Orang Optimis

August 29th, 2005

Inilah orang yang memiliki sifat selalu optimis…

40cc5480f60842ef772bf253dafadb89kapan_bu

Senjata Kimia

August 29th, 2005

Ternyata, di Irak memang ada senjata kimia…Basra_child

Klik pada gambar untuk melihat ukuran asli.

sumber : www.humorkita.com

Bad News

August 25th, 2005

Judul email pertama yang saya terima dari milis adalah….

[ALUMNI_SMAN3_BGR] FW : Laki2 diperkosa oleh 3 wanita

Seketika itu juga, saya bingung!!!

Contemplation

August 23rd, 2005

Tuhan, untuk sebagian kita, masih menjadi suatu misteri…apakah DIA ada atau tidak…??  Lama saya berpikir untuk "membuktikan" bahwa Tuhan memang ada…Saya tidak menggunakan dalil-dalil dari Al-Qur’an atau Hadits, terlebih-lebih kitab-kitab suci lain yang tidak pernah saya baca…Bagaimana mungkin bisa meyakinkan seseorang dengan firman Tuhan kepada orang-orang yang tidak percaya Tuhan ?

Kepercayaan terhadap Tuhan, akan berimplikasi juga terhadap kepercayaan terhadap hari akhir, kiamat atau alam akhirat…Bagaimanapun, salah satu doktrin setiap agama adalah "Life After Death", "Hidup setelah Mati"…Pada saat itu, manusia akan terbagi ke dalam 2 kelompok, kelompok yang beruntung dan kelompok yang rugi…yang beruntung akan merasakan berbagai macam keindahan dan kenikmatan hidup melebihi kehidupan di dunia ini, itulah yang dinamakan surga.  Sedangkan yang rugi, akan merasakan siksaan yang abadi dalam api yang menyala-nyala, itulah yang dinamakan neraka.

Agama saya, ISLAM, membuka pintu surga sebanyak-banyaknya melalui berbagai macam cara dan jalan, begitu juga pintu yang sama banyak untuk neraka.  Satu-satunya jalan yang "pasti" akan menyelamatkan dari neraka adalah kesaksian kita bahwa "Tidak Ada Tuhan Selain ALLAH".  Begitulah salah satu doktrin dalam islam…Entah dengan agama lain.

Orang-orang yang tidak percaya akan Tuhan, berpikir bahwa, tidak akan ada hari kiamat, tidak ada siksa kubur, tidak ada surga atau neraka…kalo kita mati, ya sudah, kita musnah…dan selamanya kita tidak akan hidup lagi…Jadi, percuma saja kita beribadah, buang-buang waktu saja, toh kita akan mati selamanya…Dunia ini pun, terjadi dengan sendirinya, tidak ada yang menciptakan…semuanya terjadi begitu saja, semuanya hanya lah fenomena alam…Kalo memang Tuhan itu ada, mengapa DIA membiarkan kejahatan merajalela ? … Begitu pemikiran-pemikiran orang yang tidak percaya terhadap Tuhan, yang pernah saya baca.

Lama saya memikirkan pertanyaan-pertanyaan itu dan mencoba mencari jawabannya.  Meskipun saya temukan jawabannya pada Al-Qur’an, namun saya lebih merasa puas dengan yang saya temukan melalui pendekatan logika waktu saya jalan kaki…

Manusia yang beragama, yang seumur hidupnya beribadah, contoh shalat lima kali dalam sehari. Pada saat matinya…apabila memang benar ternyata Tuhan tidak ada, tidak ada kiamat, tidak ada siksa kubur…tentu saja tidak pernah akan merasakan "penyesalan".  Bagaimana mungkin, orang yang mati selamanya, akan merasakan "menyesal" ? Dia, tidak akan menyesal dengan ibadah-ibadah yang pernah dilakukan, tidak akan menyesal pernah shalat, tidak akan menyesal pernah puasa Ramadhan…Toh, mati selamanya…Tapi, setidaknya, mereka hidup dalam jalan yang penuh kebaikan.  Karena, agama menuntut setiap orang untuk berbuat baik…

Lalu, bagaimana jika orang yang tidak percaya Tuhan, mati…dan ternyata Tuhan Ada, Kiamat Ada…Jawaban Apa yang akan diberikan apabila menghadapi pertanyaan dari Tuhan, "Mengapa kau tidak Mempercayai adanya AKU ?".  Maka, ketika itu, siapakah yang menyesal ? Yang percaya Tuhan atau yang Tidak percaya Tuhan ?

Handphone, tv, radio, mobil, robot…adalah benda-benda yang manusia "ciptakan". Setiap benda yang kita temukan dalam kehidupan sehari-hari, tidak ada satupun yang pernah kita saksikan terjadi dengan sendirinya…Lalu, bagaimana mungkin manusia, bumi dan alam semesta terjadi dengan sendirinya ?  Percayakah kita kalo saya katakan kalo tulisan ini terjadi dengan sendirinya ?  Atau, HP yang saya gunakan terbentuk dari benda-benda yang berserakan di kamar saya, dan membentuk HP dengan sendirinya ? Percaya?

Jika dulu, bumi dan alam semesta ini terjadi dengan sendirinya, mengapa sekarang fenomena itu berhenti ?  Seharusnya, banyak benda-benda yang terjadi dengan sendirinya..

Manusia, terdiri dari dua unsur, jasad dan roh.  Jika salah satu unsurnya saja hilang, maka bukan manusia namanya…apabila roh tidak ada, maka manusia mati.  Lalu, apakah yang bisa dijelaskan oleh orang-orang yang tidak berTuhan mengenai fenomena kematian ? Apakah akan dikatakan juga, bahwa roh tidak ada dalam diri manusia ?

Orang yang berTuhan, akan "merasa" hidupnya ada yang mengawasi, meskipun tidak selalu.  Hal itu, berpengaruh terhadap kehidupan pribadi dan sosial.  Mereka akan berusaha untuk mendapatkan "perhatian" Tuhan dengan berusaha mengikuti setiap perintah dan menjauhi larangan-NYA.  Secara sosial, orang-orang seperti ini, akan menciptakan pergaulan yang baik.  Dan, sudah pasti, kondisi lingkungan sosial yang baik…ini terbukti pada kehidupan setiap agama.

Pada orang tidak berTuhan, perasaan "diawasi" tersebut tidak ada.  Maka, secara otomatis, mereka akan berpikir percuma saja berbuat baik, toh tidak akan mendapat balasan apa-apa.  Kalo saya licik juga, tidak ada yang membalas.  Apa jadinya jika semua orang tidak percaya akan Tuhan ?  Berbuat baik atau jahat sama saja…Meskipun ada hukum-hukum yang diciptakan manusia, tetapi tabiat manusia sudah pasti mementingkan dirinya sendiri…apa jadinya dunia ini jika dipenuhi oleh manusia-manusia yang bertabiat seperti itu? Saya yakin, dunia ini akan kacau…

Jadi, pilihan ada pada diri kita, mau percaya atau tidak…Hanya kita, manusia, yang diberikan kebebasan kehendak…sesuatu yang tidak ada pada makhluk dan benda lain…Saya memilih percaya!

Malaikatisme Preman

August 23rd, 2005

Disekeliling kita, entah kita sadari atau tidak, ternyata masih banyak orang-orang yang berhati mulia dengan "bungkus" yang tidak menampakkan kemuliaan mereka…mereka, bisa jadi berpakaian seperti preman, celana jeans belel, sobek, rambut gondrong awut-awutan, tampang yang gak bisa disebut ganteng…tapi, hati mereka sering kali lebih mulia daripada mereka yang berpakaian rapi, pakai jas, ganteng, atau bahkan yang berpakaian seperti ustadz.

Hari ini saya menemukan "mereka", setelah sekian lama saya baru menyadari kemuliaan hati mereka…setidaknya untuk hari ini, entah untuk esok atau lusa.  Sahabat-sahabat, yang karena kebodohan saya, selalu saya underestimate-i…memang, untuk shalat mereka masih rada susah…kebayang kalo mereka udah rajin shalat seperti apa…

Tiga jam saya ngobrol dengan mereka di pinggir jalan Dipati ukur, depan kampus saya…banyak hal yang diobrolin, dari pengalaman mereka di dunia jurnalistik dan kewartawanan, tentang uang, politik, cinta…saya tidak banyak bicara, selain hanya opini-opini yang saya berikan, selebihnya saya lebih banyak mendengar…dan terkagum-kagum…gak nyangka!!  Bahkan, mereka adalah orang-orang yang setia terhadap orang-orang yang mereka cintai…meksipun ada kesempatan untuk selingkuh, mereka menolaknya.

Hal yang sebaliknya, terjadi terhadap teman saya yang lain…mulai dari hancur reputasi karena "kelakuan" sendiri, niat yang tidak baik, idelisme yang dikorbankan.  Bahkan, selama ini saya selalu mengagumi dia, gak sampai berlebih-lebihan sih, hanya pengakuan saja dari diri saya sendiri, karena untuk beberapa hal…dia lebih unggul.  Dia, ganteng, bertampang intelek, selalu rapi…Namun, sekarang, saya mulai kehilangan respek terhadap dia.

Semuanya, karena uang…untuk beberapa minggu ini, saya cukup dipusingkan dengan urusan uang…Memang benar, untuk mengetahui tabiat seseorang, salah satunya adalah apabila berurusan dengan uang.  Ada yang menggunakan uang untuk tujuan mulia, meskipun baru niat, setidak-tidaknya punya niat…tapi ada juga yang menggunakan uang untuk "menindas".

Uang memang bisa merubah tabiat seseorang…suatu saat seseorang bisa "galak" terhadap orang-orang yang korupsi, tapi ketika dia pada posisi yang sama, maka dia yang jadi korupsi dan balik galak sama orang-orang yang "galak"…

Saya pernah punya jargon : "I Hate Money, But, (Damned) I Need It"…Ya, mau bagaimana lagi ? Saya benci pada uang, bukan karena saya tidak menyukai uang…tapi saya benci karena uang bisa membuat manusia saling menghancurkan.

Hal yang paling saya takutkan adalah ketika diri saya "dikuasai" oleh uang…Mudah-mudahan saja, yang terjadi adalah sebaliknya, uang yang saya "kuasai"…

NB : Untuk para "malaikat" berbaju preman yang saya temukan hari ini….

Achtung

August 23rd, 2005

Untuk sekarang dan ke depan nya lagi, saya udah nambahin rubrik baru…cieee, kesannya kayak web profesional aja…tapi, kenapa nggak? 

Rubriknya, RELIGI, masih nyari yang pas sih untuk namanya, soalnya defaultnya di friendster dah ada rubrik RELIGION, jadi gak enak aja rasanya…tapi, untuk sementara sih RELIGI dulu, supaya meng-Indonesia dan meng-GUA gitu loh…

Bagaimana-pun, pemikiran-pemikiran tentang ke-agama-an yang berserakan di otak saya udah cukup bikin pusing juga kalo gak di "lampiaskan" ke dalam tulisan.  Meskipun saya bukan seorang ustadz atau kyai, tapi saya mencoba untuk mem-publish opini-opini saya, meskipun terlambat…siapa tau ada manfaat yang bisa diambil bagi yang membacanya.  Mudah-mudahan saja…

Happy Ghost

August 18th, 2005

Inspired by Happy Ghost movie…film china yang rada lucu.  Sepertinya, dunia ini gak akan menakutkan kalo hantu-hantu itu selalu ceria…mungkin acara-acara "penampakan" pun akan jadi penyegar buat otak kita yang lagi mumet…kalo hantu-hantu pada happy, mungkin gua akan selalu nyari hantu kalo gua lagi pusing, stress or sedih supaya gua bisa tertawa, dan mungkin film favorit gua adalah film-film tentang hantu.

MERDEKA!!!

August 18th, 2005

Toedjoeh Belas Agoestoes Tahoen Empat Lima

Itoelah Hari Kemerdekaan Kita

Lagu lama yang dah lama gak pernah gua denger or nyanyiin lagi, terakhir waktu kelas 3 SMU.  Indonesia, udah 60 tahun sekarang.  Kalo orang, udah mau mati, kalo untuk suatu negara, itu baru bayi. Tapi, kok Indonesia kayak yang mau mati ya??  Prihatin sebetulnya gua dengan kondisi bangsa Indonesia sekarang, terutama mental generasi bangsa yang sekarang…orang tua juga mungkin prihatin ngelihat kondisi generasi gua sekarang!

Gua, merasa lebih beruntung hidup dengan generasi seangkatan gua, daripada dengan generasi anak-anak sekarang.  Gua masih merasakan suasana permainan-permainan anak-anak zaman baheula yang sederhana, tapi penuh tawa, penuh canda, ringan, murah dan hanya menggunakan peralatan yang ada di lingkungan sekitar aja seperti batu dan kayu, tapi di sana ada kebersamaan, semua orang, kaya miskin bisa ikutan main.  Ada kerinduan untuk itu lagi, dan gua gak pernah lagi nemuin di lingkungan anak2 sekarang, kecuali di beberapa daerah yang masih "tradisional"…sementara anak2 sekarang sudah kenal dengan PS (PlaySyaiton) yang kental dengan suasana persaingan, saling mengalahkan, bahkan saling membunuh, mahal pula! Imbasnya, anak2 sekarang males2! MAen ps kan tinggal duduk aja, untuk menang pun gak perlu capek.  Sementara, permainan zaman baheula, kudu kerja keras untuk menang…kadang harus sampai berdarah.  Memang, secara pisik, beberapa permainan tradisional kurang "manusiawi", tapi secara tidak langsung membentuk mental anak2 yang kuat.  Tapi, game2 PS, meskipun "Manusiawi", karena gak ada yg terluka…tapi menghancurkan mental!  Hancur mental, masih jauh lebih bahaya daripada hancur pisik.  Banyak pemimpin yang secara pisik cacat, tapi mental mereka kuat, dan mereka dikenang sebagai manusia-manusia tangguh.

Belum lagi pengaruh sinetron yang gak jelas tujuannya apa, udah gitu ditakut-takutin pula sama acara-acara setan yang makin bikin ancur mental.  Wah, TOBAT deh gua!  Ini bikin tugas gua nanti, kalo dikasih kesempatan untuk punya anak, menjadi punya tugas yang jauh lebih berat untuk mendidik anak. 

Beberapa saat lalu, gua sampai geleng2 kepala, ngedenger beberapa anak2 yang bunuh diri, ada yang mati, ada yang nggak, tapi cacat mental.  Sampai sejauh itu anak2 berfikir? Suatu saat, akan ada anak-anak yang berfikir untuk membunuh orangtuanya. Mengerikan!! Belum lama, di kostan gua, ada anak kecil, sekitar 7-8 tahun yang tidur karena kabur dari rumah orang tuanya, hanya karena di damprat dan dimarahi orangtuanya.  Gua gak tau persis kejadiannya seperti apa, tapi kejadian seperti itu, semestinya tidak boleh terjadi.  Bagaimana mungkin, suatu bangsa bisa berdiri kokoh jika dibentuk dari orang-orang yang bermental pendendam??

Gua, masih merasa beruntung, pernah menikmati saat-saat di mana orang tua membacakan atau menceritakan sebuah dongeng yang penuh nilai moral.  Dimana secara mental, cerita-cerita tersebut sangat berpengaruh terhadap gua.  Sementara, anak-anak sekarang semakin sulit mendapatkan orangtuanya menyempatkan diri untuk sebentar saja mendongeng…padahal, yang paling gua ingat adalah saat-saat dimana orangtua gua bercerita atau mendongeng. Now, i realized how lucky me!!

Seharusnya, anak2 lebih merasakan kemerdekaan yang sesungguhnya…dimana mereka tidak merasa tertekan untuk berfikir bagaimana caranya mencari uang, bagaimana membayar sekolah, bagaimana bisa makan hari ini?? Seharusnya mereka bebas bermain, karena anak-anak tumbuh untuk bermain, bukan bekerja. Sedangkan, sekolah pun, lebih tidak membentuk anak-anak untuk menjadi manusia seutuhnya…gua bingung, anak kelas 1 SD udah dibebani PR seabrek dan kewajiban beli buku, padahal anak2 seumuran itu, jiwa mainnya lebih besar…Pantes anak-anak sekarang stress!!! Hah?!!

Envy

August 9th, 2005

Suatu hari, tepatnya hari kamis yang lalu (4 Juli 2005), gua and denz ketemu di kampus, kalo gua niatnya maen, kalo dia niatnya nemenin ceweknya, Hera, untuk sidang TA…dan ini lah obrolan gua dan dia…

Denz : Ih…urang ngiri kamaneh, ngeunah geus beres kuliah na…(Translate : Ih…gua ngiri ama lu, enak kuliahnya udah beres)

Donny : Enya atuh…tapi, urang ge ngiri kamaneh, urang hayang boga gawean siga maneh…(Translate : Iya dong…tapi, gua juga ngiri ama lu, gua pengen punya kerjaan kayak lu)

Denz : Hehehe…mun kitu mah satu sama (Translate : Hehehe…kalo gitu satu sama)

Donny : Matakna ulah sok ngiri ka batur…(Translate : Makanya jangan ngiri sama orang lain)

Jadi, moral dari cerita di atas adalah…Jangan pernah iri dengan kebahagiaan orang lain!! Titik!! Gak perlu dijelasin lah…selamat memikirkan aja!! Sebab, gua pikir, hampir semua orang pernah merasakan tersiksanya jadi orang yang suka iri sama orang lain…

NB : Perut gua seharian ini mules-mules nih…gak tau gara2 apa.