Nasyid = Rock
Gua bisa dicekek rame-rame sama para pecinta musik nasyid dan rock nih pake judul seperti itu. He3x. Well, gua cuma pengen menuliskan sedikit hal yang mengganjal di otak gua, lumayan lama juga, sejak sma. Meskipun gua baru bisa mengutarakannya sekarang.
Gua pengen dong, khusus tulisan ini, gua dapet komentar dari para penggemar nasyid, or mungkin penggemar musik lain.
Berawal dari pertanyaan, "Don, kalo gua perhatiin, kok lu gak pernah dengerin nasyid sih ? Padahal lu kan….(gak terlalu penting di tulis)"…trus juga ada pertanyaan, "Eh, lu tuh suka dengerin lagu apa sih ?"…ada juga yang nanya, "Lagu siapa nih ?"…atau, "Musik apaan sih ini ? Gak jelas begini…". He3x.
Sedikit rada belok ke masalah agama dulu. Dalam islam, yang halal sudah jelas, dan yang haram juga sudah jelas. Sedangkan yang di tengah-tengah keduanya, adalah merupakan rahmat dari Allah, meskipun ada juga, banyak malah, yang masuk ke wilayah "syubhat" alias meragukan. Meragukan di sini berarti lebih dekat ke haram. Untuk yang di tengah-tengah ini, manusia bebas mengekplorasinya, selama tidak mendekati ke arah haram. Musik, menurut gua, berada di wilayah tengah-tengah ini, sebab gua belum menemukan dalam Qur’an yang secara gamblang mengharamkan musik, meskipun ada beberapa hadits yang "melarang", tapi masih menjadi perdebatan, dan gua juga lupa lagi haditsnya. Trus juga ada hadits yang menerangkan bahwa, "sebaik-baik syair adalah sebaik-baik perkataan, dan seburuk-buruk syair adalah seburuk-buruk perkataan", lebih kurang seperti itu, redaksinya gua lupa lagi.
OK, balik lagi ke masalah. Nah, berdasarkan pemahaman tersebut, gua akhirnya memberanikan diri untuk bikin tulisan ini. Bakalan panjang nih…
Musik, pada awalnya, hanyalah sebuah media untuk mengekspresikan diri. Tidak ada aliran. Sebab, tiap daerah hanya mengenal musik tertentu saja. Meskipun ada begitu banyak ragam musik. Peradaban yang kemudian menjadikan musik menjadi lebih meng-global, terutama jenis musik yang menggunakan peralatan "standar" sekarang, seperti gitar, bass, drum dan keyboard atau piano. Dari eksplorasi alat-alat tersebut, kemudian muncul jenis aliran-aliran musik, seperti jazz, blues, rock, metal, dangdut, pop dan varian-varian aliran musik tersebut. Tiap aliran biasanya memiliki prestise tersendiri, sehingga kadang saling menjatuhkan jenis aliran musik lain, dan biasanya punya komunitas tertentu.
Nasyid, entah siapa yang pertama kali menggunakan kata ini, lahir dari "keinginan" orang islam untuk "memiliki" identitas dalam dunia musik. Atau keinginan untuk memiliki musik yang islami. Meskipun, orang islam pernah "bangga" dengan kasidahan dan musik gambus, terutama di Indonesia. He3x. Tapi, karena musik-musik tersebut dikategorikan ketinggalan zaman, maka muncul nasyid sebagai pengganti, atau tepatnya, tempat ngumpulnya semua jenis musik yang islami. Selain itu, karena musik juga bisa dijadikan sebagai jalan dakwah. Jadi, dengan nasyid, diharapkan bisa lebih memudahkan dalam menyampaikan pesan-pesan dakwah. Karena, sekarang ini memang "peradaban musik". Siapa sih yang gak doyan musik? Jadi umat islam pun gak boleh ketinggalan. Eh, gua kok kangen ya sama kasidahan…perdamaian, perdamaian (bayangin gua lagi nyanyi lagu kasidahan yang judulnya perdamaian)…Hihihi…Eh, sejarah nasyidnya gua ngasal loh, belum tentu akurat.
Pada awalnya, nasyid tidak se-rame sekarang. Dulu bentuknya paling accapela, atau kalo pun pake alat musik, cuma rampak gendang aja. Sekarang aja ada aliran romantic nasyid, dll. Pake gitar, keyboard, bass dan drum. Gua dari dulu pengen banget bikin aliran metal nasyid atau rock nasyid…seru kali yeee. Hehehe.
Gua coba menjawab pertanyaan-pertanyaan yang di atas. Untuk urusan musik, gua emang rada liberal. Gua "lebih dulu" akrab dengan musik, daripada akrab dengan Islam, meskipun lebih dulu kenal dengan islam. Kalo kemudian gua kurang menyukai nasyid, ada alasannya. Meskipun kata aa gym, "alasan meperjelas kesalahan", whatever lah. Gua pernah begitu terobsesi untuk jadi seorang musisi hebat, dan gua tau bagaimana "susahnya" belajar satu alat musik. Karena itu lah, gua lebih tertarik dengan musik-musik yang "ribet", yang gak monoton, yang megah. Dulu, menurut gua, kalo orang bisa bikin musik yang ribet, berarti dia musisi hebat. Semakin sulit diikuti, semakin hebat. Trus, dalam mendengarkan suatu lagu, gua lebih banyak memperhatikan aspek musiknya…siapa aja musisinya, bagaimana nada-nadanya, bagaimana ketukan dan permainan drum, bass dan gitarnya…vokalisnya malah jarang gua perhatikan, apalagi tampang dan suaranya, terlebih lagi gua gak pernah peduli dengan gaya hidup musisinya. Syairnya pun, kalo betul-betul bagus atau aneh, baru dapat perhatian. Tapi, yang selalu pertama gua dengerin adalah musiknya, bukan lagunya. Makanya, jangan heran, kalo gua banyak dengerin lagu-lagu yang menurut orang lain, gak enak. Karena, gua lebih tertarik dengan musiknya. Tetangga-tetangga kost-an gua mungkin dah sering denger gua nge-repeat berkali-kali suatu bagian lagu, entah itu pas lagi solo gitar, solo drum, solo piano, atau solo bass-nya aja. Karena, menurut gua, bagian itu lah yang menarik. Itu sebabnya juga, gua gak banyak hafal lagu, apalagi menyanyikan, fals abis. Tapi, gua bisa tau judul lagu dari kejauhan yang cuma kedengeran suara dentuman bassnya aja.
Nah, nasyid gak bisa "memberikan" itu sama gua. Karena nasyid lebih menonjolkan aspek syair daripada musik. Musiknya malah kadang-kadang "seadanya". Buat telinga gua, terkesan monoton. Gua cepet bosen dengan musik-musik yang monoton. Bukan cuma nasyid, ErDanBe, hip hop atawa rap juga gua kurang suka, alasannya sama…musiknya monoton, kitu-kitu wae. Kecuali, beberapa lagu tertentu aja. Jangan dikira gua gak pernah "berusaha" untuk suka. I was trying. Hasilnya, cuma satu lagu nasyid yang gua suka…Peristiwa Shubuh-nya Raihan, itu juga gara-gara pertama kali dengerinnya pas Chrisye yang bawain di konser suatu acara di Sabuga, Bandung. Kebetulan aja gua jadi panitianya. Yang lainnya, gua suka Do’aku nya Hadaad Alwi feat Padi dan versi instrumentalnya, eh, itu nasyid bukan yah??
Tapi, gua juga tetep selektif dengerin lagu, jangan sampai lagu-lagu yang ngerusak aqidah, gua dengerin juga…sebagai contoh, gua pernah dengerin lagu FireHouse, "You’re My Religion" dan Extreme, "There is no God"…lagu dan musiknya, sumpah, enak-eun!! Tapi, setelah gua tau isi syairnya, gua gak pernah pengen dengerin lagi…sampai sekarang…karena menurut gua, syairnya bisa ngerusak aqidah gua. Tapi, kadang-kadang, lirik "There is no God", gua ubah kata-katanya jadi "There is no Dog"..Hehehe…
Hmmm, menurut gua, menyukai musik itu seperti kita menyukai seseorang. Tergantung selera. Gak bisa dipaksa, meskipun setiap orang sebetulnya bisa saja untuk menikmati setiap jenis musik, kalo mau. Rasa suka itu bisa ditumbuhkan kok…
Gua akui, kalo nasyid itu, "unggul" dalam hal syair kalo dibandingkan dengan rock atau pop. Setidaknya bisa memberikan pencerahan atau nasihat-nasihat. Tapi, tetep aja, kalo ukurannya syair, kita juga bisa menemukan syair-syair yang bagus pada lagu-lagu seperti "Sajadah Panjang" dan "Rindu Rasul"-nya Bimbo, "Ketika Tangan dan Kaki Bicara"-nya Chrisye, "Dengan Menyebut Nama Allah"-nya Novia Kolopaking yang diciptakan sama Dwiki Dharmawan, atau lagu "Akhirnya" yang dibawakan sama GIGI. Lagu-lagu Iwan Fals-pun lebih menyentuh, meskipun bahasanya "sederhana". Belum lagi lagu-lagunya Ebiet G. Ade. Bahkan, lagu sunda "Jampe Harupat"-nya Doel Sumbang, dan "Dina Amparan Sajadah"-nya Darso juga Islami Banget. Gua juga sempat tercengang sama lagunya Kid Rock, "Only God Know Why". Kalo menurut gua, syair lagu-lagu tadi juga lebih dalam, dan bahkan lebih bikin gua "merinding" daripada lagu nasyid.
Karena itulah, gua gak setuju dengan klaim bahwa nasyid "lebih baik". Toh, pada perjalanannya, nasyid pun mengalami distorsi, sehingga hampir-hampir gak bisa dibedakan dengan musik pop. Pun, gua sering kecewa dengan akhlak penyanyinya. Lagipula, media yang digunakanpun sama, musik. Musik, seperti pisau, tergantung orang yang menggunakannya, mau digunakan untuk membunuh atau untuk memotong bawang…Emang musik bisa ya buat motong bawang?? Hehehe… Apalagi, nasyid mengusung nama Islam, seharusnya lebih hati-hati, jangan malah menyesatkan. Gua inget, waktu seorang ustadz cerita ketika dia menegur seseorang karena menurut ustadz tersebut tindakan orang itu salah, lalu orang itu bilang, "Tapi, di lagu Raihan juga katanya begini…". Nah Loh!! Kata Ustadz itu, "Kalo saya lebih baik dengerin lagu India aja yang gak tau artinya, dan gak mengotori hati saya". Hehehe. Itu hanya satu contoh kasus aja, yang lainnya belum tentu juga.
Gua cuma kurang sreg aja kalo misalkan gua dengerin musik Rock, lalu dicap jadi seorang "pendosa". Bagaimanapun, pada awalnya, musik itu bebas nilai. Tidak ada musik yang islami atau tidak islami. Kalo kemudian kata "islami" itu muncul, tidak berarti bahwa nilainya sama dengan ibadah-ibadah mahdoh. Masalah baru akan muncul kalo musik sudah melalaikan kita dari melakukan ibadah. Gua pikir, entah itu musik rock, jazz, pop, dangdut, dll…kalo sampai melalaikan kita dari ibadah, udah jadi dosa, bahkan untuk nasyid sekalipun. Tapi, syair lagu-lagu cinta picisan atau romantis yang selama ini banyak diperdengerkan, entah itu dari Dewa, Padi, Sheila on 7, Rossa, Melly, Bon Jovi, bahkan Slank, dll, kalo kita gunakan untuk merayu, menggoda atau merajuk suami/istri, insya Allah nilainya jadi ibadah, dan bahkan dapat pahala. Lagu, sama saja dengan karya sastra, seperti puisi, fabel, cerpen, novel…hanya saja, pada lagu ada musik, ada nada. Jadi, apakah salah kalo menurut gua nasyid = rock?
S3K3L04, 270905, 06.55 - 09.51…Gila, lama juga gua ngetik, kelamaan mikirnya…
Diedit lagi jam 22.38…
Ngelantur |3 Responses to “Nasyid = Rock”
Leave a Reply
sebagai mantan munsyid (orang yg bernasyid) gw setuju banget kalo sekarang nasyid mengalami distorsi. karena kebanyalan grup nasyid sekarang udah g “steril” lagi.dan karena itu gw keluar dari grup gw.sekarang gw lebih suka lagu2 iwan fals terutama ibu, sarmud, dan yg ngeritik pemerintah (soalnya gw pengen jadi presiden.he99x).bukan cuma nasyid yg bikin gw kesel, pendengar nasyid pun termasuk. sebab sekarang munsyid udah dijadiin idola dalam bergaya hidup.udah kayak musisi aja deh.dan akhirnya lo tau sendiri.sebab gw lebih cinta dan suka ke lirik sebuah lagu dari pada yg ngenyanyiinya.mangkanya gw sering lebih apal lirik lagu dari pada penyanyi atau grup bandnya.gw g pernah peduli ama orang yang nyanyi.8-P
ana alias aing, satuju pisan!!!!!
ana alias aing, satuju pisan!!!!