapi, gua udah gak aktif kok dikepengurusan BIRAMA.
Kalau ngelihat 3 tahun ke-belakang, sebetulnya sih gak ada yang perlu gua sesali. Ilmu yang gua dapat lumayan, meskipun gua rasa belum cukup. Gua ikut 8 organisasi dan 1 EO, dalam dan luar kampus. Ada juga organisasi tanpa bentuk, cuma kumpul-kumpul aja. Gua juga merintis 2 organisasi, meskipun yang 1 mati, yang 1 lagi sekarat. Tapi, cukup mewarnai dan meramaikan papan pengumuman kampus…hehehe. Udah puluhan kegiatan gua ikuti sebagai panitia dan peserta, juga sebagai pemateri dan instruktur. Jadi macan kampus juga, jadi kuncen juga. Gua juga banyak menyerap ilmu dari orang-orang di sekitar gua. Yang lebih tua, yang seumuran, yang lebih muda. Pria-Wanita, Bapak-bapak, Ibu-ibu, Anak-anak. Gua juga bisa menikmati journey murah meriah waktu studi banding ke PERSMA UGM (Balairung) dan UII (Ekonomika), Yogyakarta dan nginep di pesantren Assalam, Solo.
Sebetulnya, sebagai mahasiswa, apa yang gua lakukan dan gua dapat udah cukup sebagai bekal terjun ke masyarakat. Gua cuma ngerasa kurang berbuat untuk orang lain dan gak optimal dalam bekerja juga berorganisasi. Mungkin itu yang agak gua sesali. Gua gak seideal yang gua inginkan….Dan satu lagi, gua gak sempet aktif di unit kegiatan Masjid SALMAN, ITB, sebagaimana yang Ibu dan Bibi gua sarankan. Sekali-nya ada kesempatan, udah terlambat…gua nya udah ketuaan.
To : Ai dan Lie, Gua ngiri sama kalian bisa ikutan KARISMA. Mudah-mudahan sih, gua dapet pahalanya juga.
Thanks buat (Alm) Achlan Jaya, yang pertama kali ngajakin masuk ke pintu "kesibukan".
NB : HIMA (Himpunan Mahasiswa), UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa), HMIF (Himpunan Mahasiswa Teknik Informatika), SCIF (Software Club mahasiswa Teknik Informatika), SSG (Santri Siap Guna), ASDOS (Asisten Dosen), BIRAMA (Bacaan Interaksi dan Aktualisasi Mahasiswa), RSHS (Rumah Sakit Hasan Sadikin), FORMASI (Forum Mahasiswa Islam), SK (Surat Keputusan), EO (Event Organizer), ITB (Masa sih pada gak tau???), KARISMA (Keluarga Anak dan Remaja Islam Salman), PERSMA (Pers Mahasiswa), UGM (Kelewatan kalo gak tau!), UII (Universitas Islam Indonesia), PERSIS (Persatuan Islam), HTI (Hizbut Tahrir Indonesia), NU (Nahdlatul Ulama), PKS (Partai Keadilan Sejahtera), JT (Jama’ah Tabligh)
S3K3L04, 2:35, Menjelang Sahur, 20 Ramadhan 1426 H / 251005.
Tiba-tiba aja pengen flashback ke masa lalu….
Respect
"Apa yang kamu inginkan ?"
"Yang semua orang inginkan. Respect. Sedikit pengakuan."
Dialog di atas gua dapat dari film komedi situasi di TV7 jam 00.30, Jumat. Judulnya gua gak tau, soalnya nontonnya di tengah-tengah dan baru pertama kali juga nonton.
Sesaat gua berfikir, "Apa bener ‘itu’ yang diinginkan semua orang ?". Mungkin, memang benar. Selama hidup kita, gua yakin, apa pun caranya, yang kita usahakan adalah untuk menarik perhatian orang lain. Dihormati. Disegani. Diakui. Contoh sederhana waktu ospek kemarin. Gua tau, banyak banget yang rela diseleksi untuk jadi seksi "Keamanan" or "Komdis", karena seksi itu yang paling disegani, ditakuti dan dihormati. Sementara seksi lain kurang orang, padahal gak ada seleksi, atau seleksi-nya gak seketat "Keamanan". Tapi, di mata gua sih, sama aja!! Gak ada yang spesial!! Sama-sama orang!! Oh…emang lu orang ya, Don?? Apa sih ini teh? gak penting!
Memang sih manusiawi. Yang gua gak suka, kalo untuk dihormati justru caranya yang tidak terhormat, kadang sampai harus merusak kehormatan orang lain. Ini yang jadi masalah. Terutama di negeri drakula Indonesia Raya ini. Bisa jadi, tiap hari kita bersinggungan dengan orang-orang seperti ini.
Masalahnya lagi, di Indonesia ini aneh. Orang yang jelas-jelas salah pun, masih banyak yang nolongin. Sementara orang yang gak punya salah, pada gak ada yang berani nolong. Yang salah dibener-benerin, yang bener disalahin. Jadilah kita orang-orang yang bingung. Akhirnya, apatis. Daripada mikirin yang gak jelas salah dan benernya, mending mikirin diri sendiri. Individualis aja jadinya. Masing-masing.
Masalah lain lagi. Untuk dihormati orang lain, kita justru mengorbankan kehormatan diri kita sendiri. Kadang tidak disadari. Ya…kayak para koruptor itu tuh. Aduh, gua kok pengen banget ya ngelihat para koruptor di tembak mati aja, atau digantung, atau disetrum, atau disuntik mati, atau digelitikin rame-rame aja kali yeeeee…..Eh, kok jadi horor gini ya??
Sayangnya, kebanyakan terjebak dengan paradigma kalau yang dihormati itu adalah orang yang kaya, memiliki jabatan dan kedudukan tinggi. Orientasinya adalah materi. Padahal, kita tahu, segala hal yang sifatnya materi, tidak pernah abadi. Materi bisa rusak, materi bisa hilang dan materi bisa habis. Ketika materi habis, maka habislah kehormatan kita. Itu sudah menjadi hukum alam.
Sering gua mendengar, ketika orang-orang dari perantauan ditanya, kenapa tidak pulang kampung. Jawabannya, "Saya malu, saya belum punya apa-apa, masa jauh-jauh merantau gak bawa apa-apa?". Dalam hati, gua ngomong, "Hey, Who care..??". Emang orang lain peduli sama kita ?
Kita sering kali lupa bahwa sebetulnya orang lain tidak akan pernah peduli kepada kita, selama kita tidak peduli pada mereka. Dalam buku Skill With People, karangan Les Giblin, disebutkan, orang itu lebih tertarik kepada dirinya 10000 kali, daripada kepada orang lain. Jadi, kita tuh hanya bagian kecil saja dari apa yang ada dipikiran orang lain. Gua pikir, adalah hal yang buang-buang waktu, tenaga dan pikiran kalau selama hidup kita hanya mengharapkan respect dan pengakuan orang lain, entah itu keluarga, saudara, lawan jenis, camer, tetangga…Setidaknya gua pun pernah mengalami betapa capeknya hati ini hanya untuk sekedar mendapatkan respect dan pengakuan. Padahal kalau dapat pengakuan pun, tidak banyak merubah nasib kita. Kecuali, kita termotivasi untuk berbuat lebih baik, itu saja. Pengakuan justru datangnya tak terduga, justru saat kita gak mengharapkan.
Kalau belajar dari sejarah, orang-orang yang mendapatkan Respect dan pengakuan, justru adalah orang-orang yang lebih banyak berbuat untuk orang lain, yang lebih menghargai orang lain. Dirinya dan keluarganya, bahkan seringkali dikorbankan untuk kebahagiaan orang lain. Teramat banyak nama-nama agung memenuhi sejarah dunia ini. Nabi Muhammad SAW, sepanjang hidupnya beliau memikirkan kebaikan untuk masyarakat pada saat itu, dan bahkan untuk umatnya di masa depan. Mahatma Gandhi dan Mother Theresa, mereka tidak kaya, tapi mereka diakui sebagai orang-orang yang terhormat. Lady Di, meskipun dia tenar karena cantik, tapi orang-orang menghormati dia karena jiwa sosialnya tinggi. Indonesia punya Kartini, yang begitu peduli terhadap hak-hak wanita, meskipun sekarang disalahartikan dengan kata-kata "Emansipasi" dan "Feminisme". Dan, masih banyak lagi…
Jadi, mau mendapatkan respect dan pengakuan ? Sebanyak apa kita menghormati dan mengakui orang lain, sebanyak itu pula orang akan menghormati dan mengakui kita. Semakin kita hormat kepada orang lain, semakin hormat orang lain pada kita…Hukum Aksi-Reaksi berlaku disini. Tapi, kok, kalo semakin kita naksir orang, belum tentu orang itu naksir sama kita ya…??? Tanya kenapa……..Hihihihi….
Ditulis tangan di NewLand, Buitenzorg, 02:40, 230905.
Diketik ulang dan ditambahin di S3K3L04, 22:58, 20 Ramadhan 1426 H.
NB : Harta itu, semakin kita mengejarnya, semakin dia berlari. Tapi, semakin kita tidak mengharapkannya, semakin dia mencari kita…Sebuah kutipan dan saduran bebas dari seorang Ustadz yang gua lupa lagi namanya.
Ngelantur | Comment (0)Nyanyian Rindu
Kapan lagi kita akan bertemu,
Meski hanya sekilas kau tersenyum…..
Taken From : "Nyanyian Rindu", Ebiet G. Ade
Ah, dasar, diriku…diriku…
Ngelantur | Comments (2)Kita dan Ramadhan : Sebuah usaha pencarian makna Ramadhan
Setengah Ramadhan telah kita lalui bersama. Terasa cepat, bahkan diantara kita ada juga yang tidak menyadarinya. Saking cepatnya waktu berlalu. Masjid-masjid yang pada awal Ramadhan terasa sempit, kini mulai terasa lengang kembali. Puncaknya akan terlihat pada akhir-akhir Ramadhan, dimana masjid-masjid mulai terlihat sepi. Kecuali beberapa masjid besar yang biasanya digunakan untuk ‘itikaf.
Bulan Ramadhan merupakan bulan yang sangat istimewa bagi umat Islam. Pada bulan ini, setiap ibadah yang kita lakukan memiliki nilai pahala yang berlipat. Ibadah sunat, nilainya sama dengan ibadah wajib yang biasa dilakukan pada hari-hari di luar Ramadhan. Sedangkan ibadah wajib nilainya berlipat-lipat. Hanya Allah yang tahu besarnya.
Ramadhan kali ini, sebetulnya tidak berbeda dengan Ramadhan-ramadhan sebelumnya dan yang akan datang. Selama kiamat belum tiba, Ramadhan akan selalu hadir. Yang membedakan antara Ramadhan yang satu dengan yang lainnya adalah kita. Ya, kita, sebagai pelaku utama yang Allah perintahkan untuk berpuasa di bulan ini. Kita yang masih Allah beri kesempatan untuk berjumpa lagi dengan Ramadhan. Tidak hanya berpuasa, tetapi kita juga diperintahkan untuk meningkatkan aktivitas ibadah di bulan ini. Kita lah yang memiliki pilihan untuk menjadikan Ramadhan lebih bermakna atau tidak.
Ramadhan merupakan suatu penghormatan dari Allah untuk kita. Tanda cinta Allah buat kita. Karena di bulan ini Allah membuka seluas-luasnya pintu rahmat dan ampunan. Yang menjadi pertanyaan adalah, sejauh mana usaha kita memaknai Ramadhan kali ini ? Apa saja yang kita lakukan agar Ramadhan kali ini membekas di dalam aktivitas kita sehari-hari di bulan-bulan selanjutnya ? Apakah kita membiarkan Ramadhan kali ini berlalu begitu saja ? Sudahkah kita meningkatkan kualitas dan kuantitas tilawah Qur’an kita, sedekah kita, shalat kita ? Atau kita lebih memilih melepaskan cinta-Nya ? Padahal tidak ada cinta yang lebih besar daripada cinta-Nya.
Harapan kita, ketika Ramadhan berakhir, kita benar-benar menjadi seorang pemenang. Orang-orang yang kembali ke fitrah, yang Allah bebaskan dari dosa. Bagaimanapun, kita selalu akan merasa ada yang kurang setiap Ramadhan berlalu. Selalu ada penyesalan. Namun, yang paling penting adalah usaha kita untuk selalu meningkatkan kualitas aktivitas ibadah kita di bulan Ramadhan. Jika setengah Ramadhan sudah kita lalui tanpa makna, ya sudah, lupakan saja, toh waktu tidak akan kembali. Kita masih memiliki kesempatan setengah Ramadhan lagi. Maka fokus dan manfaatkanlah waktu tersebut. Mulailah dengan membuka kembali Al-Qur’an, keluarkan lah sedekah, optimalkan segala daya dan upaya kita. Setidaknya untuk hari ini, jam ini, detik ini. Esok, belum tentu kita bertemu dengan matahari pagi.
Semoga, kita termasuk orang-orang yang selalu merindukan Ramadhan dan orang-orang yang selalu Allah rindukan. Amin.
NB : Ini adalah tulisan yang gua buat untuk BURAM (Buletin Birama), atas permintaan Pemred-nya. Tapi, kok kayak kurang ber-bobot n kurang greget ya ? Kayak yang aneh kalo gua nulis-nulis yang serius.
Religi | Comment (0)My Favorite Pic’s
Photo by Donny, Samsung Digimax 100
Photo By Hasan, Samsung Digimax 100
UnakUnik | Comment (0)Blah
Malam Ramadhan ke-15…
Sariawan tergede yang pernah gua alami, diameter hampir 1 cm….
Jerawat di jidat…
Dan, mati ide….
Blah blah blah…..
15 Ramadhan, Dipati ukur, 23:57, Menjelang Rapat Redaksi Birama.
Ngelantur | Comment (0)