Makan Hati
Hmmmm….Makan hati juga banyak ketemu wanita-wanita cantik, lucu, imut, sholeha di kota Bandung ini, tapi gak bisa di-’apa-apa’-in…cuma bisa ngelihatin aja dari jauh!! Satu orang aja buat gua, rasanya udah cukup bikin hati gua tenang…Gak perlu neko-neko lah cewek idaman gua mah…asal gak mahal perawatannya, gak banyak minta, gak banyak maunya…yang penting sederhana, dan bisa bikin hati ini tenang untuk bisa mengerjakan apa saja…gak ada tuntutan untuk jadi kaya atau "mapan"…gimana soerang laki-laki bisa tenang untuk bekerja dan nyari barang halal, kalau di-"kejar-kejar" harus kaya oleh istrinya?
Pada kenyataannya, sejarah membuktikan, dibalik seorang laki-laki hebat, ada wanita-wanita yang "sederhana", yang tidak banyak menuntut, yg memberikan rasa tenang ketika pulang ke rumah…yang bisa memberikan rasa nyaman…yang bersedia mendengarkan setiap keluhan…yang mengabdikan hidupnya untuk suaminya…yang bisa tetap tersenyum ketika suaminya pulang dan berkata, "Hari ini aku belum bisa memberikan apa-apa untukmu".
Konon, rumah tangga yang indah adalah yang dibangun bersama-sama dari "nol"…ngontrak rumah dulu, nabung dulu, nyicil dulu…katanya loh!!…tapi, justru disitulah seorang wanita diuji…apakah dia bisa setia, atau tidak?? Banyak wanita yang bisa bertahan dengan keadaan yang serba lapang bersama suaminya, tapi tidak banyak yang bersabar dan bersedia mendampingi suaminya dalam keadaan yang paling parah…padahal, tidak ada satu jaminan pun kita hari ini serba "memiliki"…besok pagi sudah hilang…
Banyak wanita, yang ngakunya "modern", harus memiliki karir juga seperti laki-laki…padahal, kerajaan wanita adalah rumahnya…seorang wanita bertanggung jawab untuk mendidik anak-anaknya, lebih besar daripada tanggung jawab seorang laki-laki…seorang ibu yang baik, akan menghasilkan anak yang baik…seorang ibu yang hebat, akan menghasilkan anak yang hebat…kita sering mendengar, ketika seorang laki-laki mendapatkan "penghargaan", ibunya lah yang pertama kali dia beri ucapkan terima kasih…not his father!
Dalam sebuah cerpen, lupa judulnya, ada scene yang isi dialognya seperti ini (lebih kurang redaksinya kayak gini)….
"Aku menikahimu karena ketika melihatmu aku bisa merasakan ketenangan…aku hanya ingin didengarkan…ketika aku keluar dari rumah, aku bersaing dengan banyak orang, tapi aku tidak ingin bersaing dengan dirimu di dalam rumah…kamu adalah seperti sebuah telaga yang bisa menyejukan mata dan kepala yang penat…kamu adalah pelabuhan kapalku…"
Yaa…lebih kurang kayak gitu lah…tapi, hidup memang gak seindah dongeng, cerpen, novel or film…tapi lagi, kita pun bisa mengusahakan agar ketika suatu saat kita berpisah dengan orang-orang yang kita cintai, kata-kata yang kita ucapkan dan kita dengar dari pasangan hidup kita adalah "Aku tidak menyesal menikah denganmu…"
Ngelantur |Leave a Reply